Grateful Heart

Thanksgiving Service 2018
Pengkhotbah: Pdt. Dr. Buby Ticoalu
Tema: Grateful Heart
Nats: Ibrani 12:28

Dalam ibadah Thanksgiving ini tema kita adalah “Grateful heart” yang didasarkan dari Ibrani 12:28 ini. Grateful heart atau hati yang bersyukur itu dinyatakan dalam lifestyle, hati yang sungguh-sungguh mengucap syukur dalam seluruh kehidupan kita. Penulis Ibrani berkata, “Jadi karena kita telah menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepadaNya, dengan hormat dan takut.” Respon kita mengucap syukur dan beribadah di sini bukan dalam pengertian ibadah atau berbakti di hari Minggu. Kata “ibadah” [latreia] di sini selain mencakup pelayanan kita, ibadah kita, namun terutama adalah seluruh aspek kehidupan kita. Cara kita hidup merupakan suatu ibadah di hadapan Tuhan, merupakan suatu pelayanan; itu tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Kita hidup dan kita melayani; kita berada di tempat ini atau kita berada di tempat lain.

Apa yang mendasari ucapan syukur dan ibadah kita? Tidak lain karena kita menyadari ini adalah suatu anugerah yang diberikan Allah. Kita telah menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, kerajaan yang tidak dapat digoyahkan oleh siapapun juga. Kesadaran itu membuat kita penuh dengan syukur karena kita terima itu sebagai satu anugerah; kita kemudian memegang anugerah itu  di dalam ucapan syukur; menghidupi anugerah itu dengan ucapan syukur yang nyata di dalam kehidupan kita, yang dinyatakan dengan melakukan kehidupan ini dalam seluruh aspek dengan takut dan hormat kepada Allah. Seluruh aspek hidup kita itu menjadi kehidupan yang takut dan hormat kepada Allah. Orang bisa melihat dan menyaksikan kita hidup dalam takut akan Tuhan seperti Yusuf, atau hidup dalam hormat kepada Allah seperti Daniel; itulah maksudnya. Di dalam kehidupan lifestyle kita sehari-harinya itu boleh dikatakan. Kenapa? Karena kita telah menerima anugerah yang begitu besar, kita telah menerima sesuatu yang tidak tergoncangkan. Segala sesuatu yang ada di dunia ini bisa bergoncang; segala sesuatu dalam dunia ini dapat berubah. Bukan saja harta benda bisa hilang dengan sekejap mata; nyawa bisa hilang dalam sekejap mata; bahkan tanah tempat kita berpijakpun bisa berubah dan bergeser dari tempatnya semula. Tetapi janji firman Tuhan ini mengatakan kita menerima sesuatu yang tidak bisa tergoncangkan oleh tsunami, oleh gempa bumi, oleh badai sehebat apapun; kerajaan Allah yang tidak tergoncangkan. Karena itu terimalah ini sebagai anugerah yang luar biasa, yang kita responi dengan ucapan syukur dan hidup dalam takut dan hormat kepada Allah.

Bagaimana pengertian grateful heart dalam scope yang luas? Alkitab kita mencatat akan kisah seorang anak muda yang kaya datang kepada Yesus (Matius 19:16-22). Anak muda itu bertanya kepada Yesus, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Satu pertanyaan yang bagus sekali, ada suatu keinginan, kerinduan dia seperti itu. Tuhan Yesus mengatakan, “Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.” Anak muda ini dengan bangga mengatakan “Semuanya itu sudah aku lakukan sejak aku masih muda.” Lalu Tuhan Yesus bilang, “OK kalau begitu, tinggal satu lagi yang harus kau lakukan: juallah segala harta yang kau miliki dan berikanlah kepada orang-orang miskin, lalu ikutlah Aku.” Anak muda ini kemudian pergi dengan sedih karena banyak hartanya. Pada waktu anak muda ini menanyakan apa yang harus dia perbuat dan Tuhan Yesus sebutkan, dia mengatakan sejak kecil dia sudah lakukan semua hukum-hukum itu. Inti dari seluruh hukum Tuhan itu apa? Memang disebutkan di situ, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berzinah, hormati ayah ibumu, dst. Tetapi inti daripada perintah Tuhan itu adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi dirimu sendiri (Ulangan 6:5, Matius 22:37-40). Itu intinya. Dan dia mengatakan jelas dia sudah melakukan hal itu dari sejak dulu. Tetapi pada waktu Yesus mengatakan juallah hartamu dan berikanlah kepada orang miskin, dia tidak rela dan kemudian pergi dengan sedih. Apa artinya? Seorang hamba Tuhan pernah mengatakan, “You can have all of your doctrines right, yet still not have the presence of God.” Doktrinmu luar biasa, dari sejak kecil sudah tahu is Alkitab, sudah ikut banyak seminar, sudah membaca banyak buku, sudah belajar dengan baik. Tetapi punya doktrin yang benar kalau tidak pernah mengalami the presence of God, apa gunanya? Kalau dia betul-betul mengalami apa artinya kehadiran Allah dalam kehidupannya, mengerti apa artinya mengasihi Allah dengan segenap hati, maka tidak ada keraguan untuk melakukan apapun yang Tuhan bilang. Ini bukan dalam soal harta saja, tetapi dalam segala sesuatu. Tetapi nyatanya anak muda ini tidak mau melakukan hal itu. Kenapa? Karena manusia itu lebih cenderung dalam soal kepentingan diri, walaupun dikemas, dibungkus dengan hal-hal yang rohani, sesungguhnya hanya memikirkan keuntungan diri sendiri. Begitu banyak orang Kristen berdoa hanya mau berkat Tuhan. Coba kita hitung sejak kita bangun pagi, berapa kali kita berdoa minta Tuhan memberkati? Berapa banyak dari kita yang berkata, “Tuhan hancurkan aku yang sombong ini, yang tamak ini. Tuhan, aku yang liar ini, jinakkan aku. Kalau ada nafsuku yang liar, Tuhan, pikiranku yang kotor, Tuhan bersihkan aku.” Itu sangat penting, namun sangat kurang kita doa. Kita hanya mau Tuhan berkati aku, berkati aku, berkati aku. Tetapi tanpa ketaatan, bukankah kita persis seperti anak muda yang kaya ini. Sama seperti pandangan banyak orang sekarang maupun dahulu, kita menganggap pastilah orang yang kaya diberkati Tuhan. Tetapi Rev. John Piper mengatakan belum tentu orang yang kaya itu tanda diberkati oleh Tuhan. Kenapa? Karena orang yang berkelimpahan harta bisa jadi itu adalah tipuan Iblis. Bukankah Iblis pernah berkata kepada Yesus, “Semua ini akan kuberikan kepadaMu jikalau Engkau sujud menyembah aku”? (Matius 4:8-9). Tuhan tidak bilang begitu. Hanya Iblis yang bilang begitu. Tetapi kitalah manusia yang seringkali jatuh dalam godaan seperti itu. Mengapa kita tidak pernah bisa merasakan cukup? Karena hati kita terus mau diberkati, diberkati, tetapi tidak mau taat. Bagaimana bicara grateful heart? Grateful heart itu termasuk di dalamnya ketaatan; taat kepada apa yang Tuhan mau. Ketika kita telah merasa sungguh-sungguh diberkati Allah dengan luar biasa, maka respon kita adalah, “Tuhan, apa yang Engkau mau aku lakukan sebagai tanda syukurku? Bagaimana cara hidupku?” Simple sekali, tetapi tidak mudah, bukan? Tetapi itulah kita lihat bahwa jelas dalam kehidupan kita mengalami persis seperti anak muda ini. Bagaimana kita bisa punya grateful heart tanpa obedience? Kalau betul kita mengucap syukur whatever the Bible says, God says, and I’ll do it. Itulah grateful heart, bukan karena paksaan tetapi karena aku tahu betapa besar anugerahNya kepadaku. Aku ada sebagaimana aku ada, Paulus berkata, itu semuanya karena kasih karunia Allah sehingga dia mau betul-betul merendahkan diri. Satu contoh sederhana, bukan?

Dalam Injil Lukas 17:11-19 dicatat pada waktu Yesus sedang berjalan menuju Yerusalem, Ia melewati perbatasan Samaria. Ia kemudian disambut dengan teriakan-teriakan dari sepuluh orang kusta. Kita tahu bahwa kemudian orang-orang kusta itu Ia sembuhkan. Namun sebelumnya Yesus berkata, “Tunjukkanlah dirimu kepada para imam.” Mereka cukup berani untuk mulai berjalan masuk ke desa padahal mereka masih belum sembuh dan ada resiko dilempari batu, tetapi mereka percaya kata-kata Yesus dan mereka lakukan. Cerita itu kemudian memperlihatkan satu dari sepuluh orang kusta itu lalu menyadari dia sembuh lalu berbalik kepada Yesus dan berterimakasih kepadaNya. Yesus berkata, “Bukankah ada sepuluh orang tadi yang datang kepadaKu telah menjadi tahir? Kenapa hanya satu orang ini saja yang kembali dan bersyukur memuliakan Allah? Dimanakah mereka yang lain?” Kira-kira pada waktu yang sembilan orang itu sadar mereka sudah tahir dan sembuh, apakah hati mereka mengucap syukur atau tidak? Kalau ya, mereka mengucap syukur, kenapa Yesus mencari dimana mereka? Bukankah Ia maha tahu, sehingga walaupun mereka tidak datang ke sini tetapi hati mereka sudah mengucap syukur, ok, no problem, no worries. Tetapi pertanyaan Tuhan Yesus ini seharusnya menggelitik hati kita, kenapa cuma satu yang kembali kepadaNya, tidakkah seharusnya mereka semua datang mengucap syukur dan kembali kepadaNya untuk memuliakan Allah? Saya percaya sembilan orang itu pasti berkata horeee, aku sembuh! Bayangkan, sudah sekian lama menderita sakit kusta, sekarang sembuh. Mana boleh jadi mereka kemudian tidak bersyukur? Mereka akan melompat dengan gembira, El-shaddai, El-rapha, haleluya! Betul-betul mereka bersyukur. Tetapi sama seperti kita, banyak dari kita mengucap syukur tetapi tidak ada wujudnya. Adakah kita datang untuk mempersembahkan ucapan syukur kita kepada Tuhan? Tetapi grateful heart itu adalah hal memberi. Thanksgiving juga adalah hal memberi. Bukan sekedar memberikan satu persembahan, tetapi di sini yang dimaksudkan adalah satu orang kusta ini datang dan dia datang tersungkur menyembah, mencium kaki Tuhan dengan ucapan syukur. Ia memberikan seluruh dirinya kepada Allah. Itulah thanksgiving. Itulah grateful heart; yaitu adalah memberikan seluruhnya dalam kehidupan ini, tidak ada bagian yang tidak diberikan.

Maka, grateful heart itu tidak pernah bisa terlepas daripada giving. Bukan soal uang, tetapi soal hati dan totalitas kehidupan kita yang dipersembahkan kepada Tuhan. Roma pasal 1 -11 bentuk kata imperatif di sana hanya didapatkan 13x sedangkan dalam Roma pasal 12 satu pasal saja ada 11x kata imperatif. Apa maksudnya? Paulus dalam 11 pasal kitab Roma ini membawa kita memikirkan siapakah kita orang yang berdosa ini, apa yang telah Allah lakukan melalui Yesus Kristus menyelamatkan kita. Jelas sekali, bukan? Paulus menutup pasal 11 dengan kalimat, “Segala sesuatu bagi Dia, untuk Dia dan oleh Dia. BagiNyalah kemuliaan untuk selama-lamanya.” Lalu disambung dengan perintah “karena itu, persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.” Ini juga dalam bentuk Imperatif, lalu dilanjutkan, “Dan janganlah menjadi sama seperti dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu.” Itulah bentuk yang jelas: persembahan yang hidup tidak menjadi sama seperti dunia ini. Artinya dalam bahasa Indonesia bentuknya sepertinya aktif, tetapi sebetulnya pasif: do not be conformed, jangan dibentuk oleh dunia ini. Jadi jikalau kita tidak aktif untuk mewujudkan persembahan hidup dari grateful heart itu, maka kita akan dibentuk oleh dunia ini. Maka itu sebab Paulus katakan, jangan sampai kita dibentuk oleh dunia sehingga dari kehidupan kita dunia bisa melihat dan kemudian memuliakan Allah di surga.

Kisah Rasul 5 mencatat kisah yang sangat tidak enak, yaitu kisah mengenai Ananias dan Safira. Banyak orang berpikir, tega-teganya Tuhan itu, ada seorang yang satu kali bohong langsung dihukum mati? Tetapi konteksnya dalam Kisah Rasul 4 di sana ada menjelaskan tentang bagaimana kehidupan jemaat yang sangat solid, yang menghargai anugerah Allah sehingga Alkitab mencatat tidak ada seorangpun dari mereka yang menganggap hartanya sebagai miliknya sendiri. Mereka menjual harta mereka untuk kebersamaan. Itulah grateful heart. Tidak ada lagi yang memikirkan diri sendiri karena mereka merasa betul-betul grateful karena mereka sudah mendapatkan kerajaan yang tidak tergoncangkan itu maka mereka memberikan semuanya kepada Allah. Hidup mereka dengan sehati mereka berkumpul, berdoa, hidup dalam damai luar biasa. Itulah jemaat mula-mula. Tetapi cerita itu segera berputar drastis, pada pasal 5 terjadilah peristiwa Ananias dan Safira. Apa yang terjadi? Pada waktu mereka sudah menjual seluruh harta mereka, suami isteri ini sama-sama sepakat berdusta seperti kata Petrus, mengapa engkau mendustai Roh Kudus? Ini adalah pelajaran yang keras sekali bagi jemaat mula-mula.Mereka mengatakan, Tuhan, semua kuserahkan. Tetapi realitanya tidak seperti itu. Bicara rohani, semua kuserahkan. Lalu orang-orang bisa memuji, oh dia mempersembahkan uang yang banyak; dia orang yang sungguh-sungguh rajin melayani, memberikan yang terbaik. Tetapi kita tidak tahu hati orang. Cuma Tuhan yang tahu. Dan itulah seringkali kemunafikan yang diiringi dengan mencari-cari pujian yang sia-sia. Grateful hearti tidak mencari-cari pujian yang sia-sia, bukan mencari penghormatan, penghargaan. Bukankah Paulus katakan jangan cuma memikirkan kepentingan diri sendiri, yang ujung-ujungnya mencari puji-pujian yang sia-sia? Grateful heart dengan integritas, mempersembahkan apa yang dikatakan itu yang diperbuat.

Dalam satu riset George Barna memperlihatkan bagaimana generasi muda saat ini terbagi dalam dua kelompok. Yang satu kelompok ketika beribadah luar biasa sekali. Mereka menyanyi, beribadah dengan air mata dan kesungguhan yang bukan main. Tetapi kekaguman terhadap Tuhan, syukur kepada Tuhan tidak terintegrasi dalam kehidupan. Ibadah dalam ibadah yang formal, luar biasa. Tetapi dalam ibadah kehidupan yang lifestyle besoknya berubah. Sikap ibadah itu tidak terintegrasi. Sebaliknya, kelompok yang satu lain lagi. Yaitu ada kelompok yang ibadahnya memang biasa-biasa saja, tetapi hidupnya adalah takut sekali, tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Kalau lakukan ini mama bilang masuk neraka, kalau begini tidak boleh. Pokoknya ini tidak boleh, itu tidak boleh, semua banyak tidak bolehnya. Dan anak-anak muda ini betul-betul kelihatannya sangat baik. Tetapi tidak berangkat dari hati yang kagum kepada Tuhan. Hanya takut masuk neraka. Bukan karena kagum. Dan itu dua-duanya sama-sama bukan grateful heart. Grateful heart itu berangkat dari betul-betul menerima anugerah itu dengan takut, dengan hormat, mengagungkan Dia, tahu itu adalah anugerah dan memelihara anugerah itu dengan mengucap syukur dalam seluruh kehidupan. Itu yang dimaksud dengan bagaimana hati yang mengucap syukur. The world is not waiting for a new denomination of Christianity, but the world is waiting for a new demonstration of Christianity. Bukan aktifitas yang sekedar dalam ibadah-ibadah yang formal tetapi dunia ini sedang menantikan bagaimana demonstrasi kehidupan dari grateful hearts. Kalau dunia tidak percaya kepada Alkitab, ok. Tetapi kalau gereja, sdr dan saya, yang telah menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan itu, tetapi tidak hidup dalam ketaatan, dengan pemahaman what the Bible says God says, maka kita tidak mampu untuk mendemonstrasikan apa kehidupan Kekristenan yang punya grateful heart. Itulah tantangan kita.

Kita kemudian boleh memikirkan saat sekarang ini dengan sederhana sekali orang muda yang kaya ini hidupnya tidak cocok dengan pemahamannya akan hukum Taurat; sembilan orang kusta tidak cocok; Ananias dan Safira tidak cocok. Kalau begitu kita cari yang cocok bagaimana? Alkitab mengajarkan kita dengan jelas. Maka itu sebabnya tidak ada hal yang dapat kita tawar-tawar pada waktu mengucap syukur itu selalu datang dengan bentuk imperatif. Artinya mengucap syukur, give thanks itu adalah perintah Tuhan sendiri. Bersyukur atas apa yang telah Allah lakukan bagi kita; bersyukur atas apa yang telah Allah berikan bagi kita. Paulus mengatakan dalam bentuk perintah Imperatif, “Mengucap syukurlah dalam segala hal sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus” (1 Tesalonika 5:18). Give thanks to the Lord in all circumstances. Di situ perlu kerendahan hati untuk menyadari semuanya hanya anugerah Tuhan. Di situ membutuhkan suatu mindset yang jelas: Ia adalah Allah yang berdaulat melakukan segala sesuatu dalam rencanaNya yang sempurna. Ia melakukan segala sesuatu indah pada waktunya. Bahasa Inggris menerjemahkan dengan tepat sekali Tuhan melakukan itu indah pada waktunya, kata “indah” lebih tepat diterjemahkan appropriate. Tuhan melakukan segala sesuatu dengan pas pada waktunya. Kalau kita punya kerendahan hati dengan mindset yaitu bahwa Ia adalah Allah yang berkarya dalam segala kesempurnaan, maka apapun yang kita alami, apapun yang terjadi, kita bisa tahu Ia akan menjadikan segala sesuatu pas, appropriate in His time. Itu indah sekali. Kalau punya mindset ini barulah kita bisa mengucap syukur, baru ada grateful heart. Tetapi kalau kita tidak punya mindset bahwa segala sesuatu bekerja di bawah kontrol Allah, tidak mungkin orang bisa bersyukur. Kita akan terus mengeluh, semuanya serba salah. Sekarang kita sudah melihat dari perspektif Allah bekerja dalam segala sesuatu pas pada waktunya.

Saya akan mengakhiri khotbah ini dengan satu kutipan yang sangat terkenal dari Rev. John Piper, “God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.” Allah akan sungguh dipermuliakan di dalam kita ketika kita sungguh mengalami kepuasan di dalam Dia. Kiranya hati kita dipenuhi dengan rasa syukur yang limpah. Setiap kali kita datang di hadapan Tuhan, kita sujud kepadaNya karena Allahlah yang layak untuk dipuji dan disembah. Perbuatan-perbuatanNya yang ajaib jauh melampaui dari apa yang dapat kita pikirkan dan dapat kita doakan. Tuhan sempurna dalam rencanaNya bagi hidup kita. Itulah sebabnya dengan sorak-sorai dan pujian dan syukur kita datang di hadapanNya. Dan kiranya Allah berkenan menerima semua persembahan pujian ibadah kita sebagai persembahan syukur yang berbau harum di hadapan hadiratNya. Dan kiranya Ia memampukan kita untuk melakukan, mengintegrasikan ucapan syukur kita dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dan inilah yang menjadi doa kita kepadaNya: dari hati yang sombong, tamak dan serakah ini di hari thanksgiving ini doa kami, ubahlah hati kami untuk kami memiliki grateful hearts supaya hidup kami berkenan kepadaMu dan memuliakan Engkau, Tuhan. Kami boleh hidup dalam contentment, hati yang puas sehingga kami melayani, beribadah kepadaMu, menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan, Engkau tahu pergumulan-pergumulan kami, tetapi kiranya Tuhan jamah dan ubahkan kami, perbaharui kami untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Kalau ada duka dan pergumulan dalam hati kami, biarlah Tuhan melalui pembaharuan yang Tuhan berikan, apapun dan bagaimanapun keadaan kami, kiranya kami boleh mengucap syukur dengan sepenuh hati karena Engkaulah Tuhan yang berjanji dan tidak pernah ingkar janji menjadikan segala sesuatu appropriate pada waktunya.(kz)