Three Types of People in Ministry

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 3 Yohanes
Tema: Three Types of People in Ministry
Nats: 3 Yohanes 1:1-15

Surat 3 Yohanes adalah satu surat yang singkat dan pendek sekali, dan ada tiga nama secara khusus rasul Yohanes sebut di dalam surat ini yaitu Gayus, Diotrefes dan Demetrius. Dari situ saya memberikan tema khotbah hari ini: Three Types of People in Ministry, bicara mengenai tiga jenis orang di dalam pelayanan.

Dari tiga nama ini, kira-kira kita bisa menduga status sosial orang itu dalam masyarakat, dimana mereka berada dan siapa mereka. Dan berbeda dengan jaman kita sekarang, dulu orang tidak boleh sembarang memilih nama buat anaknya. Ada nama-nama tertentu yang hanya boleh dipakai oleh kaum keluarga ningrat, kelompok masyarakat kelas atas dari orang Romawi dan itu tidak boleh diberikan kepada anak-anak yang lahir dari masyarakat kelas menengah dan kelas bawah. Maka Gayus misalnya, adalah nama umum, nama yang menunjukkan dia berasal dari keluarga biasa-biasa. Sedangkan Diotrefes adalah sebuah nama yang dipakai keluarga berada. Diotrefes berarti dicintai oleh dewa Zeus. Demetrius berarti dimiliki oleh dewi Demeter. Zeus dan Demeter adalah nama dewa-dewi Yunani. Dari sini menunjukkan status dan kelas sosial Diotrefes dan Demetrius dari masyarakat kelas menengah atas dan keluarga terkemuka.

Apakah hal-hal yang paling penting dan yang mendatangkan sukacita di dalam hidup pelayanan kita dan apa yang justru mendatangkan kesedihan yang besar di dalam hidup pelayanan dan hidup bergereja kita? Kita bisa menyaksikan ada orang-orang yang karena cinta kasih kepada Injil dan kepada pekerjaan Tuhan, bagi mereka hal-hal yang sepele soal bagaimana orang memperlakukan mereka; bagaimana pelayanannya tidak dihargai; banyak inconveniency yang mereka alami; berapa besar sacrifice dari tenaga, uang dan waktu mereka bagi pekerjaan Tuhan; semua itu tidak menjadi hal-hal yang mengganggu hati dia. Dan betapa besar sukacita yang datang kepada kita pada waktu melihat dan menyaksikan orang-orang seperti itu di tengah-tengah kita. Rasul Yohanes menuliskan surat ini dengan sikap dan dengan perasaan sukacita seperti ini. “Aku sangat bersukacita ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran” (3 Yohanes 1:3-4). Orang-orang seperti apa yang engkau jumpai, pelayanan seperti apa yang mereka lakukan bagi Tuhan, adakah itu menghasilkan sukacita yang besar di hatimu? Engkau datang ke satu gereja dan di situ engkau mendapatkan sukacita yang luar biasa, melihat betapa orang-orang itu hidup dalam kebenaran dan hidup dalam kasih.

Tetapi di pihak lain ada hal-hal yang bisa membawa dukacita dan kesedihan yang dalam ketika kita bertemu dengan orang yang justru menghalangi orang lain melakukan pelayanan; ketika kita bertemu dengan orang yang justru mencegah pelayanan; ketika kita bertemu dengan orang yang marah kepada orang-orang yang melayani; orang yang berusaha mencegah Injil diberitakan kalau itu tidak melalui dia, kalau itu tidak menjadi keuntungan bagi dia, kalau itu tidak mendatangkan benefit bagi dia, kalau bukan namanya yang ditinggikan dan dibesarkan, kalau bukan melalui dia tidak boleh ada pelayanan di tempat itu karena dia adalah “the big boss” di gereja itu. Orang yang seperti itu mendatangkan air mata dan kesedihan yang dalam hidup pelayanan kita. Tetapi itulah fakta realita yang terjadi di dalam komunitas gereja Tuhan dimana-mana. Dan rasul Yohanes perlu menuliskan surat ini karena kita menemukan karakter dan sikap dari orang-orang seperti ini menghalangi pekerjaan dan pelayanan Tuhan.

Hari ini kita belajar sama-sama melalui bagian ini. Kita tidak bisa mencegah hal itu terjadi, tetapi pertanyaan yang paling penting: What kind of people are you and me in ministry? What kind of people are we in the church? What kind of people are we in relation with other churches and other Christians? What kind of people are you and me pada waktu kita mendengar akan ministry dan perkembangan pengabaran Injil yang meskipun itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak kita kenal, adakah membawa sukacita yang begitu besar di dalam hati kita kepada pelayanan Tuhan seperti itu?

Orang pertama yang kita lihat adalah Gayus, penerima surat ini. Ketika rasul Yohanes menulis surat ini kita bisa melihat berkali-kali dia menyatakan sukacitanya yang luar biasa melihat hidup Gayus.

“Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran. Aku sangat bersukacita ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. Engkau bertindak sebagai orang percaya, dimana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang yang tidak engkau kenal. Baik benar perbuatanmu” (3 Yohanes 1:1,3,5-6). Ini merupakan satu pernyataan yang luar biasa memperlihatkan siapa Gayus. Seseorang yang memberikan sukacita, seseorang yang membuat orang yang bersentuhan dengan hidup dan iman dan pelayanan dia menjadi terberkati dan memuliakan Allah. Hal yang kedua, rasul Yohanes berdoa untuk dia, “Semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja” (3 Yohanes 1:2). Yohanes bukan saja berdoa bagi kesehatan fisik Gayus tetapi yang lebih utama adalah kesehatan jiwa Gayus. Orang seperti Gayus memiliki a wonderful spirit, a wonderful soul, jiwa yang sungguh indah, sehat dari dalam dan itu mengalir keluar. Kita perlu memperhatikan kesehatan jiwa kita saat kita melayani Tuhan. Sebab jikalau hal itu tidak berangkat dari dalam ke luar, justru apa yang kita kerjakan dan aktifitas bagi pekerjaan Tuhan bisa membawa kerusakan kepada jiwa kita. Berapa banyak hamba Tuhan akhirnya kecewa dan meninggalkan pelayanan setelah dia melakukan begitu banyak hal dan merasa telah berkorban begitu banyak bagi Tuhan, tetapi sesungguhnya pelayanan itu telah merusak jiwanya.

Seorang hamba Tuhan bernama George Whitefield yang sejaman dengan John Wesley mengatakan, ada satu kondisi yang paling menyedihkan yang sering kita lihat dalam hidup kita sehari-hari, banyak orang terganggu bangun tidur depan cermin melihat ada jerawat di mukanya, tetapi kita jarang meneropong sampai ke dalam bagaimana hati kita. “It is sad that many people are more concerned about a pimple on their face than the rottenness in their heart.” Maka doa Yohanes penting sekali, bukan saja kita berdoa bagi kesehatan fisik tetapi yang terutama kesehatan jiwa dan rohani kita dan orang-orang yang melayani Tuhan.

Hal yang ketiga, kita bisa lihat apa yang dikerjakan Gayus dalam hidupnya bagi pelayanan Injil di ayat 5-8, dan dari situ kita mendapatkan satu prinsip yang baik bagaimana kita bisa mendukung pekerjaan Tuhan. “Saudaraku, engkau telah berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang yang tidak engkau kenal. Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu dengan menolong mereka dalam perjalanan mereka. Sebab karena nama Allah mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran.” Anak-anak Tuhan harus mendukung pekerjaan Tuhan. Kita tidak boleh menuntut orang yang tidak percaya Tuhan untuk mendukung pekerjaan Tuhan. Demikian juga sebuah gereja lokal menjadi sebuah gereja dimana kita yang ada di dalamnya, kita juga berbagian di dalam tanggung jawab dan tugas kita mendukung kebutuhan dan pelayanan di situ. Kita tidak boleh menunggu dan menuntut orang luar, apalagi orang yang tidak percaya Tuhan berbagian di dalam pelayanan.

Yohanes menyebutkan ada orang-orang yang pergi mengabarkan Injil yang motivasinya bukan untuk mencari keuntungan finansial dan mereka tidak minta apa-apa dari pelayanan. Lalu darimana datangnya dana untuk mencukupkan kebutuhan mereka? Itu datang dari orang-orang seperti Gayus, yang melihat, mendengar dan kemudian mau berbagian mendukung pekerjaan Tuhan. Hal yang luar biasa keindahan dari diri Gayus, karakternya, sikap pelayanannya. Orang-orang ini adalah itinerant preachers, orang-orang yang tidak dia kenal, tetapi dia membuka rumahnya untuk mereka tinggal di situ, mendukung kehidupan mereka, tempat tinggal, makan dan minum dan kebutuhan lain, dan kemudian juga mendukung kebutuhan mereka saat hamba-hamba Tuhan ini pergi melayani ke tempat lain. Hal-hal dan pelayanan seperti ini pada jaman itu penting sekali karena hamba-hamba Tuhan ini pergi ke satu tempat yang asing dimana tidak ada yang mengenal mereka dan bagaimana orang-orang seperti Gayus ini menerima mereka. Bukan itu saja, di sisi lain yang perlu kita lihat adalah tidak gampang dan tidak mudah melakukan ministry seperti Gayus ini sebab pada waktu seseorang membuka rumahnya untuk orang asing tinggal, berita bahwa rumah itu terbuka bagi orang untuk tinggal, itu adalah resiko dan tanggung jawab yang juga harus diterima oleh Gayus.

Kita mengucap syukur kepada Tuhan, kita bisa melihat ada orang seperti ini yang boleh menjadi satu contoh teladan yang indah bagi setiap kita. Dalam sepanjang sejarah sampai hari ini kita boleh melihat dan menyaksikan ada orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan melihat pekerjaan Tuhan, serta berbagian mendukung pelayanan Tuhan. Bukan saja dalam pelayanan bagi gereja lokal tetapi lebih daripada itu mereka juga aktif berbagian melihat pekerjaan Tuhan yang lebih luas. Itulah keindahan dan sukacita yang terjadi. Saya percaya orang-orang seperti itu ada di tengah-tengah kita, dan bukan itu saja, saya juga merindukan jiwa seperti itu ada di dalam diri semua kita masing-masing. Kita tidak perlu mendesak, mendorong, menarik-narik dan mengajak orang melayani Tuhan. Responsibility itu bukan karena ada tugas jabatan diberikan kepada kita; banyak orang baru menganggap itu sebagai tanggung jawabnya pada waktu mereka mendapatkan jabatan dan duduk dalam posisi tersebut. Itu bukan responsibility. Pada waktu seseorang step up dan mengatakan aku akan melakukan hal itu meskipun orang tidak menghargai apa yang aku lakukan dan saya tidak duduk di dalam posisi dan jabatan. Jadi bukan karena engkau di bagian departemen misi baru engkau memikirkan pelayanan misi, dsb. Setiap kita sebagai anak-anak Tuhan yang melihat pekerjaan Tuhan, kita wajib berbagian di dalamnya. Betapa senangnya ketika kita ingin melakukan satu pelayanan, di situ setiap orang aktif berinisiatif dan step up untuk ambil bagian di dalamnya. Ayat ini menjadi satu encouragement dari Yohanes, “kita wajib” bukan karena kita diminta, bukan karena kita disuruh, tetapi karena ini adalah inisiatif dari setiap kita. Puji Tuhan!

Orang yang kedua, yang mendatangkan kesedihan yang tidak ada habis-habisnya dalam diri Yohanes, adalah Diotrefes. Siapakah dia? “Diotrefes yang ingin menjadi yang terkemuka, tidak mau mengakui kami. Karena itu apabila aku datang, aku akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami. Dan belum merasa puas dengan itu, ia sendiri bukan saja tidak mau menerima saudara-saudara yang datang, tetapi juga mencegah orang-orang yang mau menerima mereka dan mengucilkan orang-orang itu dari jemaat” (3 Yohanes 1:9-10). Dari pernyataan Yohanes, kita bisa mengambil kesimpulan Diotrefes adalah seorang yang memiliki pengaruh besar di dalam gerejanya. Bisa jadi dia adalah seorang pemimpin yang berada di dalam satu pelayanan. Sangat mengecewakan dan sangat menyedihkan sekali jikalau dia adalah seorang yang diberi tugas dan tanggung jawab yang besar dalam gereja, seorang tokoh yang besar [prominent] tetapi justru sama sekali tidak mau memperhatikan pelayanan dan perkembangan Injil. Yang dia lihat hanyalah apakah pelayanan itu menguntungkan dia atau tidak. Jelas sekali Diotrefes seorang yang sangat mementingkan diri. Apapun yang dia kerjakan dan lakukan hanya supaya nama dia, jasa dia, diri dia yang dikenal dan yang paling utama di dalam ministry. Jikalau tidak, semua tidak boleh ada. Diotrefes suka menjadikan dirinya sebagai pusat dan dia ingin mengontrol orang-orang lain untuk takluk kepada kemauannya. Betapa menyedihkan orang seperti ini ada di dalam komunitas gereja, firman yang datang tidak akan pernah menjadi firman yang merubah hidup dia. Bukan firman itu tidak berkuasa tetapi karena hati orang itu tidak receptive menerima benih firman Tuhan. Sekalipun Yesus Kristus sendiri sebagai pengkhotbahnya, berdiri di mimbar ini, jikalau tanah hati kita tidak pernah menjadi tanah yang subur, firman itu tidak pernah berbuah. Sekalipun rasul Yohanes sebagai gembala gerejanya, tidak akan pernah menjadikan umat itu mengalami perubahan oleh pelayanannya.

Hal yang kedua, Diotrefes tidak mau mendengar teguran yang disampaikan oleh Yohanes. Itulah attitude sikap hati dari Diotrefes. Dan apa yang terjadi? Orang dengan sikap hati seperti itu diberi kesempatan pelayanan, dia akan membawa kerusakan besar kepada pelayanan. Orang dengan sikap hati seperti itu duduk menjadi pemimpin dalam satu pelayanan, dia akan membawa kerusakan besar kepada pelayanan. Orang yang seperti itu duduk di mana saja, dia akan membawa kerusakan besar di situ, karena memang seperti itu.

Hal yang ketiga, Diotrefes seseorang yang tidak pernah respek kepada firman Tuhan dan hamba Tuhan. Dengan kasar dan terbuka dia mengeluarkan tuduhan yang tidak benar dan kata-kata yang kasar terhadap hamba-hamba Tuhan. Karena itu rasul Yohanes mengambil sikap yang tegas. “Apabila aku datang, aku akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami” (3 Yohanes 1:10). Adakalanya kita tidak berani untuk mengkonfrontasi karena kita tidak ingin ada konflik dan tidak mau melukai hati orang. Tetapi kadangkala ketika ada hal-hal yang tidak benar dikatakan seseorang, itu tidak bisa ditutup dan didiamkan begitu saja seolah tidak ada apa-apa. Ada saat-saat dimana sikap yang tegas harus diambil terhadap orang seperti ini dan berbicara dengan dia berhadapan muka. Sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu menjaga diri terhadap kata-kata yang keluar dari mulut kita. Setiap kali mengeluarkan kata-kata, selalu ingatkan diri to talk less and listen more dan lebih banyak men-digest apa yang kita dengar. Itulah arti kata meditasi; itulah arti kata kontemplatif. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan kepada kita, dengar firman, duduk, baca, teduh, baru kemudian kita berkata-kata.

Hal yang keempat, kita bisa saksikan bagaimana Diotrefes memang jiwanya tidak pernah memikirkan Injil dan pekerjaan Tuhan, tidak pernah memikirkan bagaimana firman Tuhan itu disebar-luaskan dan dikabarkan. Yang dia pikirkan hanyalah dirinya sendiri. Dan bukan itu saja, dia mencegah orang untuk melayani menerima para misionari itu datang ke rumah mereka. Tidak sampai di situ, dia mengancam kalau mereka berani melakukan seperti itu dia akan mengusir dan mengucilkan orang itu. Jadi kita bisa lihat Diotrefes memberi tekanan dan pressure yang luar biasa kepada orang-orang yang melayani. Bagaimana orang seperti ini muncul dan berada di dalam kehidupan gereja dan pelayanan Tuhan, sungguh menyedihkan luar biasa. Kondisi inilah yang dialami oleh gereja Tuhan di situ. Maka kita perlu selalu mendoakan supaya setiap kali kita mendengar firman, Roh Kudus membersihkan dan memurnikan kita, dan kita tidak menjadi tipe orang seperti Diotrefes ini.

Yang ketiga, Yohanes menyebut nama Demetrius. “Tentang Demetrius, semua orang memberi kesaksian yang baik, malah kebenaran sendiri memberi kesaksian yang demikian. Dan kami juga memberi kesaksian yang baik tentang dia, dan engkau tahu bahwa kesaksian kami adalah benar” (3 Yohanes 1:12). Hanya satu ayat saja Yohanes menyebut mengenai Demetrius, tidak banyak yang dia katakan tetapi begitu banyak orang berkata-kata tentang siapa dia. Boleh dikatakan dia memiliki status sosial yang luar biasa, posisi yang baik, dsb. Dan sepanjang hidup ikut Tuhan, dia tidak banyak bicara. Sepanjang ikut Tuhan, dia menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan tidak banyak bicara. Yang ada ialah justru banyak orang membicarakan hal yang baik tentang dia. Banyak orang pergi dan bersaksi bagaimana pertemuan mereka dengan Demetrius memberikan sukacita besar kepada mereka. Mungkin ada satu dua kali kita juga berjumpa dengan orang-orang seperti Demetrius dalam pelayanan kita. Ada begitu banyak yang dengan diam-diam mendukung satu pelayanan atau men-support badan-badan misi dan memberikan dukungan dana yang begitu besar kepada pekerjaan Tuhan tanpa banyak bicara. Dan sampai puluhan tahun tidak banyak orang mengetahui siapa orang-orang ini. Itulah Demetrius. Tetapi akan menjadi satu keindahan, this type of person. Kita dengan diam-diam mendoakan orang, kita diam-diam membantu dan mendukung pekerjaan Tuhan, dan kita menjadi orang yang membawa satu sukacita yang luar biasa. Kita mengucap syukur, sepanjang sejarah kita bertemu begitu banyak anak-anak Tuhan yang seperti ini.

Hari ini melalui firman Tuhan ini mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, siapakah kita di dalam pelayanan pemberitaan Injil? Mungkin kita tidak bisa pergi sebagai misionari ke tempat jauh, mari kita dukung dan support orang-orang lain yang bisa pergi dengan doa dan uang kita. Tetapi jangan menjadi seperti Diotrefes, yang kalau tidak melalui dia, orang lain pun tidak boleh kerjakan. Kiranya firman Tuhan ini menjadi berkat bagi setiap kita. Saya percaya ada begitu banyak Gayus-Gayus di tengah kita, ada begitu banyak Demetrius-Demetrius di dalam pelayanan kita. Dan saya percaya ada begitu banyak anak-anak Tuhan yang menjadi Gayus dan Demetrius dimana saja, karena pikiran mereka cuma satu: pekerjaan Tuhan lebih penting daripada kemasyuran nama sendiri. Bersyukur untuk firman Tuhan pada hari ini yang membukakan siapa diri orang-orang ini di hadapan Tuhan. Kiranya Tuhan menolong setiap kita pada waktu membaca dan merenungkannya, dan kiranya pada saat yang sama hati kita melimpah dengan syukur karena kita menyaksikan bagaimana Tuhan berkarya di dalam pembentukan diri kita satu-persatu. Dan betapa sukacitanya kita saat menyaksikan begitu banyak anak-anak Tuhan yang mementingkan pekerjaan Tuhan, pemberitaan firman Tuhan, dan penyebaran Injil Tuhan lebih daripada segala yang lain.(kz)