Pemulihan Hubungan yang Retak

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filemon
Tema: Pemulihan Hubungan yang Retak
Nats: Filemon 1:1-25

Ernest Renan, seorang kritikus dan filsuf Perancis mengatakan surat Filemon adalah “a true little masterpiece.” Tidak ada sebuah surat pribadi yang menyatakan keindahan seperti surat dari rasul Paulus kepada Filemon ini. Sebuah surat rekonsiliasi, surat yang menyatakan bagaimana pemulihan dari satu hubungan yang sudah retak.

Bagaimana perasaanmu jikalau engkau mempunyai seorang karyawan yang baik. Sejak muda engkau melihat dia bekerja dengan rajin, lalu selangkah demi selangkah engkau memberi dia kepercayaan dan jabatan sampai menjadi manager. Engkau melihat dia bekerja dengan luar biasa, engkau senang melihat usahanya dan engkau percaya kepadanya 100%. Bahkan kunci rumah dan kunci brankasmu engkau berikan kepada dia yang simpan sebagai orang yang dapat engkau percaya. Uangmu di bank dia yang urus, account bank-mu dia tahu semua. Namun pada waktu engkau pergi berlibur bersama keluarga, tiba-tiba engkau pulang semua hartamu lenyap dibawa lari oleh dia. Bagaimana hati dan perasaanmu? Bisakah engkau mengubur akan kemarahan, kesedihan dan kepahitan yang dalam atas pengkhianatan orang itu? Tahu-tahu, beberapa tahun kemudian dia datang kepadamu sambil meminta ampun atas kesalahannya. Dia membawa sepucuk surat dari seorang hamba Tuhan yang meyakinkan engkau bahwa bekas karyawanmu ini sekarang sudah menjadi anak Tuhan yang sungguh-sungguh sudah berubah. Bisakah engkau mengampuni dan mengasihi orang yang sudah merugikanmu dan mengkhianatimu dengan begitu besar melukai hatimu?

Kita tidak tahu secara jelas, apa yang terjadi sampai Onesimus lari dari rumah tuannya, Filemon. Apakah dia seorang budak yang malas, licik dan tidak jujur, seorang oportunis dan tidak tahu berterimakasih, yang pada waktu ada kesempatan kemudian membawa lari uang tuannya? Kita tidak tahu. Pun kita tidak tahu bagaimana Paulus bisa bertemu dengan Onesimus; bagaimana dia akhirnya bertobat setelah mendengar Injil dan kemudian melayani bersama Paulus. Kita kagum dengan bagaimana Tuhan berkarya dalam hidup seseorang. Seandainya Onesimus tidak kabur, kira-kira bagaimana dia bisa bertemu dengan Tuhan Yesus? Hal-hal yang kadang-kadang kita tidak sangka dan tidak duga terjadi. Kita tidak tahu bagaimana ketemunya, tetapi karena bertemu dengan Paulus, mendengar khotbah Paulus, Onesimus mengalami perubahan total dalam hidupnya. Dia menerima Tuhan Yesus, dan di situ Paulus melihat kuasa transformasi itu terjadi kepada dia. Maka Paulus memakai kalimat ini, “Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak daripadamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya” (Filemon 1:15). Dalam perpisahan yang sementara dan supaya akhirnya kelak Tuhan menyatakannya sebagai satu hal yang indah dan baik. Onesimus datang dan bertemu dengan Filemon. Perjumpaan itu saya percaya mengejutkan hati Filemon. Onesimus berdiri di depan pintu rumahnya sambil membawa sebuah surat dari rasul Paulus. Bagaimana perasaan hati Filemon, kita tidak bisa bayangkan. Apakah hatinya meluap-luap dengan kemarahan, kebencian, kepahitan oleh karena dikhianati? Apakah hubungan yang sudah rusak bisa diperbaiki lagi?

Di dalam surat ini, meskipun bicara mengenai hubungan dua orang, Filemon dan Onesimus, tetapi sesungguhnya surat ini tidak berfokus dan bicara mengenai mereka. It is not about Onesimus; it is not about Filemon. It is about Jesus Christ. Justru di dalam surat yang singkat ini nama Yesus Kristus yang paling banyak disebut oleh rasul Paulus. Surai ini bicara mengenai kuasa Injil yang luar biasa, kuasa Injil Yesus Kristus merubah moral dan karakter seseorang. Filemon tidak mungkin bisa berubah dengan sendirinya. Dia tidak bisa memaafkan Onesimus dengan sendirinya. Onesimus pun tidak bisa dengan sendirinya merendahkan diri, mengakui segala kesalahan dan dosa dan datang dengan siap menghadapi segala resikonya. Itu semua bisa terjadi ketika kuasa nama Yesus Kristus, Pribadi itu merubah engkau. Di situlah perasaan malu kita tanggalkan; di situlah harga diri kita singkirkan; di situlah kerugian material kita abaikan; di situlah kemarahan, sakit hati, kesedihan, kepahitan kita pendam dan buang semua oleh sebab Injil Yesus Kristus telah merubahmu. Mungkin Onesimus dan Filemon sulit untuk bersatu. Jelas, engkau tidak bisa memaksa akan hal itu. Onesimus mungkin bisa saja mengeluarkan alasan, bahwa dia tidak mendapat apresiasi dan bayaran yang setimpal dengan kerja kerasnya selama bekerja di rumah Filemon, bahwa selama ini sebagai budak dia tidak diperlakukan dengan adil dan baik. Maka dia merasa dengan uang yang banyak yang dia ambil, adil sudah. Ini bukan pencurian. Ini adalah hak yang sepantasnya aku terima, mungkin dia bisa berpikir seperti itu. Tetapi di pihak lain, Filemon juga bisa balik bertanya, apa lagi yang kurang aku beri kepadamu? Saya membeli dia di pasar budak pada waktu dia masih sangat kecil. Saya bawa dia ke rumahku. Saya perlakukan dia seperti anak sendiri. Saya kasih dia makan, saya percayakan usaha bisnisku dia kerjakan. Tetapi apa balasannya? Orang yang tidak tahu budi itu malah membawa lari dan menghancurkan usaha bisnis saya. Kalau itu mau diangkat, tidak ada habis-habisnya. Tetapi bagaimana dua orang yang pernah luka itu ketemu lalu kemudian terjadi satu keindahan pemulihan di dalam relasi mereka? Jawabannya, itu bisa terjadi hanya karena dua orang ini sudah dirubah oleh Injil Yesus Kristus, karena kasih Yesus Kristus di tengah mereka.

Ada beberapa hal yang luar biasa kita dapat dari surat yang singkat ini. Pertama, rasul Paulus di dalam bagian ini mengatakan, “I am an old man.” Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua (Filemon 1:9b). Paulus mengatakan dia seorang yang sudah tua. Tua, bukan karena umurnya saja. Tua, karena pengalaman yang pahit tidak memahitkan hatinya; kesuksesan tidak menjadikan dia sombong. Tua, itu membuatnya menjadi bijaksana. Di situ berarti makin lama saya makin ikut Tuhan, saya bertumbuh dalam anugerah dan kematangan dalam Yesus Kristus. Itulah artinya menjadi tua. Pada waktu kita punya anak, kita punya cucu, kita menjadi orang yang paling tua dan paling senior di sebuh komunitas dan gereja, kiranya kita menjadi orang tua yang indah. Bukan orang tua yang suka bersungut-sungut, bukan orang tua yang pemarah, tetapi seorang tua yang dewasa dan bijak. Paulus juga bertumbuh dalam proses itu. Waktu dia masih muda, ada seorang bernama Markus yang bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas dalam perjalanan misi yang pertama. Di situ Markus pernah berbuat salah dengan meninggalkan pelayanan dan kembali ke Yerusalem (Kisah Rasul 13:13). Ketika dalam perjalanan misi yang kedua Barnabas berniat untuk membawa Markus kembali bersama-sama, Paulus dengan keras menolak hal itu. No way! Orang seperti ini tidak akan pernah sama-sama pelayanan denganku lagi. Akhirnya terjadi perselisihan yang tajam antara Paulus dan Barnabas (Kisah Rasul 15:35-39). Tetapi setelah beberapa puluh tahun kemudian, di ujung dari akhir hidupnya, dalam surat ini Paulus menyebut Markus sebagai rekan sekerjanya (Filemon 1:24). Di sini kita bisa melihat keindahan rasul Paulus sebagai seorang yang tua menjadi teladan dan contoh bagaimana membina kembali hubungan yang pernah retak dan bagaimana menjalin rekonsiliasi di antara orang percaya. Perasaan marah, perasaan dikhianati, perasaan terluka dan semua perasaan negatif terhadap Markus itu dia tanggalkan. Bukan saja Paulus bisa memaafkan Markus, tetapi dia menerima Markus kembali sama-sama melayani Tuhan. “Jemputlah Markus dan bawalah ia kemari, karena pelayanannya penting bagiku” (2 Timotius 4:11). Paulus dengan segala keindahan yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidupnya, dia nyatakan semua itu lebih besar daripada hal-hal yang pernah merugikan kita. Seringkali kita lebih mempertahankan apa yang negatif, yang tidak baik dalam hidup kita, dan itu senantiasa mengganggu kehidupan kita. Mari kita belajar melihat hal-hal yang positif, mari kita belajar bagaimana menanggung dan menerima orang-orang yang mungkin sifatnya berbeda dengan kita, dengan tidak harus menciptakan sesuatu yang tidak baik dalam hidup kita. Seringkali dalam hidup rumah tangga, di dalam bergereja, di dalam pelayanan dan di dalam pekerjaan, kita selalu berpikir it is all about us, it is about ourselves, it is about me, it is about myself. Kebanggaan, kesuksesan, semua bagi diri sendiri. Kiranya nama Yesus Kristus, nama yang indah, agung dan penuh kuasa itu merubah hidup kita, mentransformasi hati pikiran kita. Injil Yesus Kristus harus merubah engkau menjadi seorang yang dibentuk oleh Tuhan makin hari makin serupa dengan Yesus Kristus. Kita bisa jatuh ke dalam kesalahan, kita bisa melakukan kesalahan, kita mungkin mempunyai karakter yang berbeda. Mungkin kita bisa bilang, saya orangnya sudah begini, saya tidak bisa dirubah oleh siapapun. Betul, kita hanya bisa dirubah oleh Yesus Kristus. Dengan kalimat, aku sudah tua, menunjukkan Paulus adalah seseorang yang penuh dengan kedewasaan rohani. Di sinilah kita perlu belajar tidak bicara soal umur saja, tetapi bicara soal bagaimana Tuhan membentuk kita menjadi orang Kristen yang penuh dengan segala kedewasaan. Menjadi orang tua yang membimbing, mengarahkan, mendidik, mengayomi, mencintai, mendoakan, dan menjadi orang Kristen yang menjadi teladan di dalam hidupnya. Gereja membutuhkan anak-anak muda yang dinamis di dalam pelayanan. Gereja mendoakan anak-anak kecil di Sekolah Minggu yang kelak menjadi generasi yang mencintai Tuhan. Gereja membutuhkan pasangan-pasangan muda yang menjadi keluarga-keluarga yang kuat dalam rohani. Tetapi gereja juga membutuhkan the wisdom of old men di dalam gereja Tuhan. Mari setiap kita menjadi orang Kristen yang seperti ini, menjadi orang-orang tua yang mencintai, mengasihi dan menjadi contoh teladan kedewasaan rohani. Paulus tidak memaksa Filemon, Paulus tidak mendesak, tetapi Paulus menyatakan contoh teladan lalu dia mengatakan, dengarlah apa yang aku katakan, karena aku adalah seorang yang sudah tua.

Hal yang kedua, Paulus sama sekali tidak bicara hal yang negatif, tetapi mengenai hal yang indah dan positif. Paulus menyebut semua yang indah, semua yang baik yang dikerjakan oleh Filemon. Paulus menyebut Filemon, Apfia dan Arkhipus dengan akrab dan intim. Paulus menyebut Filemon, “my beloved fellow worker” rekan kerjanya yang kekasih; Paulus menyebut Apfia, saudariku. Paulus menyebut Arkhipus, “my fellow soldier” atau dalam terjemahan bahasa Indonesia: Arkhipus, rekan sekerjaku. Apfia besar kemungkinan adalah isteri daripada Filemon. Dan Arkhipus besar kemungkinan adalah anak laki-laki dari Filemon. Dengan pilihan kata yang dipakai Paulus [my fellow soldier], para penafsir mengatakan kemungkinan Arkhipus berprofesi sebagai tentara Romawi atau bekerja di bidang militer. Dari situ kita bisa tahu ini adalah sebuah keluarga yang berpengaruh dan terhormat dalam masyarakat Romawi pada waktu itu. Dengan posisi seperti itu, mereka memiliki koneksi yang kuat dengan kelompok elite. Ini adalah satu keluarga Kristen yang sungguh-sungguh mencintai dan melayani Tuhan, sebuah keluarga yang cukup kaya raya sehingga mempunyai rumah yang cukup besar untuk jemaat beribadah di rumahnya., rumahnya menjadi tempat ibadah. Paulus bicara semua hal yang indah dan positif dari keindahan hidup dan pelayanan Filemon. “Aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus. Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kau hiburkan, saudaraku” (Filemon 1:5,7). Demikian juga pada waktu dia berbicara tentang Onesimus, Paulus menyebutkan hal-hal yang luar biasa indah dari hidup orang ini. “Onesimus, dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna, baik bagimu maupun bagiku. Dia buah hatiku” (Filemon 1:11-12). Kita tidak bisa membayangkan kalau sampai seorang budak pada waktu itu berani untuk kabur membawa uang tuannya karena itu membutuhkan kekuatan fisik, keberanian dan kelicikan yang luar biasa. Sistem perbudakan jaman Romawi agak berbeda dengan sistem perbudakan jaman kolonial, di jaman kolonial para pedagang budak sengaja menyerang desa-desa di Afrika, menangkap dan menculik orang-orang Afrika untuk dijual sebagai budak. Di jaman Romawi orang bisa menjual dirinya sebagai budak karena faktor ekonomi, meskipun juga ada yang menjadi budak karena tawanan perang. Tetapi sebagai budak, mereka punya kesempatan untuk mendapatkan perlindungan dari tuannya, mereka punya kesempatan untuk mengecap pendidikan dan keahlian, dan bahkan punya posisi yang lebih baik daripada orang merdeka. Meskipun mereka adalah budak, tidak tentu mereka diperlakukan dengan jahat oleh majikannya. Banyak budak yang bisa menjadi dokter, manager, bisa melakukan transaksi bisnis, dsb. Tetapi kalau mereka lari, lalu tertangkap, apa yang akan terjadi kepada mereka? Paling tidak, budak yang tertangkap ini dikembalikan kepada majikannnya dan setelah itu majikannya bisa melakukan apa saja terhadap budak itu. Dia bisa dihukum cambuk; dia bisa disiksa dan dipenjara rumah. Atau dia mendapatkan stempel “F” [fugitivus] di dahinya sebagai tanda ini adalah budak yang pernah melarikan diri atau stempel “CF” [cave furem] beware, thief! atau dieksekusi.

Nama Onesimus itu artinya “berguna” atau “gunawan,” seorang yang diharapkan menjadi orang berguna dalam hidupnya. Maka Paulus memainkan kata dari nama Onesimus ini, “Onesimus, dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna, baik bagimu maupun bagiku” (Filemon 1:11). Onesimus mengalami transformasi perubahan, dia membantu Paulus dan melayani sama-sama. Ada tiga kata yang Paulus pakai bicara mengenai hal yang positif dan apa yang telah terjadi dalam diri Onesimus. Yang pertama, Paulus mengatakan “Onesimus adalah anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara” (Filemon 1:10). “Dia saudaraku yang kekasih” (Filemon 1:16). Tetapi yang paling menyentuh hati adalah Paulus mengatakan, “Dia adalah buah hatiku” (Filemon 1:12). Dari situ kita bisa melihat betapa dekatnya dan eratnya hubungan Paulus dengan Onesimus.

Dalam catatan sejarah gereja, pernah ada seorang bishop di Efesus yang bernama Onesimus. Ignatius, seorang bapa gereja pernah mengirimkan salam kepada orang ini. Apakah ini adalah Onesimus yang sama? Kita tidak tahu. Yang pasti kuasa Injil telah merubah orang ini, dari hidup yang sembunyi-sembunyi, hidup dalam pelarian, hidup yang menutupi identitas, hidup dalam kegelapan luar biasa. Tetapi karena Injil Kristus, Allah merubah hidupnya. Dia menjadi orang yang hidup dalam terang, dia menjadi orang yang berguna dan melayani sama-sama. Satu rahasia yang dia simpan, akhirnya dia nyatakan kepada Paulus karena dia tahu dia tidak boleh menyimpan apa yang salah dalam hidupnya. Maka dia datang dan dia berkata kepada rasul Paulus, aku sebenarnya seorang pelarian. Aku pernah mencuri dan membawa kabur uang tuanku, Filemon. Maka Paulus melakukan hal yang benar, dia menyuruh Onesimus kembali kepada tuannya. Tetapi Onesimus harus siap menghadapi resiko, karena meskipun Paulus meminta kepada Filemon untuk menerima dan mengampuni Onesimus, Paulus tidak bisa paksa karena secara hukum Filemon berhak melakukan apa saja kepada Onesimus. Paulus hanya bisa meminta, “Karena itu sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan, tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya daripadamu. Aku mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara yakni Onesimus” (Filemon 1:8-10). Paulus tidak menutupi kesalahan Onesimus dan Paulus tidak bisa menahan dia juga, dia harus kembali kepada tuannya dan membereskan persoalan di antara mereka karena itu adalah hal yang benar yang harus dia lakukan. “Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil. Tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela” (Filemon 1:13-14). Paulus meminta Filemon, “Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri. Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku, aku akan membayarnya” (Filemon 1:17-19a). Meskipun uangnya sudah ludes dan habis, Onesimus tetap harus kembali. Uang yang dia bawa lari tetapi harus dibayar kembali. Maka di sini Paulus bilang, dia akan membayarkannya bagi Onesimus. Tetapi lebih lagi, Paulus mengangkat satu hal: benar, Onesimus pernah merugikan engkau secara finansial. Itu mungkin pernah mengganggu hidupmu sementara dalam dunia ini. Tetapi mari lebih baik engkau lihat hidupmu dalam Tuhan sudah memiliki hidup kekal, dan hidup orang ini juga sudah memperoleh hidup kekal dalam Kristus. Itu jauh lebih penting daripada kerugian finansial yang pernah engkau alami dalam kesementaraan di dunia ini. Engkau dirugikan orang dalam dunia ini kerugian itu tidak sampai merugikanmu sampai kekekalan, itu yang harus engkau ingat baik-baik. Kerugian kita dalam hidup kita yang sementara di dunia ini, jangan sampai engkau menjadikannya sebagai hal yang besar dan berat sehingga tidak ada maaf bagi orang yang telah bersalah kepadamu. Di situlah Paulus ingin Filemon membereskan persoalan itu.

Kiranya firman Tuhan ini boleh menjadi berkat bagi setiap kita. Kadang-kadang dalam hidup kita, kita bisa berada di dalam situasi seperti ini. Kita mungkin mengalami seperti Filemon, dikhianati oleh orang yang paling kita trust dalam hidup kita. Kita mungkin seperti Onesimus, pihak yang bersalah dan telah merugikan dan mengecewakan orang yang trust kepada kita. Bisa jadi ada relasi yang sudah retak di dalam keluarga kita, ada relasi yang pahit dengan saudara seiman di dalam gereja, ada luka-luka kemarahan dan kesedihan karena hubungan yang rusak dengan siapa saja. Saya harap firman Tuhan ini boleh menjadi berkat yang indah bagi kita, menyembuhkan hati kita, menghibur dan menguatkan kita, bahkan memampukan kita untuk mengampuni, menerima dan memperbaiki relasi yang sudah pernah retak itu. Sesuatu hal yang tidak gampang dan tidak mudah tetapi di sinilah Injil Tuhan merubah kita dan membentuk kita satu demi satu. Kiranya Tuhan memberkati dan memimpin setiap kita supaya kita boleh hidup di dalam kebenaran dan kasih dan menjadi anak-anak Tuhan yang semakin dewasa dalam hidup kita. Tuhan kiranya menolong kita tidak terhanyut dengan persoalan dan perspektif kita yang sempit sehingga kita tidak mampu melihat gambar yang lebih besar apa yang Tuhan kerjakan dengan indah dalam hidup kita. Kiranya hati kita dipenuhi oleh syukur karena semua hal yang indah dan baik Tuhan sudah bentuk di dalam diri kita, keluarga kita, orang-orang yang kita kenal, dan di situ kita menyaksikan Tuhan sanggup melakukan lebih daripada apa yang kita minta dan kita doakan.(kz)