Love and Truth in Ministry

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 2 Yohanes
Tema: Love and Truth in Ministry
Nats: 2 Yohanes 1:1-13

Surat 2 Yohanes adalah surat yang sangat pendek ditulis oleh rasul Yohanes pada masa tuanya. Dari pendeknya surat ini kita bisa mendapatkan satu kesan ada urgensi yang luar biasa dari rasul Yohanes sehingga menulis surat ini. Ada 3 hal yang kita bisa lihat sangat mempengaruhi dan memenuhi pikiran rasul Yohanes di sini. Yang pertama kita bisa menemukan dari kalimatnya, “aku berharap datang sendiri kepadamu dan berbicara berhadapan muka dengan kamu,” (2 Yohanes 1:12). Dari sini terlihat bahwa Yohanes dipenuhi oleh kegalauan dan kekuatiran akan apa yang akan terjadi. Dia sudah tua dan terbatas di satu tempat dan dia sedang memikirkan beberapa gereja lokal yang sedang mengalami berbagai macam kesulitan internal. Yang kedua , Yohanes melihat bagaimana pengajaran sesat dari guru-guru palsu yang sudah merembes dan menerobos ke dalam gereja. Yohanes menyatakan kekuatirannya dengan mengatakan, “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (2 Yohanes 1:7a), dia melihat kondisi ini sudah begitu memprihatinkan dan dia merasa situasi sangat urgen sekali untuk membereskan akan hal ini. Dan yang ketiga, rasul Yohanes sudah lanjut usia. Fisiknya terbatas, dia tidak bisa bebas melakukan perjalanan dan waktunya hidup di dunia sudah terbatas. Dia perlu melakukan beberapa hal sebelum meninggalkan dunia ini. “Sungguhpun banyak yang harus kutulis kepadamu, aku tidak mau melakukannya dengan kertas dan tinta, tetapi aku berharap datang sendiri kepadamu dan berbicara berhadapan muka dengan kamu, supaya sempurnalah sukacita kita” (2 Yohanes 1:12). Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan surat ini menjadi sebuah surat yang begitu penting diberikan bagi gereja-gereja lokal supaya bersiap menghadapi kesulitan dan tantangan yang ada.

Walaupun tidak ada henti-hentinya dan tidak akan ada habis-habisnya problema, kesulitan dan tantangan yang akan gereja dan umat Tuhan hadapi sepanjang jaman, tetap rasul Yohanes mengajak kita melihat keindahan identitas kita sebagai orang-orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, dan identitas itulah yang harusnya mengingatkan kita untuk tetap berjalan di dalam kebenaran, apapun dan bagaimanapun situasi yang dialami oleh orang-orang Kristen. “Oleh karena kebenaran yang tetap di dalam kita dan yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya” (2 Yohanes 1:2). Inilah identitas kita sebagai anak-anak Tuhan; inilah ciri dan buktinya, dan inilah dorongan yang rasul Yohanes berikan, mari kita saling mengasihi dan mari kita hidup dalam kebenaran.

Kasih dan kebenaran, ini adalah dua kata yang penting menyatakan identitas kita sebagai orang-orang percaya dan dua kata ini harus seimbang di dalam hidup kita menjadi orang Kristen. Disatu sisi ekstrim, ada orang Kristen yang mengatakan tidak perlu tahu soal-soal doktrin yang rumit-rumit, yang penting kita hidup dalam cinta kasih. Buat apa terlalu banyak belajar soal-soal dogma dan hal-hal teologi kalau itu tidak ternyata dalam praktek kehidupan sehari-hari yang penuh kasih? Ekstrim yang kedua, ada orang Kristen yang sangat mementingkan untuk mengerti dengan benar doktrin, teologi dan pengajaran Kristen dan tidak peduli bagaimana hidupnya. Orang Kristen seperti itu menjadi orang yang sangat kaku dan judgmental. Dua ekstrim itu tidak boleh ada di dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan dan itu bukan identitas kita. Dalam bagian ini Yohanes mengatakan, “Dan inilah kasih itu yaitu kita harus hidup menuruti perintah Allah. Dan inilah perintah itu yaitu kamu harus hidup di dalam kasih” (2 Yohanes 1:6).

Bagian pertama, Yohanes memulai dengan sebuah salam hangat. “This letter is from John, the elder. I am writing to the chosen lady and to her children, whom I love in the truth.” [NLT] Dalam ayat 1 ini rasul Yohanes tidak menyebut identitas dirinya sebagai rasul tetapi sebagai penatua [elder] memberi kesan kepada kita selain usia dia yang sudah tua, juga posisi dia sebagai seorang penatua, dan bisa kita katakan dia adalah rasul yang terakhir yang masih hidup waktu itu. Kedua, dia menujukan suratnya kepada “ibu yang terpilih” dan anak-anaknya [the elect lady]. Siapakah yang dimaksud di sini? Ada yang menafsir ini adalah nama seorang pemimpin gereja, seorang wanita yang melayani di salah satu gereja. Yang kedua, penafsir lebih banyak setuju pendapat ini, yaitu dia menyebut gereja lokal dengan sebutan sebagai ibu. Ini bukan sebuah kata bagi Gereja secara universal, sebab kita tahu Gereja secara universal Kepalanya cuma satu yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Kepala dari semua gereja, sedangkan kata ibu di sini lebih ditujukan adalah jemaat yang lokal dimana rasul Yohanes pernah bersentuhan dengan jemaat itu. Dan Yohanes memakai kata ibu, juga untuk mengingatkan peran gereja seperti seorang ibu yang melindungi anak-anaknya dari segala marabahaya. Kemudian di ayat 13, dia juga menyebutkan “Salam kepadamu dari anak-anak saudaramu yang terpilih” atau dalam bahasa Inggrisnya “Greetings from the children of your sister, chosen by God.” [NLT] Yohanesu bicara mengenai sister-church gereja yang lain, yang dimana Yohanes melayani. Sehingga kita bisa tafsirkan dia sedang memberikan sebuah surat kepada sebuah gereja lokal dimana gereja itu sedang menghadapi satu kesulitan dan tantangan yang tidak gampang dan tidak mudah berkaitan dengan munculnya pengajar-pengajar sesat dan Yohanes menulis surat ini untuk memberikan guidance kepada mereka bagaimana menghadapinya. Tetapi sebelum dia berbicara mengenai kesulitan dan tantangan yang ada, rasul Yohanes perlu mengingatkan, mari kita bersukacita terhadap identitas kita sebagai orang percaya, dan biar sukacita itu dilihat dan diketahui oleh dunia ini.

“Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Tuhan Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.” Salam seperti ini juga kita temukan dalam surat-surat rasul yang lain, termasuk rasul Paulus. Para teolog mengatakan ini adalah triumvirat, tiga kata yang saling berkaitan: grace, mercy and peace. Tiga kata ini mewakili relasi kita dengan Tuhan dan tiga kata inilah yang menentukan siapa kita dan identitas kita sebagai anak-anak Tuhan. Grace, kasih karunia, satu kata yang penting yang mewakilkan identitas kita sebagai orang Kristen. Kasih karunia berarti pemberian Allah yang kita tidak layak mendapatkannya. Keselamatan itu tidak kita usahakan, tidak kita perjuangkan, tetapi diberikan kepada kita sebagai pemberian yang kita tidak layak terima. Belas kasihan adalah Tuhan tidak membalas kepada apa yang seharusnya kita terima. Kita yang berdosa sepatutnya diganjar dan dihukum oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak lakukan itu kepada kita. Ganjaran dan hukuman itu ditanggung oleh Anak Allah, Yesus Kristus yang mati bagi kita sehingga kita boleh mendapatkan belas kasihan dari Tuhan. Kita yang telah menerima anugerah dan belas kasihan Tuhan harus juga belajar menjadi orang Kristen yang penuh dengan merciful dalam hidup kita. Gampang sekali kita minta orang kasih kita grace tetapi terlalu susah bagi kita untuk belajar berbelas-kasihan dan merciful kepada orang. Waktu kita bersalah, kita minta orang cepat-cepat memaafkan kita. Begitu ada orang bersalah, kita cepat-cepat ambil batu untuk menimpuk dia. Pada waktu seorang wanita kedapatan berbuat zinah, orang menyeret dia kepada Yesus dan masing-masing mengambil batu siap-siap untuk melempari wanita itu. Tetapi Yesus tidak melakukan itu (Yohanes :1-11). Dalam kehidupan sehari-hari kita juga menemukan hal yang sama. Pada waktu seseorang kedapatan jatuh dalam dosa dan dia adalah seorang yang memiliki posisi penting dalam masyarakat, terlalu sering dan terlalu cepat kita ikut mengeluarkan caci-maki dan menjelekkan orang itu daripada kita belajar untuk memiliki hati yang merciful dan berbelas-kasihan kepada orang itu. Hidup kita harus seimbang dalam dua hal ini. Tuhan kasih kita grace, sesuatu yang tidak layak kita terima. Tetapi Tuhan juga merciful, sehingga pada waktu Daud berdosa dan mengaku dosanya di hadapan Tuhan, dia bersyukur karena Allah tidak melakukan kepada kita setimpal dengan dosa kita dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita. Tetapi sejauh timur dari barat demikian dijauhkannya dosa dan pelanggaran kita (Mazmur 103:10-12). Itulah sebabnya grace and mercy yang menjadikan identitas orang Kristen sehingga hal yang ketiga muncul: peace, damai sejahtera. Damai sejahtera itu datang bukan dari siapa-siapa, tetapi itu dilakukan oleh dua Pribadi Allah kita, yaitu Allah Bapa, dan Yesus Kristus, Allah Anak yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita.

“Aku bersukacita bahwa aku mendapati bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa dan sekarang aku minta kepadamu, ibu bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu tetapi menurut apa yang ada pada kita daripada mulanya yaitu supaya kita saling mengasihi. Dan inilah kasih itu yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintahNya. Dan inilah perintah itu yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya” (2 Yohanes 1:4-6). Identitas orang Kristen penuh dengan kasih dan kebenaran bukan sekedar satu pengetahuan intelektual tetapi berarti berjalan dalam kebenaran. Kalimat, “Aku bersukacita bahwa aku mendapati bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran,” tidak berarti bahwa hanya sebagian dari jemaat mereka yang hidup baik-baik. Terjemahan yang lain mengatakan, how happy I was to meet some of your children and find them living according to the truth. [NLT] Dari terjemahan ini kita mendapat kesan bahwa rasul Yohanes ada berjumpa dengan beberapa orang dari jemaat, entah dalam perjalanan atau mereka datang mengunjungi dia, tidak disebutkan dengan jelas di sini. Dan hati dia mengucap syukur melihat bahwa orang-orang Kristen ini dimana saja mereka berada, mereka menyatakan satu hidup yang betul-betul seturut dengan apa yang mereka imani. Itu yang membuat rasul Yohanes mengucap syukur dan kemudian dia sampaikan surat ini kepada gereja lokal di sana. Dan mungkin dari perjumpaan itu Yohanes bisa mengetahui keadaan dan situasi yang sedang terjadi di tengah jemaat yang menyatakan concern akan adanya beberapa guru-guru palsu yang datang ke tempat mereka dan mengajarkan ajaran yang sesat, sehingga rasul Yohanes merasa perlu untuk mengingatkan mereka dan memberikan guidance bagaimana sikap yang sepatutnya dalam menghadapi pengajar-pengajar sesat itu. Di pihak lain rasul Yohanes bersyukur luar biasa karena sebagian dari orang-orang yang dia jumpai itu sungguh-sungguh menjalankan kehidupan sebagai orang Kristen yang penuh dengan kasih, dimana kasih itu dinyatakan dengan mereka jalan dan hidup dalam kebenaran.

Kasih bukan perasaan sentimental, kasih adalah satu kekuatan untuk kita melakukan apa yang Tuhan perintahkan dalam hidup kita. Mengasihi dengan benar itu bukan sekedar pengetahuan di dalam pikiran kita tetapi berjalan di dalam kebenaran. Kalau kita mencintai dan mengasihi Tuhan, kita akan mencintai firmanNya dan kita ikuti prinsip kebenaran firman Tuhan ini. Yohanes ingatkan mereka jikalau mereka tidak hidup berjalan di dalam kebenaran, mereka tidak akan tahan menghadapi gelombang demi gelombang datang menggerogoti kehidupan bergereja. Gereja tidak pernah akan hancur dikalahkan oleh tekanan dari luar, tetapi gereja akan hancur karena digerogoti dari dalam.

Maka di ayat 7 kita menemukan kalimat Yohanes sangat concern sekali, “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, mereka tidak mengakui bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikritus.” Situasi gereja menghadapi pengajaran sesat sangat serius menyatakan kuantitas dan pengaruhnya yang global. Yohanes menulis surat ini sekitar tahun 80-90 AD dimana gereja mengalami tantangan pengajaran Doketisme dan Gnostiksisme. Ini adalah pengaruh daripada pengajaran filsafat Yunani yang mengatakan bahwa tubuh ini jahat sedangkan roh adalah baik adanya. Maka tidak mungkin Allah yang Roh itu turun menjadi manusia dengan tubuh yang jahat ini, maka mereka menolak inkarnasi Yesus. Bagi mereka tidak mungkin Allah yang suci, Allah yang baik dan benar itu mengambil rupa sebagai manusia. Pengajaran-pengajaran sesat ini sangat berbahaya sekali karena mereka menyebut nama Yesus yang sama, istilah yang dipakai sama dan kata-kata yang dipakai sama, tetapi pengertiannya sama sekali berbeda. Sampai hari ini kita menemukan bahwa gereja terus menghadapi pengajaran-pengajaran yang sesat muncul yang menyatakan nama Yesus Kristus, memakai istilah yang sama, memakai nama gereja, bahkan mengutip ayat-ayat Alkitab tetapi apa yang diajarkan sama sekali berbeda. Setiap jaman kita menghadapi tantangan-tantangan yang mungkin berbeda dengan orang Kristen di jaman dulu, tetapi rasul Yohanes memanggil kita hidup sebagai orang Kristen yang otentik, hidup dalam kebenaran dan kasih; mengenal kebenaran, menjalani dan menghidupi kebenaran.

Yang kedua, di ayat 8-9 rasul Yohanes ingatkan kepada kita, “Waspadalah supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kamu kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.” Ia mengingatkan kita untuk waspada supaya kita jangan sampai kehilangan apa yang menjadi upah kita, maksudnya bukan menyatakan bahwa kita akan kehilangan keselamatan kita, tetapi kalimat ini lebih mempunyai pengertian kiranya kita selalu memiliki ketekunan dan kesungguhan untuk hidup menjadi anak Tuhan, karena besar upah yang menanti kita. Tetapi jikalau kita tidak menyadari atau tidak fokus kepada hal itu seringkali kita mudah menjadi undur, kecewa dan akhirnya tidak menyatakan hidup sebagai anak Tuhan yang sungguh-sungguh benar di dalam dunia ini karena kita merasa tidak ada gunanya dan tidak ada untungnya kita hidup seperti itu. Kita bisa letih dan cape pada waktu kita bilang kita mau tunjukkan hidup sebagai anak Tuhan di tempat pekerjaan kita, dalam pergaulan kita, karena kita menghadapi tantangan yang lebih besar ketimbang diam saja tidak menyatakan identitas kita sehingga kita tidak menjadi offended bagi orang lain. Bisa jadi di dalam kita mengikut Tuhan dan melayani dengan rajin, malah mungkin tekanan dan kesulitan bisa datang silih berganti. Orang tidak menghargai dan apresiasi pelayanan kita dan itu bisa membuat kita undur dan kehilangan sukacita ikut Tuhan. Inti kata yang dipakai Yohanes di sini: Waspadalah! Jangan sampai engkau lupa, walaupun engkau belum lihat itu.

Yang kedua, Yohanes menyebutkan ada orang yang mempunyai identitas menjadi orang Kristen tetapi pada kenyataannya mereka bukan orang Kristen. Bagaimana kita tahu tanda-tandanya? “Setiap orang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, dia tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak” (2 Yohanes 1:9).

Bagian yang terakhir, rasul Yohanes meminta jemaat gereja untuk berani mengambil sikap yang tegas untuk menolak dan tidak membuat kelompok orang ini masuk ke dalam komunitas gereja. “Jikalau seseorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat” (2 Yohanes 1:10-11). Tidak berarti kita tidak boleh melakukan pelayanan menerima orang datang di rumah kita, tetapi kalimat ini mempunyai pengertian karena konteks gereja pada waktu itu adalah gereja rumah, dimana ibadah dilakukan di rumah-rumah yang cukup besar untuk jemaat datang beribadah dan hamba Tuhan yang melayani tinggal di rumah tsb. Maka begitu seorang pemilik rumah membuka pintu rumahnya untuk mengundang orang itu masuk, maka dia bukan saja bisa tinggal beberapa hari di rumah itu, dia bisa tinggal sampai berbulan-bulan tidak pergi-pergi dari rumah itu. Dan kalau itu adalah seorang pengajar sesat, dia bisa mempengaruhi komunitas gereja rumah itu. Maka di sini rasul Yohanes mengingatkan mereka untuk bersikap tegas dan jangan sungkan untuk menolak orang-orang seperti itu dan jangan membawa mereka masuk dan jangan membawa ajaran mereka masuk dan bahkan jangan bersentuhan dengan kehidupan orang-orang ini. Di sini kita bisa menyaksikan sikap seperti ini penting sekali supaya gereja Tuhan menjadi gereja yang benar, gereja yang berjalan di dalam kebenaran, gereja yang menghidupi kebenaran, tetapi sekaligus juga melayani di dalam kasih di dalam hidup ini. Kiranya firman Tuhan ini boleh menjadi berkat bagi kehidupan kita dan bagi pelayanan kita sama-sama.

Kita tahu kita menghadapi tantangan yang tidak gampang dan tidak mudah di dalam hidup kita sebagai umat Tuhan di masa-masa sekarang. Tidak henti-hentinya kita juga menghadapi serangan dan tantangan dari luar dan dari dalam, dari orang-orang yang tidak menyukai kebenaran firman Tuhan. Betapa susah dan beratnya pada waktu kita hidup di dalam menghadapi tantangan seperti ini. Kita senantiasa perlu bersandar dan mendapatkan kekuatan, hikmat dan bijaksana dari Tuhan sehingga kita bisa melewatinya. Yang kita perlu senantiasa kita berjalan menghidupi kehidupan kita masing-masing secara benar seturut dengan kebenaran firman Tuhan. Kita percaya mereka yang hidup di dalam Tuhan, mereka yang hidup di dalam kebenaran, mereka tidak akan pernah kehilangan upah kita selama-lamanya di dalam kekekalan. Itulah sebabnya firman Tuhan senantiasa mengingatkan kita untuk waspada dan tidak membiarkan diri kita hanya melihat apa yang ada di depan saja, tetapi terus melihat apa yang tidak akan pernah terhilang dari hidup kita mengasihi dan melayani Tuhan dan kita akan menerima apa yang telah disediakan Allah bagi kita. Kiranya Allah memberkati kita sekalian yang melayaniNya, biar kita tetap setia ikut Tuhan sampai akhir, sekalipun kita menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup kita. Kiranya Allah memberkati keluarga kita, dan dimana saja kita berada Tuhan menuntun dan memimpin kita supaya kita boleh dilihat oleh orang dan mereka tahu kita adalah anak-anak Tuhan karena kita hidup penuh dengan syukur karena menyadari begitu banyak hal yang kita terima dari Tuhan kita tidak layak. Kiranya kita hidup penuh dengan cinta kasih dan belas kasihan karena kita memiliki Allah yang penuh dengan belas kasih juga kepada kita. Kiranya Allah memberikan kepada kita sukacita dan damai sejahtera dalam hidup kita sehingga orang lain tahu situasi hidup kita tidak pernah mempengaruhi hidup kita tetapi kebenaran firman Tuhan mempengaruhi hati kita.(kz)