Insensitive Responses to Human Suffering

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Maleakhi (7)
Tema: Insensitive Responses to Human Suffering
Nats: Maleakhi 4:1-6, Lukas 13:1-9

“Bahwa sesungguhnya hari itu akan datang, menyala seperti perapian. Maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan terbakar oleh hari yang akan datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka. Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang” (Maleakhi 4:1-2).

Maleakhi 4:1-6 bicara mengenai satu hari yang akan datang, hari itu adalah hari dimana Allah akan menyatakan penghakimannya secara adil. Ini adalah berita yang terakhir dari Perjanjian Lama, namun firman Tuhan itu bukan berhenti sampai dengan selesainya Perjanjian Lama. Allah berjanji menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu Ia akan mengutus nabi Elia kepada mereka. Orang Yahudi tahu dan menantikan janji Allah ini, dimana sebelum hari itu datang, Ia akan mengirimkan seorang nabi yang besar kuasanya seperti Musa dan Elia, dan dia akan membalikkan hati orang-orang untuk bertobat supaya jangan sampai hari penghakiman itu tiba, dimana pada hari itu tidak akan ada lagi kesempatan untuk bertobat dan berbalik kepada Allah, dimana tidak ada satu orang pun bisa terluput. Itulah sebabnya pada waktu Yohanes Pembaptis muncul, mereka berpikir apakah janji yang Allah katakan di dalam kitab Maleakhi sekarang sudah tergenapi. Maka mereka bertanya kepada Yohanes Pembaptis, “Siapakah engkau? Engkaukah Elia? Engkaukah nabi yang akan datang itu?” [lihat Yohanes 1:19-23]. Mereka bertanya demikian sebab mereka tahu firman Allah melalui Maleakhi berkata, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Maleakhi 4:5-6). Sebelum hal itu terjadi, maka berita ini penting, “Berbaliklah! Kembalilah kepadaKu!” firman Tuhan. Dalam Lukas 13:6-9 kita melihat bagaimana Yesus Kristus menyatakan ketika hari penghakiman itu ditunda untuk sementara waktu oleh Allah, itu menjadi satu pertanda bahwa Allah memberikan waktu dan kesempatan agar anugerahNya dan belas kasihanNya itu diperpanjang adanya.

Lukas 13:1-5 berbicara mengenai dua peristiwa yang baru saja terjadi saat itu. Jelas dua peristiwa itu adalah dua peristiwa yang sangat menggemparkan luar biasa. “Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang yang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan” (Lukas 13:1). Ini adalah peristiwa aktual yang terjadi dimana sangat besar sekali kemungkinan orang-orang dari daerah Galilea ini sedang datang berbakti di Bait Allah pada hari raya Paskah. Pada saat mereka sedang membawa korban binatang untuk dipersembahkan di atas mezbah, terjadilah peristiwa ini dimana tentara-tentara Pilatus datang menangkap dan menyembelih mereka dan darahnya dicampurkan dengan darah korban binatang yang ada di atas mezbah itu. Kasus yang kedua adalah kasus dimana ada 18 orang sedang berdiri dekat menara di Siloam, mati tertimpa batu saat menara itu roboh. Kemungkinan besar menara yang dimaksud adalah menara yang menghubungkan tembok bagian timur dan selatan kota Yerusalem, yang roboh pada waktu para pekerja sedang membangun konstruksi saluran air dari Siloam. Orang-orang ini mungkin sedang berjalan lewat di situ atau mungkin sedang bekerja, lalu tiba-tiba menara itu roboh dan mereka tidak sempat menghindar, akhirnya mati tertimpa batu.

Dari dua peristiwa ini kita bisa melihat ada dua jenis penderitaan dan kematian yang terjadi pada manusia. Yang pertama, penderitaan dan kematian yang disebabkan oleh perbuatan orang jahat. Yang kedua, penderitaan yang terjadi karena bencana alam. Inilah dua jenis peristiwa yang besar yang terjadi di dalam kehidupan kita sampai hari ini. Yang satu adalah penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh orang jahat kepada orang baik. Yang kedua adalah kematian yang terjadi karena bencana alam, gempa, tsunami, tabrakan mobil, penyakit dan hal-hal yang bisa terjadi seketika di dalam kehidupan kita yang tidak kita sangka-sangka. Semua ini bisa datang dengan tidak terduga, kapan saja, kepada siapa saja.

Bagaimana orang berespon dan menanggapi, pada saat mereka mendengar satu peristiwa bencana atau kematian yang terjadi? Bagaimana orang Kristen seharusnya berespon dan menanggapinya? Kadangkala bahkan dari pihak orang Kristen muncul respon dan tanggapan yang sangat tidak sensitif terhadap segala penderitaan dan kesulitan dari manusia. Kalau yang ditimpa bencana itu adalah orang jahat, mungkin orang langsung bereaksi itu adalah balasan atas perbuatannya yang jahat selama hidupnya. Keadilan Tuhan terjadi atas dia. Itu adalah hukum karma atas kejahatannya. Respon yang lain, ada orang-orang yang menjadikan penderitaan yang terjadi di atas muka bumi itu sebagai alasan mereka mempersalahkan Tuhan, atau mengatakan Tuhan tidak ada. Di mana Tuhan? Kalau Tuhan ada, kalau Tuhan itu berkuasa dan penuh dengan kasih, mengapa Dia membiarkan kejahatan terjadi di atas muka bumi ini? Kenapa Tuhan tidak bertindak dan mencegah bencana dan kesulitan besar menimpa orang? Kalau begitu, lebih baik tidak percaya Tuhan atau lebih baik tidak percaya Tuhan itu ada.

Dalam Lukas 13:1-5 ada orang-orang yang datang kepada Yesus mempercakapkan peristiwa orang-orang Galilea yang mati dibunuh Pilatus itu. Jelas mereka menuduh pasti orang-orang ini ada dosanya sehingga mereka mengalami kematian seperti itu. Ini adalah respon yang sangat tidak sensitif pada waktu seseorang melihat penderitaan dan kesulitan terjadi. Yesus menegur mereka, “Sangkamu orang-orang ini lebih banyak dosanya daripada orang-orang Galilea yang lain?” Artinya, jangan cepat-cepat menuduh dosa orang sebagai penyebab malapetaka terjadi kepadanya. Semua orang sama berdosanya di hadapan Tuhan. Maka kemudian Yesus menyebutkan peristiwa kedua, peristiwa orang-orang mati tertimpa menara di Siloam, yang bisa terjadi kepada siapa saja. Tidak berarti orang-orang itu lebih berdosa daripada orang-orang lain yang tinggal di Yerusalem. “Tidak! KataKu kepadamu!” (Lukas 13:3, 5). Kalau Yesus sampai dua kali berkata, Tidak! berarti sebagai orang Kristen kita tidak boleh punya pikiran seperti itu. Yang Yesus katakan di situ adalah untuk menjawab respon yang sangat tidak sensitif dari mereka. Respon itu dikarenakan mereka memiliki perasaan superior atas kondisi spiritual mereka, mereka merasa diri lebih baik daripada orang-orang yang tertimpa kemalangan. Ini dapat kita lihat dalam diri orang-orang Yahudi dalam kitab Maleakhi pada waktu mereka menyatakan tidak ada gunanya berbakti kepada Allah, tidak ada untungnya melayani Allah (Maleakhi 3:14). Kalimat itu muncul ketika orang memiliki sikap berbisnis kepada Tuhan: dengan berbakti dan melayani Allah sepatutnya kita mendapat balasannya, seharusnya hidup kita selalu diberkati Allah. Maka pada waktu mereka mengalami kesulitan dan ditimpa bencana berarti Tuhan tidak sayang kepada mereka.

Tetapi kita akan merasakan lebih dalam lagi pada waktu orang-orang yang mengalami kesulitan itu memiliki hubungan dan koneksi dengan kita. Mungkin itu adalah keluarga kita, orang yang dekat dengan kita dan orang yang kita kenal dan tahu. Pada waktu mendengarkan kabar seperti itu kita bisa tersentak dan kaget. Bukan saja di dalam bencana yang berskala besar seperti gempa dan tsunami, mungkin juga dalam bencana yang berskala kecil: anak tetangga, anak teman, baru saja pergi ke sekolah, tiba-tiba ditabrak mobil di depan pagar sekolah dan meninggal dunia. Reaksi orang biasanya bertanya, kenapa bisa terjadi, dsb. Kesulitan dan penderitaan seharusnya melahirkan rasa empati dan hati yang turut menangis, berdoa dan hadir di situ bersama mereka yang sedang mengalaminya. Banyak hal kita tidak bisa mengerti tetapi sikap yang menuduh kalau hal yang buruk terjadi kepadanya, orang itu pasti ada dosanya dan salahnya, dan kalau kita tidak mengalami itu membuktikan kita memiliki hubungan yang lebih rohani dengan Tuhan daripada mereka, ini adalah pikiran yang sama sekali keliru. Yesus menegur sikap seperti itu. Kesulitan dan penderitaan yang terjadi kepada diri orang bukan oleh sebab mereka lebih berdosa daripada orang lain. Pada waktu hidup kita berjalan dengan lancar, tidak berarti bahwa Tuhan lebih mengasihi kita lebih daripada orang lain. Dan pada waktu bencana terjadi dan tiba kepada kita tanpa kita duga dan sangka, kita tidak boleh cepat-cepat mempersalahkan diri, mempersalahkan situasi, atau mempersalahkan Tuhan di situ. Dalam bagian ini Yesus hanya ingatkan mereka jangan berespon dengan berpikir kalau itu tidak terjadi kepada kita, berarti kita mempunyai moral atau spiritual yang lebih superior daripada mereka yang tertimpa kemalangan itu. Kita juga tidak boleh dengan secara kerdil dan dangkal menilai kebesaran dan cinta kasih Tuhan hanya berdasarkan karena kita kena bencana atau tidak; karena kita luput atau tidak luput. Saya pikir sangatlah kerdil dan dangkal jikalau kita ingin bersaksi bahwa Tuhan kita besar, baik dan luar biasa hebat hanya berdasarkan ketika peristiwa itu terjadi orang Kristen terluput darinya karena kebesaran, kebaikan dan kehebatan Tuhan tidak ditentukan oleh hal-hal seperti itu. Justru malah mungkin kita bisa mempermalukan nama Tuhan jika kita melakukan hal demikian. Ada orang mengirimkan foto-foto kondisi setelah gempa terjadi di satu tempat, lalu kemudian memperlihatkan di antara bangunan-bangunan yang hancur, lalu ada satu gedung gereja masih berdiri tegak. Lalu kemudian orang Kristen ramai-ramai mengedarkan foto itu untuk menyatakan bukti bahwa Tuhan mengasihi dan melindungi anak-anakNya dari bencana itu. Padahal ternyata ada puluhan gedung gereja di lokasi yang lain yang hancur dan roboh, bahkan ada banyak anak-anak Tuhan yang meninggal dunia karena gempa itu. Apakah berarti gedung gereja yang tidak roboh itu lebih diberkati Tuhan daripada gedung gereja yang roboh? Apakah berarti orang Kristen yang tidak kena bencana lebih diberkati Tuhan daripada orang Kristen lain yang terluka atau meninggal dunia? Saya percaya kebesaran dan kasih dan kuasa Tuhan tidak boleh ditentukan dengan ukuran seperti itu.

Itulah sebabnya Yesus memberikan teguran kepada orang-orang yang datang kepadaNya juga menjadi satu pembelajaran penting sikap dan respon yang sepatutnya kita berhadapan dengan peristiwa penderitaan dan bencana. Yang pertama, Yesus tidak menjanjikan berarti bahwa kita yang setia dan taat ikut Tuhan akan terluput dari penderitaan dan kematian. Hal itu akan tiba kepada kita karena penderitaan dan kematian menjadi konsekuensi dari universalitas dosa. Penderitaan, kematian, bencana, sakit-penyakit, semua akan terus terjadi. Sebab apa? Sebab semua itu adalah sebagai akibat karena adanya universalitas dosa yang masuk ke dalam dunia. Dan pada waktu dosa itu ada di atas muka bumi ini, konsekuensi daripada dosa adalah kematian (Roma 3:23). Dengan kata lain kepada orang-orang yang bertanya kepadaNya seolah-olah Yesus ingin membalikkan posisi: coba pikir mengapa bukan kamu yang mati dibunuh oleh Pilatus; coba pikir mengapa bukan kamu yang ditimpa oleh menara itu? Kamu toh tidak lebih baik daripada orang-orang Galilea itu, dan sudah tentu kamu tidak lebih rohani daripada orang-orang yang mati tertimpa menara itu. Artinya jika Allah masih memberimu kesempatan hidup sampai hari ini, itu adalah kesempatan anugerah Allah yang diperpanjang ditambahkan kepada setiap kita.

Yang kedua, Yesus katakan hal yang kita perlu hanya satu: yaitu kita harus bertobat. Kita harus bertobat. Inilah juga yang Maleakhi serukan kepada bangsa Israel. “Kembalilah kepada Allah, maka Allah akan kembali kepadamu!” (Maleakhi 3:7b). Bertobatlah! Berbaliklah kepada Allah. Kalau kesulitan dan penderitaan dan kematian terjadi, kita baru sadar betapa rentannya hidup ini dan betapa dosa itu telah menyebar kepada segala aspek hidup manusia sehingga tidak ada satu pun di antara kita yang bisa luput dari konsekuensi dari dosa yaitu kematian. Kalau kita masih bernapas dan kematian itu belum menimpa kita, maka itu momen dimana Yesus berkata, kita harus bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Berbalik di situ bukan sekedar perbuatan etika kita, berbalik di situ berarti kita tahu sifat dari dosa yang pertama adalah tidak mengijinkan Tuhan bekerja di dalam hidup kita. Dosa berarti kita menjadi tuhan atas hidup kita dan kita sendiri yang atur perjalanan hidup kita. Itulah sifat dosa yang membuat Tuhan itu tidak ada di dalam hidup kita. Kita perlu berbalik kepada Dia. Kalau tidak, hari itu adalah hari dimana Allah menyatakan penghakimanNya atas kita.

Yang ketiga, Yesus selanjutnya bicara melalui sebuah perumpamaan. “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Lukas 13:6-9). Dalam perumpamaan itu pemilik kebun anggur adalah Allah; pohon ara itu adalah orang Israel; dan pengurus kebun itu adalah Yesus Kristus. Sebagai orang percaya, kita tahu penghakiman Allah sudah dibereskan di atas kayu salib. Sampai hari ini orang Yahudi terus menolak Yesus sebagai Mesias dan Tuhan mereka. Sebab hari penghakiman yang mereka nantikan adalah hari dimana mesias akan datang untuk mendirikan kerajaan Israel dan untuk membereskan kejahatan dan menciptakan shalom di atas muka bumi ini. Itu sebab mereka berpikir kalau Yesus mati di kayu salib namun sampai hari ini kejahatan masih ada maka mereka katakan Dia bukanlah mesias yang Allah janjikan itu. Mereka terus menantikan mesias yang akan datang. Yang mereka tidak lihat adalah hari penghakiman Allah itu sudah terjadi yaitu ketika Allah membereskan the universality of sin dan konsekuensi dosa itu telah ditanggung oleh Yesus Kristus di atas kayu salib. Penghakiman Allah sudah tiba, yaitu penghukuman dosa sudah selesai, termasuk dosa kita sudah selesai dihukum, bukan ditanggung oleh kematian kita tetapi ditanggung di atas kematian Yesus Kristus. Puji Tuhan!

Perumpamaan ini Yesus berikan sebagai satu pengharapan bagi manusia. Ketika pengurus kebun itu mengatakan, berilah kesempatan satu tahun lagi, itu adalah kesempatan manusia menikmati anugerah dan belas kasihan Allah supaya orang bertobat dan berbalik kepada Allah sebelum Ia menutup hari penghakiman itu dengan final, hari penghakiman dimana Ia akan datang tidak lagi sebagai bayi kecil yang sederhana tetapi Ia akan datang sebagai Raja di atas segala raja. Ia tidak datang di dalam kelemahan dan mati di kayu salib tetapi Ia akan datang sebagai Pemilik dunia yang sah.

Maka respon kita setiap kali melihat dan mendengar dan menghadapi penderitaan, kita akan berkata, kalau Tuhan belum datang, kapan pun setiap kita pasti akan menghadapi kematian. Tetapi kematian bukan menjadi akhir bagi kita. Kematian telah ditanggung oleh Yesus Kristus; kemenangan itu ada di dalam diriNya. Inilah Injil pengharapan bagi manusia di atas muka bumi ini. Panggilan dari Injil hanya dua: berbalik dan bertobatlah kepada Tuhan. Dan bagi mereka yang sudah berbalik dan bertobat Tuhan mengatakan satu hari baru yang Ia berikan menjadi satu hari dimana Allah memberi anugerah dan belas kasihan bagi kita. Seseorang yang umurnya lebih panjang tidak berarti dia lebih rohani daripada orang Kristen yang hidupnya lebih pendek. Seorang anak Tuhan yang meninggal dengan cara yang mengejutkan bagi kita tidak berarti bahwa hidup mereka lebih buruk daripada kita atau Tuhan tidak sayang kepadanya. Sebaliknya ketika Tuhan memberi umur yang panjang kepada kita, tidak berarti Tuhan lebih mengistimewakan kita daripada anak Tuhan yang lain yang mati secara mendadak. Ketika kita tidak ditimpa sakit, tidak berarti Tuhan lebih sayang kepada kita daripada anak Tuhan yang menderita sakit. Kita tidak boleh sombong dan memegahkan diri, tetapi yang ada ialah kalau Tuhan memberi kita kekuatan kesehatan satu hari lagi itu adalah hari kesempatan dimana kita dipanggil untuk menggemburkan tanah hati kita dan menaruh pupuk firman Tuhan agar hidup kita menghasilkan buah yang lebat adanya.

Mari setiap hari kita jalani dengan hati yang bersyukur kepada Tuhan dan kita berespon kepada Allah dengan benar. Mari kita cabut akar dan onak duri dosa dan nafsu yang salah; kita buang sikap hati yang serakah, akar keraguan yang menyebabkan benih firman seringkali tidak bertumbuh lebat di dalam hidup kita. Setiap kali kita mendengarkan firman daripada Tuhan, kita jadikan firman itu menjadi pupuk yang indah memberi nutrisi bagi rohani kita sehingga firman Tuhan dan kuasa dari Roh Allah yang ada di dalam hati kita terus-menerus melahirkan buah-buah yang indah di dalam hidup kita. Setiap hari kita dipanggil oleh Tuhan membawa Injil Kristus sebagai berita pengharapan bagi manusia yang lain yang belum mengenalNya; berita pengharapan untuk memanggil mereka berbalik dan bertobat kepada Tuhan yang menjadikan hidup mereka menempatkan Tuhan sebagai Tuan dan Raja di dalam kehidupannya. Biar firman Tuhan ini memberikan berkat dan kekuatan bagi setiap kita. Jalani hidup ini dengan sadar ini adalah hari perpanjangan anugerah dan belas kasihan Allah kepada kita yang kita jalani dengan penuh syukur menyadari bahwa kita hidup bukan tergantung dari berapa panjang dan berapa lama di dunia ini, dan bukan kita senantiasa meminta supaya hidup kita berjalan terus dengan lancar adanya. Setiap kali kita diberi kesempatan untuk boleh menikmati hari yang baru, itu adalah tanda belas kasihan Tuhan bagi setiap kita. Karena kita tahu satu kali kelak bahkan bisa jadi secara mendadak banyak hal menimpa kehidupan kita, yang mengingatkan kita bahwa dosa adalah satu pemberontakan yang universal dari manusia yang membuat Tuhan tidak menjadi bagian dalam hidupnya. Kiranya Tuhan senantiasa menjadi yang paling utama dan yang terpenting dalam hidup setiap kita.(kz)