The Refiner’s Fire

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Maleakhi (4)
Tema: The Refiner’s Fire
Nats: Maleakhi 2:17 – 3:5

Dalam Mazmur 121, pemazmur bicara mengenai Allah itu adalah sumber pertolongan kita. Ia adalah adalah Penjaga kita. Allah yang tidak pernah tertidur, Penjaga Israel tidak pernah terlelap. Itu adalah pernyataan mengenai predikat Allah yang begitu kita kenal mengenai siapa Allah. Kita bisa tidur di malam hari dengan begitu nyenyak karena kita yakin dan percaya pada waktu kita bangun pagi hari kita tahu apa yang Tuhan sudah atur dalam alam semesta ini akan berjalan di dalam pemeliharaanNya. Memang terkadang ada masa-masa dimana hujan begitu deras, angin badai menerpa, tetapi kita percaya di tengah awan yang gelap suatu hari langit akan cerah kembali dan matahari akan bersinar lagi. Keindahan semua keteraturan alam ini membuktikan Allah kita adalah Allah yang menjaga dan memelihara setiap kita. Namun engkau dan saya akan terkejut dan kaget kalau kemudian Allah yang perkasa, Allah yang tidak pernah terlelap dan tertidur itu kemudian di bagian ini mengatakan, “Aku lelah!” (Maleakhi 2:17). Bagaimana mungkin Allah yang kuat perkasa itu bisa menjadi lelah? Di sini seolah-olah Ia seperti seorang ayah yang mengalami kekecewaan dan frustrasi yang luar biasa kepada anak-anaknya sehingga ia mengeluarkan kalimat “hatiku begitu lelah dan cape menghadapi kalian!” Tetapi bukannya mereka menjadi sedih dan introspeksi kenapa Tuhan sampai berkata seperti itu, umat Israel ini malah membantah dan balik bertanya, “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Engkau? Kapan kami bikin Tuhan cape?”

Pernahkah kita mengalami tubuh dan jiwa kita begitu cape dan lelah, dan kita sungguh merasa tidak berdaya? Mungkin itu terjadi pada waktu realita yang kita hadapi justru bertolak-belakang dengan apa yang kita harapkan dan cita-citakan. Ada hal yang kita mau kejar dan raih, tetapi pada waktu kita berjalan menuju ke sana, topan dan angin seolah-olah begitu keras melawan dan menghabiskan energi kita untuk berjalan maju. Kalau kita lelah secara fisik, obatnya hanya satu: tidur. Kalau hidup kita mulai stress, ambil waktu untuk berlibur pergi bersama keluarga. Betapa indah suatu persahabatan yang akrab, dukungan dari teman dan sahabat dan orang-orang yang mengasihi dan mendoakan kita, yang mengatakan, “Maju terus, jangan mundur dan patah semangat. Hadapi kesulitan itu, we always pray for you.” Doa dan support seperti itu, saya percaya akan memberikan pembaharuan di dalam hidup kita. Tetapi kalau itu adalah jiwa yang mengalami kelelahan, bagaimana? Dalam Mazmur 42-43 tiga kali pemazmur berkata, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6, 12, 43:5). Mazmur ini menyadarkan kita, kita seringkali lebih cepat mendengar suara-suara dari luar masuk ke telinga kita dan kita lebih jarang berbicara kepada jiwa kita sendiri. Kita perlu terbiasa melakukan satu self-dialog kepada jiwa kita. Kita tidak bisa menuntut situasi di sekitar kita berubah, kita tidak bisa menuntut faktor eksternal di luar berubah, tetapi yang bisa kita lakukan adalah mengerjakan sesuatu dari dalam, kita bicara kepada diri kita sendiri. Kita harus memberikan satu stimulasi dan introspeksi kepada diri sendiri. Di dalam bagian ini pemazmur berkata kepada dirinya sendiri, mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, mengapa engkau gelisah? Mengapa engkau lelah dan kecewa? Berharaplah kepada Allah. Dialah Penolongmu dan Allahmu! Di situlah perspektif kita akan dibaharui, kita tidak lagi fokus kepada suasana hati dan jiwa kita tetapi memandang dan berseru kepada Allah. Kalau kita menjadi lelah dan capai di dalam jiwa kita, bisa jadi itu karena kita terlalu banyak memberikan telinga kepada suara-suara dari luar, atau kita terlalu banyak memberikan jiwa kita berbicara kepada diri kita, akhirnya kita seringkali merasa menjadi korban dan kehilangan sukacita dan pengharapan. Jiwa kita menjadi lelah karena kita membiarkan diri kita menjadi korban dari semua hal yang negatif, semua pikiran-pikiran yang membunuh damai sejahtera dan sukacita kita. Self-defeating thought seringkali muncul. Orang lain bisa berkata engkau tidak mampu dan tidak bisa, memberikan kalimat-kalimat discouragement yang membuat kita menjadi cemas, kuatir, tidak ada pengharapan dan jalan keluar. Semua itu kemudian sanggup untuk bisa membunuh spirit kita. Mari kita belajar menjalaninya dengan sabar melewati proses. Perubahan itu tidak pernah terjadi dengan mendadak, tidak pernah tiba-tiba turun dari langit, tetapi adalah satu jalan yang patut kita tapaki dan jalani dalam hidup ini.

Dan dalam bagian ini Tuhan mengatakan, mengapa engkau menyusahkan Aku? Tuhan sedang berbicara kepada bangsa Israel yang sudah Tuhan pimpin bisa kembali ke tanah asal mereka, tetapi sebaliknya mereka justru mempersalahkan Tuhan dalam hidup mereka. Tuhan kasih kebaikan, dibalikkan oleh mereka sebagai kejahatan. Ketika Tuhan diam dan tidak melakukan apa-apa, mereka bilang Tuhan itu jahat kepada mereka. Itu adalah pemutar-balikan yang mereka lakukan di sini. Maleakhi mengatakan, kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” Dengan cara kamu menyangka: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan – atau jika tidak, dimanakah Allah yang menghukum?” (Maleakhi 2:17). Where is the God of justice? Di manakah Allah keadilan itu? Mereka percaya Tuhan, mereka datang berbakti menyembah Tuhan, tetapi sekarang Tuhan yang mereka sembah itu kemudian mereka tuduh, mereka jadikan Tuhan itu Tuhan yang tidak adil, Tuhan yang tidak baik kepada mereka. Dimana keadilanNya kepada orang-orang yang tidak percaya Tuhan hidupnya lebih lancar sedangkan kita yang percaya Tuhan, hidup kita bukan saja tidak lancar tetapi tidak pernah lepas dari kesulitan dan penderitaan.

Bagaimana Tuhan menjawab? Bagaimana Tuhan menyatakan keadilanNya? Firman Tuhan berkata, “Lihat, Aku menyuruh utusanKu, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapanKu! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke baitNya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu sesungguhnya Ia datang, firman TUHAN semesta alam” (Maleakhi 3:1). Umat Israel bertanya, di manakah Allah keadilan itu? Di sini Aku, kata Allah. Kita yang hidup sekarang ini bisa melihat apa yang Allah katakan di sini telah Ia genapi dengan sempurna melalui kedatangan Yohanes Pembaptis sebagai utusan yang mempersiapkan jalan dan kedatangan Yesus Kristus, Anak Allah. Jadi dari awal dan khususnya di bagian ini Allah telah memberikan sedikit demi sedikit kepada mereka bahwa akan tiba satu masa dimana Allah akan menyelesaikan dan membereskan segala sesuatu supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN (Maleakhi 3:3b). Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah (Maleakhi 3:4).

Pada jaman Maleakhi, mereka terus membawa korban persembahan ke Bait Allah tetapi persembahan itu tidak pernah memperbaharui hidup mereka, tidak pernah menjadi persembahan yang menyelamatkan mereka, karena persembahan itu adalah persembahan yang bercacat-cela. Itu sebab tiap tahun mereka berulang-ulang melakukan hal yang sama, mereka harus datang membawa korban persembahan itu. Maka persembahan-persembahan seperti itu “melelahkan” Allah karena memang tidak pernah menyenangkan hati Allah. Lalu kalau begitu bagaimana kita bisa mencapai standar kesucian keadilan Allah? Puji Tuhan! Tuhan tidak pernah meletakkan itu menjadi tuntutan Dia kepada kita karena selama-lamanya tidak mungkin bagi kita untuk mengerjakannya. Maka Allah sendiri yang akan mengerjakan satu keadilan yaitu dengan mengutus AnakNya sendiri Yesus Kristus. Dengan tiba-tiba Tuhan akan masuk ke dalam BaitNya. Ingat apa yang Yesus lakukan pada waktu Ia masuk ke pelataran Bait Allah dengan cambuk dan memporak-porandakan meja para penukar uang dan pedagang binatang korban, itu menjadi satu titik dimana Yesus mengadakan konfrontasi yang luar biasa dengan pemimpin-pemimpin agama pada waktu itu (Yohanes 2:13-17). Cara Allah menyelesaikan keadilanNya adalah Ia pasti akan menegakkan kebenaran dan keadilanNya di dalam menyelesaikan dosa Ia sendiri yang selesaikan bagi engkau dan saya. Yesus Kristus datang menjadi juruselamat bagi setiap kita.

Yang kedua, bagaimana Allah menyatakan keadilanNya? Kepada mereka yang bertanya akan keadilanNya, Maleakhi berkata, “Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN (Maleakhi 3:2-3). Tuhan bertanya, siapkah engkau menghadapi kedatanganKu? Siapkah engkau ketika Allah menghakimi secara adil? Kita tidak boleh senantiasa berpikir bahwa keadilan Allah menghakimi secara adil hanya untuk orang lain. Waktu orang bersalah kepada kita, kita cepat-cepat sekali meminta keadilan Allah membalaskan kepada orang itu. Tetapi pada waktu kita yang bersalah, kita cepat-cepat minta orang itu memaafkan kita. Kalau bisa kesalahan kita jangan diingat-ingat lagi. Tetapi pada waktu orang lain yang bersalah kepada kita, apakah kita juga berbuat seperti itu kepada dia? Atau kita terus mengejar kesalahan orang itu dan menuntut keadilan Tuhan untuk membalas kepadanya setimpal dengan perbuatannya, bahkan kalau bisa hukum lebih berat lagi.

Kalimat daripada Tuhan itu: siapakah yang dapat tahan, itu penting sekali. Sebab apa? Sebab tadi di atas mereka bilang: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN” karena melihat orang-orang yang tidak percaya Tuhan lebih makmur, lebih sukses, lebih lancar, maka akhirnya membuat orang Israel mengatakan kalau begitu, saya juga lebih baik melakukan hal yang sama. Di situlah problem mereka. Karena merasa Allah tidak mengasihi mereka maka dari situ merembet kepada half-hearted worship, merembet kepada kehidupan rumah tangga mereka, merembet juga kepada kehidupan sosial mereka. Sehingga di ayat 5 kemudian Tuhan katakan, “Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang-orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepadaKu, firman TUHAN semesta alam” (Maleakhi 3:5). Itu semua adalah fenomena yang terjadi ketika umat Allah sudah tidak takut kepada Allah. Mereka melakukan cara hidup penyembahan berhala, mereka melakukan perzinahan dan hidup yang amoral, mereka berani bersumpah palsu dan berdusta, mereka menindas pembantu dan bawahan yang bekerja kepada mereka, mereka menekan hidup janda-janda dan anak yatim dan orang-orang asing mereka tindas dengan semena-mena.

Kenapa Allah marah kepada mereka yang menceraikan isterinya? Kita harus melihat konteksnya yang berbeda dengan konteks kita sekarang. Pada waktu sebuah keluarga melahirkan beberapa orang anak, maka anak-anak laki-laki otomatis akan menerima harta warisan dan tanah kepemilikan dari orang tuanya, sedangkan anak-anak perempuan tidak mendapatkan hak yang sama. Maka anak-anak perempuan ini ketika sudah besar kemudian segera dinikahkan supaya tidak menjadi beban keluarga dan dia kemudian hidup bersama keluarga suaminya. Mari kita bayangkan setelah menikah sepuluh tahun, misalnya, lalu kemudian suatu hari suaminya menceraikah wanita ini dan mengusir dia keluar dari rumah suaminya. Kemana dia harus pergi? Tidak mungkin keluarganya mau menerimanya kembali, apalagi kalau dia membawa serta anak-anaknya, karena memang tujuan keluarga untuk menikahkan dia adalah untuk mengurangi beban keluarga. Dan yang kedua, belum tentu kakaknya laki-laki yang sekarang adalah pemilik tanah warisan keluarga mau menerima wanita janda ini di rumahnya. Kalau begitu, janda ini tinggal dimana? Menjadi homeless, tinggal di pinggir jalan menggelandang. Itulah problem yang terjadi di dalam masyarakat ini. Itulah sebabnya kenapa Musa memberikan surat cerai untuk melindungi janda-janda dan anak yatim ini, supaya mereka ada tunjangan ganti rugi dan ada harta untuk melanjutkan hidup mereka. Jadi bukan karena ada surat cerai maka boleh sembarangan menceraikan isteri. Maka di sini Tuhan mengingatkan mereka jangan melakukan hal-hal seperti itu karena satu hari kelak Tuhan akan datang dan Dia akan mengadili dengan keadilanNya yang dahsyat itu.

Yang ketiga sekaligus Allah mengatakan walaupun umat Allah terus-menerus melakukan hal-hal yang jahat seperti ini, Allah tidak akan pernah gagal di dalam rencana dan kedaulatanNya karena satu hari kelak Allah akan mempersiapkan satu umat yang akan menyembah Allah. Orang-orang itu bukanlah orang-orang yang tidak pernah berdosa di dalam hidup mereka adalah orang-orang yang bersedia untuk dimurnikan oleh Tuhan karena Allah akan menjadi Allah pemurni logam bagi mereka. Umat Allah yang mencintai dan mengasihi Allah akan Allah bentuk dan murnikan seperti ini. Allah memakai dua ilustrasi: seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. “Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN” (Maleakhi 3:2-3). Allah seperti api dari tukang pemurni logam, dan Allah seperti sabun dari tukang penatu yang akan membersihkan mereka. Jaman dulu semua bahan kain dan pakaian yang dicuci pasti menjadi putih di-bleaching. Itu adalah proses yang tidak gampang dan luar biasa. Pemurni logam akan memurnikan logam, baik itu emas atau perak sampai kepada satu proses pembakaran yang sangat panas dimana emas atau perak itu akan meleleh dan semua kotoran akan terpisah. Logam itu menjadi murni ketika sang pemurni logam bisa berkaca dan melihat pantulan wajahnya di permukaan logam itu. Itulah saatnya logam itu sudah menjadi murni. Hal yang sama Allah lakukan di dalam pemurnian hidup kita di hadapanNya. Ia akan memurnikan kita sampai Ia bisa melihat gambarNya terpantul dari hidup kita. Puji Tuhan! Tuhan tidak pakai ilustrasi sepeti api kebakaran yang tidak terkontrol menghanguskan dan menghancurkan. Allah menyebut diriNya adalah the Refiner’s Fire, Api sang pemurni logam, Api yang menyucikan dan membersihkan kita.

Ada tiga macam api pemurnian yang Alkitab sebutkan. Yang pertama adalah api penderitaan. Rasul Petrus berkata, “Bergembiralah akan hal itu sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya” (1 Petrus 1:6-7). God will refine your faith through suffering. Api penderitaan adalah api yang Tuhan pakai untuk memurnikan kita.

Yang kedua, api kesengajaan dalam diri kita untuk menyangkal diri. Yesus pernah berkata, “Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka” (Matius 5:29-30). Kalimat Tuhan Yesus ini bukan berarti kita melakukannya dengan hurufiah tetapi dengan kalimat ini Yesus memberikan prinsip bagaimana kita memiliki kerelaan untuk menyangkal diri; kesiapan untuk mengambil sikap jika ada hal-hal yang menyebabkan kita jauh dari Tuhan, kita menolak walaupun itu menyenangkan, walaupun itu kita rasa baik, dan walaupun itu adalah hal yang menyukakan kita. Kita harus berkata tidak, dan itu membutuhkan intention di dalam diri kita dengan sengaja menyangkal diri. Di situlah api pemurnian Allah bekerja memurnikan kita.

Yang ketiga, api disiplin. Ibrani 12:5-11, penulis Ibrani mengatakan Allah melakukan pemurnian bagi iman kita dengan disiplin dan hajaran atau pukulan. “Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya” (Ibrani 12:10b). Jikalau Allah mendisiplin kita, itu menyatakan bahwa kita benar-benar anak Allah yang sah. Adakalanya disiplin itu datang dengan tujuan untuk membakar, sehingga memang sifat yang tidak benar dan tidak perlu menjadi copot dan lepas daripada diri kita. Ada hal-hal yang tidak menyenangkan bisa terjadi dalam hidup kita. Kita bisa kehilangan hal yang paling kita cintai, jabatan yang paling kita harapkan, harta yang paling kita rindukan. Kita bisa kehilangan kesehatan kita, kita bisa kehilangan kegantengan dan kecantikan kita. Kita bisa kehilangan hal-hal yang paling kita banggakan dalam hidup ini. Bukan karena Tuhan menjadi joy-killer yang merebut semua hal yang kita suka, tetapi Tuhan ingin memurnikan hidup kita, mendisiplin kita supaya kita boleh disebut anak-anak Allah yang sejati.

Bersyukur untuk firmanNya hari ini. Kita mau menyatakan keyakinan kita bahwa Ia adalah Allah dan Tuhan yang tidak pernah bersalah di dalam segala yang Ia lakukan dan rencanakan dalam hidup kita. Kiranya kita rela hidup kita senantiasa dituntun oleh firman Allah dan kita tidak melihat apa yang terjadi di dalam hidup kita sebagai hal yang buruk. Kita tidak menjadi sedih dan kecewa dan merasa Tuhan tidak sayang dan tidak care kepada kita. Kiranya pikiran kita dijauhkan dari mengatakan tidak ada gunanya kita percaya Allah. Kiranya pikiran kita dijauhkan dari mengatakan bahwa Tuhan tidak baik kepada kita. Kiranya pikiran kita dijauhkan daripada pemikiran bahwa tidak bergunalah kita berjalan dengan jujur dan benar di hadapan Tuhan. Kiranya kita dijauhkan daripada semua itu sebab kita mempunyai Allah the God of Justice, kita mempunyai Allah yang menyatakan keadilan dan kebenaran dan kedaulatan pada waktunya. Kita sadar terlalu banyak debu yang kotor menempel dalam hidup kita, terlalu banyak noda yang telah berkarat di dalam diri kita. Kita rela dan ijinkan Tuhan membersihkan dan memurnikan kita; kita rela menyangkal diri, ikut Tuhan dengan benar dan tulus dan jujur adanya. Kalau itu adalah penderitaan dan sakit yang tidak seharusnya kita terima dan tanggung, kiranya kita boleh terima dengan sukacita dan dengan syukur kepada Tuhan sebab kita tahu di situ kita dimurnikan oleh Tuhan. Jika kita perlu didisiplin oleh Tuhan, jika kita harus turun kelas, jika kita harus kehilangan segala-falanya supaya kita belajar ingat bahwa Allah menjadi milik kita yang paling berharga selama-lamanya.(kz)