Raising True Worshipers

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Maleakhi (2)
Tema: Raising True Worshipers
Nats: Maleakhi 1:6 – 2:9

Bagaimanakah relasi kita dengan keluarga kita, dengan anak-anak kita? Saya percaya tidak selalu relasi kita akrab, hangat dan dekat. Ada satu masa mungkin relasi itu menjadi dingin dan jauh. Ada satu masa mungkin pada waktu sdr mau dekat, anak kita lari dan menolak. Ada satu masa relasi itu menjadi renggang. Tetapi ada masa dimana relasi itu begitu hangat, akrab, dalam dan intim, bukan? Dan sebagai orang tua, kita tentu akan memperjuangkan relasi itu walaupun ada up and down, tetapi relasi itu adalah relasi karena saya adalah papa dan dia adalah anak saya. Pertanyaan saya selanjutnya, bagaimanakah relasi pernikahan sdr dengan pasanganmu? Kita tahu tidak selamanya relasi pernikahan kita itu dekat dan intim seperti waktu bulan madu. Ada masa-masa relasi itu berat dan begitu sulit untuk dijalani. Mungkin ada pertengkaran, kemarahan, kesalah-pengertian satu sama lain. Tetapi saya harap kita tidak akan pernah give up dengan relasi itu karena kita tahu relasi itu adalah satu relasi yang sangat berharga bagi kita. Pasanganmu bukanlah karyawanmu, dia bukanlah bawahanmu, dia bukanlah tetanggamu, tetapi dia adalah isterimu, dia adalah suamimu, dia adalah pasangan hidupmu. Dan terlebih lagi, relasi itu diikat oleh satu komitment, satu covenant, yaitu sampai maut memisahkan kita satu sama lain berjanji akan mengasihi dan mencintai, baik dalam keadaan lancar atau susah, sehat atau sakit, kaya atau miskin. Selanjutnya, bagaimana relasimu dengan teman yang akrab, relasimu dengan saya sebagai gembalamu, sebagai sahabat dan saudara di dalam Tuhan, adakah kita memiliki relasi yang up and down? Absolutely! Sebagai adik dan kakak, adakah kita memiliki relasi yang up and down? Sudah tentu! Tidak ada relasi yang terus mulus dan indah selamanya. Tetapi yang menjadi lebih penting adalah pada saat relasi itu menjadi tidak baik adalah bagaimana engkau menaruh nilai yang benar [the right value] terhadap relasi itu. Ada relasi yang engkau miliki yang memang relasi sebagai teman, atau karyawan dan majikan yang satu kali kelak memang bisa berpisah, relasi seperti itu memang berbeda naturnya, kualitas dan value-nya dengan pada waktu sdr menghargai itu sebagai relasi suami isteri, orang tua dan anak. Pertanyaan selanjutnya yang paling penting: bagaimanakah saat ini relasi sdr dengan Tuhan? Bagaimana sdr menilai dan mem-value relasimu dengan Tuhan?

Kitab Maleakhi di awal sudah berbicara soal value daripada relationship Allah dengan umat Israel. Bukan umat Israel yang mempertanyakan, bukan umat Israel yang berkata terlebih dahulu, tetapi semua kalimat pernyataan di dalam kitab ini dimulai dan datang dari Tuhan. Tetapi ironisnya, seluruh pernyataan Allah selalu dijawab dengan bantahan oleh umat Israel ini. Jadi mereka sampai kepada satu titik dimana umat ini bersikap nyinyir kepada Allah, mereka menjawab dan membantah firman Allah dengan cara yang sangat kasar dan menghina Allah. Mereka menyatakan sikap yang tidak hormat dan kurang ajar kepada Allah. Itulah kondisi relasi umat Allah terhadap Allah.

Perhatikan, Tuhan mulai dengan kalimat ini, “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata, “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” (Maleakhi 1:2). Yang kedua, Tuhan berkata, “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepadaKu itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepadaKu itu?” firman TUHAN semesta alam (Maleakhi 1:6). Artinya di sini, Tuhan menaruh value relasiNya dengan umatNya adalah seperti seorang bapa kepada anaknya, dan seperti tuan kepada hamba atau pelayannya. I always be your Father and always be your Lord. Akulah Bapamu dan Akulah Tuhanmu. Dan seharusnya engkau menghargai dan menghormati Aku. Tetapi mereka membantah, “Dengan cara bagaimana kami menghina namaMu?” Allah menegur mereka, “Engkau datang memberi persembahan yang najis adanya.” Lalu mereka berkata, “Alangkah susah menuruti keinginan Tuhan. Alangkah susah bikin Tuhan senang!” (Maleakhi 1:13). You weary me so much! Tuhan berkata, “Engkau menipu aku dengan persembahanmu.” Lalu mereka berkata, “Kapankah kami sudah menipu Tuhan dengan persembahan kami?” Semua ini menyatakan sikap dan reaksi daripada umat Tuhan kepada Tuhan sudah sampai kepada satu titik mereka tidak lagi menghargai dan melihat relasi dengan Tuhan itu sebagai satu relasi yang indah dan berharga adanya. Dan luar biasa sekali kitab Maleakhi mulai dengan apa? Dia tidak mulai dengan cara menegur ibadah mereka, dia tidak mulai dengan menegur kehidupan amoral mereka, yang semua itu adalah gejala dan symptoms belaka. Itu hanyalah fenomena yang terlihat secara ekstrinsik. Yang menjadi hal yang paling pertama adalah soal bagaimana relasi mereka dengan Allah. Nabi Maleakhi memulai dengan hal itu. Maleakhi tidak bicara soal ibadah mereka, Maleakhi tidak bicara soal perceraian dan kawin campur yang terjadi di tengah-tengah umat ini, tetapi Maleakhi menarik mereka untuk melihat itu semua bersumber daripada relasi mereka dengan Allah. Maka Maleakhi mulai dengan kalimat firman Allah, “Aku senantiasa mengasihi engkau.”

Dalam buku mengenai relasi pernikahan berjudul “What did You Expect?” Rev. Paul David Tripp pertama-tama tidak memberikan solusi dan cara membereskan persoalan relasi suami isteri, bagaimana mengatasi konflik relasi, bagaimana memperbaiki skill komunikasi, bagaimana solve problems antara suami isteri, dsb. Di sini Paul Tripp memberikan satu kalimat yang sangat penting di awal, semua problem relasi itu berakar dari problem ibadah kita kepada Allah. All rooted in worship. Setiap problem dalam hidup kita semuanya berakar dari problem ibadah kita kepada Allah. Ketika kepentingan diri kita, harga diri kita, uang kita, image kita lebih utama daripada Tuhan, problem akan terjadi. Kita akan menjadi orang yang selfish dan self-centered, kita akan menjadi orang yang selalu menuntut kepada pasangan kita dan tidak mau take and give dalam relasi kita satu sama lain. Kita merasa diri kita yang paling penting dan paling utama, dan semua yang lain harus tunduk dan mengikuti keinginan kita. Kita menjadikan diri kita yang paling utama. Tetapi pada waktu setiap kita menjadikan Allah utama dan agung dalam hidup kita, jika relasi kita yang vertikal itu beres, maka hal-hal yang berkaitan dengan relasi horisontal itu akan menjadi beres.

Berita nabi Maleakhi ini diberikan kepada umat Tuhan yang sudah sekitar 70 tahun pulang dari Pembuangan di Babel. Waktu mereka pulang ke Yudea, tanah asal mereka, Bait Allah sudah hancur lebur berantakan tinggal puing-puing belaka. Tidak ada lagi masa depan bagi mereka. Bahkan sampai pada waktu jaman Yesus, bangsa Israel tidak pernah menjadi satu bangsa yang independen dan selalu menjadi satu bangsa yang dijajah bangsa lain. Mereka menjalani hari demi hari, tahun demi tahun, dekade demi dekade, dengan tidak melihat bagaimana Allah menggenapkan janjiNya. Maka mereka kemudian menjadi beribadah dengan sikap asal-asalan, mereka memberi kepada rumah Allah persembahan roti yang sudah busuk dan berjamur; mereka membawa korban binatang ternak yang sakit, buta dan cacat; mereka hidup dalam amoralitas, kawin campur dan perceraian; mereka tidak setia memberi perpuluhan, dst. Tetapi semua itu sesungguhnya hanyalah gejala, hanya fenomena secara ekstrinsik dari apa yang menjadi problema di dalam hati dan hidup umat ini. Pada waktu dalam keadaan sakit, dalam keadaan susah dan sulit, kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi, tetap kita tidak akan pernah boleh mencurigai bahwa Tuhan tidak mencintai kita lagi. Semua gejala dan fenomena ekstrinsik itu tidak akan merusak relasi kita dengan Allah karena kita tahu Allah senantiasa mengasihi kita sebagai anak-anakNya.

Dalam Maleakhi 1:6 -2:9 kemudian Maleakhi bicara mengenai aspek ibadah mereka. Ada dua teguran Tuhan di sini. Yang pertama Maleakhi 1:6-14 bicara mengenai sikap ibadah dan persembahan daripada umat Allah. Yang kedua, Maleakhi 2:1-9 bicara mengenai pelayanan para imam dan orang Lewi di Bait Allah.

Allah menegur bangsa Israel melakukan ibadah mereka dengan setengah hati dan dengan cara yang asal-asalan. “Kamu membawa roti cemar ke atas mezbahKu. Kamu menyangka bahwa meja TUHAN boleh dihinakan!” (Maleakhi 1:7). “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik?” firman TUHAN semesta alam (Maleakhi 1:8). Tuhan menegur mereka dengan memberikan dua perbandingan. Cobalah engkau pergi menghadap seorang pembesar, apakah engkau akan berani memberi persembahan seperti ini kepada dia? Engkau tidak akan bawa itu. Yang kedua, Tuhan memberi perbandingan melihat penyembahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain. “Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari namaKu besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi namaKu dan juga korban sajian yang tahir; sebab namaKu besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam” (Maleakhi 1:11). “Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan namaKu ditakuti di antara bangsa-bangsa” (Maleakhi 1:14b). Allah menyuruh mereka melihat bangsa-bangsa lain datang menyembah Allah, mereka memberikan yang terbaik di dalam penyembahannya. Ini menarik sekali. Bagaimana menafsirnya? Ada dua kemungkinan cara penafsiran yang saya berikan. Yang pertama ini menjadi satu nubuatan daripada nabi Maleakhi bahwa satu kali kelak semua bangsa-bangsa di muka bumi ini akan bersembah-sujud kepada Allah. Bukan hanya kamu saja, hai Israel, tetapi semua orang dari segala bangsa akan bersembah-sujud dan memberikan persembahan yang terbaik kepada Allah. Atau tafsiran yang kedua adalah bangsa-bangsa ini beribadah berbeda dengan ibadah umat Israel. Umat Israel bersembah-sujud kepada Allah yang mereka kenal, karena Allah itu menyatakan diri kepada mereka. Sedangkan bangsa-bangsa lain beribadah kepada Allah yang tidak mereka kenal, Tuhan Penguasa alam semesta ini, Ia adalah Allah yang besar. Di dalam konsep menyembah kepada Allah yang tidak mereka kenal ini, mereka datang memberikan persembahan yang terbaik, yang sepatutnya dan selayaknya. Dengan kata lain, meskipun bangsa-bangsa ini tidak mengenal Allah, tetapi pada waktu mereka melakukan ibadah di berbagai belahan dunia, ibadah mereka adalah ibadah yang memberikan yang terindah dan yang terbaik kepada Allah. Tuhan menunjukkan kebesaranNya kepada bangsa Israel. Tuhan katakan, Aku adalah Allah semesta alam, the Host of heavens and earth, Penguasa alam semesta ini. Ia bukan saja menjadi Allah bagi bangsa Israel tetapi Ia adalah Allah dari alam semesta ini. Yang kedua, Allah berkata kepada bangsa Israel, “Sekiranya ada di antara kamu yang mau menutup pintu, supaya jangan kamu menyalakan api di mezbahKu dengan percuma. Aku tidak suka kepada kamu , firman TUHAN semesta alam, dan Aku tidak berkenan menerima persembahan dari tanganmu” (Maleakhi 1:10). Sudah, tidak usah datang berbakti, berhenti saja semua ibadahmu. Kenapa? Tuhan bilang, Aku tidak perlu semua persembahan yang seperti itu.

Kenapa mereka datang membawa kambing domba yang cacat, buta dan timpang kepada Allah? Ini adalah gejala pertama ketidak-beresan umat Israel menghargai relasi dengan Allah. Pada waktu kita tahu Allah adalah Bapa kita, Dia adalah Tuan kita, Dia layak menerima kasih, hormat dan rasa takut yang sepatutnya dan selayaknya dari kita, maka kita akan datang dengan sikap hati yang hormat di dalam penyembahan kita dan memberi yang sepatutnya di dalam persembahan kita kepada Allah. Dengan sederhana, sebagai seorang hamba Tuhan mari kita persiapkan baik-baik pelayanan kita, seluruh tim ibadah mari kita persiapkan baik-baik ibadah kita. Dan hal yang sama juga bagi seluruh jemaat yang datang beribadah, mari juga kita datang dengan hati yang hormat dan takut kepadaNya. Mari kita datang dengan sikap yang sungguh dan yang terbaik pada waktu kita datang menyembah Tuhan. Kenapa kita berpikir hanya orang-orang yang melayani yang patut mempersiapkan sebaik-baiknya sedangkan jemaat tidak? Kenapa engkau tidak datang dengan mempersiapkan hatimu dan memberikan yang terbaik kepada Tuhan? Semua itu berkaitan dengan soal hati kita. Pada waktu kita siapkan uang persembahan bagi Tuhan, berdoa kepada Tuhan agar sdr diberikan tanggung jawab dan bijaksana oleh Tuhan bagaimana menyalurkannya. Mungkin sebagian dari persembahan itu sdr ingin berikan bagi orang-orang yang membutuhkannya, mungkin ada anak keponakanmu yang sangat membutuhkan uang untuk melanjutkan sekolahnya, mungkin ada anggota keluarga yang sakit dan sangat membutuhkan uang bagi pengobatannya. Mungkin sebagian sdr ingin mendukung pelayanan misi dan bagi hamba-hamba Tuhan yang berkekurangan. Sekali lagi, ini bukan soal bagaimana gereja perlu uang dan perlu mendapatkan persembahan yang lebih banyak. Ini bukan soal bagaimana sdr mendukung seorang hamba Tuhan. Ini soal bagaimana hubungan kita dengan Tuhan yaitu saya ingin menjadikan relasiku dengan Tuhan I value so much. Mari kita pulang ke rumah kita masing-masing dengan memikirkan baik-baik semua ini. Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, selama satu tahun ini apakah kita sudah dengan setia memberi persembahan kepada Tuhan? Mari kita lihat secara kuantitasnya, berapa persen yang kita berikan kepada Tuhan? Adakah kita sudah menjadi penatalayan yang setia di dalam persembahan kita?

Gejala kedua apa? Kamu berkata, “Lihat, alangkah susah payahnya!” dan kamu menyusahkan Aku, firman TUHAN semesta alam (Maleakhi 1:12). . There is no joy anymore di dalam mereka punya ibadah dan worship. Kalau sampai keluar gerutu dan sungut-sungut dari mulutmu, “Aduh berat banget sih ikut Tuhan! Susah minta ampun, banyak aturannya!” itulah gejalanya ada yang tidak beres dari relasimu dengan Tuhan.

Di satu sisi umat ini mungkin bisa cari alasan dan para imam sudah bilang, ‘Ya sudahlah Tuhan, mereka kan susah hidupnya, ekonomi juga tidak mapan, sudahlah, kita tutup sebelah matalah. Pokoknya mereka masih datang berbakti sudah baik; mereka memberi roti usang dan binatang cacat juga sudah untung, daripada tidak datang dan tidak memberi sama sekali.’ Apalagi nanti kita bisa lihat banyak imam yang tidak melayani dengan sungguh-sungguh karena kebutuhan mereka tidak tercukupi. Sekali lagi ingatkan jaman itu, karena para imam tidak punya tanah, maka kebutuhan mereka sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari sebelas suku yang lain melalui persembahan mereka. Akhirnya banyak di antara para imam itu yang menjadi pekerja di ladang orang lain semata-mata untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Maka Tuhan menyuruh semua umat Israel memberi perpuluhan mereka supaya kebutuhan biaya operasional dan kebutuhan para imam itu tercukupi. Karena jemaat memberikan half-hearted offering, maka imam-imam ini juga melayani dengan half-hearted service.

Maka kali ini Tuhan memberi teguran kepada para imam tersebut. Ada beberapa hal yang dilakukan para imam di sini. Para imam ini tidak mengajar umat Allah untuk menghormati Allah dan memperhatikan firman Allah (Maleakhi 2:2,5). Para imam ini melayani dengan pandang bulu (Maleakhi 2:9b). Mereka tidak memberikan pengajaran yang benar dan membimbing orang berbalik daripada kesalahannya (Maleakhi 2:6). Mereka melalukan pelayanan yang setengah hati; mereka tidak menyampaikan khotbah yang memberikan sejahtera dan bertanggung jawab. Mereka membiarkan Rumah Tuhan kotor dan terbengkalai. Kotoran kambing, lembu, sapi dan domba berserakan di mana-mana, tidak ada yang memperhatikan. Sampai akhirnya Tuhan bilang, “Sesungguhnya, Aku akan mematahkan lenganmu dan akan melemparkan kotoran ke mukamu, yakni kotoran korban dari har-hari rayamu, dan orang akan menyeret kamu ke kotoran itu!” (Maleakhi 2:3). Kita bisa membayangkan kotoran binatang berserakan di halaman Bait Allah. Bisa jadi pada waktu mereka menyembelih binatang-binatang korban itu, darah binatang dan sisa usus jerohannya berceceran dan kotoran di mana-mana; sudah pasti bau amis darah bercampur bau bangkai dan bau kotoran binatang memenuhi Rumah Tuhan karena mereka melakukan pelayanan setengah hati dan seadanya. Di satu pihak mereka mungkin mengatakan sudahlah, toh kita juga tidak dapat apa-apa, lalu mereka sembarangan saja pelayanan. Sesudah menaruh korban binatang yang disembelih di atas mezbah, mereka lalu tinggalkan begitu saja tanpa membersihkannya dengan sepatutnya. Itulah kira-kira yang terjadi pada waktu itu. Sehingga bisa jadi pada waktu Maleakhi datang ke Bait Allah menyampaikan firman Allah kepada mereka, dia melihat keadaan Bait Allah begitu jorok dan menjijikkan sehingga dia mengatakan kalau para imam ini tidak berubah dan tidak mau melayani dengan sungguh-sungguh, kotoran itu akan dia lemparkan ke muka mereka. Dan Allah akan mengirimkan kutuk ke antara mereka dan membuat berkat-berkatnya menjadi kutuk (Maleakhi 2:2). Betapa menakutkan dan menyedihkan.

Apa yang kita belajar dari bagian ini? Bagian ini memberitahukan kepada kita bahwa Allah harus mendapatkan segala hormat dan respek yang sepatutnya dan selayaknya dari umatNya. Mari pada waktu kita datang menyembah dan beribadah kepada Tuhan, kita menghargai dan menghormati Dia. Ibrani 10:1-12 memberitahukan kita umat Israel setiap tahun harus datang memberikan persembahan korban di Bait Allah, tetapi persembahan itu tidak akan pernah menyempurnakan mereka. Demikian juga, kita tidak bisa membawa persembahan yang sempurna karena kita penuh dengan cacat cela. Itu sebab kenapa Kristus datang menjadi Korban yang sempurna bagi kita, satu-satunya Korban yang menyelamatkan kita. Kita bersyukur Korban Kristus di atas kayu salib menjadi pengorbanan yang terbesar bagi engkau dan saya. Pada waktu kita tidak menerima kutukan dari Allah, jangan lupa di atas salib itulah semua kutukan dosa ditanggung oleh Kristus. Kutukan kita sudah ada di situ, sehingga kita boleh menikmati berkat-berkat Allah. Kita hargai luar biasa akan hal itu. Kiranya pemahaman ini menyentuh dan merubah hati kita dan menjadikan kita penyembah-penyembah Allah yang sejati dan berkenan kepadaNya.(kz)