Masih Berlakukah Perpuluhan itu?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Maleakhi (5)
Tema: Masih Berlakukah Perpuluhan itu?
Nats: Maleakhi 3:6-12

Kita tidak mungkin bisa mengontrol Tuhan dan jangan kita pernah coba-coba untuk mengontrol Tuhan. Namun kita mudah sekali tergoda untuk mengontrol Tuhan dalam hidup kita, bukan? Pada waktu ada persoalan, kita ingin Tuhan cepat-cepat membereskan persoalan itu. Pada waktu kita ada kesulitan, kita ingin Tuhan cepat-cepat memberikan jalan keluar dari semua ini. Dan pada waktu orang berlaku tidak adil kepada kita, kita ingin Tuhan cepat-cepat menyatakan keadilanNya dengan membalaskan kepada orang itu setimpal dengan perbuatannya kepada kita tanpa kita berpikir bahwa kita mungkin juga telah melakukan hal yang sama kepada orang lain dan sepatutnya mendapatkan keadilan Tuhan terjadi kepada kita. Ketika kita menuntut keadilan Tuhan, kita juga harus bersiap menerima keadilan Tuhan berlaku kepada kita sebab kita juga melakukan hal yang sama. Dapatkah kita tahan pada waktu Tuhan menyatakan keadilanNya?

Tetapi kita tidak bisa mengontrol Tuhan dan jangan pernah coba melakukan hal itu di dalam hidup kita. Yang benar, Tuhanlah yang harus mengontrol hidup kita. Kalau Tuhan mengontrol hidup kita, maka Dia berhak menegur kita. Kalau Tuhan mengontrol hidup kita, maka Dia berhak atas seluruh hidup kita seutuhnya adalah milikNya. Kalau Tuhan mengontrol hidup kita, kita percaya Ia sanggup mengerjakan dan melakukan apa saja di dalam hidup kita untuk mendatangkan segala yang terindah dan terbaik bagi engkau dan saya. Let God be God. Biar Ia menjadi Allah yang berdaulat sepenuhnya mengontrol sebagai Raja hidup kita. Dan kalau Ia adalah Allah yang berdaulat mengontrol hidup kita, maka Ia adalah Allah yang tidak akan berespon seturut dengan bagaimana kita bersikap kepadaNya. Ia tidak akan berespon marah pada waktu kita menggerutu dan bersungut-sungut kepadaNya. Kalau kita punya Allah yang seperti itu, sudah jauh-jauh hari dunia ini punah karena tidak ada satupun di antara kita yang bisa tahan berdiri di hadapanNya. Allah tidak pernah berespon berdasarkan apa yang kita beri kepadaNya. Justru kita bisa datang berbakti hari ini menyembah Allah bukan berdasarkan apa yang bisa kita beri kepada Dia tetapi berdasarkan apa yang Allah sudah kerjakan kepada kita semua.

Sepanjang 4 pasal ini Maleakhi mencatat disputation dari bangsa Israel yang terus membantah Allah, tidak mau percaya kepada firman Allah, bahkan dengan sinis dan nyinyir balik bertanya kepada Allah. Allah berkata, “Aku mengasihi engkau.” Mereka balik bertanya, “Dengan cara bagaimana Engkau mengasihi kami?” (Maleakhi 1:2). Allah berkata, “Engkau menghina Aku.” Mereka balik bertanya, “Kapan dan dimana kami telah menghina Engkau?” (Maleakhi 1:6). Allah berkata, “Engkau memberikan persembahan yang tidak benar kepadaKu.” Mereka balik bertanya, “Kapan kami memberikan persembahan yang tidak benar kepadaMu?” Allah menjawab, “Engkau membawa korban binatang yang cacat, buta dan timpang dan roti yang sudah busuk ke dalam BaitKu” (Maleakhi 1:7-8). Allah berkata, “Engkau menyusahkan hatiku.” Mereka balik bertanya, “Kapan kami menyusahkan hati Tuhan?” (Maleakhi 2:17). Allah berkata lagi, “Engkau sudah mencuri dan menipu Aku.” Mereka balik bertanya, “Kapan kami mencuri dan menipu Engkau?” (Maleakhi 3:8). Itu adalah dialog yang terus-menerus terjadi di dalam kitab Maleakhi. Mereka membantah Allah. Mereka tidak hormat kepada Allah. Inilah sikap hidup mereka. Dan luar biasa, sampai di Maleakhi 3:6 Tuhan berkata, “Aku adalah Allah yang tidak berubah dahulu, sekarang dan selama-lamanya.” Dan Allah melakukan sesuatu yang luar biasa, “Ia akan mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperrti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah” (Maleakhi 3:3-4). Bangsa Israel tidak mungkin bisa datang menghampiri Allah dalam ibadah mereka yang seperti ini. Lalu bagaimana? Allah akan mengerjakan sesuatu untuk menyempurnakan semua ibadah mereka. Pada waktu kita tidak bisa membawa kebaikan kita, keindahan persembahan kita kepadaNya, Allah memutuskan untuk memberikan persembahan yang terindah dan terbaik, yang tidak ada cacat-celanya. Allah mengutus AnakNya turun dari surga menjadi korban Domba Allah yang tersembelih bagi kita. Dengan demikian persembahan umatNya akan menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah selama-lamanya.

Kalau Tuhan harus tunggu, sampai kapan kita bisa siap memberikan persembahan yang sempurna dan berkenan kepadaNya? Tidak akan pernah bisa. Kalau Tuhan harus tunggu, sampai kapan kita bisa bersih, baru bisa masuk ke dalam kerajaanNya? Tidak ada satu pun dari kita dan sampai kapan pun tidak akan ada kemungkinan itu. Kalau Allah menunggu usaha itu datang dari pihak manusia, tidak akan pernah terjadi. Maka apa yang Allah kerjakan di sini? Kepada bangsa Israel Allah menyatakan suatu pengharapan baru, awal yang baru. Apakah Allah pasti akan mengerjakan apa yang Ia janjikan? Sudah tentu. Maka Allah memateraikan janji itu dengan kalimat ini: Aku adalah Allah yang tidak pernah berubah.

Kalau kita yang hidup di jaman sekarang yang sudah melihat bukti Allah bekerja seperti itu di dalam Alkitab kita, apa yang engkau dan saya baca seharusnya menggetarkan hati kita. Ini bukan kisah sejarah lama, ini bukan kisah legenda jaman dulu, tetapi kita bisa melihat keindahan Allah bekerja luar biasa membuktikan kebenaran firmanNya. Maka saya percaya segala janji yang Allah nyatakan di dalam Alkitab ini pasti akan digenapi olehNya. Itu yang membuat kita confident dan percaya bahwa Allah tidak pernah berubah tetapi yang seringkali berubah justru adalah kita manusia. Kita mudah sekali berubah. Kemarin kita merasa begitu kuat beriman, percaya Tuhan. Tetapi hari ini, kita bisa begitu lemah dan ragu kepada janji Tuhan dan lebih mendengarkan suara si Jahat dan menjauh dari Tuhan.

Sekarang Tuhan yang berbalik menegur mereka, “Engkau mencuri dan menipu Aku.” Lalu mereka bertanya, dengan cara bagaimana kami mencuri dan menipu Engkau?” Tuhan menjawab, Engkau telah mencuri dan menipu Aku dalam persembahan perpuluhan dan persembahan khusus (Maleakhi 3:8). Kenapa juga justru Tuhan berbicara mengenai persembahan perpuluhan berkaitan dengan mereka telah menipu Tuhan? Hari ini kita masuk kepada satu bagian yang mungkin cukup sensitif ketika kita berbicara mengenai persembahan dan perpuluhan. Masih berlakukah aturan perpuluhan bagi kita hari ini?

Bicara mengenai perpuluhan, dalam Perjanjian Lama, kita harus melihat dari konteks sosial-ekonomi yang sangat kompleks dan berkaitan dengan satu titik yang sangat penting sekali. Waktu bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka dibawa oleh Musa ke tanah perjanjian melewati padang gurun selama 40 tahun. Maka di tengah perjalanan di padang gurun Musa kemudian mendirikan Kemah Suci di tengah-tengah mereka sementara seluruh perkemahan orang Israel mengelilinginya. Itu mempunyai makna yang penting menyatakan Allah adalah sentral dari kehidupan mereka. Bagaimana buktinya Allah menjadi pusat dan sentral hidup mereka? Maka pada waktu mereka datang menyembah Allah, perlu ada sistem dimana ada orang-orang yang khusus mempersiapkan penyembahan itu dan umat yang menyembah. Allah menetapkan suku Lewi untuk menjadi orang-orang yang bertanggung-jawab di dalam pelayanan penyembahan itu. Dan karena suku Lewi tidak memiliki tanah, dengan sendirinya mereka tidak ada pemasukan sehingga Allah menetapkan 11 suku untuk memberikan perpuluhan dari hasil tanah mereka bagi suku Lewi dan kemudian suku Lewi juga memberikan perpuluhan untuk menopang keluarga daripada imam besar Harun. Maka bagi saya, konsep mengenai perpuluhan  harus kita lihat di dalam sistem yang kompleks seperti ini. Jadi kita tidak boleh hanya melihat angka 10% karena itu diberikan kepada suku Lewi lalu kita bikin peraturan bahwa itu juga prinsip yang kita berlakukan kepada jemaat yaitu mereka memberikan 10% dari penghasilan mereka untuk mendukung kebutuhan hamba-hamba Tuhan yang melayani.

Lalu yang kedua, apakah cuma 10% persembahan yang Tuhan tuntut? Kalau kita melihat di dalam Alkitab, persembahan yang umat Allah berikan ternyata lebih daripada 10% itu karena ada yang disebut sebagai perpuluhan bagi suku Lewi [the Levite tithe] “Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan” (Bilangan 18:21, 24). Yang kedua, perpuluhan untuk perayaan [the festival tithe]”Di dalam tempatmu tidak boleh kau makan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu. Tetapi di hadapan TUHAN, Allahmu, haruslah engkau memakannya di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu” (Ulangan 12:17-18, 14:23). Yang ketiga, perpuluhan bagi fakir miskin [the poor tithe] yang hanya ditarik per 3 tahun. “Pada akhir tiga tahun engkau harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya di dalam kotamu; maka orang Lewi dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu akan datang makan dan menjadi kenyang” (Ulangan 14:28-29, 26:12-13) . Sehingga dari 3 jenis perpuluhan ini saja kita melihat umat Israel memberi 23% dari penghasilan mereka setiap tahunnya. Jelas sekali ada 3 fungsi yang muncul di situ. Pertama fungsinya adalah untuk mendukung kehidupan dari suku Lewi. Fungsi yang kedua adalah untuk mengongkosi berbagai perayaan dan ibadah dan mencukupi kebutuhan operasional di Bait Allah. Lalu fungsi yang ketiga dari perpuluhan itu adalah untuk menolong kehidupan para janda, anak yatim piatu dan orang-orang miskin sebagai beneficial charity bagi mereka yang kekurangan secara ekonomi.

Kenapa di dalam Maleakhi 3 ini Allah menekankan soal hubungan mereka dengan Allah itu kepada perpuluhan ini? Tentu jelas kembali kepada sistem itu tadi. Setelah bangsa Israel dibuang ke Babel, dan 70 tahun kemudian kembali dari Pembuangan, sistem itu menjadi chaos. Bait Allah tidak ada lagi karena sudah dihancurkan. Lalu pada waktu mereka kembali, mereka membangun kembali Bait Allah dan menjadikan ibadah di Bait Allah itu sebagai pusat dan sentral kehidupan mereka sebagai umat Allah. Dan karena suku Lewi tidak memiliki tanah pusaka, pada waktu mereka kembali, hidup mereka bergantung daripada persembahan dan perpuluhan umat Allah. Tetapi karena umat Allah tidak setia memberi, maka orang-orang Lewi ini terpaksa harus mencari pekerjaan di ladang orang sehingga mereka tidak punya waktu untuk melayani dan mengurus Bait Allah. Belum lagi seperti yang sudah Maleakhi tegur, karena umat Israel hanya membawa persembahan korban binatang yang sakit dan cacat serta roti yang sudah busuk berjamur tidak bisa dimakan, akhirnya imam-imam Lewi ini mencari makan dan bekerja di luar sehingga Tuhan menegur orang Lewi dia tidak fokus pelayanan karena itu. Tetapi mereka tentu juga mempunyai alasan karena mereka punya kebutuhan hidup tidak cukup. Itu sebab mengapa aturan persembahan perpuluhan dan persembahan-persembahan khusus kemudian menjadi hal yang Tuhan tekankan di sini untuk menyatakan satu relasi bahwa Tuhan adalah Allahmu menjadi pusat dan sentral di dalam hidupmu. Maka Tuhan katakan, “Bawalah seluruh persembahan perpuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Maleakhi 3:10). Ujilah Aku, kata Tuhan. Luar biasa sekali kata ini, karena bukankah Alkitab melarang kita jangan mencobai Allah? Tetapi di sini Allah sendiri yang menantang kita untuk menguji Dia. Test Me!

Kembali kepada pertanyaan, apakah peraturan perpuluhan itu masih berlaku kepada kita sekarang ini dan haruskah perpuluhan itu diberikan kepada hamba Tuhan yang melayani? Saya jelas mengatakan, tidak dalam pengertian seperti itu. Lalu apakah masih berlaku? Jawabannya ya dan tidak. Ada beberapa alasannya. Pertama, persembahan perpuluhan itu dipakai untuk mendukung semua pelayanan di dalam gereja dan bukan sepenuhnya diberikan bagi hamba Tuhan yang melayani karena dalam konteks sekarang hamba Tuhan tidak bisa disejajarkan seperti suku Lewi. Yang kedua, jangan kita melihat hanya angka 10% karena kalau kita lihat di dalam Perjanjian Lama, kita melihat mereka memberi lebih daripada itu. Yang ketiga, kita harus melihat perpuluhan ini sebagai satu sistem sosial-ekonomi umat Israel sebagai satu bangsa yang di dalamnya pengelolaan uang itu tentu adalah tercakup unsur pajak, unsur centrelink, unsur medicare di situ. Sehingga tidak boleh menjadi satu kesejajaran seperti budgeting gereja. Yang keempat, kita tidak boleh katakan di situ perpuluhan saja, karena kita bisa memberi lebih daripada itu sesuai dengan kerelaan kita, bisa 20%, 30%, 40% dari uang yang kita dapat dan bisa juga lebih rendah daripada itu kalau pemasukan kita sangat minim untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari. Pada waktu kita masuk ke dalam era Perjanjian Baru, kita menemukan Yesus bicara mengenai perpuluhan khususnya pada waktu itu menegur orang Farisi yang memberikan perpuluhan sampai begitu telitinya, tetapi hidup mereka tidak memperhatikan orang-orang yang lemah dalam aspek keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (Matius 23:23). Orang Farisi sampai begitu telitinya memberi sepersepuluh dari butiran selasih, adas manis dan jintan tetapi itu semua mereka lakukan sebagai self-righteous tingkah laku agamawi belaka, sehingga orang melihat mereka lebih rohani daripada orang-orang lain. Dalam hal itu sebenarnya kita harus melihat teguran Yesus kepada perpuluhan mereka dengan teguran ini: yang satu harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan. Kalimat ini penting sekali sehingga waktu sampai kepada rasul Paulus kita bisa menyaksikan dia memberikan prinsip kepada gereja memang tidak membicarakan kaitan kepada perpuluhan tetapi kita bisa menyaksikan prinsip ini kemudian muncul dalam tulisan rasul Paulus, “Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing sesuai dengan apa yang kamu peroleh menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah supaya jangan pengumpulan itu baru dilakukan kalau aku datang” (1 Korintus 16:1-2). Ada yang kita sebut sebagai cara, tentu cara tidak prinsipil, tetapi ada hal-hal yang prinsip bisa kita angkat dari ayat ini. Kita bisa melihat Gereja Mula-mula sudah menetapkan satu hari yaitu hari pertama tiap minggu yaitu tentu adalah hari Minggu untuk mereka berkumpul beribadah. Di sini memperlihatkan kepada kita orang Kristen mulai menyatakan perbedaan sedikit dengan orang Yahudi yaitu mereka menjadikan hari dimana Yesus bangkit sebagai hari mereka berkumpul. Kedua, kita bisa melihat berarti mereka melakukan ibadah rutin setiap minggu. Lalu ketiga, Paulus meminta mereka disiplin setiap minggu sisihkan uang persembahan. Yang keempat, persembahan itu bersifat proporsional, masing-masing memberi sesuai dengan apa yang ada pada mereka. Ada disiplin yang mereka lakukan dengan menyisihkan dan menyimpan uang itu di rumah masing-masing, tidak seperti kita sekarang ini dengan mengedarkan kantong persembahan atau dengan transfer ke rekening bank gereja. Itu adalah cara pada waktu itu. Maka dengan aturan persembahan itu bersifat proporsional berarti persembahan itu tidak boleh limit. Persembahan itu justru kebebasan overflow. Dari situ memberi kita prinsip bagaimana kita harus berani belajar memberi persembahan dengan jujur dan dengan tanggung jawab di hadapan Tuhan, melihat Tuhan memberi kepada kita bagaimana. Kalau berdasarkan angka, ada beberapa hal yang membuat kita perlu perhatikan. Pertama adalah perpuluhan dengan angka seperti itu bisa membuat orang Kristen mengkotak-kotakkan apa artinya kita melayani Tuhan. Yang kita pikir pokoknya setelah saya taruh 10% di situ, saya tidak lagi mempedulikan lagi bagaimana saya memakai uang yang ada di tangan saya yang 90% itu dan Tuhan tidak punya hak untuk mengatur saya di situ, karena itu sudah punya saya. Yang kedua, dengan menentukan persepuluh, kita bisa jatuh kepada jiwa yang legalistik. Akhirnya kita mengukur kerohanian seseorang berdasarkan hal itu. Kita tidak mau memberikan perpuluhan akhirnya seperti taxation atau seperti iuran dalam gereja. Lalu yang ketiga, perpuluhan akan cenderung bersifat cenderung tidak adil, bukan tentang berapa banyak yang kita beri tetapi berapa banyak yang kita simpan bagi diri kita.

Hubungan kita dengan Tuhan bukan soal angka dan bukan soal konkrit kita memberikan persembahan itu, tetapi itu bicara soal bagaimana Tuhan harus menjadi pusat dan sentral dari hidup kita. Kita memberi karena Allah lebih dahulu telah memberi semua yang terbaik kepada kita. Kita memberi dengan murah hati; kita memberi dengan sukacita; kita memberi seturut dengan apa yang ada pada kita. Itu adalah hubungan kita dengan Tuhan. Mari kita pulang hari ini dengan memikirkan dalam-dalam satu janji atau nazar kepada Tuhan untuk berani memberi sejumlah tertentu, dan lihatlah bagaimana pemeliharaan, penyertaan dan kebaikan Tuhan dalam hidupmu. Jika engkau bersiap hati mau memberi dengan sacrifice, percayalah engkau akan menyaksikan dan mengalami bagaimana Tuhan akan memelihara engkau melewati satu bulan itu dengan pengalaman yang luar biasa bersama Dia. Itulah artinya ketika Allah berkata, ujilah Aku. Karena kita menyembah Allah yang hidup dan Allah yang kaya dengan rahmat anugerah. Ia bukan Tuhan yang mati dan Tuhan yang bisa kita kontrol semau kita, tetapi Ia adalah Allah yang mengontrol hidup kita sepenuhnya. selama ini bagaimana perjalanan hidupmu beriman bersama Tuhan, apa yang Tuhan sudah beri dan apa yang engkau beri kepada Dia? Berapa yang engkau sudah beri bagi pekerjaan Tuhan? Kiranya firman yang engkau dengar hari ini menantang engkau bukan saja setia, faithful and generous tetapi berapa yakin dan percayanya kita akan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Itulah yang terpenting dan itu adalah janji Tuhan di sini.(kz)