Hope and Grace for a Failed Marriage

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Maleakhi (3)
Tema: Hope and Grace for a Failed Marriage
Nats: Maleakhi 2:10-16

Dalam Maleakhi 2:10-16 kita menemukan firman Allah bicara lebih dalam mengenai natur manusia. Ketika ada kesulitan dan tantangan di dalam hidup mereka, kita bisa melihat bagaimana reaksi hati umat Israel yang nyata terlihat kepada Allah. Mereka tidak peduli kepada relasi mereka dengan Allah; mereka tidak peduli dengan identitas mereka sebagai umat Allah. Bahkan tiga kali di sini firman Tuhan menegur mereka “telah berkhianat dan menajiskan perjanjian nenek moyang mereka dengan Allah dan menajiskan tempat kudus yang dikasihi TUHAN” (Maleakhi 2:10,11,16). Kata ‘berkhianat’ adalah seperti orang yang menusuk temannya dari belakang. Di sini Maleakhi menegur pengkhianatan mereka juga nampak di dalam ketidak-setiaan umat Israel di dalam pernikahan mereka. Relasi hubungan yang baik dengan orang yang paling dekat dan teman hidupmu engkau khianati demi hanya untuk mementingkan diri sendiri; hanya mencari kesenangan diri sendiri. Dan problem relasi inilah yang ditegur nabi Allah di dalam bagian ini dan sesungguhnya teguran ini bukan saja berbicara bagi bangsa Israel yang pulang dari Pembuangan pada waktu itu tetapi juga sangat relevan bagi kita hari ini.

Pada era nabi Maleakhi, inilah gejala masyarakat yang paling mendasar ada di tengah kesulitan mereka; ternyatalah reaksi mereka yang egois dan hanya mencari apa yang menguntungkan diri mereka sendiri, apa yang mereka rasa paling baik bagi mereka. Lalu mereka melakukan dua hal ini. Yang pertama, mereka menceraikan isteri yang sejak muda hidup dan berjuang sama-sama sebagai umat Allah dalam membina sebuah rumah tangga. Yang kedua, mereka kemudian menikah dengan wanita dari bangsa-bangsa kafir di sekitarnya yang menyembah berhala allah asing. Banyak penafsir mengatakan bahwa sangat besar kemungkinan alasannya adalah mereka ingin cepat-cepat keluar dari kesulitan ekonomi yang mereka alami maka mereka menikah dengan masyarakat yang ada pada waktu itu yang jelas adalah para tuan tanah dan pemilik tanah. Sekali lagi ingatkan pada waktu itu pernikahan tentu berkaitan dengan tujuan untuk menaikkan status sosial. Mereka menikah dengan wanita asing maksudnya seperti itu. Sebagai bangsa yang kecil dan tidak ada signifikansinya, maka pernikahan dengan orang asing yang punya posisi dan kekayaan yang besar menjadi satu hal yang menguntungkan karena mereka sudah lebih lama tinggal dan memiliki ladang dan tanah yang luas di daerah itu. Sehingga isteri yang sejak awal sama-sama berjuang, setelah lama menikah maka sang suami mulai bosan lalu dia menceraikan isterinya dan mendapatkan isteri yang lain. Ini menjadi fenomena yang terjadi pada waktu itu sebagai problem sosial yang serius diangkat oleh Maleakhi.

Sampai kepada era Tuhan Yesus beberapa ratus tahun kemudian, problem ini menjadi problem yang terus terjadi. Dan terlebih lagi kita bisa melihat dalam perjalannnya, problem perceraian ini mendapatkan pembenaran dan dukungan dari orang-orang yang punya otoritas dan kuasa untuk membenarkannya. Pembenarannya tentu di dalam hal bagaimana menafsirkan ayat Alkitab khususnya dalam Perjanjian Lama ketika bicara soal Musa mengijinkan mereka mendapatkan surat perceraian [lihat Ulangan 24:1-4]. Sehingga dalam Matius 19 dicatat beberapa orang Farisi kemudian datang kepada Tuhan Yesus dan bertanya kepada Yesus tentang hal ini. Jadi problem menceraikan isterinya ternyata tidak berubah tetapi sampai kepada era Tuhan Yesus, problem itu mendapatkan pembenaran secara teologis dan nampaknya kuat secara Alkitabiah melalui penafsiran para rabi Yahudi sehingga pada waktu mereka melakukan perceraian itu mereka merasa tidak bersalah melakukan hal itu di hadapan Tuhan sebab menurut mereka Alkitab sudah membenarkannya apalagi melalui tafsiran pada rabi dan ahli Taurat membenarkan perceraian itu boleh dilakukan dengan alasan apa saja.

Pada waktu itu ada dua arus besar pengajaran orang Farisi, yaitu Hillel dan Shammai. Dua arus ini ada perbedaannya dalam beberapa hal, termasuk di dalam prinsip mengenai perceraian. Pengajaran Shammai mengatakan seseorang hanya boleh menceraikan isterinya jika terjadi pelanggaran yang sangat serius, misalnya terjadi penyelewengan dan ketidak-setiaan dari salah satu pihak karena di situ berarti salah satu pihak sudah melanggar perjanjian nikah mereka. Dan alasan menyebabkan perceraian itu terjadi oleh karena seseorang tidak setia kepada suami atau isterinya karena melakukan hubungan seksual dengan orang lain, maka itu menjadi dasar dari sebuah perceraian. Sedangkan pengajaran Hillel mengijinkan terjadinya perceraian dengan alasan apa saja, termasuk alasan yang paling remeh sekalipun. Dalam Ulangan 24 Musa menyebutkan “jika suami mendapati hal yang tidak senonoh pada isterinya maka dia boleh menuliskan surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu” (Ulangan 24:1). Kata ‘tidak senonoh’ ditafsir oleh Hillel ketika seorang suami sudah tidak suka kepada isterinya maka dia bisa memakai alasan apa saja, termasuk ketika isteri menggoreng telor ceplok sampai hangus, atau kalau dandanannya sudah tidak menarik lagi. Pokoknya ketika seorang berkata aku sudah tidak suka lagi kepadamu maka itu boleh menjadi sebuah alasan terjadi perceraian. Maka mereka melihat hukum yang diberikan oleh Musa bisa dibengkokkan untuk kepentingan mereka.

Dalam Matius 19 orang-orang Farisi bertanya kepada Tuhan Yesus dengan maksud untuk mencobai Dia, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” (Matius 19:6). Mengapa ini menjadi hal yang serius? Karena ini bukan urusan persoalan sosial di dalam hubungan dua orang, tetapi persoalan bagaimana firman Tuhan mendasarinya. Yesus mengatakan pada awalnya original intention Allah tidaklah demikian. Maka Yesus kemudian mengutip ayat dari kitab Kejadian bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, lalu kemudian Allah menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan (Kejadian 2:21-24). “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firmanNya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:4-6). Maka institusi pernikahan sudah diciptakan Allah sejak awal, ini bukan sekedar urusan dua orang manusia, tetapi Allah yang menyatukan mereka, laki-laki dan perempuan.

Lalu kemudian pertanyaan selanjutnya muncul, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” (Matius 19:7). Dan Yesus menjawab, “Karena ketegaran hatimu Musa mengijinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Matius 19:8). Di sini Yesus langsung masuk kepada akar masalahnya, dosa telah merusak tatanan relasi sehingga kekerasan hati manusia memaksa Musa untuk mengeluarkan surat cerai semata-mata tujuannya adalah untuk melindungi pihak yang lemah.

Di sinilah kemudian firman Tuhan memberikan prinsip yang benar bagaimana mengerti dan memahami apa sesungguhnya arti sebuah pernikahan. Ini adalah prinsip yang indah dan berlaku bagi kita semua. Maleakhi mulai dengan terlebih dahulu dengan satu pertanyaan retorik, “Bukankah kita sekalian mempunyai satu Bapa? Bukanlah satu Allah yang menciptakan kita? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita?” (Maleakhi 2:10). Kalau Allah adalah Bapamu dan Penciptamu, maka kita memiliki hubungan yang penting, hubungan itu adalah hubungan Perjanjian [covenant relationship]. Allah pernah berjanji kepada nenek moyangmu untuk menjadikan engkau umat Israel menjadi umat Allah. Itulah covenant, itulah perjanjian. Dengan demikian, relasi itu adalah sebuah relasi yang eksklusif. Dalam kitab Hosea dan beberapa kitab lain, Allah menggambarkan relasiNya dengan umatNya seperti relasi pernikahan dimana Ia menjadi seorang pengantin pria mengambil umat Israel yang digambarkan sebagai pengantin wanita. Itu sebab Allah benci dan marah pada waktu mereka kemudian menyembah berhala yang disembah oleh bangsa-bangsa lain karena itu dianggap sebagai satu perselingkuhan rohani. Dengan konsep seperti itu Tuhan ingin mengatakan pernikahan adalah sebuah perjanjian dimana pernikahan orang Kristen adalah satu pernikahan yang dipakai oleh Allah untuk melambangkan hubungan Allah dengan umatNya. Itulah sebabnya pada waktu seseorang menikah, di situlah Allah mengatakan pernikahan itu adalah pernikahan yang menyatukan dua tubuh menjadi satu dan melalui kesatuan itu kemudian kita menghasilkan keturunan-keturunan yang saleh, yang menjadi gambar-gambar Allah yang dihasilkan dari kehidupan anak-anak Allah yang saleh seperti itu. Pernikahan itu sebagai satu kesatuan rohani [spiritual union] sehingga pada waktu seseorang umat Allah menikah dengan wanita asing yang bukan penyembah Allah Yahweh yang sejati itu, itu akan menjadi sebuah spiritual struggle sebab tidak terjadi spiritual union.

Apa yang dikatakan Maleakhi kepada bangsa Israel pada waktu itu adalah satu bagian firman Tuhan yang tetap berlaku bagi setiap kita, khususnya bagi anak-anak Tuhan yang masih single yang belum menikah, bagaimana mencari pasangan hidup adalah satu pencaharian yang sangat penting sekali untuk kita perhatikan. Ada satu buku yang sangat baik sekali ditulis oleh sepasang suami isteri Lee dan Leslie Strobel berjudul “Mismatch in Marriage” sebuah buku yang memperlihatkan bagaimana struggle spiritual itu terjadi ketika salah satu pasangan tidak seiman. Lee Strobel adalah seorang jurnalist yang sangat pintar dari Chicago Tribune dan dia adalah seorang yang sangat menentang Kekristenan. Tetapi puji Tuhan, akhirnya Tuhan merubah hatinya dan dia bukan saja menjadi orang percaya tetapi kemudian menjadi seorang hamba Tuhan yang sangat berpengaruh. Tetapi buku ini ditulis untuk membukakan bagaimana struggle yang terjadi ketika mereka menjadi pasangan yang tidak seiman sehingga buku ini menjadi satu pembelajaran yang penting betapa luar biasanya spiritual struggle pada waktu dua orang yang tidak seiman hidup bersama, tidak pernah ketemu dan tidak pernah memiliki perspektif rohani yang sama selama ini bersatu dalam sebuah pernikahan. Kita tidak boleh mengambil keputusan yang gegabah dan tergesa-gesa, karena kepingin cepat-cepat untuk bisa mendapatkan pasangan hidup tanpa memikirkan dan menyadari bahwa itu adalah sesuatu komitmen seumur hidup kita jalani, bukan sekedar satu keputusan yang kalau salah kita bisa cepat-cepat hapus dan tinggalkan. Pernikahan itu berbeda dengan kita memilih tinggal dimana, kerja apa, sekolah dimana. Karena di dalam pernikahan sebagai anak Tuhan kita tahu itu adalah sebuah covenant perjanjian. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah menyatukan mereka dua menjadi satu, dan kesatuan itu adalah kesatuan yang permanen. Ketika Allah yang menyatukan, tidak ada orang yang boleh memisahkan. Kesatuan itu adalah satu kesatuan yang merefleksikan hubungan Allah dengan umatNya. Itu adalah satu kesatuan dimana Allah menginginkan engkau menjadi orang tua yang seperti apa. “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang Allah kehendaki dari kesatuan itu? Keturunan ilahi!” kata Maleakhi (Maleakhi 2:15). A godly offspring. Maka carilah pasangan yang seiman denganmu. Perjuangkan akan hal itu di dalam pernikahanmu. Bagi sdr yang single, jangan terburu-buru di dalam memilih, lihat kematangan rohaninya, lihat kedewasaan karakternya, apakah dia seorang yang cinta Tuhan atau tidak. Pada waktu mengalami kesulitan tidak cepat-cepat cari selamat dan mengorbankan orang lain demi untuk kepentingan diri sendiri. Itu adalah hal-hal yang patut dilihat dari karakter seseorang. Carilah orang yang seperti itu. Orang seperti itu jelas adalah orang yang mengerti hubungannya tidak main-main dan dia memiliki hubungan yang serius dengan Tuhan. Karena di situlah satu spiritual union yang terjadi sehingga pada waktu ada tantangan kesulitan sdr bisa saling menguatkan, saling menegur dengan firman Tuhan, sdr bertumbuh berdua di dalam kesalehan. Kenapa? Karena hanya dengan level dari spiritual yang sama union itu mempunyai purpose yaitu kita menghasilkan a godly offspring, keturunan yang percaya kepada Allah. Anak adalah hasil dari kesatuan dua orang percaya yang kemudian dibimbing dan dibesarkan di dalam Tuhan. Maka anak menjadi berkat Allah yang kita harus rawat baik-baik di dalam kebenaran firman sehingga waktu mereka besar mereka menjadi orang percaya yang akan meneruskan imannya kepada keturunan selanjutnya. Kita tidak boleh berpikir untuk cari uang sebanyak-banyaknya supaya anak tidak mengalami kesulitan finansial, tetapi akhirnya tidak pernah mempunyai kesempatan untuk membesarkan anak dan membimbing mereka mengenal dan mengasihi Tuhan. Mereka pikir dengan memiliki uang yang banyak lalu anak punya kesempatan dan oportunity yang lebih baik dan hidup lebih nyaman buat jaminan masa depan mereka. Itu bukan parenting. Parenting is how I can raise a godly offspring for God, itulah yang Allah kehendaki. Bukankah air mata dan dukacita tidak habis-habis tercurah ketika kita memiliki anak-anak yang memberontak, yang tidak mencintai dan mengasihi Tuhan dan tidak mengasihi orang tuanya, walaupun dia sukses dalam banyak hal lain. Maka kita harus menjadi orang tua yang aktif di dalam membangun iman anak-anak kita karena memang itu bagian dari panggilan dan tanggung jawab kita. Jangan justru berpikir kita sudah taruh anak kita di Sekolah Minggu, kita taruh anak kita di sekolah Kristen lalu kita serahkan kepada guru-guru untuk mendidik mereka, sudah pasti beres. Mari kita menjadi orang tua yang membesarkan anak-anak ini di dalam Tuhan.

Hal yang kedua, problem sosial terjadi ketika mereka menceraikan isterinya. Waktu itu adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah bagi begitu banyak wanita yang diceraikan. Maka Tuhan menegur para suami dan pemuka agama engkau sudah mempermainkan hukum dan melakukan kekerasan bagi mereka. Konteks pada waktu itu, ketika seorang isteri diceraikan, dia harus keluar dari rumah suaminya dan mungkin harus membawa juga anak-anaknya menjadi yatim. Dia tidak bisa kembali ke rumah orang tuanya karena mereka akan menolak burden tambahan di tengah situasi ekonomi mereka sendiri yang sudah sulit. Maka kemana janda-janda dan anak yatim ini pergi? Maka Musa mengeluarkan surat cerai justru sebagai perlindungan secara hukum bagi wanita-wanita yang diceraikan untuk mendapat support. jadi surat perceraian tujuannya apa? Bukan untuk di-abused bagi kepentingan para suami, untuk mengijinkan dan membikin loose satu peraturan pernikahan sehingga orang gampang menceraikan isterinya, tetapi justru untuk melindungi mereka yang ada di pihak yang dikorbankan supaya isteri-isteri ini tidak telantar begitu saja. Bayangkan kalau suatu hari suaminya pulang dan berkata aku sudah tidak suka lagi kepadamu, aku mau cerai. Lalu dia mengusir isterinya keluar dari rumah begitu saja, bagaimana hidupnya? Apalagi pada waktu itu, itu adalah stigma yang sangat menyedihkan bagi seorang wanita ketika dia diceraikan oleh suaminya seperti itu. Maka kehidupannya bagaimana, status sosialnya bagaimana? Maka Musa memberikan surat itu untuk melindungi mereka, itu tujuannya.

Tetapi hal perceraian ini merupakan hal yang tidak bisa kita abaikan terjadi di dalam kehidupan bergereja hari ini. Kita menyaksikan ada pernikahan yang tidak berjalan dengan baik, hal-hal yang sangat menyedihkan hati kita. Dan di situlah kita menyadari seperti yang Yesus katakan, kenapa ini bisa terjadi? Karena fakta dosa sudah merasuk ke dalam setiap relasi yang ada. Kenapa perceraian bisa terjadi? Karena kekerasan hatimu. Dari situ kita tahu bahwa hal-hal seperti ini bisa terjadi dan itu terjadi oleh sebab karena kita hidup dalam dunia yang berdosa. Dalam hal seperti itu kita harus menjadi orang Kristen yang penting sekali melihat bahwa Tuhan mengijinkan perceraian terjadi untuk melindungi pihak yang menjadi korban. Alkitab mengatakan pada waktu ada ketidak-setiaan, ada perzinahan dan perselingkuhan yang terjadi, di situ Tuhan ingin melindungi covenant itu, bahwa ini adalah sesuatu hal yang tidak boleh dipermainkan. Tetapi pada waktu perceraian itu terjadi, sekaligus kita juga harus mengatakan dengan serius bahwa tindakan berzinah itu adalah sesuatu yang serius, perlu ada teguran dan punishment bagi orang yang melakukannya.

Dalam 1 Korintus 7 kita bisa menemukan betapa kompleks luar biasa terjadi ketika ada keluarga dimana suami melakukan desersi pergi begitu saja, tidak memberikan nafkah sehingga isteri dan anak-anaknya mengalami kesulitan. Lalu gereja Korintus bertanya sikap mereka harus bagaimana, sehingga Paulus berkata perceraian diijinkan pada waktu salah satu pihak pergi meninggalkan pasangannya. Tujuannya bukan untuk mengijinkan perceraian menjadi sembarangan tetapi untuk melindungi dan memberikan pengharapan dan memberikan second chance masa depan bagi seseorang yang diceraikan untuk bisa memulai satu hidup yang baru dengan tidak untuk mengabaikan apa yang terjadi dahulu itu adalah sesuatu yang terjadi karena realita dosa dan sengat dosa yang luar biasa. Kita bisa menyaksikan ada pernikahan yang mungkin dijalankan dengan tergesa-gesa, dilakukan mungkin tidak dengan melihat baik-baik akhirnya baru sadar dia mungkin menikah dengan seorang yang abusive, penuh dengan kekerasan dan tidak habis-habisnya pemukulan terjadi di dalam rumah itu. Kita menemukan ada banyak kasus ketika pihak korban berusaha minta cerai, maka berakhir dengan kematian orang itu dibunuh oleh suaminya. Sebagai gereja kita perlu bagaimana memberikan perlindungan kepada orang-orang seperti ini.

Allah tidak mengijinkan perceraian dan Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16). Allah  menegur para suami yang berkhianat dan tidak lagi setia kepada isteri masa mudanya, pada waktu melihat isterimu sudah tidak muda lagi dan kecantikannya sudah pudar padahal mereka adalah teman sekutu dan isteri seperjanjiannya (Maleakhi 2:14). Dari sini firman Tuhan mengajar kita bagaimana kita terus-menerus memperbaiki dan memperbaharui hidup rumah tangga kita. Tidak ada kata berhenti untuk tetap mengasihi pasanganmu meski sampai mereka sudah tua dan tidak seindah seperti dulu lagi. Kiranya firman Tuhan ini menguatkan kita lagi, memberikan pengharapan dan kekuatan untuk memulihkan relasi itu di tengah-tengah hubungan suami isteri dan keluarga kita sehingga relasi kita menjadi indah satu sama lain. Kiranya Allah memberkati anak-anak muda yang sedang memikirkan untuk membina rumah tangga, dan pada waktu mereka menjalaninya mereka melihat Tuhan yang terutama dan terpenting dalam hubungan mereka dan kiranya Allah memberkati anak-anak kita sebagai keturunan ilahi yang kita besarkan di dalam Tuhan.(kz)