Berkata Kasar kepada Tuhan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Maleakhi (6)
Tema: Berkata Kasar kepada Tuhan
Nats: Maleakhi 3:13-18

Pernahkah engkau berkata kasar kepada Tuhan? Pengalaman hidup orang-orang Israel yang dicatat di Alkitab memperlihatkan bahwa hal ini bisa terjadi di tengah perjalanan hidup mereka Tuhan pimpin dan sertai, sungut-sungut, gerutu, ketidak-puasan, sampai kepada kata-kata yang kurang ajar mereka lontarkan kepada Tuhan. Ketika bangsa ini tidak mendapatkan air minum dan makanan di padang gurun, itu sudah cukup bisa menghapus memori mereka bahwa Allah begitu baik kepada mereka, dan mereka merasa 400 tahun mengalami perbudakan di Mesir jauh lebih baik daripada berada di padang gurun sebagai bangsa yang bebas [lihat Keluaran 14:10-12, Keluaran 15-16]. Kisah nabi Yunus juga mengingatkan kita bagaimana mujizat Tuhan yang luar biasa sudah melepaskan Yunus dari perut ikan tetapi dia tidak sanggup bisa melihat cinta kasih Tuhan itu bukan hanya bagi dirinya tetapi juga terentang bagi orang lain; bukan saja bagi bangsanya tetapi juga untuk bangsa Niniwe dan di situ dengan emosi marah dan kata-kata kasar dia menyatakan kekesalannya kepada Tuhan. Ada sepuluh orang yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus, tetapi hanya satu orang yang kembali untuk berterimakasih dan bersyukur memuliakan Allah. Ia menyadari kesembuhan itu adalah suatu berkat yang tidak layak ia terima sehingga ia kembali dan tersungkur di kaki Yesus. Dimana yang sembilan orang itu? kata Tuhan Yesus (Lukas 17:11-19). Semua ini menjadi bukti bahwa begitu mudah sungut-sungut dan gerutu bisa keluar dari mulut orang-orang yang diberkati Tuhan di saat dia merasa tidak lagi mendapat berkat itu. Pengalaman bangsa Israel sebagai orang-orang yang dibuang ke Babel 70 tahun lamanya bisa kembali lagi ke tanah perjanjian, yang sebetulnya persis seperti yang Mazmur 126 katakan, itu seperti mimpi adanya. Karena dengan logika manusia itu adalah hal yang mustahil, dengan cara yang ajaib dan di luar akan perhitungan akal manusia mereka bisa kembali. Meskipun fakta realita keadaan dan kondisi tanah perjanjian itu mungkin tidak sesuai dengan pengharapan, tetapi toh kita tidak bisa take it for granted, kita tidak bisa mengharapkan segala sesuatu itu kita terima jadi, bukan? Jikalau Tuhan sudah memberkati kita 95%, masakan kita marah dan bersungut-sungut sewaktu dituntut untuk menyelesaikan yang 5% dan kita tuntut Tuhan menyediakan semuanya buat kita dan kita hanya duduk-duduk saja menikmatinya? Itulah yang terjadi, setelah mereka pulang dari Pembuangan menghadapi kesulitan dan realita hidup seperti itu mereka tidak mau terima dan bangsa Israel ini kemudian berkata-kata kasar dan kurang ajar kepada Tuhan. Kitab Maleakhi mulai dengan kalimat Tuhan, “I always love you” (Maleakhi 1:2), tetapi setiap bagian dari kitab ini memperlihatkan kepada kita bagaimana bangsa Israel terus-menerus bertanya balik, membantah, berkata-kata kasar mempersalahkan Tuhan dan menganggap apa yang Tuhan sudah lakukan dan berikan kepada mereka itu tidak baik adanya. Maka sampai kepada bagian ini, Tuhan berkata: Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN (Maleakhi 3:13a).

Pernahkah engkau berkata kasar kepada Tuhan? Kita harus mengakui, kata-kata yang kasar, kata yang keras, itu bisa keluar dari mulut kita. Mungkin kata-kata itu tidak kita tujukan langsung kepada Tuhan, tetapi bisa jadi itu nampak di dalam sikap kita tidak sabar dengan orang-orang yang melayani Tuhan. Mungkin kata-kata itu tidak kita tujukan langsung kepada Tuhan, tetapi kita nyatakan kemarahan kita kepada isteri dan anak-anak kita dan kepada situasi kehidupan kita. Mungkin kata-kata itu tidak kita tujukan langsung kepada Tuhan, tetapi itu kita nyatakan dengan sikap kita malas berdoa dan melayani Tuhan. Mungkin kata-kata itu tidak kita tujukan langsung kepada Tuhan, tetapi hati kita kehilangan gairah untuk memuji memuliakan Tuhan. Jikalau hal itu yang terjadi, maka firman Tuhan ini juga berkata kepada kita secara pribadi. Allah telah menyatakan begitu banyak berkat yang begitu indah kepada kita, mengapa kita berkata kasar kepada Dia? Kata-kata yang kasar yang kita lontarkan kepada Tuhan itu menyatakan dengan jujur bagaimana sikap hati kita kepada Tuhan. Satu hari bencana dan kesulitan terjadi dalam hidup kita, ketika apa yang kita inginkan tidak tercapai, ketika kredit pinjaman di bank tidak kita dapatkan di saat bisnis kita sangat membutuhkan uang, ketika sakit penyakit datang dengan tiba-tiba, semua itu sudah cukup menghapus segala sukacita kita atas berkat anugerah Tuhan, sudah cukup bisa menghapus segala indahnya Allah memelihara kita, sudah cukup bisa menghapus kebahagiaan dan syukur kita atas kesuksesan yang kita alami di dalam hidup ini. Dan keluarlah kata-kata kasar, sungut-sungut dan gerutu itu dari mulut kita.

Kata-kata kasar kepada Tuhan keluar dari dua macam hati. Yang pertama adalah hati yang jahat dan hati yang dikeraskan; hati seperti itu penuh dengan iri dan kebencian. Orang-orang yang tidak percaya Tuhan di saat mereka lihat kesulitan dan bencana yang terjadi, membuat mereka mengatakan: kalau Allah itu penuh kasih, kalau Allah itu adil, kalau Allah itu berkuasa, mengapa Ia membiarkan hal-hal seperti ini terjadi? Mereka tidak mau tahu bahwa kebaikan dan pemeliharaan Allah begitu banyak dan begitu limpah dia nikmati. Kata-kata seperti ini lahir dari hati yang seperti ini adanya. Sehingga mereka mengatakan, buat apa kita percaya Tuhan? Buat apa kita menyembah Tuhan? Itulah kata-kata yang dilontarkan umat Israel kepada Allah. Yang kedua, hati yang marah dan kecewa. Nampak sekali dari bagian ini, itulah hati dari sebagian umat Israel kepada Tuhan yaitu hati yang marah dan kecewa. Mereka marah karena situasi hidup mereka. Mereka kecewa karena perlakuan orang dan respon orang. Saya pecaya kita juga bisa berkata-kata kasar oleh karena hati kita kecewa dan marah. Kecewa karena situasi, kecewa karena perlakuan orang di dalam hidup kita.

Kamu berkata: “Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadapNya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam? Oleh sebab itu kita ini menyebut berbahagia orang-orang yang gegabah: bukan saja mujur orang-orang yang berbuat fasik itu, tetapi dengan mencobai Allah pun mereka luput juga” (Maleakhi 3:14-15). Umat Israel berkata: sia-sia dan tidak ada gunanya beribadah dan melayani Allah.

Mereka mungkin merasa sudah melayani Tuhan, tetapi setelah mereka melayani kemudian mereka merasa Tuhan tidak menghargai pelayanan mereka. Apa untungnya kita berbakti kepada Tuhan? Di sini ibadah dan pelayanan kepada Allah dipandang seperti bisnis yang tidak mendatangkan profit karena mereka mengharapkan Tuhan memberi balasan yang setimpal, bahkan berlebih daripada apa yang mereka sudah kerjakan dan lakukan. Menyedihkan, seringkali di dalam pelayanan kita bisa melihat hal-hal seperti ini. Betapa mudah kita jatuh kepada keinginan untuk mendapatkan jabatan dan pengakuan di dalam pelayanan, dan pada waktu kita tidak mendapatkan penghargaan dari apa yang sudah kita lakukan, kita lalu pergi meninggalkan pelayanan itu dengan kita tidak memikirkan efek dari tindakan kita. Bahkan kita bisa menyaksikan hal ini terjadi kepada orang-orang yang mengaku sebagai pelayan dan hamba Tuhan, banyak di antara hamba-hamba Tuhan juga meninggalkan pelayanan pada waktu menjadikan pelayanan itu sebagai satu transaksi bisnis. Mereka berkata, sia-sia melayani Tuhan, tidak ada untungnya melayani Tuhan.

Lalu yang ketiga, apa yang mereka kerjakan dan lakukan semuanya bersifat legalistik, sesuatu yang mereka rutin kerjakan hanya sebagai kebiasaan ritual saja. Mereka menangis dengan berpakaian kabung pada waktu pengakuan dosa, mereka lakukan aturan, adat-istiadat dan hukum-hukum itu semua, tetapi mereka bilang semua itu tidak ada faedahnya dan untungnya. Kita melihat aspek dari legalisme dan hidup yang tidak ada gairah di dalam mereka melayani dan berbakti kepada Tuhan.

Kalau kita pernah kecewa, marah dan mungkin memiliki perasaan hati tidak ada gunanya melayani, semua itu akhirnya bisa membuat kita kehilangan sukacita, lifeless di dalam ibadah kita dan worship kita, apapun yang kita beri tidak kita beri dengan ketulusan dan kesungguhan hati.

Namun di ayat selanjutnya firman Tuhan menunjukkan ada sekelompok orang yang memiliki respon yang berbeda. Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: “TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapanNya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati namaNya.” Mereka akan menjadi milik kesayanganKu sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. Maka kamu akan melihat perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepadaNya (Maleakhi 3:16-18). Situasi mereka sama, tetapi mereka bisa berespon dengan menyatakan hati yang takut kepada Tuhan. Ini adalah kelompok orang yang takut akan Tuhan yang saling berkata satu sama lain di dalam takut akan Tuhan. Inilah percakapan dari orang-orang yang menghormati nama Tuhan, ini ciri yang kedua. Di sini kata yang muncul, “hallowed be Thy name,” di situ bukan saja percakapan kita di dalam takut akan Tuhan tetapi kita senantiasa menguduskan nama Tuhan. Inilah percakapan dari orang-orang yang menghormati nama Tuhan. Doa Bapa Kami mengingatkan kepada kita, nama Allah begitu kudus dan agung, nama yang dihargai dan dihormati.

Selama ini, apa yang kita percakapkan satu dengan yang lain? Pada waktu kita berkumpul di rumah kita, dengan anak-anak kita, adakah kita mempercakapkan hal-hal yang indah dan konstruktif dengan anak-anak kita? Adakah percakapan kita mempercakapkan segala sesuatu di dalam hati yang takut akan Tuhan? Kerinduan saya, itulah yang menjadi kultur di tengah kita, sehingga pada waktu orang datang di dalam sebuah komunitas perkumpulan anak-anak Tuhan, mereka tahu bahwa Tuhan itu ada di tengah-tengah mereka (1 Korintus 14:25). Dengan percakapan yang saling membangun di antara kita yang sama-sama melayani Tuhan, di situ kita bisa menyaksikan kasih, pelayanan yang murni, sukacita pelayanan, hati yang penuh dengan berkorban, tidak ada egoisme di dalam situ, pada waktu kita mempercakapkan satu sama lain pekerjaan Tuhan dan pelayanan Tuhan dengan takut akan Tuhan dan menghormati nama Tuhan.

Mengapa banyak anak-anak dari hamba-hamba Tuhan yang akhirnya memiliki kesan yang sangat buruk mengenai pelayanan dan tidak mau melayani Tuhan? Karena sangat besar kemungkinan orang tuanya mempercakapkan kepahitan pelayanan, mempercakapkan perlakuan daripada jemaat dan perlakuan daripada majelis dan bitterness pelayanan itu menyebabkan anak-anak tidak melihat percakapan yang takut akan Tuhan terjadi di antara mereka. Mengapa banyak anak-anak pendeta akhirnya kecewa dan tidak mau melayani? Karena kita tidak mempercakapkan pelayanan itu dengan takut akan Tuhan. Berapa banyak anak-anak majelis sampai remaja dan sampai mereka besar akhirnya tidak lagi sungguh-sungguh mencintai Tuhan? Karena kita tidak pernah memberikan percakapan yang mencintai dan menghargai pelayanan Tuhan. Kalau kita terus-menerus membicarakan kekurangan daripada pelayanan gereja kita, kalau kita merasa perlakuan orang tidak baik kepada kita, padahal kita merasa kita merasa sudah banyak berkorban melayani Tuhan tetapi kita tidak merasa dihormati dan direspek, dan percakapan itu mengalir dan tidak menjadi satu percakapan yang mengungkapkan keindahan dan privilege kita boleh melayani dan memuliakan Allah melalui hidup kita. Kita bersungut-sungut dan mempertanyakan apa gunanya pelayanan, apa untungnya memberikan hidup kita, waktu kita, uang kita bagi Tuhan? Meskipun mungkin kita tidak langsung menyatakan kemarahan kita kepada Tuhan, tetapi percakapan itu adalah percakapan yang kasar kepada Tuhan.

Mari kita berhenti untuk tidak lagi mempercakapkan hal-hal negatif dari gereja dimana kita berbakti. Mari kita berhenti untuk tidak mempercakapkan hal yang kurang daripada gembalamu dan hamba-hamba Tuhan yang lain; daripada para majelis dan pengurus yang ada; mari kita berhenti daripada semua itu. Mari kita bangga dengan pelayan-pelayan Tuhan di gereja kita. Mari kita harus mulai bangga terhadap visi dan misi pelayanan gereja kita walaupun itu tidak sempurna. Mari kita bangga dengan anak-anak muda kita, dengan pelayanan di dapur gereja, dengan guru-guru Sekolah Minggu kita, dengan semua yang melayani, sehingga sukacita melayani itu ada di tengah-tengah kita. Bukan kita mengatakan kita yang paling baik atau lebih baik daripada yang lain, tetapi perasaan bangga dan sukacita melihat wonderful ministry yang kita lakukan, dan kita mempercakapkan satu dengan yang lain dengan percakapan dan bahasa seperti itu. Tuhan mendengar dan memperhatikan percakapan di antara kita satu sama lain sebagai percakapan di dalam takut akan Tuhan.

Yang ketiga, ciri daripada kelompok orang-orang yang mempunyai hati seperti ini adalah mereka melayani Tuhan seperti seorang anak terhadap ayahnya (ayat 17). Apa bedanya seorang yang melayani sebagai anak dan yang melayani sebagai budak atau orang upahan? Orang yang melayani seperti orang upahan selalu bilang, bilang apa untungnya melayani Tuhan? Waktu tidak mendapat keuntungan dan benefit daripada berbakti dan melayani Tuhan, mudah sekali mereka tidak menghargai dan melihat Tuhan yang kita layani. Tetapi pada waktu kita melayani Tuhan sebagai anak, kapanpun, di manapun, kita tahu Ia adalah Bapa kita dan kita adalah anaknya. Itulah bedanya anak bungsu dan anak sulung dalam perumpamaan Yesus mengenai anak yang hilang. Anak bungsu pergi meninggalkan ayahnya dan hidup di dalam kehancuran dan kebangkrutan, tetapi pada satu titik dia kemudian terjadi perubahan perspektif dan perubahan mentalitas dari anak bungsu ini, maka dia bangkit dan berjalan kembali ke rumahnya. Dia sudah memikirkan kalau dia kembali, dia tidak lagi memikirkan statusnya sebagai anak. Dia akan meminta ayahnya akan menerimanya sebagai salah satu dari budaknya, dia sudah senang dan sukacita. Persoalannya bukan kepada statusnya, persoalannya di rumahnya pembantu sekalipun diperlakukan dengan sangat baik oleh ayahnya. Tetapi sebaliknya mentalitas anak sulung lain. Meskipun statusnya adalah anak, tetapi mentalitasnya adalah mentalitas orang upahan. Anak sulung yang selalu tinggal di rumah, ketika melihat adiknya diperlakukan dengan sangat baik oleh ayahnya, dia menjadi marah dan berkata, “Bertahun-tahun aku melayani bapa, tetapi tidak pernah ada anak lembu tambun disembelih bagiku.” Sang ayah mengingatkan dia, “Engkau adalah anakku, segala milikku adalah milikmu dan engkau bebas menikmati semua ini.” Anak sulung ini merasa dia sudah melakukan segala sesuatu tetapi kenapa dia tidak mendapat apa-apa? Padahal segala sesuatu yang ada di rumah itu adalah miliknya juga dan dia bisa menikmati semuanya. Tetapi dia tidak memiliki mentalitas sebagai seorang anak.

Kita tidak pernah punya motif melayani supaya kita mendapatkan sesuatu dari Tuhan; kita melayani karena kita sudah terlebih dahulu mendapatkan segala sesuatu dari Bapa kita. Kita melayani bukan untuk mendapatkan status, karena kita sudah mendapatkan status kita adalah anak Allah. Pada waktu Yesus Kristus telah menjadi Tuhan dan Juruselamat dan telah menjadikan kita yang tadinya adalah budak-budak dosa sekarang telah menjadi anak-anakNya. Segala janji yang diberikan Allah kepada Kristus juga menjadi janji yang kita peroleh di dalam Kristus untuk selama-lamanya. Ketika kita berjalan di dalam perjalanan penderitaan bersama Kristus, firman Tuhan berkata bahwa kita juga akan menikmati bersama Kristus karena Kristus adalah saudara sulung kita dan kita adalah anak-anakNya. Semua itu menjadi satu janji yang indah luar biasa. Dan janji itu juga Tuhan beri kepada mereka yang datang kepada Tuhan dengan memiliki sikap hati seperti ini, yaitu hati yang takut akan Tuhan dan menghormati nama Tuhan.

“TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapanNya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati namaNya. Mereka akan menjadi milik kesayanganKu sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. Maka kamu akan melihat perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepadaNya” (Maleakhi 3:16-18).] Ada empat janji Tuhan muncul di sini. Janji pertama, Allah memperhatikan dan mendengarkan doa mereka. Allah mendengar doa orang-orang yang takut akan Dia. Janji kedua, Allah mengingat dan mencatat semua yang kita katakan dan lakukan bagiNya. Firman Tuhan mengatakan Allah menulis di dalam kitabNya semua lengkap tercatat, tidak ada yang terhilang satu pun juga. Allah berjanji segala hal yang kita lakukan bagi Dia tidak akan pernah sia-sia sekalipun manusia bisa melupakan jasa dan perbuatan kita, Allah tidak akan menghapusnya. Tidak akan ada hal yang waste, yang tidak berguna dan tidak ada untungnya pada waktu kita mencintai dan melayani Tuhan. Dan satu hari kelak akan jelas terlihat hati orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan, yang beribadah dengan sungguh kepada Tuhan dan hati yang jahat dan tidak beribadah dengan sungguh kepada Tuhan.

Kiranya melalui firman Tuhan ini hati kita kembali disegarkan dan diingatkan dan dibawa kembali kepada Tuhan. Kita tidak pernah take it for granted akan apa yang Tuhan beri. Mari kita mengucap syukur tidak ada habis-habisnya dan tidak jemu-jemu dalam hidup kita menjadi orang Kristen yang takut akan Tuhan. Kita mempercakapkan Tuhan dengan penuh hormat dan kebaikan, mencintai segala pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Kiranya Allah memberkati setiap kita dan mengampuni kita jikalau mungkin kita pernah marah dan kecewa terhadap segala situasi yang kita alami. Pada waktu kita melayani, mungkin kita berpikir kita tidak mendapatkan hal dan balasan yang setimpal dan di situ membuat kita menjadi kecewa. Kiranya firman Allah sekali lagi mengingatkan kepada kita bahwa Allah kita mendengar, Allah memperhatikan dan mencatat semuanya dan itu tidak akan pernah berlalu. Kiranya Allah membangkitkan sukacita kita untuk senantiasa hormat dan kagum kepada Tuhan, senantiasa mengatakan kepada orang betapa berbahagianya kita boleh melayani Tuhan, betapa indahnya kita boleh melayani Allah sebagai seorang anak dalam hidup kita karena sepatutnyalah Allah kita layani sebagai Bapa yang penuh kasih kepada kita.(kz)