The Right Kind of Faith

Pengkhotbah: Rev. Elim Hiu
Tema: The Right Kind of Faith
Nats: Lukas 17:1-19

Hari ini kita merenungkan satu bagian berita firman Tuhan dari Lukas 17:1-19 dengan satu tema “The Right Kind of Faith,” bicara mengenai satu jenis iman seperti apa yang benar dan sejati itu. Dalam bagian ini kita melihat Yesus memberikan pengajaran yang sangat khusus bagi murid-muridNya. Lukas 17 dibuka dengan satu kalimat, “Yesus berkata kepada murid-muridNya” (Lukas 17:1a). Siapakah sesungguhnya seorang murid Tuhan Yesus? Saya menemukan begitu banyak orang Kristen yang ternyata tidak memahami konsep siapa itu murid Tuhan. Apakah semua pengikut Yesus adalah murid Yesus? Banyak orang Kristen berpikir, murid Tuhan Yesus adalah semacam orang dalam kelas yang khusus tersendiri, seolah-olah ini adalah sekelompok orang yang sangat suci sekali dan mereka mampu melakukan hal-hal yang istimewa dan mendapat tugas yang sangat khusus dari Tuhan dan mereka adalah orang-orang yang banyak berkorban. Tetapi apakah betul ini yang dikatakan oleh Alkitab kita mengenai apa itu murid Yesus? Kita tahu bahwa setiap murid Yesus adalah orang Kristen atau pengikut Yesus, tetapi apakah setiap orang Kristen harus menjadi murid Yesus? Dalam Alkitab Yesus berkata kita harus memuridkan orang. Tidaklah cukup hanya menjadikan orang percaya Tuhan, karena Setan pun percaya Yesus adalah Tuhan, tetapi Setan tidak diselamatkan (lihat Lukas 4:41). Hanya percaya saja belumlah cukup. Alkitab berkata, pada waktu kita akan diselamatkan, kita harus menyerahkan diri secara total kepada Kristus. Maka dalam bagian ini Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, artinya Ia berkata kepada seluruh orang Kristen yang percaya kepadaNya, dan Yesus bicara mengenai iman dan iman seperti apa yang harus kita miliki, the right kind of faith.

“Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya” (Lukas 17:1). Di sini Yesus memperingatkan murid-muridNya bahwa akan ada penyesatan atau hal yang membuat orang tersandung. Ada begitu banyak hal bisa menjadi batu sandungan dan hal yang yang menyesatkan tiba dalam kehidupan. Tetapi Tuhan Yesus mengingatkan setiap kita murid Tuhan tidak boleh menjadi batu sandungan. Apakah yang dimaksud dengan batu sandungan? Itu bisa merupakan sesuatu tindakan yang menyebabkan orang lain berbuat dosa; itu bisa berupa satu pencobaan yang bertujuan menjatuhkan orang; itu bisa berupa satu kritikan yang merusak orang; itu bisa berupa sungut-sungut, keluh-kesah atau omelan kita yang melemahkan orang. Alkitab memerintahkan kita untuk tidak mengeluh. Dalam Filipi 2:14 rasul Paulus berkata, “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Gosip adalah satu batu sandungan. Roma 1:30 jelas menyatakan bahwa gosip adalah satu dosa. Ketika sdr mengatakan sesuatu yang tidak baik tentang seseorang dan orang itu tidak ada di situ, itu adalah gosip. Tetapi jikalau sdr mengatakan sesuatu yang baik tentang seseorang, tidak apa-apa, karena semua orang menyukainya. Tetapi gosip itu adalah sebuah dosa; sama buruknya dengan dosa pembunuhan; sama buruknya dengan membenci Allah; sama buruknya dengan dosa tindakan homoseksual. Demikian yang dikatakan oleh Roma 1:29-31, saya tidak mengada-ada akan hal itu. Sehingga Yesus mengatakan kepada murid-muridNya, “Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu!” (Lukas 17:2-3a). Dengan kata lain Yesus ingin mengatakan, lebih baik mati daripada kita membuat orang lain tersandung. Berarti menjadi batu sandungan adalah satu hal yang sangat serius dan soal yang berat sekali. Maka kita perlu senantiasa berhati-hati dengan mulut kita sebab itu berarti Tuhan bisa mengirim kita ke neraka. Dan sekalipun Ia tidak melakukan hal itu kepada kita, Ia bisa menghukum kita dengan berat. Maka Yesus mengatakan kepada murid-muridNya, jika engkau memiliki iman yang benar, engkau tidak akan menyebabkan orang lain tersandung.

Kemudian Yesus berkata, “Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: aku menyesal, engkau harus mengampuni dia” (Lukas 17:3-4). Iman yang benar adalah iman yang memulihkan orang lain. Kita boleh menegur orang, kita boleh memperingatkan orang, tetapi kita juga bisa mengampuni mereka. Ini semua adalah sarana yang Tuhan beri kepada kita supaya kita bisa memulihkan orang dalam persekutuan anak-anak Tuhan. Sejujurnya, ini adalah satu pengajaran ini berat sekali. Bagaimana jikalau seseorang berbuat dosa terhadap aku tujuh kali sehari dan setiap kali dia datang kepada saya dan berkata, aku menyesal, haruskah saya mempercayai perkataannya? Ataukah dia hanya mengada-ada untuk mencari alasan? Tetapi Alkitab berkata engkau harus mengampuni orang itu. Apakah anda bisa menilai bahwa hal yang dia katakan itu tidak benar? Hanya Tuhan yang bisa menilai dan menghakimi orang. Murid-murid Tuhan Yesus mengerti akan hal ini. Murid-murid tahu betapa susah dan betapa beratnya apa yang Yesus katakan sehingga mereka kemudian meminta kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” (Lukas 17:5). Para rasul benar dalam hal ini, kita tidak bisa melakukan akan hal ini. Maka mereka pikir solusinya adalah: Tuhan perlu menambah iman kami lebih besar.

Kemudian Yesus memberikan satu perumpamaan bicara mengenai apa arti iman. Yesus berkata, “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu” (Lukas 17:6). Banyak orang berpikir ini adalah satu jawaban yang aneh. Apakah Tuhan menginginkan kita mencabut pohon dan melemparnya ke laut? Apa yang Yesus katakan sama sekali bukan bicara soal ukuran besar kecil sebuah iman melainkan Yesus bicara mengenai apa itu ciri sebuah iman yang benar yang harus engkau miliki. Jikalau hanya bicara soal berapa besar iman yang engkau perlu, apa yang bisa dilakukan iman ini? Para rasul salah mengerti apa yang Yesus maksudkan. Jadi iman mereka ada pada iman itu sendiri, bukan kepada Allah. Yang Yesus katakan adalah miliki iman yang benar yang bersandar kepada Allah, walaupun hanya kecil saja, itu sudah cukup adanya.

Dalam kosakata bahasa Inggris, kata “iman” sudah menjadi suatu istilah yang teknis [technical term]. Maka ketika saya berbicara dengan orang Barat, umumnya saya tidak memakai kata “iman” tetapi memakai kata “percaya” atau “bersandar” [trust]. Maka pertanyaannya adalah: apakah engkau bersandar [trust] kepada Tuhan atau tidak? Murid-murid harus percaya dan bersandar penuh kepada Tuhan. Dan pada waktu kita berkata Tuhan, aku percaya kepadaMu, hidup kita harus membuktikan apa yang kita katakan akan hal itu. Jika kita berkata bahwa kita trust kepada Allah, mengapa kita menjalani bisnis dengan cara kita sendiri tanpa bersandar kepada Allah? Pada hari Minggu ketika kita datang berbakti, mudah sekali kita berkata kita percaya kepada Allah. Tetapi mengapa pada hari Seninnya kita melakukan investasi dengan tidak pernah bertanya kepada Allah? Dalam small group kita mudah sekali untuk kita berkata kita percaya kepada Allah. Tetapi pada waktu kita memutuskan kemana kita akan menyekolahkan anak kita, pernahkah kita bertanya kepada Allah terlebih dahulu? Begitu banyak orang tidak bersandar kepada Tuhan atas hal-hal yang terjadi di luar gereja. Saya tidak berusaha mempersalahkan orang lain. Kenapa kita tidak bersandar penuh kepada Allah? Karena dunia ini mengatakan kita tidak usah percaya dan bersandar kepada Tuhan. Dunia sekitar kita mengatakan jadilah orang yang bebas, yang independen, dan buatlah keputusan bagi dirimu sendiri. Jadilah orang kaya, lakukan hal yang baik bagi dirimu sendiri. Dan kita tidak bersandar penuh kepada Allah dan bertanya, “Ya Allah, apa yang Engkau mau aku perbuat bagiMu?” Kenapa kita tidak berani bertanya seperti itu? Karena kita kuatir Allah akan menyuruh kita melakukan sesuatu yang buruk bagi kita. Kita takut Tuhan akan menyuruh kita melakukan sesuatu yang tidak kita suka. Di situlah kita tidak bersandar dan percaya sepenuhnya bahwa Allah sungguh mengasihi kita dan ingin hal yang terbaik bagi kita. Maka dalam hal ini sederhana saja Yesus berkata, engkau memiliki iman kepada Allah atau tidak? Apakah kita bersandar penuh kepada Tuhan atau tidak? Jadi ini bukan bicara soal ukuran iman kita, Yesus hanya bicara soal engkau punya iman atau tidak? Jika kita percaya Tuhan hanya 10% saja, kita tidak sungguh-sungguh percaya Tuhan. Bahkan kalau kita bilang kita bersandar kepada Tuhan tetapi hanya 90% saja, tetap berarti kita tidak percaya Tuhan.

Maka Yesus kemudian melakukan dua hal di sini untuk memberikan pengertian yang lebih jelas kepada kita. Pertama, Yesus memberikan sebuah perumpamaan kepada kita. Dan kemudian, Yesus melakukan sebuah karya mujizat. Yesus memberikan satu perumpamaan mengenai bagaimana memiliki iman yang benar itu. “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu setelah ia pulang dari ladang: mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (Lukas 17:7-10). Saya percaya sebagian besar kita mengerti apa yang dimaksud oleh perumpamaan ini mengenai pembantu atau pelayan. Pada waktu sdr memiliki seorang pembantu di rumah, dan dia sudah mengerjakan semua pekerjaan hari itu, pembantu kita tidak akan makan lebih dulu daripada tuannya. Dia harus melayani tuannya lebih dahulu. Demikianlah yang sepatutnya karena kita menggaji dia untuk melayani kita. Jikalau seorang pembantu lebih dulu makan daripada majikannya, sdr pasti akan memberhentikan dia. Sdr dan saya adalah pembantu-pembantu Yesus. Iman yang benar di dalam Tuhan adalah iman yang tidak pernah takut kita menjadi pembantu-pembantunya Tuhan. Kalau seorang pembantu telah mengerjakan apa yang sepatutnya dia kerjakan, apakah anda mengatakan terima kasih kepada dia? Kita jangan salah mengerti akan perkataan Yesus di ayat 9 ini “Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?” Kata “terima kasih” yang dipakai di sini bukan kata yang umum dipakai untuk kata terima kasih. Dalam bahasa Yunaninya adalah: apakah anda berhutang budi kepadanya setelah dia melakukan sesuatu kepada anda? Apakah tuan itu akan merasa berhutang budi kepada pembantu yang telah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan? Kalimat yang Yesus ucapkan ini penting sekali, karena bukan saja dalam perumpamaan ini tetapi bahkan orang di jaman modern ini termasuk orang Kristen sekalipun berpikir kalau mereka melakukan sesuatu hal yang baik kepada Tuhan, Tuhan berhutang budi kepada kita.

Waktu saya masih muda, saya pun pernah memiliki pikiran seperti demikian. Saya berpikir kalau saya melakukan begitu banyak hal yang suci bagi Tuhan, Tuhan pasti akan melakukan apa saja yang saya inginkan. Tuhan bilang, tidak. Kita tidak bisa melakukan seolah-olah ini hal yang benar dan suci lalu kemudian kita menuntut dan memanipulasi Allah. Kita tidak bisa menuntut Tuhan berhutang sesuatu sehingga Ia harus melakukan apa yang kita inginkan bagi kita. Jika kita berdoa kepada Tuhan, patutkah Ia berterima kasih kepada kita? Jika kita beribadah berbakti kepadaNya, patutkan Ia mengatakan terima kasih kepada kita? Iman yang benar menyadari Allah berhak menjadi tuan atas kita sepenuhnya dan pada waktu kita melayani Tuhan, kita tidak menuntut Tuhan berhutang budi kepada kita. Di situlah apa artinya kita beriman dengan bersandar penuh kepada Tuhan.

Hal yang kedua, Yesus melakukan karya mujizat untuk menjelaskan kepada murid-murid apa arti iman yang benar itu. “Dalam perjalanNya ke Yerusalem, Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam. Dan sementara mereka di tengah jalan, mereka menjadi tahir” (Lukas 17:11-14). Dalam bagian ini diceritakan Yesus sedang berjalan di satu tempat dan di dalam perjalanan itu ada 10 orang kusta melihat Dia. Saya tidak tahu apakah ada di antara sdr yang pernah melihat atau bertemu dengan orang yang sakit kusta? Penyakit kusta adalah sebuah penyakit yang sangat menakutkan. Penyakit itu menyerang sistem syaraf sehingga orang yang menderita kusta justru tidak bisa merasakan sakit sama sekali. Banyak orang berpikir, tidak bisa merasa sakit itu adalah hal yang baik. Tetapi justru di dalam dunia yang sudah berdosa ini, Tuhan perlu memberikan rasa sakit itu justru untuk melindungi kita. Dengan kehilangan rasa sakit, maka orang yang kena kusta bisa tanpa sengaja memotong jari tangan atau kakinya dan tidak sadar bahwa jari dan tangannya sudah putus karena tidak rasa sakit. Kakinya kena infeksi tetapi dia tidak sadari karena tidak rasa sakit. Pada waktu mereka sadar, jari-jari kakinya terjadi infeksi sudah terlambat karena sudah keburu copot. Sehingga orang-orang yang sakit kusta sdr lihat jari-jari tangan dan kakinya sudah buntung dan sudah tidak ada. Dalam dunia jaman kuno dulu tidak ada pengobatan yang bisa diberikan bagi orang kusta seperti ini. Pengobatan dan perawatan yang baik baru bisa diberikan kepada orang yang sakit kusta baru terjadi lima puluh tahun terakhir ini. Itu sebab orang yang kena kusta tidak boleh tinggal dengan orang-orang yang sehat, mereka harus diisolasi. Maka kita dapati sepuluh orang kusta ini hanya bisa berseru dari jauh kepada Yesus karena mereka tidak bisa mendekati Dia. Menarik, di sini kita melihat sepuluh orang kusta ini rupanya memiliki “iman.” Sepuluh orang kusta ini tahu siapa Yesus dan mereka percaya Yesus sanggup dan Yesus punya kuasa untuk menyembuhkan mereka. Dan pada waktu Yesus memberitahukan mereka untuk pergi memperlihatkan diri kepada imam, mereka segera melakukan hal itu (Lukas 17:14). Dalam tradisi dan hukum Yahudi, jika engkau sembuh dari sakit kusta, engkau harus memperlihatkan diri kepada imam dan imam itu akan menyatakan engkau memang sudah sembuh sehingga bisa kembali kepada keluarganya. Pada waktu Yesus katakan itu, sepuluh orang kusta ini langsung mempercayai kalimat Tuhan Yesus, itu sebab mereka pergi memperlihatkan diri kepada imam padahal kesembuhan itu belum terjadi. Mereka tidak tunggu sembuh dulu tetapi mereka langsung pergi kepada imam. Ini membuktikan sepuluh orang kusta ini punya iman yang percaya bahwa Yesus sanggup sehingga mereka melakukan apa yang Yesus perintahkan bahkan sebelum kesembuhan terjadi. Tetapi kita menemukan bahwa ternyata hanya satu dari sepuluh orang kusta itu yang memiliki jenis iman yang benar adanya. “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring” (Lukas 17:15). Iman yang benar, iman yang sejati itu akan senantiasa bersyukur dan memuliakan Allah. “Orang itu lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepadaNya. Orang itu adalah seorang Samaria” (Lukas 17:16). Jatuh tersungkur menyatakan satu sikap ibadah orang ini menyembah Yesus. Iman yang benar dan sejati adalah iman yang menyembah kepada Yesus Kristus. Dan orang kusta ini sudah tentu tidak berpikir bahwa Yesus akan berterima kasih kepadanya karena dia kembali dan menyembah Yesus. Yang dia kerjakan hanya satu yaitu dia melakukan apa yang Yesus perintahkan kepadanya untuk dia lakukan.

Maka Yesus kemudian berkata, “Bukankah ke sepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain daripada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah. Imanmu telah menyelamatkan engkau” (Lukas 17:17-18). Dalam terjemahan bahasa Inggris, “your faith has made you well,” imanmu telah membuatmu sembuh di situ Yesus memakai satu istilah yang sangat khusus. Dalam bahasa Yunani ada bermacam-macam kata yang memiliki arti “sembuh.” Lukas penulis Injil ini tidak menggunakan salah satu dari kata tersebut. Kata yang Lukas pakai di sini adalah “imanmu telah menyelamatkan engkau.” Kita bisa memiliki iman percaya [trust] bahwa kita bisa disembuhkan tetapi belum tentu kita memiliki iman bahwa melalui iman itu kita diselamatkan.

Kita tidak tahu apa yang ke sembilan orang kusta itu percaya akan Yesus. Mungkin mereka hanya percaya kepada ketaatan mereka sendiri, atau mereka hanya percaya kepada apa yang bisa mereka lakukan. Atau mereka mungkin percaya kepada hak istimewa karena mereka adalah keturunan orang Yahudi. Sama seperti mungkin ada orang yang bangga dia adalah anggota gereja tertentu. Atau ada yang mungkin percaya dia aman karena punya beberapa pendeta di keluarganya. Tetapi iman yang benar adalah iman yang percaya hanya kepada Yesus sepenuhnya. Percaya hanya kepada Yesus 100%. Dan iman yang seperti itulah yang menyelamatkan kita. Yesus mengatakan ini kepada murid-murid dan kepada kita untuk supaya kita juga mempunyai keputusan dalam hidup ini, yaitu iman seperti apa yang harus kita miliki sebagai anak Tuhan? Apakah kita hanya percaya dan bersandar kepada kekuatan dan kemampuan diri kita untuk mendengar atau melakukan sesuatu bagi Tuhan? Ataukah justru kita memiliki iman percaya hanya kepada Tuhan Yesus dan hanya kepada Dia?

Bersyukur untuk firman Allah yang indah ini. Kiranya melalui apa yang sudah kita renungkan hari ini Tuhan juga membukakan hati kita untuk bisa melihat iman seperti apa yang ada pada diri kita. Jikalau selama ini kita hanya bersandar kepada orang lain atau kepada hal-hal lain selain kepada Yesus, mari kita mengaku dan minta pengampunan dariNya. Kiranya Tuhan memenuhi hidup kita dengan iman yang sepenuhnya bersandar kepada Kristus. Kiranya Tuhan menolong kita dari setiap kekurangan dan kelemahan kita bahwa kita semata-mata hanya memandang kepada Tuhan kita Yesus Kristus.(kz)