Masih Sayangkah Tuhan padaku?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Maleakhi [1]
Tema: Masih Sayangkah Tuhan padaku?
Nats: Maleakhi 1:1-5

Setelah bangsa Israel pulang dari Pembuangan [Exile], ada 3 nabi yang terakhir yang dicatat di dalam Perjanjian Lama yang diutus oleh Allah untuk memberikan kekuatan, dorongan dan teguran kepada mereka. Nabi itu adalah nabi Hagai, Zakharia dan Maleakhi, tiga nabi terakhir dalam Alkitab Perjanjian Lama. Nabi Hagai memberikan dorongan kepada mereka dan berkata, “Kuatkanlah hatimu; kuatkanlah hatimu; kuatkanlah hatimu! Bekerjalah, sebab Allah menyertai kamu!” (Hagai 2:5). Nabi Zakharia menyatakan penglihatan-penglihatan ilahi. Berbeda dengan Hagai dan Maleakhi, Zakharia bisa saya gambarkan seperti seorang artis yang menyampaikan firman Tuhan dalam bentuk lukisan, menyatakan keindahan dari apa yang Tuhan akan kerjakan dan lakukan di masa yang akan datang.

Tahun berlalu, belasan dan puluhan tahun sejak mereka kembali dari Pembuangan, berita Hagai yang ditutup dengan kalimat janji, “Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!” (Hagai 2:20b) mungkin sudah sayup-sayup di telinga mereka. Tanah mereka gersang, kehidupan mereka tidak gampang, panen yang gagal dan kekeringan membuat hidup mereka penuh kesulitan. Dimana janji Tuhan? Sudah beberapa puluh tahun berlalu sejak mereka dengar janji itu. Saya ingin coba membayangkan ini kira-kira sikap umat Israel setelah sekian waktu berlalu tidak ada perubahan yang berarti, mereka mulai apatis, mereka menjadi sinis dan menghina Tuhan. Dan akhirnya pada waktu nabi Maleakhi datang menyampaikan firman Allah, sikap mereka menjadi konfrontasi. “Ah, masa? Apa benar?!” Bangsa ini sampai kepada satu titik dan satu momen dimana mereka tidak lagi merasa firman itu betul-betul menjadi firman yang mereka dengar dan amini, tetapi menjadi firman yang membuat mereka bertengkar dan berbantah-bantahan dengan Tuhan. Nabi Maleakhi menuliskan cara penulisan firman Tuhan yang luar biasa, memberitahukan kepada kita itulah yang sedang terjadi. Kalau sdr membaca seluruh kitab Maleakhi, maka sdr akan menemukan penulisannya akan disebut sebagai Divine Disputations, mereka bertengkar dan membantah Tuhan. “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” (Maleakhi 1:2). Maka buktinya Tuhan mengasihi kami?! Tuhan berkata, “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, dimanakah hormat yang kepadaKu itu? Jika Aku ini tuan, dimanakah takut yang kepadaKu itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina namaKu. Tetapi kamu berkata: dengan cara bagaimanakah kami menghina namaMu?” (Maleakhi 1:6). Firman Tuhan berkata, “Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” (Maleakhi 2:17). Tuhan berkata, “Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” (Maleakhi 3:8). “Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Apakah yang kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?” (Maleakhi 3:13).

Sejak pulang dari Pembuangan sekitar tahun 530 BC sampai kepada jaman Yesus dan bahkan sampai kemudian 70 AD ketika kemudian tentara Romawi menghancurkan kota Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah, mari kita lihat satu fakta bahwa bangsa Israel tidak pernah merdeka. Mari kita lihat fakta bahwa tidak ada satu masa dimana mereka tidak berada di bawah penjajahan. Mereka dijajah oleh Babel, mereka dijajah oleh Persia meskipun mereka bisa pulang dari Pembuangan di Babel itu adalah hal yang amazing luar biasa. Tetapi pulang ke Yerusalem mereka tetap menjadi bangsa yang berada di bawah penjajahan Persia. Sejarah kemudian mencatat, setelah mengalahkan kerajaan Babel, kerajaan Persia dikalahkan oleh kerajaan Yunani Kuno pada sekitar tahun 331 BC di bawah kepemimpinan Aleksander Agung. Maka kerajaan Yunani berkuasa bukan saja atas kerajaan Persia, tetapi juga termasuk kepada negara-negara jajahannya, termasuk Israel. Sekitar dua ratus tahun sebelum Kristus, kerajaan Yunani dikalahkan oleh kerajaan Romawi. Romawi kemudian menjajah negara Israel dan sampai kepada jaman Yesus negara Israel tidak pernah menjadi negara yang besar dan berdiri sendiri. Dalam bagian akhir kitab Hagai (Hagai 2:22-24), bukankah Allah berjanji kepada Zerubabel bahwa keturunannya akan menjadi raja? Pertanyaannya: kapankah janji itu akan tergenapi?

Maleakhi diutus Tuhan kira-kira sekitar 30 tahun sesudah nabi Hagai dan Zakharia, jadi kira-kira sudah 50 tahun berlalu sejak mereka kembali dari Pembuangan. Keadaan dan situasi tidak berubah, penderitaan dan kesulitan tetap ada, janji Tuhan tidak mereka lihat kenyataannya. Kekeringan dan bencana alam terus datang. Sekalipun mereka telah membangun Bait Allah dan Allah bekerja menyatakan begitu banyak hal yang luar biasa, bahkan emas dan perak dan berbagai supply Allah berikan melalui tangan bangsa-bangsa lain, semua itu tidak mereka lihat sebagai jawaban atas segala janji yang Tuhan katakan kepada mereka (lihat: Ezra 5). Merasa kesulitan demi kesulitan terus ada, perubahan demi perubahan mereka rasa tidak pernah terjadi, semua ini menyebabkan sikap bangsa Israel dari mendengar, percaya tidak percaya, mendengar kemudian sikap mereka menjadi masa bodoh dan tidak peduli, hati mereka menjadi keras seperti batu, lalu pada akhirnya mereka menghina dan membantah Allah. Nyinyir kepada firman Allah.

Kitab Maleakhi dibuka dengan satu pernyataan dari Allah yang luar biasa sekali. “I have always loved you,” firman Tuhan (Maleakhi 1:2). Itu adalah satu kalimat pembukaan yang luar biasa dalam kitab Maleakhi. Kalimat ini langsung meng-address problem yang utama, hakekat yang paling penting bicara mengenai the right relationship antara Tuhan dengan bangsa Israel. Ada yang tidak beres dari bangsa ini kepada Allah. Sikap mereka yang masa bodoh, yang acuh tak acuh, yang tidak hormat dan takut kepada Allah muncul di dalam cara mereka beribadah dan menyembah Allah. Sekalipun mereka datang berbakti ke Rumah Allah, sekalipun mereka menjalankan perayaan dan penyembahan, sekalipun mereka membawa korban binatang persembahan ke atas mezbah Allah, hidup spiritual mereka jauh dari Allah. Pengetahuan yang benar akan Allah, pengertian yang benar akan Allah, itu kalau dimengerti dengan benar-benar benar akan menyelesaikan semua persoalan ibadah mereka. Mengapa mereka memberikan persembahan yang tidak benar? Mengapa mereka hidup moralnya penuh dengan kelalaian? Mengapa mereka akhirnya tidak mau lagi mendengar firman Tuhan, bersikap masa bodoh, dan bahkan berani membantah Allah? Persoalan yang pertama, yang kemudian Tuhan bereskan, adalah bagaimana mereka memiliki kesadaran akan siapa Allah yang mereka sembah dan betul-betul sadar bahwa Allah tetap sayang kepada mereka. Hanya pada waktu mereka mengerti akan kasih Allah kepada mereka, mereka akan bersandar dan percaya penuh kepada Allah sekalipun hidup mereka tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan.

“Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi” (Maleakhi 1:1). Kata ini dalam terjemahan bahasa Inggrisnya “the oracle” [ESV], tetapi dalam bahasa aslinya memberikan pengertian yang lebih dalam lagi yaitu “a heavy burden,” seolah ucapan ilahi ini heavy as burden. Itu berarti Maleakhi merasa berat luar biasa sebab umat ini bertengkar dengan dia. Berat luar biasa Maleakhi menyampaikan firman Allah dengan pertengkaran. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau jemaat ini melakukan hal yang sama kepada saya. Begitu saya mengeluarkan satu kalimat, sdr kemudian berkata, “Ah, masa?!” Tuhan sungguh mengasihimu! Masa?! Tuhan mau kita mengasihi dan melayani Dia. Masa?! Masa?! Hidup yang berjalan dengan statis, sepuluh tahun, dua puluh tahun, lima puluh tahun, seolah tidak ada perubahan yang berarti. Perjalanan hidup yang penuh dengan berkat yang Tuhan janjikan, tidak tergenapi. Melewati sekian lama waktu berlalu, hati mereka menjadi keras seperti batu, sehingga firman Allah itu menjadi heavy burden di telinga mereka. Betapa berat bagi Maleakhi sebab ia harus menyampaikan firman Allah ini kepada orang-orang yang seperti itu. Pada saat yang sama, kata heavy juga memberi tuntutan bahwa firman Allah yang berat itu harus kita terima dengan serious. Betapa beratnya firman Allah itu masuk ke telinga mereka dan masuk ke hati mereka. Firman itu masuk ke telinga, kemudian dengan cepat mata melihat realita yang berbeda, lalu segera firman Allah itu mereka buang. Itu sebab firman Allah itu menjadi heavy bagi mereka karena mereka tidak take it seriously. Firman Allah memang berat, susah dan sulit, tetapi pada waktu kita menolak dan menghindarinya, ia tidak menghasilkan buah yang indah. Tetapi ketika kita terima dengan hati yang sungguh dan dengan serious, ia akan menghasilkan hal yang luar biasa. Kita jangan melihat kitab Maleakhi dari sisi negatif seolah-olah Allah hanya memberikan teguran yang keras kepada mereka, dan kita menemukan perbantahan umat Allah kepada Allah, mereka mempertengkarkan firman Allah seperti itu. Tetapi mari kita melihat nabi Maleakhi sebagai seorang nabi yang Tuhan pakai secara pastoral bagi umat Tuhan yang memerlukan firman Tuhan ini. Di sini kita terhibur karena firman Tuhan ini mendorong anak-anak Tuhan yang sudah lemah dan putus asa, memang perjalanan itu tidak lebih mudah, tidak lebih baik, tidak lebih lancar, tetapi jangan itu akhirnya membuat engkau menjadi lemah dan lesu lagi. Pada waktu engkau dalam keadaan seperti itu, akhirnya engkau menjadi kecewa, engkau mulai marah dan nyinyir, sehingga engkau terus membantah apa saja firman Tuhan yang engkau dengar di telingamu.

Tuhan berkata, “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” (Maleakhi 1:2). Allah bilang, Aku mengasihimu. Tetapi mereka berkata balik, buktinya apa? Mana buktinya Tuhan sayang kepada kita? Tetapi Tuhan adalah Allah yang begitu sabar, Ia tetap datang kepada umatNya yang sudah bersikap sinis seperti ini. Hari ini hal yang sama bisa terjadi kepadamu. “Pendeta enak saja ngomong, Tuhan sayang, Tuhan sayang, coba kalau dia kena kanker, masih bisa bilang Tuhan sayang?! Pendeta enak saja ngomong, Tuhan sayang, Tuhan sayang, minggu depan saya mau bayar sewa rumah pakai duit darimana?! Kita sudah tidak punya apa-apa lagi, enak saja bilang, percaya sama Tuhan, bersandar sama Tuhan! Itulah sikap dan attitude orang-orang ini kepada firman Tuhan pada waktu berhadapan dan menghadapi realita situasi seperti ini. Tetapi Tuhan itu panjang sabar dan penuh dengan kasih setia. Hari ini saya rindu sdr melihat firman Tuhan ini dari perspektif ini. Apa sebabnya kita tidak memberi bagi rumah Tuhan dengan tulus, dengan ikhlas dan dengan sungguh-sungguh percaya dan bersyukur atas pemeliharaan Tuhan kepadamu? Kenapa kita tidak bisa menerima dengan penuh, mendengar dengan sungguh, dan menjadikan firman Tuhan itu masuk ke dalam hati kita? Kenapa kemudian kita menjadi sinis kepada Tuhan? Situasi politik, situasi ekonomi, problem yang mereka alami, itu semua hanyalah hal-hal yang menjadi faktor pemicu. Kenapa saya katakan itu semua hanya menjadi faktor pemicu? Karena bisa jadi engkau tetap tidak mau dengar firman Tuhan, engkau tetap tidak menanggapi firman Tuhan dengan serius walaupun hidupmu lancar dan hidupmu diberkati oleh Tuhan. Persoalan yang paling mendasar dari sikap dan attitude bangsa ini kepada Allah diangkat oleh Maleakhi bagaimana kita mempunyai pemahaman yang betul-betul dalam bahwa Allah kita tidak pernah berubah dan kasihNya kepada kita tidak pernah berubah.

Ada problem di dalam persoalan ibadah orang Israel ini. Maleakhi menegur mereka karena mereka membawa korban binatang yang buta dan timpang dan cacat ke mezbah Allah (Maleakhi 1:8); mereka tidak memberikan persembahan persepuluhan yang sepatutnya bagi Tuhan (Maleakhi 3:8); mereka hidup dalam amoralitas dan perkawinan campur dengan orang tidak percaya (Maleakhi 2:11). Bahkan sesudah ditegur oleh Tuhan mereka tetap melakukan hal-hal yang sama dan marah kepada teguran Tuhan. Itu semua akan kita bahas satu-persatu di belakang. Tetapi jangan lupa, sebelum sampai kepada semua hal itu, firman Tuhan yang pertama disampaikan oleh Maleakhi adalah bahwa Allah senantiasa mengasihi mereka. Sungguh indah luar biasa!

Gampang sekali kita lupa. Bagaimana hidup spiritual kita juga sering seperti itu, kita mengalami spiritual amnesia. Kita lupa apa yang sudah Allah kita nyatakan dan lakukan mengasihi kita. Setelah kita terima, kita segera lupa. Lalu setelah lupa, kita berpikir hal yang lain. Baru saja lewat 15 menit mungkin kita sudah lupa. Bolehkah saya katakan perjalanan hidup rohani kita seperti demikian? Tuhan memberkati kita bulan ini, membuat kita senang sekali. Tetapi waktu lewat satu minggu saja kita sudah lupa dan kita merasa Tuhan tidak sayang kepada kita. Baru beberapa hari saja, kita sudah tidak ingat semua itu dan sukacita kita hilang lenyap ketika ada problem dan kesulitan datang kepada kita. Dan biasanya kita merasa problem itu begitu besar membuat kita melihatnya seperti gunung yang tinggi dan kita tidak bisa lagi melihat hal yang lain.

I always love you, kata Tuhan. Apa buktinya, Tuhan, Engkau sayang kepadaku? Lihat, semua yang aku miliki habis lenyap, ladangku tidak menghasilkan, lumbung-lumbungku kosong, semua tanaman kering-kerontang, tidak ada yang membuktikan Tuhan sayang kepadaku. Lihat Edom. Kami dibawa ke Pembuangan, mereka tidak. Kami dihancurkan oleh Babel, mereka baik-baik saja. Kami pulang dalam kemiskinan, mereka kaya berkecukupan. Mana buktinya Allah sayang kepada kita? Luar biasa jawaban Tuhan. Tuhan tarik umatNya melihat bukan kepada apa yang terjadi minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, Tuhan tarik mereka melihat cinta Tuhan jauh ke belakang, kepada ribuan tahun yang lalu, kepada identitas mereka yang mula-mula. “Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub tetapi membenci Esau” (Maleakhi 1:3). Itu jawaban Tuhan kepada mereka. Yakub adalah nenek moyang dari bangsa Israel. Allah berkata, Aku mencintai Yakub tetapi membenci Esau. Allah menarik mereka kepada moment yang pertama itu. Bukankah Allah memilih mereka menjadi umat Allah? Bukankah pemeliharaan Allah begitu nyata tertulis di dalam catatan sejarah bangsa ini? Allah tidak pernah jauh dan meninggalkan mereka. Tuhan tarik mereka ke belakang, kepada saat dimana Tuhan memilih Yakub dari kandungan ibunya. Dibanding dengan Esau, Yakub dan Esau sama-sama lahir dari rahim ibu yang sama. Nanti di belakang hari dalam Roma 9:11-16 rasul Paulus berkata, Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau bukan karena apa yang mereka lakukan. Itu sepenuhnya keputusan dan hak Allah. Allah memilih Yakub sejak dari kandungan bukan karena Yakub lebih baik, atau karena Allah tahu Yakub akan percaya kepadaNya. Allah memilih Yakub karena kehendak dan hak prerogatif Allah sendiri, karena kemurahan hati Allah sendiri. Allah memilih Yakub out of undeserved grace. Grace yang sama, anugerah yang sama datang kepada kita. Itulah anugerah Tuhan yang mencintai dan mengasihi kita. Dengan kata lain, Allah ingin mengingatkan mereka apapun yang terjadi, bagaimana kondisi bangsa Israel sekarang tidak akan pernah menjadi sesuatu yang merusak relasi Tuhan dengan bangsa Israel. Yang menjadi penting adalah bagaimana bangsa Israel melihat relasi mereka dengan Tuhan. Jangan biarkan penderitaan merusak relasimu dengan Allah. Jangan sampai kesulitan hidup membuat engkau tidak lagi benar-benar dengan serius dan sungguh-sungguh menerima firman Allah dan janji Allah dan kembali merasakan kehangatan kasihNya kepadamu. Bangsa Israel sudah termakan dengan kekecewaan dan kemarahan, membuat mereka bersikap apatis dan masa bodoh, menjadi acuh tak acuh dan sinis kepada Allah. Mereka setengah hati beribadah kepada Allah; mereka tidak memberi persembahan yang terbaik kepada Allah; kecewa dan marah kepada Allah, itu semua tidak membuat Allah merubah relasinya dengan mereka.

Kalau hari ini saya pulang ke rumah, saya akan berjanji kepada anak-anak saya, papa akan mencintaimu, papa akan mensupport segala kebutuhan dan biaya hidupmu sampai tujuh turunan. Anak saya pasti tidak akan percaya janji seperti itu. Kenapa? Karena saya tidak punya kekuatan dan kemampuan untuk memenuhi janji seperti itu. Orang datang kepada kita, atau kepada pelayanan kita, lalu bilang, “Jangan kuatir, saya akan membantu keuanganmu atau gereja ini.” Tidak ada manusia, siapapun dia, seberapapun kaya dan banyak hartanya, kita bisa menggantungkan hidup kepada orang itu. Bukan karena orang itu bermain-main dengan janjinya, atau karena dia hanya memberikan janji yang kosong, tetapi karena janji itu tidak bisa disupport oleh kekuatan dan kemampuannya menopang selama-lamanya. Hidup kita tidak boleh bersandar kepada janji dari manusia karena manusia kemampuannya terbatas adanya. Hanya Allah yang bisa menepati dan menggenapi janjiNya, dan hanya Allah yang sanggup menopang hidup engkau dan saya. JanjiNya itu berlaku untuk minggu depan, janjiNya itu berlaku untuk sepuluh tahun yang akan datang; janjiNya itu berlaku untuk seratus tahun, janjiNya itu berlaku untuk seribu tahun ke depan. Apa buktinya? Tuhan tidak memperlihatkan itu ke depan, tetapi Tuhan menarik engkau melihat ke belakang, tarik hidupmu ke belakang, tarik hidupmu ke masa yang lalu kepada apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidupmu. Ia meminta kita jangan pernah mengalami spiritual amnesia dan lupa akan kasih Tuhan kepada kita. Demikian besarnya kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya barangsiapa percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Kita sudah melihat besarnya kasih Allah kepada kita dengan memberikan Yesus Kristus menjadi juruselamat kita. Mengapa kita masih meragukan kasihNya? Mengapa kita masih berpikir Allah tidak cinta kepada kita hanya soal kado Tuhan yang kecil, karena hal-hal yang sepele dan trivial, soal semangkok nasi dan soal pekerjaan yang kecil dan sepele. Setelah kita melihat ke belakang, kepada bukit Golgota, kita melihat AnakNya sendiri yang paling berharga itu tidak Ia sayangkan dan Ia berikan bagi kita. Itulah bukti nyata akan kasihNya. Kita melihat ke belakang begitu luar biasa cinta Tuhan mengasihi engkau dan saya. Maka Tuhan berkata kepada bangsa Israel melalui Maleakhi, “Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata: “TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel” (Maleakhi 1:5). Allah itu jaya dan maha besar, beyond boundaries. Ia bukan Allah teritorial. Ia adalah Allah bagi seluruh bangsa-bangsa. Engkau akan melihat berkatNya akan sampai kepada bangsa-bangsa lain. Senantiasa tarik kembali hatimu kembali kepada kasih Kristus yang telah mati di kayu salib bagi penebusan dosa-dosa kita. Itu adalah cintaNya yang paling besar dan paling ultimate Ia nyatakan kepada engkau dan saya.(kz)