Ciri Ibadah yang Asal-asalan

Pengkhotbah: Dr. Gerald Bray
Tema: Ciri Ibadah yang Asal-asalan
Nats: Maleakhi 1:6 – 2:9

Maleakhi adalah satu kitab yang cukup pendek yang ada di bagian akhir dari kitab Perjanjian Lama dan mungkin tidak banyak orang Kristen yang membaca kitab ini. Tetapi sesungguhnya kitab ini adalah salah satu kitab yang paling penting di Alkitab karena dalam kitab ini kita membaca mengenai persiapan umat Allah menyambut kedatangan sang Mesias. Pada waktu Maleakhi menyampaikan firman Allah, bangsa Israel berada dalam keadaan krisis spiritual yang luar biasa. Fokus dari krisis spiritual itu nampak dari ibadah mereka di Bait Allah.

Kita sebagai orang Kristen seringkali menghadapi masalah dalam bagaimana membaca kitab Perjanjian Lama karena kita mungkin selalu bertendensi menyamakan Israel seperti sebuah komunitas gereja dan kita menyamakan Bait Allah di Yerusalem seperti sebuah gedung gereja dan kita juga menyamakan imam-imam di Bait Allah itu seperti pendeta-pendeta kita. Tetapi bukan seperti itu sebenarnya cara kita melihat kitab Perjanjian Lama. Kita harus melihat Israel adalah sebuah bangsa yang terdiri dari dua belas suku dan sebelas dari suku-suku tersebut memiliki tanah dan mereka hidup seperti orang-orang lain, bertani dan beternak. Tetapi ada satu suku yang berbeda, itu adalah suku Lewi. Suku Lewi ini adalah suku yang dipilih Tuhan untuk menjadi imam yang melayani Tuhan. Di dalam gereja Kristen, bisa saja setiap orang menjadi pendeta melayani Tuhan dan pendeta itu tidak perlu berasal dari suku tertentu. Anda tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pendeta. Tetapi imam-imam di Israel berbeda, semua imam-imam itu harus berasal dari suku Lewi. Sehingga pada waktu engkau sebagai seorang dari suku Lewi, otomatis engkau adalah seorang imam, suka atau tidak. Dan kalau engkau bukan berasal dari suku Lewi, engkau tidak bisa menjadi imam. Jadi posisi atau jabatan imam itu menduduki posisi khusus di Israel dan Bait Allah adalah tempat khusus dimana mereka berbakti dan beribadah kepada Allah. Karena apa yang dilakukan oleh para imam di Bait Allah ini adalah sebagai suatu perwakilan bagi seluruh bangsa.

Di dalam Perjanjian Baru, konsep tentang Bait Allah berkembang lebih jelas. Perjanjian Baru mengatakan bahwa Bait Allah itu adalah tubuh kita. Kita adalah bait-bait Allah karena Roh Kudus berdiam di dalam diri kita [lihat 1 Korintus 6:19]. Dan Perjanjian Baru mengatakan kita adalah imam-imam Allah yang melayani Allah dan itu berarti kita harus mempersembahkan korban persembahan yang kudus melalui tubuh kita atau hidup kita ini (Wahyu 1:6). Dalam surat Roma, rasul Paulus mengatakan kepada jemaat untuk persembahkanlah tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah sebagai ibadah kita yang sejati (Roma 12:1). Sehingga apa yang Maleakhi katakan kepada umat Israel sesungguhnya Allah katakan juga kepada engkau dan saya masing-masing hari ini. Jadi ketika kita membaca kitab Maleakhi, kita tidak boleh menyamakan bahwa apa yang disampaikan oleh Maleakhi ini untuk pendeta kita. Dia tidak sedang berbicara tentang para pendeta, dia sedang berbicara tentang engkau dan saya karena kita semua adalah imam-imamĀ  dari Allah yang hidup. Rasul Petrus berkata, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1 Petrus 2:9).

Allah menyatakan diriNya kepada Maleakhi dengan cara retorika, Allah mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Allah berkata, “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, dimanakah hormat yang kepadaKu itu? Jika Aku ini tuan, dimanakah takut yang kepadaKu itu? firman TUHAN semesta alam” (Maleakhi 1:6). Bukankah seorang anak sepatutnya hormat kepada ayahnya? Jawabannya tentu saja: Ya, seorang anak harus menghormati ayahnya. Dan kemudian Allah bertanya lagi: Bukankah seorang pelayan sepatutnya hormat kepada tuannya? Jawabannya tentu saja: Ya, seorang pelayan harus menghormati tuannya. Perhatikan bahwa dua hal yang Allah sebutkan di sini adalah dua jenis relasi yang berbeda. Hubungan antara anak dan ayah adalah suatu hubungan atau relasi yang terjadi secara natural, secara alamiah. Saya tidak bisa memilih siapa ayah saya dan ayah saya tidak bisa memilih saya untuk menjadi anaknya. Tetapi saya mempunyai kewajiban dan keharusan untuk taat dan hormat kepada ayah saya. Begitu pula ayah saya mempunyai tanggung jawab sebagai orang tua untuk memelihara dan membesarkan saya. Dan relasi ini berlandaskan oleh relasi secara natural. Namun ketika kita membicarakan relasiĀ  hubungan antara seorang pelayan dengan tuannya, itu adalah sesuatu relasi yang sangat berbeda. Relasi ini tidak berlandaskan hubungan secara natural tetapi sebagai satu relasi yang dibangun dengan satu kontrak perjanjian, karena anda sebenarnya tidak ada hubungan dengan majikan anda tetapi anda dengan tujuan tertentu membangun hubungan dengan dia. Dan di sini dua belah pihak mengakui adanya tanggung jawab dari masing-masing untuk dijalankan. Begitu pula hubungan antara kita dengan Allah mempunyai dua aspek ini. Kita adalah anak-anak Allah secara natural. Allah menciptakan kita sebagai manusia, sebagai mahluk hidup. Anda tidak bisa memilih untuk dilahirkan datang ke dalam dunia ini. Kamu ada seperti ini karena Allah menciptakanmu seperti ini. Maka kita mempunyai tanggung jawab sebagai mahluk ciptaan kepada Pencipta kita, Bapa kita. Tetapi pada saat yang sama Allah juga memberi kita wahyu atau penyataan dan penyataan itu disebut sebagai perjanjian atau covenant. Ini adalah seperti hubungan antara seorang majikan atau tuan kepada pelayan. Ini bukan sesuatu hubungan atau relasi yang natural tetapi ini adalah sebuah relasi yang semata-mata Allah berinisiatif melakukannya. Mengapa Allah memilih engkau untuk melayani Dia? Saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan ini. Mengapa Allah memilih saya untuk melayani Dia? Saya tidak tahu. Ketika saya membaca Alkitab saya menemukan bahwa bangsa Israel sendiri juga tidak mengerti kenapa mereka dipilih untuk menjadi umat Allah. Dalam Ulangan 7:7 Musa berkata kepada umat Israel, mengapa Allah memilih engkau? Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu. Engkau bukan bangsa yang paling besar di dunia ini, engkau juga bukan yang paling penting. Tetapi Allah memilih kamu karena Allah mengasihi kamu. Dan kasih itu adalah sebuah misteri yang tidak pernah bisa kita pahami. Kita tidak mengerti kenapa kita bisa mengasihi seseorang, kita jatuh cinta kepada seseorang kadang-kadang kita tidak tahu apa sebabnya. Kita melihat bahwa orang tua mengasihi anak-anaknya. Mungkin kadang-kadang anda berpikir sebenarnya anak-anak itu tidak sepantasnya mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya tetapi anda tidak bisa membuat mereka tidak mengasihi. Sebagai orang tua kita tahu bahwa anak-anak kita tidak sempurna adanya, tetapi kita toh tetap mengasihi mereka. Begitu pula kasih antara suami isteri. Kita bukan manusia yang sempurna tetapi kita menyayangi orang-orang yang ada dekat di sisi kita. Seperti inilah bagaimana Allah berelasi dengan engkau dan saya. Di dalam Perjanjian Baru, rasul Paulus berkata ketika kita masih berdosa, Allah telah menyatakan kasihnya kepada kita (Roma 5:8). Allah tidak mengirim AnakNya Yesus Kristus ke dalam dunia ini karena kita orang yang benar, yang sempurna. Kalau kita orang yang sempurna, Anak Allah tidak perlu datang ke dalam dunia. Tidak ada alasan bagi Yesus untuk datang menebus kita. Namun Allah menyatakan kasih sayangNya kepada kita semua justru karena kita bukan orang benar. Allah menyatakan diriNya dan menghampiri kita karena kita adalah orang berdosa. Ini adalah misteri dari kasih sayang Allah. Tetapi inilah bagaimana wujud nyata kasih Allah telah memilih engkau dan saya untuk dikasihiNya. Inilah problema yang Maleakhi hadapi pada waktu ia berbicara menyampaikan firman Allah kepada bangsa Israel karena Allah telah menyatakan diri kepada bangsa Israel, satu bangsa yang tidak sempurna adanya. Tetapi bangsa Israel tidak memahami hal ini.

Allah berkata, seorang anak harus menghormati ayahnya, seorang pelayan harus taat dan hormat kepada majikannya. Demikian seorang imam Allah harus menghormati Allah, tetapi mereka tidak melakukan hal ini. Apa yang terjadi di Bait Allah? Maleakhi membuka dengan terus-terang apa yang umat Israel lakukan di dalam ibadah mereka. “Kamu membawa roti cemar ke atas mazbahKu. Kamu membawa binatang yang dirampas, binatang yang timpang dan binatang yang sakit, kamu membawanya sebagai persembahan” (Maleakhi 1:7, 13).

Di dalam Bait Allah ada dua jenis persembahan. Jenis yang satu adalah persembahan yang tidak mengandung darah dan yang satu lagi adalah jenis persembahan yang mengandung darah. Persembahan yang tidak mengandung darah yaitu dalam bentuk roti adalah sesuatu persembahan yang tidak terlalu penting adanya. Tetapi bangsa Israel mendapat peraturan untuk memberi persembahan seperti itu untuk mengingatkan mereka bahwa segala sesuatu yang mereka miliki sesungguhnya adalah milik Allah semata-mata. Persembahan yang mengandung darah yakni persembahan korban binatang ternak adalah sesuatu persembahan sebagai simbol dari hidup. Dalam Perjanjian Baru ini adalah sebuah gambaran bahwa Allah memberikan PuteraNya untuk mati bagi kita. Namun ketika kita melihat kitab Maleakhi, nabi Maleakhi menyatakan apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Bait Allah, kita melihat bahwa umat ini ternyata memberikan persembahan roti sajian, persembahan yang tidak mengandung darah itu, roti yang sudah cemar. Mereka memberikan roti yang sudah rusak, roti yang tidak bisa lagi dimakan. Mengenai korban binatang, mereka memberikan persembahan binatang yang mereka sendiri tidak inginkan, binatang yang timpang, buta, sakit dan cacat. Ini adalah sebuah godaan yang sangat kuat. Banyak orang tergoda untuk melakukan hal seperti ini. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh orang Israel terhadap Allah. Mereka mengatakan aku sudah tidak bisa makan roti ini maka aku berikan kepada Allah. Apa yang tidak baik buat kita, itu baik buat Dia. Maleakhi mengatakan inilah problem utamanya. Apa yang kita anggap tidak pantas buat kita, kita anggap pantas untuk Tuhan. Apa yang anda anggap tidak pantas anda sajikan untuk tamu di rumah anda, anda malah berikan itu buat Tuhan. Tuhan menegur mereka, “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah dia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam” (Maleakhi 1:8). Sudah tentu anda tidak akan datang kepada gubernurmu dan memberi hadiah seperti ini. Dan alasanya sangat jelas. Kalau saya memberi anda sepotong roti yang sudah berjamur, atau kalau saya memberi anda binatang yang cacat atau yang saya sudah tidak mau lagi, anda tentu akan marah dan tersinggung. Anda tentu menganggap saya telah menghina anda dan engkau tidak akan mau bertemu saya lagi. Tetapi tentu saja kita tidak bisa melihat Allah. Kita tidak tahu apa yang Tuhan katakan ketika melihat pemberian kita. Tuhan tidak di depan kita, kita tidak melihat Tuhan di depan mata kita. Kita berpikir bahwa kita bisa mempermainkan Allah dengan melakukan hal-hal yang tidak kita lakukan kepada orang lain karena kita tidak bisa melihat Dia. Maleakhi mengatakan kepada bangsa Israel bahwa perbuatan mereka itu salah total. Memang benar bahwa kita tidak bisa melihat Allah, tetapi Allah bisa melihat engkau. Lebih dari itu, Allah bisa melihat setiap orang, dimana saja, kapan saja. Dan Maleakhi mengingatkan Allah adalah Pencipta dunia dan alam semesta ini dan karena Tuhan dari segala yang diciptakanNya, maka nama Allah harus dihormati dan dimuliakan di segala tempat. “Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari namaKu besar di antara bangsa-bangsa, tetapi kamu menajiskannya” (Maleakhi 1:11-12a). Dengan terus terang dan terbuka Maleakhi mengatakan bahwa sikap bangsa Israel yang telah menghina Allah tersebar di seluruh dunia. Dunia melihat bahwa bangsa Israel telah menghina Allah.

Di sini kita melihat koneksi keterkaitan antara bangsa Israel dengan gereja. Karena ketika bangsa Israel telah menghina Allah di depan bangsa-bangsa di dunia, demikian pula gereja bisa menghina nama Tuhan di muka bumi ini jikalau gereja tidak menghormati Tuhan sebagaimana seharusnya. Hidup kita dan apa yang kita persembahkan haruslah murni dan tidak tercemar. Jikalau saya mengatakan kepada Tuhan, ‘Engkau hanya boleh mengambil sesuatu hal bagian yang kecil dari diri saya yang tidak saya mau,’ saya telah menghina Allah. Allah harus mendapatkan bagian yang terbaik dari apa yang bisa saya beri, bukan yang terburuk. Dunia di luar akan menganggap rendah diri kita sebagai orang Kristen jikalau kita memberikan hal-hal yang buruk kepada Allah. Karena kalau seperti itu, saya hanya melakukan hal yang sama seperti orang lain lakukan, buang barang yang kita tidak mau. Tetapi kalau kita memberi yang terbaik kepada Allah, orang lain mungkin akan bertanya mengapa kita melakukan hal itu. Kenapa kamu tidak mengambil bagian yang terbaik untuk dirimu sendiri? Kita harus berkata, saya memberikan yang terbaik kepada Allah karena Allah jauh lebih penting daripada diriku sendiri. Itu adalah suatu persembahan yang sejati. Itu adalah kesaksian kita yang sungguh akan kuasa Allah dalam hidup kita. Di situ berarti kita menempatkan Allah sebagai yang terutama di dalam hidup kita.

Maleakhi mengatakan, “Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati namaKu, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk sebab kamu ini tidak memperhatikan” (Maleakhi 2:2). Ini adalah satu teguran yang sangat keras. Jika kita tidak melakukan hal ini maka kita akan menerima hukuman atas ketidak-taatan kita. Kita akan menderita jikalau kita tidak menghormati Allah secara sepatutnya dan selayaknya. Di Alkitab Allah sering digambarkan seperti api yang dahsyat. Allah menyatakan diriNya kepada Musa dalam semak yang berapi. Dan tentu saja Musa tidak dapat mendekati semak berapi itu karena engkau tidak bisa bermain-main dengan api. Kita harus memperlakukan api itu dengan sepatutnya. Jika kita bermain-main dengan api, maka api itu akan menghancurkan kita. Allah kita seperti demikian adanya. Jika kita melawan terhadap Pencipta kita, jika kita melawan terhadap Tuhan kita, kita akan menderita akibatnya. Kita hidup di dalam dunia yang mengira mereka bisa menghina Allah. Inilah yang Maleakhi katakan kepada orang Israel. Apa yang engkau lakukan sekarang mungkin engkau pikir tidak ada yang melihatnya? Tetapi satu kali kelak engkau akan melihatnya berbeda, dan engkau akan membayar akibat dari hal-hal buruk yang engkau lakukan hari ini.

Dan Maleakhi menyimpulkan khotbahnya dan mengatakan, Allah telah memberikan satu perjanjian kepadamu. Dan perjanjian itu adalah suatu perjanjian kehidupan dan sejahtera (Maleakhi 2:5). Jika engkau ingin hidup dalam sejahtera, engkau harus hidup berpegang kepada perjanjian itu. Ini adalah satu rahasia kesuksesan. Dan dia juga mengatakan bahwa ini adalah suatu perjanjian akan kebenaran dan keadilan. Karena itu bukan saja bicara semata-mata bagi saya, bagi hidup saya dan kesejahteraan saya, tetapi itu juga bagi relasi saya dengan orang-orang lain di sekitar saya. Karena kalau saya tidak hidup di dalam kebenaran, saya akan kena getahnya di kemudian hari. Tidak ada sesuatu yang lebih tragis daripada seseorang yang hidup dalam kebohongan, mungkin mereka berbohong karena mereka menginginkan sesuatu. Perjanjian Allah adalah suatu perjanjian yang berdasarkan kebenaran. Ini adalah suatu perjanjian keadilan, karena keadilan harus berdasarkan kebenaran. Kalau kita hidup berlandaskan kebenaran dan senantiasa mengejar keadilan, maka Allah akan menyertai hidup kita.

Ini adalah tantangan yang kita hadapi sebagai orang Kristen. Pemikiran dunia ini berbeda dengan pemikiran kita. Dunia mengatakan jika engkau bisa berbohong dan meyakinkan orang lain bahwa hal ini benar, lakukan saja. Karena bagi mereka hidup itu adalah sebuah permainan, seperti engkau berjudi di kasino. Kita bisa menang, kita bisa kalah. Yang penting gunakan akalmu dan lakukan apa yang kau pikir yang terbaik. Kalau engkau memegang sesuatu yang benar, mungkin justru itu akan menciptakan problem untuk anda. Inilah pemikian dunia. Tetapi sebagai orang Kristen kita tidak boleh berpikir seperti demikian. Kadang kala menyatakan kebenaran bukan hal yang mudah. Tetapi menyatakan kebenaran adalah pilihat yang terbaik. Karena pada akhirnya, kita adalah anak-anak Allah dan Allah kita adalah Allah kebenaran. Allah kita adalah Allah kehidupan. Jikalau kita menghormati Allah dengan tingkah laku dan cara hidup kita, kita percaya bahwa Allah akan meninggikan kita. Tetapi kalau kita pikir kita bia mengecoh atau membodohi Allah, kita akan menanggung akibatnya. Ini adalah tantangan bagi kita sebagai orang Kristen. Dan inilah berita yang Maleakhi sampaikan kepada kita hari ini.(kz)