The Best is Yet to Come

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Hagai (3)
Tema: The Best is Yet to Come
Nats: Hagai 2:11-24

Tema hari ini adalah “The Best is Yet to Come” ada hal yang indah yang terbaik yang menanti kita di depan. Dalam Hagai 2:7-10 firman TUHAN berkata, “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat. Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. KepunyaanKulah perak dan kepunyaanKulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”

Pada waktu Tuhan umat Israel pulang dari Pembuangan [Exile], mereka mendapati Bait Allah telah hancur lebur, tembok kota Yerusalem juga tinggal puing-puing belaka. Dan pada waktu mereka harus membangun Bait Allah itu kembali, kita bisa menyaksikan kesulitan dan pergumulan mereka. Maka Allah mengutus nabi Hagai untuk menyampaikan firmanNya setelah bangsa Israel ini pulang ke tanah asal mereka sekitar 20 tahun berlalu, karena mereka terus menyatakan excuses menunda-nunda pembangunan Bait Allah itu. “Tidak usahlah dulu. Belum waktunya kita membangun Bait Allah” (Hagai 1:2). Tetapi Hagai berkata, “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4). Mengapa kalian bisa membangun rumah kediamanmu sendiri dengan megah, tetapi Rumah Allah tetap berantakan dan tetap menjadi reruntuhan adanya? Pembangunan Bait Allah itu penting untuk menjadi satu petanda dan satu simbol bahwa Tuhan menjadi sentral bagi bangsa ini. Pada waktu Tuhan meminta umat Israel yang keluar dari perbudakan Mesir [Exodus] untuk mendirikan Kemah Suci di tengah padang gurun, maka Kemah Suci itu ditaruh di tengah sebagai sentral dan seluruh umat mengelilinginya. Tujuannya adalah untuk mengingatkan mereka bahwa Tuhanlah yang menjadi sentral dan pusat dari hidup mereka. Banyak hal dalam hidup kita tidak akan menjadi indah dan harmonis pada waktu Allah tidak menjadi sentral dalam hidup kita.

Mereka terus menyatakan excuses menunda-nunda pembangunan Bait Allah itu. Persoalannya bukan karena mereka tidak mampu; bukan karena mereka tidak punya resources; bukan karena mereka tidak sanggup. Persoalannya adalah pada waktu Bait Allah tetap menjadi reruntuhan, mereka tidak menjadikan Allah sebagai prioritas utama dan fokus di dalam hidup mereka. Maka Hagai datang memberikan pencerahan dan membuka mata mereka untuk melihat dari perspektif Allah, “Perhatikanlah keadaanmu! Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit. Kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang. Kamu minum, tetapi tidak sampai puas. Kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas. Dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlubang!” (Hagai 1:6). Apa yang terjadi dalam hidupmu? Adakah contentment? Adakah sukacita? Adakah kepuasan? Adakah kebahagiaan? Jawabannya: tidak ada. Kenapa? Sebab semua yang mereka pikir akan memenuhi hidup mereka dan mendatangkan sukacita, kepuasan dan kebahagiaan, mereka menaruh itu semua di dalam pundi-pundi yang berlobang.

Bagian ini menjadi luar biasa indah. Tuhan hanya minta kepada mereka, jadikan Tuhan sebagai fokus dan sentral hidup mereka. Mulailah membangun. Tuhan tidak bertanya, Tuhan tidak meminta dan menuntut dengan cara apa, dengan bagaimana mereka harus membangun Bait Allah itu. Yang terpenting adalah apakah hati mereka mau fokus kepada Tuhan atau tidak. Itu sebab firman Tuhan berkata, “Be strong and be courage. Jangan takut dan jangan lemah hatimu, bekerjalah sebab Aku menyertai engkau” (Hagai 1:5). Allah hanya meminta mereka untuk berespon dengan positif dan jangan berespon dengan negatif. Apa yang Tuhan akan kerjakan dalam hidupmu dan bagaimana Tuhan akan mengerjakannya, itu adalah cara dan urusan Tuhan. Tetapi apa yang Tuhan mau engkau lakukan dalam hidupmu, itu adalah respon dan urusan kita kepada Tuhan. Tuhan hanya meminta engkau berespon dengan benar kepada panggilan dan perintahnya.

Bait Allah pada jaman Salomo begitu megah dilapisi oleh emas. Tetapi sekarang umat Israel hanya bisa membangun dari batu-batu yang pecah, yang bekas terbakar. Tidak ada peraknya, tidak ada emasnya. Tuhan bilang, “KepunyaanKulah perak, kepunyaanKulah emas.” Apakah Tuhan hanya bercanda saja? Kalau benar demikian, kirimkan perak dan emas itu dari langit buat kami. Kira-kira itu respon mereka. Tetapi luar biasa keindahan yang Tuhan kerjakan, kita jumpai catatan di dalam kitab Ezra 5:14 “Juga perlengkapan emas dan perak dari Rumah Allah yang telah diambil oleh Nebukadnezar dari Bait Suci yang di Yerusalem dan dibawa ke dalam bait suci yang di Babel, diambil pula oleh raja Koresh dari bait suci yang di Babel itu dan diserahkan kepada seorang yang bernama Sesbazar yang telah diangkatnya menjadi bupati.” Raja Nebukadnezar adalah raja Babel yang mengalahkan kerajaan Yehuda dan yang mengangkut semua perbendaharaan istana dan Bait Allah dan orang-orang yang tersisa ke pembuangan termasuk Daniel dan kawan-kawannya (Daniel 1:1-4). Setelah kerajaan Babel dikalahkan oleh kerajaan Media Persia, rajanya yang bernama Koresh mengambil semua barang sitaan itu dan mengembalikannya kepada orang Yahudi yang pulang ke negerinya. Hal yang tidak pernah disangka dan diduga, bahkan sejarawan juga bingung mengapa itu bisa terjadi. Jawabannya Alkitab catat di Ezra 7:27, “Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita yang dengan demikian menggerakkan hati raja, sehingga dia menyemarakkan Rumah TUHAN yang ada di Yerusalem.” Amazing luar biasa! Apa yang Allah mau lakukan dan bisa lakukan, Allah bisa melakukannya sekalipun itu di luar akal pikiran dan perhitungan manusia. Itu sepenuhnya hak dan cara Tuhan. Bagaimana mungkin harta yang sudah dijarah sebagai pampasan perang bisa dikembalikan lagi ke tangan pemiliknya? Coba pikir, atas dasar apa raja Persia mengembalikan semua itu kepada orang Israel dengan begitu saja? Tetapi nanti kita bisa melihat dalam kitab Ezra ada satu ketakutan yang luar biasa dari raja asing ini terhadap Allah orang Israel. Apa itu? Kita tidak tahu. Mungkin ada kesulitan, mungkin ada penyakit yang menimpa raja atau keluarganya, yang membuat dia ketakutan. Dia mengembalikan semua itu bukan karena dia menjadi percaya Tuhan, dia mengembalikan karena adanya rasa takut itu (lihat Ezra 7:23).

Yang kita pelajari di sini adalah satu hal: bagaimana Allah itu berkarya dan bekerja dengan amazing luar biasa, yang tidak pernah kita sangka dan duga dan pikirkan. Kita hanya dipanggil dan diminta dan dituntut oleh Allah ialah nyatakan respon yang indah dan positif terhadap apa yang Dia kehendaki engkau lakukan dalam hidupmu. Jangan berespon hanya terus sedih dan menyesal melihat kepada kejayaan masa lalumu, tanpa melihat the best is yet to come. Di dalam banyak hal, kita diminta Tuhan berkarya sepenuhnya bagi Tuhan. Bukankah Alkitab berkali-kali mencatat ada orang-orang yang mendengar panggilan Tuhan dan berjalan dengan taat. Musa, dalam Ibrani 11:25-26 dikatakan, “Ia mengangap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.” Musa berani untuk mengambil keputusan meninggalkan kesempatan emas untuk menjadi orang penting dalam pemerintahan kerajaan Mesir, untuk melihat dan mengejar apa yang tidak pernah layu dan yang kekal di dalam janji Allah. Alkitab juga mencatat bagaimana Abraham meninggalkan Ur-Kasdim dan segala sesuatu untuk menerima janji bahwa Allah akan memberikan kepadanya satu negeri yang akan menjadi milik pusakanya. Meskipun dia tidak tahu tempat yang dia tuju, dia berjalan dengan iman (Ibrani 11:8-9). Tetapi Alkitab mencatat juga, ada kisah Lot dan isterinya yang berlambat-lambat untuk meninggalkan kota Sodom, sampai malaikat Tuhan harus menyeret mereka. Karena kenapa? Karena dia tidak rela meninggalkan begitu banyak harta, rumah yang besar, kehebatan dan kejayaannya di sana (Kejadian 19:15-17). Ketika bangsa Israel dituntun Allah menuju ke tanah Perjanjian, tanah itu masih belum kelihatan wujudnya, tetapi di tengah pengembaraan di padang pasir yang berat itu membuat mereka mau kembali lagi ke Mesir untuk menikmati makan minum di dalam perbudakan Mesir. Alkitab mencatat dua contoh itu, dua respon seperti itu. Dan Alkitab hari ini juga mencatat kepada umat Tuhan yang sudah pulang dari Pembuangan, Tuhan beri mereka encouragement, memberi mereka dorongan, tetapi respon mereka begitu negatif. Tanggal 21 bulan ke tujuh, mereka semangat, mau membangun (Hagai 2:1b). Lalu datang lagi firman Tuhan tanggal 24 bulan ke sembilan (Hagai 2:11). Selang waktu berapa lama? Dua bulan. Apakah ada kemajuan? Tuhan harus dorong lagi. Kali ini berbeda dengan sebelumnya, Tuhan menegur mereka. “Andaikata seseorang membawa daging kudus dalam punca bajunya, lalu dengan puncanya itu ia menyentuh roti atau sesuatu masakan atau anggur atau minyak atau sesuatu yang dapat dimakan, menjadi kuduskah yang disentuh itu? Lalu para imam itu menjawab, tidak! Jika seseorang yang najis oleh mayat menyentuh semuanya ini, menjadi najiskah yang disentuh itu? Lalu para imam itu menjawab, tentu! Begitu juga dengan umat ini dan dengan bangsa ini di hadapanKu, demikianlah firman TUHAN, dan dengan segala yang dibuat tangan mereka, dan yang dipersembahkan mereka di sana adalah najis” (Hagai 2:13-15). Umat ini datang beribadah dan memberi persembahan, tetapi mereka memberi persembahan kurang daripada yang sepatutnya. Mungkin imam-imam berkata, memang hidup mereka susah dan berat. Ya sudah, tidak apa-apa kalau mereka datang berbakti sambil membawa domba yang kurus dan sedikit cacat, daripada tidak membawa apa-apa sama sekali. Toh yang penting mereka masih mau datang berbakti. Itu kira-kira situasinya. Mungkin orang Israel itu datang berbakti, seharusnya membawa sejumlah tertentu sebagai offering mereka kepada Tuhan. Tetapi mereka sembunyi-sembunyi mengurangi dan menyimpannya untuk diri sendiri. Ya sudahlah, imam-imam sedikit tutup mata, tidak apa. Toh yang penting mereka masih datang dan masih mau memberi, biarpun sedikit. Tetapi nabi Hagai menegur mereka. Artinya, kalau mereka datang membawa persembahan binatang korban yang tidak sesuai seperti itu apakah akan merusak seluruh ibadah mereka? Ya. Itulah yang dilakukan oleh umat ini. Allah menegur mereka karena mereka datang menyembah Allah tidak dengan sepenuh hati. Mereka tidak dengan totalitas dan kesungguhan.

Mungkin segala kesulitan, kekurangan dan kemiskinan bisa menjadi excuses mereka tidak bisa memberi banyak kepada Tuhan pada waktu itu. Mereka menanam gandum seharusnya panen 10 ton, tetapi mereka hanya membawa pulang 5 ton. Mereka memeras anggur, seharusnya mendapat 10,000 liter, tetapi mereka hanya mendapat 5,000 liter. Karena hasil panen dan pendapatan hanya sebegini, maka mereka hanya memberi sedikit kepada Tuhan dan mengantongi bagi kebutuhan mereka sendiri (Hagai 2:17-18). Kira-kira itu gambaran situasinya. Itulah sikap mereka yang half-hearted kepada Tuhan. Dan apa yang mereka kerjakan dan lakukan dari sikap hati seperti itu akhirnya membuat seluruh ibadah menjadi satu ibadah yang tidak berkenan kepada Allah. Sehingga apa saja yang disentuh oleh mereka itu menjadi najis adanya. Teguran ini diberikan supaya mereka umat Tuhan yang otentik dan sungguh-sungguh punya committed heart. Pada waktu mereka datang memberi persembahan kepada Tuhan, Tuhan mau mereka beribadah dan memberi dengan full-hearted kepada Tuhan, dengan sepenuh hati menyembah dan memuliakan Tuhan.

Tetapi pada saat yang sama, bagian ini sekaligus juga mengingatkan kepada kita, kita tidak bisa datang dengan kekuatan dan kemampuan diri kita sendiri untuk memperkenankan hati Tuhan karena semuanya itu telah dicemari oleh dosa dan kekurangan kita.  Korban yang dipersembahkan ke Bait Allah sebenarnya tidak sanggup untuk menghapus dosa mereka. Itu sebab mereka harus berulang-ulang kali mempersembahkan korban setiap tahun (baca: Ibrani 10:1-180. Hanya ada Satu Korban yang akhirnya bisa menyempurnakan itu semua, dan itu adalah korban Yesus Kristus di atas kayu salib. Jadi pada satu sisi sekaligus mengingatkan mereka, apa yang mereka kerjakan membangun Bait Allah ini tidak akan menjadi sesuatu yang penuh dan fulfilment. Tetapi kelak akan ada nanti Bait Allah dan akan ada korban yang indah, yang paling sempurna dan lengkap yang akan membuat seluruh kenajisan kita tidak akan ada lagi di atas mezbah ini karena korban Yesus Kristus suci itu sebagai penggantinya.

Maka ketika bangsa Israel datang di dalam kelemahan dan kekurangan itu, Tuhan mengingatkan mereka jangan membawa hati yang half-hearted. Catat dari hari ini, kata Tuhan, jika engkau mengasihi Allah dengan segenap hati, beribadah dan melayaniNya, Allah akan memberkati mereka (Hagai 2:20). Dan bukan berkat-berkat materi saja, Tuhan memberikan berkat yang berkaitan dengan sesuatu yang indah luar biasa. Firman Tuhan berkata, “Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan mengambil engkau, hai Zerubabel bin Sealtiel, hambaKu, demikianlah firman TUHAN dan akan menjadikan engkau seperti cincin materai sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hagai 2:24). Janji ini diberikan Tuhan kepada Zerubabel sebagai satu nubuat mesianik 520 tahun sebelum terjadi penggenapannya, yaitu sebelum Yesus Kristus lahir. Allah berjanji bahwa Mesias akan datang bukan saja dari keturunan Daud, dari benih Isai, tetapi Mesias akan muncul dari keturunan Zerubabel. Zerubabel memang dipakai Tuhan menggerakkan pembangunan Bait Allah, tetapi Bait Allah yang sejati, yang olehNya bangsa Israel tidak akan najis lagi, yang kepadaNya kemuliaan Allah akan lebih agung dan lebih mulia tiba yaitu di dalam diri keturunan dari Zerubabel. Hagai menyatakan bahwa Allah akan menjadikan Zerubabel seperti cincin materai dan kerajaannya dan apa yang dia kerjakan tidak akan berlalu selama-lamanya. Kalimat ini bicara kepada satu figur yang akan lahir dari keturunan Zerubabel, yaitu Yesus Kristus. Dalam silsilah yang dicatat oleh Injil Matius jelas penggenapan janji ini, “Sesudah pembuangan di Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel; Selatiel memperanakkan Zerubabel. Zerubabel memperanakkan Abihud; Abihud memperanakkan Elyakim; Elyakim pemperanakkan Azor; Azor memperanakkan Zadok; Zadok memperanakkan Akhim; Akhim memperanakkan Elihud; Elihud memperanakkan Eleazar; Eleazar memperanakkan Matan; Matan memperanakkan Yakub; Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Matius 1:12-15). Luar biasa!

Kiranya bagian yang kita renungkan dari kitab Hagai ini makin memperteguh iman dan kepercayaan kita kepada Allah. Walaupun di dalam perjalanan dan tantangan hidup yang kita alami, kita mungkin mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami oleh umat Tuhan pada era Hagai. Apa yang kita kerjakan dan lakukan di dalam hidup kita tidak boleh berhenti hanya sampai kepada kita. Kita harus memikirkan semua yang kita lihat dan kerjakan kepada pekerjaan Tuhan terus ke depan. Kekristenan sedang menghadapi tantangan yang besar luar biasa. Bukan saja tantangan bagi kita, tetapi tantangan bagi anak-cucu kita. Itu tantangan bagi generasi selanjutnya. Tantangan akan datang silih berganti, tetapi jika kita menurunkan komitmen dan hati kita sudah tidak full-hearted cinta Tuhan, jika Allah tidak lagi menjadi fokus dan sentral di dalam hidup umat Tuhan, itu yang akan melemahkan dan menghancurkan kita.

Wahyu 21 memperlihatkan satu hari kelak seluruh kekayaan dan kemuliaan bangsa-bangsa dan kerajaan akan dibawa ke hadapan tahta hadirat Kristus. Kristus sudah menjadi Raja dan Imam Besar dan kepadaNya kita melayani hari ini. Kita sudah melihat semua bukti penggenapan nubuat Allah yang luar biasa, kita percaya Allah yang hidup seperti itu. Masakan kita tidak percaya lagi nubuat di dalam Tuhan Yesus Kristus yang akan datang bagi kita? Masakan kita tidak yakin kepada pekerjaan Tuhan yang walaupun di dalam tantangan kesulitan besar, the best is yet to come? Masakan kita tidak bisa menyaksikan itu di dalam hidup pelayanan kita semua? Kita harus mempunyai sikap hati dan respon seperti itu.

Saya tidak tahu apa yang Tuhan akan kerjakan, saya tidak tahu bagaimana Tuhan akan bekerja, saya tidak tahu kapan Tuhan akan bekerja. Tetapi apa, kapan dan bagaimana Tuhan bekerja, itu hak dan urusan Tuhan. Tetapi hari ini, melalui firman Tuhan ini, Tuhan hanya bilang apa dan bagaimana kita bersikap dan berespon kepada Tuhan, itu adalah tanggung jawab dan kewajiban kita di hadapan Tuhan. Dia panggil kita berespon dengan menjadikan Dia menjadi pusat di dalam hidupmu. Full-hearted ikut Dia. Jangan taruh reserve seolah-olah Tuhan itu tidak bisa dipercaya 100% dalam hidup kita. Believe in Him! Jangan takut, jangan menangis dan kecewa, jangan sedih melihat apa yang sudah lewat di dalam hidupmu. Tetapi selalu lihat apa yang indah yang Tuhan beri kepadamu di masa yang akan datang. Berani untuk trust kepada Allah, berani untuk hidup sepenuhnya bagi Tuhan, berani berjalan dengan iman. Syukuri apa yang kita terima, jangan tangisi apa yang kita tidak punya. Di situ kita berespon dengan benar kepada Tuhan.

Bersyukur untuk firman Tuhan yang kita terima dengan indah pada hari ini, firman yang menguatkan, menghibur dan memelihara iman setiap kita. ALlah berjanji dan Allah menggenapkan semua janjiNya dengan lengkap dan sempurna sampai hari ini. Apa yang Yesus Kristus telah kerjakan lengkap dan sempurna adanya dan kita percaya apa yang Allah janjikan untuk masa yang akan datang pasti juga akan menjadi fakta dan kenyataan yang akan kita terima. Satu kali kelak kita akan bersama-sama dengan Tuhan menikmati segala kepenuhan janji Tuhan bagi semua orang yang mengasihiNya.(kz)