Slow Down and Live with Integrity

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Slow Down and Live with Integrity
Nats: Yohanes 12:1-8

Apa tolok ukur dari suatu kehidupan yang sukses? Pada waktu kita mengatakan orang itu sudah sukses dalam hidupnya, apa yang kita pakai dan jadikan sebagai ukuran bagi kesuksesan hidup orang itu? Jikalau itu di dalam konteks bisnis, tentu tolok ukurnya adalah berapa banyak asset yang dia miliki, berapa besar perusahaannya, berapa besar profit keuntungan yang diperolehnya, dsb. Itulah yang dunia jadikan sebagai tolok ukur arti dari sebuah kesuksesan. Apa tolok ukur dari suatu pelayanan yang sukses? Pada waktu kita mengatakan seorang hamba Tuhan itu sukses dalam pelayanannya, apa yang menjadi tolok ukurnya? Pada waktu kita mengatakan gereja itu adalah sebuah gereja yang sukses, apa yang menjadi tolok ukurnya? Apakah kita juga memakai tolok ukur yang sama, melihat berapa banyak jumlah jemaat yang hadir, berapa banyak asset, resources dan uang yang ada di dalam pelayanan itu, berapa banyak program aktifitas, berapa banyak jumlah cabang yang dimiliki gereja itu? Itukah standar sebuah kesuksesan dalam pelayanan? Jikalau itu yang menjadi ukuran sebuah kesuksesan dalam pelayanan, berarti kita sudah terjebak dalam konsep materialistik dan kita sudak terjebak dalam konsep dunia ini yang melihat bahwa kesuksesan itu ditandai oleh ukuran seperti itu. Tidak heran, banyak pelayanan yang bertolok ukur seperti ini akhirnya melulu berputar-putar dengan fokus dan target seperti itu. Kita menilai kinerja orang dan merekrut orang berdasarkan bagaimana performance orang itu, dan memakai cara itu sebagai nilai dan tolok ukur dari dunia dimana kita hidup di dalamnya. Kita memakai hal yang sama saat kita mencari hamba Tuhan dan pekerja bagi pekerjaan di ladang Tuhan. Kita ingin memakai lulusan sekolah teologi yang terbaik, yang punya performance dan berbagai skill yang terbaik. Kita berani membayar mahal untuk mendapatkan orang-orang yang terbaik dengan harapan orang-orang itu bisa menghasilkan yang paling optimal dalam pelayanannya. Kita mengerjakan segala sesuatu seperti orang-orang lain atau gereja lain mengerjakan segala sesuatu, lalu ingin dapat hasil sebanyak-banyaknya, kalau bisa dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan keuangan yang efisien, dan dengan cara yang efektif. Karena caranya efektif, waktunya efisien, dan dengan target mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya, hidup kita hari lepas hari akan dipenuhi dengan sikap kita lari untuk mengejar target dan kita merasa tidak ada cukup waktu di dalam hidup ini. Semua itu kita kerjakan dan kita lakukan karena kita ingin mendapatkan image kita sudah meraih sebuah kesuksesan adanya. Dengan cara dan pikiran yang seperti ini akhirnya seringkali kita menemukan kesulitan mengaitkan konsep itu dengan apa yang namanya pelayanan dan ministry. Sehingga pada waktu sdr mendengarkan khotbah mengenai pelayanan, bagaimana kita belajar berkorban dalam pelayanan, bagaimana menjadi orang Kristen yang setia, jujur, bersih dan tulus, itu semua tidak bisa masuk di dalam konsep hidup kita sehari-hari dan dalam pekerjaan. Kita kuatir akan dilindas orang kalau kita menggunakan prinsip-prinsip seperti itu dan memakai waktu kita untuk mendahului kepentingan orang itu ketimbang kita bicara soal kesuksesan.

Kalau kita diberi kesempatan oleh Tuhan bisa hidup sepuluh dua puluh tahun lagi, apa yang akan kita kerjakan dan kita lakukan? Apakah kita berpikir untuk memakai waktu yang kita miliki dengan konsep sukses ini melakukan semua yang terbaik, mendapatkan sebanyak mungkin uang dan harta dan kesenangan, dan orang bisa melihat hidup kita berhasil adanya? Namun sekarang saya ingin menanyakan satu pertanyaan yang lebih penting: kalau kita tahu hidup kita hanya tinggal beberapa hari lagi dan kita akan meninggal dunia, apa yang akan kita lakukan dalam beberapa hari yang tersisa ini? Apa yang kita akan lakukan untuk hal-hal yang kita anggap paling penting dan paling bernilai? Kalau orang itu menganggap makan minum adalah hal yang paling penting, maka dia akan memilih makanan yang paling istimewa, makanan favoritnya, atau mungkinĀ  makanan yang belum sempat dia makan selama hidupnya karena terlalu mahal dan mewah. Kalau orang itu menganggap travelling adalah hal yang paling penting maka dia akan segera memakai seluruh waktu yang ada untuk pergi jalan-jalan. Kalau orang itu menganggap pakaian dan perhiasan mewah yang terpenting, maka dia akan menghamburkan uangnya membeli semua itu. Atau kalau pertanyaan ini ditanyakan kepada seorang pendeta, dia mungkin akan mengatakan akan pergi ke ladang misi dan bekerja sekuat tenaga menjangkau sebanyak-banyaknya jiwa untuk Tuhan. Kalau orang itu adalah seorang pengkhotbah yang menganggap khotbah kepada ribuan dan jutaan orang adalah yang paling penting, maka dia akan memakai waktu yang tersisa untuk berkhotbah kepada sebanyak mungkin orang, bahkan dia rela mati di atas mimbar. Kita seringkali terjatuh kepada konsep performance dan dengan konsep sukses seperti itu, bukan? Setiap kita yang melayani Tuhan seringkali kita juga menilai pelayanan kita berhasil atau tidak berdasarkan konsep performance dan aktifitas yang kita kerjakan dan lakukan; berapa banyak jumlah jemaat yang dimiliki sebuah gereja menjadi ukuran bukti sebuah gereja itu sukses, berapa banyak budgeting dan keuangan yang diputarkan dari income yang diterimanya dalam pelayanan, lalu kita menilai pelayanan itu sebagai satu pelayanan yang sukses. Berapa banyak aktifitas khotbah yang bisa dikerjakan dan dilakukan oleh hamba Tuhan dan tidak ada henti-hentinya dan habis-habisnya KKR, seminar, conference, Bible camp, berbagai kelas pembinaan dan training yang dilakukan, lalu kita pikir dia adalah seorang hamba Tuhan yang sukses adanya. Ketika kita juga menilai dan mengukur berapa banyak “likes” acungan jempol yang kita dapat setiap kali kita posting di facebook, berapa banyak “viewers” yang menonton youtube kita dan berapa banyak “followers” di instagram kita. Kita senang dan bangga dan kita berpikir kita sudah memberikan influence yang besar dalam pelayanan dan itulah satu kesuksesan.

Apa yang engkau anggap hal-hal yang paling penting dan paling berharga dalam hidupmu? Apa yang engkau lakukan terhadap semua hal itu sebelum engkau meninggalkan dunia ini? Menarik sekali, Alkitab mencatat pada hari-hari terakhir sebelum Yesus mati di kayu salib, setiap malam Dia memakai waktu yang ada untuk fellowship, makan bersama dengan murid-murid dan orang-orang yang dekat denganNya, teman, sahabat dan rekanNya. Yesus tidak pergi ke Bait Allah untuk berkhotbah dan berbicara kepada sebanyak mungkin orang lalu mempertunjukkan mujizat-mujizatNya supaya membuat sebanyak mungkin orang bisa percaya dan menjadi pengikutNya. Yesus tidak melakukan hal-hal seperti itu. Sepanjang seminggu terakhir yang Ia lakukan adalah memakai waktu yang ada untuk bersama murid-murid yang dikasihiNya, memberikan pesan, memberikan penghiburan dan kekuatan kepada mereka, mempersiapkan mereka untuk menjalani hidup setelah Yesus tidak ada lagi bersama mereka. Yesus menjanjikan Roh Kudus untuk mendampingi mereka, Yesus berdoa bagi mereka [lihat Yohanes 13-17]. Yesus memakai waktu untuk fellowship bersama mereka.

Dalam Yohanes 12:18 Yohanes mencatat satu peristiwa dimana hanya tinggal enam hari lagi sebelum Yesus disalib, Yesus makan malam bersama murid-muridNya di rumah Lazarus, dengan Marta dan Maria saudarinya. Marta melayani dan menyiapkan makan untuk Yesus, sementara Lazarus mendampingi Yesus makan bersamaNya. Ingatkan peristiwa yang serupa dimana Yesus juga pernah dijamu di rumah mereka (Lukas 10:38-42), Marta marah kepada Yesus dan menegur, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?” Di situ Yesus berkata, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang engkau perlu.” Engkau menyibukkan dirimu dengan begitu banyak aktifitas pekerjaanmu seolah-olah bagi Tuhan, tetapi hanya satu hal yang engkau perlukan, duduk dan penuhi hatimu, penuhi jiwamu dengan fellowship bersama dengan Tuhan.

Maria lalu mengambil minyak narwastu dan meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang mahal itu. Bau harum minyak itu semerbak memenuhi ruangan itu. Melihat tindakan Maria dan mencium bau harum minyak itu, mendidih hati Yudas Iskariot, dengan gusar dia berkata, “Untuk apa pemborosan ini? What a waste! Bukankah minyak ini bisa dijual 300 dinar dan uangnya bisa dipakai untuk memberi makan orang miskin? What a waste!

Pada malam hari itu Yesus duduk makan bersama dengan murid-muridNya karena malam hari itu Yesus mengajarkan satu model yang penting apa artinya bahwa hidup kita ditopang oleh fellowship dengan Allah menjadi kekuatan yang penting pada waktu kita akan menghadapi segala rongrongan yang begitu besar dari kegiatan yang tidak ada habis-habisnya. Itulah yang Yesus bilang kepada Yudas Iskariot, “Orang miskin akan selalu ada padamu,” artinya pelayanan itu tidak akan ada habis-habisnya, orang miskin dan orang susah akan selalu ada di sekitarmu. Tidak akan henti-hentinya orang membutuhkan perhatian dan pertolongan dan pelayananmu. Tidak akan ada habis-habisnya wilayah yang belum engkau jangkau bagi pelayanan misi dan penginjilan. Tidak akan ada habis-habisnya semua yang bisa dan akan dikerjakan bagi kerajaan Allah. Tetapi engkau akan kehabisan energi untuk mengerjakan semua itu kalau energi itu tidak lahir dari fellowship yang erat dan dekat dengan Tuhan.

Bernard of Clairvaux (1090-1153), seorang biarawan Katolik abad pertengahan pernah memberikan satu pesan yang sangat penting bagi seorang anak rohaninya Eugene III yang diangkat menjadi paus. Ia sangat mengerti dan mengetahui betapa pentingnya fellowship dengan Allah dalam hidup ini. Bernard of Clairvoux mengatakan, lepaskanlah dirimu dari tuntutan pekerjaan. Jika tidak, engkau akan membuat sebuah hati yang keras. Aktifitas pekerjaan dan pelayanan yang sibuk secara eksternal justru akan menciptakan sebuah hati yang keras jikalau orang itu tidak memelihara interior hatinya, fellowship-nya dengan Tuhan. Pekerjaan kita sehari-hari, pelayanan kita bagi Tuhan, seluruh hidup kita hanya bisa kuat kita jalani jika kita senantiasa ditopang oleh Tuhan. Pelayanan bagi Tuhan hanya bisa ditopang dengan kuat oleh hidup kita bersama dengan Tuhan. Jika tidak, maka pelayanan kita bagi Tuhan akan melakukan kekerasan bagi jiwa kita. It will bring violence for your soul. Beberapa ciri yang muncul dalam diri Marta melayani membuat Marta menjadi marah kepada Yesus. Yudas Iskariot menjadi marah dengan teguran dari Tuhan Yesus dan akhirnya sejak malam itu dia membulatkan hati untuk menjual Yesus kepada pemimpin-pemimpin agama orang Yahudi (Markus 14:10-11). Pelayanan Petrus yang merasa sudah beri semua kepada Tuhan, akhirnya menciptakan kekecewaan pada diri Petrus sehingga dia bertanya kepada Yesus, “Guru, kami sudah melepaskan segala sesuatu untuk mengikut Engkau. Apa yang kami dapat sebagai balasannya?” (Matius 19:27). Puji Tuhan, Petrus sadar bahwa Tuhan tidak melupakan semua sacrifice yang telah dilakukannya. Petrus tidak menjadi kecewa dan pahit dan tidak seperti Yudas Iskariot yang mencuri uang dari kas uang dipercayakan kepadanya. Ministry telah menjadi violence bagi jiwa mereka. Kita tidak boleh mengabaikan prinsip ini. Berapa banyak orang yang melayani di gereja melupakan anak isterinya di rumah, karena kita telah terjebak jatuh kepada aktifitas semata-mata? Berapa banyak rapat yang harus dihadiri, berapa banyak hal yang harus dikerjakan, berapa banyak aktifitas-aktifitas yang kita katakan sebagai pelayanan rohani, kita adakan persekutuan doa tiga kali seminggu, kita adakan pembesukan, kita adakan ini dan itu, tetapi semua jatuh kepada work for God tetapi semua itu tidak men-sustain our life with God. Mari kita melayani di gereja bukan semata-mata demi gereja, bukan semata-mata demi pendeta atau pemimpin siapa pun, bukan karena kita sudah punya gedung gereja lalu kita melayani, dsb. Mari kita melayani karena kita mencintai dan mengasihi Tuhan; kita mencintai dan mengasihi Yesus. Kita memiliki satu fellowship dan persekutuan yang indah bagi hidup kita dengan Dia. Saya merindukan pada waktu kita duduk bersama melayani Tuhan, yang kita tekankan dan kita pentingkan adalah apakah kita satu dengan yang lain bertumbuh dan memiliki fellowship bersama dengan Tuhan karena itulah yang menopang hidup pelayanan kita. Itulah yang membuat kita bisa menopang satu dengan yang lain. Itulah yang menyebabkan kita tidak akan pernah menjadi kecewa, merasa kita sudah memberi banyak tetapi tidak mendapat pujian dan penghargaan yang sepadan, dan Tuhan tidak memberi kepada kita apa-apa. Semua itu akan menjadi hilang dan tersingkir pada waktu kita memiliki persekutuan dan fellowship yang dalam dengan Tuhan.

Malam hari itu Yesus mengajar dan mendidik murid-muridNya dengan sikap seperti itu. Pada waktu Yesus makan malam bersama murid-muridNya, Yesus melakukan fellowship dengan murid-muridNya, Yesus melakukan penyucian kaki bagi murid-muridNya, Yesus melayani mereka, Yesus mengasihi mereka, dan Yesus mengasihi mereka apa adanya sampai kepada kesudahannya. Itu yang membuat murid-murid kemudian mengetahui tidak ada yang membuat Dia berpaling walaupun mereka pernah menyangkal Yesus, kabur dan takut tetapi ketika mereka kembali mereka tahu kasih Tuhan tidak pernah berubah kepada mereka. Hari ini pada waktu kita melayani Tuhan, bukan karena kita mampu kita bisa, bukan karena kita memiliki apa-apa sehingga Tuhan memakai kita, tetapi terlebih dahulu karena Tuhan telah melayani kita. Jabatan itu datang dan pergi, tugas jabatan itu datang dan pergi, dan kita bukan mencari dan merebut tugas jabatan itu sebagai sesuatu yang ultimate di dalam hidup kita dan telah menjadi seorang yang melayani Tuhan dalam sebuah jabatan, itu bukan menjadi satu tolok ukur kesuksesan pelayanan kita dan beresnya spiritualitas kita. Siapa pun dan bagaimana pun pelayanannya, apa pun yang kita kerjakan, Tuhan mencintai dan mengasihi kita sebagaimana adanya kita. Dan Tuhan mau kita memahami dengan indah pada waktu kita ambil waktu teduh dan fellowship bersama Dia. Slow down bukan berarti kita berlambat-lambat. Slow down bukan berarti kita tidak mengerjakan apa-apa. Slow down berarti Tuhan meminta setiap kita memelihara hati kita bersama Tuhan karena kekuatan itu datangnya dari persekutuan kita bersama dengan Tuhan. Ambil waktu dan ambil kesempatan dengan intentional, dengan sengaja kita pakai waktu itu untuk berdoa dengan isteri dan anak-anakmu, dengan rekan-rekan satu dengan yang lain. Kita sustain hidup kita dengan melihat bagaimana Tuhan telah memberikan anugerah ke dalam hati kita. Jikalau suami sudah hectic dan gelisah dan susah di dalam pekerjaannya dan dia berkata tidak ada waktu, saya mesti pergi pagi-pagi lalu cepat-cepat pergi ke kantor, malam harinya biar isteri mengingatkan dia, slow down, let us take time to come and worship and pray to God. Jangan terbalik, karena susah dan setengah mati dan harus bangun pagi-pagi engkau lupa untuk berdoa bersama-sama.

Saya harap setiap kita yang melayani Tuhan, pelayanan itu tidak pernah do violence to our soul and never do violence kepada keluarga kita dan gereja kita. Hamba-hamba Tuhan yang melayani dengan segala kesibukan, jangan abaikan kerohanian anak-anakmu, jangan sampai justru mereka menjadi benci akan pelayanan karena melihat pelayanan papanya itu telah do violence to your soul. Anak-anak majelis, anak-anak pengurus dan aktifis, jangan gara-gara melihat pelayanan dari orang tua dan pelayanan gereja akhirnya anak-anak kita menjadi tidak suka kepada pelayanan. Di situ pelayanan telah menciptakan kekerasan dalam hati kita. Malam hari ketika orang melayani Tuhan, kita bisa marah seperti Yudas Iskariot; malam hari ketika kita melihat orang lain berkorban bagi Tuhan, kita bisa benci dan kesal melihat orang itu; itulah tandanya your ministry telah bring violence to your soul. Karena apa? Karena kita tidak mau slow down dan memelihara fellowship kita dengan Yesus, duduk di kakiNya, mendengarkan firmanNya, merenungkan perkataanNya dan memberikan Yesus menyeka kaki kita dan melayani kita, membasuh hati kita, memberikan kasihNya yang tak terbatas itu. Yesus sudah memberikan contoh itu dan saya juga percaya Yesus telah memberi kita panggilan dan keinginan untuk setiap hari kita duduk di kakiNya, mendengarkan suara firmanNya, memiliki fellowship yang terbuka dan akrab dengan Tuhan. Kiranya Tuhan boleh memberkati dan memimpin setiap kita sama-sama agar kita boleh menjadi satu gereja yang boleh saling melayani karena Kristus sudah melayani kita sama-sama. Biar kita senantiasa ingat, Tuhan Yesus sudah mengasihi kita dengan konkrit dan nyata melalui tubuhNya dipecahkan dan darahNya dicurahkan bagi penebusan dan pengampunan dosa kita.

Kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, kita boleh datang kepadaNya dan sekali lagi boleh dikenyangkan oleh kasih Tuhan yang besar dan dalam itu. Ketika kita bisa duduk di kaki Tuhan, di situ kita disadarkan betapa terbatasnya diri kita ini. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatu dan kita tidak sanggup mengerjakan semuanya [dengan kekuatan dan kemampuan diri kita sendiri]. Kita belajar menerima keterbatasan itu dan mengingat hanya Tuhan yang sanggup. Itulah sebabnya kita mengucap syukur. Tidak semua hal bisa kita genggam dan raih dan pegang erat-erat di dalam tangan kita yang terbatas ini. Kita melayani karena Tuhan memberi kita anugerah, kesempatan dan pelayanan, seberapa besarnya, seberapa kecilnya. Itu bukan karena kehebatan dan performance yang kita perlu buktikan untuk dilihat orang. Itulah sebabnya kita melayani dengan sukacita dan hati yang puas, karena kita tahu Allah kita Allah yang berdaulat. Kalau Allah yang memberi, tidak ada orang yang bisa mengambilnya, tetapi jikalau Allah tidak memberi, tidak ada satu orang pun yang bisa paksa dan merebutnya. Di situlah kita menjadi teduh di hadapan Allah. Kita tidak sanggup bisa merubah gereja kita, kita tidak sanggup merubah anak-anak kita, kita tidak sanggup merubah orang lain, tetapi kita percaya Tuhan sanggup merubah diri kita. Itulah sebabnya kita senantiasa datang kepada Tuhan, dan setiap kali kita datang bersama-sama kepada Tuhan, perubahan itu terjadi karena kasih Tuhan memenuhi setiap kita. Fellowship itu menjadi indah karena kita sama-sama dipenuhi oleh hati, pikiran dan kasih Kristus yang sama.(kz)