Meekness: Humility in Action

Pengkhotbah: Ev. Fandy Tanudjaja MTh.
Tema: Meekness: Humility in Action
Nats: Yakobus 1:18-21

“Atas kehendakNya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaanNya. Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu” (Yakobus 1:18-21).

Surat Yakobus ditulis oleh Yakobus yang adalah saudara dari Yesus Kristus, yang memimpin jemaat di Yerusalem kepada orang-orang Kristen yang tersebar di luar Yerusalem, khususnya sebagian besar dari mereka adalah orang-orang Yahudi. Seperti yang kita ketahui ketika itu terjadi penganiayaan besar terhadap orang Kristen sehingga mereka harus keluar dari Yerusalem dan tersebar di berbagai tempat. Dan di tengah-tengah kondisi seperti itu mereka mengalami banyak pencobaan, ujian, dan masalah karena iman mereka. Dan dalam surat ini Yakobus memberikan nasehat kepada orang-orang ini, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yakobus 1:2-5). Dalam hidup kita ketika kita menghadapi pergumulan, menghadapi ujian, dan pencobaan hidup, seringkali kita tidak minta hikmat dari Tuhan, bukan? Seringkali kita menggunakan hikmat kita sendiri dan kita tidak datang kepada Tuhan minta hikmat kepada Tuhan. Tetapi respon kita ketika menghadapi masalah pergumulan seringkali justru marah. Kita marah kepada situasi, marah kepada orang lain, marah kepada diri sendiri, marah kepada Tuhan. Tetapi bukan itu yang Tuhan mau. Ketika kita menghadapi berbagai ujian, maka ujian itu berpotensi untuk menjadi pencobaan ketika kita salah berespon di hadapan Tuhan.

Dalam Keluaran 15, ketika bangsa Israel dikeluarkan dari Mesir menuju ke tanah Perjanjian, mereka bisa menyeberangi laut Teberau, satu mujizat Tuhan yang luar biasa. Tetapi setelah itu kemudian hanya berselang tiga hari, di padang gurun Syur mereka tidak menemukan air, apa yang mereka lakukan? Mereka kemudian tidak tahan dan kemudian mereka bersungut-sungut kepada Musa dan dengan kata lain, mereka bersungut-sungut kepada Tuhan. Begitu mudah mereka lupa ketika mereka melihat air di Mara yang pahit tidak bisa diminum, mereka tidak berespon dengan tepat di hadapan Tuhan. Mereka bersungut-sungut kepada Musa, mereka bersungut-sungut kepada Tuhan karena air yang pahit. Seharusnya kalau mereka berespon dengan tepat di hadapan Tuhan, maka ujian itu akan memurnikan iman mereka. Ujian itu akan membuat mereka makin bersandar kepada Tuhan, makin bergantung kepada Tuhan, makin mengandalkan Tuhan. Tetapi mereka tidak berespon dengan tepat, sehingga ujian yang harusnya bisa memurnikan iman mereka malah menjadi pencobaan yang justru menjatuhkan iman mereka. Dan sungut-sungut itu tidak berhenti sampai di situ. Ketika kemudian mereka berpindah tempat lagi, mereka bersungut-sungut lagi, dan makin lama sungut-sungut mereka semakin intense. Dari sungut-sungut biasa lalu berubah menjadi open rebellion. Kalau dilihat dari open rebellion kepada Musa, itu sama artinya mereka memberontak kepada Allah sendiri. Jangan biarkan sungut-sungut kecil itu akhirnya menjadi satu open rebellion kepada Tuhan. Kalau kita salah berespon kepada Tuhan, kalau kita menghadapi masalah di dalam hidup ini, pergumulan, ujian, hati-hati, karena kalau kita tidak berespon dengan tepat, kita mulai dengan sungut-sungut kecil, sungut-sungut kecil, tetapi sungut-sungut kecil itu pelan-pelan, dari Keluaran pasal 15, 16, 17, akhirnya sungut-sungut mereka berubah menjadi open rebellion. Mereka memberontak kepada Tuhan, dan kita tahu akhirnya apa yang terjadi dengan bangsa Israel.

Di sini Yakobus juga berbicara mengenai kemarahan, respon marah. Kalau kita membayangkan orang-orang penerima surat Yakobus ini, mereka menderita, mereka dianiaya, sangat mudah bagi mereka untuk berespon marah kepada Tuhan dan kepada situasi, bukan? Tetapi hati-hati karena kemarahan itu kemudian bisa ditunggangi oleh dosa, kemarahan itu bisa ditunggangi oleh egoisme diri kita secara pribadi, menjadi kemarahan yang excessive, menjadi kemarahan yang berlebihan, dan juga menjadi kemarahan yang unrighteous, yang tidak mendatangkan kebenaran di hadapan Allah. Karena itu Yakobus mengatakan, “amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Ini kemarahan yang unrighteous. Ini kemarahan yang tidak benar. Ini kemarahan yang juga excessive, berlebihan, ketika kita meresponi satu situasi yang terjadi di dalam hidup kita.

Ada tiga kondisi yang membuat kita bisa marah ketika kita ditegur. Pertama, ketika kita ditegur oleh karena kesalahan kita. Ini adalah hal yang paling lazim. Kita salah, kita ditegur, tetapi kita marah, bahkan marahnya lebih hebat daripada yang menegur. Yang kedua, kita ditegur padahal kita tidak salah. Dan itu akan menghasilkan reaksi yang lebih hebat lagi, bukan? Kita lebih marah lagi karena dituduh seperti itu. Yang ketiga, ketika kita melihat kesalahan orang lain, itu membuat kita marah, kita geregetan, kenapa kamu bisa berbuat kesalahan seperti itu, dan kenapa kamu terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama? Memang kemarahan itu bisa menjadi kemarahan yang benar, righteous anger. Tetapi seringkali yang bahaya adalah kemarahan kita satu sama lain itu bisa menjadi kemarahan yang unrighteous, kemarahan yang sebetulnya keluar dari ego kita. Bukan kemarahan yang righteous, bukan kemarahan yang benar di hadapan Tuhan. Tetapi kita marah yang berlebihan dan itu berakibat fatal baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.

Lalu bagaimana kita mengatasi masalah kemarahan ini? Bagaimana kita mengatasi ketika kita menghadapi ujian, ketika kita menghadapi situasi yang tidak mengenakkan, menghadapi pergumulan, bagaimana supaya kita bisa minta hikmat kepada Tuhan dengan iman supaya kita bisa melalui ujian-ujian itu dan supaya kita kemudian mengalami ketekunan, iman kita dimurnikan. Kalau kita tanya kepada Aristotle, salah satu filsuf Yunani yang paling awal selain Plato dan Socrates, jawabannya apa? Apa yang bisa membuat kita tidak marah secara excessive, tidak marah secara tidak benar? Maka Aristotle mengatakan, “Angry with the right person and to the right degree and at the right time and for the right purpose and in the right way,” ini definisi dari Aristotle. Bagi Aristotle orang yang lemah lembut adalah orang yang bisa mengatur dan mengontrol kemarahannya, marah kepada orang yang tepat, dalam situasi yang tepat, untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama, dan dia punya alasan yang tepat untuk marah. Definisi dari Aristotle memang bagus tetapi tidak begitu menolong di dalam kita menjalani hidup sehari-hari, ketika kita sudah kesal, ketika kita sudah marah, ketika kita sudah geregetan, bagaimana kita bisa mengukur ini kemarahan yang pas, tidak berlebihan ke kanan, tidak berlebihan ke kiri. Dalam konteks Greco-Roman jaman dimana Aristotle hidup, meekness atau kelemah-lembutan itu adalah power under control. Punya kuasa tetapi bisa mengontrol kuasa itu. Meekness bukan satu kelemahan, tetapi kita bisa mengontrol kekuatan sehingga kita tidak membabi-buta di dalam respon kita terhadap situasi.

Yakobus setuju dengan itu. Kalau kita baca Yakobus 1:20-21 tadi, “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Ketika seseorang marah dan kemarahan itu sudah menjadi unrighteous dan excessive, maka seringkali kemarahan itu keluarnya dari ego, kemarahan itu keluarnya dari pride, dari kesombongan; dan selain dari pride, kemarahan itu keluar dari impatient, ketidak-sabaran kita. Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali sdr marah dan coba lihat apakah itu berkaitan dengan your pride, your impatience, atau dua-duanya? Apa yang menyebabkan sdr marah? Apakah kemarahan sdr excessive? Anakmu berbuat satu kesalahan, lalu sdr marah secara berlebihan, dan akhirnya menjadi kemarahan yang mendatangkan unrighteous anger. Kita lambat untuk mendengar, kita tidak mau mendengar nasehat, kita tidak mau mendengar masukan dari orang lain. Kalau kita tidak salah lalu kita ditegur, kita cenderung quick to anger, bukan? Saya tidak salah, koq disalahkan, ditegur, dikritik?! Maka respon yang intuitive adalah kita cepat sekali marah. Dan ketika kita melihat kesalahan orang lain, lalu kita tidak tahan melihat kesalahan itu, kita terlalu cepat berkata-kata. Ini tiga-tiganya tidak sesuai dengan firman Tuhan, karena firman Tuhan berkata, “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” Ketika kita ditegur, dan memang kita salah, kita dipanggil untuk cepat untuk mendengar. Yang kedua, ketika kita tidak salah tetapi kita ditegur, maka kita jangan cepat marah. Slow to anger. Dan ketiga, ketika kita melihat orang bersalah, kita ingin cepat-cepat menghakimi. Tahan dulu. Slow to speak.

“Tetapi terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu,” (Yakobus 1:21) di sini menarik karena Yakobus mengaitkan kelemah-lembutan itu dengan firman. Lemah lembut untuk siap mendengar firman. Orang yang quick to speak, cepat berkata-kata, kemudian cepat marah, dan lambat untuk mendengar, tidak punya ruang dalam hatinya, tidak punya kelemah-lembutan untuk mendengar firman. Artinya, setiap minggu kita ke gereja, setiap minggu kita mendengarkan firman Tuhan, mungkin Senin sampai Sabtu kita mendengarkan khotbah dari radio-radio Kristen, mendengarkan siaran khotbah di teve dan di youtube, ikut Bible Study, rajin membaca buku-buku rohani, dsb, tetapi kalau kita tidak punya kelemah-lembutan, percuma. Karena semua firman yang ada di dalam hati kita itu tidak bisa beroperasi karena kita tidak punya meekness. Yang ada ialah begitu kita menghadapi satu situasi yang membuat kita tidak senang, menghadapi pergumulan, maka kita cepat berkata-kata, lambat untuk mendengar, dan cepat untuk marah.

Yakobus 1:18-21 adalah satu bagian yang indah. Ayat 18 dimulai dengan “firman” lalu ayat 19-20 bicara soal kemarahan dan kelemah-lembutan menerima firman, dan bagian ayat 21 juga ditutup dengan “firman.” Dalam istilah teologi ini adalah satu chiasm, dibuka dan ditutup dengan satu tema yaitu firman. Yakobus mengatakan, “Atas kehendakNya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaanNya” (ayat 18). Kita dijadikan atau dilahirkan oleh “the word of truth” firman kebenaran. Kenapa kita ini bisa menjadi orang percaya? Karena kita menerima firman lalu Roh Kudus bekerja melahir-barukan kita. Maka kita adalah “creature of the word,” kita adalah mahluk-mahluk firman. Firman itu adalah bagian dari “who we are,” firman itu adalah bagian dari identitas kita. Orang Kristen adalah pemakan firman, “verbivora,” dari bahasa Latin “verbum,” yang artinya “firman.” Dalam Wahyu 10:10, malaikat menyuruh rasul Yohanes untuk memakan gulungan kitab, atau firman, dan Yohanes mengatakan, “Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya; di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya.”

Eugene Peterson dalam bukunya “Eat this Word,” mengatakan kalau kita sehari-hari tidak bisa hidup tanpa makan, kita harus makan paling sedikit dua kali atau tiga kali sehari, maka di dalam Kristus kita tidak bisa hidup tanpa firman. This is who you are, this is who I am, this is who we are. Kita adalah creature of the Word. Kita adalah pemakan firman. Jika di dalam hidup kita menghadapi persoalan, ketika kita menghadapi situasi, kita tidak pakai firman tetapi kita pakai commonsense kita untuk menyelesaikan persoalan itu; baik itu persoalan suami isteri, persoalan orang tua dengan anak, persoalan sahabat dengan sahabat, persoalan antara pelayan yang satu dengan pelayan yang lain, persoalan di dalam gereja, kalau kita tidak pakai firman, mungkin kita bukan Kristen karena orang Kristen adalah verbivorus, kita adalah the Word-eater, pemakan firman. Sehingga segala keputusan kita, segala pikiran kita, hati kita, tindakan kita, itu harusnya keluar dari firman. Maka ketika kita marah, ketika kita slow to listen, ketika kita quick to speak, terlalu cepat berbicara dan ketika kita quick to anger, terlalu cepat untuk marah, kita tidak punya tempat di dalam hati kita untuk firman itu, tidak punya kelemah-lembutan supaya firman yang kita dengar itu sungguh-sungguh mentransformasi, mengubah hati kita sehingga kita bisa berespon dengan tepat. Lambat untuk marah, lambat untuk bicara, tetapi cepat untuk mendengar. Alangkah indahnya komunitas kita kalau kita cepat untuk saling mendengar, lambat berkata-kata dan lambat untuk marah. Alangkah indahnya komunitas kita kalau dunia boleh melihat ini adalah komunitas yang di dalamnya mereka didefinisikan oleh firman. Mereka adalah komunitas yang mendengarkan firman. Mereka adalah komunitas yang punya kelemah-lembutan untuk menerima firman, firman yang diberitakan dari mimbar, firman yang dibaca, firman yang digumuli bersama-sama. Itu yang kita keluarkan dari mulut kita, bukan? Hari ini apa yang kita percakapkan di dalam komunitas kita? Hari ini apa yang menjadi percakapan kita, yang keluar dari pikiran kita, dari mulut kita, apa yang kita dengar, apa yang kita ucapkan; apakah firman?

Kedua, Yakobus mengaitkan kelemah-lembutan dengan humility. Di dalam Perjanjian Baru khususnya dalam ajaran Paulus, kelemah-lembutan itu tidak pernah ada tanpa humility. Konsep ini berbeda dengan filsafat Greco-Roman pada waktu itu, karena filsuf-filsuf seperti Aristotle tidak pernah bicara soal humility. Plato, Aristotle dan filsuf-filsuf pada waktu itu mengatakan ada empat kebajikan yang paling utama, four cardinal virtues, yang harus ada dalam diri seseorang yaitu courage, prudence, justice, dan temperance. Kalau engkau mau menjadi seorang public official, pejabat, tentara dsb, engkau harus punya empat hal ini. Courage, keberanian. Prudence, bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, kecerdasan untuk membedakan [discernment]. Justice, punya bela-rasa, punya rasa keadilan terhadap orang lain. Dan yang terakhir, engkau harus punya temperance, engkau harus mengekang, harus mengontrol hawa nafsumu. Tetapi Aristotle dan kawan-kawannya tidak pernah bicara soal humility. Sebaliknya ajaran Kristen adalah ajaran yang counter-cultural, berbeda dengan kultur di sekitar mereka pada waktu itu karena Perjanjian Baru, baik Yakobus maupun Paulus dalam teologinya menekankan humility. Tuhan Yesus pernah berkata, “Marilah kepadaKu, hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu karena Aku lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kemenangan” (Matius 11:28-30). Yesus itu lemah lembut dan rendah hati. Ada meekness dan humility di situ. Paulus dalam Efesus 4:2 mengatakan, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.”

A.W. Tozer mengatakan bahwa humility itu pertama-tama adalah a vertical virtue, kebajikan vertikal. Kerendahan hati kita adalah kerendahan hati di hadapan Tuhan. Orang yang rendah hati di hadapan Tuhan tidak mungkin sombong di hadapan sesamanya. Orang yang punya kerendahan hati di hadapan Tuhan akan tahu siapa dirinya; akan tahu dimana tempatnya; akan tahu apa yang menjadi porsinya sebagai ciptaan yang berdosa yang diselamatkan oleh anugerah Tuhan. Orang yang rendah hati di hadapan Tuhan tidak akan congkak, tidak akan sombong, tidak akan arrogant di hadapan orang lain. Humility itu pertama-tama bukan relasi kita dengan orang lain, tetapi humility adalah relasi kita dengan Tuhan. Ketika kita tahu porsi kita, kita tahu siapa kita, citra diri kita di hadapan Tuhan, itu akan menjadi satu kekuatan yang besar. Sehingga seperti jemaat yang dikirimi surat oleh Yakobus ini, ketika kita menghadapi pergumulan, ketika kita menghadapi situasi yang tidak mengenakkan, ketika kita menghadapi ujian-ujian hidup, kita bisa berespon dengan tepat di hadapan Tuhan. Kita punya humility di hadapan Tuhan. Kita bisa bertanya kepada Tuhan, ini mengapa terjadi dan apa yang harus saya lakukan. Kita berdiam di hadapan Tuhan. Maka di situ kita memberikan kepada hati kita satu ruang yang besar, supaya kita cepat untuk mendengar firman Tuhan, lambat untuk berkata-kata, dan bukan seperti bangsa Israel yang terlalu cepat bersungut-sungut, bersungut-sungut, bersungut-sungut, akhirnya menjadi open rebellion. Tetapi kita tenang di hadapan Tuhan dan ketika kita bisa tenang di hadapan Tuhan, maka kita bisa meminta hikmat di dalam iman. Ketika engkau meresponi situasi-situasi hidupmu dengan salah, engkau tidak akan mengalami breakthrough dari Tuhan. Tetapi ketika engkau membuka hatimu, dengan lemah lembut dan rendah hati firman itu kemudian masuk ke dalam hatimu, engkau cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah, breakthrough-nya seperti apa? Kita akan rela menanggung penderitaan, bahkan ketika itu bukan kesalahan kita. Sama seperti Yesus, ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki. Ketika Ia disiksa, Ia juga tidak membalas. Tetapi Ia menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya. Kita akan rela menanggung penderitaan yang tidak harus kita tanggung. Kadang-kadang dalam hidup kita, kita harus menanggung kelemahan orang lain, bukan? Kita bersabar, kita patient, kita tidak mendahulukan ego kita, karena orang lain masih punya pertumbuhannya sendiri. Sama seperti kita punya anak, anak kita belum bisa melakukan apa yang kita inginkan, tetapi kita sabar karena kita punya kelemah-lembutan, kita punya meekness. Dan dalam situasi-situasi tertentu kita kemudian dimampukan oleh Tuhan untuk mengampuni orang lain. Ini juga adalah virtue yang ada di dalam Alkitab. Kita bisa menanggung penderitaan orang lain, kita bisa menderita karena orang lain, kita bisa mengampuni orang yang bersalah kepada kita, dan juga kita bisa membalas kejahatan dengan kebaikan. Ini adalah breakthrough yang Tuhan janjikan kepada kita. Hari ini firman Tuhan mengingatkan, terimalah dengan lemah lembut firman yang telah tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Mari kita belajar cepat untuk mendengar firman, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah, maka janji Tuhan akan tergenapi di dalam hidupmu.(kz)