Mati untuk Menyelamatkan

Pengkhotbah: Ps. Matthew Meek
Tema: Mati untuk Menyelamatkan
Nats: Mazmur 22

Pada tahun 2006 ada seorang Australia bernama Lincoln Hall, dia berhasil mendaki gunung Everest, yaitu gunung yang tertinggi di dunia. Tetapi dia jatuh sakit karena ketinggian tempat tidak ada oksigen. Dia mulai menjadi gila, berhalusinasi melihat hal-hal yang sebetulnya tidak ada, dan dia tidak mau turun gunung bersama-sama dengan anggota team yang lain. Akhirnya pemimpin team memutuskan untuk meninggalkan Lincoln sendirian dan mereka yang lain pulang. Jadi Lincoln dibiarkan mati seorang diri tanpa bantuan teman-temannya. Kita tahu pasti bahwa musuh akan meninggalkan kita mati, tetapi kita tidak menyangka bahwa teman akan meninggalkan kita. Keesokan harinya ada team lain mendaki melewati tempat dimana Lincoln berada dan menemukan dia masih hidup. Pada saat itu team baru ini mempunyai dua pilihan. Yang pertama, mengorbankan kesempatan untuk mencapai puncak Everest untuk menyelamatkan Lincoln; atau meninggalkan dia lagi untuk meneruskan pendakian mencapai puncak. Pemimpin dari team bernama Daniel Mazur mengorbankan hasrat dirinya untuk menyelamatkan Lincoln, dan memang akhirnya Lincoln selamat. Puji Tuhan dia tidak ditinggalkan untuk mati di sana.

Hari ini kita akan melihat dua contoh orang yang ditinggalkan oleh Tuhan.

Yang pertama, Allah meninggalkan Daud, raja pilihanNya.

Kitab Mazmur ditulis kira-kira 3000 tahun yang lalu, dan hampir setengah dari kitab ini ditulis oleh Daud, raja Israel. Ada berbagai macam mazmur, ada yang penuh sukacita bahagia, ada yang bernada sedih. Mazmur 22 adalah mazmur yang ditulis oleh Daud. “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru tetapi Engkau tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam tetapi tidak juga aku tenang” (Mazmur 22:1-3). Di dalam mazmur ini Daud sedang menghadapi masalah dan perlu ditolong. Dia berseru kepada Tuhan. Kata “berseru” di dalam ayat ini adalah kata yang sama dipakai oleh Ayub yang berseru ketika dia menderita. Daud berseru kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak menjawab. Tuhan diam. Daud berkata bahwa Tuhan meninggalkannya sendirian tanpa bantuan apapun. Alkitab tidak memberitahu kita dimana, kapan dan bagaimana hal ini terjadi. Mungkin sdr pernah merasa seperti itu. Misalnya ada kesusahan, ada masalah dan sdr membutuhkan bantuan, dalam pekerjaan atau dalam study, dalam ujian, atau ada masalah keuangan, atau ada hubungan yang pahit atau ada sakit-penyakit. Dan sdr berdoa tetapi sepertinya Tuhan tidak mendengar; sdr berseru tetapi seolah Tuhan tidak peduli, seolah Tuhan tidak ada.

Orang sering berpikir, jika Tuhan itu baik, Dia tidak akan membiarkan penderitaan; dan jika Tuhan itu berkuasa, Dia menghapus penderitaan dari muka bumi ini atau pasti Dia akan menghentikannya. Maka mereka mengatakan penderitaan membuktikan Tuhan itu tidak ada, atau Tuhan itu jahat, Tuhan itu tidak baik atau Tuhan tidak berdaya dan berkuasa. Tetapi ada cara lain untuk memikirkan hal ini. Penderitaan itu ada, jadi jika Tuhan itu baik dan berkuasa, Ia pasti memiliki alasan yang baik dan penuh kasih untuk membiarkan dan mengijinkan orang menderita. Apakah sdr percaya akan hal itu? Daud percaya akan hal itu. Ketika Daud percaya, dia tetap memanggil Tuhan, “Allahku.” Tiga kali Daud menyebut panggilan ini [dua kali di ayat 2, satu kali di ayat 3]. Dia tidak putus asa. Dia tetap percaya.

“Padahal Engkaulah yang kudus, yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. KepadaMu nenek moyang kami percaya. Mereka percaya, karena Engkau meluputkan mereka. KepadaMu mereka berseru-seru dan mereka terluput. KepadaMu mereka percaya dan mereka tidak mendapat malu. Tetapi aku ini ulat dan bukan orang. Cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat aku mengolok-olok aku. Mereka mencibirkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya. Ia menyerah kepada TUHAN. Biarlah Dia yang meluputkannya. Biarlah Dia yang melepaskannya. Bukankah Dia berkenan kepadanya?” (Mazmur 22:4-9). Ketika mengalami kesulitan, Daud melakukan dua hal. Yang pertama, dia mengingat watak, karakter dan sifat Tuhan. Tuhan itu kudus (ayat 4), Daud percaya bahwa Tuhan itu baik, bahwa Tuhan itu setia. Kita tidak selalu mengasihi orang yang baik, tetapi Tuhan selalu mengasihi. Bahkan orang yang terbaik di antara kita bisa melanggar janji, tetapi Tuhan tidak pernah melanggar janji. Ia selalu bisa dipercayai. Dalam Mazmur 22:5-6 ada tiga kali dikatakan orang Israel percaya kepada Tuhan dan tiga kali Daud katakan, Tuhan menyelamatkan mereka. Tuhan berkuasa untuk menolong dan untuk menyelamatkan. Seperti ketika orang Israel berada di dalam perbudakan Mesir, Tuhan menolong mereka. Atau pada waktu mereka diserang oleh musuh dari bangsa-bangsa lain di tanah Perjanjian, Tuhan menyelamatkan mereka.

Hal yang kedua yang dilakukan Daud adalah Daud menyatakan kesulitannya kepada Tuhan. Ia merasa seperti ulat (ayat 7). Ulat adalah salah satu mahluk terkecil yang tak berdaya. Dia juga merasa malu. Mengapa? Karena semua orang menertawakan dia (ayat 8). Orang memperlakukan dia seperti mahluk yang tidak berharga. Tanpa hormat. Mengapa begitu? Karena kepercayaan Daud kepada Tuhan. Apakah hal itu pernah terjadi kepada sdr? Apakah ada orang yang menertawakan sdr dan mencaci-maki sdr karena percaya kepada Tuhan? Apakah itu keluarga, atau teman sekerja, atau “teman-teman” yang lain? Apakah mereka mengatakan sdr bodoh karena percaya kepada cerita-cerita yang dibuat-buat saja? Atau karena percaya kepada Seseorang yang tidak dapat dilihat? Atau bahwa Ilmu Pengetahuan tidak bisa membuktikan bahwa Allah itu ada? Atau bahwa Alkitab mengajarkan hal-hal yang ketinggalan jaman? Apa boleh buat.

Jadi Daud melakukan apa? “Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan. Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku. KepadaMu aku diserahkan sejak aku lahir. Sejak dalam kandungan ibuku, Engkaulah Allahku. Janganlah menjauh daripadaku sebab kesusahan telah dekat dan tidak ada yang menolong aku” (Mazmur 22:10-12). Daud mengingat pemeliharaan dan kasih sayang Tuhan sepanjang hidupnya. Tuhan melahirkan Daud dan membuat Daud percaya kepada Tuhan sejak dia lahir. Jadi Daud berseru kepada Tuhan yang dia kenal dan selalu percaya di masa yang lalu untuk menolong dia pada waktu sekarang.

“Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku. Mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum. Seperti air aku tercurah dan segala tulangku terlepas dari sendinya. Hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku. Kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku dan dalam debu maut Kau letakkan aku. Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku. Mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung. Mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka. Mereka membuang undi atas jubahku. Tetapi Engkau, Tuhan, janganlah jauh. Ya, Kekuatanku, segeralah menolong aku. Lepaskanlah aku dari pedang dan nyawaku dari cengkraman anjing. Selamatkanlah aku dari mulut singa dan dari tanduk banteng” (Mazmur 22:13-21).

Sembilan tahun yang lalu ada seorang bernama Daniel Romero dibunuh oleh banteng dalam festival di Pamplona, Spanyol. Tiga tahun yang lalu ada seorang wanita bernama Katherine Chappell dibunuh oleh seekor singa pada waktu dia berada di Johannesburg, Afrika Selatan. Singa itu menyerang dia saat sedang shooting film. Saya sendiri pernah diserang oleh anjing lima kali, tanpa alasan. Setiap kali serangan itu adalah pengalaman yang menakutkan bagi saya. Di sini Daud memakai kiasan, dia menyebut musuh-musuhnya lembu jantan, banteng, singa, anjing. Tetapi menurut ayat 17, mereka sebenarnya adalah penjahat, orang jahat. Bukan binatang, tetapi orang. Mereka seperti binatang liar yang kejam, mereka telah menusuk tangan dan kakinya. Hidupnya seperti air yang tercurah dan hatinya meleleh. Tuhan membuat kita dari debu tanah, tetapi Daud menggambarkan di ayat 16, dia seperti berada dalam debu maut. Ayat 19, orang bahkan membuang undi, berjudi, untuk mengambil pakaiannya. Di ayat 20-22 Daud meminta Tuhan untuk menyelamatkannya dari orang-orang jahat ini yang seperti binatang liar menyerang dia.

Apa yang akan terjadi? Di bagian terakhir, ayat 22-32 perubahan terjadi. Tuhan menyelamatkan Daud, raja pilihanNya. Tuhan menjawab seruan doanya. “Aku akan memasyurkan namaMu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat. Kamu akan takut kepada Tuhan. Pujilah Dia, hai segenap anak-cucu Yakub. Muliakanlah Dia dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak-cucu Israel. Sebab Ia tidak memandang hina atau pun merasa jijik terhadap kesengsaraan orang yang tertindas. Dan Ia tidak menyembunyikan wajahNya kepada orang itu. Dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepadaNya. Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaat yang besar. Nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia. Orang yang rendah hati akan makan dengan kenyang. Orang yang mencari Tuhan akan memuji-muji Dia. Biarlah hatimu hidup untuk selama-lamanya. Segala ujung bumi akan mengingatNya dan berbalik kepada Tuhan. Dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapanNya. Sebab Tuhanlah yang empunya kerajaan; Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa. Ya, kepadaNya akan sujud menyembah semua orang sombong di bumi; di hadapanNya akan sujud semua orang yang akan turun ke dalam debu dan orang yang tidak dapat menyambung hidup. Anak-anak cucu akan beribadah kepadaNya dan akan menceritakan tentang Tuhan kepada angkatan yang akan datang. Mereka akan memberitakan keadilanNya kepada bangsa yang akan lahir nanti sebab Ia telah melakukannya.” Tuhan tidak diam [ayat 22]. Dia menjawab. Tuhan tidak meninggalkan Daud. Tuhan tidak menyembunyikan wajahNya dari Daud [ayat 25]. Tuhan mendengar seruan Daud dan menyelamatkannya.

Jadi Daud melakukan apa? Di Israel, ketika seseorang ada masalah, orang itu sering berdoa dan membuat nazar atau sumpah, atau janji kepada Tuhan, seperti ini: “Tuhan, jika Engkau membantu saya lulus ujian atau mendapat pekerjaan atau menemukan cinta, maka saya akan melakukan ini atau itu bagi Dikau.” Ketika Tuhan membantu orang yang sudah bernazar itu dan mengabulkan doanya, tidak patut sdr hanya bersyukur sendirian. Jadi Daud memberitakan kabar baik keselamatan Tuhan kepada semua jemaat orang Israel [ayat 23]. Dia mendorong mereka juga untuk mengakui betapa hebatnya Tuhan [ayat 24]. Tetapi itu tidak hanya terbatas kepada Daud dan orang Israel saja. Pada akhirnya seluruh dunia akan bersujud kepada Tuhan [ayat 28]. Orang-orang dari segala bangsa akan memperlakukan Tuhan sebagai raja dunia [ayat 29]. Dan anak-anaknya akan memberitahu anak-anaknya dan anak-anak itu kelak juga akan memberitahu kepada generasi selanjutnya [ayat 32] Betapa ajaibnya, betapa agungnya Tuhan.

Jadi apakah patut Daud percaya kepada Tuhan? Tentu saja. Kini tiada orang yang menertawakan Daud. Kenapa? Karena kepercayaannya kepada Tuhan terbukti, karena Tuhan menyelamatkan dia. Tidak pernah bodoh atau sia-sia kita percaya kepada Tuhan. Tuhan dapat dipercayai. Tuhan itu pengasih. Dia berkuasa untuk menyelamatkan. Namun Daud meninggal 3000 tahun yang lalu. Jadi, bagaimana Tuhan menyelamatkan Daud? Seribu tahun kemudian yaitu bagi kita, dua ribu tahun yang lalu, Anak Daud yaitu Yesus Kristus datang ke dunia. Seperti Daud, Yesus adalah raja pilihan Allah untuk memerintah dunia. Yesus menunjukkan bahwa Ia¬† adalah raja istimewa dari Allah melalui kata-kata dan perbuatanNya. Ketika Yesus mati di atas kayu salib, Dia mengutip Mazmur 22 ini untuk memberitahu bahwa syair yang Daud tulis dalam mazmur ini sebenarnya bukan tentang Daud tetapi tentang Yesus. Kenapa kita bisa tahu tentang hal ini? Karena jelas ada tertulis dalam Alkitab Perjanjian Baru khususnya Matius 27:35-46 sebagai satu perbandingan paralel dengan Mazmur 22. “Sesudah menyalibkan Dia, mereka membagi-bagi pakaianNya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepalaNya terpasang tulisan yang menyebutkan alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.” Bersama Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiriNya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata, “Hai, Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diriMu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya. Ia menaruh harapanNya kepada Allah, baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepadaNya! Karena Ia telah berkata, Aku adalah Anak Allah!” Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencelaNya demikian juga. Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Hampir semua yang terjadi kepada raja Daud dalam Mazmur 22 itu terjadi kepada Yesus. Yesus ditertawakan, dihina, tangan dan kakiNya ditusuk dan pakaianNya dibagi-bagi. Yesus seperti Daud, ditinggalkan oleh Allah. Tetapi Yesus dan Daud berbeda. Daud tidak sepenuhnya percaya kepada Allah; ia tidak sepenuhnya taat kepada Allah. Daud pantas untuk mati, sama seperti kita semua. Tetapi Yesus tidak pernah menentang Allah BapaNya, Ia tidak pernah berbuat dosa. Yesus tidak pantas mati. Namun Allah menyelamatkan Daud dari kematian, tetapi sebaliknya Allah membiarkan Yesus mati.

Ketiga, Allah meninggalkan Yesus, Raja pilihanNya mati untuk menyelamatkan kita.

Mengapa Allah membiarkan Yesus mati? Dalam Mazmur 22 kita tidak diberitahu mengapa Allah meninggalkan Daud dan sampai pada akhirnya menyelamatkan dia. Tetapi kita tahu secara persis mengapa Allah meninggalkan Yesus. Dalam 1 Petrus 3:18 dikatakan, “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita. Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah.” Yesus mati untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak benar, termasuk kita yang ada di sini.

Sebenarnya musuh terbesar raja Daud bukan banteng, bukan singa liar dan binatang buas lainnya. Bukan juga penjahat yang menyerangnya. 1 Korintus 15 mengatakan musuh terbesar kita adalah maut dan hukuman terbesar yang menanti kita adalah kematian kekal di neraka. Neraka adalah tempat dimana orang-orang ditinggalkan oleh Tuhan. Selamanya terputus dari berkat Tuhan dan terputus dari kehidupan yang sejati, yang kekal. Setiap orang layak masuk neraka karena kita semua telah menentang Allah. Kita hidup semau-maunya menuruti hawa nafsu kita sendiri, bukan hidup menurut kehendak Allah. Dan Allah sesungguhnya mempunyai pilihan: meninggalkan kita selama-lamanya di neraka, atau meninggalkan AnakNya yaitu Yesus, untuk membayar hukuman dosa di neraka sebagai pengganti kita untuk menyelamatkan kita dari neraka. PilihanNya: meninggalkan kita atau meninggalkan AnakNya sendiri? Allah Bapa dan Allah Anak yaitu Yesus Kristus begitu penuh dengan kasih dan sayang, sehingga Mereka yang tidak pernah terpisahkan berkeputusan di dalam cintaNya untuk dipisahkan supaya menyelamatkan kita. Allah meninggalkan Yesus; Yesus yang secara sukarela memilih untuk ditinggalkan, untuk menyelamatkan kita. Yesus mati untuk menanggung hukuman neraka bagi kita. Sehingga siapapun yang percaya kepadaNya dan ikut Yesus tidak pernah dan tidak perlu berseru, Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Kita tidak perlu ditinggalkan sendiri oleh Tuhan Allah di neraka. Itu adalah kasih anugerah yang ajaib. Jika sdr ingin diselamatkan dari kematian selama-lamanya di neraka, maka sdr harus meminta dan berseru kepada Tuhan untuk menyelamatkan engkau.

Apakah Yesus patut taat kepada Allah BapaNya yang meninggalkan Dia? Tentu saja. Mengapa? Ibrani 5:7 mengatakan, “Dalam hidupNya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan.” [bandingkan dengan Mazmur 22:24]. Kemudian Kisah Rasul 2:31-32 bicara mengenai Daud, “Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias ketika ia mengatakan bahwa Dia tidak ditinggalkan dalam dunia orang mati dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah dan tentang hal ini kamu semua adalah saksi.” Dalam bagian ini rasul Petrus bersaksi bahwa Allah menepati janjiNya kepada Daud untuk menghidupkan Yesus dan tidak meninggalkanNya mati. Dan Yesus memberikan hidup yang kekal kepada semua orang yang percaya kepada Dia. Sebenarnya berita bahwa Allah menyelamatkan Yesus begitu baik sehingga Yesus sendiri juga mengabarkan Injil. Dia juga memuji Allah atas keselamatan kebangkitanNya. Kita bisa melihat itu dalam Ibrani 2:10-12, ” Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan dengan penderitaan. Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu, itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, kataNya: “Aku akan memberitakan namaMu kepada saudara-saudaraKu dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat.” Inilah Yesus yang mengabarkan Injil keselamatanNya sendiri, Ia yang adalah juruselamat itu sendiri. Kita bersyukur karena Yesus tidak ditinggalkan Allah, tetapi Allah mendengar seruanNya dan menjawab dan membangkitkanNya. Bagi mereka yang belum percaya kepada Yesus, kiranya Allah mencurahkan rahmatNya kepada orang-orang itu juga, supaya mereka tergerak untuk percaya Yesus. Dan bagi kita sendiri yang sudah percaya, biarlah kita mengabarkan Injil keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada seluruh bangsa sampai kita sendiri mati atau sampai kedatangan Yesus yang kedua kali kelak. Kiranya nama Allah terpuji selama-lamanya.(kz)