Adakah Pundi Berkatmu Bocor?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Hagai (1)
Tema: Adakah Pundi Berkatmu Bocor?
Nats: Hagai 1:1 – 2:1a

“Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!” (Hagai 1:6).

 

Mana yang harus lebih dulu dilakukan untuk kita bisa mengalami anugerah dan berkat Tuhan yang berlimpah-limpah itu? Mana yang harus lebih dulu dilakukan sehingga perasaan berlimpah, penuh dengan sukacita, full of contentment itu terjadi di dalam hidup kita? Apakah kita lebih dulu meminta supaya dari kehidupan kita mengalir berkat Tuhan ataukah kita lebih dulu membenahi dan melihat ke dalam diri kita mungkin ada yang salah dan keliru di dalam kontainer hati kita? Seringkali kita mengalami hidup seperti itu, bukan? Banyak orang berkata, “Nantilah dulu setelah saya lebih mapan, rumah dan kehidupan kami lebih teratur, time-management hidup kami sudah lebih baik, kebutuhan hidup tercukupi dan berkat materi berkelimpahan, pekerjaan dan karir sudah settled dan anak-anak sudah lebih besar, baru kami bisa memikirkan apa yang kami bisa kerjakan dan lakukan bagi gereja dan bagi pekerjaan Tuhan.” Seringkali kita juga berpikir seperti demikian dalam hidup kita. Nantilah dulu, pada waktu kita tidak lagi mengalami kesulitan, pada waktu tidak ada lagi problema dan keadaan kita sudah lebih baik, kita mungkin baru bisa melakukan sesuatu bagi pelayanan misi dan bagi kerajaan Allah. Nantilah dulu. Pada waktu kita menunggu dan menanti kondisi kita menjadi lebih baik, hidup kita menjadi lebih mapan, kita sudah tidak mengalami problema dan kesulitan, baru kita sadar ternyata hal itu tidak pernah terjadi dan tidak pernah datang di dalam hidup kita. Dan realitanya hidup kita terus-menerus menjalani situasi yang membuat hati kita menjadi tidak puas dan discontentment. Selalu saja ada yang kurang, selalu saja ada yang belum saya punya, ada yang saya perlu isi terus; dan selamanya kita coba untuk selalu isi, selamanya tidak pernah penuh, dan itulah ironi yang dimunculkan oleh kalimat nabi Hagai di sini, “Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!” (Hagai 1:6). Ayat ini berkata, orang itu mengisi hidupnya dengan begitu banyak, lalu sampai di rumah dia lihat kenapa tidak penuh? Lalu dia isi lagi, tetap tidak penuh. Isi lagi, tetap tidak penuh. Lalu isi lagi, tetap tidak penuh. Kapan kantong ini penuh? Kenapa kantong ini tidak pernah penuh-penuh? Dia tidak pernah menyadari bahwa kantong itu bocor adanya.

Hagai adalah seorang nabi yang diutus Tuhan untuk berbicara kepada bangsa Israel “pada tahun yang ke dua jaman raja Darius, dalam bulan yang ke enam, pada hari pertama bulan itu” (Hagai 1:1), kira-kira 20 tahun setelah mereka kembali dari pembuangan [Exile]. Ada dua peristiwa besar yang terjadi di dalam hidup orang Israel. Peristiwa yang pertama adalah peristiwa Exodus yaitu keluarnya bangsa Israel dari Mesir yang terjadi sekitar tahun 1200-an BC. Keturunan Yakub mengungsi dan tinggal 400 tahun lamanya di Mesir karena bala kelaparan, lalu bangkitlah seorang raja yang menjadikan mereka sebagai budak (Keluaran 1). Peristiwa Exodus terjadi pada waktu Allah membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir menuju ke tanah perjanjian. Tanah itu penuh berlimpah dengan susu dan madu, dan di tanah itu mereka membangun hidup mereka 1000 tahun lamanya hingga sampai kepada satu masa yang makmur luar biasa yaitu ketika raja Salomo menjadi raja mereka. Oleh Salomo berdirilah satu gedung Bait Allah yang besar dan megah. Peristiwa yang kedua adalah peristiwa Exile yaitu peristiwa dibuangnya bangsa Israel ke Babel dan Persia dan kembalinya mereka dari pembuangan ke Israel 70 tahun kemudian (Daniel 1:1, 2 Raja 24). Peristiwa Exile terjadi ketika apa yang telah mereka bangun begitu besar dan megah itu hancur dan tinggal puing-puing. Musuh telah merobohkan Bait Allah dan meruntuhkan tembok-tembok kota Yerusalem dan membawa mereka yang tersisa sebagai tawanan. Seperti peristiwa Exodus, memulai sesuatu dari tidak ada menjadi ada, adalah suatu hal yang tidak gampang dan tidak mudah dalam hidup kita. Tetapi menata kembali batu-batu yang telah runtuh kembali kepada kondisi semula, seperti peristiwa Exile adalah sesuatu yang jauh lebih tidak gampang dan tidak mudah.

Unik sekali, Hagai memakai penyebutan nama Allah: Yahweh Sabaoth, Yahweh the Lord of heaven’s armies, the Lord of hosts, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan; TUHAN semesta alam. Ia adalah Allah yang berdaulat, Allah yang mengontrol, Allah yang memakai segala sesuatu untuk mengerjakan hal-hal yang seolah mustahil dalam hidup mereka. Tidak pernah ada rencana, pemikiran untuk membebaskan diri dari tekanan perbudakan Mesir di dalam diri bangsa Israel. Kalaupun ada keinginan itu, tidak ada kekuatan untuk bisa keluar. Kalaupun akhirnya bisa keluar, mungkinkah mereka bisa survive? Meskipun Musa adalah salah satu jendral kerajaan Mesir yang melihat ketidak-adilan dan kekejaman yang dilakukan orang Mesir kepada budak Israel itu dan berusaha menolong dengan kekuatannya sendiri, tidak pernah bisa berhasil. Akhirnya dia harus lari ke padang gurun untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dan di situ dia belajar untuk bersandar kepada kekuatan Tuhan semata (Keluaran 1-15). Peristiwa Exodus adalah hal yang mustahil dan tidak mungkin bisa terjadi kalau bukan Tuhan yang melakukannya. Sama halnya dengan peristiwa Exile dan kembalinya orang Israel dari pembuangan. Sebagai orang yang sudah dikalahkan dan ditaklukkan oleh bangsa yang besar seperti Babel, yang sudah habis dijarah, mungkinkah bisa merencanakan untuk pulang kembali ke Yerusalem dan membangun kembali reruntuhan Bait Allah? Tidak ada kemungkinan itu.

Pada waktu mereka pulang dari pembuangan, cetusan hati mereka dicatat dalam Mazmur 126:1-3 “Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini! TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.” Seperti mimpi. Mustahil. Itulah sebabnya melihat peristiwa mereka bisa pulang kembali membuat bangsa-bangsa lain takjub dan memuliakan Allah. Besar Allah TUHAN kita!

Setelah pulang dari pembuangan [tahun 538BC], beberapa bulan kemudian mereka bisa membangun kembali mezbah persembahan. Tetapi Ezra 4:4-5 mencatat betapa berat dan betapa susah dan sulitnya hidup mereka, “Maka penduduk negeri itu melemahkan semangat orang-orang Yehuda dan membuat mereka takut membangun. Bahkan selama jaman Koresh, raja negeri Persia, sampai jaman pemerintahan Darius, raja negeri Persia, mereka menyogok para penasehat untuk melawan orang-orang Yehuda itu dan menggagalkan rancangan mereka.” Inilah konteks ketika Hagai menyampaikan firman Tuhan ini kepada mereka.

“Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!” (Hagai 1:2). Banyak hal yang bisa membuat kita excuse, banyak hal yang bisa membuat kita kemudian menunda-nunda dan berkata belum waktunya. Kita tidak sempat membangun, kita sudah berusaha membangun, kita sudah membuat mezbah persembahan bagi Tuhan. Dan Ezra mengatakan, memang betapa berat dan susahnya hidup mereka. Tekanan demi tekanan, intimidasi yang tidak ada habis-habisnya, dan Hagai 1:10-11 memperlihatkan ada kekeringan panjang terjadi, panen yang gagal, dsb. Pokoknya mereka tidak bisa membangun Bait Allah, mereka tidak bisa membangun bangsa mereka, mereka tidak bisa membangun tembok kota Yerusalem. Mereka memang bisa kembali ke tanah asal, tetapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Dari era raja Koresh hingga era raja Darius itu kurang lebih ada 18 tahun. Satu tahun lewat setelah kembali mereka berkata, belum waktunya membangun rumah Tuhan. Engkau melihat kesulitan dan tantangan seperti itu. Dua tahun lewat, belum waktunya. Waktu terus berjalan sampai tahun ke 18, mereka tetap berkata, belum waktunya kami melakukan itu. Sampai kapan? Maka akhirnya Tuhan mengirim Hagai dengan pertanyaan retorika: “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4). Jikalau engkau berkata belum waktunya membangun Rumah Tuhan tetapi engkau bisa membangun rumahmu dengan megah dan mewah sedangkan Rumah Tuhan tetap menjadi reruntuhan, tetap berantakan dan tidak dibangun, apakah itu namanya “belum waktunya”? Selama dua puluh tahun lamanya akhirnya kantong kehidupan orang Israel ini tidak pernah penuh dan berlimpah oleh sebab besar kebocorannya. Ada egoisme diri yang hanya memikirkan diri sendiri, ada excuses mereka berkata betapa berat dan susahnya kesulitan tantangan yang mereka hadapi. Ada sikap masa bodoh dan tidak peduli dengan kebutuhan pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Tetapi mungkin lobang yang paling besar adalah hati mereka yang kecewa kepada Tuhan karena sudah 20 tahun lamanya mereka pulang tidak ada perubahan terjadi, malah hidup mereka makin berat dan susah. Kekecewaan itu melahirkan discontentment dalam hidup mereka. Mereka katakan, mari kita cari uang sebanyak-banyaknya, pikir diri sendiri, kumpulkan apa yang perlu bagi diri sendiri. Namun pada waktu mereka kerjakan dan lakukan semua itu mereka tidak pernah mendapatkan kepuasan di dalam hati mereka. Ketika mereka tidak mau membangun Rumah Tuhan, point yang paling penting yang ditunjukkan di sini adalah prioritas hidup mereka bukan kepada pembaharuan spiritualitas; prioritas hidup mereka bukan ibadah kepada Allah. Prioritas hidup mereka adalah kepada pengumpulan materi bagi diri sendiri dan menjadikan Tuhan di urutan yang paling belakang. Bolehkah kemudian bagian ini kita bahas untuk kemudian diparalelkan bahwa kita perlu dan harus membangun rumah Tuhan [gedung gereja] dulu baru kemudian membangun rumah kita? Saya percaya tidak bisa diparalelkan seperti itu. Yang mungkin bisa kita paralelkan adalah seperti ini: berapa banyak orang Kristen setiap pagi bangun dari tempat tidurnya lupa menyadari dan menghitung berapa besar berkat yang mereka dapat dari Tuhan, tetapi senantiasa dipenuhi oleh pikiran bagaimana mendapat materi sebanyak-banyaknya; ketika kita tidak mendapat hal itu akhirnya itu mengganggu hati kita dan membuat kita kesal. Berapa banyak kali kita terus menghitung hal-hal kecil yang tidak kita dapat dan tidak melihat berapa besar anugerah Tuhan yang datang ke dalam hidup kita? Pointnya adalah soal discontentment. Discontentment membuat engkau tidak bisa melihat keindahan berkat dan blessings yang begitu berlimpah dalam hidupmu, karena engkau telah membiarkan hatimu dipenuhi dengan ketidak-puasan, rasa rugi dan kehilangan banyak hal.

Itulah sebabnya kenapa Hagai membicarakan hal itu. Engkau akan terus isi, isi, isi, dan tidak pernah penuh, sebab kantong kehidupanmu berlubang.

Itu sebabnya bagian kedua, Hagai berkata, “lihatlah keadaanmu.” ¬†Atau dalam terjemahan Inggris mengatakan set your heart in these matters. Artinya, hatimu tertuju kemana? Coba pikirkan baik-baik semua apa yang kita lihat dan kita alami, fokus itu kepada persoalan rohani kita, persoalan ibadah kita, persoalan siapa yang menjadi fokus di dalam hidup kita. Kalau kita tidak mau kebocoran itu terjadi, maka yang perlu dan harus terjadi adalah pembaharuan rohani, pemulihan rohani di dalam hidup. Berhenti berpusat kepada kenyamanan materi, berhenti berpusat mengejar apa yang kita perlukan untuk survive. Ingat senantiasa, untuk bisa survive semata-mata karena anugerah dan berkat Tuhan di dalam hidup kita. Maka Tuhan katakan kepada bangsa Israel, “Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu, maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaanKu di situ, firman TUHAN (Hagai 1:8). Perbaiki hidup ibadahmu, dan engkau akan melihat kemuliaan Allah, shekinah itu, akan ada di tengah-tengah kamu. Mari kita kembalikan sukacita di dalam ibadah kita kepada Tuhan. Kembalikan sukacita kita menyembah Dia dan menjadikan Allah fokus dalam hidup kita. Kita tidak boleh membiarkan pikiran kita dipenuhi oleh hal-hal yang kecil dan sepele. Mari kita pulihkan hati kita, jadikan Allah fokus di dalam pelayanan hidup kita. Jangan sampai kita kehilangan akan kemuliaan, kasih dan sukacita di dalam kita mengasihi dan melayani Tuhan. Itu yang terhilang di dalam kehidupan bangsa Israel setelah 20 tahun mereka kembali dari pembuangan. Banyak hal excuses itu bisa dipakai: kekeringan, panen yang gagal, bencana alam, intimidasi, tekanan, semua itu terjadi dalam hidup mereka dan itu tidak akan pernah selesai-selesai dalam perjalanan hidup mereka. Tetapi semua itu tidak akan pernah menjadi excuses dan hal yang menyandung mereka pada waktu pembaruan hati dan spiritual muncul dalam hidup mereka.

Tuhan berjanji, “Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN” (Hagai 1:13). Aku beserta dengan engkau. Imanuel, Allah beserta dengan kita. Kata yang sama dipakai oleh Tuhan Yesus pada waktu Ia memberikan mandat kepada murid-muridNya sebelum naik ke surga, “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu, dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus dan ajarkanlah semua yang telah Kukatakan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu sampai kepada kesudahannya” (Matius 28:18-20). Kalimat ini penting, sebab kalimat ini menyembuhkan satu lubang yang paling besar dalam hidup kita mengikut Tuhan yaitu lubang kekecewaan. Lubang kekecewaan benarkah janji Tuhan bahwa Ia sungguh menyertai kita? Lubang kebingungan mengapa waktu kita mau mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, mau cinta Tuhan, justru kesusahan dan kesulitan yang terjadi? Ketika engkau mau mengerjakan hal yang baik di kantor, engkau akan menjadi target orang yang pertama yang akan dipecat. Ketika seseorang mau menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan, papa mamanya tidak mendukung dan bahkan menentang keputusannya itu. Pada waktu seseorang mau memberikan persembahan khusus untuk mendukung pelayanan misi, tiba-tiba terjadi musibah dan papa mama masuk rumah sakit dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Semua itu bisa membuat kita confused karena tidak habis-habisnya hal-hal seperti itu terjadi dan mungkin bisa membuat satu perasaan kebingungan yang muncul: is it right or wrong? Benarkah yang saya lakukan ini? Pada waktu kita dilanda kebingungan seperti itu seringkali membuat hati kita akhirnya menjadi kecewa dan tidak mengerti.

Mazmur 73 adalah mazmur yang ditulis sebagai cetusan hati kekecewaan dari seseorang yang ingin berjalan dengan benar tetapi justru dia menjadi kecewa. “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih dan membasuh tanganku tanda tak bersalah” (Mazmur 73:1-2, 13). Kenapa justru orang-orang yang fasik hidupnya lancar? Itulah pergumulan dari Mazmur 73. Tetapi akhirnya dia berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mazmur 73:25-26). Sekalipun tinggal kulit pembungkus tulang saja, Tuhan adalah Allahku selama-lamanya.

Ezra 4:4-5 mencatat selama 20 tahun, orang-orang dari bangsa-bangsa yang ada di sekitar mereka menghancurkan semangat orang Israel. Tetapi luar biasa, setelah firman Tuhan datang kepada mereka, menegur dan memanggil mereka kembali, dalam Hagai 1:14 dikatakan, “TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu.” Selama 23 hari firman Tuhan itu disampaikan oleh Hagai. Mereka yang tadinya memiliki spirit kekecewaan, kebingungan, dan hati yang masa bodoh dan kerohanian yang berada pada level yang paling rendah, Tuhan perlu berfirman 23 hari lamanya melalui nabi Hagai kepada mereka. Dan pada waktu Roh Allah bekerja, TUHAN menggerakkan hati Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar; mereka adalah dua pilar masyarakat, dua pemimpin yang berada dalam struktur, bupati sebagai pemimpin pemerintahan, imam besar sebagai pemimpin agama. Nabi Hagai tidak berada di dalam struktur itu. Nabi Allah hanya muncul untuk mendorong dan memberikan visi, kekuatan dan semangat bagaimana TUHAN semesta alam itu akan memelihara dan menuntun mereka. Pada waktu berbakti dan fokus kepada Tuhan, menjadikan ibadah itu sebagai sentral, pasti akan ada kegerakan di dalam hati mereka dan mereka akan memberi dan akan melakukan pelayanan dengan sukacita dan sukarela.

Hari ini kiranya melalui firman Tuhan ini kita dipanggil kembali memperbaharui satu spiritual renewal di dalam hati dan hidup kita, membuat relasi dan hubungan kita dengan Allah menjadi pusat dan sentral bagi hidup kita dan hidup keluarga kita. Pada waktu kita bertemu dan berkumpul sebagai gereja Tuhan, ibadah minggu kita menjadi sentral dimana kita menyanyi, memuji dan memuliakan Tuhan, mari kita datang bersama-sama bersatu hati di dalam menyembah Tuhan dalam setiap lagu yang kita nyanyikan, dalam setiap doa yang kita panjatkan, dalam setiap firman yang kita dengarkan, untuk menjadikan Tuhan utama dalam hidup kita. Biar pada hari ini Allah menarik hati setiap kita untuk kembali dan dekat kepadaNya, menjadikan Ia sebagai Allah dan Tuhan yang patut kita puji dan kita sembah di dalam hidup kita. Pada waktu kita memenuhi hidup kita melulu dengan segala hal yang kita cari dan yang kita kejar dan semua itu sesungguhnya tidak pernah memberikan rasa puas dan cukup dalam hidup kita. Biar kita sekali lagi set our hearts kepada hal yang benar adanya. Tuhan kiranya memberkati setiap kita supaya berkat Tuhan menjadi sukacita yang membuat kita memuliakan Tuhan dan memuji Tuhan selama-lamanya.(kz)