Turn Your Material Blessing into Spiritual Blessing

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (39)
Tema: Turn Your Material Blessing into Spiritual Blessing
Nats: Roma 15:27, 16:1-5, 2 Korintus 8-9

Markus 10 mencatat pergumulan yang muncul dalam diri Petrus pada waktu dia berjalan mengikut Tuhan Yesus, yang saya percaya juga bisa menjadi pergumulan setiap kita di dalam perjalanan kita masing-masing mengikut Tuhan. Pergumulan itu terjadi pada waktu Petrus melihat seorang yang kaya datang dan bertanya kepada Yesus, “Guru, apakah yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Dan setelah dialog berjalan, kemudian Yesus berkata kepada dia, “Hanya satu yang kurang, juallah seluruh hartamu dan berikanlah kepada orang miskin dan ikutlah Aku.” Markus mencatat reaksi orang itu mendengar perintah Yesus, dia berbalik dengan sedih sebab banyak hartanya (Markus 10:17-25). Betapa susah dan sulitnya orang kaya itu meninggalkan hartanya, padahal bukankah pencaharian hidupnya lebih daripada harta benda material? Dia sudah sampai kepada satu titik: ingin mendapatkan hidup yang kekal. Dan melihat reaksi orang itu Yesus katakan betapa sulitnya orang yang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah; lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Menyaksikan percakapan itu, Petrus bertanya dalam hati, apakah cukup? Apa artinya aku mengikut Tuhan? Apakah yang kami lakukan sekarang ini akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Tuhan? Maka dia mempertanyakan itu, “Tuhan, kami sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Engkau. Jadi apakah yang akan kami peroleh sebagai balasannya?” Yesus menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak, ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan. Dan pada jaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Markus 10:28-31). Jawaban Yesus ini mengajak kita melihat dua aspek. Kita tidak boleh hanya menekankan aspek kepada masa sekarang sekalipun tidak berarti Allah tidak memberikan berkat itu kepada hidup kita sekarang. Tetapi ada beberapa hal penting yang perlu kita lihat dari kalimat Yesus kepada Petrus di sini. Yang pertama, jawaban Yesus mengingatkan kepada kita balasan yang Tuhan beri kepada kita pasti akan jauh lebih besar daripada apa yang kita berikan kepada Dia. Kata ‘multiply’ bukan hanya bertambah tetapi berlipat-ganda. Di situ kita melihat dimensi dari hidup komunitas gereja, hidup kita sebagai orang yang sama-sama ditebus oleh Tuhan, disatukan oleh ikatan darah, betapa luar biasa sekali! Sehingga pada waktu Paulus menyebut nama-nama orang-orang yang sama-sama melayani Tuhan, dia menyebut mereka sebagai saudara laki-laki dan saudara perempuannya; ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya di dalam Kristus. Betapa indah umat Allah menjadi satu komunitas yang indah dan disatukan sebagai satu umat Allah.

Kalimat Yesus ini juga mengingatkan kepada kita, our God is God the giver, Allah yang memberi dan tidak pernah berhutang kepada kita. Pada waktu kita bangun di pagi hari sampai kepada matahari terbenam, Allah senantiasa menjadi generous giver bagi kita. Yang menjadi kesulitan kita adalah kita tidak pernah menyadari semua itu adalah pemberian Allah yang datang ke dalam hidup kita. Kita terlalu mudah untuk take for granted, dan terlalu gampang iri karena merasa orang lain mendapatkan lebih banyak daripada kita. Kita ingin punya sebanyak-banyaknya materi yang seperti mereka punya. Berapa banyak keinginan kita dalam dunia ini hanya berfokus mengejar hal-hal materi dalam hidup ini? Tetapi buat apa kita dapatkan itu semua kalau kita hanya bisa menikmatinya dalam waktu yang terbatas? Maka Yesus mengatakan reward yang Tuhan akan berikan di masa yang akan datang di dalam kekekalan jauh lebih berlimpah untuk kita nikmati. Maka hari ini saya mengajak kita membawa hidup kita kepada perspektif ini: Paulus katakan biarlah kita menjadi anak Tuhan mengerti dan mengetahui apa yang Tuhan beri kepada kita hal-hal materi yang terbatas dan sementara ini sanggup bisa kita ganti dan kita ubah menjadi harta rohani yang tidak akan terhilang selama-lamanya. Turn Your Material Blessing into Spiritual Blessing.

Dalam Roma 15:25-27 Paulus memberitahukan apa yang dilakukan oleh jemaat di Makedonia dan jemaat di Akhaya mengumpulkan uang bagi jemaat yang sangat miskin di Yerusalem. Waktu itu terjadi kelaparan dan kesulitan di Yerusalem sehingga Paulus memanggil jemaat Makedonia dan Akhaya memberikan bantuan kepada mereka (lihat 1 Korintus 16:1-4). Tetapi lebih daripada itu Paulus memberikan prinsip “back to Jerusalem” ini karena bangsa-bangsa lain yang sudah mendapatkan keselamatan Injil dan datang kepada Yesus Kristus patut mengerti akarnya bahwa blessing itu datang dari mesias yang dijanjikan kepada bangsa Yahudi. Maka mereka sepatutnya membawa persembahan uang kepada jemaat Yerusalem itu. Paulus katakan itu adalah menjadi satu sukarela kita memberi persembahan, tetapi pada saat yang sama itu adalah kewajiban kita, responsibility kita.

Persembahan itu bukan soal satu pelayanan membutuhkan uang. Persembahan itu bukan masalah gereja kekurangan uang. Persembahan itu bukan masalah pendeta sedang minta uang untuk satu projek atau untuk mendukung dan menunjang satu pelayanan. Persembahan itu bukan untuk itu. Persembahan itu prinsipnya: it is about you, about your relationship with God. Dan perspektif itu yang harus kita pegang. Melalui persembahan itu Tuhan mau supaya hidup kita yang diberi materi yang sangat terbatas dan sedikit ini sanggup bisa menjadi hidup yang berkelimpahan. It is about you. Kita harus memiliki perspektif itu. Sehingga Yesus pernah berkata bahkan satu gelas air saja pun yang engkau berikan kepada salah satu muridKu, ia tidak akan kehilangan upahnya (Markus 9:41). Jangan sampai kita kehilangan perspektif itu lalu membuat kita akhirnya menjadi orang yang menggerutu atau tidak rela hati di dalam memberi persembahan. Persembahan itu bukan soal kita mendukung sesuatu. Bagi saya di dalam pelayanan jikalau seseorang tidak mendukung tidak ada masalah, tetapi perspektif yang paling penting adalah bagaimana Tuhan memakai apa yang ada dalam diri sdr untuk menjadi satu blessing yang tidak akan terhilang dari hidupmu.

Paulus menyebut tentang dua jemaat, yaitu jemaat Makedonia dan jemaat Akhaya. Kita bisa melihat dalam surat 2 Korintus 9:1-2 bagaimana baru jemaat Makedonia yang mengumpulkan uang itu sedangkan yang di Akhaya tidak jalan, padahal Paulus sudah bilang dari tahun kemarin mereka sudah senang sekali mengumpulkan uang itu, tetapi di tengah jalan karena perasaan mereka kepada Paulus menjadi negatif, maka persembahan mereka tidak jalan. Maka sekali lagi Paulus membicarakan hal itu dan Paulus mengajak mereka untuk melihat bukan soal mereka dukung Paulus atau tidak tetapi bagaimana mereka menyaksikan material blessing ini become spiritual blessing.

Dalam 2 Korintus 8:1-5 kita mendapatkan perspektif yang luar biasa karena ternyata Makedonia adalah jemaat yang sama miskinnya dengan jemaat Yerusalem, “…jemaat-jemaat di Makedonia selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan sukacita mereka meluap. Dan meskipun mereka sangat miskin namun mereka kaya dalam kemurahan” (2 Korintus 8:1-2). Dari sini Alkitab memberi prinsip bukan soal siapa yang punya harta lebih banyak yang harus memberi, tetapi soal bagaimana dengan kerelaan dan sukacita kita boleh melihat apa yang kita punya bisa menjadi berkat yang tidak bisa hilang dalam hidup kita. Itu adalah perspektif yang harus kita taruh di dalam hati dan pikiran kita.

Lalu Paulus memberikan prinsip selanjutnya mengapa persembahan itu menjadi sesuatu yang indah luar biasa, apa spiritual blessing yang dihasilkan hanya dari uang yang sederhana dan sepele adanya. Mari coba kita bayangkan pada waktu uang yang $10 itu hanya sanggup bisa membuat kita makan satu kali saja, dengan nominal yang terbatas itu bisa menjadi spiritual blessing. Yang bisa merubah itu hanya Tuhan, bukan kita. Kita tidak boleh kecil hati dan mengatakan aku hanya punya sedikit, apakah bisa menjadi sesuatu berkat? Tetapi mari kita melihat di sini Paulus menuntun dan membuat kita mengerti apa yang kita beri itu menjadi sesuatu berkat yang luar biasa, di luar daripada yang pernah kita pikirkan dan bayangkan, karena kita memberi itu kepada Tuhan. “Camkanlah: orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga; orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan bahkan berkelimpahan dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis, Ia membagi-bagikan kepada orang miskin, kebenarannya tetap untuk selama-lamanya. Ia yang telah menyediakan benih bagi penabur dan roti untuk dimakan, Ia juga akan menyediakan benih bagi kamu dan melipat-gandakan dan menumbuhkan buah-buah kebenaran bagimu” (2 Korintus 9:6-8). Lalu, 2 Korintus 9:11, “Kamu akan diperkaya dalam pelbagai macam kemurahan, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.” Pada waktu kita memberi, hati kita berlimpah, hati kita menjadi lebih luas, lebih luas daripada pemberian materi kita saja. Yang selanjutnya, “sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian itu bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang kudus tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah” (2 Korintus 9:12). Lalu, 2 Korintus 9:13-14 “karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu kepada mereka dan dengan semua orang, sedangkan dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia yang melimpah atas kamu.” Kita menyaksikan the exchange of prayer muncul di dalam hidup mereka satu dengan yang lain. Jemaat itu tidak bisa membayar balik kepada material blessing yang mereka dapat, tetapi mereka memberikan ucapan doa, membawa kita dalam doa dan itu menjadi spiritual blessing yang kita dapat.

Kemudian setelah Paulus selesai berbicara akan hal itu, Paulus mendaftarkan segala orang-orang yang terlibat dalam pelayanan bersama contoh-contoh konkrit dari orang-orang ini yang Paulus sebutkan satu-persatu dalam surat Roma 16 ini, bagaimana hidup mereka menjadi contoh teladan yang indah. Hari ini saya ajak sdr melihat Roma 16:1-2, Paulus menyebut dua keluarga, yang satu adalah seorang ibu bernama Febe, yang satu lagi adalah pasangan suami isteri bernama Akwila dan Priskila. “Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudara kita yang melayani jemaat di Kengkrea supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukan sebab dia sendiri telah memberi bantuan kepada banyak orang dan juga kepadaku sendiri.” Febe sangat besar kemungkinan adalah seorang janda yang tinggal di Kengkrea. Kengkrea adalah satu kota pelabuhan yang letaknya tidak jauh dari Korintus. Dari satu ayat ini kita bisa mempunyai gambaran, Febe adalah seorang janda yang sangat kaya, seorang yang diberkati dengan material blessing yang luar biasa. Ada dua hal yang secara khusus Paulus sebut mengenai siapa dia. Pertama, dia adalah seorang diaken perempuan dari jemaat di Kengkrea. Itu adalah pelayanan meja, pelayanan yang men-support orang-orang miskin. Para penafsir setuju kenapa Febe disebutkan Paulus di sini sebab dia akan menuju ke Roma, dan sangat besar kemungkinan surat ini dibawa oleh dia. Dia pergi berbisnis dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain membawa barang dagangan, dsb. Dia menjadi seorang businesswoman namun juga seorang yang full-hearted di dalam pelayanan. Yang kedua, kita menyaksikan material blessing yang Tuhan beri kepada dia menjadi satu berkat yang luar biasa. Bukan saja kepada jemaat Kengkrea dimana dia melayani, tetapi kita menyaksikan hal yang kedua yang Paulus sebutkan mengenai pelayanan material blessing daripada Febe ini di ayat 2, “sebab ia sendiri telah menjadi bantuan bagi banyak orang dan juga kepadaku sendiri.” Kata “bantuan” sebaiknya diterjemahkan “patron” atau “benefactor” berarti dia adalah seorang yang mendukung begitu banyak hamba Tuhan dan misionari secara finansial termasuk pelayanan Paulus dengan uang yang ada pada dia. Dari hidup Febe kita belajar how to turn your material blessing into spiritual blessing. Kita bisa mendukung orang-orang yang menjadi misionari, yang ada di front pelayanan, dan alangkah indahnya kekurangan mereka ditutupi oleh kelebihan materi yang kita miliki sama-sama. Karena kita tahu pelayanan itu tidak akan pernah hilang dan berlalu di dalam hidup kita. Mari kita mempunyai hati yang peka dan terbuka seperti itu sehingga kita boleh berbagian bukan saja di dalam gereja lokal dimana Tuhan tempatkan kita, kita juga boleh menjadi orang yang membantu dan mendukung secara finansial bagi pelayanan seperti ini. Pada waktu Yesus berjalan di atas muka bumi ini Dia memberi makan 5000 orang dengan kuasa mujizatNya. Tetapi Alkitab juga ada mencatat Yesus menerima pelayanan dari begitu banyak wanita-wanita yang men-support pelayanan Yesus dengan uang yang ada pada mereka (Lukas 8:1-3). Paulus dengan terbuka berkata inilah pelayanan Febe yang membuat dia bisa keliling dan berjalan menginjili karena wanita ini telah menjadi patron bagi dia.

Orang kedua yang Paulus sebutkan adalah Priskila dan Akwila, pasangan suami isteri yang sudah mengenal Paulus sejak di Korintus (Kisah Rasul 18:1-3). Mereka sudah kembali lagi ke Roma. Tetapi ada satu bagian yang penting Paulus catat di sini mengenai sikap pelayanan dari Priskila dan Akwila. “Mereka adalah rekan kerjaku yang mempertaruhkan nyawanya bagi aku.” Pada waktu mereka berada di Korintus, Alkitab mencatat Paulus tinggal di rumah mereka dan menjadikan rumah mereka menjadi tempat pelayanan. Setelah mereka kembali ke Roma, Alkitab juga mencatat rumah mereka juga menjadi tempat pelayanan dimana orang-orang Kristen berkumpul dan berbakti.

Kita mungkin tidak diperlengkapi Tuhan dengan berkelebihan seperti Febe di dalam material blessing tetapi kita juga bisa menjadikan rumah kita yang sementara menjadi spiritual home yang indah bagi banyak orang. Gereja sekarang ini sangat berbeda dengan gereja-gereja rumah yang ada pada waktu era Gereja Mula-mula. Dalam gereja-gereja rumah kita bisa melihat ada interaksi mereka yang jauh lebih terbuka dan jauh lebih transparan. Tidak gampang membuka rumah untuk orang datang berbakti dan di situ rumah kita dilihat dan terbuka bagi orang yang lain. Lebih mudah kita berkumpul di satu tempat umum dimana rumah kita tidak menjadi tempat orang lain bisa lihat. Di situ orang bisa melihat dapur kita, di situ orang bisa melihat berantakannya rumah kita, di situ interaksi dengan anak kita, dengan anggota keluarga kita dan orang-orang yang tinggal bersama kita menjadi indah dan transparan tetapi sekaligus juga menjadi satu resiko yang tidak gampang dan tidak mudah. Banyak hal yang bisa kita pelajari sama-sama dalam bagian ini, bagaimana rumah kita menjadi rumah dimana kita kumpul, kita makan, menjadi tempat dimana komunitas kita sama-sama boleh membawa satu dua orang berinteraksi dan mengenal kita dan melihat inilah hidup orang Kristen berelasi satu dengan yang lain. Rumah menjadi tempat iman bertumbuh sama-sama saya rindu sdr mulai melihat itu. Jangan kejar mau beli rumah yang banyak hanya mencari material blessing tetapi kejar dan usahakan rumahmu menjadi spiritual blessing. Jangan kejar uang terlalu banyak tetapi jadikan uangmu sebagai spiritual blessing, itu yang paling penting.

John Nielson menulis buku “Bible Reading with Your Kids” bagi sdr yang memiliki anak-anak di rumah, buku ini mengajakmu membaca firman Tuhan one-to-one dengan anak sdr. Dia memperlihatkan window opportunity anak itu akan bilang kepada orang tuanya “your God is my God, your faith is my faith, your church is my church” adalah umur 4-14 tahun, dan itu adalah moment yang sangat crucial. Statistik memperlihatkan jika kita tidak menangkap kesempatan itu baik-baik, we will lose that generation. Data dari hasil riset di Eropa sudah memperlihatkan betapa pentingnya Fatherhood Factor itu bagi pertumbuhan spiritual anak-anaknya. Anak yang dibawa ke gereja oleh ayah dan ibunya, 33% dari anak-anaknya sampai remaja pemuda akan tinggal di gereja dan bertumbuh rohaninya. Ketika seorang ayah tidak ke gereja, tidak berdoa dengan anaknya, dan hanya mama yang bawa anak itu ke gereja, yang stay sampai remaja di dalam gereja menjadi 3%. Seringkali kita bilang biarlah mama yang mendidik secara rohani karena papa sudah cape kerja akhirnya menjadi pasif dan tidak proaktif bagi pertumbuhan spiritual anaknya, tidak pernah mengajak mereka berdoa dan membaca Alkitab dan kita pikir mama is the factor bagi pertumbuhan spiritual anak. Data ini mengatakan, bukan. Data itu memberitahukan kepada kita fatherhood factor yang sangat penting, papa baca Alkitab duduk sama-sama anak, bawa anak ke gereja, di rumah, di mobil, ketika kita bicara indahnya gereja, indahnya pelayanan, it will effect anak kita. Kita tidak bisa mempersalahkan gereja kalau anak kita tidak mau ke gereja, tetapi apakah kita sudah menjadikan rumah kita sebagai rumah spiritual bagi mereka? Jadi bukan dari dengar khotbah, bukan ke Sekolah Minggu setiap minggu, tetapi dalam hidup sehari-hari papa berinteraksi dengan anak-anaknya membawa mereka kepada satu prinsip spiritual talk yang sederhana, itu akan membuat anak ini tumbuh dalam iman di dalam Tuhan.

Bersyukur untuk contoh dan teladan dari pelayan-pelayan Tuhan dan hamba-hamba Tuhan. Biar kita memakai waktu kita yang sementara menghasilkan nilai rohani yang kekal adanya. Biar setiap blessing yang kita terima menjadi ucapan syukur kita bahwa Allah yang memberi dengan limpah, Allah yang memberi dengan kecukupan, Allah yang memberi mendatangkan satu sukacita dan syukur kita kepadaNya. Jikalau kita diberi banyak dan lebih oleh Tuhan, biar kita boleh melihat itu menjadi satu sukacita kita dan tanggung jawab kita memberikan bagi pekerjaan dan pelayanan Tuhan yang menjadi lebih luas dan lebih besar. Apa yang kita dengar hari ini kiranya menjadi berkat yang besar di dalam hidup kita masing-masing, supaya kita juga menjadikan apa yang ada dalam hidup keluarga dan rumah tangga kita menjadi harta rohani bagi kita semua.(kz)