Impian yang Gagal dan RencanaNya yang Ajaib

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (39)
Tema: Impian yang Gagal dan RencanaNya yang Ajaib
Nats: Roma 15:22-33

Tidak ada orang yang tidak mempunyai tujuan di dalam hidup ini; tidak ada orang yang tidak mempunyai mimpi di dalam hidup ini. Orang tua yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri tentu dengan keinginan agar anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang baik dan bisa melakukan satu terobosan daripada yang sudah dilakukan orang tuanya. Maka orang tua mengumpulkan uang dengan susah payah, dengan mimpi dan harapan agar generasi selanjutnya punya kesempatan lebih luas untuk meraih hidup yang lebih baik. Namun seringkali orang tua mengeluarkan air mata ketika impian dan harapan itu menjadi hancur lebur dan gugur di tengah jalan pada waktu anak yang study di luar negeri berakhir dengan terjerat oleh drugs dan hutang. Engkau punya mimpi untuk membangun bisnis dengan teman baik yang engkau kenal di gereja dan sama-sama ingin membangun bisnis supaya usaha dan bisnis itu berjalan lancar dan baik, tetapi ternyata bisnis itu tidak jalan sebab uang modal usaha bersama itu habis ludes karena keserakahan. Seorang hamba Tuhan memulai pelayanan dengan satu kerinduan dan keinginan pelayanan itu menjadi besar. Apakah saya mempunyai impian dan harapan dalam pelayanan? Tentu ada. Apakah saya punya tujuan, apakah saya punya goal dan keinginan satu jemaat yang seperti apa dan satu pelayanan yang seperti apa yang ingin kita kerjakan? Jelas ada. Kita rindu memiliki gedung gereja sendiri, namun setelah memiliki gedung kita mungkin menghadapi masalah. Kita rindu jemaat bertumbuh dengan sehat, kita ingin ada bagian-bagian section yang indah, dengan sehatnya jemaat maka mekanisme pelayanan itu menjadi indah karena semua orang bisa memakai bakat, karunia dan talentanya dan bisa saling support satu dengan yang lain. Betapa saya merindukan komunitas yang indah seperti itu. Kita merindukan bukan saja kita memperhatikan kebutuhan keinginan pelayanan kita, tetapi kita juga menjadi orang yang sensitif memperhatikan satu dengan yang lain, tidak perlu disuruh dan diminta, kita menjadi satu komunitas yang melayani Tuhan. Betapa indah jika semua itu tercapai. Tetapi biar kita boleh lihat bagian ini memberikan kepada kita satu perspektif yang benar, bagaimana dari pengalaman hidup Paulus ini kita bisa belajar ketika apa yang kita inginkan, apa yang kita cita-citakan dan harapkan bisa jadi di tengah jalan remuk dan hancur, tetapi rencana dan kehendak Allah itu ajaib dan luar biasa di dalamnya. Mungkin dalam situasi seperti itu kita mau terus mempertahankan dan mencari jalan agar semua tujuan dan rencana kita tercapai tetapi mungkin akhirnya dengan cara yang berbeda. Mungkin kita berdoa kepada Tuhan tetapi kita mau berjalan di depan dan kita minta Tuhan mengikuti agenda kita, dan kadang Tuhan mengatakan tidak seperti itu. Dan pada waktu tujuan itu tidak tercapai, ketika impian itu pudar, bukan berarti Allah jahat kepada kita dan bukan berarti rencana dan kehendak Allah tidak tercapai dalam hidup kita.

Dalam bagian ini kita saksikan bagian hidup dari rasul Paulus di masa lalunya, untuk masa depannya, dan bagaimana Allah bekerja dalam hidupnya.

Pertama, Paulus berkata “aku selalu terhalang untuk mengunjungi kamu” (Roma 15:22) dalam terjemahan bahasa Inggris “This is the reason why I have so often been hindered from coming to you” [ESV]. Terlalu banyak hambatan, terlalu banyak kesulitan, terlalu banyak halangan, terlalu banyak apa yang aku rindukan, yang aku sudah rencanakan sejak lama, semuanya tidak bisa tercapai dan terlaksana. Tetapi meskipun Paulus mengatakan kalimat itu, tidak berarti Paulus kecewa dan putus asa, sebab di ayat 32 dia berkata, “Supaya aku dengan sukacita boleh datang kepadamu oleh kehendak Allah.”

Yang kedua, bukan saja di masa lalu tetapi di masa depan dia merencanakan, “Aku berharap dalam perjalananku ke Spanyol” (Roma 15:24) waktu Paulus tulis ini dia tidak tahu bahwa rencananya ternyata tidak akan pernah tergenapi sampai dia mati. Kita yang tahu dan Alkitab mencatat itu bahwa dia tidak sampai pergi ke Spanyol. Namun rencana di masa depan yang tidak terlaksana itu tidak membuat Paulus menjadi berhenti, dia terus melakukan apa yang dia bisa.

Kisah Rasul 27-28 mencatat bagian terakhir dari perjalanan rasul Paulus sejak dia ditangkap di Yerusalem dan beberapa tahun dia dipenjarakan di Antiokhia, kemudian karena naik banding, dia dikirim ke Roma untuk membawa perkaranya di hadapan kaisar. Kapalnya karam, setelah itu dia kemudian digigit oleh ular berbisa. Tetapi akhirnya dia bisa tiba di Roma dengan selamat. Dari situ kita bisa tahu bahwa jalannya, caranya Tuhan membawa dia ke Roma berbeda dengan apa yang dia rencanakan. Yang dia rencanakan adalah satu persekutuan yang indah, berlimpah dengan berkat-berkat spiritual di dalam kebebasan. Bahkan keinginan agar jemaat Roma mendukung dan menyertai dia ke Spanyol. Itu semua tidak terjadi. Di situ dia belajar bahwa ketika kita beriman dan berjalan ikut Tuhan, bagaimana kedaulatan dan kehendak Tuhan itu ada di depan. Ketika Tuhan merubah, tidak ada satu orang pun yang bisa mencegahnya; ketika Tuhan mencegah, tidak ada satu orang pun yang bisa merubahnya. Di situ kita sepenuhnya takluk kepada kedaulatan Allah, artinya segala sesuatu yang kita kerjakan ada di dalam kehendak dan kedaulatanNya. Ketika Allah bekerja dan menyatakan kehendakNya, Dia berdaulat; Dia yang atur; Dia yang take control. Maka Paulus katakan keinginannya seperti ini, dia tutup dengan kalimat “di dalam kehendak Allah.” Itulah yang membuat dia tidak menjadi takut, kecewa, di saat dia mengalami apa saja di dalam kesulitan dan jatuh bangun hidupnya. Banyak hal pengalaman hidup rasul Paulus ini menjadi relevan bagi setiap kita.

Paulus minta mereka berdoa, tetapi di depannya dia mengatakan, “Tetapi demi Kristus Tuhan kita dan demi kasih Roh aku menasehatkan kamu untu bergumul dalam doa bersama-sama dengan aku” (Roma 15:30). Struggle in prayer for me, and struggle in prayer with me. Kata “struggle” itu penting sekali. Ketika kesulitan dan tantangan datang, dan bahkan kegagalan terjadi dalam hidupmu, bagaimana engkau bersikap? Paulus tidak bicara sedikit hambatan yang dia alami, Paulus tidak bicara bahwa akhirnya dia tidak jadi ke Spanyol, Paulus juga tidak mempersoalkan caranya, metodenya, bagaimana Tuhan akhirnya menggenapkan apa yang menjadi rencananya untuk sampai ke Roma dengan cara yang berbeda. Dia tidak ke Roma sebagai orang bebas, tetapi sebagai orang tawanan. Bahkan, keinginannya kepada jemaat Roma itu tidak tercapai. Tetapi di akhir dari suratnya yang terakhir yaitu surat 2 Timotius, Paulus berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:7).

Jkalau kita melihat kondisi dan situasi sangat besar kemungkinan Kisah Rasul selesai ditulis oleh Lukas mungkin tidak meng-cover sekitar 4 tahun terakhir hidup Paulus. Jadi Kisah Rasul 28 adalah masih di awal dari Paulus tiba di Roma dan selama dua tahun pertama dia ditahan menjadi tawanan di rumahnya. Pada waktu itu dia msih mendapatkan perlakuan yang baik, kemungkinan karena influence dari teman-temannya atau ada orang Kristen yang bekerja dalam pemerintahan di parlemen atau di istana kaisar, dan pengaruh itu membuat Paulus bisa ditawan di rumah. Kita hanya mendapat dari surat 2 Timotius, setelah itu kondisinya menjadi lebih buruk.

Kita hanya bisa menduga kenapa sampai Lukas menulis kalimat ini dalam Kisah Rasul 28:30, “Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu, ia menerima semua orang yang datang kepadanya.” Kenapa Lukas sampai menulis kalimat “rumah yang disewanya sendiri”? Artinya di sini Paulus menyewa rumah itu dengan uang dari kantong sendiri. Kenapa Lukas mencatat itu? Bukankah sebelumnya dalam Roma 15 tadi Paulus jelas meminta jemaat Roma untuk mendukung pelayanan dia secara finansial? Bahkan Paulus memberikan prinsip itu: kalian yang sudah mendapat keuntungan secara spiritual dari bangsa Yahudi wajib memberikan dukungan secara material kepada orang Yahudi. Mari kemudian kita melihat kepada 2 Timotius. Jelas 2 Timotius adalah surat yang ditulis oleh Paulus setelah beberapa tahun kemudian dari Kisah Rasul 28 itu, sudah menjadi tahun-tahun terakhir pada waktu dia berada di dalam penjara karena setelah itu kita tidak mendapatkan lagi surat lain ditulis Paulus, berarti 2 Timotius adalah suratnya yang terakhir sebelum meninggal dunia. Di dalam 2 Timotius 1:15 Paulus berkata kepada Timotius, “Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling daripadaku, termasuk Figelus dan Hermogenes.” Kemudian dalam 2 Timotius 4:16-17 Paulus berkata, “Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semua meninggalkan aku – kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka. Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.” Paulus mengatakan kepada jemaat Roma, kalau aku datang kepadamu aku akan menikmati persekutuan yang indah bersama kalian. Aku akan memberikan berkat-berkat spiritual yang indah untukmu dan aku percaya kalian juga akan memberikan kesegaran bagiku. Di awal kita melihat ketika Paulus akhirnya sampai di Roma, banyak orang datang kepada Paulus pada waktu dia menjadi tawanan di rumahnya. Tetapi dengan kalimat “rumah yang disewanya sendiri,” kita menemukan indikasi kenapa jemaat Roma tidak mendukung dia? Pada waktu trial jelas sekali Paulus mengatakan no one in my side. Mungkin mereka takut dengan tekanan, dsb. Bukan saja demikian, Paulus bilang orang-orang yang di Asia Kecil tahu bahwa Paulus sudah dipenjarakan, tidak ada satu pun orang yang berada bersama-sama dengan dia tetapi Allah yang mendampinginya sampai akhir. Itu yang menjadi kekuatan bagi dia. Inilah artinya takluk kepada kehendak Allah, kedaulatan Allah, meskipun tidak ada orang yang mendampingi aku, Allah mendampingi aku sampai akhir. Itu hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Di awal pada waktu dia dipenjara, orang masih datang. tetapi empat tahun, enam tahun sudah dipenjara, satu pun tidak ada yang berani muncul di dalam hidup pelayanannya. Maka kalau seperti itu apa yang engkau dan saya akan lakukan? Ini bukan saja dalam area pelayanan. Banyak hal dalam hidup sdr, kerja ini gagal, lakukan itu gagal. Sedih sekali kalau mendengar hamba Tuhan bercerita, buka gereja di sini tutup, buka gereja di situ tutup. Doa supaya anaknya mau menjadi hamba Tuhan, tidak ada yang mau. Sama seperti sdr, buka toko tidak laku, buka jualan tidak jalan. Bisnis sama dia, ditipu. Bikin begini, gagal. Engkau percaya Tuhan berjalan bersamamu, tetapi realita hidup seperti ini.

Selain taat pada kehendak Allah, hal yang kedua muncul. Tidak ada cara lain dan tidak ada pintu lain selain engkau membawa pergumulanmu dalam doa. Maka Paulus katakan itu kepada jemaat Roma, please I urge you to struggle in prayer with me and for me (Roma 15:30). Berdoa menyatakan satu ekspresi ketergantungan mutlak kita ketika kita datang kepada Allah dalam doa karena Allah mendengar seru doamu. Paulus hanya minta hati jemaat untuk bergumul bersama dia dan berdoa bagi dia. Pray with me and pray for me. Ini perlu menjadi kebiasaan dan kedewasaan rohani daripada setiap jemaat Tuhan dimana engkau bukan saja meminta pendeta mendoakanmu, tetapi pendeta juga meminta jemaat berdoa untuk dia. Pray for your pastor. Bukan saja berdoa bagi gembalamu, engkau juga perlu berdoa bagi para pekerja Tuhan yang lain. Kenapa? Why do you need to pray for your pastor? Pertama, karena pelayanan itu sifatnya sulit sekali. Ministry is so difficult. Ministry berbeda dengan service. Kalau service atau jasa, satu-satunya hal yang kita fokus adalah kita harus menyenangkan customer. Kalau engkau bekerja di bagian produksi, satu-satunya hal yang kita fokus adalah memproduksi produk yang the best supaya bisa bersaing dengan yang lain. Tetapi sdr yang bekerja di bagian service tahu, bukan? Meskipun produk yang engkau hasilkan tidak lebih baik daripada toko sebelah, tetapi service kepada customer lebih baik, maka mereka akan puas datang kepadamu. Kalau sdr buka restoran, orang itu bilang makanannya dingin, segera ganti dengan yang hangat; dia bilang panas, ganti dengan yang hangat; dia bilang kecil, kasih yang besar. Itulah service. Service itu menyenangkan customer. Tetapi pelayanan tidak begitu. Dalam pelayanan kita tidak boleh punya mentalitas seperti itu. Jemaat itu bukan customer. Kita tidak boleh mempunyai mental itu. Khotbah itu bukan motivational. Khotbah itu bukan untuk menyenangkan orang. Khotbah itu bukan penghiburan. Khotbah itu bukan stand-up comedy. Khotbah itu adalah membawa hati Allah kepada jemaat sekaligus membuat hati dan pikiran dari jemaat connect dengan rencana dan kehendak Allah; connect dengan keselamatan Allah. Itulah ministry. Dan ministry sulit sekali.

Dalam Galatia 1:10 Paulus berkata, “Jadi bagaimanakah sekarang? Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia maka aku bukanlah hamba Allah.” Kemana direksinya, menyenangkan orang atau menyenangkan Tuhan? Kemana fokusnya? Kalau ministry adalah untuk menyenangkan orang, mudah sekali. Just focus to please people. As simple as that. Tetapi ketika engkau mau menjalani pelayanan yang berkenan kepada Allah, engkau melakukannya untuk membawa hati Allah kepada manusia dan membuat hati, pikiran dan kehendak orang itu connect dengan kehendak dan keselamatan Allah. Maka di situ saya memperkenankan manusia dan di situ saya memperkenankan Allah.

Kedua, Paulus memberikan dua hal spesifik yang akan dia hadapi di depan. “Supaya aku terpelihara dari orang-orang yang tidak taat di Yudea dan supaya pelayananku untuk Yerusalem disambut dengan baik oleh orang-orang kudus di sana.” Pertama, berdoa bagi hamba-hamba Tuhan agar Allah melindungi mereka dari tangan musuh, dari orang tidak percaya kepada Injil. Ada terlalu banyak musuh Injil. Ada roh-roh di udara, ada halangan dari Iblis, ada tipuan dan godaan Setan yang bisa menghancurkan pelayanan. Kita akan hadapi itu terus-menerus. Doakan hamba-hamba Tuhan yang besar dan yang mempunyai posisi yang prominent dan pada waktu mereka mengalami kegagalan menjadi sesuatu yang menyedihkan dan mengecewakan.

Kedua, Paulus meminta jemaat berdoa agar pelayanannya dapat diterima, karena kesalah-pahaman dan ketidak-relaan jemaat menerima pelayanan bisa menciptakan penolakan. Paulus memang membawa persembahan uang yang dikumpulkan dari jemaat Makedonia dan Akhaya, dia melakukan hal yang baik, tetapi kenapa perlu didoakan agar mereka bisa menerima pelayanan Paulus kepada mereka? Karena pelayanan bukan hal yang mudah. Bukan saja bagi hamba Tuhan, bagi setiap orang yang melayani apa saja, yang melayani di Sekolah Minggu, yang melayani di paduan suara, yang melayani di dapur, kebersihan, yang melayani di depan, pelayanan apa saja, ministry is so difficult. Engkau memberi waktu yang banyak, orang tidak menghargai. Engkau sudah melayani anak-anak Sekolah Minggu baik-baik, salah sedikit anak jatuh dan lecet, pakai band-aid, orang tuanya ngoceh. Lalu kamu tersinggung, bilang, kalau begitu kamu saja yang jadi guru! Betapa mudah terjadi hal yang tidak enak. Sdr siapkan makanan, yang satu dapat paha, yang satu dapat leher, ngomong dia, dan kedengaran sama telingamu dan engkau tersinggung dan marah. That is ministry. Engkau dipercayakan menjadi bendahara, hitung uang untuk retreat, sudah hitung sepuluh kali, masih saja ada selisih $100, entah bagaimana. Tetapi harus balance. Susah cape sdr hitung, masih harus keluar $100 dari kantong buat menutupi, sudah itu, masih saja ada yang ribut akhirnya masuk ke dalam hatimu menjadi kepahitan. Maka Paulus bukan saja minta jemaat berdoa baginya menghadapi hal-hal yang dari luar, tetapi juga pelayanan yang di dalam.

Terakhir, impian, cita-cita dan harapan bisa tidak tercapai dan gagal tetapi rencana Allah tidak pernah gagal di dalam hidup kita. Jalan Tuhan itu indah pada waktunya. Pekerjaan Tuhan itu misteri dalam hidup kita. Kita hanya bisa tunduk doa, berserah sama Tuhan. Kalau rencana dan impianmu dirubah oleh Tuhan, diremukkan oleh Tuhan, dikoreksi sama Tuhan, tujuannya apa? Bukan karena Tuhan kita jahat, tetapi semua itu memberitahukan kepada kita, kita hanyalah bejana yang mudah pecah dan rapuh, supaya bejana itu bisa dibentuk lagi menjadi lebih baik. Sejak abad 15AD di Jepang mangkuk-mangkuk dan bejana porselen yang pecah tidak dibuang tetapi direparasi kembali. Bejana yang pecah itu diperbaiki dan direkat dengan lem yang dicampur dengan serbuk emas. Teknik reparasi ini disebut sebagai kintsugi. Dengan teknik reparasi itu, bukan saja bejana itu bisa dipakai lagi tetapi ternyata malah membuat nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan bejana yang utuh. Sekarang orang pergi ke Jepang mencari mangkuk dan bejana yang seperti itu karena nilainya jauh lebih berharga dan bernilai.

Kalau sdr mau menjadi pengurus, menjadi majelis, menjadi pelayan di rumah Tuhan, bersiap sedialah untuk diremukkan Tuhan lebih dulu untuk kemudian dibentuk olehNya; bersedia untuk dicambuk dan didisiplin oleh Tuhan; bersedia untuk semua itu bukan karena Tuhan jahat kepadamu, tetapi biar engkau menjadi kintsugi. Kadang impian dan harapan kita pupus dan kita menjadi tawar hati dan putus asa, tetapi lihat kepada perspektif pembentukan Tuhan yang indah bagimu.

Banyak orang mau punya nama yang harum tetapi tidak bersedia untuk dibakar seperti dupa. Banyak orang mau cemerlang seperti emas, tetapi tidak mau melewati proses pemurnian lewat peleburan yang panas. Banyak orang mau tajam, tetapi tidak mau diasah oleh Tuhan. Banyak orang mau dipakai pelayanan tetapi tidak mau menjadi bejana tanah liat yang di-mold oleh Tuhan.

Terkadang tujuan hidupmu, impian dan harapanmu, rencanamu, bisa shattered, bisa hindered, bahkan mungkin tidak pernah tergenapi, tetapi engkau akan melihat kedaulatan Allah berkarya di dalam engkau. Yang engkau perlukan adalah bergumul bersama Allah dan bertekun. Jangan pernah lari. Bangkit dan mendakilah selangkah demi selangkah. Mungkin sudah maju dua langkah, harus jatuh empat langkah, berdiri lagi, berjalan lagi. Meskipun engkau harus menjalaninya seorang diri, jangan patah semangat karena Allah ada besertamu. Yang engkau perlukan hanyalah berlutut dan berdoa. Di tengah kesulitan, sama-sama bawa anak-anak dan keluargamu berdoa kepada Tuhan. Waktu engkau menoleh ke belakang, engkau baru sadar ketika orang itu mau menjadi bejana yang dibentuk oleh Tuhan, percayalah engkau akan dibentukNya menjadi kintsugi-kintsugi yang indah olehNya. Tidak apa diremukkan oleh Tuhan, tidak apa dibakar dan dimurnikan, tidak apa ditempa Tuhan, tidak apa diasah, karena melaluinya Allah akan menjadikanmu a beautiful person.(kz)