God is Able to Strengthen You

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (42)
Tema: God is Able to Strengthen You
Nats: Roma 16:17-27

Banyak hal kita tidak pernah melihat dan mengetahui berita-berita mengenai apa yang terjadi dalam Kekristenan dari sumber berita mainstream yang besar; kita hanya bisa mendapatkannya dari newsletter seperti Open Doors, Barnabas Fund atau dari berita-berita Kristen seperti Christian Post, atau Christianity Today, mengenai penganiayaan dan tekanan yang mungkin dialami oleh anak-anak Tuhan dari berbagai belahan muka bumi ini. Ada satu riset yang penting yang meriset Kekristenan secara global namanya “Pew Research” [pew adalah kursi kayu yang panjang dalam gedung gereja]. Pew Research baru saja merilis data-data yang menunjukkan saat ini kurang lebih ada 144 negara dimana Kekristenan mengalami tekanan dan penganiayaan. Minggu lalu 5 pekerja sukarelawan wanita Kristen yang berdedikasi luar biasa melayani orang-orang di India diperkosa secara massal hanya karena mereka orang Kristen. Pada waktu kita mendengar hal-hal seperti ini, kita hanya bisa berseru, “Oh Tuhan, mengapa Engkau membiarkan hal-hal seperti ini terjadi? Dimana kuasaMu? Dimana perlindunganMu? Dimana pertolonganMu?” Sedih luar biasa hal-hal seperti itu bisa terjadi. Kita merasa tidak berdaya, kita begitu terbatas, dan akhirnya di tengah semua itu hati kita bisa sedih, kecewa dan cape. Tetapi kita harus menyadari bahwa hambatan-hambatan itu tidak akan berhenti. Belum selesai satu, kita hadapi hal yang lain. Belum selesai satu, kita akan hadapi hal-hal yang lain. Dalam kehidupan bergereja dan berjemaat kita juga bisa mengalami tantangan secara internal. Kesulitan yang bisa membuat kesatuan itu terpecah di dalam kehidupan bergereja, perselisihan satu gereja dengan gereja yang lain. Hamba Tuhan yang satu bisa iri kepada hamba Tuhan gereja yang lain, dst. Tetapi saya mengharapkan dan merindukan kita terus berjuang bagi pekerjaan Tuhan. Kita tidak boleh lalai, kita tidak boleh tutup mata, kita tidak boleh takut, kita tidak boleh kecewa terhadap segala hambatan yang datang tidak ada henti-henti dan habis-habisnya.

Hari ini kita sampai kepada Roma 16:17-27, bagian terakhir yang akan kita selesaikan dari seri eksposisi surat ini. Kita bisa menemukan banyak nada yang begitu emosional dari rasul Paulus di sini. Nanti kita bisa melihat konteksnya, kira-kira dimana dia menulis surat Roma ini, dalam keadaan kondisi yang bagaimana dari situ kita bisa menyelami hati dan perasaannya. Di tengah Paulus bicara hanya mengenai relasi pribadi persekutuan jemaat sebagai satu komunitas dengan segala kesulitan yang ada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba Paulus menyebut satu oknum, satu roh yang harus kita waspadai. “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” (Roma 16:20). I believe God will soon crush Satan. Itu adalah satu seruan yang mengingatkan kita bahwa kehidupan gereja tidak terlepas daripada spiritual warfare, peperangan rohani yang kita harus waspadai. Dia bisa menjadi bisikan yang sayup-sayup di telinga kita, seperti bisikan Petrus kepada Yesus ketika Yesus bicara bahwa Dia akan mati di kayu salib, “Kiranya dijauhkan daripadaMu akan hal itu” sehingga dengan keras Yesus menegur dia, “Enyahlah Iblis, engkau satu batu sandungan bagiKu sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:21-23).

Dalam bagian ini Paulus berkali-kali menyatakan satu frase “berjaga-jagalah dan waspadalah” sebagaimana Tuhan Yesus Kristus senantiasa mengingatkan hal yang sama. Ini adalah satu panggilan yang tidak mudah. Bayangkan diri kita 24 jam sehari, siang malam harus berjaga seperti gembala yang menjaga domba, mungkin di siang hari masih bisa alert dan gampang, tetapi malam hari ada serigala bisa menyelinap masuk; pada malam hari ada domba yang tersesat dan tidak bisa menemukan kandangnya. Hal itu adalah hal yang melelahkan luar biasa. Tidak heran, gampang dan mudah orang-orang yang melayani Tuhan dengan segala tantangan seperti ini bisa menjadi undur dan bertanya apakah semua pengorbanan itu ada gunanya? Dan seperti Petrus berkata kepada Yesus, “Kami sudah meninggalkan segala sesuatu, apa yang kami peroleh sebagai balasannya?” Terlebih lagi pada waktu sdr melayani sebagai volunteer di gereja, sdr yang mendukung pekerjaan Tuhan harus korbankan segala sesuatu dan sdr tidak mendapat apa-apa. Apakah kita bisa tetap bertahan mengerjakan pekerjaan Tuhan itu? Tetapi jikalau kita semua mundur dan kecewa, lalu siapa yang berjaga-jaga dan waspada dan mencintai pekerjaan Tuhan dari serangan-serangan seperti itu? Paulus berkata, “Waspadalah terhadap mereka yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, yang menimbulkan perpecahan dan godaan. Hindarilah mereka!” (Roma 16:17). Kesatuan tidak akan terjadi tanpa kemurnian ajaran. Kesatuan tidak akan terjadi tanpa kedewasaan rohani. Unity with purity, maturity and truth. Ketiganya harus menjadi fondasi yang paling penting bagi sebuah unity. Dan itu dimulai dari kita orang yang waspada, kita menjadi orang yang mencintai pekerjaan Tuhan, kita tidak boleh lelah mencegah,melindungi, membentengi pekerjaan Tuhan itu dari serangan yang tidak habis-habisnya dari luar dan dari dalam, dari orang-orang yang memang tidak mencintai Tuhan dan tidak mencintai pekerjaan Tuhan tetapi berada di dalam pekerjaan Tuhan. Dan itu membutuhkan sikap hati yang luar biasa waspada.

Yang kedua, Paulus mengingatkan jemaat untuk waspada karena saat menulis surat ini dia berada dalam satu persoalan yang begitu membuat dia overwhelmed. Paulus begitu berat hati karena dia sadar ini adalah satu perpisahan dan dia tidak bisa balik kembali di antara sahabat-sahabat dan rekan kerjanya. Di situ Paulus mengatakan, “Bahkan di antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka, sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa aku tiga tahun lamanya siang dan malam dengan tiada berhenti-hentinya menasehati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karuniaNya yang berkuasa membangun kamu dan yang menganugerahkan kepada kamu bagian yang telah ditentukan bagi semua orang yang dikuduskannya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang lemah dan mengingat pekerjaan Tuhan Yesus. Sebab Ia sendiri telah mengatakan adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Maka menangislah mereka semua dengan tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita terlebih-lebih karena ia katakan bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal” (Kisah Rasul 20:30-38).

Paulus tahu pengajar-pengajar sesat itu, selain pengajaran yang menyimpang daripada Injil yang sejati, Paulus juga menyatakan bahwa motivasi mereka, cara pendekatan mereka membuat orang-orang Kristen yang sederhana, yang menerima semua apa adanya, terlalu gampang dan terlalu mudah mereka dibawa kepada pengajaran itu. Maka caranya, pendekatan pelayanannya, walaupun kelihatannya sangat baik, sangat rohani, tetapi motivasinya tidak tulus. Mereka tidak melayani Tuhan, tetapi melayani perut mereka sendiri. “Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus Tuhan kita tetapi melayani perut mereka sendiri dan dengan kata-kata yang muluk-muluk dan bahasa yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya” (Roma 16:18). Melayani perut mereka sendiri, apa maksudnya? Bukan saja orang-orang ini tamak,bukan saja mereka mencari kekayaan di dalam pelayanan, dsb. Tetapi kalau kita lihat secara konteksnya, dalam Roma 14:17-18 “Sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman tetapi soal kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani dengan cara seperti ini dia berkenan kepada Allah dan dihormati oleh manusia,” orang-orang ini adalah orang-orang yang sangat menekankan hidup rohani identik dengan tata cara dan soal tradisi aturan makan  dan minum. Ini adalah kelompok yang lebih mementingkan aspek yang sekunder, yang eksternal dan bukan perubahan hati dari dalam, yang mengukur dengan makan ini dan itu, dsb.

Satu hal yang menarik, dari doxology yang muncul berkali-kali Paulus seolah sudah menutup suratnya, tetapi kemudian dia mulai lagi bicara tentang topik yang baru. Itu berarti apa? Saya percaya itu adalah sambungan seminggu selanjutnya, waktu surat itu sudah selesai dan hendak dibawa ke Roma, tiba-tiba hati tergerak, lalu dia minta Tertius, juru tulisnya, menambahkan beberapa pasal lagi. Maka berarti Roma 16:17 mungkin ditulis setelah Paulus mendengar kabar-kabar dan situasi yang telah terjadi di beberapa gereja termasuk di Roma, sehingga Paulus sudah pakai kata definite article ‘those people’ berarti bukan lagi dia katakan bahwa pengajar-pengajar sesat akan muncul, tetapi orang-orang ini sudah ada. Ada orang-orang yang tadinya Paulus katakan masih belum memiliki pemahaman yang dalam, yang perlu dibimbing dan diajar, ternyata sekarang mereka sudah menjadi orang-orang yang menyimpang dari pengajaran Injil yang sejati, lebih menekankan konsep rohani yang bersifat eksternal. Paulus katakan hindari dan jauhi orang-orang seperti ini. Tentu tidak berarti memusuhi pada awalnya, Paulus katakan jikalau satu dan dua kali mereka telah diperingatkan. Apa yang Paulus ingin tekankan dan ajarkan bagi setiap kita dalam kehidupan kita sehari-hari adalah bertumbuh mencintai kebenaran Tuhan, itu adalah satu esensi yang penting. Maka Paulus katakan, “Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat” (Roma 16:19).

Lalu Paulus tutup suratnya dengan menyebutkan beberapa rekan kerja. Rekan kerja Paulus terbagi dua. Yang satu adalah rekan-rekan kerja yang sebangsa, sama-sama orang Yahudi. Ada Timotius, Lukius, Yason, dan ada Sosipater (Roma 16:21). Lalu ada salam secara khusus “dari Tertius, yaitu aku yang menulis surat ini,” tertius adalah juru tulis Paulus (Roma 16:21). Dan Tertius mengatakan, aku yang menulis surat ini, dari situ kita tahu Paulus punya problem dengan matanya sehingga tidak bisa menulis surat dengan tangannya sendiri. Dari surat Galatia 4:15 kita mendapat hal ini, jemaat menjadi sangat kasihan dan ingin mencongkel matanya untuk Paulus. Itu berarti penderitaan Paulus karena sakit matanya  begitu luar biasa sampai jemaat itu tidak tega. Tidak heran kenapa di surat 2 Korintus 12:8 Paulus menginginkan duri itu dicabut darinya, sangat besar kemungkinan adalah persoalan mengenai sakit matanya yang luar biasa itu, dan itu mempengaruhi dia tidak bisa lagi melihat dengan jelas dan menulis surat. Kenapa bisa ada problem dengan matanya? Problem itu muncul karena Paulus telah melihat sinar terang kemuliaan Yesus Kristus dalam perjalanannya ke Damaskus [lihat Kisah Rasul 9]. Bukankah Tuhan sudah sembuhkan? Ya. Tetapi pada saat yang sama sekaligus itu memberitahukan kepada kita ketika kita menyaksikan kemuliaan Allah yang besar itu, Ia sendiri bilang tidak ada orang yang bisa menghampiri terang kemuliaan Allah, kita pasti mati. Maka orang yang melihat kemuliaan Allah dan Allah menyembuhkan dia, bekas pertemuan orang dengan kemuliaan Allah ada di dalam diri orang itu. Dan itu adalah bekas yang tidak akan pernah membuat kita membanggakan diri tetapi bekas yang membuat kita merendahkan diri, humble dan gemetar. Melihat kemuliaan Allah membuat kita menyadari kita tidak ada apa-apanya; membuat kita menjadi tahu Allah adalah Allah yang besar luar biasa. Dan orang-orang seperti itu, walaupun dia berkata saya belum melihat kemuliaan Allah tetapi engkau dan saya bisa melihat ada tanda-tanda spiritual dari diri orang yang berjumpa dengan Allah. Pada waktu orang itu melayani dengan kesulitan dan air mata dan dia melihat itu sebagai kemuliaan yang tidak bisa diganti dengan apa pun juga. Dari sini kita bisa melihat penderitaan, kesulitan dan sakit yang kita alami hari ini tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita terima nanti. Selanjutnya nama-nama yang dicatat adalah kelompok orang yang powerful, yang kaya raya, dan mereka adalah kelompok non Yahudi. Gayus yang memakai rumahnya dan Paulus menyebut orang ini men-support pelayanannya. Erastus, bendahara negeri dan Kwartus, saudara kita (Roma 16:23). Ini adalah kelompok-kelompok orang yang melayani di tengah pelayanan Paulus.

Paulus mengakhiri suratnya dengan kalimat yang indah dan penting dan menjadi doxology, “Bagi Dia yang berkuasa menguatkan kamu menurut Injil yang kumasyurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia yang didiamkan berabad-abad lamanya tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman, bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (Roma 16:25-27) Allah mampu, Allah berkuasa menguatkanmu. God is able to strengthen you.  Paulus secara unik mengatakan “my Gospel” [dia tidak mengatakan “the Gospel”] dia mempunyai alasan dan tujuan Injil yang sejati adalah Injil apostolik, Injil yang sejati berarti Injil yang kita terima dari kesaksian para nabi benang merahnya sampai kepada kesaksian para rasul di dalam Perjanjian Baru. Sehingga setiap kali kita menyatakan Pengakuan Iman “Aku percaya kepada Gereja yang kudus dan universal” kalimat itu mengingatkan gereja yang sejati adalah gereja yang unity in Christ; gereja yang sejati adalah gereja yang apostolik, artinya sesuai dengan pengajaran para nabi dan rasul di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Gererja itu universal, artinya orang-orang di berbagai tempat, di sepanjang jaman, dimana saja, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, itulah gereja Tuhan. Gereja Tuhan tidak dibatasi oleh dinding gereja, tidak dibatasi oleh denominasi, gereja Tuhan adalah gereja yang apostolik dan universal. Siapa saja yang berkumpul dalam nama Tuhan, mereka mencintai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, itulah gereja yang sejati.

Bagian doxology adalah bagian yang penting sekali. Kita bisa menyaksikan keindahan daripada Alkitab, pada waktu berbicara ada tantangan kesulitan, selalu diakhiri dengan doxology, artinya kita senantiasa dibawa untuk mengingat fokus kita bukan kepada dunia yang kelihatan ini tetapi kepada Allah yang agung dan mulia itu, yang bagiNya segala kemuliaan dan hormat kita bawa kembali kepadaNya. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Roma 15:13). “Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin” (Roma 15:33). “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” (Roma 16:20). “Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian! Amin” (Roma 16:24).

Doxology dari kata doxa [glory] dan logy [saying], doxology berarti kumpulan kata-kata pujian kepada Allah yang membawa kita kembali fokus segala mulia bagi Dia, oleh Dia, dan untuk Dia. Setiap kali Paulus menyelesaikan suratnya, dia menutupnya dengan doxology. Hanya dengan itulah engkau tidak lagi melihat kesulitan-kesulitan dan tantangan menjadi hal yang penting di dalam hidupmu. Doxology membuat kita mengerti dan memahami ada pengharapan, ada kekuatan, kita sanggup bisa melewati akan hal itu. Doxology berarti menyadari Allah berkarya dan bekerja, sehingga kita tidak pernah menjadi devastated terhadap apa yang terjadi dalam hidup kita. Mulailah hidupmu dengan doxology pada waktu bangun pagi hari dan pada malam hari pada waktu kita akan mengakhiri hidup kita selesai satu hari itu, kita berkata “Tuhan, Engkau sustain saya boleh selesai lewat pada hari ini.” Kalau tidak ada doxology, tidak ada kemuliaan Allah mengakhiri segala sesuatu, kita akan segera kecewa, kita akan cape, kita akan takut, kita akan kuatir. Hambatan demi hambatan akan terus ada. Tetapi kita dipanggil oleh Tuhan untuk menyingkirkan hambatan dan kita jangan taruh lagi di depan, karena cepat atau lambat kita akan hadapi lagi. Itulah sebabnya Paulus katakan kepada setiap jemaat, kita mencintai apa yang benar, menjauhi apa yang salah, lalu kemudian Tuhan menguatkan kita menghadapinya. Ketika kita mengaku Allah yang menguatkan kita, di situlah kita kuat. Pada waktu kita ingat Injil Yesus Kristus dimana Ia telah mati di kayu salib, di situlah menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita. Pada waktu kita mengingat penderitaan Yesus Kristus dipaku di kayu salib dan Ia berseru “Eli, Eli, lama sabakhtani, Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” itu menjadi kekuatan dan pertolongan bagi kita pada waktu kita mungkin berjalan tersendiri di dalam hidup kita. Pada waktu kita mengatakan kepada Tuhan, “Engkau sanggup, Engkaulah yang memberikan kekuatan kepadaku melalui Injil ketika menghadapi semuanya,” kita balik lagi, kita baca firman Tuhan lagi, kita renungkan apa yang menjadi janji Tuhan dan itu menjadi kekuatan dan penghiburan bagi setiap kita lagi. Pada waktu kita mengalami kelemahan mari kita berkata, “Tuhan, Engkau sanggup.” Pagi hari kita bangun membawa hidup kita di dalam doa, malam hari kita tutup dengan percaya dan beriman Tuhan akan sustain kita sehingga kita bisa tidur malam hari dan kita bangun dengan kuat besok hari. Saya percaya perjalanan hidup kita, perjalanan kita melayani Tuhan, akan seperti itu adanya. Ke depan, sebagai anak-anak Tuhan dan gereja Tuhan, kita akan menghadapi tantangan dan serangan yang tidak ada habis-habis dan henti-hentinya. Firman Tuhan memanggil kita untuk waspada, take courage, jangan pernah cape, jangan pernah lelah di dalam memperjuangkan pekerjaan Tuhan. Yang kita kerjakan memberikan tongkat estafet kepada generasi yang akan datang dengan jiwa dan contoh teladan, dengan ketekunan dan kedewasaan, dengan kesabaran dan hati yang tidak pernah lelah. God will strengthen you through the Gospel. Kiranya firman Tuhan meresap ke dalam hati kita, memimpin hidup kita. Hanya Allah yang sanggup dengan kekuatanNya menopang setiap kita. Kita bersyukur mengakhiri pembahasan surat yang luar biasa indah ditulis oleh rasul Paulus ini, menjadi satu harta rohani yang berharga bagi gereja Tuhan untuk kita terima, kita pahami dan jalankan dalam hidup kita.(kz)