Apakah Artinya Menjadi Rekan dan Sahabat

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (40)
Tema: Apakah Artinya Menjadi Rekan dan Sahabat
Nats: Roma 16:5-24

Berbeda bangsa, berbeda etnis, berbeda jarak, tidak membuat affection itu berubah; kita bisa saksikan affection in Christ dari rasul Paulus kepada rekan-rekan kerejanya begitu luar biasa dinyatakan di bagian ini. Paulus memberi salam dan menyebut nama orang-orang itu dengan satu affection dan dia tidak bisa menahankan luapan emosi sukacita dan keakraban di antara mereka. Affection itu berangkat dari satu hal yang dia lihat pada diri orang itu ada affection yang dalam kepada Kristus, yang kemudian merembet kepada affection yang dalam kepada pekerjaan Allah dan kepada pekerja-pekerja Allah. Kita tidak mengenal orang-orang ini tetapi nama-nama ini bisa kita ganti dengan nama-nama orang yang kita kenal secara pribadi, yang akrab dan dekat di hati kita, yang sama-sama melayani dan mengasihi Yesus Kristus Tuhan kita. Paulus mengajak kita melalui daftar nama-nama ini melihat bagaimana Tuhan bekerja dan berkarya dengan luar biasa dalam diri orang itu. Inilah yang harus menjadi sikap hidup kita. Kita tidak boleh terus melihat kesulitan kita. Kita tidak boleh terus melihat bagaimana situasi hidup kita. Mari setiap kali kita melihat hidup kita, lihat betapa amazing luar biasa Tuhan berkarya dalam hidupmu.

Di antara semua nama-nama yang Paulus sebut “saudaraku yang kekasih,” ada satu yang dia sebut dengan panggilan “the chosen one” saudaraku yang terpilih, yaitu Rufus. “Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan ibunya yang juga adalah ibuku” (Roma 16:13). Sangat indah affection dan kedekatan Paulus kepada keluarga ini. Siapakah Rufus? Paulus menyebut dia the chosen one, karena Paulus begitu melihat hidup keluarga ini, dia menyaksikan betapa tapak-tapak kaki Tuhan Yesus berkarya dalam hidup mereka dan kesempatan perjumpaan itu cuma lewat satu kejapan mata saja telah merubah hidup mereka selamanya. Siapa Rufus? Markus 15:21 mencatat Rufus adalah anak dari Simon orang Kirene. “Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon orang Kirene, ayah dari Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota. Dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.” Kita tidak tahu kenapa Simon bisa dipaksa untuk memikul salib Yesus. Dia cuma sedang lewat di situ dan terdesak oleh kerumunan orang dan terpisah dari isteri dan anak-anaknya. Tetapi moment perjumpaan dengan Anak Allah yang sedang menuju ke Golgota merubah total hidup keluarga ini. Keterpaksaannya menjadi kerelaannya; dari sekedar satu moment saja telah merubah nasibnya hingga kekekalan. Itulah moment dimana berkat Allah turun atasnya. Maka menyadari luar biasa moment itu membuat Paulus menyebut Rufus dengan kalimat sebutan itu “the chosen one,” Tuhan betapa luar biasa bekerja dalam hidupnya.

Ada seorang lagi yang bernama Epenetus yang Paulus sebut dengan detail seperti ini, “Epenetus adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus” (Roma 16:5). Dia adalah orang pertama yang pada waktu Paulus pergi ke Asia Kecil yang menerima Tuhan Yesus. Pada waktu menerima surat ini, dia sudah berada di Roma, melayani Tuhan di sana. Kemudian ada pasangan suami isteri “Andronikus dan Yunias, saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul, dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku” (Roma 16:7). Mereka adalah pasangan yang percaya Tuhan paling awal, bahkan sebelum Paulus menjadi orang percaya Tuhan, dan sekarang mereka berada di Roma. Berarti mereka adalah murid-murid Yesus yang diam-diam ikut Yesus. Tetapi setelah Yesus sudah bangkit dan naik ke surga, mereka tidak lagi menjadi murid yang diam-diam. Mereka adalah orang-orang yang Paulus katakan sebagai rekan-rekannya sekerja dan seperjuangan, yang rela dipenjarakan bersama demi Injil. Inilah orang-orang yang kita lihat bagaimana Allah berkarya dan merubah hidup orang-orang seperti ini.

Paulus menyebut beberapa nama orang Kristen yang menjadi rekan sekerjanya. Tidak semua orang bisa menjadi rekan kerja Paulus tentunya. Itu adalah hal yang lumrah. Tidak semua orang kita bisa duduk sama-sama, itu tidak perlu membuat hati kita menjadi tidak enak. Kita tahu masing-masing rumah di Roma itu masing-masing menjadi satu unit rumah yang menjangkau begitu banyak orang. Tetapi beberapa nama ini kemudian menjadi frontiers missionari bersama Paulus karena memang mereka memiliki visi yang sama, mereka adalah co-workers bagi Paulus. Dan kenapa Priskila dan Akwila menjadi rekan sekerjanya, kalau kita melihat dari Kisah Rasul 18 dikatakan di sana mereka sama-sama bekerja sebagai pembuat tenda, sama-sama punya visi yang sama, sama-sama melayani dan memulai gereja di Korintus. Mereka adalah orang Yahudi yang kemudian menjadi misionari bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Maka dengan orang-orang ini Paulus pergi mengabarkan Injil, karena sama-sama memiliki visi yang sama. Melayani bangsa-bangsa bukan Yahudi, melayani di tempat-tempat dimana Injil belum dikabarkan. Maka Paulus sebutkan dua kelompok orang, yang pertama adalah kelompok misionaris frontiers itu yang dia katakan bekerja keras membanting tulang melayani Tuhan dengan luar biasa. Yang kedua adalah kelompok orang-orang yang mampu dan mendukung pelayanan secara finansial. Paulus menyebut nama dua orang yang mendukung kebutuhan finansialnya di sini, yaitu Febe (Roma 16:2), dan Gayus (Roma 16:23). Jelas Paulus mengatakan ini, Febe adalah patron, atau benefactor, yang mendukung hidupnya dan pelayanannya dengan keuangan. Dan bukan saja Paulus, ada orang-orang lain, hamba-hamba Tuhan lain yang dia dukung secara finansial juga.

Hal yang lain dari Roma 16 ini kita bisa melihat ada rumah-rumah yang dipakai bagi pelayanan. Dan orang-orang yang Paulus sebutkan di sini beragam luar biasa. Ada di antara mereka pasangan suami isteri, ada ayah ibu dengan anak-anaknya. “Seisi rumah Aristobulus” (Roma 16:10), “seisi rumah Narkisus” (Roma 16:11), “Filologus dan Yulia, Nereus and sister, Olimpas and her church” (Roma 16:15). Ada wanita kembar Trifena dan Trifosa, ada pasangan suami isteri, ada wanita yang terpandang seperti Olimpas dan Febe. Lalu dari beberapa nama yang muncul kita bisa otomatis tahu bahwa orang itu adalah orang yang terpandang atau dari kalangan ningrat, seperti Herodion, Aristobulus, Narkisus dan Olimpas. Lalu ada juga politician seperti Erastus, bendahara kota, treasurer. Itu adalah posisi orang kedua di dalam pemerintahan satu kota. Tetapi pada waktu Tuhan mempertobatkan dan merubah hidup orang-orang seperti ini, mereka menjadi orang-orang yang mau mempersembahkan hidup dan memakai apa yang mereka punya untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan bagi penyebar-luasan Injil.

Prinsip-prinsip apa yang kita belajar dari bagian ini? Pertama, kita membuat segala sesuatu pelayanan dengan uang dan budget, namun kita tidak boleh mengerjakan pelayanan karena tunggu ada uang seperti itu lalu kemudian baru kita jalan. Prinsip kita mengerjakan satu pelayanan adalah karena ada hati. Kalau kita bilang uang saya hanya $1, bagaimana bisa melayani? Tidak bisa. Tetapi pada waktu kita duduk sama-sama berbagi visi dan satu hati, masing-masing bilang saya mau berbagian $1, akhirnya bisa mencukupkan satu pelayanan. Itu mulai daripada hati.

Kedua, Paulus menyebut co-workers, rekan-rekan dan sahabatnya dari berbagai macam lapisan masyarakat, dari ibu janda sampai kepada keluarga mapan. Itu yang saya sebut sebagai pelayanan yang bersifat mentalitas “pot-luck.” Setiap kali kita kumpul “bring a plate” masing-masing membawa makanan, hasilnya kurang atau berlebih? Umumnya selalu berlebih, bukan? Tetapi kalau kita hanya bikin sendiri satu jenis makanan untuk 200 orang, bukan saja tidak cukup, yang menyediakan bisa cape fisik dan cape hati. Tetapi ketika masing-masing saling membawa satu macam untuk beberapa orang, semua menikmati dengan sukacita. Itulah mentalitas potluck. Ketika kita masing-masing datang dengan mentalitas ini di dalam gereja, di dalam rumah Tuhan, di dalam ibadah, ibadah itu pasti akan menjadi indah. Masing-masing saling mendahului memberi salam maka the greetings will overflow. Masing-masing memberi blessings maka the blessings will overflow. Tetapi ketika setiap orang datang selalu dengan mentalitas customer, selalu merasa kurang, selalu perlu di-entertain, selalu menjadi takers rather than givers, mau dikasih berapa banyak pun selalu tidak akan merasa cukup. Tetapi kalau kita datang dengan potluck mentality, tidak mungkin tidak akan cukup di dalam setiap pelayanan dan pekerjaan Tuhan itu.

Ketiga, Paulus menyebutkan orang-orang ini limpah dengan affection. Kita bisa menyaksikan banyak aspek di sini, antara lain kita bisa menyaksikan Paulus bilang Priskila dan Akwila mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku (Roma 16:4). Paulus juga sebutkan beberapa rekan kerja wanita, Maria [ayat 6], Trifena dan Trifosa dan Persis [ayat 12] membanting tulang bagi pelayanan Tuhan. Semangat mereka melayani Tuhan tidak dibatasi oleh keterbatasan fisik. Paulus menyebut nama mama dari Rufus, yang juga baginya adalah seperti mama sendiri [ayat 13]. Dia juga menyebut nama Gayus yang rumahnya selalu terbuka untuk dia tinggali.

Kemudian dia tutup dengan panggilan “Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus” (Roma 16:16). Ini adalah hal kultur kebiasaan pada waktu itu, tetapi menarik, dengan saling ciuman kudus, berarti affection kita bukan sekedar kata-kata, tetapi affection itu sampai kepada hal fisikal. Seringkali kita kehilangan aspek itu. Seringkali cape melayani kita sudah kehilangan kasih, sukacita, affection satu sama lain di dalam ministry. Maka hari ini mari kita lihat kepada rekan-rekan kerja kita dengan masing-masing datang dengan the fullness of blessings seperti itu. Jikalau kekurangan dan kelemahan mereka tidak menjadi halangan dan hambatan untuk mereka bisa melayani seperti ini, maka saya percaya dengan jiwa dan spirit yang sama kita bisa melakukan pekerjaan Tuhan dengan indah seperti itu.

Dalam hidup berkomunitas, menjadi teman itu gampang. Tetapi mempunyai teman yang betul-betul setia kawan, tidak gampang. Merubah teman menjadi musuh, gampang sekali. Seorang teman yang baik dan teman yang sejati adalah meskipun engkau tidak suka apa yang dia katakan mungkin seperti asah yang menajamkan kita. Bersahabat, menjadi teman, itu merupakan hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Hari ini saya ingin mengajak sdr melihat bagaimana dan apa artinya menjadi teman dan sahabat, menjadi rekan sekerja dan co-workers bagi orang lain. Sebagai manusia kita terbatas, kita tidak mungkin bisa mengerjakan semuanya seorang diri, maka kita perlu saling mengisi. Kata “saling mengisi” berarti kita harus mengerti kelemahan dan kekurangan seseorang itu berbeda dengan kesalahan. Kesalahan tidak boleh ditutup-tutupi; kesalahan perlu dikoreksi dan ditegur. Kekurangan harus dilengkapi dan diisi agar menjadi complete. Kekurangan harus ditutupi, kesalahan tidak boleh ditutupi. Saya tidak bisa 100% melakukan semuanya seorang diri. Saya mungkin hanya bisa mengerjakan 20% saja, karena kapasitas saya terbatas. Saya punya kelebihan, saya juga punya kekurangan. Maka co-workers saya adalah orang-orang yang mengisi dan melengkapi kekurangan ini. Kalau kita berteman seperti itu, kalau mengerti perbedaan ini, kita akan menjadi seorang teman yang baik, menjadi rekan yang saling melengkapi.

Sdr mungkin kecewa dan marah sama temanmu yang mulutnya suka bocor. Kamu bilang ini rahasia ya, jangan kasih tahu orang, tapi ternyata bocor oleh dia. The best thing yang kamu lakukan adalah tidak menyampaikan rahasia apa-apa, sehingga tidak ada yang perlu dibocorkan. Kamu tahu mulut dia suka bocor, tetapi bocornya benar. Kamu bilang ke dia, “Aku lihat si Budi beli mobil mewah.” Dia langsung bocorkan itu kepada orang lain, “Si Budi beli mobil mewah.” Begitu Budi tahu, dia bertanya kepadamu, lho, kenapa orang-orang tahu saya beli mobil mewah? Itu orang punya kelemahan tidak bisa simpan rahasia. Maka kalau mau bikin surprise party, jangan kasih tahu dia. Pasti dia goyang-goyang tidak bisa tahan diri. Itu kelemahan dia. Tetapi kesalahan adalah kalau dia bilang, “Si Budi beli mobil mewah dari uang hasil korupsi.” Itu salah. Ketemu orang seperti itu, sdr perlu tegur dia. Ada temanmu yang punya kelemahan tertentu. Kalau orang itu tidak bisa ontime, selalu datang terlambat, itu kelemahan. Kelemahan harus dimengerti berbeda dengan kesalahan. Apakah saya banyak kelemahan? Saya banyak kelemahan. Salah satunya, kalau bicara terlalu cepat. Apakah Paulus ada kelemahan? Ada. Kita bukan orang yang sempurna. Tetapi kesalahan, itu harus kita bedakan. Menerima satu dengan yang lain dengan tulus dan menolong orang dalam kelemahannya, kita menjadi teman yang perlu mengerti seperti itu. Jadi yang kita perhatikan itu. Dengan demikian sdr menjadi kawan setia, co-workers yang baik luar biasa. Dengan mengerti seperti itu sdr akhirnya waktu orang itu buat salah, sdr mengerti bagaimana memberikan koreksi, tetapi tidak dengan motivasi untuk menjatuhkan dia; sdr juga akan memberikan pujian yang pas dan tulus, tidak dengan motivasi yang buruk melemahkan dia.

Waktu Yesus masuk ke kota Yerusalem, Yesus dipuji dan dipuja habis-habisan. Orang menghamparkan jubah di jalan yang dilewatinya dan melambai-lambaikan daun palem sambil berseru “Hosanna, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Tetapi selanjutnya ahli-ahli Taurat dan orang Farisi nanti kemudian menjumpai Yesus dengan kalimat-kalimat yang begitu manis dan muluk-muluk, “Guru, kami tahu Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran” (Markus 12:14). Luar biasa mereka memuji dengan bahasa yang bagus sekali. Tetapi Yesus tahu apa yang ada di dalam hati mereka dan tidak termakan oleh pujian mereka. Maka saya mengingatkan kepada anak-anak muda, hati-hati jika orang memberimu pujian yang berlebihan dan jangan menjadi kecil hati ketika ada orang mengkritikmu tidak pas dan berlebihan juga. Di situ engkau bisa tahu siapa teman sejati yang memang mau membangun dan siapa yang mau menjatuhkanmu.                                                                                                                                                                                                         Menghadapi] orang punya kelemahan, itu hal yang wajar karena sekali lagi kita manusia biasa, kita bukan orang yang bisa segala dan yang sempurna, tetapi usahakan dirimu selalu belajar melihat keindahan Yesus dalam hidup orang itu. Yang kita percaya, Tuhan membentuk dan mendewasakan dia sehingga menghasilkan a wonderful person dan keindahan karakter dalam diri orang itu. Itu yang Paulus sebutkan dalam bagian ini. “Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik dan bersih terhadap apa yang jahat” (Roma 16:20). Orang yang melayani Tuhan Yesus Kristus dengan segala kesungguhan dan kerajinan dan kesetiaan yang bisa dia lihat dengan nyata dan senantiasa memahami dengan bijaksana, do the right thing, and always reject the evil. Maka di sini bukan bicara mengenai apa yang terlihat dari luarnya. It is not about the way this person talk, mungkin orangnya bisa smooth talk, mungkin orangnya kaku dan tidak bisa berbasa-basi. Tapi bukan itu yang penting. Yang lebih penting karena dia mencintai dan mengasihi Tuhan.

Maka pada waktu Paulus menyebutkan semua nama orang-orang ini saya sungguh bersyukur dan begitu di-encouraged dengan keindahan pertemanan dan persahabatan yang muncul sebagai rekan-rekan sekerja di ladang Tuhan pada waktu dia mengangkat aspek-aspek yang indah yang ada di situ. Saya harap kita boleh sama-sama menjadi orang Kristen yang boleh setia kawan, co-workers yang baik bagi teman-teman dan rekan-rekan kita. Persahabatan dan kedekatan yang membuat kita lengkap, kita penuh, kita limpah dengan segala kebaikan dari Allah. Sehingga pada waktu kita datang, kita datang dengan apa yang bisa kita lengkapi.

Dalam pernikahan juga seperti itu. Datang memasuki pernikahan dengan saya sudah lengkap sebagai satu pribadi dan saya menikah dengan dia yang juga lengkap satu pribadi. Apa yang ada pada diri saya bisa melengkapi kelemahannya, dan demikian juga sebaliknya. Kalau kita datang dengan sikap menikah dengan aku kurang dalam hal ini lalu mau menikah dengan dia karena dia ada, maka pernikahan itu akan selalu menjadi high demanding penuntutan yang tidak akan ada habis-habisnya. Kiranya Tuhan memberkati kita sama-sama melalui firman Tuhan ini dan kita boleh menjadi berkat bagi satu sama lain. Membaca bagian firman Tuhan ini melihat betapa indah keluarga-keluarga yang melayani bersama-sama. Membuka rumah dan mendukung hamba-hamba Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Inilah yang menjadi kerinduan saya dan dorongan dari saya kepadamu. Ambillah waktu seminggu sekali keluar dengan anak, membaca firman Tuhan dan berdoa sama-sama. Waktu di perjalanan, berikan blessing untuk dia. Apalagi kita sama-sama di gereja kecil seperti ini, anak kita tumbuh sama-sama, jangan sampai sdr mengatakan sesuatu yang negatif mengenai orang tuanya dan anak ini saling membicarakan dan menjadi negatif. Perhatikan hal-hal seperti ini. Di situlah kita akan menjadi sebuah jemaat yang penuh dengan blessing.

Kita tidak bisa menghindarkan bisa ada kesalah-pahaman, pertengkaran, debat dan diskusi di antara kita sama-sama melayani. Itu realita yang bisa terjadi dalam satu pertemanan dan konflik relasi itu bisa terjadi kapan saja. Tetapi yang terpenting, senantiasa bawa hati yang melayani Tuhan dengan sungguh dengan takut akan Tuhan dan cinta Tuhan di dalam hidup komunitas kita, di situ kekurangan dan kelemahan tidak pernah menjadi sesuatu yang besar, tetapi menjadi sesuatu yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Hidup rumah tangga kita juga demikian. Kita punya kekurangan sebagai suami, biar isteri belajar melengkapinya. Isteri punya kekurangan, biar suami belajar melengkapinya. Itulah artinya menjadi co-workers dan rekan dan sahabat.

Berterima kasih untuk firman Tuhan yang kita renungkan hari ini, melihat nama-nama orang yang dicatat di sini Tuhan punya maksud dan intention yang luar biasa. Di dalamnya kita menyaksikan bukan kehebatan manusia tetapi bagaimana Tuhan luar biasa berkarya di dalam hidup orang-orang ini, yang membuat mereka mencintai dan mengasihi Tuhan, dari hal yang mustahil dan tidak mungkin, dari yang kita duga tetapi setelah kita menjadi orang yang mengenal Tuhan dan mencintai Tuhan, kita melihat kelimpahan demi kelimpahan mengalir keluar dalam hidup orang-orang seperti ini.(kz)