Wake Up, Time is Running Out!

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (34)
Tema: Wake Up, Time is Running Out!
Nats: Roma 13:8-14

“Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” (Roma 13:12).

Roma 13 adalah satu bagian dari firman Tuhan yang berupa perintah, panggilan, dorongan daripada rasul Paulus berangkat dari apa yang Tuhan sudah kerjakan kepada kita yang dia paparkan panjang lebar dari pasal 1-11 dengan indah mengenai apa itu Injil, keselamatan yang sesungguhnya kita tidak layak terima, kasih Allah yang tiba kepada kita pada waktu kita masih berdosa dan masih menjadi musuh Allah dan masih melawan dia. Itulah kasih yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada kita di atas kayu salib. Sehingga Roma 12 mulai dengan kalimat, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu untuk mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati.” Inilah yang menjadi respon yang sepatutnya dan selayaknya dari orang-orang yang mengerti dan memahami anugerah Allah yang datang kepadanya. Tidak ada alasan yang lain, naturally hidup kita sebagai orang Kristen seharusnya bagaimana. Maka di pasal 12 Paulus memanggil kita melihat titik paling penting adalah bagaimana kita worship kepada Allah. Ayat 1 dan 2 bicara mengenai ibadah yang sepatutnya kita beri kepada Allah. Kemudian ayat 3 mengingatkan kita jangan menilai diri lebih tinggi daripada standar iman yang Tuhan beri, itu berarti bagaimana kita memahami diri kita sendiri. Lalu ayat 4 dan selanjutnya bagaimana kita melihat keunikan dan perbedaan daripada kasih karunia Tuhan yang ada di dalam hidup kita menjadi fruitful dan indah. Di sini Paulus tidak memberikan alasan-alasan kenapa dan harus bagaimana, tetapi yang dia beri hanya berupa satu encouragement, satu nasehat harus melakukan hal-hal ini karena inilah natur pengikut Kristus yang sejati. Maka Roma 12:9 menjadi panggilan kita bagaimana hidup berkaitan dengan dunia sekitar kita. “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura.”

Lalu pasal 13 secara khusus Paulus bicara mengenai impact dan relasi orang Kristen kepada orang lain. Meskipun pada waktu kemudian Paulus membahas Roma 13:1-7 bicara mengenai sikap orang Kristen dan pemerintah sekuler seolah-olah kelihatannya sedikit keluar jalur tetapi Paulus sebenarnya memasukkan topik itu kepada dimensi yang luas, bagaimana relasi dengan orang lain, bahkan termasuk dengan musuh. Maka Roma 13:1-7 bicara mengenai bagaimana relasi orang Kristen dengan scope yang lebih luas yaitu kepada pemerintah, panggilan hidup sehari-hari sebagai anak-anak Tuhan di dalam masyarakat sekitarnya.

Selanjutnya dalam Roma 13:8 Paulus mengatakan kasih orang Kristen itu dibuktikan dalam beberapa hal. Pertama, pada waktu orang Kristen berhutang, dia harus membayarnya. “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.” Bagian ini memang tidak gampang untuk dilakukan, sebab siapa yang hari ini tidak mempunyai hutang? Tidak ada. Paling tidak, hampir semua kita mempunyai hutang mortgage rumah. Dalam sejarah gereja, ada beberapa orangĀ  yang mengambil ayat ini menjadi prinsip bahwa orang Kristen tidak boleh berhutang. George Muller, seorang hamba Tuhan yang membuka pelayanan Panti Asuhan Ashley Down di Inggris adalah salah satu orang yang berprinsip seperti itu. Selama hidupnya ada lebih dari 10,000 anak yatim piatu yang dirawat dan dibesarkan, dan dia berprinsip tidak pernah meminta dukungan dana dari siapa pun dan hanya bergantung sepenuhnya kepada pemeliharaan Tuhan. Sehingga pernah terjadi, panti asuhannya tidak punya uang sama sekali untuk membeli susu dan roti. Pagi itu dia mengajak anak-anak untuk berdoa, dan benar terjadi, tidak lama kemudian satu truk susu datang untuk menyumbang susu buat panti asuhan itu, dan tukang roti datang menyumbang roti buat mereka. Bagi sdr yang sudah pensiun dan sudah tidak memiliki pemasukan, keadaan itu tidak boleh membuatmu kecil hati karena setidaknya sdr sudah tidak punya hutang mortgage lagi, bukan? Sedangkan anak-anak muda masih struggle karena harga property yang begitu tinggi. Apalagi anak-anak kita yang ada di belakang, kesulitan yang mereka akan hadapi mungkin jauh lebih besar lagi. Jikalau kita hanya memikirkan masih banyak keperluan sendiri akhirnya membuat kita menahan kasih kita, perhatian kita, dan sikap kita kepada orang-orang yang ada di luar. Sebagai anak-anak Tuhan perhatian kita tetap tidak boleh berkurang. Ada banyak pekerjaan Tuhan yang harus kita dukung, berarti kita harus sisihkan sebagian uang kita untuk hal itu. Dan pada waktu kita sisih, kita tahu bahwa itu akan membuat hidup kita makin berat, makin sedikit, kita belajar sacrifice seperti itu. Paulus tidak ingin semua kesulitan itu membuat kita kehilangan perspektif panggilan kita.

Paulus mengingatkan, “Janganlah kamu berhutang kepada siapa pun juga,” kalimat ini tidak berarti orang Kristen tidak boleh punya hutang; kalimat ini berkata, kalau kita punya hutang kita harus bayar. Ini adalah gejala penyakit yang dimiliki hampir semua manusia dan orang Kristen tidak boleh kena penyakit itu, yaitu orang suka lupa membayar hutangnya. Dan lebih celaka lagi pada waktu ditagih, orang yang memberi hutang bisa dibilang orang jahat. Dan pada waktu membayar hutangnya dia merasa sudah berjasa kepada orang yang meminjamkan uang dengan kalimat ini, ‘untung lho, saya mau bayar’. Urusan hutang piutang adalah hal yang bisa membuat hubungan yang baik berakhir dengan runyam. Sehingga kadang-kadang kita perlu belajar bagaimana melakukannya dengan bijaksana, terutama dalam kehidupan bergereja. Banyak kali di dalam gereja orang sudah saling kenal, karena pikir sama-sama anak Tuhan akhirnya berbisnis bersama, tetapi berakhir menjadi perkara di pengadilan.

Akitab katakan waktu kita berhutang, kita harus bayar hutang itu, selalu ingat kewajibanmu untuk kembalikan. Tetapi menarik sekali kata hutang di sini membukakan kita beberapa aspek. Pertama, sikap kita tidak boleh hanya reaksi hutang budi, yaitu karena orang itu sudah melakukan sesuatu kepada saya maka saya membalas kebaikannya. Jika kita pegang prinsip seperti itu maka kasih kita akan selalu bersifat pasif, hanya berdasarkan respon kita kepada perbuatan orang kepada kita; hanya membayar apa yang orang beri kepada kita. Kasih kita harus aktif, kasih kita harus berinisiatif, kasih kita tidak tergantung soal bagaimana orang itu mengucapkan terima kasih kepada kita, kasih itu tidak boleh orang lebih dulu berbuat baik kepada kita baru kita membalasnya, bukan kasih seperti itu.

Kedua, Paulus mengatakan, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10). Pada waktu Paulus katakan ini adalah the fulfilment of the law, kegenapan hukum Taurat, Paulus jelas tidak memberikan perintah yang baru. Paulus hanya mengangkat kembali apa yang Tuhan Yesus telah katakan, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”

Dalam Lukas 10 dicatat Tuhan Yesus bertemu dengan seorang ahli Taurat yang bertanya kepadaNya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal?” Di situ Tuhan Yesus balik bertanya kepadanya, apa yang kitab suci ajarkan kepadamu? Lalu orang itu mulai mengatakan “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu.” Yesus berkata kepada dia, “Jawabmu itu benar, berbuatlah demikian maka kamu akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya, orang itu bertanya kepada Yesus, “Siapakah sesamaku manusia?” maka Yesus memberikan kisah “Orang Samaria yang Baik Hati.” Kita sudah sangat kenal kisah itu. Ada seorang Yahudi berangkat dari Yerusalem menuju Yerikho. Di tengah perjalanan sekawanan perampok menyerang dia, merampas semua miliknya dan memukulinya setengah mati. Saat dia terbaring di tepi jalan, lewat seorang imam dan kemudian seorang Lewi, tetapi mereka menyeberang ke sisi jalan lain dan tidak menolongnya. Lalu kemudian datang seorang Samaria. Melihat orang itu, segera orang Samaria mengobati dan membalut luka-lukanya. Tidak berhenti sampai di situ, kemudian dia membawa orang itu ke penginapan dan memberikan uang kepada pemilik penginapan dengan berpesan dia akan datang kembali membayar kekurangannya. Setelah selesai menceritakan kisah itu, Yesus kemudian bertanya kepada ahli Taurat tadi, “Menurutmu, siapakah dari tiga orang itu yang adalah sesama manusia bagi orang yang terluka tadi?” Jawab orang itu, “Orang yang telah berbuat baik kepadanya.” Orang Yahudi yang terluka ini tidak melakukan apa-apa kepada orang Samaria sehingga dia menolongnya. Orang ini tidak dia kenal. Bahkan orang ini menganggap orang Samaria adalah musuh yang harus dia jauhi. Tetapi orang Samaria ini menolong dia sampai tuntas.

Ketiga, kasih kita selalu berangkat dengan konsep aku berhutang. Kasih dengan sense orang berhutang itu datangnya dari mana? Datangnya dari satu ayat paling depan dalam Roma 1:14 “Aku berhutang, baik kepada orang Yahudi maupun kepada orang Yunani,” kalimat ini menjadi motivasi yang penting bahwa hidup kita sebagai orang Kristen adalah hidup yang berhutang kasih kepada apa yang Tuhan Yesus Kristus sudah kerjakan dan lakukan bagi kita yang kita tidak layak menerimanya. Inilah motivasi bagi orang Kristen sehingga Paulus mengatakan kita tidak boleh pasif dalam hidup kita seolah kita mengatakan kita tidak berhutang apa-apa kepada siapapun. Justru pola dan prinsip hidup kita selalu berpikir aku orang berhutang, aku harus memberi, aku harus melakukan sesuatu. Kenapa? Karena kita berhutang hidup kepada Yesus. Saya rasa konsep ini penting karena jarang Paulus katakan ini kepada jemaat yang lain, tetapi dia mengatakannya kepada jemaat Roma yang notabene adalah jemaat yang middle-up class, yang hidup di kota metropolitan. Jelas jemaatnya sebagian besar adalah jemaat yang keuangannya lumayan mampu dan bisa. Kasih orang Kristen diarahkan kepada orang lain, kepada orang luar, pada waktu mereka melihat orang Kristen, mereka melihat kita adalah orang-orang yang hidup dalam kasih. Di sini kasih itu tidak boleh bersifat pasif, kasih di sini berarti kita menyatakan kewajiban kita, responsibility kita. Inilah yang menjadi ciri hidup seorang pengikut Kristus. Banyak orang menuntut hak terlebih dulu daripada kewajibannya. Kita sebagai orang Kristen harus belajar bagaimana punya sikap mau melakukan apa yang menjadi kewajibanku dengan tanpa memikirkan apakah orang itu membayar kembali kepada kita atau tidak atau hak kita bisa dipenuhi atau tidak.

Maka sesudah mengerti aspek itu maka selanjutnya Paulus bicara apa yang menjadi alasannya, “Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya” (Roma 13:11). Paulus berkata, “Wake up! Time is running out!” Jangan terus lihat diri sendiri. Waktu sudah semakin pendek dan singkat, bangunlah!

Hal yang pertama, jelas Paulus katakan kita hidup sekarang makin sangat dekat kepada kedatangan Tuhan Yesus. Seringkali orang Kristen waktu membaca ini kita pikir Paulus sudah mengingatkan 2000 tahun yang lalu, tetapi sampai hari ini Yesus masih belum datang juga, mungkin masih harus tunggu 2000 tahun lagi? Sehingga akhirnya kita tidak punya sense of urgency itu. Seharusnya, karena kita tidak tahu kapan Tuhan Yesus datang kembali, maka Paulus selalu ingatkan time is running out, kita tidak punya waktu banyak, Yesus akan segera datang dan kita harus siap. Kalimat ini bisa kita pahami sebagai satu penghiburan dari rasul Paulus khususnya kepada orang Kristen yang mengalami hidup begitu sulit dan berat di tengah orang yang tidak percaya, yang berada di tengah perlawanan dan kebencian karena imannya. Pada waktu Tuhan Yesus datang apa saja yang kita alami dan kita hadapi di waktu-waktu yang lalu tidak akan pernah pulang dengan sia-sia. Pada waktu Tuhan Yesus datang, Ia akan membalaskan ketidak-adilan dari orang-orang yang memusuhi kita karena iman kepadaNya. Banyak hamba-hamba Tuhan yang mengalami harus ditangkap dan dipenjara tetapi kita harus menyatakan bahwa kita orang Kristen adalah orang yang penuh dengan kasih. Pada waktu dihina, kita harus memberkati; pada waktu orang memberikan kerugian kepada kita, kita harus membalasnya dengan segala kebaikan. Pada waktu Tuhan Yesus datang, Ia akan memberikan keadilan itu kepada kita. Maka jangan kita menjadi kecewa dan putus asa dan menyesalkan segala apa yang baik yang telah kita lalukan dan kerjakan karena Kristus akan datang kembali memberikan balasannya.

Hal yang kedua, Paulus mengatakan time is running out, mengingatkan kita bukan saja kedatangan Yesus kedua kali sudah semakin dekat, tetapi kalimat itu juga menjadi wake-up call menyadarkan kita our time juga is running out. Hidup kita pun terbatas waktunya, hidup kita terbatas adanya. Dengan kesadaran seperti ini maka sense of urgency ini harus ada di dalam hati setiap anak-anak Tuhan, dengan senantiasa berpikir Tuhan telah memberikan waktu kepadaku, bagaimana saya pakai waktu ini seperti apa? Apa yang Tuhan mau lakukan dalam hidupku yang terbatas ini kita persiapkan bagi pelayanan dan pekerjaan Tuhan dan pelayanan bagi generasi selanjutnya karena waktuku tidak banyak lagi.

“Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati” (Roma 13:12-13). Bagaimana orang Kristen dilihat oleh orang luar? Maka Paulus katakan hidup orang Kristen secara pribadi harus beda, harus nyata. Tidak gampang dan tidak mudah bagi orang Kristen hidup juga pada waktu itu. Jikalau mereka diundang ke pesta orang Romawi yang bukan Kristen, dengan kebiasaan makan minum bermabuk-mabukan, pesta pora dengan seksual imoralitas, bagaimana mereka menghadapinya? Maka Paulus katakan, jangan dengan pesta pora dan kemabukan. Berarti ada resikonya, bukan? Resiko dikucilkan dari kehidupan masyarakat dan kehidupan sosial pada waktu itu. Belum lagi disertai dengan imoralitas percabulan dan hawa nafsu. Maka hidup orang Kristen tidak boleh ada percabulan dan hawa nafsu seperti itu. Lalu yang terakhir, Paulus katakan, janganlah kita hidup di dalam perselisihan dan iri hati. Sebagai orang Kristen dilihat dan diperhatikan oleh orang luar menyatakan satu hidup yang berbeda, kita dilihat dan dipanggil oleh Tuhan untuk hidup berbeda dengan masyarakat di sekitarnya agar hidup etika dan moralitas kita menjadi contoh dan teladan yang indah. Bukan saja kita tidak melakukan yang sama kemudian kita rasa diri kita cukup baik dan selesai sampai di situ.

Paulus berkata, “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:14). Bangun, lalu kenakanlah perlengkapan senjata terang, kita bangun untuk siap bertarung, maju berperang melawan kejahatan. Peperangan melawan kejahatan berarti mengandung resiko kita akan menghadapi perlawanan kembali dari kejahatan itu. Sebagai gereja dan anak-anak Tuhan, kita tidak boleh tutup mata walaupun mungkin kita tidak berada di garis depan dan di ujung tombak tetapi kita berbagian melihat, men-support, mendukung dan mendoakan bagi organisasi-organisasi dari anak-anak Tuhan yang berjuang melawan kejahatan human trafficking, me-rescue anak-anak kecil dan wanita yang ada di dalam perbudakan seks. Pernahkah kita pikirkan akan hal itu? Hari ini saya mengajak kita melihat akan hal itu. Apakah di dalam peperangan terhadap evil akan sexual slavery itu mereka tidak akan menghadapi perlawanan? Sudah tentu. Di berbagai tempat dan negara masih begitu banyak anak-anak kecil di antara gelandangan dan pengemis dimana anak-anak di-eksploitasi. Siapa yang akan membela dan mendukung mereka? Kita dipanggil untuk alert, untuk bersiaga dan bertindak aktif mendukung dan mendoakan pelayanan-pelayanan seperti itu. Itu adalah sikap untuk berbagian dengan anak-anak Tuhan fight evil secara global.

Hari ini Paulus sini memanggil kita senantiasa mempunyai attitude hidup sebagai orang Kristen di tengah masyarakat dengan dua hal ini. Pertama, adakah orang melihat engkau sebagai orang Kristen yang memiliki kasih yang otentik di dalam hidupmu? Tidak pernah berhutang secara kasih. Kasih kita harus bersifat aktif dan berinisiatif dengan tanpa melihat bagaimana orang bersikap dan apakah orang baik lebih dulu baru kita baik kepada mereka. Alkitab memanggil kita melakukan kebaikan dan tidak pernah membalas kembali hal yang jahat dilakukan orang kepada kita. Itu ciri hidup orang Kristen. Yang kedua, Paulus ingatkan hari sudah malam, telah hampir siang, hiduplah dalam terang. Kenapa? Kita selalu harus punya kesadaran waktu kita singkat dan pendek, selalu pikir apa yang bisa aku kerjakan dan lakukan. Kita hidup dalam kesopanan menjadi contoh dan bukti inilah hidup orang Kristen di dalam terang. Kita dipanggil fight for evil, mengenakan senjata terang bukan peperangan untuk membunuh tetapi untuk menyatakan kebenaran Kristus di dalam hidup kita sehari-hari.

Apa contoh praktisnya yang kita bisa kerjakan dan lakukan? Mari kita berlaku adil kepada orang-orang yang menjadi bawahan kita; mari kita berlaku adil kepada mereka yang bekerja sebagai pembantu dan penolong kita di rumah, kepada buruh dan karyawan di pabrik dan perusahaan kita. Kita dipanggil untuk peka dan melihat jikalau ada organisasi-organisasi Kristen yang membutuhkan dukungan dana untuk bagaimana mereka boleh meng-establish keadilan, kebaikan, kebenaran kepada orang-orang yang tidak punya kekuatan untuk menolong dirinya sendiri, tidak bisa mendapatkan hak dan suara yang membelanya, gereja-gereja yang dianiaya, dsb.

Bersyukur Tuhan memanggil kita untuk pelayanan kita hari ini dengan firman Tuhan yang menggerakkan kita, memanggil kita, mengingatkan kita bahwa Tuhan Yesus akan segera datang kembali dan waktunya semakin dekat. Kiranya Tuhan memimpin setiap kita satu persatu sebagai anak-anak Tuhan dan kiranya Tuhan memberkati apa yang bisa kita kerjakan dan lakukan dalam hidup kita karena kita sudah mendapat begitu banyak dari Tuhan. Biar kiranya Tuhan memberikan kita hati yang berhenti melayani diri kita sendiri dan hidup dengan senantiasa berpikir bagaimana kita melayani Tuhan dalam terang dan kebenaran selama kita hidup.(kz)