Membangun Keharmonisan di antara Orang Percaya

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (36)
Tema: Membangun Keharmonisan di antara Orang Percaya
Nats: Roma 14:13 – 15:13

Roma 14:13-23 dan Roma 15:1-13 adalah dua bagian firman Tuhan yang berupa satu paket Paulus bicara akan bagaimana kita menjalin keharmonisan di antara anak-anak Tuhan satu dengan yang lain di tengah-tengah hal yang tidak terlalu penting, yang non-essentials dan bagaimana kita mementingkan hal-hal yang paling penting yang memang menjadi yang terutama bagi Tuhan.

Memang tidak bisa ditolak di dalam hidup bergereja, orang-orang yang datang menerima keselamatan dari Tuhan, dengan latar belakang yang berbeda. Dalam jemaat Roma ini ada kelompok orang non Yahudi dan ada kelompok orang Yahudi berkumpul sama-sama menjadi orang percaya Tuhan. Tetapi karena perbedaan latar belakang ras dan suku, sudah tentu itu mendatangkan kebiasaan yang berbeda, cara makan yang berbeda, cara hidup yang berbeda, konsep tradisi tata cara yang berbeda, mengenai hari, mengenai apa saja, itu ada di dalam komunitas hidup mereka. Dan hal-hal yang seperti ini, dari hal yang sederhana dan kecil, Roma 14-15 membukakan satu fakta bagaimana hal itu menjadi sumber pertengkaran dan keributan yang berpotensi bisa menjadi out of control dan menghasilkan kerusakan relasi yang luar biasa, padahal hal-hal itu hanyalah bermula dari] hal yang sederhana saja. Firman Tuhan yang ditulis 2000 tahun yang lalu senantiasa menjadi hal yang relevan bagi gereja sepanjang jaman, di tengah diversity itu menjadi unity bagi kemuliaan Tuhan. Sangat menyedihkan catatan sejarah memperlihatkan fakta dan bukti terlalu terlambatnya kita untuk mau menaati firman Tuhan ini.

Di sini Paulus mengangkat kasus sederhana yang terjadi di antara jemaat Roma pada waktu itu yaitu mengenai pola makanan yang berbeda. Orang Yahudi dengan latar belakang tradisi Yudaisme sebagai orang Yahudi, meskipun sudah menjadi pengikut Yesus Kristus, tetapi tetap masih memiliki konsep yang dipengaruhi oleh ajaran Perjanjian Lama. Sehingga mereka masih memegang tradisi hanya makan makanan yang dianggap halal dan menjauhi makanan yang dianggap haram, mana yang boleh dimakan mana yang tidak boleh dimakan. Namundari sekedar soal makan minum, soal bagaimana memelihara hari, hanya soal-soal sederhana, masalah prinsip yang tidak esensial akhirnya menjadi ajang pertengkaran sehingga Paulus bilang, kalau dia mau makan, biarkan saja. Tetapi yang penting kita tahu orang itu makan bagi kemuliaan Allah. Tetapi kalau engkau ambil keputusan tidak, tidak apa. Lakukan itu bagi kemuliaan Allah juga (Roma 14:6). Namun persoalannya tidak berhenti, bahkan menjadi eskalasi sehingga sampai kepada aspek kata-kata kritikan dan menjadi lebih berat yaitu munculnya sikap menghakimi dan saling menghina sehingga Paulus menegur mereka, “Mengapa engkau menghakimi saudaramu? Mengapa engkau menghina saudaramu?” dan lebih eskalasi lagi kemudian mereka berkata orang ini tidak selamat (Roma 14:3-4).

Dari bagian ini saya mencoba merangkum apa yang Paulus jelaskan ini ke dalam dua bagian. Bagian pertama, Paulus memberi lima warning kepada setiap kita sebagai anak-anak Tuhan, sebagai orang Kristen dan bagian kedua, Paulus memberi lima prinsip bagaimana kita harus bersikap seturut dengan firman Tuhan. Kita akan melihat bagian pertama lebih dahulu, lima warning atau peringatan.

Warning pertama, Paulus mengatakan kita jangan menghakimi sebab setiap kita akan berdiri di depan penghakiman Allah. “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan-jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah” (Roma 14:12).

Sebagai orang Kristen kita tahu Allah kita adalah kasih adanya, Allah yang penuh dengan kemurahan dan pengampunan. Tetapi salah memahami kasih Allah bisa keliru dan berbahaya. Allah mengasihi kita oleh sebab keadilan dan penghukumanNya tidak Ia timpakan kepada kita tetapi ditimpakan kepada Kristus. Itulah artinya Injil. Allah tidak membuang akan tuntutan keadilanNya atas dosa-dosa kita tetapi Ia tidak menyelesaikan tuntutan itu kepada kita, sebab jika itu diselesaikan dengan diberikan kepada kita semua kita akan binasa adanya. Ia timpakan itu kepada Yesus Kristus supaya kita yang percaya kepadaNya kita tidak binasa melainkan kita akan memperoleh hidup namun kekal. Namun Ia bukan Allah yang kasih saja, tetapi Ia juga Allah yang adil; Ia adalah Allah yang suci, tetapi Ia juga Allah yang murah hati. Itulah Allah yang akan kita hadapi sama-sama, sehingga Paulus ingatkan kita untuk senantiasa takut akan Tuhan dalam seluruh aspek hidup kita. Setiap hal yang kita kerjakan dan lakukan akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan Allah kelak. Itu senantiasa akan membuat kita mawas diri, waktu kita mau lakukan maka kita bertanya apakah ini berkenan kepada Tuhan? Sehingga Paulus dalam surat kepada jemaat Korintus berkata, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31).

Warning yang kedua dari Roma 14:23 “Tetapi barangsiapa yang bimbang kalau ia makan, ia telah dihukum karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa.” Paulus mengatakan segala sesuatu yang kita lakukan tidak berdasarkan iman adalah dosa. Perhatikan, padahal awalnya soal makan minum adalah hal yang sederhana. Engkau mau makan, engkau tidak mau makan, itu ada di wilayah kebebasanmu. Tetapi nantinya dari wilayah kebebasan, kemudian menjadi satu dorongan, satu pemaksaan, sehingga orang itu melakukannya karena paksaan dan tekanan yang engkau lakukan, maka itu adalah dosa.

Dalam situasi seperti itu Paulus menarik satu garis yang jelas bagi mereka yang mempunyai pengertian yang lebih dalam dan lebih luas, orang yang imannya lebih kuat, dsb untuk membuka hati lebih besar dan lebih luas terima mereka yang lemah. Tetapi di sini Paulus tekankan dulu it is about preference, jadi orang itu tidak mau makan, tidak apa-apa. Jangan gara-gara sekadar makanan ini akhirnya mendatangkan hal yang berdosa bagimu ketika engkau saling menghina dan menghakimi. Namun belakangan hari terjadi perkembangan yang membuat Paulus harus menegur di 1 Timotius 4:3 “Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah.” Jadi bukan soal makanannya atau makan tidak makannya yang ditegur oleh Paulus tetapi sikapnya, persepsinya, berpindah dari wilayah kebebasan orang, dari choice dan preference akhirnya menjadi satu prohibition, satu larangan, satu hukum yang absolut. Maka Paulus di bagian ini menegur mereka yang akhirnya tidak membuka pikiran dan wawasan yang luas mengenai bagaimana memahami prinsip ini.

Warning yang ketiga, hal-hal kecil yang sepele ini jangan sampai merusak pekerjaan Allah. Kalau kita baca tadi ada pengajar-pengajar yang datang membawa pengajaran yang sangat menekankan larangan-larangan tertentu. Firman Tuhan dengan sangat jelas berkata kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, bukan soal tradisi, bukan soal kebiasaan, bukan soal berdiri atau duduk, buka mata atau tutup, pakai seragam atau baju bebas, pakai Alkitab atau gadget, terlalu banyak regulasi-regulasi yang diciptakan dan dibuat seperti itu. Hal-hal seperti itu hanyalah merupakan kendaraan atau tools saja. Tetapi kerajaan Allah itu adalah berkaitan dengan soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita. Kerajaan Allah itu bicara soal tidak menjadikan orang tersandung sehingga orang tidak memuliakan Allah dan tidak membuat orang dibangun dalam iman kepada Yesus Kristus.

Warning yang ke empat, sekaligus dengan kalimat itu Paulus mengingatkan bagaimana hal-hal yang kecil sepele akhirnya menghasilkan judgment dan saling menghina di tengah-tengah jemaat yang ada di gereja Roma itu sehingga menghilangkan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita. Kenapa? Karena masing-masing akhirnya berada dalam keadaan takut, takut berbuat salah, takut seperti ini, sehingga membuat kita kehilangan damai sejahtera, sukacita dan kebenaran Allah terjadi di antara kita.

Warning yang ke lima, jangan sampai itu semua menghalangi iman orang bertumbuh dan tujuan akhirnya orang tidak kesampaian menerima berita Injil. Roma 14:15 “Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.” Kemudian Roma 15:2 “Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.” We should build up others. Jadi pada waktu kita beribadah, pada waktu kita bersekutu, pada waktu kita kemana saja, kita selalu punya prinsip dan konsep seperti ini, kita tidak menjadikan orang-orang yang mungkin belum mengenal Tuhan, yang masih ragu-ragu, yang masih mencari Tuhan, dia datang ke dalam ibadah dan gereja, kita tidak boleh menjadi batu sandungan, kita tidak boleh membuat iman orang itu tidak bertumbuh.

Bagian kedua, setelah dengar warning, kKalau begitu bagaimana saya harus bersikap, bagaimana kita harus bertindak dan berprilaku? Roma 14:13-14, “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis.”

Pertama, janganlah kita saling menghakimi lagi. Stop judging others. Stop contempt others. Berhenti menghakimi orang. Berhenti menghina orang. Jangan menghakimi dan jangan menghina orang lain. Ke dua, jangan menjadi batu sandungan, dan jangan mempunyai sikap egois. Ambil sikap yaitu kalau saya lakukan hal ini akan merugikan orang lain atau tidak? Jadi bukan sikap kalau saya lakukan hal ini akan merugikan diriku sendiri atau tidak, ini mengganggu saya atau tidak. Tetapi selalu punya sikap kalau saya lakukan begini akan merugikan orang atau tidak? Menjadikan dia sedihkah, kecewakah, marahkah? Kita tidak mencari kesenangan kita sendiri; kita tidak mencari egois diri kita sendiri.

Ke tiga, dengan tekun dan sabar membimbing dan membuka wawasan orang. Lihat prinsipnya dn

lihat caranya. Membawa orang pelan-pelan mengerti memerlukan ketekunan dan kesabaran. Itu sebab Roma 15:5 berkata, “Semoga Allah yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan mengaruniakan kerukunan kepada kamu sesuai dengan kehendak Yesus Kristus.” Untuk membawa kesatuan dan kerukunan, kita memerlukan pikiran dan wawasan yang diperdalam, diperluas dan dibuka. Paulus katakan itulah artinya kita edify, kita membangun orang itu dengan ketekunan dan kesabaran. Saya percaya prinsip ini penting sekali. Setiap kali saya berkhotbah, saya merindukan hal itu membuka wawasan sdr, memperdalam pengertian sdr, memperluas pikiran sdr. Itu harus menjadi sikap kita sebagai seorang hamba Tuhan, seorang yang menyampaikan firman Tuhan. Kita lakukan itu demi untuk supaya kita bisa melihat orang lebih memahami dan lebih mengerti.

Dalam Roma 16 kita bisa lihat jemaat Roma adalah jemaat yang terbentuk dari gereja-gereja rumah. Jadi bukan hanya satu gereja, tetapi ada banyak gereja-gereja rumah yang tiap-tiap minggu orang datang berkumpul dan berbakti dan di hari-hari lain mereka berinteraksi. Bisa jadi antara gereja rumah yang satu dengan gereja rumah yang lain terjadi pertengkaran dan pertikaian, sehingga Paulus memberikan prinsip sebagai satu kingdom of God, pelayanan yang kita tidak boleh lihat sebagai satu kompetisi. Ada satu pelayanan yang sanggup bisa menjangkau strata tertentu, usia tertentu, suku tertentu, wilayah tertentu yang mungkin bisa dilakukan satu gereja dan tidak bisa dilakukan oleh gereja yang lain, kita harus melihatnya sebagai satu pekerjaan Allah yang luas dan besar. Dan itu bukan menjadi satu kompetisi dan bukan sebagai sesuatu perasaan iri kenapa gerejaku tidak berkembang dan harus melayani semuanya, kita tidak boleh melihat seperti demikian.

Ke empat, selalu fokus kepada prinsip. Dalam Roma 14 -15 ada beberapa prinsip muncul. Roma 14:6, “Siapa berpegang kepada suatu hari tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah.” Kemudian, Roma 14:17, “Sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan atau minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kemudian, Roma 15:6, “Sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” Pertama, fokus kepada Christ-centered lakukan segala sesuatu untuk Kristus dalam hidup kita. Kedua, fokus kepada Christ-centered worship dalam ibadah kita. Christ-centered ministry, tujuannya setiap apapun yang kita kerjakan, supaya orang bisa mengenal Kristus lebih jelas. Ketiga, di dalam apa pun yang kita kerjakan, baik kita ibadah, baik kita Bible study, baik kita doa, dsb, kita mau memuliakan Allah di situ. Maka fokuslah kepada aspek ini.

Ketika saya masuk sekolah teologi, tujuannya apa? Apa motivasi, apa yang mendorong saya masuk sekolah teologi? Supaya saya bisa mengenal Yesus Kristus lebih dalam dan bisa melayani Dia, itu motivasi saya. Lalu karena saya rasa saya belum siap, saya perlu dipersiapkan dengan baik, saya perlu dilengkapi, saya perlu training, dsb. Ini semua adalah sarana dan tools kepada tujuan itu. Kita berbakti, beribadah, tujuannya apa? Kita mau memuliakan Allah, itu tujuannya. Lalu tim musik berpikir, kita harus persiapkan dengan baik, kita harus pilih lagu dengan baik, lalu persiapan dan latih sama-sama. Perhatikan, tujuannya adalah memuliakan Allah melalui ibadah. Tetapi jangan sampai saya habiskan waktu hidup saya menjadi seorang hamba Tuhan terus berputar-putar mau membereskan persiapannya terus. Sudah selesai lulus, saya lanjutkan lagi ambil sekolah, ikut training lagi, dan lupa dengan tujuannya. Pikir perlu ini, perlu itu. Terus merasa belum siap dan perlu diajari lagi. Menginjili, apa tujuannya? Supaya orang itu kenal Tuhan Yesus. Lalu kita siapkan program bagaimana melatih one to one menginjili, bagaimana menjelaskan Injil, dsb. Tetapi seringkali ini yang terjadi, terus ditraining, tetapi tidak pernah melakukannya. Tetapi kenapa tidak jalan, karena kita pikir kita belum siap dengan training-training ini. Demikian juga pada waktu kita ibadah, jangan sampai akhirnya, semua yang kita siapkan, semua yang kita lakukan, akhirnya membuat kita kehilangan fokus kepada tujuannya. Lalu kita terus berkanjang kepada hal-hal ini: kita harus latihan, kita harus siapkan, dsb akhirnya berputar-putar di situ. Kita ribut, kita persoalkan ini dan itu. Dan akhirnya bisa jadi kita menghalangi orang melayani kita pikir kalau semua ini belum beres, strukturnya belum beres, orang belum bisa melakukan ini. Apakah demikian? Saya percaya tidak demikian. Bisa jadi, dengan sederhana, meskipun tidak ada alat musik, tidak ada microphone, tidak ada sound system, lagu yang simple sederhana, tempat ibadah yang tidak memadai, tujuan itu tercapai yaitu Allah dimuliakan di situ ketika orang-orang itu berbakti dengan segenap hati. Jangan kita pikir kita perlu alat musik, kita perlu tempat ibadah, kita perlu sarana, kita perlu lighting, dsb, pasti baru orang memuliakan Allah. Tidak. Kita harus fokus kepada tujuan akhirnya. Is it to glorify God the Father? Is it for the advance of the Gospel? Waktu kita mempersiapkan pelayanan dapur, dan lain sebagainya, engkau melakukannya untuk Tuhan? Itu tujuan akhirnya. Jadi kepada jemaat Roma ini Paulus ingatkan kepada mereka satu-persatu, doing church untuk apa? Lakukan itu untuk memuliakan Allah. Lakukan itu demi supaya Injil bisa tersebar luas.

Ke lima, terima dan fokus kepada sikap self-denial in ministry. Paulus beberapa kali menyatakan di sini, jangan mencari kesenangan diri, jangan pikir diri sendiri, jangan menjadi batu sandungan, dsb. Tetapi sampai kepada satu total self-denial yang sangat penting sekali, kita lihat dalam Roma 15:3 “Karena Kristus tidak mencari kesenangannya sendiri seperti ada tertulis: kata-kata cercaan mereka yang mencerca Engkau telah mengenai aku.” Apa maksud ayat itu? Maksudnya adalah memang kadang-kadang kita susah dan sulit sekali dan tidak bisa terima kalau orang yang dekat dengan kita, yang sama-sama di dalam pelayanan lalu saling menghina dan saling menghakimi satu dengan yang lain, itu tidak gampang dan tidak mudah kita jalani. Tetapi Paulus mengingatkan kita sebagai seorang pengikut Kristus memang harus bersiap hati untuk di-insult. Waktu Yesus melayani, Dia di-insult. Jadi sebagai pengikut Kristus kita keluar mengalami insult seperti Tuhan kita, itu adalah hal yang sewajarnya terjadi dan kita bersedia menerima hal itu. Firman Tuhan ingatkan, kita tidak boleh mencari kesenangan kita sendiri, kalau sampai ada orang meng-insult kita, selalu katakan kepada diri Tuhan juga dihina, Tuhan juga di-insult, maka kita juga belajar terima akan hal itu. Terima dan fokus kepada self-denial in ministry. Bisa jadi kita sudah melakukan hal yang baik bagi orang, tetapi orang itu tidak mengucapkan terima kasih dan malah melakukan hal yang tidak baik kepada kita. Selalu ingat bahwa Tuhan mengingat dan akan membalaskan segala apa yang baik yang kita lalukan bahkan yang terkecil dan yang sederhana sekalipun. Kita berusaha sebaik mungkin melakukan sesuatu yang baik itu mendatangkan pujian tetapi kita tidak bisa mencegah mungkin hal yang baik yang sdr lakukan kemudian difitnah oleh orang. Itu yang muncul dalam Roma 14:16. Paulus memberikan nasehat ini, “Apa yang baik yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah.” Apa maksudnya? Maksudnya adalah kadang-kadang hal yang baik yang engkau kerjakan dan lakukan dengan berkorban, orang bisa memfitnah sdr. Kita berusaha untuk jangan sampai itu terjadi. Tetapi kalau akhirnya itu terjadi, bagaimana? Maka Roma 15:3 ini menjadi penghiburan kita: kata-kata cercaan yang mencerca Allah juga mencerca kita. Ini menjadi attitude yang penting dan perlu pada waktu kita hidup sebagai anak Tuhan dan sebagai orang percaya dan sebagai orang yang melayani Tuhan. Ada orang-orang yang menginjili, perbuatannya akhirnya berakhir di penjara. Ada orang-orang yang menolong dan mengasihi tetapi orang yang menerimanya meludahi dan menolaknya, kemudian memfitnahnya. Ada orang-orang yang berkorban bagi pekerjaan dan pelayanan Tuhan, orang tidak melihat pengorbanan itu. Maka ayat ini menjadi ayat yang penting untuk kita fokus bahwa di dalam melayani Tuhan kita punya attitude ini self-denial in ministry.

Biar setiap panggilan, dorongan, doa dan kerinduan dari Tuhan ini boleh memimpin dan menuntun hati setiap kita hari ini. Kita menyadari betapa mudah dan gampang kita jatuh di dalam sikap-sikap kita yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kiranya melalui firman Tuhan ini kita boleh diingatkan, didorong, dipimpin di dalam kehidupan kita, di dalam setiap kali kita berdoa, berbakti, beribadah kepada Tuhan, supaya hati kita senantiasa memuliakan Allah.(kz)