Kejarlah Kedewasaan Iman dan Kemuliaan Injil

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (37)
Tema: Kejarlah Kedewasaan Iman dan Kemuliaan Injil
Nats: Roma 15:14-21

“Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasehati. Namun karena kasih karunia yang dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana-sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu” (Roma 15:14-15).

Bagian ini adalah bagian yang sangat delicate dimana Paulus berbicara mengenai apa yang ada dan terjadi di dalam relasi antara jemaat yang ada di Roma. Paulus perlu memberikan nasehat dan teguran jikalau ada hal yang keliru dan salah di situ, dan itu adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah adanya. Kenapa saya katakan delicate? Karena mari kita ingat, Paulus belum pernah pergi ke Roma (Roma 1:10-13). Jadi sebetulnya dia menulis surat ini kepada jemaat yang belum pernah dia jumpai dan bukan jemaat yang dia mulai. Dari Kisah Rasul 18 kita tahu bahwa di Korintus Paulus pernah bertemu dengan beberapa orang Yahudi yang diusir keluar dari kota Roma oleh kaisar Klaudius, di antaranya Akuila dan Priskila dan kemudian mereka memulai gereja di kota Korintus sama-sama. Ada kemungkinan informasi tentang situasi jemaat dan bagaimana pekerjaan Tuhan di kota Roma didapat oleh mereka. Maka meskipun Paulus bukan merintis dan melayani jemaat Roma ini, sedikitnya dia mempunyai relasi seperti ini sehingga Paulus bisa menuliskan pengajaran-pengajaran yang penting mengenai dasar iman Kristen. Pada waktu pengajaran itu masuk ke dalam aspek kehidupan sehari-hari dan masuk ke dalam aspek relasional di antara mereka, Paulus perlu memberikan nasehat dan perlu memberikan teguran jikalau ada hal yang keliru dan salah di situ, dan itu adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah adanya. Dalam Roma 14:10 dia menegur dengan sangat keras, “Siapakah kamu sehingga kamu menghakimi saudaramu? Siapakah kamu sehingga kamu menghina saudaramu?”

Douglas Moo mengatakan dalam buku tafsiran kitab Roma, kalimat Paulus di Roma 15:14-15 memperlihatkan Paulus agak berhati-hati sebagai seorang hamba Tuhan menegur tetapi pada saat yang sama Paulus juga menyatakan diri sebagai seorang hamba Tuhan yang memiliki otoritas untuk menegur mereka sebagai rasul yang memang Tuhan panggil untuk memberitakan Injil kepada orang bukan Yahudi. Itu sebab di dalam bagian ini Paulus mengatakan, “But on some points I have written to you very boldly by way of reminder, because of the grace given to me by God” (Roma 15:15, ESV). Maka yang pertama, Paulus ingin nasehat dan teguran ini akan mereka terima dengan baik oleh karena Paulus yakin mereka adalah jemaat yang bertumbuh di dalam kedewasaan rohani. Yang kedua, Paulus yakin teguran dan nasehat ini akan sampai dan akan mereka terima sebab Paulus yakin mereka penuh berlimpah dengan segala keindahan, kebaikan dan pengetahuan di dalam hidup mereka.

Kalau kita bawa di dalam kehidupan kita sebagai jemaat Tuhan dan gereja Tuhan, mari kita juga belajar melihat aspek ini. Kita bisa melihat dan menyadari bahwa teguran, nasehat dan panggilan untuk melihat apa yang salah dan keliru dalam hidup kita hanya bisa dan sanggup diterima dengan baik pada waktu kita memiliki kedewasaan rohani di dalam hidup kita. Kedewasaan rohani itu memungkinkan kita bisa belajar untuk tidak mencari kesenangan sendiri, belajar untuk boleh melihat bagaimana melakukan kebaikan bagi orang yang lebih lemah imannya. Kedewasaan rohani adalah seseorang yang senantiasa lebih melihat keunggulan dan keindahan di dalam diri orang lain daripada kita melihat apa yang kecil dan kurang di dalam diri orang tersebut. Karena kalau tidak seperti itu, maka kita tidak akan bisa melihat apa yang menjadi panggilan dari rasul Paulus selanjutnya bagi jemaat di Roma ini untuk melihat apa yang bisa mereka kerjakan keluar.

Rev. Simon Manchester mengatakan kepada jemaatnya, kita di kota Sydney adalah jemaat yang berada di kota yang luar biasa comfortable. Tetapi di tengah kondisi yang comfortable ini jangan sampai kita kehilangan kerinduan dan keinginan untuk melihat kesulitan daripada banyak gereja-gereja yang tidak memiliki privilege seperti kita. Tidak jauh berbeda dengan jemaat Roma pada waktu itu, besar kotanya, banyak di antara mereka adalah orang-orang yang berpendidikan, memiliki berbagai macam resources termasuk skill dan keuangan. Maka Paulus tidak ingin mereka kehilangan fokus itu: yang pertama, kejarlah kedewasaan rohani; yang kedua, kejarlah kemuliaan Injil.

Sesudah Paulus bicara akan hal itu, maka kemudian di ayat selanjutnya Roma 15:16-21 Paulus membicarakan mengenai panggilan pelayanannya, “Aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepadaNya, yang disucikan oleh Roh Kudus” (ayat 16). Paulus jelas akan panggilan pelayanannya sebagai pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah. Paulus katakan inilah kerinduan dari seorang rasul Kristus. Paulus menggunakan ilustrasi dia seperti seorang imam yang datang ke depan mezbah untuk membawa persembahan dan persembahan itu adalah persembahan yang tidak boleh ada cacat, harus suci dan harus berharga. “I might present you as a pleasing and an acceptable offering to God” (Roma 15:16, NLT). Jadi Paulus bukan saja menyatakan bahwa Tuhan panggil dia untuk memperhatikan dan melayani kebanyakan orang yang ada di kota Roma itu adalah orang-orang yang bukan Yahudi, tetapi pada saat yang sama Paulus juga menyatakan satu kerinduannya di dalam pelayanan itu adalah dia bisa membawa jemaat sebagai korban persembahan yang berkenan kepada Allah dan bagi kemuliaan Allah. Kalimat ini bagi saya juga harus menjadi satu panggilan agung bagi setiap kita yang melayani, khususnya bagi kita yang menjadi hamba-hamba Tuhan, mari kita kejar kedewasaan rohani bagi jemaat yang kita layani supaya mereka boleh menjadi sebuah persembahan yang dengan bangga kita bawa ke hadapan Tuhan sebagai satu pelayanan yang betul-betul kudus, tidak bercacat, sebagai persembahan yang berarti dan berharga. Ini adalah satu ilustrasi yang luar biasa sekali. Alkitab senantiasa ingatkan kepada setiap orang yang datang beribadah kepada Allah untuk membawa persembahan dalam Perjanjian Lama suatu korban yang tidak ada cacat celanya, suci dan tanpa noda. Maka prinsip ini tetap kita pegang sampai hari ini, meskipun kita tidak membawa domba dan kambing sebagai persembahan di rumah Allah. Tetapi sikap dan attitude kita membawa persembahan kepada Allah tidak boleh berubah. Termasuk kita yang melayani, senantiasa harus membawa pelayanan yang terbaik di hadapan Allah. Bagi ┬áPaulus, yang dia ingin bawa ke hadapan Allah adalah suatu jemaat yang memiliki kedewasaan rohani dan pertumbuhan di dalam kehidupan jemaat sehingga akhirnya membawa satu sukacita pelayanan yang terindah dan terbaik. Maka untuk itu Paulus ingin mereka jangan anggap salah dan keliru pada waktu Paulus memberikan teguran dan koreksi menuntun dan memimpin, tidak lain dan tidak bukan supaya jemaat itu boleh menjadi dewasa di dalam Tuhan. Tidak ada motif dan tidak ada hal yang buruk selain kerinduan sebagai seorang rasul dan sebagai seorang hamba Tuhan untuk menyelesaikan semua pelayanannya dengan membawa di hadapan Allah sebagai an acceptable offering yang tidak bercacat cela. Maka apa yang menjadi aplikasi praktis dari prinsip ini bagi kita? Kita yang melakukan aktifitas pelayanan setiap minggu, yang bermain musik, yang mengajar dan yang melayani dalam hal-hal yang lain, apa saja yang kita lakukan bawa dengan satu kerinduan, Lord, I want to bring this ministry as an acceptable offering to You. Maka kita akan strive for excellence, kita akan selalu persiapkan dengan baik, kita akan doakan dengan baik, kita akan melakukan dengan baik, bukan untuk kebanggaan dan kepuasan diri tetapi untuk Tuhan semata. Itu berarti yang sakit kita sembuhkan, yang cacat kita perbaiki, supaya ini menjadi satu pelayanan yang kudus dan berkenan di hadapan Allah. Mari setiap kita strive in ministry dengan cara seperti ini.

Kemudian dia lanjutkan, “Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain selain kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa-kuasa tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh” (Roma 15:17-18). Paulus mempunyai keunikan tersendiri yaitu Tuhan panggil dia untuk memberitakan Injil ke tempat dimana orang lain belum melakukannya. Tetapi mari kita perhatikan pada waktu Paulus menyebutkan hal ini, pada waktu dia berbicara mengenai ambisinya, dia melihat achievement dan suksesnya, dia tidak melihat hal itu dengan angka, dengan lokasi dan tempat. Dia menyatakan semua itu dia lakukan di dalam Kristus. “Sebab itu ku tidak berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus” (Roma 15:18-19). Di sini ada lima hal yang muncul: ketaatan dalam perkataan dan perbuatan, kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat, dan kuasa Roh. “Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, sebagai satu privilege bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat dimana nama Kristus telah dikenal orang supaya aku jangan membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain” (Roma 15:20). Paulus bukan menyatakan hal ini sebagai sebuah kesombongan. Paulus menyatakan hal ini pertama-tama untuk menyatakan bahwa semua yang telah dia lakukan dan dia capai ini adalah demi untuk kemuliaan Injil; dilakukan di dalam kuasa Allah. Maka dari pihak kita, ada usaha, ada pengorbanan, ada pekerjaan yang kita kerjakan dan lakukan. Tetapi dari pihak Allah kita menyaksikan ada karya dan kuasa Roh Allah yang bekerja luar biasa dengan tanda-tanda ajaib dan mujizat. Yang kedua, Paulus mengarahkan pandangannya untuk mengabarkan Injil di tempat-tempat dimana nama Yesus belum pernah didengar orang. Sampai hari ini kita menyaksikan Allah tetap bekerja di antara orang-orang yang juga pergi ke suku-suku dan tempat-tempat dimana nama Yesus tidak pernah didengar. Bahkan banyak di antara mereka yang menolak dan melawan Injil, Yesus Kristus menyatakan diri dengan kuasa mujizat terjadi di tengah perlawanan dan kebencian orang, akhirnya orang-orang seperti itu menerima Tuhan Yesus. Hal-hal yang luar biasa terjadi.

Yang ketiga, Paulus berkata, “Aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah di tempatmu dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu” (Roma 15:24). Di sini Paulus memberikan visi kepada jemaat Roma bahwa mereka tidak boleh berhenti sampai di situ. Kejarlah satu visi dimana Injil itu harus disebarkan sampai ke tempat dimana orang lain belum pernah mendengar Injil. Kedewasaan rohani akan membuat orang masuk kepada visi dan mendukung pelayanan misi secara aktif. Paulus berkata mengenai apa yang sedang dia kerjakan saat menulis surat Roma ini, yakni dia sedang berada dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan uang yang sudah dikumpulkan oleh gereja-gereja di Mesopotamia dan Akhaya. Paulus mengatakan pengumpulan uang itu adalah untuk mendukung gereja-gereja di Yerusalem yang menghadapi berbagai kesulitan dan terutama secara finansial. “Keputusan itu memang telah mereka ambil tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi maka wajiblah bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka” (Roma 15:27). Di sini Paulus bukan saja memberitahukan bagaimana gereja-gereja Makedonia dan Akhaya terlibat aktif mendukung gereja-gereja di Yerusalem dengan uang mereka, tetapi sekaligus Paulus memberikan prinsip bahwa inilah juga kewajiban dari gereja-gereja yang ada di Roma mendukung pelayanan misi dengan harta duniawi atau uang mereka. Maka kita bisa lebih mengerti kalimat Paulus di Roma 15:24 “Aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah di tempatmu dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu” maksudnya kata ‘mengantar’ di sini bukan sekadar mengantar sampai ke terminal keberangkatan lalu bilang “bye-bye Paulus, selamat melayani!” Maksud kata ini adalah Paulus meminta mereka menjadi team supporting perjalanan misi Paulus ke Spanyol dan membiayai pelayanannya di sana. Paulus dengan terbuka menyatakan rencananya: sampai di Roma dia berencana melanjutkan pelayanannya ke Spanyol, dan dia meminta jemaat Roma mendukung kebutuhan bagi pelayanannya ini.

Tidak mudah bagi seorang hamba Tuhan meminta dengan terus-terang dan terbuka permintaan seperti ini karena bisa jadi orang salah mengerti seolah-olah pendeta koq minta-minta uang. Selama ini dalam pelayanan prinsip saya adalah: saya tidak akan pernah minta dukungan atau persembahan untuk diri saya sendiri. Tetapi saya akan minta sdr mendukung pelayanan hamba-hamba Tuhan yang lain yang saya tahu sangat membutuhkan dana bagi kehidupan dan pelayanannya terutama buat mereka yang berada di ladang misi. Kalau sampai rasul Paulus bilang “I want you to support my ministry in Spain,” bisa jadi permintaan ini disalah-mengerti. Tetapi semua ini akan menjadi indah dan baik dan menjadi sesuatu yang diterima oleh jemaat Roma pada waktu Paulus melihat mereka adalah jemaat yang penuh dengan segala kebaikan dan segala pengetahuan. Itu berarti permintaan Paulus: I want you to strife in maturity in your Christian life. Maturity dalam Christian life berarti jangan fokus kepada hal-hal yang kecil dan yang sepele, lihat hal-hal yang begitu indah dan baik di dalam hidup dan pelayanan kita. Pelayanan bergereja adalah satu pelayanan yang tidak gampang dan tidak mudah. Dan pada waktu sebuah gereja hanya melihat apa yang kurang daripada kehidupan bergereja kita, maka kita akan keluar dengan hati yang tidak melihat sesuatu yang indah dan baik dan kita mengucap syukur. Pada waktu kita datang ke dalam satu ibadah pun juga dengan mentalitas hati ada yang kurang dari saya dan kita minta gereja atau orang-orang yang ada di dalam komunitas gereja itu untuk mengisi apa yang kurang dari diri kita, kita akan seringkali menjadi orang yang kecewa. Tetapi pada waktu kita datang dengan “the fullness of goodness and knowledge,” dan bukan dengan emptiness dalam hidup kita seolah kita datang dengan kosong untuk diisi dengan kebaikan. Kita datang dengan penuh kebaikan dan penuh dengan pengetahuan, baru dari situ kita bisa melayani orang lain, kita bisa menasehati orang lain. Dan pada waktu orang itu “penuh,” dia tidak akan terima teguran dan nasehat itu sebagai sesuatu yang membuat dia marah dan kecewa, tetapi dia memiliki hati yang teachable untuk memperbaiki diri. Di dalam kedewasaan rohani itulah setiap kita akan takluk kepada otoritas firman yang selalu menjadi ingatan dan peringatan bagi kita. Maka jemaat Roma yang dewasa rohani itu tidak akan lihat bahwa Paulus mau mencari keuntungan dari mereka, tetapi sebagai seorang hamba Allah yang ingin kedewasaan itu terjadi dalam diri mereka sehingga walaupun mereka tidak kenal rasul Paulus dengan dekat, mereka menerima surat Roma ini sebagai firman Allah yang datang kepada mereka. Mereka menerima Paulus sebagai hamba Allah yang menulis surat ini dengan otoritas Allah yang bertujuan tidak membikin mereka untuk discouraged tetapi sebagai satu otoritas yang membawa kebaikan bagi mereka. Dan sikap itu bisa terjadi kepada setiap kita pada waktu kita tahu kita adalah orang Kristen yang mature dan dewasa dalam kerohanian. Kalau kita dewasa rohaninya maka kita bisa melihat apa yang Paulus katakan, ambisiku bukan untuk diri sendiri tetapi di dalam Kristus yang sudah memampukan, mari kita lihat tanah Spanyol sebagai visi dari Tuhan bagimu juga. Masakan saya yang dari Tarsus ini, pergi ke Antiokhia, pergi ke Ilirikum, pergi ke Atena, pergi ke Roma, sedangkan engkau yang tinggal di Roma tidak tergerak untuk pergi mengabarkan Injil ke Spanyol? Point Paulus adalah: kita tidak boleh berhenti sampai di sini. Mari kita lihat sampai ke mana Tuhan mau kita pergi. Kita mungkin tidak bisa pergi, tetapi kita bisa mengutus seseorang; kita mungkin tidak bisa menyisihkan waktu bagi pelayanan misi, tetapi kita bisa memakai waktu untuk mendukung mereka di dalam doa dan mendukung secara finansial di dalam pelayanan bagi suku-suku yang belum terjangkau oleh Injil. Semua itu menjadi sesuatu yang indah pada waktu kita hidupnya dewasa rohani.

Maka Paulus ingatkan itu kepada jemaat Roma supaya jemaat ini belajar mengejar kemuliaan Injil Allah, belajar melihat visi daripada Injil Yesus Kristus ini. Saya rindu sekali lagi memanggil kiranya kita boleh menjadi jemaat Tuhan yang bertumbuh dengan dewasa dengan melihat pekerjaan Tuhan seperti ini. Pelayanan kita sukses, indah dan baik, bukan soal berapa banyak achievement yang kita capai dan berapa banyak orang yang hadir berbakti dan berapa banyak yang bisa kita kerjakan; bukan pujian daripada orang yang kita cari dan dapatkan. Tidak ada hamba Tuhan yang nanti ketemu Tuhan boleh bawa semua achievement pelayanan dia dalam dunia ini. Tidak ada kita yang selama di dunia ini sudah kumpul uang dan harta, rumah yang banyak, nanti ketemu Tuhan kita banggakan di hadapan Tuhan. Tidak ada! Maka buat apa kita menyebutkan semua itu hanya untuk menerima pujian dari manusia? Sampai di hadapan Allah yang paling indah dan paling baik kita dapat adalah sebuah pujian dari Tuhan kita, “Engkau hamba yang baik dan setia, masuklah ke dalam sukacita Tuhanmu.”

Bersyukur untuk firman Allah yang kita terima pada hari ini, yang kiranya boleh membawa kita sekali lagi kepada fokus keindahan yang begitu banyak dalam hidup kita sebagai jemaat Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita supaya kita penuh berlimpah dengan segala kebaikan dan pengetahuan akan kebenaran Tuhan, sehingga kita boleh saling menasehati dan memimpin satu dengan yang lain. Kita sadar betapa kurangnya kita dan betapa banyak hal yang tidak menyenangkan hati Tuhan di dalam hidup kita bersama-sama. Kita seringkali kecewa melihat hal-hal yang negatif dalam hidup bergereja sama-sama, lebih daripada kita melihat segala keindahan dan kebaikan yang Tuhan beri dalam hidup kita. Biar kiranya Tuhan memimpin hati setiap kita supaya kita mau belajar untuk terus mengejar kedewasaan rohani, menjadikan setiap pelayanan yang kita kerjakan dengan indah supaya semua itu menjadi satu persembahan pelayanan yang menyenangkan Tuhan.(kz)