Kasih tidak Berbuat Jahat

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (35)
Tema: Kasih tidak Berbuat Jahat
Nats: Roma 14:1-12

Hari ini kita masuk kepada satu seri topik yang sangat delicate dari Roma 14-15 bicara mengenai prinsip dalam berelasi di antara orang-orang Kristen, di antara komunitas anak-anak Tuhan, di dalam relasi sehari-hari satu dengan yang lain. Pelayanan dan hidup bergereja itu adalah bicara soal relational, bicara mengenai soal hubungan relasi. Dan pada waktu kita bicara mengenai hubungan relasi, tidak perlu menunggu tiga orang empat orang baru muncul problem, dua orang saja sudah cukup bisa menciptakan problem di dalam relasi.

Ada problem-problem yang mudah diselesaikan. Genteng gereja kita bocor adalah hal yang mudah dibereskan. Lantai gereja kita kotor adalah hal yang mudah dibereskan. Kesulitan mengatur parkir mobil di halaman gereja adalah hal yang mudah dibereskan. Tetapi membereskan problem hati orang, itu bukanlah urusan yang mudah dibereskan.

Dalam Roma 14 Paulus menyebutkan urusan-urusan yang simple sederhana saja, only small matters, only non-essential matters, mengenai tradisi dan cara makan, apa yang perlu dimakan apa yang tidak perlu dimakan; mengenai kebiasaan tertentu seseorang, mengenai kebiasaan tertentu suatu ras; perbedaan warna kulit dan ras dari orang-orang yang datang berbakti dan beribadah, dst. Mudahkah itu diselesaikan? Jawabannya seharusnya mudah sekali. Tinggal diatur, tinggal diakomodasikan, tinggal dibicarakan dan diselaraskan. Di rumah toh kita juga menghadapi hal yang sama. Kita mau makan apa, kita mau bagaimana, hari ini makan di restoran atau masak di rumah, itu semua hal yang mudah dibereskan selama apapun yang ingin kita kerjakan dan lakukan mencetuskan esensi kasih dan perhatian satu dengan yang lain. Tetapi fakta realita memperlihatkan hal-hal yang sebenarnya sederhana seperti itu mungkin akhirnya menghasilkan hal yang rumit dan besar ketika cara penanganannya tidak tepat dan benar.

Ada dua hal yang terjadi di sini Paulus bicara soal perbedaan di dalam jemaat Roma, ada tradisi dan kebiasaan disebutkan di sini. “Yang seorang yakin bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja” (Roma 14:2). “Yang seorang menganggap  hari yang satu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja” (Roma 14:5). Dua hal disebutkan di sini tetapi itu bisa kita tarik sampai kepada isu-isu yang ada di dalam gereja pada hari ini, akhirnya menjadi problem yang begitu merusak secara besar kehidupan berkomunitas.

Dalam hidup kita ada hal-hal yang tidak bisa dirubah, kamu orang Yahudi saya orang Yunani, kita dari suku yang berbeda, kita punya warna kulit, kebiasaan dan cara hidup yang berbeda, itu kita tidak bisa ubah dan tolak sebagai bagian dari upbringing masing-masing. Sebagai anak-anak Tuhan yang sama-sama menerima kasih karunia dan anugerah Tuhan, kita harus belajar menerima hal-hal yang tidak bisa dirubah itu dengan hati yang besar dan lapang. Yesus Kristus mati di kayu salib memberikan hidupNya bagi kita sehingga kita tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri tetapi bagi Dia. Paulus mengingatkan, “Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan; dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:7-8). Melakukan sesuatu yang tidak baik oleh karena hanya sesuatu yang kita tidak bisa ubah, Paulus katakan, berarti engkau sudah menghina Allah yang menciptakan kita seperti ini adanya yang kita tidak bisa ubah.

Dalam komentarnya menafsir bagian ini Rev. John Piper mengatakan satu hal yang baik sekali, “All of those theological truths are brought out by Paul to give a framework for handling our little differences over non-essentials that can do such big damage without a God-centred way of thinking.” Hal-hal itu hanya perbedaan-perbedaan yang kecil, yang tidak esensial, tetapi akhirnya menghasilkan kerusakan yang begitu besar di dalam kehidupan berkomunitas. Itu sebab bagian ini penting sekali dan perlu supaya kita mempunyai God-centred way of thinking, cara berpikir yang berpusatkan kepada Allah dalam hidup kita.

Mari kita perhatikan baik-baik bagian ini. Kenapa bisa dari urusan-urusan kecil dan perbedaan-perbedaan yang tidak esensial akhirnya menghasilkan reaksi yang sangat negatif seperti apa yang terjadi di sini? Kita lihat degradasinya, bermula dari soal makan ini tidak makan itu, dari soal bagaimana memelihara hari-hari tertentu dsb kemudian menjadi sesuatu yang begitu merusak tidak terjadi begitu saja. Paulus melihat respon dan reaksi negatif itu sampai empat langkah. Yang pertama ada persoalan makan dan perbedaan soal memegang hari menciptakan problem apa. Tetapi muncul problem yang kedua, pada waktu Paulus katakan “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya,” (Roma 14:1), di situ kita melihat ada kepicikan pemahaman, ada pengkotakan cara melihat sesuatu yang kaku dan keras. Di situlah problem menjadi berubah, tidak lagi problem tentang soal makanan, dsb tetapi problem ketidak-dewasaan rohani, persoalan weak faith and strong faith, persoalan spiritual immaturity orang. Yang ketiga, persoalan menjadi lebih dalam lagi kerumitannya ketika hal yang tidak esensial ini kemudian menjadi persoalan cekcok mulut dan persoalan kalimat yang luar biasa. Bukan lagi gosip, bukan lagi menyatakan ketidak-setujuan atau perbedaan pendapat, tetapi sudah sampai kepada dua kata yang keras dipakai oleh rasul Paulus dalam Roma 14:10 “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Mengapakah engkau menghina saudaramu?” It is not a matter about disagreement anymore. It is about despising others. Itu bicara soal hati, bicara soal bagaimana hal yang tidak esensial membuat seseorang menghina orang lain, membuat seseorang menghakimi orang lain. Kalau sudah sampai di situ, kerusakan menjadi besar luar biasa. Menjadi sesuatu yang pada waktu mau dibereskan, engkau dan saya sulit dan bisa ikut terseret dan terbawa-bawa dalam kekacauan. Itulah sebabnya bagian ini menjadi bagian yang penting sekali mengapa John Piper mengingatkan if you don’t have God-centred way of thinking, if you don’t have a theological framework pemahaman yang benar-benar baik sungguh memahami akan hal ini, hal-hal yang sepele non-essentials menjadi kerusakan besar. Sampai yang keempat menjadi lebih dahsyat lagi, “Siapakah kamu sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri” (Roma 14:4) bukan lagi menghakimi pendapat orang itu, tetapi sekarang bilang orang itu tidak selamat. Bayangkan, dari non-essential things, hal yang kecil dan sepele, lalu kemudian menjadi sampai seperti ini. Maka Paulus katakan, soal keselamatan orang itu tidak ada kaitannya dengan penilaianmu, soal keselamatan orang itu soal kuasa Allah menopang keselamatannya. Tetapi bayangkan percekcokan itu sudah sampai ke sana. Luar biasa sekali! Tetapi bagian ini memberitahukan kepada kita problem itu bukan sekedar yang kelihatan di permukaan seperti itu. Problem yang harus diselesaikan adalah problem ketidak-dewasaan spiritual; problem yang harus diselesaikan adalah problem bagaimana kita menilai dan berkata-kata. Problem itu problem hati kita, attitude kita. Maka di dalam hal ini Paulus tidak main-main, Paulus mengeluarkan teguran yang keras, “Siapa kamu?” Paulus perlu menegur dengan keras di bagian ini karena ini menyangkut sesuatu yang sudah out of boundary, bermula dari soal makan dan minum saja akhirnya kemudian mereka menghina dan menghakimi bukan sekedar apa saja yang diperbuat tetapi sampai kepada keselamatan seseorang.

Dalam hidup dan melayani Tuhan kita tidak boleh kehilangan aspek yang kita harus senantiasa sadari bahwa kita harus menjadi sebuah komunitas gereja, sebuah rumah Tuhan, sebuah pelayanan dimana kita saling menguatkan, saling encourage, saling menegur, saling memperbaiki, dan saling menuntun satu dengan yang lain dengan konsep seperti itu. Menyedihkan, ketika kita menjadikan hidup bergereja seperti kita ini customer yang menerima service pelayanan sehingga kita hanya ingin dilayani, dihibur, di-entertain. Kita tidak suka mendengarkan teguran yang keras daripada firman Tuhan, kita lalu bereaksi marah dan merasa tersinggung, dsb. “Saya datang ke sini buat dilayani, bukan dimarah-marahi.” Akhirnya kita pindah ke gereja lain. Kita kehilangan aspek mendapatkan prinsip bagaimana jemaat bertumbuh sama-sama dari mimbar ini dihibur, dipimpin, ditegur kalau salah, diperbaiki dan diarahkan. Semuanya dengan satu tujuan dan framework-nya bukan untuk sesuatu ego dan untuk diri sendiri atau tidak senang jikalau pendapat kita tidak diterima. Maka Paulus memberikan prinsip ini akan menjadi indah dalam hidup kita hari ini dan kita tidak berulangkali jatuh lagi kepada soal yang sama. Pada waktu kita menganggap preferences kita, kesenangan kita, keinginan kita harus didahulukan dan diutamakan seperti itu, dan itu menjadi satu kemutlakan, maka terus menjadi problem berulang seperti itu.

Maka dengan teguran kata “siapakah kamu,” Paulus memanggil setiap kita untuk pegang tiga prinsip ini. Prinsip pertama adalah memiliki hati yang selalu memang mau menjalankan firman Tuhan. Learn to receive and obey the word of God. Waktu kita memiliki hati mau dengar-dengaran kepada firman Tuhan, maka kita akan memiliki ketaatan dan ketelatenan yang indah mengikuti apa yang dikatakan Roma 14 ini. Mari sekali lagi kita bawa hati kita kepada Tuhan, terima dengan lembut teguran dan koreksi dari firmanNya kepada kita.

Prinsip kedua, miliki bijaksana dan kematangan menilai apa yang penting, apa yang tidak penting dalam hidup kita. Roma 14:1 dalam terjemahan bahasa Inggrisnya mengatakan “Do not quarrel over disputable matters.” Jangan ributkan hal-hal yang disputable atau non-essential matters. Dalam hidup kita sebagai orang Kristen ada hal-hal yang esensi, yang menjadi prinsip yang non-negotiable, hal-hal yang penting yang berkaitan dengan doktrin, berkaitan dengan prinsip, ajaran, kebenaran firman Tuhan, itu adalah hal-hal yang non-negotiable karena itu adalah hal-hal yang essential. Sedangkan semua yang lain itu hanya ekspresi, bersifat disputable matters, sesuatu yang non-essentials. Tidak perlu kita mempersoalkan dan mempermasalahkannya di dalam hidup kita. Berkali-kali Paulus katakan, siapa melakukan ini dan itu, ia melakukannya untuk Tuhan (Roma 14:6).

Prinsip ketiga, mari kita memiliki keinginan hati yang teachable untuk terus bertumbuh dan expanding dalam segala hal; kita makin memahami dan melihat lebih luas, tidak terus tinggal dalam kepicikan. Kita mengakui ada banyak hal kita belum tahu, ada banyak hal kita belum mengerti, dan kita mau belajar dan terus belajar. Kita perlu expanding dalam hal bergereja, dalam hal berkomunitas, apa yang bisa kita pelajari, apa yang kita bisa lihat, bagaimana pelayanan yang kita bisa kerjakan dan lakukan, itu menjadi satu pembelajaran yang penting dan baik luar biasa. Itu semua menjadi sesuatu pembuka wawasan di dalam hidup kita. Mari kita latih dan perluas wawasan kita, pemahaman kita, pengertian kita, sehingga kita mempunyai wawasan yang lebih indah dan lebih luas. Wawasan itu tidak boleh diikat oleh kebiasaan kita; wawasan itu tidak boleh diikat oleh tradisi kita; wawasan itu tidak boleh diikat oleh preferensi apa yang kita suka dan mau. Wawasan itu harus dilihat oleh prinsip yang lebih luas yaitu God-centred way of thinking, Christ-glorifying thinking. Sehingga pada waktu kita melakukan sesuatu selalu mempertanyakan apakah ini memuliakan Allah atau tidak.

Prinsip keempat, bagaimana kita menyelesaikan persoalan immaturity, bagaimana kita menyelesaikan persoalan ketika dua belah pihak terlalu cepat untuk menghakimi dan menghina satu sama lain? Tidak ada cara lain selain kita mengambil satu sikap untuk tidak cepat-cepat mengeluarkan kalimat dan pendapat, tidak terburu-buru mengeluarkan komentar dan pendapat, dan selalu mengatakan “let me think about it,” lalu kemudian memang betul-betul saya baca, saya mempelajari, saya memahami, dsb. Jika kita tidak mengerti, jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu.

Tidak gampang dan tidak mudah melakukan sesuatu hal yang kita ingin belajar sama-sama. Masih ingat pada waktu saya memberikan kepada sdr pengertian dan pemahaman dari Pengakuan Iman Nicea. Sdr tahu Pengakuan Iman Nicea muncul sekitar tahun 325AD sebagai reaksi dan jawaban setelah ada pengajaran kontroversi dari seorang bishop bernama Arius, yang mengatakan Yesus itu dicipta dan lebih rendah daripada Allah Bapa. Pengakuan Iman Rasuli yang diperkirakan sudah ada sekitar abad 2AD  sebagai pengakuan iman Kristen yang pertama isinya lebih sedikit general. Kalau ada seorang yang Saksi Yehovah hadir dalam ibadah kita saya percaya dia tidak menolak mengatakan Pengakuan Iman Rasuli. Tetapi pada waktu kita menyatakan Pengakuan Iman Nicea yang mengatakan Yesus adalah Allah yang sejati dari Allah yang sejati, terang dari terang, diperanakkan bukan dicipta, tetapi sehakekat dengan Allah Bapa, orang Saksi Yehovah itu tidak terima karena itu bukan pengakuan iman dia. Di dalam konstitusi gereja kita, kita sudah memasukkan Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, Pengakuan Iman Atanasius dan beberapa confession of faith yang menjadi landasan daripada pengakuan iman gereja kita. Semua ini perlu engkau dan saya mengenal, mengetahui dan mempelajarinya. Kita memperluas pengertian kita. Kita melihat lebih dalam pemahaman kita. Sehingga pada waktu disampaikan di sini bukan sekedar soal kebiasaan, bukan soal belum hafal, bukan soal tambah sedikit lebih panjang, tetapi soal membuka wawasan, mengerti kekayaan iman Kristen kita, dan yang ketiga, membuat kita beribadah tidak monoton dan akhirnya menjadi sesuatu yang keluar dari mulut kita tanpa kita think it over.

Hari ini saya rindu sekali ada hal yang sangat-sangat tidak essential, jangan menjadi sesuatu yang essential dan akhirnya tanpa kita sadari kita kemudian mengeluarkan kalimat yang bisa melukai hati orang. Dan pada waktu kita sudah melukai hati orang, meskipun the problem is fixed, hati orang belum fixed. Soal makan, makanan tidak cukup banyak, tidak usah dipersoalkan dan dipertentangkan. Ada orang makan belum selesai, lalu bawa kantong kresek bawa makanan pulang, sudahlah kita sedikit tutup mata, tidak perlu hal-hal seperti itu dipersoalkan. Makanan tidak cukup, tidak dapat makan juga tidak apa-apa. Paulus bilang makan tidak untung, tidak makan juga tidak rugi. Anakmu pulang dari gereja bilang guru Sekolah Minggunya jahat, tadi memarahi dia, akhirnya sebagai orang tua engkau jadi tidak senang dengan guru itu. Eh, minggu depannya anakmu bilang guru itu baik, tadi dia kasih permen. Tapi sdr sudah keburu marah sama gurunya karena engkau terlalu cepat bereaksi.

Sekali lagi, Paulus hanya mengingatkan kepada jemaat, hati-hati dengan perkataan dan percakapan kita. Kenapa engkau menghakimi orang lain; kenapa engkau menghina orang lain. Kalimat ini harus menjadikan satu ingatan bagi kita bermula dari hal yang kecil tetapi akhirnya orang itu bilang A sama kamu, lalu bilang B sama dia, akhirnya menjadi rumit dan runyam. How can you fix that?

Dalam Roma 13:10 Paulus mengingatkan, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia.” Juga dalam Roma 12:9-10 “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” Accept one another, jangan anggap orang lain lebih rendah dan lebih hina. Pegang pendapatmu dengan selalu mengambil sikap apakah yang engkau katakan dan lakukan semuanya bagi kemuliaan Tuhan.

Prinsip-prinsip ini akan menjadikan kita bertumbuh dalam relasi kita satu dengan yang lain, dalam hidup bergereja, dan dalam hidup rumah tangga kita masing-masing. Biar firman Tuhan ini sekali lagi boleh membuat kita menyadari dan selalu waspada akan hal yang kecil dan sepele di dalam hidup kita bisa menjadi besar dan rumit. Diperbesar bukan karena persoalannya besar; diperbesar oleh karena saya tidak mengerti perbedaan mana yang esensi, mana yang non-esensi. Diperbesar karena saya melihatnya dengan picik, karena ketidak-matangan spiritual dan pemahaman yang tidak lengkap lalu kita anggap itu sebagai sesuatu yang penting. Diperbesar sebab keluar kalimat yang menyertai sudah menjadi sangat personal luar biasa, dengan kalimat-kalimat penghakiman dan penghinaan. Diperbesar lagi karena kamu mempersoalkan relasi orang itu dengan Tuhan.

Mari kita belajar daripada firman Tuhan hari ini bagaimana memiliki prinsip yang benar dalam berelasi, bukan saja di gereja ini tetapi juga dii luar, banyak perbedaan yang kita hadapi walaupun kita sama-sama anak Tuhan. Ada orang dari gereja lain, dsb. Kalau kita bisa mempunyai pemahaman seperti ini walaupun cara ibadahnya berbeda, cara baptisnya berbeda, kita tidak akan pernah sampai kepada men-judge keselamatan orang hanya karena dia berbeda plang dengan kita. Semua itu akan menjadi lebih indah dalam hidup kita.

Bersyukur untuk firman Tuhan ini. Pada waktu firman Tuhan ini diberi dalam hidup jemaat Tuhan di Roma, kita bisa melihat bahwa kehidupan bergereja dan pelayanan dari anak-anak Tuhan seringkali dikaburkan oleh berbagai hal yang tidak esential sehingga menciptakan perasaan yang saling menghakimi dan menghina; yang menyebabkan ketidak-harmonisan, hilangnya damai sejahtera dan sukacita, karena kita tidak meletakkan God-centred way of thinking di dalam hidup kita. Kita tidak mengambil keputusan dan berkata-kata dengan Christ-centered yang harus kita muliakan di dalam hidup kita. Hari ini kita diajar dengan perspektif yang lebih baik, lebih dalam di dalam hidup kita supaya kita boleh melihat dengan baik, dengan luas, dengan dalam, dengan kedewasaan rohani dalam hidup kita sehingga kita boleh menjadi orang yang menjadi berkat bagi banyak orang.(kz)