Sikap Hati yang Benar dalam Melayani

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (31)
Tema: Sikap Hati yang Benar dalam Melayani
Nats: Roma 12:4-8

Paulus membuka Roma 12 dengan kalimat “Karena itu demi kemurahan Allah” (Roma 12:1) Di situ ia mengarahkan pikiran kita kepada satu kesadaran bahwa segala sesuatu dalam hidup kita adalah karena kemurahan Allah semata-mata; bahwa keselamatan yang telah kita terima sesungguhnya tidak layak kita peroleh; bahwa apa yang kita miliki sekarang semuanya semata-mata karena belas kasihan Allah. Frase yang sama Paulus ulang kembali di ayat 3, “Berdasarkan kasih karunia yang dikaruniakan Allah,” Paulus memberikan nasehat bukan karena posisinya lebih tinggi daripada yang lain tetapi karena menyadari belas kasihan yang Tuhan beri kepadanya. Itu menjadi dasar yang penting terhadap apa yang kita miliki sekarang bicara mengenai gereja, mengenai pelayanan, mengenai apa yang kita bisa beri dsb.

Maka implikasi yang pertama, tidak ada satu orang pun yang boleh berkata “aku tidak punya apa-apa, aku tidak tahu apa yang bisa aku berikan, pelayanan apa yang harus aku lakukan,” karena masing-masing kita diberikan tempat dan posisi yang sepatutnya oleh Allah di dalam satu keutuhan dan keindahan pekerjaan Allah. Allah menghargai keberadaan kita dan menempatkan setiap kita di dalam fungsi dan tugas masing-masing. Di situlah kita berfungsi dan kita memberikan seturut dengan apa yang Tuhan beri kepada kita. Tidak ada orang yang boleh mengatakan aku tidak punya apa-apa, karena ketika kita punya meja makan di rumah, berarti kita bisa melayani orang; pada waktu kita punya rumah, kita bisa memberikan tumpangan. Tidak ada orang yang boleh mengatakan dia tidak punya apa-apa, karena pada waktu dia masih punya telinga, maka dia bisa memakainya untuk mendengarkan persoalan dan kesulitan orang lain dan pada waktu dia masih punya mulut, dia bisa memberikan nasehat kepada orang itu. Orang yang punya kasih, berikan kasih itu dengan tulus dan sukacita. Orang yang punya pengharapan, orang yang punya doa, beri kekuatan dan penghiburan kepada orang lain. Orang yang punya uang, berikan kepada orang yang membutuhkan dengan murah hati. Tuhan sudah memberikan segala sesuatu, maka mari kita melakukan pelayanan rohani berdasarkan karunia yang Tuhan beri kepada masing-masing kita.

Implikasi yang kedua, tidak boleh ada pikiran yang sempit hanya melihat karunia-karunia rohani dan pelayanan itu di dalam konteks gereja dan di dalam konteks jabatan. Tidak boleh kita tanya, apa yang harus saya kerjakan di dalam gereja, apa pelayanan yang diberikan kepada saya, jabatan apa yang diberikan kepada saya. Atau pun sebaliknya, kita juga sering approach orang dengan pertanyaan apa talenta atau skill yang dia punya untuk melayani di gereja: bernyanyikah? bermain alat musikkah? mengajar anak-anakkah? maka langsung kita ajak dia pelayanan ibadah atau sekolah minggu. Jadi kita langsung kaitkan apa yang dia bisa lakukan dengan pelayanan apa yang cocok bagi dia, sehingga di situ baru seseorang melayani. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak bisa melakukan semua itu? Akhirnya kemudian diberi pelayanan mengedarkan kantong persembahan atau bagian penyambutan di depan pintu. Itu terjadi karena kita selalu mengkaitkan pelayanan dengan apa yang bisa dia lakukan di dalam gereja. Maka penekanan Paulus dalam melayani yang lebih penting adalah attitude atau sikap dalam pelayanan ketimbang jenis pelayanan apa yang bisa dilakukan. Sehingga Paulus katakan siapa memberi, lakukan dengan sukacita; siapa berdoa, berdoalah dengan tekun; pada waktu orang itu melakukan hospitality, lakukanlah dengan cheerful, dst. Bagian itu yang penting kita perhatikan.

Ingatkan, pada waktu kita bicara mengenai karunia-karunia rohani, kita tahu itu adalah spiritual gift, pemberian dari Allah, bukan dari saya punya. Berarti di situ hati kita dijaga untuk senantiasa ingat yang kita punya itu adalah pemberian. Dan kenapa hal-hal itu menjadi karunia rohani? Bukankah kita punya uang sama seperti orang lain? Bukankah kita punya benda-benda materi sama seperti orang lain? Kita bisa mengajar, orang lain juga bisa mengajar; kita bisa menasehati, orang lain juga bisa menasehati. Perbedaannya dimana? Dalam hal ini Rev. John Piper mengatakan ada dua hal yang membedakan. Yang pertama, pelayanan itu kita beri dengan joyful; yang kedua, pelayanan itu menjadi satu pelayanan yang memberikan beneficial bagi orang lain. Maka waktu kita mengajar, misalnya, kita lakukan itu dengan sukacita dan kita tahu pengajaran kita itu akan memimpin orang kepada kebenaran-kebenaran rohani, itu yang membuat pengajaranmu menjadi spiritual gift; itu yang membuat makan malammu bersama dengan orang lain menjadi spiritual gift; itu yang membuat engkau memberikan tumpangan di rumahmu itu menjadi spiritual gift, karena hal itu engkau lakukan tidak dengan hati yang berat, tetapi dengan joyful, sukacita. Engkau lakukan itu dengan satu kesadaran pelayanan ini menjadi kendaraan yang Allah pakai dalam hidupku. Sehingga sekali pun aku hanya bisa memberikan secangkir air kepada orang yang sedang kehausan, di situ dia bisa melihat kasih Allah melalui aku. Jelas sekali karunia rohani yang Paulus bicarakan tidak hanya sampai kepada aspek apa yang dilakukan di dalam konteks pelayanan gerejawi dan bukan dalam aspek jabatan gerejawi belaka. Jelas sekali pelayanan berdoa, bukan jabatan; pelayan memberi kepada orang yang membutuhkan, bukan jabatan; mengundang orang menginap di rumah, bukan jabatan; saling menghargai dan menghormati, bukan jabatan; pelayanan kasih, bukan jabatan.

Implikasi yang ketiga, karunia rohani bukan sesuatu yang kita bisa pisahkan dengan jelas. Aneh kalau orang bilang karunia rohaniku hanya mengajar tetapi tidak punya karunia memberikan nasehat, memberikan teguran koreksi, mendoakan orang. Aneh kalau orang bilang karunia saya bukan mengajar tetapi mengoreksi orang. Jadi hal-hal ini tidak bisa dipisah-pisah seperti itu. Ini hal yang perlu kita perhatikan. Dengan demikian bukan bicara apa-nya, kata rasul Paulus, tetapi bagaimana, bicara soal sikap, attitude. Maka penekanan Paulus dalam melayani yang lebih penting adalah attitude atau sikap dalam pelayanan ketimbang jenis pelayanan apa yang bisa dilakukan. Sehingga Paulus katakan siapa memberi, lakukan dengan sukacita; siapa berdoa, berdoalah dengan tekun; pada waktu orang itu melakukan hospitality, lakukanlah dengan cheerful, dst. Bagian itu yang penting kita perhatikan.

Implikasi yang keempat, pada waktu kita melihat karunia rohani spiritual gift ini, kita melihat di dalam Alkitab ada dua tempat dimana Paulus bicara mengenai karunia rohani. Yang pertama di dalam surat Roma ini dan yang kedua dalam surat 1 Korintus. Dalam surat Korintus, Paulus sangat jelas sekali bukan bicara soal apa tetapi bicara mengenai bagaimana sikap hati jemaat Korintus dalam menggunakan karunia-karunia rohani, oleh karena telah terjadi penyalah-gunaan dan kesalahan konsep di dalam mereka bergereja sehingga timbullah kelompok orang yang merasa diri superior dan orang yang merasa inferior; timbullah hal-hal yang menjadikan kacau-balau dan sengketa di dalam pelayanan mereka. Sedangkan di surat Roma bagaimana kondisinya tidak sejelas itu tetapi kemungkinan di sini Paulus membicarakan karunia rohani sebab telah terjadi hal yang keliru dan salah di dalam diri jemaat ini bahwa bakat, talenta dan resources yang mereka miliki adalah dari diri mereka sendiri, sehingga mereka menganggap diri lebih penting daripada orang lain. Indikasi itu bisa kita lihat dari perkataan Paulus dalam Roma 12:3 “janganlah menilai dirimu lebih tinggi daripada yang seharusnya.” Berarti dengan kata lain ketika Paulus mengingatkan kita untuk melihat semua yang kita miliki dengan satu sikap attitude yang tepat dan benar bagaimana kita mengerjakan dan melakukan apa yang Tuhan sudah beri kepada kita.

Dalam Roma 12:6-8 Paulus mengatakan “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada setiap kita. Jikalau karunia itu untuk bernubuat, baiklah ia melakukannya sesuai dengan iman kita. Jikalau karunia untuk melayani, baiklah ia melayani; jikalau karunia untuk mengajar, baiklah ia mengajar; jikalau karunia untuk menasehati, baiklah ia menasehati.” Ini tiga kategori pertama bicara mengenai mereka yang melakukan pelayanan firman. Kemudian dilanjutkan dengan 3 kategori pelayanan yang kedua: “Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas. Siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin. Siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”

“Jikalau karunia itu untuk bernubuat, baiklah ia melakukannya sesuai dengan iman kita.” Kata “sesuai dengan iman kita” ini penting, analogia of faith, ada batasan iman. Membaca ayat ini banyak orang langsung tekankan kepada soal prophesy: apa itu nubuat, apakah jaman sekarang orang bisa bernubuat, apakah orang itu mendapat wahyu dari Tuhan yang berbeda dengan pengajaran regular, dsb. Akhirnya jatuhlah perdebatan gereja kepada soal itu, padahal yang penting justru sebenarnya adalah apapun pelayanan dia, baik berkhotbah, baik mengajar, ataupun memberi nasehat atau konseling, semua itu harus dilakukan “according to the standard of our faith.” Batasan iman, apa artinya?

Pertama, seorang hamba Tuhan yang melayani atau mereka yang memimpin tidak boleh memiliki sikap hati self-advancing dalam ministry tetapi selalu sadar dengan rendah hati mereka mempunyai limitasi dan keterbatasan. Kita manusia terbatas, kita tidak boleh menjadikan diri kita sebagai pusat dari pelayanan itu, untuk pujian atau profit bagi diri sendiri, untuk self-advancing, mengagungkan diri sendiri, bahwa diri kitalah yang paling hebat, bahwa tanpa kita pelayanan itu tidak bisa jalan. Di situlah seorang hamba Tuhan harus menjaga dirinya sendiri. Itu batasan kita. Jangan merasa kitalah yang paling hebat, kitalah yang paling dibutuhkan, tidak boleh ada hati seperti itu di dalam diri setiap hamba Tuhan, termasuk diriku sendiri. Karena kalau kita lupa diri dan kalau kita anggap bahwa diri kita yang harus dihormati dan dihargai, maka itulah awal daripada kejatuhan orang dalam pelayanan.

Kedua, ada batasan iman berarti setiap kali kita berkhotbah, setiap kali kita mengajar, ada batasannya yaitu pengajaran itu harus benar dan solid seturut dengan apa yang Alkitab katakan. Dia tidak bisa mengatakan dengan seenaknya; ada standarnya, ada batasannya.

Ketiga, dengan memberikan satu batasan iman seperti itu, ada code of conduct yang penting yaitu di situ kita harus menjaga diri supaya jangan sampai keliru dan salah melangkah. Kita harus jaga diri jangan sampai membuat cacat pelayanan. Ini bisa dijaga jikalau kita memiliki kerendahan hati untuk melayani, bahwa yang kita utamakan dan yang kita junjung tinggi dalam pelayanan itu adalah Tuhan Yesus Kristus dan bukan diri kita sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis, Kristus harus semakin besar, dan aku harus semakin kecil (Yohanes 3:30). Itu adalah sikap hati humble memuliakan Kristus.

Selanjutnya Paulus mengatakan, “Jikalau karunia untuk melayani, baiklah ia melayani; jikalau karunia untuk mengajar, baiklah ia mengajar; jikalau karunia untuk menasehati, baiklah ia menasehati” (Roma 12:7). Apa maksudnya? Memang melayani harus melayani; mengajar harus mengajar; menasehati harus menasehati. kenapa Paulus memakai kata yang sama antara menyebut karunianya [noun] dengan sikap pelayanannya [verb], lain kalau misalnya Paulus bilang: mengajarlah [verb] dengan pengajaran yang sungguh-sungguh [adjective]; menasehati dengan nasehat yang membangun; itu menjadi pasangan yang lebih tepat. Kalau karunianya memberikan konseling menasehati, mengoreksi, baiklah dia menasehati mengoreksi. Mengajar, mengajar. Melayani, melayani. Di sini Paulus bukan menekankan aktifitas karunianya, tetapi penekanan Paulus adalah kepada integritas dari orang yang menggunakan karunia itu. Ini hal yang penting. Dari situ sdr bisa lihat pada waktu seorang yang menamakan diri sebagai pelayan hamba Tuhan, jikalau kemudian hidupnya bukan sebagai pelayan hamba Tuhan, itu berkaitan dengan integritas daripada satu pelayanan. Kalau dia disebut sebagai seorang yang melayani Tuhan tetapi kemudian dia tidak menyatakan identitas sebagai pelayan Tuhan, bagaimana? Jadi di situ Paulus sedang berbicara bahwa seorang hamba Tuhan yang melayani memiliki satu standar apa yang dia lakukan dan diri dia yang melayani, itu dua aspek yang tidak boleh dilepaskan dan itulah yang disebut sebagai satu integrity yang penting luar biasa. Kita menyebut diri melayani Kristus tetapi pada waktu kita melayani Kristus kita tahu kita tidak boleh lari daripada Dia yang kita layani. Bukan diri, bukan advance dari diri kita sendiri, bukan itu yang menjadi hal yang penting luar biasa, tetapi Kristus yang kita layani. Maka batasan ini berarti kita harus jaga diri, kita harus menjaga pengajaran kita, kita harus menjaga tingkah laku kita, dan setiap kita memiliki code of conduct dimana kita harus hati-hati, baik-baik menjaga diri.

Itulah sebabnya rasul Paulus mengatakan hal ini, there is a standard of faith. Standar itu jelas harus luas sekali. Bukan saja bicara mengenai khotbah, pengajaran itu tepat dan benar, tetapi juga bicara mengenai beberapa sikap-sikap di dalam pelayanan yang kita harus hati-hati. Maka sikap yang benar bukan untuk hormat diri self advancing, selalu dengan rendah hati tahu kita melayani Kristus dengan menjaga hati kita baik-baik. Jaga orang yang sama-sama  melayani di sekitarmu baik-baik, saling mengingatkan, saling mengoreksi, saling menguatkan. Bukan dengan cara kita diam-diam saja kalau ada sesuatu hal yang serius keluar dari code of conduct itu. Waktu engkau mendengar seseorang mengatakan sesuatu mengenai seorang pelayan Tuhan, engkau harus cek, benar tidak dia begitu? Karena itu bicara mengenai aspek soal integritas. Bagi saya, kalau itu adalah hal yang serius. Kalau ada orang mengatakan dia menjadi majelis gereja, tetapi korupsi. Allegation itu serius, kita tidak boleh langsung terima, kita harus tanya benar atau tidak, tahu dari mana? Kita harus teliti, harus hati-hati. Tidak segera terima apa saja yang engkau dengar, apalagi ikut-ikutan menyebar-luaskan gosip yang tidak jelas kebenarannya. Jadi there is a code of conduct seperti itu. Itulah yang Paulus katakan, karena tidak ada orang yang bisa menempatkan diri di atas daripada standar kebenaran firman Tuhan. Dia harus menundukkan diri kepada standar kebenaran firman Tuhan yang meng-guide segala sesuatu. Maka kenapa Paulus menggunakan kata itu. Jika engkau mengajar, mengajarlah sesuai dengan the standard of our faith. Jika engkau menasehati, nasehat dengan standar seperti itu.

Berbeda dengan tiga hal yang di bawah, Paulus memberikan prinsip ini, “Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas. Siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin. Siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Di sini Paulus menyebut kata “siapa yang memberikan bantuan” ini seperti seseorang yang menabur benih. Maka di situ terkadang orang yang melakukan semangatnya bisa kendor, di situ kita bisa menggerutu, di situ kita bisa punya motif yang tidak benar. Dengan sowing seed berarti sikap hati kita adalah kita selalu tahu kita punya bakul itu penuh¬† Kita tidak akan menabur benih jika kita selalu merasa tidak punya apa-apa. Itu adalah sikap pelayanan yang membutuhkan sikap hati yang benar. Di dalam pelayanan kita bergereja perlu sikap hati self-forgetting ministry. Self-forgetting ministry berarti kita bersedia untuk melupakan apa yang kita kerjakan dan kita bersedia untuk dilupakan. Paulus bilang, barangsiapa membagi-bagi, barangsiapa terus menuntun memimpin orang, barangsiapa memberikan generosity kepada orang lakukanlah dengan ikhlas, atau terjemahan bahasa Inggris memakai kata simplicity. Ini kata penting. Dengan kata simplicity, berarti memang tidak boleh ada motif apa-apa. Simplicity, berarti tidak ada kalkulasi untung rugi. Simplicity, berarti tidak boleh saya memberi dengan maksud apa-apa. Tidak ada tujuan apapun kepada diri. Ini penting sekali. Sebab jaman itu kalau dia berada dalam wilayah pelayanan diaken, dia membagi-bagi makanan, uang dan berbagai keperluan bagi jemaat yang kekurangan, itu bisa memberikan kesan orang yang dibantu merasa dia adalah orang yang menjadi juruselamatnya. Maka orang yang melayani itu juga bisa bersikap memang dia yang bantu sehingga seolah-olah dia yang menjadi juruselamat orang itu. Maka Paulus ingatkan do it with simplicity. Kedua, lakukanlah terus-menerus. Ketiga, lakukanlah dengan sukacita. Itu sikap hati seorang yang melayani. Bersediakah kita memang melayani untuk dilupakan, bersedia melayani memang dengan tidak menganggap diri perlu diingat-ingat; bersedia melayani ketika orang tidak terlalu menghargai apa yang engkau melakukan, dan tidak menyimpan jasa kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain. Itu arti kata simplicity. Itu adalah sikap hati yang kita lakukan terus-menerus. Tidak gampang, bukan? Sudah lakukan seperti itu terus-menerus, kita juga dipanggil melakukan dengan sukacita. Itulah sikap hati yang benar seperti itu dalam pelayanan kita.

Saya harap firman ini memberikan kerinduan hati kepada setiap kita sebagai satu keluarga di dalam gereja ini. Miliki sikap hati yang benar terhadap segala sesuatu yang Tuhan sudah kasih kepada kita. Itu adalah anugerah dan mercy yang Tuhan kasih kepada engkau dan saya. Pada waktu kita kerjakan, kita tahu itu bukan untuk self advancing diri, demi untuk kehebatan diri. Selalu jaga diri, jaga hati baik-baik, bahwa semua ini bukan untuk saya dan bukan untuk dianggap diri yang paling penting. Itu adalah untuk hormat kemuliaan Allah semata. Selalu jaga diri baik-baik supaya di dalam kita melayani itu jangan sampai menjadi sesuatu yang menjebak kita jatuh di dalam hal yang sangat menyedihkan. Yang kedua, self-forgetting ministry. Sikap hati dalam pelayanan dimana kita lakukan dengan simplicity, dengan terus-menerus, dengan sukacita. Bersyukur kepada Allah, Bapa yang baik, karena kita menyadari kita punya begitu banyak hal daripadaNya hari ini. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita supaya kita boleh menjadi anak-anak Tuhan yang senantiasa melihat apa yang perlu, apa yang sepatutnya, apa yang harus kita beri di dalam hidup kita dan tidak pernah menjadi satu tuntutan kepada orang yang lain untuk membalas melayani kepada kita, karena kita sudah dapat semua dari Tuhan, itu adalah gift pemberian yang Tuhan kasih dan itu bukan jasa kita. Pada waktu kita lakukan, itu kita lakukan untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk mencari kepentingan diri sendiri, nama Tuhan yang diingat orang dan bukan diri kita yang harus diingat orang. Biarlah melalui firman Tuhan ini kita mengucap syukur selalu bahwa kita boleh menjadi berkat di dalam pelayanan kita masing-masing.(kz)