Menilai Diri dengan Benar

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (30)
Tema: Menilai Diri dengan Benar
Nats: Roma 12:3

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing” (Roma 12:3).

“Because of the privilege and authority God has given me, I give each of you this warning: Don’t think you are better than you really are. Be honest in your evaluation of yourselves, measuring yourselves by the faith God has given us.” [terjemahan NLT, New Living Translation]

Unik sekali, Paulus memberikan ayat ini disertai dengan perintah tetapi sekaligus dengan sikap kerendahan hati yang luar biasa. “Because of the privilege and authority God has given me,” meskipun Paulus memerintahkan hal ini kepada setiap jemaat, dia menyatakan hal ini dengan satu kesadaran bahwa dia tidak lebih tinggi daripada mereka. Saya memberi kalian perintah untuk menilai bukan karena saya lebih tinggi tetapi karena saya telah mendapatkan anugerah dari Allah, hidup saya cuma dari belas kasihan Allah. Tetapi pada saat yang sama semua orang yang menerima perintah ini juga sadar bahwa mereka juga tidak lebih tinggi daripada orang lain dan supaya mereka menilai diri di dalam proporsi yang setepatnya dan selayaknya.

Roma 12:1 dan 2 bicara mengenai respon kita atas apa yang sudah Allah lakukan dalam hidup kita. Kita telah ditebus dengan darah yang mahal oleh Yesus Kristus; sehingga konsekuensi logisnya engkau akan mempersembahkan hidupmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadah kita kepada Allah, bagaimana relasi kita dengan Allah. Kita memberikan hidup kita bagiNya, kita mengalami transformasi perubahan hidup dimana kehendak Allah menjadi hal yang paling penting dan paling utama dalam hidup kita.

Lalu bagaimana kita melihat dengan konkrit relasi kita dengan Allah yang tidak kelihatan itu? Bagaimana kita melihat hidup orang itu adalah memiliki worship yang benar? Di sini firman Allah terlebih dahulu bicara orang yang telah dirubah oleh Tuhan adalah orang yang mengerti dirinya dengan benar di hadapan Allah. Dari situ akan terlihat kehidupan orang itu penuh dengan sukacita, penuh dengan kepuasan, penuh dengan segala hal yang sehat bukan karena dipengaruhi oleh environment di luar, tetapi karena orang itu sudah “selesai” dengan dirinya sendiri. Bagaimana Alkitab memberi prinsip menilai diri dengan benar? Dua hal penting muncul di sini. Pertama, engkau harus menilai diri berdasarkan kasih karunia yang telah engkau terima. Kedua, engkau harus menilai diri berdasarkan measurement of faith, ukuran iman yang telah Tuhan beri kepada kita masing-masing.

Bagaimana menilai diri berdasarkan kasih karunia yang telah kita terima? Setiap hidup kita ada layers yang berlapis membuat kita tidak mudah menilai diri dengan obyektif. Paling tidak ada tiga hal ini yang sangat mempengaruhi pembentukan hidup kita. Yang pertama, pengalaman dan latar belakang keluarga. Kita menilai diri berdasarkan pengalaman kita, latar belakang kita. Pada waktu kita selalu sukses dan tidak pernah mengalami kegagalan, pada waktu kita selalu berada pada posisi nomor satu di sekolah sampai universitas, terus-menerus sukses di dalam karir dan pekerjaan, tidak pernah set back ke belakang dan selalu menanjak walau perlahan, tidak pernah mengalami kegagalan dan kekalahan dalam hidup ini, seringkali susah dan sulit bagi kita untuk memahami dan bersimpati kepada kegagalan orang. Seringkali pula kita menilai kegagalan orang berdasarkan kesuksesan kita. Adakalanya pengalaman yang terlalu berat dan susah bisa membentuk kita menjadi pribadi yang indah dan di situ baru kita sadar bahwa kita adalah orang yang kecil sederhana, kecil, lemah dan terbatas adanya. Pengalaman dan latar belakang keluarga, itulah yang membentuk kita. Yang kedua, yang membentuk penilaian diri kita tidak lepas daripada membandingkan dan komparasi dengan orang lain. Ketika kita terus membandingkan diri dengan orang lain, jujur, kita tidak akan memiliki perasaan puas dan bahagia. Kita membandingkan pekerjaan, rumah, bahkan isteri dan anak. Kita terus komparasi hidup kita dengan orang lain. Yang ketiga, kita sadar kita tidak pernah melihat diri apa adanya dan kita memandang diri terus mau menjadi seperti orang lain. Dari kecil, anak ketika ditanya kalau sudah besar mau jadi apa, jawabannya selalu mau jadi mama atau papa. Tetapi sesudah bertambah besar, jawabannya akan lebih bervariasi. Ada yang mau jadi seperti idolanya, artis, olahragawan, bintang film atau selebriti. Sesudah lebih besar lagi mungkin mereka mau menjadi dokter, dsb. Melihat dan mengasosiasikan diri, tanpa sadar membuat kita mau menjadi seperti orang lain. Itulah yang menjadi basic ingredients kita dalam menilai diri, bagaimana sikap kita menilai orang lain, bagaimana menilai sukses, dsb.

Dalam suratnya, Yakobus menegur sebagian orang Kristen, “Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka” (Yakobus 2:1- 9). Pada waktu kita melihat penampilan luar seseorang, melihat wajahnya, pakaiannya, seringkali dari situ menciptakan reaksi kita dan bagaimana kita memperlakukan orang itu. Kita melihat bajunya yang keren, langsung kita menilai orang itu bagaimana, dan bagaimana perlakuan kita terhadap orang itu. Itulah yang terjadi, kata Yakobus, pada waktu datang seorang kaya memakai cincin emas dan pakaian indah ke dalam gereja, orang langsung memperlakukan dia sebagai tuan, menyambut dengan hormat dan mendudukkannya di bagian depan. Dan pada waktu yang masuk adalah orang yang berpakaian sederhana dan miskin, maka orang memperlakukan dia sebagai hamba dan disuruh duduk di belakang.

Maka kita datang berbakti kepada Tuhan mempersembahkan hidup kita kepada Dia, pemberesan yang pertama rasul Paulus katakan, pandanglah dirimu dengan penilaian yang benar, bukan dengan hal-hal eksternal dan bukan dengan apa yang orang lain berikan, tetapi berdasarkan kasih karunia Allah dan ukuran iman yang Tuhan sudah beri kepada kita. Kalau Tuhan yang beri, berarti tidak ada orang yang boleh menghina apa yang dia miliki. Kalau Allah yang kasih, pasti berharga; kalau Allah yang kasih, pasti indah hidup kita masing-masing.

Satu hal yang menarik, firman Tuhan memakai kata ‘measure’ berarti ada ukuran, ada keterbatasan. Peter Scazzero mengatakan dalam bukunya Emotionally Healthy Church, salah satu ciri emosi yang sehat adalah bagaimana kita rela menerima keterbatasan kita. Karunia keterbatasan itu adalah hal yang luar biasa penting sekali. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena mereka tidak mau menerima keterbatasan sebagai manusia yang dicipta oleh Allah. Iblis mencobai Adam dan Hawa dengan berkata jika engkau makan buah ini, engkau akan menjadi seperti Allah. Peter Scazzero mengatakan, pada waktu Yesus menjadi manusia, Dia menerima limitasi keterbatasan sebagai manusia. Dia lapar, Dia haus, Dia lelah dan perlu istirahat, Dia sakit dan kontemplasi, retreat dan berdoa. Dia tidak menyembuhkan semua orang. Dia harus jalan ke sana ke mari untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang. Mungkin kita pernah berpikir, kenapa Yesus tidak sekaligus saja dengan seketika menyembuhkan semua orang yang sakit, kan Dia tidak perlu berjalan dan bertemu dengan satu persatu orang. Yesus tidak melakukan hal itu, karena dengan menyembuhkan semua orang sekaligus tidak tentu semua orang itu menjadi percaya Tuhan, bukan? Maka itu sebab pelayanan Yesus bersifat personal satu persatu dan di situlah Yesus meneriman keterbatasan sebagai seorang manusia.

Setiap kita ada keterbatasan dalam banyak aspek. Ada seasons of life dalam hidup kita, ada ukuran berdasarkan kesempatan dan opportunity, ada ukuran berdasarkan perjalanan waktu hidup kita. Maka misalnya pada waktu kita memanggil orang untuk melayani Tuhan, anak-anak muda mungkin berpikir bagaimana memberikan bakat, talenta, waktunya; orang-orang setengah baya, yang sudah bekerja dan berkeluarga mungkin berpikir memberikan persembahan uang mendukung pelayanan misi, dsb. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang sudah mencapai usia senja, yang datang ke gereja sudah menggunakan tongkat, jalan dengan tertatih-tatih? Bagaimana kalau dia seorang cacat datang ke gereja? Bagaimana kalau orang itu sangat sederhana miskin, bahkan boleh dikatakan tiap bulan tekor, lalu apa yang bisa dia berikan? Itu bisa menciptakan perasaan guilty yang luar biasa. Kita seringkali menilai orang dari aspek usefulness, berdasarkan apa yang dia bisa beri, berdasarkan program apa yangdia bisa berkontribusi di situ, dan umumnya ministry hanya dilihat di dalam wilayah gedung gereja, padahal bukan seperti itu. Nanti di pasal-pasal selanjutnya kita akan melihat Paulus bicara tentang ministry dan penggunaan karunia itu bukan kepada things saja tetapi lebih kepada spiritual maturity dan kepada karakter kehidupan Kristen.

Maka seturut dengan ukuran iman artinya apa? Ukuran iman, measure of faith, bukan measure of ability, bukan measure of skills, bukan measure dari uang dan barang yang engkau miliki, tetapi measure of faith. Dari relasi yang dekat dengan Tuhan, dari situ terpancar keluar. Sehingga misalnya seorang tua umur 85 tahun sudah tentu tidak bisa melayani lagi dengan skill tetapi kita bisa melayani dengan our spiritual influences. Apa artinya spiritual influences? Yaitu bagaimana sikap kita, kedekatan kita dengan Allah boleh menjadi satu influence rohani kepada anak-anak dan cucu kita; bagaimana kata-kata kita yang bijak bisa menjadi influence dan berkat di dalam satu komunitas gereja kepada anak-anak yang kecil, kepada para pemuda dan kepada orang-orang dewasa yang sedang menghadapi pergumulan dan persoalan. Kita menjadi seorang bapa dan ibu, opa dan oma yang melakukan spiritual influence seperti itu. Itulah pelayanan yang kita lakukan seturut dengan ukuran iman yang diberikan Allah kepada kita. Ini hal yang tidak gampang dan tidak mudah, karena pada waktu seseorang datang ke gereja, kita cenderung berpikir kita hanya dilayani dan kita dilayani terus. Kita menjadi grumpy dan demanding, dan berpikir kenapa gereja tidak melayani saya, kenapa gereja tidak memperhatikan dan membesuk saya, dsb. Seringkali akhirnya kita datang, kita hanya duduk saja di situ, kenapa tidak ada yang sambut saya, kenapa tidak ada yang ajak saya bicara, dsb. Lalu mulai muncul perasaan self-pity, memang saya orang yang miskin, memang saya tidak berguna, saya orang cacat, sakit, tua, dsb. Seringkali kita jatuh kepada aspek-aspek seperti itu karena kita berpikir kita harus selalu dilayani. Dan salahnya gereja adalah pada waktu kita minta orang untuk melayani Tuhan hanya berpikir bagaimana orang itu bisa fit in kepada satu program, fit in kepada satu posisi, fit in kepada skill. Bisa bermain musik, bisa memimpin pujian, bisa mengajar, bisa berorganisasi, punya uang untuk mendanai kegiatan-kegiatan, dsb. Bagaimana dengan orang tidak punya semua itu? Satu sisi yang saya harap bisa membuka pikiran sdr.

Maka di sini firman Tuhan katakan kita menilai diri dengan benar berdasarkan Tuhan memberikan ukuran itu kepada kita. Penilaian diri yang benar harus melihat dari kacamata bagaimana Tuhan menilai. Menilai diri berdasarkan God’s grace itu berarti saya selalu menilai diri di hadapan Allah sebagai manusia yang berdosa yang menerima keterbatasan ini tetapi saya diberi kasih karunia. Tidak semua hal saya bisa lakukan, saya orang yang kecil, lemah dan terbatas. Tetapi Allah sudah kasih, Allah mampukan saya, saya terima dengan rendah hati, saya terima dengan syukur. Dua sikap ini menjadi balance. Penilaian diri seperti itu akan mendatangkan satu transformasi terus-menerus kepada orang itu sehingga orang itu tidak akan pernah kecewa terhadap apa yang terjadi di luar; tidak mengukur diri dengan hal-hal yang eksternal, tidak pernah bahagia dan tidak pernah content dengan apa yang ada di luar, pada waktu kita sendiri sudah memiliki satu kebahagiaan terhadap apa yang Tuhan beri kepada kita masing-masing.

Seorang rabi Yahudi mengatakan, waktu saya muda saya berambisi untuk mengubah dunia, tetapi setelah bertahun-tahun berusaha, saya sadar keinginanku ini terlalu ambisius. Waktu saya setengah baya saya berambisi untuk mengubah komunitas sekitarku. Setelah saya semakin tua, saya berpikir merubah komunitas ternyata terlalu ambisius. Akhirnya keinginan saya adalah untuk mengubah keluargaku, tetapi setelah bertahun-tahun berusaha, saya sadar keinginanku ini terlalu ambisius. Maka setelah usia semakin tua keinginanku adalah merubah diri sendiri, tetapi baru saya sadar saya sudah terlalu kaku dan sombong merubah diri sendiri. Sehingga bukan saja saya tidak bisa merubah dunia, merubah komunitas sekitar, merubah keluarga, bahkan saya pun tidak bisa merubah diri sendiri. Maka seharusnya urutannya harus dibalik. Pada waktu muda, berusaha merubah diri, baru kemudian bisa merubah keluarga, baru kemudian bisa merubah komunitas, dan baru kemudian merubah dunia. Itulah yang menjadi perintah Paulus dalam Roma 12:1-2 serahkan hidupmu sebagai persembahan yang hidup, itu adalah ibadahmu yang sejati kepada Allah. Lalu kemudian di ayat 3 Paulus bilang pandanglah dirimu dengan penilaian yang benar dan dengan sadar. Dan itu akan bikin hidup kita lebih sehat, lebih bahagia, lebih contentment. Penilaian itu berdasarkan bagaimana sudut pandang dan cara penilaian Allah di dalam hidup kita. Dengan dua sudut pandang ini berarti kita menata, mengontrol dan mengatur dan melakukan penatalayanan terhadap hati kita sendiri. Berapa sering kita memaksa anak kita mencapai pada satu standar yang tinggi karena berdasarkan kegagalan kita, karena kita tidak bisa menerima diri sendiri? Berapa banyak kita membuat anak kita menjadi frustrasi sebab kita sendiri punya kemarahan dan ketidak-puasan kepada diri sendiri? Coba renungkan dan pikirkan baik-baik. Berapa banyak kita mengeluarkan kata-kata yang menuduh dan menghakimi orang lain dengan begitu tajam, dalam rumah tangga, di tempat kerja, di gereja, dsb, bukan karena performance dia, bukan karena siapa orang itu, tetapi karena kita tidak bisa menerima diri sendiri? Berapa banyak kita kecewa kepada suami atau isteri, karena tidak sesuai dengan standar yang kita mau, karena kita sendiri tidak pernah mencapai standar itu? Kita mau suami kita menjadi orang yang baik, tetapi kita sama sekali tidak mampu menerima kelemahan dan keterbatasan kita?

Melakukan penatalayanan diri sendiri merupakan satu tanggung jawab dan tugas kita bersama-sama di dalam hidup ini. Paling tidak, seseorang yang menatalayan diri sendiri akan memiliki empat karakter ini.

Yang pertama, kita akan senantiasa memiliki karakter servanthood, karakter seorang hamba. Menyatakan diri dan identitas kita sebagai seorang hamba di hadapan Allah. Kata “ibadah” dalam bahasa Ibrani “avodah” itu sangat indah sekali. Bukan saja bicara tentang ibadah dengan tata cara dan aktifitas ibadah, tetapi lebih luas lagi bicara tentang aspek ibadah, kerja dan pelayanan. Hidup seorang yang avodah adalah karakter dirinya bekerja atau melayani dengan satu kesadaran bahwa Tuhan memperhatikan sebagai penonton dan sekaligus Tuhan menjadi penuntun yang penuh kasih sebagai mentor bagaimana kita bekerja seturut dengan apa yang sepatutnya Tuhan mau. Dengan sifat servanthood seperti itu membuat kita memiliki attitude tidak cepat kehilangan kesabaran dan pengharapan dalam hidup ini. Dan selalu ada attitude yang teachable, mau dimentoring dan dibentuk oleh Tuhan.

Yang kedua, kita memiliki sikap penuh dengan tanggung jawab, responsibility. Pada waktu orang itu mengerjakan seturut dengan apa yang dia punya, itu adalah satu respon yang penuh dengan tanggung jawab. Maka dua hal muncul. Di satu sisi sdr dan saya melihat diri dengan penilaian Allah, di situ menghasilkan holy contentment, perasaan puas yang suci. Tetapi pada sisi yang satu lagi, kita juga waktu didesak dan digerakkan oleh Tuhan melihat dunia ini dan ambil tanggung jawab dan tugas itu, kita digerakkan oleh holy discontentment. Kita bisa melihat hal itu pada waktu Tuhan bukakan itu kepada Yesaya dalam satu penglihatan, Yesaya bergumul dan mengatakan saya mau, Tuhan (Yesaya 6). Nehemia, ketika satu visi dibukakan di depan matanya mengenai situasi kondisi kesulitan yang dialami umat Allah di Yerusalem, dia bergumul lalu kemudian dia lakukan (Nehemia 1). Walaupun penuh dengan keengganan karena sudah melewati kegagalan sebelumnya, Musa juga bergumul ketika dibukakan hal yang baru sama Tuhan akan perlakuan kejam dan tidak berprikemanusiaan dari orang Mesir kepada umat Allah. Siapa yang bisa menyelamatkan mereka? Musa akhirnya menerima panggilan itu (Keluaran 3-4).

Yang ketiga, kita perlu courage, keberanian, ketabahan mengerjakan panggilan Tuhan untuk terjadinya shalom bagi dunia yang sudah berdosa memerlukan keberanian dan di situ berarti ada konsekuensi di dalam kehidupan dan pelayanan kita. Konsekuensi keberanian dari seseorang yang berdiri tegak bagi Injil, mungkin dipenjarakan. Keberanian seseorang untuk melayani dengan benar, dengan tulus, tetapi dia difitnah dan dipecat dari pekerjaannya, itu adalah konsekuensi yang dialami. Tetapi courage itu penting dan perlu.

Yang terakhir, kerendahan hati. Tidak akan pernah kita menilai diri sendiri tanpa kita berangkat dengan satu sikap attitude merendahkan diri di hadapan Allah. Pada waktu Paulus bicara kepada jemaat Korintus tentang beragam-ragam bakat, skill, talenta, dalam 1 Korintus 14, semua itu tidak akan pernah menjadi hal yang penting kalau itu tidak ditata dengan rapi oleh satu attitude di pasal 13, bicara soal kasih yang merendahkan diri, kasih yang menata semua itu dengan indah.

Ini adalah empat aspek yang dibutuhkan seorang yang melakukan penatalayanan diri, sebelum nanti Paulus lanjutkan Roma 12:4-8 bicara mengenai penatalayanan bersama, dan selanjutnya bicara mengenai stewardship kepada pemerintah, dst. Mulai hari ini mari kita bawa firman Tuhan ini ke dalam hidup kita masing-masing. Jangan lagi menilai diri berdasarkan apa yang dikatakan orang dan bagaimana kita juga mungkin menilai orang lain di dalam hidup kita. Kiranya Tuhan menolong setiap kita untuk melihat, menilai dan melakukan evaluasi atas diri kita di hadapan Allah. Kita menyadari betapa kecilnya diri kita, betapa lemah dan terbatasnya kita, betapa tidak mampunya kita, tetapi pada waktu Allah memanggil dan memakai kita dan menjadikan kita anak-anak Allah, kita percaya di situlah Allah membentuk kita sehingga kita tidak lagi menjadi seperti kita yang dulu. Kita mengalami transformasi, kita mengalami perubahan di dalam ukuran yang Tuhan beri kepada kita.(kz)