Jangan Biarkan Kejahatan Menang Atasmu

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (32)
Tema: Jangan Biarkan Kejahatan Menang Atasmu
Nats: Roma 12:9-21

Bagian ini sangat unik karena Paulus menulisnya dengan kalimat yang sangat singkat. “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberi tumpangan!” (Roma 12:9-13). Di sini kita bisa merasakan dan memikirkan apa yang menjadi keinginan dan kerinduan rasul Paulus pada waktu dia menuliskan bagian ini amat berbeda dibandingkan dengan pasal-pasal sebelumnya dimana Paulus lebih banyak memberikan penjelasan mendetail.

Ada beberapa hal yang saya ingin kita mengerti terlebih dahulu. Yang pertama, mungkin ada orang berkata kepada kita, kenapa kita masih percaya kepada Alkitab, bukankah Alkitab adalah buku yang sudah kuno? Bagaimana menjawabnya? Kita bisa mengatakan seperti ini: bedanya kehidupan jaman Alkitab dengan kehidupan kita sekarang adalah dulu mereka naik kuda, sekarang kita naik mobil. Cara berpakaian, cara hidup, sudah tentu ada perbedaan antara dulu dengan sekarang. Tetapi selebihnya, apa yang kita alami, apa yang menjadi pergumulan hidup, apa yang tersimpan dalam hati kita, tidak berbeda dengan apa yang orang-orang di jaman Alkitab alami. Apa yang Alkitab katakan mengenai persoalan manusia dengan dosa, iri hati, kecemburuan, kebencian, tipu muslihat, perasaan diri, itu semua sama. Sehingga Alkitab senantiasa menjadi berita yang relevan bagi engkau dan saya dan bagi manusia sepanjang jaman. Alkitab bukan bicara persoalan teknologi kuno atau modern, Alkitab bicara soal bagaimana perasaan hati manusia, pergumulan manusia menghadapi problem terbesar dalam hidup mereka, dan bagaimana cara Alkitab membukakan problem itu mungkin kita tidak suka, karena Alkitab berbicara tentang dosa.

Yang kedua, Alkitab bukan saja membukakan mengenai keselamatan di dalam Yesus Kristus tetapi Alkitab memberikan kepada kita bagaimana etika moral, hidup, karakter kita sebagai orang Kristen luar biasa. Alkitab tidak mengajar kita lari dari realita dan persoalan hidup, lari dari kesulitan dan penderitaan. Alkitab mengajarkan kepada kita untuk menang dan kalahkan kejahatan. Alkitab bukan mengajarkan kita bagaimana berbuat baik kepada sesama kita saja; Alkitab bukan saja bicara soal relasi kita dengan orang tua, dengan anak, dengan teman dan sahabat; Alkitab bicara bagaimana kita memberkati musuh kita. Maka Roma 12:9-21 bicara mengenai hidup etika orang Kristen, bagaimana karakter kita diubah oleh Tuhan. Mulai dengan kalimat, “hendaklah kasih jangan pura-pura,” dan diakhiri dengan kalimat “janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” Alkitab memberikan kepada kita tuntutan dan panggilan hidup orang Kristen itu luar biasa.

Yang ketiga, pada waktu kita baca bagian ini mungkin kita akan berkata nampaknya perintah firman Tuhan ini berat luar biasa dan banyak sekali! Bisakah kita kerjakan? Sanggupkah kita lakukan seperti ini? Kita mungkin akan menyerah karena merasa tidak sanggup mengerjakannya. Betul, pada waktu kita melihat semua ini sebagai tanggung jawab dan tugas yang harus kita kerjakan, kita akan merasa hal ini besar dan berat luar biasa. Tetapi ingatkan baik-baik, Roma 12:1-2 telah mengatakan segala sesuatu yang kita lakukan itu karena kita terlebih dahulu sudah menerima pengampunan dan belas kasihan Allah. Kehidupan orang Kristen tidak akan pernah merasa terlalu berat sehingga kita tidak sanggup untuk mengerjakan semuanya karena kekuatan kita datangnya bukan dikerjakan dari luar ke dalam tetapi dari dalam ke luar. Perubahan ini bukan diusahakan dengan kekuatan diri kita sendiri tetapi perubahan terjadi di dalam hati orang percaya karena Allah telah mengerjakan dalam diri kita maka semua ini akan menjadi hal yang indah dan alamiah keluar dari diri kita.

Yang keempat, di sini panggilan dan tuntutan Paulus ini tidak ada kaitannya dengan soal eksternal. Kita melakukan segala sesuatu tidak pernah oleh sebab karena faktor eksternal tetapi semata-mata karena faktor internal, inside out, karena apa yang Tuhan sudah kerjakan dan lakukan bagi setiap kita.

Yang kelima, firman Tuhan ini mengajak kita untuk belajar menjadi orang Kristen yang tidak boleh dikalahkan oleh situasi hidup kita di luar tetapi bagaimana dari dalam keindahan itu mengalir keluar dari hidup kita.

“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:14-21).

Hari ini saya khusus mengajak kita merenungkan bagaimana kita bersikap kepada sesuatu yang dari luar datang dengan tidak baik kepada kita, ketika kita melakukan sesuatu yang baik, memberikan dengan indah berkorban tetapi tidak mendapatkan respon yang baik dari orang-orang di sekitar kita, bagaimana sikap kita sebagai anak Tuhan? Jawaban dari firman Tuhan luar biasa. Paulus mengatakan: jangan kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Jangan pernah biarkan kejahatan dan ketidak-baikan orang mengalahkan kebaikan sdr. Ini bukan hal yang gampang dan mudah. Dan yang lebih sulit kalau sdr merasa sudah berkorban begitu banyak, sudah berjasa terlalu besar, kalau orang itu justru mengutuki engkau, bagaimana? Firman Tuhan bilang, berkati dia. Kalau dia berbuat jahat kepadamu, bagaimana? Jangan membalas dia. Kalau dia berusaha melawan engkau, bagaimana? Kalau itu ada di dalam wilayah kebebasanmu, jangan membalas kejahatannya. Jangan balas dendam. Kalau dia terus membalas yang kamu lakukan dengan hal yang tidak baik, bagaimana? Lakukan kebaikan, seperti menumpuk bara api di atas kepalanya. Kenapa? Jawabannya di ayat 21, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” Ketika orang membalas kebaikanmu dengan kejahatan, apakah itu membuat sdr berhenti berbuat baik? Kalau kita lakukan seperti itu, kita semua sama seperti orang lain. Tetapi jika engkau lakukan seperti Alkitab katakan, di situlah kita menyatakan keindahan our Christian virtue. Setiap kali saya membaca bagian ini, saya selalu mempertanyakan pertanyaan yang reflektif. Apa yang saya katakan, apa yang saya lakukan. Lalu terus tunjuk, Tuhan, di bagian ini saya telah bersalah kepadaMu. Hidup kita tidak akan pernah berubah kalau kita tidak mempunyai pertanyaan reflektif seperti ini. Dan saat kita membaca Roma 12:14-21, mari kita senantiasa ingat pada waktu Paulus mengatakan kalimat-kalimat ini kepada jemaat Roma, besar kemungkinan mereka sudah melihat bahwa tidak lama lagi ada di antara mereka yang akan ditangkap, dibawa masuk ke dalam arena untuk dijadikan umpan binatang buas, disalib atau dibakar hidup-hidup oleh karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Artinya the worse yet to come, tetapi menuju ke sana Paulus mengingatkan orang Kristen tidak boleh kalah dan dikalahkan oleh kejahatan tetapi kita dipanggil untuk kalahkan kejahatan dengan kebaikan di dalam hidup kita.

Ada beberapa point yang indah sekali di bagian ini.

Yang pertama, kalimat “lakukan apa yang baik bagi semua orang” (Roma 22:17), dalam terjemahan bahasa Inggris: give thought everything good, menjadi panggilan untuk senantiasa memikirkan apa yang baik dan melakukannya dengan aktif kepada semua orang di sekitarmu. Ini adalah kata yang indah sekali. Kita seringkali tidak berani dan tidak mau dan merasa tidak sanggup mengerjakan karena kita cenderung tidak mau memikirkan apa yang baik bagi orang lain. Give thought to do good juga berarti kita tidak boleh memikirkan hal yang buruk dan jahat kepada orang lain. Kita selalu menjadi berkat dan generous kepada orang karena memang kita senantiasa give thought to do good kepada orang. Approach orang, bicara dengan orang, tidak pernah berpikir bahwa orang itu mau jahat sama kita. Akhirnya pun kalau dia mau jahat sama kita, itu urusan dia. Tetapi approach orang dengan give thought everything good bukan saja bagi orang Kristen tetapi juga bagi orang bukan Kristen. Dan Paulus mengatakan waktu kita berhubungan dengan mereka, selalu merencanakan mau berbuat baik kepada orang lain, dan bukan saja tinggal sebagai rencana tetapi melakukannya.

Yang kedua, Paulus berkata, “janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan.” Do not repay evil with evil. Ada dua hal yang perlu kita pahami lebih dulu. Yang pertama, ayat ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mencari keadilan. Kita berhak mengejar hal yang benar dan mendapatkan keadilan yang sepatutnya. Jadi mempertanyakan dan mau melakukan yang benar, mencari apa yang benar apa yang adil, kita lakukan itu. Tetapi membalas kejahatan dengan kejahatan itu tidak bisa. Kenapa? Karena jelas sekali pada waktu kita membalas kejahatan dengan kejahatan, Paulus katakan, evil is evil; salah tetap salah. Tidak bisa kita membalas, karena pada waktu kita melakukan hal yang sama, itu sudah kejahatan, itu sudah dosa. Hal yang kedua yang perlu kita perbaiki di sini adalah kata tidak membalas di sini tidak berarti kita tidak mengharapkan adanya confession orang itu mengaku salah. Ada kesalahan konsep tentang pengampunan terjadi waktu orang membaca perkataan Yesus pada waktu berada di atas kayu salib. Yesus berdoa, “Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Mereka mengatakan Yesus mengampuni orang-orang yang ada di bawah salib yang melakukan kejahatan kepada Dia walaupun orang-orang itu tidak mengaku salah kepadaNya. Itu tidak benar. Yesus tidak mengatakan begini: hai orang-orang yang menyalibkan Aku, walaupun kalian tidak mengaku kesalahan itu tetapi Aku ampuni karena kalian tidak tahu apa yang kalian perbuat. Waktu penjahat yang disalib di sebelah Tuhan Yesus minta ampun, Yesus directly berkata kepada dia, “Hari ini juga engkau akan ada bersama dengan Aku di dalam Firdaus.” Tetapi kepada orang-orang yang ada di bawah Yesus tidak berkata kepada mereka bahwa Ia memaafkan mereka, tetapi Yesus berdoa kepada Bapa berarti Yesus memohonkan kepada Bapa kiranya kesalahan orang-orang ini Bapa ampuni. Itu adalah sebuah doa dari seseorang yang telah disakiti, seseorang yang mendapatkan hal yang tidak layak dia dapat tetapi dia tidak balas. Tetapi bukan itu saja, dia ambil satu langkah lagi: dia berdoa kepada Allah Bapa kiranya mengampuni mereka.

Dalam 2 Timotius 4:14-15 Paulus berkata kepada Timotius, “Aleksander tukang tembaga itu telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita.” Paulus tidak bilang bahwa dia mengampuni Aleksander tukang tembaga yang telah banyak berbuat jahat kepada dia. Paulus membawa hal itu kepada Allah yang dia percaya akan membalas Aleksander sesuai dengan perbuatannya. may the Lord give him justice. Lalu yang kedua, Paulus mengingatkan kepada Timotius, hati-hati terhadap orang seperti ini, jangan sampai engkau mendapatkan hal yang berbahaya dari dia.

Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan artinya adalah engkau tidak melakukan kepadanya kejahatan yang sama seperti yang dia lakukan kepadamu, sebab pada waktu kita melakukannya, kita juga bersalah. Tetapi bukankah kecenderungan kita sebagai orang berdosa selalu mau ‘getting even’? Itu yang selalu menjadi natur kita. Bahkan bukan saja mau getting even, kita mau kalau memungkinkan balas lebih jahat lagi karena kita mau dengan hati yang dendam melakukan pembalasan atas apa yang telah dia lakukan kepada kita.

Yang ketiga, jika itu dari sisi kita, kita selalu harus menjadi peace-maker, itu kata firman Tuhan. “Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung kepadamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma 12:18). Ini adalah pilihan dari wilayah kebebasan kita. Saya tidak bisa merubah keputusan dia jikalau dia terus mau menjadi orang yang membenci saya. Saya tidak bisa merubah dia kalau dia mau membenci saya. Maka Paulus bilang, sedapat-dapatnya, kalau itu ada pada sisimu, that is in your choice, always be a peace maker. Karena dengan cara seperti itu kita menyatakan kesaksian kita yang positif sebagai orang percaya kepada orang lain. Tetapi sampai kepada bagian yang lebih lanjut lagi rasul Paulus mengatakan kalau orang melakukan kejahatan kepadamu, balaslah dengan memberikan kebaikan. Kita tidak akan pernah lari dari realita bahwa Kekristenan secara global mengalami penganiayaan dan intimidasi dimana-mana. Secara kehidupan kita sehari-hari kita sadar dunia membenci kita, orang tidak senang kepada kita. Menghadapi situasi seperti itu kita harus hidup sebagai orang Kristen yang seperti apa? Firman Tuhan mengajar kita bersikap bukan berdasarkan situasi luar mempengaruhi. Firman Tuhan juga mengajar kita merefleksi hati kita sendiri bagaimana sebagai anak-anak Tuhan kita mau menyatakan iman kita secara otentik kepada orang yang tidak suka kepada kita, kepada orang yang melawan kita, atau orang yang menghina kita sebagai orang Kristen, atau orang yang ingin mencelakakan kita, kita tidak melakukan hal yang sama, dan bahkan kita melakukan yang baik kepada mereka. Di situlah orang bisa melihat bagaimana orang yang mengasihi Allah sungguh-sungguh kesaksian hidupnya luar biasa seperti ini. Kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Kenapa? Karena kita percaya kejahatan tidak akan pernah menang di atas muka bumi ini. Satu hari kelak semua kejahatan akan hilang lenyap. Only God’s truth, only God’s goodness, only God’s love, only God’s righteousness, only God’s holiness that will prevail. Itu sebab segala kebaikan yang kita lakukan tidak pernah sia-sia tetapi hanya menjadi percikan foretaste kepada orang akan apa artinya the kingdom of God, apa artinya surga dan apa artinya hidup sebagai warga dari kerajaan Allah itu. Mari kita memiliki hati seperti itu. Kita belajar mulai hari ini refleksi diri. Kita tidak menutupi apa yang salah, kita tidak membela apa yang salah, kita juga tidak mau menyimpan dan menyembunyikan apa yang benar. Tetapi kita harus selalu merefleksikan diri dulu, apakah saya sudah melakukan hidup saya seperti ini atau tidak? Kalau saya sudah bersalah, saya harus mengakuinya di hadapan Allah dan saya harus berubah. Kita mulai dengan refleksi diri seperti itu. Baru sesudah itu bagaimana saya bersikap jika ada hal-hal yang keliru dan salah atau ada hal yang tidak baik terjadi di dalam hidup saya. Kita tidak boleh memikirkan hal yang jelek dalam diri orang. Kalau kita terus give thought to do good kepada orang. Yang jahat jangan balas dengan yang jahat. Kalau itu ada dalam wilayah kebebasan kita, mari ambil tindakan menjadi seorang peace maker, orang yang berusaha untuk menciptakan kedamaian, that is your choice. Orang pukul kita, kita punya choice untuk tidak membalas dia.

Yang terakhir, kita harus ingat kita punya Tuhan yang adil, kita punya Tuhan yang memelihara, ini dua hal yang penting. Itu berarti Allah tidak akan pernah membiarkan kebaikan yang tersembunyi dan pada waktunya Allah akan menyatakan dan membalasnya. Allah juga tidak akan membiarkan hal yang jahat terjadi tanpa mendapatkan keadilan. Our God is just and righteous. Tetapi Dia juga adalah Allah yang providence, berarti meskipun orang mereka-rekakan hal yang jahat kepadamu, Allah bisa mengubahnya menjadi kebaikan bukan saja bagi dirimu sendiri tetapi bagi rencana Allah yang lebih besar lagi. Maka ketika hal yang tidak baik terjadi kepadamu, itu tidak boleh merusak dan merubah hatimu menjadi tidak baik kepada orang, karena sekalipun sdr dibikin menjadi bangkrut, hancur, habis sama orang itu, Allah bisa ubah itu menjadi kebaikan. Itulah sebabnya kenapa kita punya Tuhan seperti itu. Jangan berpikir bahwa keadilan tidak akan terjadi. Ingat, kita punya Allah yang berkata, “Pembalasan adalah hakKu. Akulah yang menuntut pembalasan.” Pada waktunya, pada saatnya, Ia akan mengerjakan dan melakukan pembalasan itu bagi engkau dan saya.

Dunia tidak akan pernah bisa menang dengan kejahatan untuk menghancurkan Kekristenan. Dan Kekristenan akan mengalahkan kejahatan itu pada waktu kita terus melakukan the goodness of God dalam hidup kita.

Ambil waktu sejenak, biar firman Tuhan ini boleh bicara kepada kita menjadi satu refleksi diri. Paulus dengan straight to the point karena dia ingin kita pay attention untuk banyak hal yang dia rindu menjadi karakter hidupmu dan ibadahmu kepada Tuhan. Sudahkah kita melakukan semua itu dengan benar? Sudahkah kita mengaasihi orang dengan tidak pura-pura?

Yang baik, bela. Yang salah, buang. Hormat saling mendahului. Doa, tekun. Semangat pelayananmu bernyala-nyala. Orang yang mengutuki, berkati. Tidak boleh selalu anggap diri paling benar. Hargai orang lain. Kiranya firman Tuhan ini mengoreksi hati kita dan kita katakan, Tuhan koreksi saya dan perbaiki saya.

Bersyukur untuk firman Tuhan yang kiranya terus mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu untuk mencari-cari alasan dan mendapatkan penjelasan. Kiranya Tuhan menolong kita bagaimana kita dengan taat dan dengan setia melakukannya dengan simple, dengan tulus, karena semua itu adalah pembentukan Tuhan yang menjadikan kita betul-betul adalah gambar dan rupa Allah, cahaya kemuliaan Kristus, Injil pengharapan kepada dunia ini. Kita percaya firman Tuhan ini boleh menjadi berkat bagi kita semua.(kz)