Death to Life

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Death to Life
Nats: 1 Korintus 15:12-34

Peristiwa kebangkitan Yesus Kristus selain dicatat dalam 4 Injil, juga diuraikan dengan mendetail oleh Paulus di 1 Korintus 15, terutama apa yang menjadi signifikansi kebangkitan itu bagi orang percaya.

Paulus mengatakan kepada jemaat Korintus, “Yesus telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas muridNya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang” (1 Korintus 15:5-6). Peristiwa kebangkitan itu baru saja terjadi sekitar 20 tahun dan banyak saksi mata yang masih hidup, engkau boleh tanyakan kepada mereka. Itu adalah peristiwa yang benar-benar terjadi dan catatan ini benar adanya. Kalau kubur itu kosong dan tidak ada mayatnya, maka hanya ada dua teori yang bisa muncul. Teori yang pertama adalah Yesus tidak sungguh-sungguh mati, tetapi hanya pingsan saja. Lalu setelah sadar, malam-malam dia menyelinap keluar diam-diam dari kuburannya dan pergi. Teori yang kedua adalah murid-muridNya datang ke kubur dan mengambil mayatNya. Hanya itu saja dua teori yang bersirkulasi di dalam perdebatan mengenai kebangkitan Yesus sampai hari ini. Namun, baik dari kelompok ateis maupun dari kelompok orang yang tidak percaya Tuhan yang skeptik, mereka merasa tidak bisa lagi memakai teori ini karena terlalu lemah. Kalau ini urusan secara private hanya berkaitan dengan keluarga sendiri, kalau saya mengatakan kakek saya yang meninggal tiga hari lalu hidup kembali, sdr mungkin bisa percaya atau bisa tidak percaya, karena itu tidak bisa dibuktikan tetapi itu hanya urusan private di antara kita saja. Tetapi kebangkitan Yesus Kristus bukanlah urusan private, karena kematian Yesus menjadi peristiwa publik. Ada kerajaan Romawi terlibat, ada mahkamah agama dan pemimpin-pemimpin orang Yahudi terlibat. Maka kita bersyukur sekalipun kematian Yesus Kristus di kayu salib dipermalukan luar biasa menjadi tontonan umum dan menjadi persoalan negara dan menjadi urusan publik, tetapi implikasinya tidak lain untuk supaya kebangkitanNya juga bukan sesuatu yang diam-diam dan tidak bisa hanya menjadi urusan private belaka.

William Craig, seorang apologist, pada waktu ditanya apakah murid-murid Yesus tidak mencuri mayat Yesus? Dia balik bertanya, apakah engkau tidak malu mengeluarkan pertanyaan seperti itu karena teori itu terlalu irrational. Bahkan pasukan SEAL atau pasukan Delta Force sekalipun disuruh untuk mencurinya belum tentu berhasil, karena jangan lupa, kubur Yesus ditutup dengan batu seberat 1,5 ton dan dijaga ketat oleh pasukan tentara Romawi. Bagaimana mungkin para nelayan yang semalam sebelumnya sudah lari kocar-kacir menyelamatkan diri masih punya keberanian untuk mencuri mayat Yesus? Lalu, yang kedua, mereka tidak punya kontrol atas situasi yang terjadi sekitar penyaliban itu. Mereka bukan pemain dan mereka bukan orang yang punya kapasitas bisa menceritakan sesuatu rekayasa yang sangat canggih luar biasa. Kalau sampai kisah itu beredar, jangan lupa, pemerintah Romawi akan menganggap itu sebagai satu skandal yang sangat mempermalukan mereka.

Apa signifikasi kebangkitan Yesus Kristus bagi orang percaya?

Hari ini secara khusus kita akan melihat 1 Korintus 15:12-34 yang akan saya bagi dalam 3 bagian.

Bagian pertama 1 Korintus 15:12-19.

Rev. Tim Keller berkata kebangkitan Kristus adalah titik point transformasi yang merubah orang selamanya. Salah satu fakta yang tidak bisa diabaikan adalah bagaimana orang-orang yang tadinya penakut dan pengecut berubah menjadi orang yang pemberani oleh karena kebangkitan Yesus Kristus memberi perspektif yang baru dalam hidup mereka. Tekanan sebesar apa pun tidak bisa membuat mereka takut dan mundur. Di hadapan Mahkamah Agama yang mengancam dan melarang mereka untuk tutup mulut, orang-orang yang dianggap tidak terpelajar ini, yang tidak ada kekuatan kuasa politik ini, mereka berdiri dan berkata, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah” (lihat Kisah Rasul 4).

Dalam bagian ini Paulus bicara akan hal itu. Kebangkitan Yesus bukan hanya menjadi satu fakta yang kita pegang dan pertahankan, tetapi kebangkitan itu memiliki signifikansi yang sangat besar dan dahsyat kuasanya bagi orang percaya.

Jikalau Yesus Kristus tidak pernah bangkit, apa akibatnya? Ada empat hal yang Paulus katakan sebagai akibatnya.

Yang pertama, Paulus katakan, jikalau Yesus tidak bangkit maka sia-sialah iman kepercayaan kita, tidak ada dasarnya kita percaya. Jikalau Yesus tidak bangkit berarti engkau percaya kepada sesuatu yang kosong, your faith is baseless (1 Korintus 15:14).

Yang kedua, Paulus katakan, jikalau Yesus tidak bangkit, sia-sialah pemberitaan kami, berarti kami pergi kemana-mana mengabarkan berita hoax, berarti kami orang yang berdusta, kami membohongi orang dengan berita itu, kami mengatakan Allah telah membangkitkan Yesus padahal Yesus tidak pernah bangkit. Dan itu berarti celakalah kami, kami bukan saja berdusta kepada orang tetapi kami juga berdusta terhadap Allah (1 Korintus 15:15).

Yang ketiga, Paulus katakan, jikalau Yesus tidak bangkit maka kita semua masih hidup di dalam dosa dan tidak ada jalan keselamatan (1 Korintus 15:17-18). Ini satu hal yang penting sekali, karena di situlah keselamatan dikaitkan dengan apa yang Yesus kerjakan dan bukan bagaimana dengan kehidupan orang itu.

Yang keempat, Paulus katakan, “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1 Korintus 15:19). Artinya, buat apa menjadi orang Kristen terus berharap kepada Yesus? Buat apa berharap kepada sesuatu yang kosong? Lebih baik cari jalan lain kalau tahu jalan yang ini sudah salah. Tetapi syukur kepada Tuhan, Yesus sudah bangkit! Yesus hidup! Dia adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi kita.

Maka selanjutnya kita masuk kepada bagian kedua, 1 Korintus 15:20-28. Paulus kemudian memberikan argumentasi secara positif sebagai kontras dari apa yang ia perlihatkan di bagian pertama di atas. Alkitab bahasa Indonesia memulai dengan kata, “Tetapi yang benar ialah,” the fact is, artinya ini bicara soal fakta, bukan hanya bicara soal benar dalam arti pernyataan tetapi benar secara fakta.

Pertama, kebangkitan Kristus membuat kita memiliki perspektif yang benar mengenai kematian.

Paulus berkata, “Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang matim sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Korintus 15:20). Paulus menyebut kebangkitan Kristus sebagai kebangkitan yang sulung untuk memberitahukan kepada kita sifat kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita nanti berbeda dengan kebangkitan-kebangkitan yang sebelumnya. Alkitab mencatat beberapa peristiwa orang mati dibangkitkan. Yesus pernah membangkitkan Lazarus yang sudah mati 4 hari lamanya (lihat Yohanes 11). Yesus pernah membangkitkan anak Yairus (Lukas 8:41-56) dan anak janda di Nain (Lukas 7:11-16), bukan? Juga ada peristiwa anak janda di Sarfat yang sudah meninggal dibangkitkan hidup kembali oleh nabi Elia (lihat 1 Raja 17:17-23) dan juga anak perempuan Sunem yang sudah meninggal dibangkitkan hidup kembali oleh nabi Elisa (lihat 2 Raja 4:18-37). Tetapi bedanya, orang-orang yang pernah bangkit itu mendapatkan kesempatan untuk hidup lagi di dunia ini lalu kemudian mereka mati kembali secara natural. Kebangkitan mereka berbeda dengan kebangkitan Yesus yang disebut dengan kebangkitan sulung atau kebangkitan yang pertama, kebangkitan Yesus adalah satu model kebangkitan yang tidak akan mengalami proses kematian lagi karena Dia bersatu dengan tubuh kemuliaanNya. Dan bukan saja Dia yang bangkit, kita semua yang percaya kepadaNya juga akan dibangkitkan pada waktu kedatanganNya (1 Korintus 15:23). Ini adalah bagian yang penting karena inilah yang membuat para murid-murid mengerti apa arti kematian bagi orang percaya Tuhan.

Semua orang di dunia menyadari ada fakta realita yang tidak bisa ditolak yaitu kematian itu akan datang dan tiba kepada siapa saja, entahkah dia orang kaya atau miskin, tua atau muda, sakit atau bahkan yang sehat. Bagaimana manusia bersikap terhadap kematian? Di sini Paulus menyebut tiga sikap orang terhadap kematian. Sikap yang pertama adalah sikap yang diwakilkan dalam 1 Korintus 15:32 yang Paulus katakan jika orang mati tidak dibangkitkan “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Ini adalah ajaran filsafat Yunani Hedonisme yang masuk ke dalam gereja dan merusak konsep orang Kristen di Korintus tentang kebangkitan. Paulus mengutip ajaran Hedonisme itu bukan dengan maksud menyetujuinya tetapi justru untuk memperlihatkan kesalahan ajaran itu sudah begitu mempengaruhi lifestyle gaya hidup orang pada era waktu itu termasuk orang Kristen. Bagi mereka setelah meninggal dunia, selesai habis. Karena itu mereka berpendapat kalau memang setelah mati selesai, maka selama di dunia, nikmati hidup, makan dan minum sepuasnya.

Sikap yang kedua adalah sikap yang diwakilkan dalam 1 Korintus 15:29 “Jika tidak demikian apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” Bagian ini menimbulkan perdebatan di kalangan penafsir, apakah berarti Paulus menerima konsep bahwa orang yang telah meninggal dunia bisa dibaptis? Jelas Paulus tidak mempunyai konsep seperti ini dan tidak ditunjang dengan tulisan-tulisan di suratnya yang lain tidak ada bicara hal seperti ini. Yang lebih tepat adalah Paulus mengutip kebiasaan yang terjadi pada waktu itu dimana orang melakukan praktik seperti itu. Maka Paulus mengajak mereka pikir secara commonsense, kalau memang tidak ada kebangkitan, buat apa orang mati kamu baptis, seolah engkau pikir orang itu akan mengalami perubahan hidup di sana.

Mungkin kalau kita mau coba buat kontekstualnya dengan sekarang, jikalau setelah kematian tidak ada apa-apa lagi, kenapa orang yang meninggal kamu masih dandani dengan baju yang bagus dan memasukkan barang-barang berharga di dalam petinya seolah-olah orang itu masih memerlukan semua hal itu? Itu kira-kira kalimat Paulus.

Di dalam perasaan hati manusia sedalam-dalamnya konsep ini umum terjadi dalam banyak kultur dan kebudayaan, meskipun orang tidak tahu ada apa di balik kematian, tetapi berkembang konsep baik dalam kebudayaan Mesir kuno, kebudayaan Cina kuno, kebudayaan Yunani, dsb bahwa hidup tidak berakhir saat kematian datang kepada seseorang. Maka proses mumifikasi bagi raja yang meninggal, lengkap dengan segala yang dibutuhkan di dunia sana dengan dayang-dayang dan pembantu-pembantunya, itu kita temukan dalam penggalian kuburan raja-raja jaman dulu, bukan?

Sikap yang ketiga, seperti yang Alkitab katakan, kita percaya pada waktu Yesus datang kembali dengan segala kuasa kemuliaanNya, Ia akan membangkitkan semua orang percaya yang sudah menjadi debu dan tulang-belulang, dan kita semua akan memiliki tubuh kebangkitan yang akan dimuliakan bersama Kristus, atau tubuh kebinasaan bagi mereka yang tidak percaya Tuhan untuk sama-sama berdiri di hadapan Allah menerima penghakiman atas apa yang dilakukan selama hidupnya di dunia. Itulah yang dikatakan Paulus di sini. Yesus akan datang kembali menyatakan diri sebagai Raja di atas segala raja dengan segala kemuliaanNya menghancurkan, membinasakan dan menaklukkan semua kekuatan dan kuasa yang melawan dan memberontak kepadaNya. Dan satu hal yang telah dikalahkan olehNya yaitu kematian (1 Korintus 15:26). Kebangkitan Kristus mengingatkan kepada kita bahwa kematian tidak boleh menjadi hal yang menakutkan dan menjadikan kita sebagai anak-anak Allah kehilangan pengharapan dan takut untuk membicarakannya dan berusaha untuk menghindarinya dengan sekuat tenaga seolah-olah kita akan hidup selama-lamanya di dunia ini. Kematian bukan dicari-cari oleh orang Kristen, tetapi pada waktu iman kepercayaan kepada Kristus menyebabkan datangnya penderitaan dan kematian kepada kita, kita bersiap diri. Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa. Takutlah terutama kepada Dia, yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Matius 10:28).

Bapa Gereja Polikarpus ketika hendak dibakar hidup-hidup diberi kesempatan untuk menyangkal imannya kepada Kristus maka dia akan dibebaskan dari hukuman mati itu. Polikarpus menjawab, “Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Kristus Tuhanku, tidak pernah satu kali pun Ia mengecewakan aku. Bagaimana mungkin aku akan menyangkal Tuhan yang telah menyelamatkan aku?”

Kedua, kebangkitan Kristus membuat kita memiliki perspektif yang benar mengenai bagaimana menjalani hidup di dunia ini. Itu yang dikatakan Paulus di ayat 29-34. Paulus bukan memuliakan diri sendiri, tetapi dia memperlihatkan bagaimana kebangkitan Kristus telah mengubah perspektif Paulus bagaimana hidup yang sepatutnya. “Dan kami juga, mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apa gunanya hal itu bagiku?” (1 Korintus 15:30-32).

Ada hal yang menarik muncul di sini pada waktu Paulus mengatakan, “Aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus” (ayat 32). Apakah maksud Paulus di sini? Apakah pernah di dalam perjalanannya memberitakan Injil menuju Efesus dia bertemu dengan binatang buas? Itu salah satu kemungkinan. Atau kemungkinan kedua, ketika dia berada di Efesus, dia mengalami keadaan hampir mati dimakan binatang buas. Atau kemungkinan ketiga, ketika berada di penjara di Efesus, Paulus hampir dijadikan mangsa binatang buat di gelanggang arena bersama orang-orang Kristen lainnya yang ditangkap karena imannya kepada Kristus. Atau kemungkinan keempat, dia bicara mengenai orang-orang Kristen di Efesus yang dijadikan umpan binatang. Kita tidak jelas akan hal ini karena kita tidak menemukan catatan dan indikasi bahwa dia pernah mengalami hal ini, baik dalam Kisah Rasul maupun dari surat-suratnya yang lain.

Tetapi fokus dari ayat ini adalah apa gunanya, buat apa kami mengalami semua kesulitan dan penderitaan ini jika Kristus tidak pernah dibangkitkan? Mengapa setiap hari kami harus membawa diri kami menghadapi bahaya? Secara normal manusia menghindar saat bahaya datang kepadanya. Itu hal yang natural. But willingly to face danger and take the risk, itulah sikap positif yang Paulus nyatakan di sini. Yang kedua, kebangkitan Kristus membuat kita menjalani hidup ini dengan perspektif sebagai penatalayan Allah yang baik terhadap dunia ciptaan Allah yang begitu indah dan begitu baik ini. Kita bekerja dengan baik, kita memikirkan environment dengan baik, kita mengerjakan tanggung jawab kita sebagai anak-anak Tuhan. Setiap apa yang kita kerjakan dan lakukan di dalam hidup kita ingin memuliakan Allah.

Maka 1 Korintus 15:33-34 menjadi panggilan Paulus secara serius dan keras menuntut perubahan attitude dan perubahan etika moral kita. “Jangan sesat, pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.” Artinya kalau hidup kita bersentuhan terus dengan lifestyle duniawi, kita akan terhanyut dan terbawa dengan arus itu. Paulus mengingatkan kita tidak boleh memiliki konsep bahwa dunia ini adalah tempat tinggal kita yang permanen selama-lamanya. Kita hidup dalam dunia ini tetapi kita harus separasi dari dunia ini. Kita dipanggil Tuhan untuk mempengaruhi dunia ini, bukan sebaliknya membiarkan diri kita dipengaruhi oleh dunia. Biar Tuhan pimpin setiap kita boleh menjadi penatalayan Allah yang baik supaya kita tidak berpikir kita hidup di dunia ini saja dan kita terlena dengan hidup di dunia ini.

Paulus lanjutkan, “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” (1 Korintus 15:34). Miliki kepekaan kesadaran tiap hari untuk terus-menerus ingat kita hanya hidup satu kali dan waktu kita tidak panjang. Sadarlah, kata Paulus, jangan berbuat dosa lagi. Lalu kalimat terakhir dari ayat 34 yang sangat mengejutkan,”Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan supaya kamu merasa malu.” Mengejutkan, karena berarti orang yang datang berbakti di dalam gereja memiliki pengetahuan intelektual tentang firman Tuhan tetapi tidak memiliki transformasi terhadap hidup mereka. Jelas mereka yang datang ke gereja bukanlah orang yang melawan Tuhan, mereka mengaku percaya Tuhan. Tetapi Paulus mengatakan, engkau tidak mengenal Allah di dalam hidupmu. Kalimat ini harus menggentarkan dan menakutkan bagi kita. Buat apa kita percaya fakta Kristus telah bangkit dari kematian tetapi hal itu tidak menjadi kepercayaan transformatif yang dinyatakan dalam bagaimana kita menjalani hidup kita?

Hari ini, bawalah firman ini dalam hatimu, simpan dan renungkan baik-baik. Kiranya setiap kita boleh mengalami kuasa kebangkitan Kristus memberikan satu transformasi yang total dalam hidup kita. Kita sungguh-sungguh menjadikan Dia sebagai Tuhan yang menguasai semua yang ada dalam hidup kita. Kita tidak pernah takut kehilangan apa-apa, kita mempunyai sikap yang positif, bersyukur kepada Tuhan terhadap apa yang kita alami. Biar kita belajar di tengah tantangan terhadap iman kepercayaan dan kesulitan hidup, kita boleh menjadi terang dan contoh yang indah. Biar Tuhan pimpin setiap kita boleh menjadi penatalayan Allah yang baik terhadap waktu, uang, kesempatan hidup kita dan tidak terlena dengan hidup di dunia ini. Kiranya kita boleh berespon dengan benar jikalau kita telah diteguhkan dan kita percaya bahwa kebangkitan itu memberikan efek yang luar biasa dalam hidup kita. Kita tahu apa yang kita percaya sungguh benar dan iman kita tidak pernah kosong adanya. Kita percaya satu kali kelak kita akan bersama-sama dibangkitkan oleh Kristus dan kita akan berdiri di hadapanNya menyembah dan memuliakan Kristus semata-mata.(kz)