Christian and Secular Rulers

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (33)
Tema: Christian and Secular Rulers
Nats: Roma 13:1-7

Roma 13:1-7 adalah salah satu bagian yang sangat penting bicara mengenai bagaimana relasi orang Kristen dengan pemerintahan sekuler; bagaimana panggilan orang Kristen hidup di tengah situasi pemerintahan yang mungkin tidak menyukai dan bahkan mendatangkan penganiayaan kepada orang Kristen; bagaimana kesaksian iman percaya kita kepada Allah sungguh nyata dalam realita hidup kesehari-harian menjadi berkat di tengah lingkungan pemerintahan dimana kita berada. Mari kita ingat, Paulus menulis bagi orang Kristen yang waktu itu hidup dalam pemerintahan yang bersifat otoriter dengan kaisar Romawi yang adalah figur kuasa hukum mutlak. Dan di tengah-tengah orang Kristen mengalami penganiayaan oleh karena imannya, prinsip firman Tuhan ini merupakan satu bagian yang sangat penting luar biasa.

Hal yang lain lagi, di dalam perjalanan sejarah kita tahu ada peristiwa holocaust yang terjadi di Eropa yang menelan begitu banyak jiwa orang Yahudi dan ada catatan sangat menyedihkan dimana gereja dan orang Kristen tidak berespon dengan tepat dan benar pada waktu itu karena menganggap gereja harus taat mutlak sepenuhnya kepada pemerintahan dan sikap gereja tidak berdiri dengan tegak ketika orang-orang Yahudi dibantai dan ini menjadi catatan gelap di dalam sejarah gereja. Hanya sedikit orang yang berani berdiri dan berteriak bagi mereka. Salah satu yang bertindak demikian adalah Dietrich Bonhoeffer, seorang hamba Tuhan di Jerman yang akhirnya dihukum mati oleh Nazi pada usia 38 tahun. Tetapi tidak banyak orang yang seperti itu. Semua itu membuat kita hari ini perlu melihat bagaimana kita menjadi orang Kristen hidup di tengah-tengah dunia sekuler dimana kita berada, bagaimana kita bersikap dan bagaimana kita menjadi berkat.

Sebelum menuju ke sana, kita lebih dahulu melihat konteks bagian ini. Dalam Kisah Rasul 18:1-2 tercatat, “Di Korintus Paulus berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma.” Alkitab mencatat kaisar Klaudius mengusir semua orang Yahudi dari kota Roma, dan nampak jelas orang Kristen Yahudi juga ikut diusir juga, bisa jadi mereka tidak terlibat tetapi mereka ikut terkena getahnya. Dan di antara mereka adalah sepasang suami isteri bernama Akwila dan Priskila. Mereka pergi ke Korintus dan memiliki rumah dan membuka usaha di situ, jadi jelas mereka memiliki cukup uang, lalu mereka juga menjadi anak Tuhan yang melayani dengan membuka rumahnya bagi Paulus tinggal di Korintus. Dari catatan sejarahnya, sekitar tahun 49-51 AD orang Yahudi diusir keluar dari kota Roma karena melakukan pembangkangan dan mendatangkan kericuhan yang besar. Banyak penafsir setuju surat Roma kira-kira ditulis pada tahun 57 AD, berarti surat Roma ditulis sesudah peristiwa pengusiran orang Yahudi dari kota Roma. Apakah setelah itu orang Yahudi boleh kembali ke kota Roma? Kemungkinan terjadi seperti itu, tetapi paling tidak peristiwa itu masih segar dalam ingatan mereka. Berarti pembicaraan mengenai pemerintahan merupakan topik yang sangat sensitif sekali, bagaimana orang Kristen bersikap dalam hal seperti ini.

Yang kedua, meskipun mereka adalah orang Kristen, pada saat yang sama mereka pun menyatakan identitas mereka sebagai orang Yahudi. Dan jelas sekali sebagai orang Yahudi yang ada di perantauan, mereka mungkin menciptakan satu pemikiran bahwa mereka adalah umat Allah dan mereka hanya taat kepada Allah; mereka tidak boleh taat kepada kaisar Romawi. Dan dengan sikap seperti itu mendatangkan sikap pemberontakan mereka tidak mau membayar pajak. Mereka hanya mau membayar pajak kepada bait Allah di Yerusalem. Sehingga kita bisa melihat kenapa rasul Paulus memberikan perintah ini dengan tegas: bayarlah pajak kepada yang berhak menerima pajak, cukai kepada yang berhak menerima cukai. Dalam 1 Timotius 4:3 Paulus memperingatkan Timotius bahwa ada pengajar-pengajar sesat yang telah masuk ke dalam gereja dan memberikan beberapa regulasi misalnya dengan melarang orang kawin, bisa jadi di situ mereka juga melarang orang untuk taat kepada institusi pemerintahan. Dalam Roma 12:2 Paulus mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Paulus mengajar orang Kristen tidak menarik diri dari dunia ini tetapi sebaliknya kita dipanggil untuk fruitful, menjadi orang Kristen yang mendatangkan berkat dan terlibat aktif di dalam kehidupan masyarakat. Dari situ kita bisa menarik kesimpulan berarti ada sebagian orang Kristen yang menarik diri dari dunia dan memilih untuk menjalani kehidupan lepas dari dunia.

Kita bisa memahami waktu itu tidak gampang untuk menjadi orang Kristen dan mengatakan “Jesus is the Lord,” nyawa taruhannya, di tengah pemerintahan Romawi yang menuntut semua warga di dalam pemerintahan takluk mengakui “Caesar is the Lord” dialah yang menentukan hidup mati kita. Sedangkan orang Kristen mengatakan, “Tidak, Tuhan kami adalah Yesus Kristus. Saya adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Saya tidak lagi hidup di dalam pemerintahan ini tetapi saya takluk kepada pemerintah yang di atas. Yesus Kristus adalah Tuhanku.” Hal ini bisa membuat orang Kristen mungkin bertanya, kalau saya percaya Yesus adalah Tuhan, lalu bagaimana dengan kaisar Romawi, haruskah saya hormat kepadanya?

Hal yang kedua, sebagai orang Kristen Yahudi yang hidup dalam dunia yang sangat sekuler, di tengah pola hidup orang Romawi yang bermabuk-mabukan, pesta pora, prostitusi, dsb, itulah pergumulan anak-anak Tuhan harus hidup menjalani imannya yang sangat berharga di hadapan Tuhan. Haruskah saya taat kepada pemerintah seperti ini? Haruskah saya memakai uangku membayar pajak kepada mereka? Haruskah saya respek dan hormat kepada gubernur, kepada senator, kepada pemimpin-pemimpin seperti ini? Itu pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diangkat oleh jemaat Roma.

Hal yang ketiga, jelas-jelas pemerintahan ini menganiaya dan membantai orang Kristen, lalu apakah kita harus pasif? Bagaimana sikap kita di dalam hal seperti ini? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan anak-anak Tuhan di dalam surat Roma, sebagai orang Kristen hidup di tengah masyarakat dimana karena imannya kepada Yesus Kristus sebagian uang yang dia miliki diambil dan dirampas dan sekarang uang yang sudah dia dapat dengan susah payah bekerja baik-baik sebagian harus dipakai untuk membayar pajak. Lalu mereka mendengar kalimat Paulus ini, mereka bertanya, “Paul, are you kidding me?” mungkin kira-kira begitu. Kita harus pasifkah? Kita harus terimakah hal-hal yang jahat itu terjadi kepada kita dan kita tidak boleh membalas akan hal itu? Jadi bagaimana kita atasi hal-hal yang tidak baik terjadi atas kita? Itu sebab bagian ini menjadi sangat penting dan sangat relevan sekali. Pada waktu kita lahir di satu negara, satu tempat, atau satu kota, atau satu keadaan dimana engkau dan saya mungkin tidak berdaya dan tidak bisa luput dari situasi yang hostile seperti itu, bagaimana kita harus bersikap taatkah, setia dan hormat? Perlukah saya pergi dan lari?

Ada beberapa hal yang sangat penting dan menjadi prinsip yang universal pada waktu Paulus menjawab bagian ini.

Prinsip yang pertama, kita percaya Allah kita berdaulat dan mengontrol segala sesuatu. Paulus berkata, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya akan mendatangkan hukuman atas dirinya” (Roma 13:1-2). Ayat ini berlaku termasuk kepada setiap orang Kristen yang berada di dalam situasi itu dengan mengatakan semua pemerintah berasal dari Allah, ditetapkan oleh Allah. Tidak ada pemerintahan yang terjadi dan ditegakkan tanpa melalui kedaulatan dan ketetapan Allah. Ini point yang ingin Paulus angkat. Pada waktu kita berada di dalam situasi itu, kita bisa frustrasi, kecewa, hidup dengan tidak tenang. Lari dari satu kota ke kota lain, tidak ada henti-hentinya seperti itu. Kita mungkin bisa bertanya-tanya, lalu dimana peranan Allah, dimana peranan iman kita? Di sinilah rasul Paulus membawa orang Kristen melihat aspek ini, melihat kedaulatan Allah di dalam pengaturan segala sesuatu. Pemahaman akan God’s sovereignty harus menjadi yang utama dan agung di dalam pemikiran kita.

Pada waktu mengadili Yesus di depan orang banyak, Pilatus berkata kepada Yesus, “Tidakkah Engkau tahu bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?” Yesus menjawab, “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas” (Yohanes 19:10-11). Benar kelihatannya Pilatus seolah berkuasa, tetapi kuasa itu diberikan dari Allah. Dan jikalau kuasa itu diambil oleh Allah, tidak ada satu orang pun yang bisa mengambil kembali. Maka Paulus ingatkan kepada jemaat yang berada dalam situasi seperti itu, Allah mengijinkan dan Allah yang memberikan institusi itu. Di dalam istitusi itu sebagai umat Allah kita hormat, kita respek. Artinya, di dalam masyarakat dan pemerintahan dimana kita hidup itu ada ordo, ada keteraturan. Institusi pernikahan bukan manusia yang buat tetapi Allah yang berikan, sebab melalui insitusi itu Allah memberikan satu kebaikan daripada pernikahan untuk menciptakan perlindungan hukum dan proteksi dan untuk mencegah imoralitas. Melalui institusi pernikahan, di situ kita belajar apa artinya kesetiaan. Melalui institusi pernikahan, kita bisa membentuk aturan dan ordo kepada anak-anak kita sebagai sebuah keluarga. Demikian juga Allah memberikan institusi pemerintah sebab melalui itu Allah menginginkan keteraturan dan ordo dari pemerintahan Allah bisa dijalankan melalui perpanjangan tangan daripada pemerintah dalam dunia ini.

Sekarang mari coba kita bayangkan bila hari ini kita hidup tidak ada polisi, tidak ada pemadam kebakaran, tidak ada hakim tidak ada jaksa tidak ada pengadilan, dsb bisa chaos luar biasa, bukan? Walaupun di dalam keteraturan seperti itu bisa saja terjadi hal yang tidak baik kepada sdr, walaupun di dalam pengadilan itu ada kemungkinan ketidak-adilan terjadi, polisi bisa saja salah menangkap orang yang tidak bersalah, dsb tetapi itu adalah satu institusi hukum yang menahankan orang tidak bisa berbuat semaunya sendiri. Dan pada saat Paulus membicarakan hal ini bagi saya ada dua aspek yang penting sekali bukan saja ketika orang Kristen membaca tetapi pada waktu bagian ini dibaca oleh orang-orang yang duduk dalam pemerintahan di Roma pada waktu itu walaupun mereka bukan orang Kristen ini mengingatkan mereka bahwa Kaisar punya kuasa terbatas adanya. Dan yang kedua, membuat mereka tahu orang Kristen bukanlah orang yang mendatangkan chaos kepada society  karena Alkitab mengajar orang Kristen untuk tunduk kepada institusi pemerintah. Berarti orang Kristen bukan satu sekte yang bersifat memberontak kepada pemerintahan.

Firman Tuhan ini mengingatkan bahwa all powers come from God, Allah berdaulat, Allah in control mengatur segala sesuatu. Sehingga pada waktu anak-anak Allah mungkin tidak berdaya, diperlakukan dengan tidak adil dan tidak bisa membela diri, hal ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita. Percaya kepada kedaulatan Allah membuat kita boleh teduh dan tenang ketika kita tahu kita tidak bisa mengatur dan mengontrol segala sesuatu, kita punya Allah yang berdaulat yang kita berserah dan bersandar penuh kepadaNya. Di dalam situasi-situasi seperti itu jangan kita menjadi devastated, kita tidak menjadi kecewa, putus asa dan tidak ada pengharapan

Prinsip yang kedua, sekalipun di dalam ketidak-sempurnaan pemerintahan yang ada, Tuhan tetap bisa pakai itu menjadi perpanjangan tangan Allah untuk melindungi orang yang baik dan menghukum orang yang jahat. Paulus berkata, “Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian daripadanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat” (Roma 13:3-4).

Paulus mengatakan Allah menetapkan pemerintah menyandang pedang, supaya dia memiliki hak dan poweruntuk menegakkan hukuman dan peraturan, menetapkan hukuman bagi kejahatan dan memberi perlindungan bagi kebaikan dan kebenaran melalui hukum yang diatur. Dengan demikian ini menjadi jawaban yang diberikan oleh rasul Paulus bahwa orang Kristen tidak boleh bersikap main hakim sendiri, tidak melakukan pembalasan dendam, membalas kejahatan orang dengan berbuat kejahatan dan kesalahan karena di situ kita bukan bicara soal apa yang adil tetapi kita bicara soal melanggar hukum. Pembalasan adalah hak Allah, kata Paulus, kejahatan orang kepada kita tidak akan hilang begitu saja. Allah memberikan hak dan otoritas itu kepada pemerintahan. Meskipun bisa jadi mungkin pemerintah itu begitu jahat melindungi orang yang jahat dan menangkap orang yang benar, tetap satu kali kelak keadilan Allah akan nyata. Tetapi hukum yang ada di dalam dunia ini diatur based on commonsense dan berdasarkan hati nurani. “Sebab itu perlu kita menaklukkan diri bukan saja oleh karena kemurkaan Allah tetapi juga oleh karena suara hati kita” (Roma 13:5). Bagaimana pun mungkin tidak adilnya satu hukum, tetap dimana pun saja di dunia ini hukum itu terikat kepada satu standar commonsense daripada manusia yang tahu apa itu benar, apa itu salah. Saya percaya generally speaking dimana saja kita pergi, mengambil barang orang lain adalah perbuatan salah, meskipun daerah itu tidak pernah mengenal hukum Musa. Jadi berarti sejelek-jeleknya dan sejahat-jahatnya satu sistem pemerintahan tetap di situ kita menemukan adanya satu aturan hukum yang diberikan dan yang berlaku. Dan pemerintahan itu adalah pelayan Allah melayani hukum dan aturan itu sehingga kita harus taat dan harus hormat kepada hukum dan aturan yang berlaku karena melalui itu hak hidup kita dilindungi dan dijaga. Kita tidak boleh melakukan kejahatan karena kita akan bersalah di situ, dan pada waktu kejahatan terjadi kepada kita, biarkan pemerintahan melakukan pembelaan dan menegakkan hukum itu. Kita bisa saksikan ada orang-orang yang bergitu jahat selama hidupnya meninggal dengan tanpa dilacak segala kejahatannya dan mendapatkan hukuman yang sepatutnya di dunia ini, tetapi tidak berarti hukuman dan penghakiman Allah tidak akan tertimpa kepadanya untuk setiap perbuatannya pada waktu kelak dia berdiri di hadapan pengadilan Allah.

Prinsip yang ketiga, pada waktu ketidak-adilan dan ketidak-baikan terjadi kepada kita, ketika hukum itu tidak melindungi dan tidak memelihara kita, tidak berarti kemudian kita tidak melakukan apa yang menjadi kewajiban kita. Marilah kita lakukan itu supaya boleh menjadi satu sumbangsih dan panggilan yang penting dan indah bagi kita. Paulus bilang, “Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat” (Roma 13:7). Paulus juga mengatakan kita harus membayar hutang dan tidak merugikan orang lain di dalam hidup kita (Roma 13:8). Bagian ini memanggil orang Kristen tidak perlu kecewa dan berhenti melakukan apa yang baik. Kita tidak bicara terlalu banyak mengenai kerugian yang terjadi kepada kita tetapi bagaimana kita melakukan apa yang menjadi kewajiban kita. Di situlah secara praktis kita belajar hidup sebagai orang Kristen memikul salib setiap hari. Kita dianiaya, kita mengalami ketidak-adilan, kita diperlakukan tidak benar, kita sudah lakukan hal yang benar tetapi kita tidak mendapatkan balasan yang setimpal, itu tidak membuat kita tidak melakukan apa yang sepatutnya menjadi kebaikan di dalam dunia ini.

Rasul Petrus juga mengingatkan, “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu” (1 Petrus 4:15-16).

Prinsip yang keempat, apakah orang Kristen tidak boleh menyatakan ketidak-taatan [civil disobendience] kepada pemerintah? Apakah bagian ini meminta orang Kristen untuk pasif dan sama sekali tidak boleh menyatakan suara untuk melakukan satu perlawanan tidak secara kekerasan tetapi seturut dengan kebenaran dan keadilan? Jawabannya jelas tidak. Maka kita tidak boleh memakai bagian ini saja tanpa melihat keseluruhan konsep Alkitab di bagian-bagian lainnya. Alkitab memberikan beberapa contoh, pada waktu raja Darius melarang seluruh rakyatnya untuk beribadah, Daniel dengan terbuka menyatakan sikap protes dengan naik ke atas loteng rumahnya dan berdoa tiga kali sehari dengan dilihat orang (Daniel 6:1). Di situ Daniel menyatakan secara publik tindakan civil disobediency. Daniel menyatakan: aku beribadah kepada Allah walaupun hukum pemerintahan melarang. Contoh lain, dalam Keluaran 1 Firaun raja Mesir memerintahkan dua orang bidan untuk membunuh setiap bayi laki-laki orang Yahudi yang baru lahir. Namun dua orang bidan itu mengambil keputusan untuk tidak taat kepada perintah itu dan menyelamatkan sebanyak mungkin bayi laki-laki Yahudi dengan mengatakan ibu-ibu Yahudi begitu kuat sehingga melahirkan sendiri sebelum mereka datang (Keluaran 1:15-20). Pilihan untuk menyatakan itu tidak benar bukan berarti tidak ada konsekuensinya tetapi sikap itu mereka ambil. Dalam Kisah Rasul 5 mencatat ketika para pemimpin agama Yahudi menangkap dan melarang Petrus dan Yohanes untuk mengabarkan Injil, mereka mengambil sikap menolak dan bahkan menantang mereka, “Kami harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kisah Rasul 5:26-33). Contoh-contoh itu memberitahukan kepada kita Alkitab tidak mengatakan bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh untuk berdiri tegak menyatakan sikap. Itu adalah satu panggilan ketika kita tahu tindakan ini adalah tindakan yang bisa merusak banyak orang sebagai orang Kristen kita harus berani mengatakan that is wrong. Kita berdiri dan menyatakan sikap tidak mau taat kepada hal itu berkaitan dengan deep conviction dalam hati kita ketika Allah menggerakkan kita, dan bersiap hati meskipun harus membayar dengan nyawa.

Bersyukur untuk firman Allah yang memberikan tuntunan dan prinsip supaya kita boleh hidup dan belajar menjadi berkat dimanapun kita berada, bukan saja kepada pemerintahan tetapi kepada kondisi dan situasi dimana kita bekerja dan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kiranya Allah menolong setiap kita tidak pernah kalah dan ditaklukkan oleh sistem dari dunia ini yang selalu berusaha membawa kita jauh dari Tuhan. Kiranya hidup kita boleh menjadi berkat dalam masyarakat dimana kita berada. Kiranya Allah juga melindungi dan memimpin anak-anak Tuhan yang duduk di dalam pemerintahan untuk menjadi suara kebenaran Tuhan menegakkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan bagi banyak orang dan menjalankan kebenaran di dalam takut akan Tuhan di dalam tanggung jawab dan tugas menjadi orang Kristen yang berkontribusi di dalam masyarakat. Kiranya Allah memberkati engkau melalui firman Tuhan ini.(kz)