Temukan Hidup yang Bermakna

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (28)
Tema: Temukan Hidup yang Bermakna
Nats: Roma 12:1

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

Tibalah saatnya kita sampai kepada bagian ke tiga dari surat Roma yaitu pasal 12-15 bicara soal bagaimana kita menjalani hidup sebagai orang Kristen, sebagai umat Allah, sebagai anak-anak Allah; bagaimana sikap, attitude, siapa, dan bagaimana rupa orang Kristen itu.

Kalau boleh saya bagi secara garis besar, bagian pertama dari Roma pasal 1-8 Paulus menjelaskan dasar pengajaran apa artinya iman Kristen, apa Injil Yesus Kristus, bagaimana Kristus menebus dan menyelamatkan kita. Lalu bagian kedua dari Roma pasal 9-11 Paulus menjelaskan bagaimana pekerjaan Allah memilih umat Israel di Perjanjian Lama lalu kemudian di Perjanjian Baru sampai sekarang kita menyaksikan berbagai bangsa menerima Tuhan kita Yesus Kristus; apakah ini dua umat Allah yang berbeda? Ataukah justru dua umat Allah yang satu? Paulus menjelaskan itu panjang lebar di sini. Allah tidak pernah gagal dan tidak pernah sesudah berencana lalu membuang rencana itu. Maka umatNya Dia sebut dengan nama Israel, umat dari etnis orang Yahudi maupun juga yang dari bangsa-bangsa bukan Yahudi, keselamatan kita pokok akarnya sama dan satu yaitu Yesus Kristus. Ini adalah pembagian yang kita bisa lihat dari Roma 1-8, lalu Roma 9-11 dan kemudian Roma 12-15 bicara soal bagaimana kita menjadi orang Kristen, bagaimana kita menjalani hidup sebagai anak Tuhan.

Pohon bisa tumbuh besar, megah dan berbuah, tetapi kita bisa kaget ketika pohon itu tiba-tiba tumbang dan mati, sampai kemudian kita lihat ternyata akarnya sudah membusuk dan mati. Maka kata yang penting di sini adalah akar atau fondasi. Yesus pernah memberikan perumpamaan bicara mengenai bagaimana kita membangun hidup ini. “Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” (Matius 7:24-27). Di sini Yesus bicara soal orang yang mendengar firman Allah dan melakukannya, maka orang itu membangun hidupnya seperti di atas fondasi batu karang yang kokoh adanya. Sedangkan orang yang mendengar firman Allah, tetapi sama sekali tidak melakukannya, orang itu membangun hidupnya seperti bangunan di atas pasir. Maka bukan soal apa yang dibangun di atas tetapi soal fondasi yang ada di bawah. Seringkali kita terlalu cepat kagum dan terpesona melihat apa yang ada di atas, betapa besar, betapa megah, betapa mewah bangunan yang ada di atas, padahal yang menjadi yang paling penting yang justru tidak kelihatan adalah apa yang menjadi fondasi di bawahnya.

Firman Tuhan senantiasa mengingatkan hidup orang percaya berakar dari worship. Artinya apa? Worship bukan bicara soal liturgi tata cara ibadah, bukan bicara aktifitas yang kita lakukan di gereja. Worship berarti kepada apa atau siapa kita menyembah, bersandar penuh kepadanya. Rev. Paul David Tripp mengatakan, “The Bible clearly says that worship is first your identity before it is ever your activity. You are a worshiper, so everything you think, desire, choose, do or say is shaped by worship. It is a fundamental human motivation.” Dimana kita meletakkan identitas diri kita? Apa yang kita anggap paling berharga dan paling bernilai dalam hidup kita yang kita rela berkorban untuk memilikinya? Apa yang memberi kita makna dan tujuan? Kenyamanan? Kesuksesan? Hal-hal materi? Uang? Kuasa? Orang?

Bagaimana engkau membangun hidupmu? Pernahkah engkau memikirkan dalam-dalam fondasi apa yang engkau taruh di situ? Apakah Kristus menjadi batu karang yang kokoh dan yang memberi direksi, arah dan makna sehingga engkau menjadi seorang yang Ia sebut sebagai orang yang bijaksana? Perjalanan hidup kita akan berbeda-beda, tugas jabatan kita berbeda-beda, influence kita berbeda-beda, tetapi identitas kita, siapa kita di hadapan Tuhan itu sama. Ketika kita sudah mengerti identitas kita, apa artinya menjadi orang Kristen, kelanjutannya adalah bagaimana saya menjalani hidup sebagai orang Kristen, sudahkah saya menemukan hidup yang bermakna karena itulah tema yang penting dalam Roma 12:1, fondasi itu diletakkan di ayat ini. Maka inilah yang menjadi dorongan Paulus kepada setiap orang percaya.

Roma 12:1 dimulai dengan kata “karena itu,” therefore. Ini adalah satu kata yang sangat penting yang memperlihatkan itulah akarnya, itulah sebabnya, itulah sumbernya, itulah alasan yang menopang hidup Kekristenan kita. Hidup Kristen kita itu ditopang dan didasarkan kepada apa? Jelas sekali didasarkan kepada apa yang telah dikerjakan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di pasal 1-11 surat Roma ini Paulus membicarakan bagaimana keindahan penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib. Paulus bicara bagaimana Kristus telah menjadi sumber keselamatan itu. Paulus bicara kondisi kita sebelum mengenal Kristus, sepatutnya kita dihukum oleh Allah karena kita tidak lebih baik daripada orang-orang lain. Tetapi oleh karena Yesus Kristus kita menerima pengampunan, penebusan dan pembenaran di hadapan Allah. Oleh karena iman kepada Yesus Kristus kita menjadi umat Allah. Itu semata-mata karena belas kasihan dan anugerah Allah bukan karena ada sesuatu dalam diri kita sehingga Allah menjadikan kita umatNya. Itulah yang menjadi akar dan sumber keberadaan kita sebagai orang Kristen.

Maka kita masuk kepada kata “demi kemurahan Allah,” the root of your existence as a Christian, fondasi akar yang menyebabkan hidup Kristen kita bertumbuh dan berbuah ke atas, cuma ditopang oleh satu kata “demi kemurahan Allah,”  by the mercies of God. Itulah kata yang menjadi fondasi dan akar hidup kita, selalu sadar hidup kita ada oleh karena belas kasih dan kemurahan Allah semata-mata. Ada tiga hal yang penting dari kata “oleh kemurahan Allah” itu.

Pertama, dengan kata ini berarti tidak ada orang Kristen yang boleh mengklaim dan mengambil full credit atas hidupnya. Yang boleh dan berhak take and claim full credit atas hidup kita adalah Allah, pencipta dan penebus kita. Tetapi sayangnya seringkali kita lupa hal ini. Banyak orang menjadi sombong dan takabur setelah membangun hidup dengan segala gelar dan predikat yang membuat orang lain menganga dalam kekaguman. Dan seperti kata Tuhan Yesus, pada waktu hujan, angin dan topan yang dahsyat melanda dan membuat semua itu ambruk, baru kita sadar persoalannya dimana? Terletak di fondasinya. Alkitab mencatat hidup seorang bernama Ayub yang memiliki segala-galanya; kekayaan, kesuksesan, kemakmuran, kuasa dan nama baik. Hanya dalam satu hari semua itu hilang lenyap tak bersisa [lihat Ayub 1]. Tetapi Ayub berkata, ” The Lord gave, and the Lord has taken away. Blessed be the name of the Lord” (Job 1:21). Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan. Bagaimana bisa? Kalau yang hilang hanya 10% daripada uang depositomu, mungkin engkau masih bisa bilang seperti itu. Atau 30% bitcoin anjlok, engkau masih ada investasi lain yang menutup kerugian itu. Tetapi ketika segala yang kita miliki habis lenyap, dapatkah kita berkata seperti Ayub? Akhirnya di situ kita disadarkan, hidupku itu semata-mata karena kemurahan dan belas kasihan Allah. Itulah artinya menjadi orang Kristen dengan fondasi yang tepat, ditopang oleh God’s mercies, belas kasihan Allah. Itu berarti you cannot claim full credit atas apa yang sdr dapat dan sdr achieve dalam hidup ini.

Kedua, dengan kata by the mercies of God berarti hidup yang bermakna itu hanya bisa kita temukan dan dapatkan jika hidup ini kita jalani senantiasa dengan sikap dan attitude: this is God’s blessing, kita tidak layak menerima dan mendapat semua hal yang baik dalam hidup ini. Tetapi kalau attitude kita selalu menganggap saya layak, saya berhak dapat, ini hak saya, dsb maka kita akan kehilangan sukacita, kita akan melihat orang lain sebagai competitor, kita akan menjalani hidup dengan anxiety dan paranoia karena kita pikir orang akan merebut dan mengambil apa yang kita punya. Tetapi pada waktu kita jalani hidup Kristen kita setiap hari kita bangun dengan syukur menghargai setiap hal yang ada; bersyukur untuk pasangan kita, bersyukur untuk anak-anak kita, bersyukur untuk kesehatan, pekerjaan, kesempatan dan semua hal yang baik dalam hidup kita. Semua adalah anugerah Allah yang kita hargai karena kita sadar itu semua tidak selayaknya kita terima. Tanamkan kepada anak-anakmu di rumah, jangan bilang apa yang kita dapat ini semua hasil kerja keras papa mama. Selalu bilang, we’ve been blessed by God, we don’t deserve to take this. Mungkin sdr ingin supaya anakmu menghargai kerja kerasmu mencari uang memenuhi kebutuhannya sehingga dia tidak sembarang spend dan waste. Tetapi dengan mengatakan seperti itu, sdr meletakkan satu fondasi yang tidak biblikal dalam hidup mereka. Sejak kecil kasih tahu anak apa yang kita dapat, dia bisa sekolah, itu berkat Tuhan yang kita tidak layak terima. Kita bisa makan makanan yang baik, jangan selalu bilang ini hasil kerja keras papa mama, makan sampai habis. Kita mungkin ingin anak makan dengan baik, tidak waste makanannya, tetapi kalimat-kalimat seperti itu membuat mixed messages akhirnya memberi pressure dalam hidup mereka, bahwa semua itu karena achievement, karena sukses, karena apa yang bisa kita raih, dsb. We gave them wrong messages. Tetapi jika kita memulai hidup ini dengan bersikap apresiasi seperti ini, kita meletakkan fondasi yang baik dan solid kepada mereka. Hiduplah dengan belas kasihan Allah, selalu menganggap semua yang engkau miliki dalam hidup ini tidak selayaknya engkau terima dan engkau menghargai belas kasihan Allah atas hidupmu. Maka engkau tidak akan “ngoyo” pegang erat-erat semua dan menganggap itu dignitas identity kita.

Ketiga, kata “by the mercies of God” berarti menjadi satu panggilan bagi kita untuk memiliki satu gaya hidup orang Kristen yang juga penuh dengan belas kasih. Kita telah menerima belas kasih dari Allah, maka kita juga dengan murah hati memberikan belas kasih itu kepada orang lain. Be merciful.

Tuhan Yesus pernah memberikan perumpamaan tentang seorang yang berhutang 10,000 talenta kepada raja yang kemudian jatuh belas kasihan karena melihat orang ini tidak mampu membayarnya, raja itu membebaskan dia dari semua hutangnya. Tetapi kemudian keluar dari tempat itu dia berjumpa dengan temannya yang berhutang 100 dinar. Dia mencekik orang itu dan melemparkannya ke penjara sampai orang itu membayar hutangnya. Mendengar hal itu marahlah raja itu dan melemparkan orang ini ke penjara karena dia tidak berbelas kasihan kepada orang yang berhutang kepadanya. Orang ini telah mendapat belas kasihan tetapi dia tidak berbelas kasihan kepada orang lain. Seseorang yang menyadari dirinya telah mendapat belas kasihan Allah yang begitu besar dalam hidupnya, membuat dia juga melihat bahwa orang lain juga ditopang hidupnya oleh karena belas kasihan, dan belas kasihan itu mengalir dalam hidup setiap kita.

Selanjutnya kata “aku menasehatkan kamu,” atau dalam terjemahan bahasa Inggris “I urge you” ini dipakai oleh Paulus dengan nada perintah [command] berarti sesuatu yang harus kita lakukan dan ketika kita tidak lakukan berarti kita sudah tidak taat kepada perintah Allah. Tetapi level perintah ada bedanya. Maka kita perhatikan, kata “menasehatkan” memberi indikasi seolah-olah ini hanya level nasehat, sehingga kalau kita tidak mau lakukan tidak apa-apa. Tetapi kata nasehat agak sedikit mild perintahnya, sehingga bahasa Inggris memakai kata “urge,” mendesak atau mendorong, tetapi tidak memakai kata “command” atau memerintahkan kamu. Kenapa? Walaupun itu adalah kata perintah dan kalau tidak kita lakukan di hadapan Tuhan kita sudah disobey, tetapi berbeda dengan perintah yang lain, misalnya perintah “jangan membunuh,” waktu kita disobey dan membunuh orang, kita harus masuk penjara, karena di sini ada aspek hukum yang dilanggar dan ada aspek pelakunya harus membayar ganti kerugian kepada korban. Tetapi tidak ada orang yang harus dipenjara kalau dia tidak taat kepada perintah persembahkan hidup bagi Tuhan. Kalau engkau tidak mau menjalankan perintah ini walaupun ini melanggar dan tidak taat kepada firman Tuhan, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Itu jatuh kepada kategori atau wilayah “freedom” kita dimana kita tidak bisa dibawa, ditarik, dipaksa, bahkan dimasukkan ke penjara jika kita tidak melakukannya. Tuhan mengatakan latihlah dirimu beribadah, berilah persembahan perpuluhan, berilah belas kasihan, dsb, ketika kita tidak melakukannya kita telah bersalah dan tidak taat kepada Tuhan, tetapi sdr tidak bisa dibawa ke pengadilan karena tidak melakukan itu. Itulah sebabnya Paulus berkata “I urge you” aku mendesakmu untuk mempersembahkan hidupmu, di situ adalah satu gaya hidup berdasarkan kita meng-exercise kita punya freedom. Tetapi senantiasa harus kita ingat satu kali kelak kita akan berdiri di hadapan Allah yang maha kuasa dan mempertanggung-jawabkan hidup kita di depan tahtaNya yang suci dan kudus itu, di situlah pengadilanNya menjadi nyata.

Dari dasar inilah maka kemudian rasul Paulus mengatakan “persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Inilah ibadahmu yang sejati.” Perintah ini pendek, singkat, tetapi kalau dibahas bisa panjang lebar begitu kaya. Offer your body as a living sacrifice, ketika membandingkan konsep offering dalam Perjanjian Lama sungguh luar biasa. Di masa Perjanjian Lama orang datang kepada Tuhan membawa offering persembahan korban binatang yang disembelih. Semua itu mempunyai beberapa makna. Makna yang pertama, offering itu mengingatkan bahwa hubungan mereka dengan Tuhan hanya bisa diselesaikan dengan adanya binatang yang dikorbankan. Makna yang kedua, dengan memberikan offering korban binatang ini kepada Allah dengan segala macam ritual yang begitu teliti bertujuan supaya orang tahu setiap kali mereka beribadah kepada Allah mereka sungguh-sungguh melakukannya dengan hormat dan respek. Firman Tuhan mengatakan jangan membawa binatang yang cacat, yang buta, yang timpang. Ini adalah aturan dari sisi eksternal yang bisa kelihatan, sedangkan sikap dan hati orang waktu datang memberikan persembahan adalah sisi internal yang tidak bisa kelihatan dan hanya Allah yang mengetahui dan melihatnya. Maka pada waktu orang Israel datang membawa persembahan kepada Tuhan dengan mereka membawa kambing domba yang cacat, buta dan timpang, nabi Maleakhi dengan sangat keras menegur mereka. Maka Allah menyatakan rasa muaknya karena itu menunjukkan bagaimana mereka berbakti kepada Allah tetapi tidak memuliakan Allah (Maleakhi 1:6-14).

Rev. John Piper berkata, kita memuliakan Allah dengan menghargai Kristus. Ibadah kepada Allah itu berkaitan erat dengan aspek ini. Semakin tinggi kita menghargai Kristus semakin menyebabkan kita memiliki ibadah memuliakan Allah. Kita menghargai korban Kristus yang telah memberikan hidupnya, totalitas tubuhNya dikorbankan di atas kayu salib bagi kita, tidak ada cara yang sepadan dan seimbang adalah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus, yang hidup dan yang berkenan kepadaNya. Bukan uang kita, bukan waktu kita, bukan pelayanan kita dan segala yang kita punya; yang paling penting adalah offer your body as a living sacrifice. Itulah arti dan makna yang penting dalam bagian ini.

Yang kedua, Perjanjian Lama sentralitas ibadahnya kepada tempat dan waktu; dan pada waktu Paulus katakan ibadahmu berkaitan dengan persembahan tubuhmu, maka di sini mengiangkan kembali apa yang pernah Yesus katakan, “Saatnya akan tiba bahwa orang tidak lagi menyembah Allah di gunung ini atau di Yerusalem, tetapi engkau akan berbakti kepada Allah di dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:21-24). Maka ibadah itu bukan soal kita set waktu, ibadah itu bukan soal kita datang ke satu tempat, tetapi ibadah itu soal apa yang engkau kerjakan dengan tubuhmu, apa yang terjadi dengan hidupmu, apa yang engkau berikan melalui hidupmu. Berarti berbakti dengan tubuhmu sebagai bait Allah berarti tidak lagi bicara soal waktu, tidak lagi bicara soal tempat, kapan saja, dimana saja pada waktu tubuh ini berhadapan dengan Allah, itulah ibadah. Bukan hanya di hari Minggu, bukan hanya di gereja, tetapi ketika kita membawa tubuh ini di dalam rumahmu, di dalam pekerjaanmu, tempat itu menjadi tempat worship. Itulah makna dari bagian ini. Hidup kita adalah bait Allah. Apa yang kita kerjakan dengan hidup ini, apa yang kita lakukan, bagaimana hidup kita bereaksi dengan dunia ini, di situlah Allah nyata dan dimuliakan. Maka muliakanlah Allah dengan semua yang kita kerjakan dalam hidup ini. Bawa pulang firman ini, taruh dalam hatimu dan jadikan firman yang membuat kita berkata, Tuhan, karena hidupku demi kemurahan Allah, maka aku datang mempersembahkan seluruh hidupku sebagai sebuah persembahan yang tidak pernah akan aku main-main. I don’t want to waste my life, aku mau menjalani hidup yang berkenan kepada Allah.

Hari ini kita datang bersyukur dan berterimakasih kepada Allah sebab kita adalah anak Allah dan milik Allah selama-lamanya dan hidup kita ditopang oleh belas kasihan Allah yang kita tidak layak terima. Apa yang sudah Allah kerjakan dan berikan sepenuhnya 100% bagi kita menyadarkan dan mengingatkan kita terus bahwa semua itu dari Tuhan, kepada Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan. Tidak ada yang boleh kita simpan dan tersisa dan kita angkat menjadi trophy di dalam hidup kita. Itu semua hanya anugerah Allah. Ingatkan apa yang kita dapat dan kita raih hari ini, jabatan yang kita miliki, kesuksesan di dalam keuangan, nama baik di masyarakat, apa yang kita lakukan benefit bagi society dsb, nama yang harum, indah dan baik ini adalah berkat dan anugerah Tuhan, dan kita mau nama Tuhan yang dimuliakan melalui apa yang kita kerjakan dan lakukan. Kiranya firman Tuhan ini tertanam dengan indah dalam hidup kita.(kz)