Rahasia Allah dan Keselamatan Israel

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (27)
Tema: Rahasia Allah dan Keselamatan Israel
Nats: Roma 10:16 – 36

Dalam Roma pasal 9 – 11 Paulus khusus berbicara mengenai bagaimana kaitan rencana Allah terhadap umat Allah dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru. Dari Perjanjian Lama jelas sekali Allah merencanakan keselamatan melalui satu suku yang namanya Israel. Tetapi di dalam Perjanjian Baru dengan matanya sendiri rasul Paulus melihat pada waktu Injil diberitakan, orang-orang dari berbagai suku bangsa datang menjadi umat Allah sedangkan hanya sedikit sekali orang Yahudi yang percaya Tuhan Yesus. Maka muncul pertanyaan ini: apakah Allah telah membuang dan menolak bangsa Israel sebagai umatNya? Yang kedua: apakah orang-orang Kristen bukan Yahudi sudah menggantikan umat Allah itu? Paulus menyatakan tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham (Roma 9:6). Artinya, yang disebut orang Israel itu bukan ditentukan oleh faktor biologis, soal keturunan darah dan daging. Israel yang sejati itu berdasarkan kemurahan Allah, berdasarkan pilihan Allah dan belas kasihan Allah [lihat Roma 9:16,18]. Paulus menyatakan bahwa orang keturunan Israel ini tidak menerima keselamatan dan kasih karunia Allah karena mereka menolak kasih karunia dan Injil yang Allah berikan. Mereka tidak dapat melihat bahwa semua yang dijanjikan, semua yang dinubuatkan, semua yang dibicarakan di Perjanjian Lama mengacu kepada Yesus Kristus. “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya” (Roma 10:4). Maka mereka yang menerima Yesus dengan iman percaya baik dari suku bangsa mana pun maka mereka adalah anak-anak Allah, Israel yang sejati, anak-anak perjanjian. Ini yang Paulus bahas dalam Roma 10.

Selanjutnya Roma 10:16-21, ada 3 hal yang menjadi respon bangsa Israel kepada berita Injil. Yang pertama, mereka menolak tawaran keselamatan Allah melalui Yesus Kristus dan mereka mengganti itu dengan usaha perbuatan baik, dengan segala kesalehan hidup, mereka mengatakan inilah cara supaya bisa masuk surga dan berkenan kepada Allah. Maka Paulus katakan, tidak ada orang yang sanggup bisa secara sempurna melakukan semua itu. Hukum Taurat itu diberikan kepada kita supaya kita sadar tuntutan Allah itu begitu tinggi adanya, kita manusia yang kecil dan berdosa, kita hanya bisa datang kepadaNya dengan memohon belas kasihan daripada Tuhan.

Yang kedua, mereka menolak Injil keselamatan melalui Mesias yang menderita di kayu salib. Sehingga itulah yang menjadi keluhan nabi Yesaya, “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” (Roma 10:16). Ayat itu muncul dalam konteksnya Yesaya bicara mengenai Mesias Hamba Tuhan yang menderita. “Ia tidak tampan dan semaraknya piun tidak ada. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan. Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang dipikulnya” [lihat Yesaya 53]. Yesaya sudah mengatakan hal ini 700 tahun sebelum Yesus datang ke dunia dan mati disalib. Tetapi siapa mau percaya berita itu? Berita salib itu menjadi batu sandungan bagi mereka sehingga mereka tidak mau terima Injil Kristus itu.

Yang ketiga, tidak ada salah di pihak Tuhan karena firman itu sudah disampaikan tapi persoalannya mereka tidak menanggapinya. Itu kata yang dipakai oleh rasul Paulus dalam Roma 10:21 “bangsa yang tidak taat dan membantah.” Kata yang dipakai di sini sangat tajam: mereka berbantah-bantahan dengan Allah.

Menarik sekali kalau kita lihat kesimpulan ini Paulus secara khusus mengutip dua orang yaitu Musa dan Yesaya, dan dua orang ini menyangkut dua peristiwa yang penting bagi sejarah bangsa Israel. Peristiwa yang pertama adalah exodus, keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Empat ratus tahun lamanya bangsa ini tinggal di Mesir, menjadi budak. Secara kacamata manusia dan kekuatan manusia it is impossible untuk bisa lepas dari cengkraman perbudakan itu, apalagi bangsa Mesir pada waktu itu adalah negara adidaya, negara super power. Maka peristiwa terbentuknya bangsa Israel dari tidak ada menjadi ada, dari budak menjadi merdeka, itulah peristiwa exodus. Tetapi di dalam perjalanan di padang gurun, Musa akhirnya melihat betapa degilnya dan kerasnya bangsa ini. Peristiwa yang kedua adalah exile. Pada masa raja Hizkia, itu adalah era dimana Yesaya menjadi nabi. Pada masa itu Israel sempat mengalami masa kejayaan dan Alkitab mencatat maka congkaklah Hizkia lalu di situlah kemudian Yesaya memberikan warning, jikalau mereka tidak dengar firman Tuhan, mereka tidak bersandar firman Tuhan, Tuhan akan membuang umatNya [lihat 2 Raja-raja 18-20]. Itulah exile. Dari dua peristiwa itu, yang paling menyakitkan adalah peristiwa exile. Karena peristiwa exodus dari tidak ada menjadi ada; peristiwa exile dari besar bait Allah dan kerajaan itu menjadi hancur. Peristiwa exodus dari bangsa yang budak keluar menjadi banyak; yang exile dari besar yang pulang remnant tersisa sedikit sekali. Tetapi dua peristiwa ini menjadi warning dan bisa terjadi berulang lagi dimana saja ketika umat Allah tidak mau taat dan mendengarkan firman Allah. Di dalam hidup kita, kita harus mempunyai hati dan sikap yang senantiasa melihat dan menyadari hal itu. Adakalanya pada waktu kita tidak mempunyai apa-apa kita tiba-tiba terkejut luar biasa sebab Allah mengerjakan exodus dalam hidup kita, memberikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Tetapi di dalam perjalanan itu kita jangan menjadi sombong dan merasa kita sudah mempunyai segala-galanya. Tuhan bisa ambil itu. Tidak ada yang tersisa. Baru di situ telinga kita terbuka lebar-lebar. Baru di situ kita duduk dan tidak lagi berbantah dengan Allah.

Peristiwa exile itu sangat menyedihkan luar biasa sehingga mulailah kita melihat Roma 11 ada dua pertanyaan penting muncul. Pertanyaan pertama adakah Allah telah menolak umatNya? Sekali-kali tidak! Allah tidak menolak umatNya yan g dipilihNya (Roma 11:1-2). Paulus bicara di tengah-tengah semua itu sudah habis, Tuhan sanggup bisa membangkitkan segelintir orang yang namanya the remnant. Mereka tersisa bukan karena mereka kuat. Mereka tersisa bukan karena mereka adalah kelompok yang adidaya. Tersisa bukan karena uang mereka lebih banyak dan lebih sanggup, dsb. Tersisa, sebab orang-orang ini tidak mau kompromi “sujud menyembah Baal” atau membuang kesetiaan imannya kepada Tuhan (Roma 11:2-5). Mari kita coba bayangkan pada masa Elia, itu adalah era diktatorship yang luar biasa berat dari raja Ahab dan ratu Izebel. Itu adalah era dimana mereka membunuh semua orang percaya, mereka hajar habis para imam dan nabi Tuhan. Mereka yang bertahan karena imannya kepada Allah dibunuh, dibakar, disiksa, dsb. Itu adalah era dimana orang gampang sekali menjadi gamang dan kompromi, melepaskan dan meninggalkan imannya. Tetapi Allah menghasilkan karya yang lebih besar dengan memelihara umat itu tidak pernah habis lenyap. Allah bilang kepada Elia, dimanakah engkau? Elia menjawab, tinggal aku sendiri yang masih setia dan sekarang mereka mau membunuh aku. Maksud Elia kalau dia mati, maka habislah orang yang menyembah Allah. Elia tidak lihat yang lain. Tetapi Allah berkata kepada Elia, “Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagiKu yang tidak pernah sujud menyembah Baal.”

Pertanyaan yang kedua, Roma 11:11 “Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain supaya membuat mereka cemburu.” Kita masuk kepada satu bagian yang luar biasa ini. Bagian yang tidak gampang dan tidak mudah dan memang sulit di dalam menafsirkannya. Paulus memberikan dua penjelasan. Penjelasan pertama, kenapa orang Yahudi tersandung? Karena mereka tidak bisa lihat bahwa tujuan Allah memilih mereka adalah supaya bangsa-bangsa lain juga bisa mendapat berkat. Walaupun dalam Perjanjian Lama Allah sudah mengingatkan bahwa ada orang-orang yang bukan umat Allah yang akan Ia panggil menjadi umatNya, mereka tidak bisa terima bahwa orang-orang itu setara dan selevel dengan mereka. Sikap snobbishness mereka merasa diri berada pada posisi lebih tinggi membuat mereka bersikap orang-orang kafir boleh menjadi umat Allah tetapi mereka “second class,” tidak setara dan selevel dengan mereka. Maka kita bisa melihat di Bait Allah terjadi pemisahan, dimana bagi orang bukan Yahudi yang percaya Allah dan menjadi proselit, mereka ditempatkan di Gentile Court, di bagian halaman paling luar dimana sekaligus dijadikan tempat penukar uang dan penjualan binatang untuk korban. Ingat bagaimana Yesus membongkar-balikkan meja-meja penukar uang dan mengusir para pedagang binatang di situ untuk menyatakan mereka tidak boleh menghalang-halangi orang-orang datang berbakti dan berdoa kepada Allah. Yesus berkata, “Bukankah ada tertulis rumahKu akn disebut rumah doa bagi segala bangsa?” [lihat Markus 11:15-17]. Dan pada waktu Yesus di atas kayu salib, tirai yang berada di ruang maha kudus di bait Allah terbelah dua menyatakan tidak ada lagi pemisah antara Allah dan manusia karena Yesus menjadi pengantara [lihat Matius 27:51]. Maka tidak ada perbedaan lagi antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi; semua equal di hadapan Allah. Orang Yahudi tersandung karena mereka tidak bisa terima Allah memperlakukan mereka seperti itu.

Yang kedua, mari kita bayangkan orang-orang Kristen yang ada di gereja di Roma waktu itu yang berbondong-bondong terima dan percaya Tuhan Yesus adalah orang-orang yang bukan Yahudi sedangkan orang Yahudi sendiri begitu sedikit. Melihat fenomena ini sebagian orang Kristen bukan Yahudi kemudian berpikir bahwa orang Yahudi tidak lagi menjadi umat Allah, tetapi kitalah yang menggantikan mereka. Maka di sini Paulus menegur kesombongan orang Kristen dari latar belakang bukan Yahudi, “Aku berkata kepadamu hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu adalah kemuliaan pelayananku yaitu kalau aku dapat membangkitkan cemburu dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka” (Roma 11:13). Paulus ingatkan kepada mereka untuk tidak menjadi sombong. “Janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah bahwa bukan kamu yang menopang akar itu melainkan akar itulah yang menopang kamu” (Roma 11:18-19). Kenapa? “Mereka dipatahkan karena ketidak-percayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!” (Roma 11:20). Sumber keselamatan akarnya hanya satu: yaitu janji keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Kita kemudian bisa percaya dan selamat karena akar itu menopang kita, kita hanya carang yang dicangkokkan. Ketidak-taatan Israel adalah menjadi kesempatan yang Allah buka bagi orang-orang bangsa lain mendengar Injil dan menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus sampai genaplah jumlah mereka.

Selanjutnya, kita masuk ke dalam bagian kedua yang penting luar biasa, “Sebab saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan demikian seluruh Israel akan diselamatkan” (Roma 11:25). Perhatikan kalimat ini: dengan demikian seluruh Israel akan diselamatkan [and in this way all Israel will be saved] apa artinya? Ada 3 penafsiran yang muncul terhadap frasa ini. Penafsiran yang pertama mengatakan itu adalah mengacu kepada semua orang percaya baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi adalah umat pilihan Allah. Penafsiran yang kedua all Israel di sini hanya mengacu kepada orang Israel “remnant” yang percaya Tuhan Yesus. Lalu penafsiran yang ketiga mengatakan bahwa itu menunjuk kepada satu etnis Israel yang Tuhan akan berikan kesempatan mendapat keselamatan sebelum Tuhan Yesus datang kedua kali.

Maka, apakah mereka yang tersandung ini akan tergeletak jatuh untuk selama-lamanya? Paulus menjawab, sekali-kali tidak! Berarti ketidak-taatan mereka tidak permanen. Satu kali kelak Tuhan juga akan memberi mereka kesempatan untuk percaya dan diselamatkan,

Maka di bagian ini Paulus berkata, “Now I tell you a mystery.” Kata “mystery” ini penting sekali. Meskipun ini bukan sesuatu yang baru karena Tuhan sudah mengatakannya sebelumnya di Perjanjian Lama, dan sekarang makin diperjelas, etapi dengan memakai kata “mystery” ini mempunyai pengertian yang baru, sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Mereka sekarang menolak Tuhan Yesus, tetapi ada satu masa kelak sebelum kedatangan Tuhan atau di hari-hari terakhir, orang-orang Israel ini menjadi percaya Yesus Kristus.

Dari bagian ini kita bisa melihat dua bagian yang penting sekali. Alkitab memberitahukan kepada kita sebelum Tuhan Yesus datang kali kedua, Injil harus dikabarkan sampai ke segala suku bangsa. Tetapi bukan itu saja, di sini kita bisa melihat Allah akan membuka satu kesempatan dimana orang Israel akan mendengar Injil, menerima dan percaya Tuhan Yesus sebelum Ia datang kali kedua. Berarti berdasarkan apa yang Paulus nyatakan ini akan terjadi satu masa ketika bangsa Israel secara mayoritas dan jumlah yang banyak akan menerima dan percaya Tuhan Yesus Kristus sebelum kesudahan itu terjadi. Kesempatan itu terbuka. Tetapi perhatikan baik-baik, terbuka bukan berarti jalan keselamatannya akan di luar daripada cara mereka percaya kepada Tuhan Yesus. Dengan cara apa? Dengan cara yang sama seperti orang-orang bukan Yahudi. Dalam Roma 1:16-17 jelas sekali Paulus mengatakan, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: orang benar akan hidup oleh iman.” Baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, mereka diselamatkan karena iman kepada Yesus Kristus. Tidak boleh ada cara lain. Berarti pemberitaan Injil juga diberikan dan disampaikan kepada mereka. Kapankah hal ini akan terjadi? Ada yang mengatakan nanti setelah Yesus datang kedua kali, ada masa seribu tahun dimana di situlah masa orang Yahudi diberi kesempatan untuk mendengar Injil dan percaya Kristus. Ada yang lain mengatakan, sebelum Tuhan Yesus datang kedua kali ada satu masa terjadi hal yang ajaib dan luar biasa sekali ketika Injil dikabarkan kepada seluruh bangsa dan khususnya kepada orang Yahudi dan mereka terima Tuhan Yesus sebelum Ia datang kali kedua. Soal itu adalah perbedaan di dalam latar belakang teologisnya. Tetapi kita bisa melihat di sini sesuatu yang ajaib dan luar biasa dan dari sini kemudian kita menemukan rencana Allah bekerja di dalam sepanjang sejarah dunia hidup kita harus membuat kita kagum luar biasa.

Sejarah memperlihatkan betapa sikap negatif dan antisemitism yang ditujukan kepada orang Yahudi begitu luar biasa. Kebencian yang diperlihatkan kepada etnis orang Yahudi terus berlangsung sejak mereka terpencar dari tahun 70 AD hingga pada masa Hitler dimana penganiayaan yang dilakukan kepada orang Yahudi begitu dahsyat karena ada sentimen yang disebarkan bahwa orang-orang inilah yang menyalibkan Yesus. Padahal Yesus mati bukan karena orang Yahudi yang menyalibkan melainkan karena dosa-dosa kita. Gereja, Kekristenan terdiri dari berbagai suku dan bangsa dan tidak meng-excluded bangsa Yahudi tidak menjadi bagian daripada umat Allah.

Salah satu kekaguman kita adalah meskipun tahun 70 AD bangsa ini sudah hancur habis tetapi tahun 1948, berarti lebih dari 1800 tahun kemudian mereka bisa terbentuk menjadi satu negara Israel. Adakah bangsa kuno seperti itu bisa terbentuk kembali? Jangankan bangsa, kita bicara secara skala mikro, kita yang di perantauan, apakah bisa membangkitkan perasaan nasionalitas kepada anak cucu yang tidak pernah lahir dan kenal negara asal kakek moyangnya? Tidak gampang, bukan? Jikalau itu kita lihat sebagai pekerjaan Allah mengumpulkan mereka sehingga kita tahu ada satu suku, ada satu bangsa, satu negara yang namanya Israel terbentuk di tahun 1948, lalu ada satu kesempatan nanti dimana Injil disampaikan dan diberitakan kepada mereka. Tetapi itu satu hal yang membuat kita menyadari betapa Tuhan bekerja dengan cara yang luar biasa. Maka Paulus menutup bagian ini dengan satu pujian doxology, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasehatNya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:33-36). Inilah artinya doxology [doxa, kemuliaan] berarti segala hal yang terjadi dalam hidup kita semuanya itu adalah display Allah untuk mempertontonkan kemuliaanNya bagi kita. Paulus hanya menyatakan kekaguman, “Ya Allah, terlalu dalam dan terlalu besar Engkau, tidak bisa terselidiki dan terpahami!” Tidak semua hal kita bisa tahu, jangan membuat kita menjadi kecewa dan takut. Banyak hal kita tidak tahu, kita hanya bisa pasrah berserah sama Tuhan. Justru karena kita tahu Tuhan tidak perlu penasehat dan Tuhan tidak pernah berhutang kepada siapa pun, maka di situ kita mengucap syukur berarti kita punya Tuhan yang berdaulat. Dia kerjakan di dalam kebaikanNya, Dia kerjakan di dalam kebesaranNya.

Bersyukur untuk firman Tuhan yang kita dengar hari ini, yang membuat kita sujud dan takluk kepada Tuhan. Karena melalui firmanNya kita bisa menyaksikan pekerjaan Tuhan di dalam sejarah sampai hari ini, kita hanya bisa berkata betapa besar dan dahsyat tangan Tuhan itu. Segala yang Tuhan janjikan dan katakan Tuhan tidak pernah anulir karena semua itu akan terjadi dan terlaksana. Kita hanya bisa tersungkur di hadapan Allah dan mengaku memang Ia adalah Allah yang sejati, tidak ada allah dan tuhan yang seperti Dia. Hanya Dia Allah yang pernah ada dahulu, sekarang dan selama-lamanya, yang menguasai dari awal sampai akhirnya. Itulah sebabnya kita mengucap syukur kita boleh mengenal Allah seperti itu adanya.(kz)