Missional Discipleship

Pengkhotbah: Ev. Johan Setiawan MCM
Tema: Missional Discipleship
Nats: Matius 28:18-20

Sebelum Tuhan kita Yesus Kristus kembali ke surga, Dia memberikan beberapa pesan kepada murid-muridNya untuk dilakukan selama Dia pergi sampai nanti Dia kembali lagi untuk kedua kalinya, “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah segala bangsa muridKu, dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman” (Matius 28:18-20). Pesan ini dikenal sebagai Amanat Agung. Pesan ini diberikan kepada murid-muridNya dan diberikan kepada kita sekarang ini sebagai gerejaNya. Kita perlu sangat serius dengan pesan ini.

Dalam terjemahan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris Amanat Agung ini terdiri dari beberapa kalimat dan ada beberapa kata kerja di sana: pergilah, baptislah, ajarlah, jadikanlah murid, dst. Sepertinya ada begitu banyak dan begitu kompleks. Tetapi sebetulnya dalam versi bahasa aslinya, bahasa Yunani, itu sebetulnya hanya satu kalimat saja dengan pesan utama: Jadikanlah semua bangsa muridKu. Kemudian kata-kata kerja yang lain [pergilah, baptislah dan ajarlah] adalah participle yang menerangkan bagaimana kalimat induk ini dikerjakan. Kenapa kita going into details seperti itu, karena supaya kita jelas apa yang kita kerjakan, jangan sampai kita salah tangkap. Kalimat induknya adalah: Poreuthentes oun matheteusate panta ta ethne, yaitu jadikanlah semua bangsa muridKu. Amanat Agung sesungguhnya adalah satu amanat untuk menjadikan semua bangsa itu murid Kristus. Yang lainnya apa? Yang lainnya adalah keterangan tentang bagaimana kita mengerjakannya. Jadi supaya kita lebih mudah memahami, kira-kira breakdown-nya seperti ini: Amanat atau sasaran pelayanan kita sebagai gereja Tuhan adalah untuk menjadikan semua bangsa [Sasaran Kuantitas] Murid Kristus [Sasaran Kualitas]. Jadi ada sasaran kuantitas dan ada sasaran kualitas. Kemudian caranya bagaimana kita bisa menjangkau dan menjadikan semua bangsa punya kualitas sebagai murid Kristus? Dengan melihat participle-nya: ada tiga proses [Strategi]:

Penginjilan -> Pembinaan -> Pengutusan. Tuhan Yesus berkata, “Baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudu.” Baptisan adalah sakramen yang adalah tanda lahiriah dari kenyataan rohaniah yang ada di dalam diri kita yang kita bisa lihat dimana orang tersebut mengaku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamatnya. Proses untuk menolong orang itu sampai ke situ disebut sebagai penginjilan. Maka caranya pertama-tama adalah kita memberitakan Injil, orang itu percaya lalu dibaptis. Tetapi Amanat Agung tidak berhenti sampai di situ. Lanjutannya adalah, “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu.” Setelah orang itu diInjili, orang itu kemudian dibina dengan mengajarkan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus. Setelah membina, kita memperlengkapi supaya dia siap diutus. Diutus itu bisa ke seberang lautan, bisa ke seberang jalan, atau bisa ke seberang cubicle kantor kita. Kalau mereka tanya, diutus untuk apa? Jawaban kita adalah: diutus untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus. Itu disebut sebagai discipleship movement, kegerakan pemuridan: murid menghasilkan murid menghasilkan murid. Dan itu yang perlu terus terjadi sampai kepada akhir jaman.

Namun sadar tidak sadar, rupanya banyak gereja Tuhan sedang mengabaikan Amanat Agung ini. Beberapa penulis, seperti Dallas Willard, Michael Horton, dan Robertson McQuilkin menulis buku yang kebetulan dengan judul yang sama “The Great Omission,” bukan “The Great Comission,” karena huruf “c-“nya hilang, bukan Amanat Agung tetapi menjadi sesuatu Pengabaian Agung.

Pertama-tama kita akan belajar sasaran kualitasnya lebih dahulu yaitu menjadikan murid Kristus. Apa sebetulnya yang dimaksud Tuhan Yesus dengan sebutan murid ini? Kata ini diambil dari bahasa Yunani “mathetes” yang artinya adalah seorang yang mengikuti cara hidup dan teladan gurunya. Jadi berbeda dengan student atau pelajar yang hanya menekankan kepada pengetahuan, tetapi sasaran kualitasnya adalah mengikuti apa yang diajarkan dan mengikuti cara hidup Gurunya yaitu Yesus Kristus. Menjadi murid Kristus berarti Christ-likeness, menjadi semakin serupa dengan gurunya.

Namun berbeda dalam pemuridan para rabi yang lain, Yesus memberikan satu tuntutan yang luar biasa bagi seorang yang mau menjadi muridNya. Dalam beberapa bagian Injil dengan tegas Tuhan Yesus mengatakan “Jika seorang datang kepadaKu dan dia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, dia tidak layak menjadi muridKu.” “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, dia tidak dapat menjadi muridKu.” Tidak ada rabi lain yang mengatakan demikian. Jadi ketika Tuhan Yesus bicara tentang murid, itu bukan sekedar orang yang mau belajar tetapi orang yang mempunyai komitmen. Jadi ketika Yesus mengatakan jadikanlah muridKu, murid yang seperti apa? Rev. Kyle Ederman dalam bukunya “Not a Fan” mengatakan Tuhan Yesus tidak pernah terlalu tertarik kepada “fans” yaitu orang-orang yang ingin cukup dekat dengan Tuhan Yesus sehingga bisa menikmati keuntungan dariNya, tetapi tidak terlalu dekat sehingga tidak harus memberikan pengorbanan. Tuhan Yesus tidak terlalu senang dengan orang-orang yang seperti ini. Dia mencari orang-orang yang mau mengikut Dia dengan komitmen penuh. Completely committed followers of Jesus Christ. “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya dia akan menjadi sama seperti gurunya” (Lukas 6:40). Tujuan Tuhan Yesus adalah supaya orang-orang ini makin lama makin serupa dengan Dia di dalam cara hidupnya, pola pikirnya, dan di dalam misinya.

Seorang Bapa Gereja Awal pernah berkata, jika Tuhan Yesus hanya menghasilkan followers yang tidak committed, maka Kekristenan tidak mungkin bisa melewati abad pertama. Orang Kristen akan habis sebelum abad pertama berakhir. Kenapa? Karena di sana mereka berhadapan dengan kaisar Nero, berhadapan dengan kaisar Domitian, yang bukan saja kejam tetapi dengan sistematis melakukan penganiayaan yang luar biasa terhadap gereja Tuhan. Orang-orang Kristen ditangkap, dipenjara dan dijadikan mangsa singa-singa yang lapar, orang-orang Kristen dibakar untuk menjadi lampu-lampu penerang jalan, dsb. Dalam kondisi yang seperti itu tidak mungkin kalau Yesus hanya punya fans dan itu akan bisa melewati abad pertama. Tetapi sejarah memperlihatkan sampai hari ini Kekristenan tetap ada dan menyebar ke semua bangsa karena Tuhan Yesus punya completely committed followers. Tidak banyak pada mulanya, tetapi mereka committed, dan mereka memuridkan, memuridkan, memuridkan dan terus memuridkan.

Seorang hamba Tuhan bernama Bill Hull mengatakan krisis pemuridan adalah krisis produk. Apa artinya? Banyak gereja mengalami krisis produk, artinya tidak lagi commit kepada produk dari semua proses yang terjadi di dalam gereja yaitu menghasilkan murid Kristus. Seluruh proses yang ada, seluruh kegiatan, seluruh pemodalan, semua tenaga kerja, diadakan untuk tujuan itu. Dan Bill Hull berkata kita tidak lagi committed kepada produk dan kita melakukan kurang dari produk yang harusnya dihasilkan. Tipikal gereja pada umumnya di banyak tempat tujuannya sudah dikorting. Tujuan pertama gereja bisa memiliki orang-orang yang hadir secara rutin di dalam kebaktian secara teratur. Untuk hadir secara teratur saja susah, maka kalau ada orang yang hadir dengan teratur tidak perlu ditarik-tarik, tidak perlu didorong-dorong, tidak perlu dikasih voucher dan makan siang gratis, pokoknya dia hadir saja kita sudah happy sekali. Kita check attendance dan kalau tidak hadir kita besuk supaya dia hadir lagi. Kalau dia sudah “free maintenance” datang terus secara teratur, itu menjadi sasaran kita. Dan tujuan kedua, ditambahkan lagi, orang yang hadir secara teratur ini memberikan persembahan kepada gereja secara sukarela, tidak perlu diiming-imingi dengan teologi sukses kalau kamu memberi maka Tuhan akan memberi dengan berlipat ganda, tetapi dia memberikan dengan sukarela. Gereja membutuhkan dana untuk merawat gedung, untuk melakukan kegiatan-kegiatan, dan kita berharap jemaat bisa mengambil bagian, karena ini adalah “home church” rumah kita, kita perlu mengambil bagian dalam segala keperluannya. Tujuan yang ketiga, jemaat bukan hanya datang, jemaat bukan hanya memberi persembahan, tetapi dia juga mendukung program-program yang dilakukan oleh pemimpin gereja. Kalau kita punya jemaat yang seperti itu, senang tidak? Datang dengan rutin, memberi persembahan dengan sukarela, dan mendukung kegiatan-kegiatan gereja, ada small group ikut, ada outreach ikut, dsb. Apa lagi yang kita butuhkan kira-kira? Kalau mau ditambahkan, mungkin yang satu ini, menaati hukum ke 11, “Jangan berbuat ulah!” Saya percaya tidak ada gereja yang mencanangkan tujuan gereja seperti itu, tetapi sayangnya that is the way we operate, sehingga yang terjadi adalah beberapa pengamatan ini.

Ronald J. Sider menulis buku “The Scandal of the Evangelical Conscience,” berdasarkan beberapa data survey tentang religiusitas di Amerika di antara orang-orang yang unchurch dengan church people, bahkan di antara orang-orang yang datang ke gereja dia juga pilah lagi orang Kristen yang lahir baru dan yang tidak. Ron Sider menampilkan data-data yang sangat mengejutkan dari survey itu antara orang Kristen yang lahir baru dengan the rest of the other group, dia mendapati dalam beberapa parameter ini yaitu KDRT, tingkat perceraian, immoralitas seksual, rasisme, pemusatan pada diri, materialisme, tidak memiliki Biblical worldview, hampir tidak ada bedanya. Mereka berpikir seperti dunia berpikir, tidak ada perubahan pola pikir dan gaya hidup di situ. Sehingga subtitle buku ini adalah: Why are Christians living just like the rest of the world? We are not making disciples. We are making fans. Konsumen yang setia, tetapi bukan murid-murid Kristus.

Bagaimana kalau kita serius dalam menghasilkan murid Kristus? Maka sasarannya akan berubah daripada sekedar tadi di atas. Kita rindu untuk membawa orang-orang yang datang ini mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, memahami apa yang dikerjakan Kristus di atas kayu salib dan mereka on fire ingin supaya orang lain juga mengenal Kristus. Dia orang yang mengenal Kristus dan dia juga rindu membuat orang lain mengenal Kristus. Knowing Christ and make Christ known. Bukan itu saja, tetapi setelah dia mengenal Kristus, dia rindu bertumbuh dewasa bukan hanya menjadi bayi-bayi atau menjadi anak Tuhan yang biasa-biasa saja, tetapi dia punya kerinduan untuk bertumbuh, bertumbuh dalam pengajaran dan menginginkan supaya hidupnya bisa menyelaraskan seluruh isi hati Tuhan yang tertulis di Alkitab ini, melakukan apa yang Tuhan mau, melakukan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan kepada kita. Kita belajar bertumbuh dalam pengajaran, dan bukan hanya itu, kita juga bertumbuh dalam spiritualitas kita, relasi kita dengan Allah, kita menikmati hadirat Tuhan, menikmati persekutuan pribadi dengan Tuhan, bertumbuh semakin dalam dan semakin intim dengan Tuhan sehingga Tuhan leluasa mengarahkan hati kita kemana Dia mau. Menikmati keindahan persekutuan, bukan saja dari kata orang tetapi menjadi pengalaman pribadi kita. Dan kita juga bertumbuh dalam karakter kita semakin serupa dengan karakter Kristus, menjadi karakter yang penuh dengan kasih, sukacita dan buah-buah Roh. Tetapi bukan berhenti sampai di situ, dia rindu juga supaya bisa menolong orang lain untuk bertumbuh. Saya sudah menikmati hadirat Tuhan dalam waktu teduh, bagaimana saya bisa menolong orang lain yang belum? Saya sudah mengenal betapa dalamnya kekayaan hikmat Tuhan dalam firman Tuhan, saya ingin supaya orang lain juga mengenal siapa Tuhan. Kalau orang lain tidak mengenal Tuhan, bagaimana mereka bisa menyembah Tuhan? Bagaimana mereka bisa mempercayai Tuhan yang tidak mereka kenal? Bagaimana mereka bisa mencintai Tuhan yang tidak mereka kenal? Ada kerinduan-kerinduan besar di dalam hatinya untuk menolong orang lain bertumbuh selain dia sendiri bertumbuh. Orang ini juga semakin bertanya kepada Tuhan dimanakah dia perlu berada, apakah hal yang harus dia lakukan di tempat ini, supaya Allah paling dikenal, dipuji dan dimuliakan? Hasrat terbesarnya adalah supaya Tuhan terus dimuliakan. Dan dia terus bertanya kepada Tuhan, pilihan apakah yang harus dia ambil supaya Tuhan paling dimuliakan melalui pilihan itu melalui hidupnya. Mungkin dia tetap tinggal di sini, mungkin dia harus pergi ke tempat lain, mungkin dia tetap melakukan pekerjaan yang sama dengan cara dan motivasi yang baru, dsb. Tetapi kerinduannya adalah bagaimana Tuhan semakin dimuliakan dan untuk itu dia mau mengenali panggilan pelayanan khasnya di gereja dan di dunia, dimana tempat panggilannya supaya hidupnya yang terbatas, waktu yang terbatas, di dalam segala kesempatan dan tantangannya dan melakukannya di dalam kebersamaan yang saling melengkapi. Bayangkan kalau kita punya jemaat yang demikian, orang-orang yang really know the hope that they have dan orang-orang yang siap melakukan pertanggung-jawaban tentang pengharapan yang mereka miliki. Tetapi juga orang-orang yang bertumbuh dalam pengajaran, spiritualitas dan karakter, dan juga rindu supaya orang lain mengalami hal yang dia alami, ditolong untuk terus bertumbuh. Dan dia orang yang bertanya kepada Tuhan dimanakah tempat dan panggilan dia supaya Tuhan paling dimuliakan dan mengerjakannya di dalam pelayanan bersama yang saling melengkapi. Kata kuncinya adalah intentionality. Apakah kita intentionally menuju ke sana dan apakah kita providing the whole process supaya itu semakin terjadi dan semakin terlihat dan apakah ada hal-hal yang perlu kita ubah, yang perlu kita streamline-kan atau simplify-kan atau kita perlu advance-kan, demi produk ini terjadi.

Bagian kedua, sasaran kuantitas. Dimana kita menghasilkan murid-murid yang demikian di antara semua bangsa? Tuhan Yesus katakan segala bangsa, ini adalah gema dari apa yang Allah nyatakan sebagai covenant kepada Abraham, engkau diberkati supaya olehmu semua kaum di muka bumi diberkati. Itu adalah panggilan anak cucu Abraham, panggilan sdr dan saya saat ini. Kita diberkati supaya kita terlibat dengan sesuatu yang Tuhan mau selesaikan sepanjang sejarah yaitu memberkati segala bangsa. Tuhan ingin kehadiran kita bukan menjadi penikmat-penikmat berkat, tetapi melaluinya kita menjadi saluran berkat kepada bangsa-bangsa lain. Kita diberkati oleh Tuhan supaya kita bisa melaksanakan pekerjaan itu, supaya Injil KerajaanNya sampai ke ujung bumi. Tuhan Yesus menegaskannya kembali di dalam Amanat Agung dan di akhir jaman nanti itu akan digenapi, dimana semua orang dari segala suku bangsa dan segala bahasa menyembah Tuhan dan kita adalah orang-orang yang melaluinya Tuhan melaksanakan rencanaNya.

Sayangnya ada begitu banyak program pemuridan yang melulu berputar-putar di antara orang Kristen. Sudah diberi makanan rohani, masih kepingin bertumbuh lagi, bertumbuh lagi, tetapi terus di dalam dirinya saja, tidak pernah keluar, tidak pernah diperlengkapi untuk reaching out. Dunia tetap tidak akan terjangkau jika demikian. Sasaran Amanat Agung adalah menjadikan segala bangsa murid Kristus. Kita perlu memikirkan satu pelayanan sehingga pemuridan ini menghasilkan murid-murid yang pergi ke semua bangsa atau terlibat di dalam penjangkauan semua bangsa. Pemuridan memberikan daya, misi memberikan arah. Kalau tidak ada pemuridan, tidak ada murid Kristus yang dihasilkan maka tidak ada daya. Tetapi kalau tidak ada misi, tidak ada arah, maka itu bisa berputar-putar di dalam empat sisi tembok gereja saja. Kita perlu daya, kita perlu arah. Keduanya diperlukan untuk keseimbangan dan pergerakan. Pada masa ini jumlah orang yang datang ke gereja banyak, jumlah gereja banyak, program-program gereja juga banyak. Tetapi pekerja sedikit.

Bagaimana proses menghasilkan semua bangsa menjadi murid Kristus yang bermisi? Ada satu proses yang kontinu yang perlu dilalui orang ketika orang ditolong untuk menerima Kristus, ditolong untuk bertumbuh dalam segala hal, diperlengkapi dan siap diutus. Proses itu seringkali disconnect, tidak terjadi atau terjadi secara partial sehingga orang tidak masuk ke dalam jalur yang seharusnya dia ikuti. Proses ini harus ada dan tidak terputus. Jika kita tidak menjangkau dan tidak menginjili orang, maka gereja akan menjadi sebuah private club, ada untuk kalangan sendiri, dari kita oleh kita untuk kita. Kita perlu penjangkauan dan penginjilan. Setelah mengumpulkan petobat-petobat baru, kita perlu melakukan pembinaan yang intentional. Tanpa pemuridan yang terarah dan terpadu dan strategis,  menjadikan bayi-bayi rohani bertumbuh menjadi orang dewasa rohani. Setelah mereka ditolong bertumbuh dewasa, mereka perlu diperlengkapi dan ditolong untuk menempati tempat dan panggilan mereka dalam kerajaan Allah. Tuhan memberikan resources yang cukup bagi tubuh Kristus, karunia-karunia, peran-peran yang berbagai macam. Tetapi kalau mereka tidak di-equip dan tidak di-challenge, mereka tetap menjadi konsumen setia tetapi tidak menempati panggilannya. Kalau kita mengenali tempat dan panggilan kita dan mengambil bagian itu maka pekerjaan pelayanan bisa dikerjakan dan itu terjadi ketika kita menjalankan siklus tadi. Kalau kita melakukan intentionally equip orang bukan hanya menjadi konsumen setia tetapi menjadi produsen, bahkan melakukan reproduksi, maka di situ ada pelipat-gandaan. Amanat Agung adalah sesuatu yang doable, sesuatu yang Tuhan rindukan itu terjadi dan dikerjakan melalui kita karena ada janji penyertaanNya.

Sasaran akhir pelayanan tidaklah berhenti pada pertobatan ataupun bahkan pertumbuhan, melainkan ketika pelayanan itu menghasilkan murid-murid Kristus yang pergi menjadi pekerja memenuhi tempat dan panggilannya di dalam dunia untuk membawa orang-orang memuliakan Tuhan. Orang-orang passionate for God’s glory dimana mereka berada dan ditempatkan, dan mereka tahu bagaimana menolong orang untuk bertumbuh sebagaimana mereka sudah ditolong. Murid menghasilkan murid, mempengaruhi gereja dan memperngaruhi dunia dimana dia berada.

Rick Warren berkata kesehatan suatu gereja diukur berdasarkan kapasitas pengutusannya [sending capacity], bukan kapasitas pengunjungnya [seating capacity]. Sending capacity, seberapa banyak murid Kristus yang dewasa dan siap bertanggung jawab atas kedewasaan rohani orang lain. Bukan berapa banyak orang yang duduk di situ [seating capacity]. Kita mungkin hanya kumpulan kecil, tetapi kalau kita serius dengan discipleship movement, maka pelipat-gandaan akan terjadi besar di belakang. Mari kita menjadi gereja yang dikenal sebagai gereja di tempat dimana orang-orang yang berproses di sini menjadi orang-orang yang bertumbuh luar biasa, menjadi orang-orang yang terbeban dan tahu bagaimana menolong orang lain bertumbuh dan kita menjadi gereja yang setia melaksanakan pesan Amanat Agung Kristus sampai Dia datang kembali.(kz)