Bagaimana Menaati Kehendak Allah

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (29)
Tema: Bagaimana Menaati Kehendak Allah
Nats: Roma 12:1-2

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:1-2).

Roma 12:1-2 adalah dua ayat yang sangat penting sekali di dalam bagian ketiga Roma 12-15 karena dua ayat ini yang menjadi fondasi dan inti yang penting atas semua perintah, nasehat dan panggilan daripada firman Allah bagaimana kita hidup dan bagaimana kita menyatakan spiritualitas kita, etika kita, kelakuan kita kepada dunia ini. Mari kita lihat dua ayat ini bicara dari awal [fondasi] dan bicara mengenai akhir [sempurna/telos]. Paulus berkata, “Karena itu demi kemurahan Allah,” inilah yang menjadi awal atau fondasi hidup kita, yang dimulai oleh kemurahan Allah, belas kasihan Allah. Fondasi hidup kita bukan kepada apa yang kita raih dan kita capai tetapi hidup kita ditopang oleh apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan sepenuhnya bagi kita. Kita tidak boleh lupa apa yang kita miliki sekarang ini adalah karena Kristus sudah membayar hutang kita terlebih dahulu. Lalu Paulus mengatakan, “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna,” yang dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Yunani adalah kata telos, bisa mempunyai arti perfect atau sempurna, tetapi juga bisa berarti goal atau tujuan akhirnya. Ayat ini luar biasa indah mencakup seluruh hidup Kristen kita dari awal sampai akhir, rooted in the mercy of God, dan kita menjalani hidup ini kepada tujuan, purpose, telos; apa yang mau kita capai di situ bukan keinginan kita, bukan target kita, bukan sasaran kita, tetapi apa yang menjadi tujuan kita adalah supaya kita boleh menjalankan kehendak Allah di dalam hidup kita.

Pada frasa terakhir ayat pertama Paulus mengatakan, “itu adalah ibadahmu yang sejati.” Bagaimana kita mengerti hal ini? Pertama, hidup kita adalah sebuah ibadah kepada Allah. Dimana kita berada, kemana kita pergi, pada waktu kita membawa tubuh kita ini ke dalam aspek ¬†apa pun, kita tahu itu adalah sebuah ibadah. Konsep yang Paulus berikan ini menggenapkan apa yang Tuhan Yesus pernah katakan, “Saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:21-23). Kita bukan saja datang ke gereja, baru kita bilang kita beribadah. Kita bukan pada waktu berdoa, bernyanyi, memberi uang persembahan, mendengar khotbah, baru kita bilang kita beribadah. Selebih daripada itu, setiap jam, menit dan detik yang kita jalani adalah suatu ibadah. Dengan demikian kita tidak akan memisahkan apa yang kita kerjakan sejak bangun pagi, waktu kita memberi makan kepada anak kita, waktu malam kita doa dan membaca Alkitab bersama dia sebelum tidur, waktu kita pergi bekerja, waktu kita mengerjakan segala sesuatu, semua adalah ibadah kepada Allah.

Kedua, terjemahan Indonesia mengatakan, “itulah ibadahmu yang sejati,” your true worship, kata yang dipakai Paulus dalam bahasa Yunani yaitu logiken latreia, ibadah yang berdasarkan pikiran. Dengan demikian iman kristen bukan iman yang berdasarkan tahyul atau mistik yang tidak masuk akal dan irrasional. Ibadah orang Kristen bukanlah ibadah yang sekedar ritual atau ibadah yang tidak memasukkan pikiran, perasaan, emosi, dan hati yang benar. Maka ibadah orang Kristen menghasilkan hidup yang teratur dan benar dan menjadi kesaksian hidup yang indah; ibadah yang merubah kelakuan hidup. Jadi intinya adalah Christian worship shapes your mind; ibadah yang orang bisa memahami; ibadah yang membuat orang bertumbuh secara etika dan secara moral di dalam kehidupan mereka.

Ketiga, secara praktis Paulus mengatakan ibadah itu kita jalankan dengan dua sikap. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12:2), bandingkan dengan 1 Korintus 10:32-33 “Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik bagi orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.”

Pada waktu Paulus mengatakan janganlah menjadi serupa dengan dunia ini [do not be shaped by this world] tetapi pada saat yang lain Paulus mengatakan aku berusaha menyenangkan semua orang [I try to please everyone in every way so that they may be saved], kita melihat dua kontras ini muncul, bukan? Ini penting sekali bagi kita untuk memahaminya, sebab kalau kita salah memahami maka kita bisa jatuh kepada sikap yang salah juga. Kita tidak mau sama seperti dunia ini, bisa jadi kita menjadi orang Kristen yang aneh dan antik dan tidak menjadi relevan kepada dunia ini.

Tuhan Yesus berdoa bagi murid-muridNya kepada Bapa di surga, “Aku telah memberikan firmanMu kepada mereka dan dunia membenci mereka karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia tetapi supaya Engkau melindungi mereka daripada yang jahat. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yohanes 17:14-18). Kita bukan dari dunia ini, tetapi kita masih tinggal dalam dunia ini. Di situlah [tension] ketegangan hidup sebagai orang Kristen.

Paulus mengatakan, aku berusaha sebisa mungkin hidup sesuai dengan sekitarku, tujuannya untuk apa? Untuk memenangkan mereka. Tetapi pada saat yang sama Paulus bilang, janganlah kamu hidup serupa dengan dunia ini. Bagaimana dua hal ini kita aplikasikan sebagai prinsip hidup kita?

Ada seorang bernama Andrew Walls menulis buku “The Missionary Movement in the Christian History,” dia melihat bagaimana gaya [movement] misionari di sepanjang sejarah gereja, dan dia mengatakan dua gaya ini harus disatukan, harus seimbang, kalau tidak kita akan menjadi keliru dan salah. Prinsip yang pertama namanya Indigenous Principal, yaitu dimana Injil masuk dan Injil itu tidak boleh asing dengan sekitarnya. Contoh sederhana, misalnya pada waktu Hudson Taylor masuk ke daratan Cina dia mengganti baju western dan memakai jubah tradisional Cina [changshan] dan rambut berkepang panjang, dan embraced kultur Cina. Jadi indigenous principal adalah prinsip dimana kita hidup tidak asing dan betul-betul at home dengan kultur dimana kita ada. Dengan demikian di situ Injil tidak dianggap sebagai barang asing dan tidak bisa diterima oleh sekitar kita. Prinsip kedua namanya Pilgrim Principal. Apa itu Pilgrim Principal? John Calvin memberikan definisi yang sangat baik sekali. Dia katakan semua yang ada di dalam hidup kita harus dipandang sebagai instrumen pelengkap untuk yang mempermudah perjalanan kita hidup dalam dunia ini. Apa saja yang ada di dalam hidupmu yang menjadi milikmu sekarang, lihat itu semua sebagai pelengkap yang menyertai hidupmu di dunia ini supaya mempermudah perjalanan hidupmu. Semua yang ada di dalam hidupmu tidak boleh menjadi tujuan akhir hidupmu. Ini dua prinsip yang penting kita pegang dalam hidup kita sebagai duta-duta Injil Kristus dan sebagai misionari bagi sekitar kita. Pertama, kita dipanggil oleh Tuhan menjadi berkat di dalam masyarakat dimana kita hidup dan berada yaitu bagaimana kita membawa Injil relevan bagi hidup kita sekarang. Tetapi pada saat yang sama kita tidak boleh menganggap dunia inilah rumah kita dan kita akan tinggal selama-lamanya di sini. Kita harus mempunyai prinsip pilgrim mentality. Perlukah kita punya uang? Perlu. Tetapi mencari uang sebanyak-banyaknya bukan menjadi tujuan hidup kita. Uang harus dan hanya menjadi instrumen pelengkap yang menyertai hidup kita. Demikian juga rumah, karir, profesi, bakat, talenta, semua itu adalah instrumen pelengkap. Itulah artinya pilgrim mentality. Kita hidup dengan mentalitas sebagai musafir atau orang perantau di dunia ini.

Maka inilah yang harus kita simak ketika Paulus mengatakan, do not be shaped by this world, karena kita tidak seterusnya dan selama-lamanya tinggal di dunia ini. Dunia ini bukan menjadi fokus hidup kita. Cara dunia berpikir, sifat dunia yang egosentris, dan greediness dunia ini, itu semua tidak boleh menjadi hal-hal yang shape your mind. Kita tidak boleh ukur kesuksesan kita dengan ukuran dunia ini. Dan ayat ini sekaligus ingatkan kita harus berpartisipasi dalam hal apa saja di dunia ini, kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang memiliki sikap separasi, eksklusif, terasing menyendiri dan mempunyai hidup rohani yang tidak relevan.

Bagaimana kita hidup dalam dunia ini?

Pertama, senantiasa sadar hidupku ada oleh karena belas kasihan Tuhan. Oleh karena keselamatan di dalam Yesus Kristus, aku telah dibayar lunas. Maka konsekuensi logisnya, hidupku ini bukan milikku lagi. Ini adalah ibadah bagi Tuhan. Jadi segala apa yang kita kerjakan senantiasa memuliakan Allah, that’s worship.

Kedua, Paulus bilang, kita tidak hidup untuk diri kita sendiri, bagaimana influence-mu di dalam dunia ini? Maka harus ada keseimbangan itu. Engkau tidak akan pernah menjadi orang Kristen yang mempengaruhi dunia ini kalau dunia ini melihat cara hidupmu tidak ada bedanya dengan mereka. Prinsip nilaimu, lifestyle hidupmu, dipatok dengan dua hal ini: aku tidak boleh hidup sama dengan dunia ini tetapi aku dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi aktif dalam dunia ini. Aku bukan orang aneh dalam dunia ini, tetapi aku harus menjadi saksi kepada dunia ini, berani menghadapi prinsip yang tidak benar.

Sebagai orang Kristen kita menghadapi situasi yang sangat sulit dimana kita tidak bisa lagi dengan bebas memberikan nasehat kepada orang karena tidak ada perangkat hukum yang melindungi. Sebagai institusi sekolah, gereja dan pelayanan kepada masyarakat, kita menghadapi tantangan yang tidak mudah dan kita bisa tidak habis-habisnya menghadapi tuntutan dari orang terhadap iman kita. Siapkah kita menjadi orang Kristen yang akan kehilangan banyak hal karena kita mempertahankan iman kita? Siapkah kita? Itu tantangan kita hidup sebagai orang Kristen. Kita hidup untuk memuliakan Tuhan walaupun kita mungkin habis-habisan. Kita tahu kita hidup di dalam dunia yang sudah broken. Pada waktu hal-hal seperti itu terjadi di dalam hidup kita, kita hanya bisa mencintai mengasihi dan embraced itu dalam hidup kita. Itu artinya kita akan berusaha sebaik mungkin, sebisa mungkin supaya orang itu bisa dimenangkan bagi Kristus. Engkau akan menghadapi pelayanan seperti itu, pelayanan kepada orang-orang yang mengalami brokenness dalam seksualitas, dsb. Kita harus mencintai, mengasihi dan kita embraced mereka. Tetapi pada saat yang sama senantiasa ingatkan kepada orang-orang itu tentang iman dan pengharapan kita di dalam Kristus. Kita harus menolak dosa orang, tetapi kita harus memeluk dan merangkul orang yang berdosa, supaya dia bisa mendapatkan keselamatan dan pembenaran di dalam Yesus Kristus.

Ketiga, Paulus berkata, “sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Bahasa Indonesia memakai kata “membedakan,” yang dalam bahasa Yunani adalah dokimazo. Kata dokimazo lebih daripada sekedar membedakan, karena kalau kita bilang kita membedakan berarti seolah-olah kita berada dalam posisi belum tahu apakah itu kehendak Allah atau tidak. Tetapi kata dokimazo lebih mempunyai pengertian mengacu kepada pengertian put into practice, meyakini, menaati. Itu sebab tema khotbah saya bukan “Bagaimana Mencari Kehendak Allah,” atau “Bagaimana Menemukan Kehendak Allah,” tetapi “Bagaimana Menaati Kehendak Allah.” Lihat bedanya? Orang suka mencari-cari kehendak Allah, lalu kalau sudah mencari kemudian bagaimana? Kalau tidak mau dijalani, tidak ada gunanya, bukan? Maka yang lebih benar adalah bagaimana menaati kehendak Allah. Jadi panggilan Paulus untuk kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubah dalam pembaharuan budi sehingga kita bisa mempraktikkan kehendak Allah yang benar, melakukan hal yang memperkenan [pleasing] Allah menjadi tujuan hidup kita.

Secara singkat saya memberikan pengertian mengenai apa itu kehendak Allah di dalam Alkitab kita, ada dibagi dalam dua bagian besar.

Yang pertama adalah kehendak Allah yang berdaulat [the Sovereign Will of God] yaitu bicara mengenai apa yang sudah Allah di dalam kedaulatanNya [decree] atur sejak kekekalan yang pasti tidak akan gagal. Misalnya “Yesus mati di kayu salib adalah kehendak Allah” (Kisah Rasul 2:23), atau “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak bapamu” (Matius 10:29).

Lalu yang kedua adalah kehendak Allah yang bersifat command yaitu sesuatu kehendak Allah yang bersifat moral [the Moral Will of God], sesuatu kehendak Allah yang Ia sampaikan kepada kita supaya kita menjalani dan melakukannya. Kita bisa melihat misalnya 1 Tesalonika 4:3 “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan.” Dan 1 Tesalonika 5:18 “Mengucap syukurlah dalam segala hal sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Pada waktu Paulus memanggil kita untuk menjalani [putting into practice] kehendak Allah di dalam hidup kita, jangan berpikir bagaimana mencari tahu apa kehendak Allah bagimu lima tahun sepuluh tahun yang akan datang; bagaimana dengan rencana hidup kita; bagaimana dengan major decision yang harus kita ambil; bagaimana rencana bagi company; bagaimana meniti masa depan, dsb. Apakah kita harus tahu kehendak Allah dan apa yang akan terjadi lima tahun ke depan dari hidup kita? Jawabannya, kita tidak perlu tahu. Dan yang kedua, kita juga tidak punya sarana untuk mengetahuinya. Kita perlu mimpikah? Kita perlu Tuhan kasih penampakankah? Banyak hal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Apakah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, lalu membuat kita lumpuh dan tidak melangkah dalam hidup ini? Biasanya kalau kita mau mencari kehendak Allah untuk merencanakan hal-hal ke depan, akhirnya kita baru mengatakan ini kehendak Allah kalau semuanya berjalan lancar. Lancar tidaknya perjalanan kita tidak boleh menjadi patokan ini kehendak Allah atau bukan, karena tidak semua yang jalannya lancar adalah kehendak Allah dan tidak semua yang tidak lancar adalah bukan kehendak Allah. Lalu orang juga sering mengambil kesimpulan itu adalah kehendak Allah kalau pintu terbuka. Maka kalau selanjutnya sudah berjalan tiba-tiba terhambat, bagaimana? Kita kemudian buru-buru ambil kesimpulan Tuhan tidak menghendaki kita ambil jalan ini. Kita tidak boleh pakai dua prinsip ini, karena pada akhirnya kita tidak menjadi orang Kristen yang bertekun [persevere] kalau setiap kali ada kesulitan, ada hambatan, ada tantangan, sdr langsung tinggalkan dan belok ke tempat lain. Pertanyaan kita bukan apa kehendak Tuhan untuk masa depanku, karena kita tidak bisa tahu jalan kita di depan. Yang ada ialah pada waktu kita menengok ke belakang, barulah kita melihat dengan indah Tuhan menenun hidup kita.

Jadi, apa yang Paulus maksudkan pada waktu mengatakan put into practice God’s will itu? Ia tidak bicara mengenai perencanaan, apa yang perlu di depan, bagaimana hidupmu ke depan. Paulus tidak bicara itu. Paulus memanggil kita untuk put into practice what is God’s will command kepadamu. Itu semua kita dapatkan di dalam Alkitab kita. Maka taati dan jalani firman Allah di situ. Dan dia memberikan janji ini: kalau engkau taat, hidupmu akan berjalan menuju kepada goal yang benar; kalau engkau taat, pasti hidupmu pleasing God; kalau engkau taat, Tuhan pasti akan menenun hidupmu indah dan baik di hadapanNya. Firman Tuhan mengatakan kehendak Allah adalah your purity (1 Tesalonika 4:3). Maka berjalanlah, taatlah kepada Tuhan di dalam hidup kesucianmu. Ini yang Tuhan kehendaki dalam hidupmu. Setiap hari bangun pagi senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan, itu adalah hal-hal praktis yang Tuhan sudah berikan kepadamu di dalam firmanNya. Maka dorongan saya, biar hidup kita penuh limpah, terendam dan tenggelam dengan firman Tuhan. Di dalam situasi apa pun, pada waktu Paulus di penjara dia berpesan kepada Timotius untuk membawa gulungan-gulungan kitab suci [perkamennya] karena dia membutuhkan untuk membaca firman Allah menata hati dan pikirannya di-soaked dengan indah oleh firman Allah (2 Timotius 4:13). Paulus tidak tahu apakah bisa lepas dari penjara atau tidak; mati sengsara atau tidak; itu tidak perlu kita tahu dan bukan di situ yang menjadi tujuan kita memahami kehendak Allah.

Saya rindu firman Tuhan terus-menerus memenuhi hati dan pikiran kita sehingga terjadilah transformasi yang Paulus katakan dalam Roma 12:1-2 ini. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Bersyukur kepada Tuhan untuk firmanNya yang sekali lagi memanggil kita untuk hidup berjalan di dalam ketaatan kepada kehendakNya. Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati kita semua karena kita ingin mengikut Tuhan lebih sungguh dan biar Tuhan tuntun dan pimpin setiap kita untuk menyatakan kasih dan kebenaran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari hidup memperkenankan Tuhan. Kiranya kita dengan sadar dan baik-baik menjalani hidup ini sebagai seorang Kristen musafir yang tidak perlu genggam, tidak perlu anggap segala sesuatu materi sebagai hal yang harus kita genggam dan kejar terus karena tidak akan selama-lamanya dan tidak akan pernah mungkin apa yang ada di tangan kita menjadi sesuatu yang permanen bagi kita. Kiranya Tuhan menolong setiap kita, sehingga hati kita lega, bersyukur kepada Tuhan bahwa kita menjadi penyalur berkatNya.(kz)