Injil dan Kegagalan Spiritual yang Palsu

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (26)
Tema: Injil dan Kegagalan Spiritualitas yang Palsu
Nats: Roma 9:30 – 10:15

Roma 9-11 merupakan satu seri khusus bicara mengenai siapakah umat Israel yang sejati itu, siapakah umat Allah itu. Kalau kita lihat dalam Perjanjian Lama, umat Allah itu berkaitan dengan satu etnis, satu suku secara darah dan daging yang namanya orang Israel. Tetapi pada waktu kita melihat dalam Perjanjian Baru berbagai suku bangsa sekarang percaya kepada Tuhan Yesus, maka muncul pertanyaan: bagaimana kaitan Injil Yesus Kristus dengan orang Israel yang menjadi umat Allah di dalam Perjanjian Lama ini? Apakah Tuhan sudah melupakan dan mengabaikan orang-orang Yahudi dan sekarang umat Allah adalah mereka yang bukan Yahudi? Siapakah Israel yang sejati itu?

Roma 9-11 ini akan sangat indah kalau kita baca dengan mencari bagian dimana Paulus memulai setiap tema baru dengan pertanyaan-pertanyaan retorika sehingga kita bisa mengikuti jalan pikiran yang Paulus uraikan di sini. Hal yang pertama adalah pertanyaan: apakah betul Tuhan Allah sudah meninggalkan umat Israel? Apakah rencana Allah yang sudah dicanangkan sejak awal Perjanjian Lama itu gagal, karena faktanya banyak orang Yahudi yang tidak mau terima dan percaya Tuhan Yesus Kristus. Maka Paulus memberikan jawaban: Rencana Allah tidak gagal, karena tidak semua orang Israel secara fisik adalah orang Israel. Kalau engkau lihat orang-orang Yahudi itu tidak mau percaya Tuhan Yesus, bukan karena etnisnya. Percaya Tuhan itu berkaitan dengan janji; percaya Tuhan itu berkaitan dengan belas kasihan Allah. Jadi bukan berdasarkan etnisitas, bukan berdasarkan kemauan orang itu, tetapi berdasarkan Allah yang memilih, Allah yang memanggil. Di sini Paulus memberikan bukti itu dengan contoh Esau dan Yakub yang masih berada dalam kandungan ibunya (Roma 9:11-13). Allah memilih Yakub bukan karena dia berbuat baik atau akan berbuat baik tetapi Allah memilih dia berdasarkan karena Allah yang mau. Itulah kedaulatan Allah, berkat Allah. Jadi keselamatan itu tidak ditentukan oleh orang, bukan karena ada syarat di dalam diri kita sehingga Allah menyelamatkan kita. Kalau berdasarkan apa yang kita kerjakan dan lakukan, maka keadilan Allah nyata bagi kita yaitu kita semua layak menerima penghukuman dan kematian atas dosa-dosa dan kejahatan kita. Tetapi keselamatan itu tiba kepada kita bukan karena soal keadilan; keadilan itu sudah diselesaikan oleh Yesus di atas kayu salib, tetapi keselamatan kepada kita yaitu adalah belas kasihan Allah. Lalu kemudian Paulus membahas satu perdebatan teologis di dalamnya yaitu soal: kalau berdasarkan Allah yang pilih, berarti bukan salah orang kalau orang itu tidak percaya Tuhan. Kalau berdasarkan Allah yang pilih, berarti Allah tidak adil karena Allah hanya memilih sebagian orang saja? Maka Paulus menjawab perdebatan ini soal keselamatan berdasarkan pilihan Allah itu bukan soal keadilan, tetapi soal belas kasihan Allah (Roma 9:18). Berarti kalau begitu bicara soal kegagalan bangsa Israel itu apakah karena Allah tidak pilih-kah, atau kalau karena belas kasihan Allah berarti tidak ada kaitannya dengan manusia? Maka kita masuk kepada satu misteri lain yang luar biasa yaitu keselamatan kita terjadi sebab Allah yang memilih kita. Tetapi pada waktu orang-orang itu yang menolak dan tidak percaya Tuhan itu berdiri di hadapan Allah, tidak ada satu orang pun yang bisa mempersalahkan Allah karena Allah tidak pilih dia tetapi mereka hanya bisa berkata aku layak dihukum karena kesalahan dan dosa-dosaku sendiri. Jadi ada aspek human responsibility.

Kita sekarang masuk kepada pertanyaan retorika selanjutnya yaitu Roma 9:30 – 10:4. Ayat-ayat ini mendatangkan beberapa reaksi emosional yang luar biasa.

Hal yang pertama, Paulus mengatakan kalau engkau tanya hati saya sungguh-sungguh, inilah doaku, aku mau orang-orang Yahudi itu diselamatkan. Kita tidak tahu kapan anugerah keselamatan dari Allah tiba kepada seseorang. Tetapi tugas dan tanggung jawab kita sebagai anak-anak Tuhan yang telah lebih dahulu menerima anugerah itu bagi keluarga kita dan bagi orang-orang lain yang kita cintai dan kasihi, bagi orang-orang yang kita kenal, kita bawa mereka di dalam doa kita. Bahkan Paulus lebih besar dan lebih luas lagi berdoa bagi sukunya, bagi bangsanya. Saya percaya orang-orang yang memiliki hati seperti itu mendoakan orang lain demi keselamatannya, Tuhan akan mendengarkan doa-doa orang seperti itu. Desire itu, keinginan itu, cinta itu, harus menjadi sesuatu yang tidak boleh lepas dalam hidup doa kita masing-masing. Paulus mengajarkan kepada kita itulah pokok doa yang perlu dan harus ada di dalam hidup kita.

Hal yang kedua, yang justru mendatangkan bulu kuduk saya merinding, jikalau kita bicara mengenai orang yang menolak Injil Kristus dan hidup di dalam kubangan keberdosaan, mereka menghina Tuhan dan dengan bebas mengekspresikan keberdosaan mereka, mungkin bagi kita itu sesuatu yang lumrah dan sepantasnya mereka menerima penghukuman kekal itu. Tetapi orang-orang yang Paulus sebutkan di sini tidak demikian. Mereka begitu bersungguh-sungguh, mereka begitu bersemangat, mereka begitu tekun dan begitu rajin beribadah. Tetapi sayangnya dengan pengetahuan yang salah. Berbahaya sekali jikalau fanatisme dengan motif dan cara yang keliru. Tidak pandang bulu kepada agama apapun, pada waktu fanatisme terjadi di dalam satu agama di dalam konsep dan pengertian yang salah, bisa mendatangkan kerusakan dan kesalahan yang fatal luar biasa. Fanatisme itulah yang menyebabkan mereka membunuh Yesus. Maka di sini kita bisa melihat mereka bukan orang yang hidup dalam amoralitas tetapi mereka orang-orang yang rajin berbakti. Sehingga di sini kita melihat terjadinya kegagalan respon ibadah orang Israel kenapa mereka tidak menerima dan mendapatkan keselamatan dari Tuhan.

Yang kedua muncul, lalu kenapa keselamatan itu tidak terjadi kepada mereka? Kenapa kebenaran itu tidak terjadi kepada mereka? Karena kebenaran mereka gagal. Karena dengan kebenaran yang mereka bangun dalam ibadah mereka tidak sampai kepada kebenaran Allah, yaitu mereka tidak menerima Kristus sebagai kebenaran Allah. Yang mereka lakukan adalah mereka mendirikan kebenaran mereka atas dasar kebenaran diri sendiri yaitu melalui perbuatan-perbuatan yang mereka kerjakan dan lakukan. Supaya melalui itu mereka pikir mereka pasti akan bisa mendapatkan keselamatan dari Allah. Jawabannya tidak. Sehingga dimana letak problem mereka? Problemnya adalah mereka tidak melihat ayat 4 dari Roma 10 ini dimana firman Tuhan berkata, “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Orang Yahudi gagal sebab orang Yahudi tidak melihat Kristus sebagai kegenapan [the aim, purpose, intention, telos] dari hukum Taurat. Paulus berkata, Christ is the fulfilment of the Torah, Yesus Kristus adalah tujuan dari hukum Taurat Allah. Artinya, hukum Taurat dan semua hal yang Allah nyatakan mempunyai satu tujuan dan destinasi terakhir yaitu kepada Kristus. Tetapi yang mereka lakukan adalah mata mereka terus tertuju kepada hukum Taurat itu dan terus berkutat di situ, mereka tidak melihat kepada Kristus karena mereka mau membangun kebenaran melalui usaha, jasa dan perbuatan mereka.

Paulus menyatakan dua dimensi keselamatan. Pertama, keselamatan Allah sumbernya itu dari kemurahan hati Allah semata-mata, tidak karena usaha kita berbuat baik. Apa artinya kemurahan? Itu terjadi hanya karena Allah kasih dan berbelas kasihan. Kedua, keselamatan Allah dasarnya adalah penebusan Yesus Kristus di salib. Ini bukan sesuatu konsep yang baru, tetapi Allah sudah nyatakan itu sejak dari Perjanjian Lama. Maka baik itu orang Yahudi atau pun orang bukan Yahudi, pada waktu diselamatkan bukan karena perbuatan, tetapi karena mereka menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Kristus adalah penggenapan hukum Taurat, itulah yang tidak dilihat oleh orang Yahudi pada waktu mereka membaca Perjanjian Lama. Itulah sebabnya pada waktu Yesus sudah bangkit dari kubur dan menjumpai dua murid dalam perjalanan ke Emaus, Yesus menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi yang selama ini tidak bisa mereka lihat korelasinya (lihat Lukas 24:13-27).

Jadi apa arti dari kalimat kegenapan hukum Taurat? Yang pertama adalah Yesus itulah yang real, sedangkan semua yang ada dalam Perjanjian Lama adalah bayang-bayang belaka. Jadi semua korban pengampunan dosa, domba dan kambing yang disembelih dan dikorbankan hanyalah bayang-bayang, berarti tidak bisa mengampuni dosa sebenarnya tetapi hanya sebagai satu tujuan untuk membuat engkau melihat kepada Kristus [lihat Ibrani 10:1-18]. Demikian juga aturan-aturan tata ibadah di dalam Perjanjian Lama, korban-korban bakaran dan tujuan dari hari-hari raya yang diberikan serta aturan makan minum mana yang halal dan mana yang haram, dan prilaku yang diatur, itu semua mempunyai tujuan mengarahkan kita kepada Kristus. Sehingga pada waktu Kristus datang, semua ini digenapi, bukan dibuang. Maka sekarang kita tidak lagi melakukan apa yang dicatat dalam Perjanjian Lama dan tidak mengikuti tradisi dari peraturan-peraturan hukum dan hari-hari raya, dsb karena Kristus sudah menggenapinya. Itu artinya Christ is the fulfilment.

Yang kedua, karena Kristus adalah penggenapan hukum Taurat maka kita orang Kristen tidak bisa bilang kita kita cuma perlu Perjanjian Baru, tidak perlu kitab Perjanjian Lama. Sebab jika kita buang Perjanjian Lama dan hanya membaca Perjanjian Baru, kita tidak apan menemukan apa yang dikatakan Perjanjian Baru mengenai apa yang digenapkan, kita harus baca dari Perjanjian Lama untuk menemukannya. Dengan kata kegenapan, itu memberitahukan kepada kita ada kesinambungan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Kita membaca Perjanjian Lama untuk bisa melihat bagaimana Allah menuntun selama ribuan tahun penggenapan janjiNya tidak pernah bersalah. Kristus adalah kegenapan hukum Taurat artinya Paulus jelas mengatakan Tuhan punya rencana berkesinambungan, terus berjalan. Dan itulah yang tidak dilihat oleh orang-orang Yahudi itu, yang gagal menerima kebenaran itu di dalam Yesus Kristus.

Kemudian Roma 10:5-15, Paulus memberikan argumentasi ini. Argumentasi pertama, Roma 10:5 “Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: orang yang melakukannya akan hidup karenanya.” Jikalau engkau mau mendasarkan kebenaran dan keselamatanmu berdasarkan perbuatan, mari kita lihat apa yang menjadi tuntutan dan requirement yang diberikan oleh kitab Tauratmu sendiri. Paulus lalu mengutip kitab Imamat 18:5, barangsiapa melakukannya akan hidup dan tidak binasa. Artinya jikalau orang itu bisa melakukan seluruh hukum Taurat dengan tidak ada cacat celanya, maka dia memenuhi requirement hukum itu.

Injil mencatat seorang anak muda yang datang kepada Yesus dengan bertanya, apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup kekal? Yesus bertanya kepadanya, apa yang diajarkan oleh kitab sucimu? Apakah engkau sudah melakukan segala hukum itu? Orang muda ini menjawab, semua itu sudah aku lakukan sejak kecil. Yesus melihat dia dengan simpati, lalu berkata, tinggal satu hal yang kurang, juallah semua hartamu, bagikan kepada orang miskin, lalu ikut Aku. Injil mencatat orang muda ini pergi meninggalkan Yesus dengan sedih karena banyak hartanya. Itu membuktikan hatinya memang tidak cinta Tuhan. Kenapa tahu dia tidak cinta Tuhan? Karena Yesus tidak mengutip hukum ke 1-4 karena Yesus tahu orang ini memang tidak cinta kepada Allah, berarti ibadahnya hanya ibadah yang eksternal, hanya untuk dilihat orang tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menyembah Allah [lihat Lukas 18:18-26]. Dalam khotbah Yesus di Bukit, Yesus berkata, kamu sudah mendengar firman, jangan membunuh tetapi Aku berkata kepadamu jikalau engkau membenci saudaramu engkau sudah membunuh dia. Kamu sudah mendengar firman, jangan berzinah tetapi Aku berkata kepadamu, barangsiapa melihat kepada wanita dia sudah berzinah dalam hatinya [lihat Matius 5:21-44]. Itu artinya, jikalau engkau mau membangun kebenaranmu dan mengatakan bahwa engkau menaati seluruh hukum Tauratmu, hukum itu berkata jikalau engkau melakukan semuanya dengan sempurna maka engkau akan hidup. Siapa yang bisa? Tidak ada.

Lalu argumentasi yang kedua, sebenarnya dalam hati kecilnya orang Yahudi sendiri mengaku tidak ada orang yang sanggup pergi ke surga, maka Paulus mengutip kalimat ini dalam Roma 10:6 “Siapakah akan naik ke surga?” untuk menunjukkan dua hal ini, pertama: Tuhan kan ada di atas sana, bagaimana kita bisa tahu apa yang menjadi keinginanNya, karena tidak ada orang yang bisa naik ke surga untuk bertanya kepadaNya. Paulus berkata, jangan ada di dalam hatimu bertanya, siapa yang bisa naik ke surga, karena memang tidak ada satu orang manusia bisa naik ke surga. Puji Tuhan! Tuhan sendiri yang turun dari surga untuk menyatakannya kepadamu. Firman itu menjadi daging, artinya Yesus menjadi manusia dan tinggal di tengah kita. Yang kedua, dari situ sdr tahu karena mereka ingin sekali ke surga, mereka berusaha bisa masuk surga tetapi dalam hati menyadari itu adalah satu hal yang tidak mungkin bisa mereka lakukan.

Lalu satu hal yang sangat menarik adalah orang Yahudi juga bertanya, “Siapakah akan turun ke jurang maut?” (Roma 10:7) Siapa yang bisa rescue orang dari hades? Itu adalah ketakutan mereka. Maka Paulus bilang, tidak usah kuatir dan tidak usah takut kepada dunia orang mati karena Yesus Kristus sudah bangkit dari antara orang mati. Jadi terhadap dua hal yang paling ultimate ini, Kristuslah jawabannya. Yang pertama, karena Kristus sudah turun dari surga, Anak Allah menjadi manusia bagi kita. Dia ada di tengah-tengah kita, kita bisa mendengar firmanNya. Yang kedua, karena Kristus sudah bangkit dari kematian sehingga Ia bisa menyelamatkan kita dari sana.

Jadi apa yang bisa engkau kerjakan dan lakukan? Roma 10:9-13, keselamatan itu terjadi bukan karena usahamu, bukan karena perbuatanmu. Keselamatan itu terjadi sebab orang itu berseru, “Ya Tuhan, aku orang berdosa, tidak mungkin ke surga dan tidak mungkin lepas dari kematian. Aku memohon belas kasihan daripadaMu.” Berserulah kepada Tuhan hari ini, percayalah dalam hatimu Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, engkau akan diselamatkan. Ini bukan janji dari mulut saya tetapi ini adalah janji dari firman Allah sendiri. Karena kitab suci berkata, barangsiapa yang mengaku dengan mulutnya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan percaya dalam hatinya bahwa Yesus Kristus sanggup menyelamatkannya maka orang itu akan diselamatkan. Dan Allah yang kaya dengan rahmat itu, masakah orang berseru kepadaNya tidak diselamatkan olehNya? Ia pasti akan menyelamatkan mereka. Itulah Gospel, itulah kabar baik, itulah Injil, sebagai kontras daripada kegagalan kesalehan spiritual dan ibadah yang palsu dari orang Yahudi. Palsu bukan berarti mereka tidak sungguh-sungguh. Jelas sekali mereka begitu bersungguh-sungguh bahkan kalau mau jujur ibadah dan disiplin mereka dalam berdoa, berpuasa dan memberi sedekah lebih hebat daripada kita. Kesalehan ibadah mereka luar biasa. Tetapi kegagalannya dimana? Kegagalannya sebab mereka membangun keselamatan hidupnya berdasarkan kebanggaan perbuatan diri sendiri. Itu tidak mungkin, kata rasul Paulus. Hanya dengan percaya dan berseru kepada Tuhan kita bisa diselamatkan. Puji Tuhan! Injil itu begitu berharga sebab Injil itu sudah menyelesaikan sepenuhnya apa yang menjadi tuntutan Allah di atas salib Yesus Kristus. Kita hanya datang kepadaNya dengan mengatakan “Yesus, aku datang kepadaMu dan mengaku Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku.” How precious is the Gospel!

Sampai di sini Paulus kemudian masuk kepada satu topik yang lain, “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka dapat mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakannya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakannya jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik” (Roma 10:14-15). Pada waktu Paulus mengatakan Injil Kabar Baik itu begitu berarti dan berharga, Paulus menyatakan Allah juga menghargai hamba-hamba Allah yang memberitakan Injil itu. Disini kita bisa melihat korelasi yang dekat dan dalam antara Injil Kabar Baik dan rantai keselamatan tiba kepada diri seseorang. Kita tidak boleh mengabaikan orang-orang yang pergi memberitakan Injil karena Tuhan menghargai kaki-kaki yang pergi sampai jauh itu. Jika kita bisa mengenal dan percaya Tuhan, jangan lupa bahwa hal itu terjadi karena ada orang-orang yang membawa Injil itu kepadamu. How beautiful are those who bring the good news! Jikalau Allah sendiri sangat menghormati hamba-hamba Allah, tidak ada orang percaya yang boleh tidak respek kepada hamba-hamba Allah. Kalau pendetamu betul-betul hamba Allah, bukan hamba uang, hormati dengan baik-baik. Kalau dia sungguh-sungguh hamba Allah, cintai dan hormati dia, karena Alkitab sendiri menyatakan respek itu. Roma 10:15 adalah kutipan dari Yesaya 52:7 “How beautiful upon the mountains are the feet of him who brings good news, who publishes peace, who brings good news of happiness, who publishes salvation, who says to Zion, your God reigns!” Yesaya menggambarkan orang ini berjalan dari gunung turun lembah berhari-hari sampai di satu tempat, sudah tentu yang paling dia tidak mau kasih lihat adalah kakinya. Kakinya pasti sudah bonyok, kakinya pasti bau, kakinya sudah bengkak-bengkak, sudah pincang dan luka kena goresan kayu dan ranting, dsb. Tetapi Tuhan menghargai kaki orang itu, dan Tuhan mengatakan how beautiful that feet! Itulah kemuliaan orang-orang yang pergi memberitakan Injil.

Itu sebab saya sangat mendorong sdr dan gereja ini untuk senantiasa menghargai hamba-hamba Allah. Setiap orang yang melayani, kita harus respek kepadanya. Ini konsep yang penting karena Allahmu mengatakan kaki yang compang-camping itu indah di mataNya. Dukung pekerjaan Tuhan. Dukung hamba-hamba Tuhan yang pergi pelayanan misi sebagai ujung-ujung tombak di sana. Ambil waktu doakan mereka. Ada uang sedikit, bantu mereka, peka melihat kebutuhan dalam pekerjaan Tuhan. Di situ sdr menyatakan cinta dan penghargaan kepada mereka yang melakukan pekerjaan Tuhan. Kiranya Tuhan terus membangkitkan begitu banyak hamba-hamba Allah yang rela pergi memberitakan kabar Injil. Kiranya Tuhan membangkitkan kecintaan akan pelayanan misi di dalam jemaat ini sehingga mereka boleh menjadi hamba-hamba Allah yang membawa kabar baik itu sampai ke tempat yang jauh.(kz)