Benarkah Allah hanya Memilih Sebagian Orang?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (25)
Tema: Benarkah Allah hanya Memilih Sebagian Orang?
Nats: Roma 9:14-29

Di awal Roma 9 ini Paulus menyatakan kesedihan hatinya, keluhan dan anguish yang luar biasa. Dia melihat dan menyaksikan saat berita Injil tentang Yesus Kristus adalah Mesias dia sampaikan, sangat sedikit orang Yahudi yang mau menerimanya. Sebaliknya justru orang-orang yang bukan Yahudi, orang-orang Romawi, orang-orang Yunani, orang-orang barbar dari suku-suku lain, mereka menyambut dengan sukacita pengharapan keselamatan di dalam Yesus Kristus dan itu pun kepada engkau dan saya pada hari ini, di atas muka bumi, dimana saja, mereka yang bukan suku orang Yahudi tetapi mereka menerima dan percaya Yesus Kristus. Tetapi mengapa orang-orang Yahudi justru keras hati dan keras tengkuknya menolak dan melawan Injil? Mengapa sampai hari ini tidak banyak yang mau percaya kepada Tuhan Yesus Kristus? Apakah mereka bukan umat Allah lagi? Apakah Tuhan sudah meninggalkan mereka? Kalau begitu, siapakah umat Tuhan yang sebenarnya itu? Itu adalah topik-topik yang Paulus bicarakan dalam Roma 9-11 ini.

Roma 9-11 dibagi dalam beberapa bagian atau tema utama, dibagi berdasarkan pertanyaan-pertanyaan retorika yang diajukan oleh Paulus pada waktu dia berpindah dari satu tema ke tema yang lain.

Tema pertama, Roma 9:6-13 yang dimulai dengan kalimat “Kalau demikian, apakah firman Allah gagal? Apakah rencana Allah gagal, karena buktinya begitu banyak umat Israel tidak percaya Tuhan? Tidak. Firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang lahir secara fisik biologis keturunan Israel adalah Israel yang sejati. Tetapi Israel yang sejati adalah Israel yang berdasarkan janji Allah, berdasarkan pilihan Tuhan, bukan berdasarkan garis keturunan.

Pernyataan ini kemudian menghasilkan pertanyaan selanjutnya yang menjadi tema kedua: kalau keselamatan itu berdasarkan panggilan dan pemilihan Allah, berarti Allah tidak adil, berarti Allah pilih kasih, bukan? Maka dalam Roma 9:14-29 Paulus membahas persoalan teologis ini. “Jika demikian apakah yang hendak kita katakan, apakah Allah tidak adil? Mustahil!”

Pertanyaan retorika ke tiga Roma 9:30 – 10:15, “Jika demikian apakah yang hendak kita katakan?” Paulus bicara mengenai faktanya bagaimana bangsa Israel ini, orang yang sudah menerima Torah, menerima Perjanjian Lama, tetapi tetap tidak mau menerima keselamatan karena iman di dalam Yesus Kristus karena mereka mencarinya dengan pendekatan religi agama, bukan dengan pendekatan rohani. “Sebab karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah” (Roma 10:3).

Selanjutnya tema keempat: kalau orang Yahudi terus menolak pemberitaan Injil, berarti sia-siakah usaha kita? Kalau orang beriman dan percaya karena rencana dan pilihan Tuhan, kalau Tuhan hanya mau selamatkan orang tertentu, tidak usah susah-susah kita pergi memberitakan Injil. ¬†“Tetapi tidak semua orang menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata, “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” (Roma 10:16-21).

Selanjutnya, tema kelima, kata Paulus dalam Roma 11:1-10 “Adakah Allah telah menolak umatNya? Sekali-kali tidak!” Apakah Tuhan tidak lagi menjadikan orang Yahudi sebagai umatNya? Apakah Tuhan sudah tidak lagi ingat bangsa ini? Apakah Tuhan menolak bangsa ini? Tidak. Sama sekali tidak.

Tema keenam mulai dari Roma 11:11 “Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain.”

Apakah firman Allah gagal? Allah telah berjanji umat Allah akan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut. Itulah janji Allah kepada Abraham. Tetapi orang-orang yang lahir dari keturunan Abraham sedikit sekali, bahkan merekalah yang menyalibkan Yesus Kristus. Ketika Injil diberitakan, justru bangsa-bangsa lain yang berbondong-bondong terima Tuhan dengan sukacita. Apakah firman Allah gagal? Tidak. Paulus membukakan satu kebenaran yang penting ini: jangan pernah sombong, hai orang Israel, hanya karena engkau lahir sebagai keturunan orang Yahudi, tidak otomatis kamu adalah umat Allah. Israel yang sejati adalah bukan karena keturunan secara fisik, Israel yang sejati adalah keturunan secara janji, bu the covenant of God. Jadi, kalau umat Allah, Israel yang sejati adalah berdasarkan janji dan berdasarkan kebaikan Allah, bukan berdasarkan keturunan, maka kalau begitu apakah Allah adil? Inilah pertanyaan yang Paulus jawab dalam Roma 9:14-29. Sampai hari ini manusia terus bertanya, apakah Allah adil? Apakah Allah pilih kasih? Pertanyaan-pertanyaan ini terus muncul sepanjang sejarah dalam hati setiap manusia, karena itulah benih dari keberdosaan manusia. Waktu Tuhan datang berfirman, manusia pun masih mencari-cari pembenaran. Maka sampai kapan pun ketika firman Allah yang benar ini datang kepada manusia dan manusia di dalam kesombongannya berbenturan dengan firman Allah, justru manusia terus mengeraskan hati karena mereka ingin menjadi orang yang mengatur tuhan yang seperti apa mereka mau. Itu sebab Paulus bilang, “Siapakah kamu, hai manusia, bagaimana bisa engkau berbantah dengan Allah?” (Roma 9:20a). Pointnya bukan Tuhan itu diktator dan bukan Tuhan tidak adil dan tidak fair, tetapi Paulus mengingatkan Allah adalah sumber dari segala bijaksana, dan pada waktu bijaksana kita berbenturan dengan bijaksana Allah, kita harus merendahkan diri dan mengatakan God’s wisdom is above our wisdom. Pada waktu pendapat kita tentang apa itu adil berbenturan dengan God’s ultimate justice itu, kita harus berkata God’s justice itu yang benar, bukan aku. Pada waktu pendapat kita berbenturan dengan apa yang Tuhan katakan, kita takluk dan tunduk kepadaNya, itulah artinya kita sebut Dia sebagai Tuhan. Itulah sebabnya kita datang bersembah sujud kepadaNya, karena Dialah yang maha benar, tidak ada yang palsu daripadaNya. Tuhan adalah yang maha adil, pasti tidak ada unfairness di dalam diriNya. Tuhan adalah maha suci, pasti tidak ada setitik pun noda yang bisa didiamkanNya begitu saja, Dia pasti akan mengadili dengan benar. Dia adalah sumber segala keindahan, dan itu direfleksikan dalam segala ciptaanNya. Kita menghargai dan menghormati Allah yang sedemikian itu. Maka bagian ini penting luar biasa. “Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: mengapakah engkau membentuk aku demikian?” (Roma 9:20b). Itulah yang kita sebut sebagai “the Ultimate” yaitu yang kita sebut sebagai God the Creator. Maka sampai di sini Paulus menantang, bagaimana engkau bisa berbantah dengan Tuhan? Dapatkah yang dicipta bertanya kepada Penciptanya? Allah sebagai Pencipta bagaikan tukang periuk yang berhak membuat dua gumpalan tanah liat di tangannya benda apa saja yang dikehendakinya. Dia mau bikin yang satu menjadi vas yang mulia, dia mau bikin yang satu menjadi peralatan di dapur, itu hak dia sepenuhnya berdasarkan kebebasan kehendaknya, tidak didasarkan oleh desakan, dorongan atau perintah siapa pun. Itulah artinya menjadi Allah. Kalau orang bilang, itu namanya Allah yang tidak adil, yang semena-mena, yang diktator, berarti persoalannya adalah engkau tidak mau terima Dia sebagai Allah dalam hidupmu. Kalau kita sungguh-sungguh sembah Dia dan percaya Allah, maka kita takluk sepenuhnya kepada apa yang Dia katakan semuanya benar dan adil, tidak pernah bersalah adanya.

Engkau bertanya, apakah Allah tidak adil? Pertanyaan ini bicara soal satu sifat yang penting namanya “adil” atau justice. Apa itu justice? Kita harus definisi sama-sama dulu. Justice adalah satu sifat atau satu bijaksana moral dalam diri seseorang yang tidak bersifat berat sebelah kepada siapa saja. Pada waktu seseorang itu layak dan berhak menerima sesuatu, maka dia harus memberikan seturut dengan apa yang patut diberikan. Itu namanya adil. Kalau orang itu bersalah, maka dia patut mendapatkan hukuman. Kalau dia benar, maka dia patut mendapatkan pembelaan atau declare pernyataan bahwa dia benar adanya. Itu yang namanya justice. Kalau engkau bertanya apakah Allah tidak adil, sebenarnya engkau ingin mengatakan: saya berhak mendapatkan sesuatu, saya menuntut Allah memberikan apa yang berhak saya terima. Paulus menanggapinya dengan jawaban ini, “Sebab Allah berfirman kepada Musa, “Aku menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan. Dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak bergantung kepada kehendak orang atau usaha orang tetapi kepada kemurahan hati Allah” (Roma 9:15-16). Unik sekali! Uniknya adalah engkau bertanya soal keadilan, kenapa Paulus kasih jawaban bukan bicara soal keadilan, tetapi dia bicara soal belas kasihan, mercy. Karena jika berdasarkan keadilan, apa yang berhak kita peroleh dari Allah? Kalau mau bergantung kepada kehendak orang atau usaha orang, dan engkau menuntut Allah untuk menyatakan keadilanNya, hal yang sepatutnya dan selayaknya kita dapatkan adalah hukuman dan kematian. Kalau engkau menuntut keadilan, maka berdasarkan kehendak hatimu yang selalu memberontak kepada Allah, kalau berdasarkan usahamu, maka yang engkau lakukan hanyalah dosa, yang sepatutnya dan selayaknya engkau dapat adalah penghukuman dan kematian. Adil, tidak? Kita tetap tidak rela mengiyakan, bukan? Karena kita ingin Allah berbuat apa yang kita mau; kalau Dia Allah, Dia harus bermurah hati dan berbuat baik kepada manusia ciptaanNya. Kita salah-salah sedikit, jangan dihukum berat, apalagi dihukum mati.

Tetapi jika kita menuntut keadilan Allah, itulah yang selayaknya kita terima: kematian dan penghukuman. Tidak ada yang lain. Tetapi kalau kita sampai tidak mendapatkan penghukuman Allah yang selayaknya kita terima, itu bukan karena Allah abaikan tetapi karena Yesus Kristus sudah menanggungnya di kayu salib. Yang kita dapat dari Allah adalah mercy, belas kasihan. Apa itu mercy? Mercy berarti itu tidak layak kita terima, karena tidak ada di dalam diriku, kehendak dan kemauanku, yang sanggup bisa menggerakkan Allah memberikan belas kasihan kepada saya. Tidak ada. Nothing. That is only because of God’s mercy. Kalau itu adalah belas kasihan, maka tergantung kepada yang menerima ataukah kepada yang memberi? Kita dalam keadaan memberontak, sudah habis semua, sudah rusak dan hampir mati, lalu Tuhan datang menerima kita, membersihkan kita, memberikan segala yang baik, pakaian yang baru, memakaikan cincin di jari tangan kita, membuatkan pesta besar bagi kita. Itu seperti gambaran perlakuan sang ayah kepada anaknya yang kembali (lihat kisah Anak yang Hilang, Lukas 15:11-24). Itulah mercy. Kalau kita bisa menerima keselamatan, itu bukan berdasarkan justice, keselamatan itu adalah based on mercy. Jadi itu tidak bergantung kepada kehendak dan usaha kita tetapi kepada kemurahan Allah dan belas kasihan Allah.

Di dalam Allah mengatur dan merencanakan segala sesuatu adalah amazing luar biasa. Bahkan di dalam orang melawan dan memberontak kepada Tuhan, itu bukan sesuatu yang berada di luar daripada kontrol Allah. Bahkan kepada Firaun yang tidak mau melepaskan orang Israel keluar dari perbudakan itu, itu pun karena Tuhan berdaulat di belakangnya. Kenapa Tuhan mengeraskan hati Firaun? Supaya melalui itu justru kita bisa melihat kuasa Allah melampaui kuasa Firaun dan di tengah kekerasan dan pemberontakannya, kemuliaan Allah makin menjadi luar biasa terjadi. “Allah menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendakiNya” (Roma 9:18). Dalam hati manusia yang memberontak, dalam keinginan manusia yang mau melawan Tuhan seperti itu, kita bisa menyaksikan Allah adalah Allah yang berdaulat dan Allah yang memberikan belas kasihan. Bahkan sampai kepada perlawanan manusia yang paling ultimate pun kepada Allah, ketika belas kasihan Allah tiba kepada dia merubah hatinya, orang itu pasti akan takluk kepada Allah. Itulah arti belas kasihan, mercy of God. Dan pada waktu semua orang sudah disentuh oleh keselamatan dan belas kasihan Allah berdiri bersaksi, orang itu pasti akan berkata itu bukan karena usaha dan keinginanku, tetapi karena Allah datang di dalam kemurahanNya yang tidak layak aku terima itu aku memperoleh keselamatan. Itulah anugerah Allah yang unconditional, Allah pilih kita, Allah menyelamatkan kita bukan karena kita baik; Allah memilih dan menyelamatkan kita bukan karena keturunan kita; Allah memilih dan menyelamatkan kita bukan karena kita mau percaya Dia terlebih dahulu. Tidak ada dasar itu. Dasarnya cuma satu: karena Ia Allah yang bebas, Ia memiliki hak dan kedaulatan dan yang di dalam kemurahanNya Ia berbelas kasihan kepada siapa Ia mau berbelas kasihan. Dan setiap orang yang menerima belas kasihan itu hanya bisa berkata dengan kagum, how amazing Your mercy for me.

“Jadi, kalau untuk menunjukkan murkaNya dan menyatakan kuasaNya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaanNya yang telah disiapkan untuk kebinasaan, justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaanNya atas benda-benda belas kasihanNya yang telah dipesiapkanNya untuk kemuliaan, yaitu kita” (Roma 9:22-24). Melalui belas kasihan Allah, melalui kekayaan kemurahan Allah, kita dibuatNya sebagai benda-benda belas kasihanNya yang telah dipersiapkan Allah untuk kemuliaan, yaitu kita yang dipanggil bukan hanya dari antara orang Yahudi tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain.

Tidak gampang dan tidak mudah bagi orang Yahudi yang mindset-nya sudah terbentuk demikian rupa, mereka menganggap diri sebagai umat Allah yang spesial, yang mendapat privilege dan merasa berhak istimewa. Sdr bisa bayangkan, sistem itu sudah dibuat ribuan tahun sejak bait Allah Salomo, orang bukan Yahudi diijinkan berbakti tetapi tempat bagi mereka hanya sampai di pelataran luar saja. Artinya apa? Engkau boleh jadi umat Allah, engkau boleh disunat dan menjadi proselit, engkau boleh beribadah mengikuti tata cara agama Yahudi, tapi ingat, posisi kita tidak equal. Engkau hanya warga kelas dua. Karena mindset yang seperti itu sudah berakar ribuan tahun, tidak gampang merombak dan merubahnya. Maka untuk merombak konsep itu Yesus harus mulai dari mana? Pertama, Yesus harus memporak-porandakan meja penukar uang dan tempat penjualan binatang-binatang korban di halaman tempat orang-orang bukan Yahudi berbakti (Markus 11:15-17). Yesus bukan hanya tidak mau bait Allah menjadi tempat berjualan dan terjadi korupsi saja tetapi Ia berkata, “RumahKu adalah rumah doa bagi segala bangsa.” Semua orang yang hendak berbakti kepada Allah tidak boleh ada yang menghalangi, itulah sebabnya tempat itu Yesus bersihkan. Yang kedua, Matius mencatat pada saat puncaknya Yesus berada di atas kayu salib, Ia berseru “Sudah selesai!” maka tirai bait Allah yang memisahkan ruang kudus dengan ruang maha kudus Allah sobek menjadi dua, artinya tidak ada lagi penghalang, semua orang punya akses kepada Allah (Matius 27:51). Untuk merubah mindset ini, Paulus harus menghadapi tantangan yang luar biasa, karena orang-orang Kristen Yahudi tetap tidak rela duduk bersama-sama dengan orang bukan Yahudi. Mereka tidak rela¬† majikan duduk berbakti bersama-sama dengan budak-budaknya. Mereka tidak rela laki-laki duduk bersama perempuan. Maka di dalam surat Galatia, Paulus harus mengatakan “Kamu semua adalah anak-anak Allah di dalam Yesus Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki dan perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus (Galatia 3:26,28).

Maka Paulus mengatakan umat Allah adalah kita, yang adalah orang-orang dari berbagai suku bangsa. Adakah buktinya? Paulus memberikan beberapa bukti. Bukti yang pertama adalah firman Allah dalam kitab nabi Hosea, “Yang bukan umatKu akan Kusebut: umatKu; dan yang bukan kekasih: kekasih. Dan di tempat dimana akan dikatakan kepada mereka: kamu ini bukanlah umatKu, di sana akan dikatakan kepada mereka: anak-anak Allah yang hidup” (Roma 9:25-26). Perhatikan dua hal ini, bangsa-bangsa yang tadinya bukan umat Tuhan akan disebut umat Tuhan, dan di berbagai tempat-tempat [desentralisasi] dimana mereka bukan disebut umat Allah, Allah akan memanggil mereka sebagai anak-anakNya. Lalu kemudian bagaimana dengan bangsa Israel? Paulus mengutip kalimat nabi Yesaya, “Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan” (Roma 9:27). Nabi Yesaya 700 tahun sebelum Kristus mengatakan hal ini: hanya yang tertinggal saja yang akan diselamatkan. Berdasarkan apa? Bukan berdasarkan kesukuannya tetapi berdasarkan belas kasihanNya. Kalau Tuhan tidak berbelas kasihan dan memberi kita keturunan, kita itu sudah seperti Sodom dan Gomora (Roma 9:28), habis lenyap, demikian kata nabi Yesaya.

Saya percaya gereja tidak akan pernah hilang dan punah, karena firman Tuhan berkata “God will raise the remnants,” yang tersisa, yang sungguh-sungguh cinta Tuhan dan sungguh-sungguh ikut Dia.

Bersyukur luar biasa kemarin saya membaca berita di Christian Post yang sangat encouraging yang melihat fenomena banyak sekali anak-anak muda masuk kepada tempat-tempat training dan sekolah teologi, untuk menjadi laskar-laskar pemberita Injil Kristus di Amerika. Anak-anak muda ini adalah satu gerakan yang mau melihat bahwa the Gospel of Jesus Christ adalah hal yang lebih penting dan lebih utama. Kita harus menjadi arus yang melihat dengan hati seperti itu.

Bersyukur melalui firman Tuhan ini kita mengerti dengan lebih indah bagaimana keselamatan kita bisa terjadi hanya berdasarkan belas kasihan Tuhan. Manusia-manusia yang memberontak kepada Tuhan termasuk kita selayaknya menerima keadilan Tuhan yaitu penghukuman dan kematian, kita tidak bisa mempersalahkan Tuhan, itu kesalahan kita 100%. Dan orang-orang seperti kita hanya bisa memohon anugerah dan belas kasihan Allah. Kita tidak tahu dan tidak mengerti mengapa anugerah dan belas kasihan itu datang kepada kita karena kita tidak lebih baik daripada orang-orang lain dan kita tidak melakukan apa-apa sehingga Tuhan berkewajiban untuk berbelas kasihan dan memberikan anugerah keselamatan kepada kita. Kiranya kita selalu menjaga hati kita untuk tidak memiliki perasaan kita punya hak dan entitlement atas semua anugerah dan blessing Tuhan tetapi kita senantiasa selalu hidup dengan kesadaran kita tidak berlayak atas semua itu tetapi blessing Allah datang kepada kita itu hanya untuk hormat dan kemuliaan Allah. Kiranya Allah memberkati hidup kita dengan attitude seperti itu.(kz)