All Things for Good

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (23)
Tema: All Things for Good
Nats: Roma 8:28-39

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia yaitu mereka yang terpanggil sesuatu dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya” (Roma 8:28-29).

Pada waktu kita membaca Roma 8:28-39 ini biar hati kita diangkat naik melihat kebesaran Tuhan dan membawa hormat doxology kita kepada Allah Tritunggal yang begitu mulia. Dalam Roma 8 ini Paulus menyebut Allah Tritunggal menjadi penolong bagi engkau dan saya. Roma 8:1 tentang Allah Anak, yakni Yesus Kristus yang menebus dan menyelamatkan kita. Roma 8:14, 23-25 Allah Roh Kudus meneguhkan hatimu dan berdoa bagi engkau dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan kepada Allah Bapa. Dan Roma 8:28 Allah Bapa bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Hidup kita terbatas oleh ruang dan waktu, banyak hal kita tidak bisa lihat semua dan sekaligus. Yang bisa kita lihat dalam hidup kita ada benang yang hitam, ada benang yang merah, ada benang yang kusut, ada benang yang rusak, ada benang-benang yang sudah saling semrawut di sana-sini, yang kita tidak tahu bagaimana bisa menyelesaikan semua kekusutan ini. Kadang setelah waktu berlalu beberapa puluh tahun, kita baru bisa melihat dan menengok ke belakang, semua respons kita yang begitu negatif kepada situasi hidup kita akan membuat kita menjadi malu di kemudian hari. Mungkin lima tahun yang lalu kita marah kepada seseorang karena orang itu telah membuat hidup kita begitu sulit, tetapi setelah lewat semuanya kita sadar Tuhan taruh orang itu di situ untuk membuat hidup kita menjadi indah dan bersandar kepada Tuhan. Mungkin ada sakit yang keras menimpamu sepuluh tahun yang lalu dan engkau menangis dan marah, berteriak kecewa dan menganggap hidupmu sudah selesai, dan setelah melewatinya kita menjadi malu karena Tuhan mengingatkan kita, Ia menaruh sakit itu untuk tidak lain dan tidak bukan supaya menjadikan kita sebagaimana adanya pada hari ini.

Paulus bicara akan apa yang terjadi dalam skala kekekalan, bukan sesuatu yang terjadi sementara saja, tetapi segala sesuatu itu menjadi indah karena ada tangan yang kuat dan besar itu yang bisa melihat dari Alfa hingga Omega, dari awal sampai akhir dalam hidup kita Dia jalin itu. Kalimat ini penting sekali dan inilah kalimat proposisi yang utama dalam Roma 8:28-39 ini yaitu Tuhan Allah bekerja di dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan. Kalimat itu mengingatkan kita inilah saatnya kita mengaitkan segala sesuatu dengan Tuhan. Tidak ada yang lain di dalam hidup sdr selain Tuhan Allah. Kalau sdr terus memperhatikan segala sesuatu, tidak ada habis-habisnya.

Tuhan Allah bekerja di dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Dengan menggunakan kata “segala sesuatu,” maka di situ termasuk hal-hal yang tidak baik, bahkan termasuk hal-hal yang jahat, termasuk penderitaanmu, ketidak-adilan dan tekanan dari orang lain, segala sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi dalam hidup kita, bahkan lebih dalam lagi termasuk itu perbuatan dosa yang fatal kita lakukan, walaupun Allah tidak perkenan itu tetapi tidak berarti bahwa Dia tidak sanggup merubah hal-hal yang terjadi oleh karena dosa dan pemberontakan kita. Jelas, Allah tidak suka dan Allah akan menghukum dan mendidik, karena Allah yang suci tidak pernah berkompromi dengan kesalahan dan dosa kita, tetapi itu pun tidak berada di luar karya Allah yang sanggup bisa menenun dan mengaturnya menjadi kebaikan bagi kita. Tetapi pada saat yang sama Allah tidak akan membiarkan kita terus bermain dan berkanjang dalam dosa. Sekaligus kalimat ini mengingatkan kita jikalau terus melihat segala sesuatu dan hanya bersandar kepada kekuatan kita untuk bisa merangkai segala sesuatu, kita akan hancur berantakan. Tetapi pada waktu kita membawa semua hal itu bersama-sama dengan Tuhan, Ia akan berkarya bagi kebaikan untuk kita. Mungkin ada orang yang sedang diambang perceraian, ada yang sedang diambang kebangkrutan, ada yang sedang tenggelam dalam kesulitan yang besar, ada yang sedang kehilangan keluarga yang dikasihi, dan orang-orang seperti itu tidak bisa menghindar dari kesulitan itu bagaikan ditelan oleh lumpur, bergerak sedikit pun membuat dia semakin tenggelam dan terjerat makin masuk ke dalamnya.

Kata “mendatangkan kebaikan” tidaklah berarti Tuhan akan merubah evil menjadi baik; tidaklah berarti Tuhan akan merubah kesakitan menjadi kesembuhan; tidaklah berarti kita bisa melihat perubahan itu mungkin di dalam waktu selama kita hidup. Kebaikan itu bukan hanya terus dilihat sebagai sesuatu yang Tuhan bisa ubah seketika dalam hidup kita. Karena kalau kita baca terus perikop ini sampai ke bawah, tujuan yang paling penting adalah melalui semua itu Allah akan membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Di situlah baru kita bisa lihat ketika kita berada dalam kesulitan, meskipun kesulitan itu tidak serta-merta diangkat oleh Tuhan, tetapi di dalam kesulitan itu Allah membuat wajah kita bersinar dengan teduh dan tenang menghadapinya. Itulah kebaikan yang tidak pernah bisa lepas dari hidup kita. Pada waktu orang telah kehilangan segala sesuatu tetap setiap minggu dalam pengharapan yang pasti kakinya melangkah ke rumah Allah dengan sukacita, menanti Allah dengan berdoa dan bersabar, itulah kebaikan yang indah.

Ketika isteri Ayub berkata kepada suaminya, “Mengapa engkau masih bertekun dalam kesalehanmu? Kutuklah Allahmu dan matilah!” Tetapi jawab Ayub kepadanya, “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:9-10). Bukan Allah menginginkan yang tidak baik terjadi kepada kita, jelas tidak. Karena Allah itu baik dan hanya kebaikan saja yang datang dariNya. Tetapi kita hidup dalam dunia yang berdosa, kita tidak akan bisa terlepas daripada 3 musuh yang akan terus-menerus menghantui kita dan membuat kita selalu tidak bisa mempunyai hubungan yang harmonis dengan Tuhan, yaitu dunia ini, Setan, dan sifat kedagingan dan dosa yang ada di dalam diri kita. Inilah tiga musuh kita yang pasti akan bersorak pada waktu dia melihat ketidak-baikan dan mendatangkan kesulitan dalam hidupmu. Tetapi kita tidak pernah hancur dan putus asa karena tiga musuh ini tidak sanggup mengalahkan kuasa Allah Tritunggal yang bekerja dan berkarya dalam hidup engkau dan saya.

Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Kalimat yang diucapkan Paulus ini menggemakan apa yang pernah diucapkan oleh Yusuf kepada saudara-saudaranya dalam Kejadian 50:20, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” Kita bisa melihat hal itu sampai akhir pada hidup Yusuf, perlu melewati puluhan tahun. Kalau sdr baca kisah hidup Yusuf dalam Kejadian 39, ada empat kali firman Tuhan berkata, “The Lord was with Joseph” (Kejadian 39:2, 3, 21, 23). Pada waktu berada di rumah Potifar, Tuhan menyertai Yusuf; pada waktu berada di dalam penjara, Tuhan menyertai Yusuf. Kalimat ini “aneh” kedengarannya di telinga kita, karena kita seringkali berpikir kalau Tuhan menyertai, seharusnya Yusuf tidak dijual oleh saudara-saudaranya dan menjadi budak di rumah Potifar; kalau Tuhan menyertai, seharusnya Yusuf tidak difitnah dan dipenjara, bukan? Kalau Tuhan menyertai, seharusnya Tuhan tidak membiarkan ada kesulitan dan penderitaan kepada anak-anak Tuhan. Tetapi kalimat ini unik, sekalipun di dalam penjara, sekalipun di tengah ketidak-adilan dan keadaan tersulit, Tuhan menyertai Yusuf sehingga dia melalui semua itu bersama Tuhan. Yusuf mengalami semua hal yang tidak baik itu tetapi imannya dan pengharapannya teguh dan tidak goyah. Itu bukan faktor umur, karena muda lalu kemudian setelah tua lalu menjadi bijaksana, tetapi itu adalah faktor pembentukan Tuhan melalui apa yang engkau alami dalam hidup ini dan bagaimana engkau berespons.

John Calvin bapa Reformator mempunyai beberapa anak, ada yang lahir dan waktu kecil meninggal, dan ada satu anak perempuannya yang sakit-sakitan sampai berusia 12 tahun. Di ambang ajalnya, ayah dan anak ini bercakap-cakap untuk terakhir kalinya, anak itu menyatakan apa arti iman, bahwa kematian itu tidak akan memisahkan mereka dan satu hari kelak mereka akan berjumpa kembali. Calvin mengatakan, papa tidak bisa menolong engkau, hanya Tuhan yang bisa menolong. Itu sebab papa hanya bisa berdoa, serahkan anak ini kepada Tuhan. Jikalau anak umur 12 tahun bisa memahami dan mengerti apa arti iman yang teguh seperti itu, saya percaya kita yang terus-menerus mengalami itu di dalam perjalanan hidup kita, kita pasti akan mengalami pembentukan Tuhan.

Ada dua anak kalimat yang penting dalam Roma 8:28, anak kalimat yang pertama yaitu “semua itu menjadi kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Ini mengingatkan kita, tidak otomatis jikalau seseorang mengaku sebagai orang Kristen, maka kebaikan itu bisa terjadi. Mereka yang tidak mau dididik oleh Allah, maka kebaikan itu tidak terjadi. Orang yang hanya mengaku percaya kepada Yesus Kristus, tetapi kepercayaannya hanya di mulut bibir saja dan tidak menjadi kepercayaan yang otentik, nyata dan hidup di dalam hidupnya, maka kebaikan itu tidak terjadi. Jika orang itu dengan rendah hati taat kepada Tuhan, ketika firman Tuhan datang menyentuh hidupnya dia berespons kepada Allah dalam ketaatan dan iman, orang-orang itulah yang dibentuk oleh Allah dan melihat segala sesuatu menjadi kebaikan baginya. Yang kita lakukan tidak ada lain kecuali satu: mengasihi Allah, mengasihi firmanNya, takluk sepenuhnya kepadaNya.

Pada waktu anak kita mengalami pendidikan dari kita dan dia mengatakan, “I hate you, daddy!” ataukah dia berkata, “Daddy, even though this is hurt for me, I know that you love me and I love you.” Itu dua sikap yang berbeda. Ingat selalu, Allah bukan musuh kita. Setanlah yang mendatangkan penderitaan supaya kita lari dari Allah. Allah memakai penderitaan supaya kita dekat kepadaNya. Setanlah yang membuat kejatuhan kita untuk membuat kita lari dari Tuhan dan menuduh kita bukan anak Allah; sebaliknya Roh Allah yang ada di dalam diri kitalah yang senantiasa mengingatkan kita, hai anak yang terhilang, engkau tetap adalah anak Allah, kembalilah kepadaNya. Dosalah yang terus memberikan perasaan bersalah di dalam diri kita dan menuduh kita, engkau orang berdosa, engkau orang berdosa, engkau tidak layak datang ke gereja, engkau tidak layak berdoa kepada Tuhan, engkau munafik! Dosalah yang menekan kita dan menjadi awan gelap yang menghilangkan damai sejahtera dan sukacita dalam hidupmu. Hanya keselamatan dalam Yesus Kristus yang memberikan pengampunan dan tidak ada lagi penghukuman. Semua ini menyadarkan kita dan membuat kita berespon dengan berkata Tuhan, aku mengasihiMu. Jika engkau mengasihi Allah, engkau akan mengasihi firmanNya. Jika engkau ¬†mengasihi Allah, engkau akan mengasihi pekerjaan Allah. Jika engkau mengasihi Allah, engkau akan mengasihi umat Allah. Jika engkau mengasihi Allah, engkau akan mengasihi orang-orang yang melayani Allah. Jika engkau mengasihi Allah, engkau akan mengasihi misi Allah, gereja Allah.

Anak kalimat yang kedua, ” mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya…” perspektif yang berbeda muncul. Dari perspektif kita, kita berespon kepada Allah dengan mengasihiNya. Ayat 29 itu adalah perpektif dari Allah, tujuan Allah, rencana Allah. Luar biasa sekali firman Tuhan ini.

Berkali-kali Allah ingatkan kepada orang Israel, walaupun sampai kepada pembuangan [exile] Tuhan Allah mengutus nabi-nabiNya berkata “sebab rancanganKu adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11). Tuhan perlu menghancurkan dasar yang salah yang dibangun dari kecongkakan dan kesombongan dari bangsa Israel. Bahkan kemegahan bait Allah yang dibangun oleh raja Salomo pun harus dihancurkan oleh Allah. Dan pada waktu bangsa Israel pulang dari pembuangan dan mereka harus membangun bait Allah Zerubabel yang sederhana dan kecil tidak ada artinya dibanding dengan kemegahan bait Allah yang dibangun Solomo, Alkitab mencatat menangislah mereka yang masih punya memory kepada kemegahan dan kejayaan bait Allah yang lalu, menangislah mereka dengan teriakan yang nyaring dan melolong dengan keras, karena bait Allah yang ini kecil banget. Allah telah melupakan kita, Allah telah meninggalkan kita! (Ezra 3:12-13). Tetapi Allah mengatakan sama seperti di bait Allah Salomo, kemuliaan Allah tetap sama di bait Allah Zerubabel ini jikalau engkau taat kepadaKu dan tetap menjadi umatKu (Hagai 2:1-10). Allah tidak mementingkan bahwa bait Allah Salomo yang megah dan besar itu harus dipertahankan, karena pada waktu manusia bangga, sombong dan menjadikan dirinya allah maka Allah hancurkan itu. Tetapi Allah akan bangkitkan dan bangun kembali. Bahkan sekalipun pohon yang besar dan megah itu tidak menghasilkan buah, Dia papas, potong habis dan tebang pohon itu supaya ada tunas yang baru yang benar itu muncul. Itu perlu waktu, Tuhan bilang tidak masalah ketika engkau tahu apa yang menjadi maksud dan rencana Tuhan di situ. Tidak perlu takut dan kuatir habis harta dan semua dalam hidupmu, pada waktu kita rela dan takluk kepada rencana Allah. Maka dari atas kemudian kita lihat mengalir berkat dan kekuatan dari Allah itu hingga sampai kepada tujuan yang terutama: kita menjadi serupa dengan gambar Yesus Kristus. Maukah kita menjadi serupa dengan Kristus? Maukah engkau dibentuk semakin hari semakin serupa dengan Yesus melalui¬† segala sesuatu? Itulah tujuan Allah, itulah keinginan Allah. Dan saya rindu setiap kali saya berkhotbah kita menjadi semakin serupa Kristus.

Itu sebab kita berespons dalam bagian firman Tuhan ini, aku mengasihiMu ya Allah, dan aku mengerti bahwa tujuanMu bagiku adalah untuk membuat hidupku semakin serupa dengan Yesus Kristus. Kalau itu adalah tujuan Allah, maka gereja ini tujuannya harus itu, membuat jemaat semakin hari semakin serupa Kristus. Saya rindu ibadah itu datang tidak terus berjalan otomatis kebiasaan dari awal sampai akhir tanpa kita menyadari dengan sungguh setiap tidakan dan ibadah kita menyembah Allah. Pengakuan Iman Rasuli kita sudah hafal luar kepala, keluar dari mulut kita otomatis, tetapi apakah kita sungguh memahaminya? Kadang-kadang kita perlu introspeksi. Berkali-kali kita bisa kaget luar biasa, orang bisa fasih melafalkan pengakuan iman, bisa mengutip ayat-ayat Alkitab, bisa berdebat teologi dengan fasih, tetapi dia bisa jatuh begitu dalam waktu menghadapi pencobaan padahal kita pikir orang itu kuat imannya. Orang itu bisa menjadi pekerja Tuhan, menjadi majelis, menjadi pengurus, menjadi pelayan di gereja Tuhan, tetapi hidup imannya dan apa yang dia percaya tidak terjadi di dalam hidup sehari-hari, tidak terjadi kepada hidup rumah tangganya, tidak terjadi kepada pekerjaannya, tidak terjadi kepada hidupnya, tidak terjadi kepada pikirannya, tidak terjadi kepada emosinya, tidak terjadi kepada decision makingnya. Karena apa? Karena ada gap menganga lebar. Sehingga sdr bisa kaget, walaupun dia pendeta, walaupun dia majelis pengurus gereja, dsb semua detached pada waktu ada segala skandal terjadi dalam hidupnya.

Terakhir, Paulus bilang kita menghadapi musuh: dunia ini, Setan dan kuasa dosa. Tetapi jika Allah ada di pihak kita, tidak ada yang bisa mengalahkannya. Jika Allah ada di pihak kita, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasihNya. Ada dua pertanyaan retorika dalam Roma 8:33-34 yang muncul. Pertanyaan perotika pertama adalah: siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah-kah? Bukankah Allah sendiri yang telah membenarkan mereka? Pertanyaan retorika kedua: siapakah yang akan menghukum kita? Yesus-kah? Bukankah Yesus telah mati dan bangkit dan bahkan menjadi Pembela bagi kita? Kita semua sudah dihukum. Selesai, tuntas, lunas. Tidak usah lagi kita mempersoalkan dan mempermasalahkan dosa-dosa kita, banyak. Kita hanya bisa datang kepada Tuhan dengan menundukkan kepala, tidak bisa membela diri apa-apa, Tuhan, hukum saya. Apa hukumannya? Mati. Mulut kita yang penuh sumpah serapah, apa hukumannya? Mati. Pikiran kita jorok dan kotor, apa hukumannya? Mati. Kelakuan saya tidak baik, apa hukumannya? Mati. Semua itu sudah Yesus Kristus tanggung di atas kayu salib. Itulah yang kita peringatkan dalam perjamuan kudus. Kalau kita keluar dari tempat ini setelah menerima semua anugerah pengampunan Kristus, kita masih bickering lagi atas kesalahan dan hidup orang, mau bilang apa lagi? Allah sendiri saja sudah tidak lagi menggugat dan menghukum kita, mengapa engkau mempersoalkan hidup orang? It is finished here.

Hari ini kiranya hati kita kembali disentuh oleh firman Allah yang berkuasa itu dan biar Roh Allah bekerja dalam hidup setiap kita. Tidak ada orang yang bisa menolong kita. Kekayaan kita tidak sanggup menjadi pertolongan bagi kita. Orang-orang di sekitar kita, teman-teman kita mungkin tidak mengerti dan juga tidak sanggup untuk menolong kita. Hanya Tangan Tuhan yang kuat dan berkuasa itu adalah satu-satunya yang kita harapkan dalam hidup ini. Apapun yang kita alami terlalu berat, mendatangkan kesulitan dan air mata, biar hari kita menjadi teduh di hadapan Tuhan karena tidak tahu lagi bagaimana membereskannya dengan kekuatan kita. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah datang kepada Tuhan sumber pertolongan kita dan berkata, aku mengasihiMu ya Allah. Dan kita tahu tujuan dan purpose Allah bagi hidup kita melewati semua ini, yaitu supaya kita semakin serupa dengan Yesus Kristus. Saat kita diperlakukan dengan tidak adil, biar kita memberkati orang. Saat mengalami kesulitan, kita menjadi berkat bagi orang. Kita jauh dari sempurna, kita lebih mirip dengan si Jahat dalam hidup kita yang lebih suka membalas dengan dendam, perilaku kita lebih mirip dengan orang yang tidak percaya yang lebih banyak kuatir dan sungut-sungut. Tetapi kita mau menjadi seperti Kristus yang senantiasa melihat dan memberikan keindahan bagi orang, merawat dan menyembuhkan.(kz)