Siapakah Israel Sejati itu?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (24)
Tema: Siapakah Israel Sejati itu?
Nats: Roma 9:1-13

Hari ini kita tiba di dalam pembahasan Roma 9, satu bagian yang sangat indah dan penting sekali bicara mengenai apa artinya menjadi umat Allah yang namanya Israel. Apakah Israel itu dinyatakan sebagai satu suku bangsa berdasarkan fisik atau sebenarnya Israel itu adalah spiritual Israel? Sebelum kita masuk kepada pembahasan Roma 9, 10 dan 11 secara mendetail, kita perlu memahami latar belakang konteks bagian ini sehingga kita bisa mengerti apa yang sebenarnya ingin Paulus sampaikan kepada penerima suratnya dan kepada kita sekalian yang hari ini membacanya. Ingatkan ada satu aspek yang penting yaitu rasul Paulus adalah orang Yahudi, yang membawa Injil dari orang Yahudi yang namanya Yesus kepada kelompok orang-orang bukan Yahudi, yaitu orang-orang Romawi, orang-orang Yunani, orang-orang barbar yang bukan suku bangsa Yahudi, dan melalui pelayanan Paulus orang-orang ini percaya dan terima Injil. Boleh kita bayangkan waktu mereka datang ke dalam jemaat Roma, kira-kira anggaplah yang datang berbakti 100 orang, mungkin hanya ada 5-10 orang Yahudi saja, selebihnya adalah orang non Yahudi. Lalu kitab yang dibuka dan dibaca oleh hamba-hamba Tuhan di situ jelas adalah kitab Perjanjian Lama, yang sangat asing bagi orang yang bukan Yahudi, tetapi sangat dikenal oleh orang Yahudi. Tetapi yang kenal dan tahu itu hanya satu dua orang saja sedangkan yang lain semua tidak. Tetapi pada waktu mendengar firman Tuhan, respon mereka yang bukan Yahudi itu sangat receptive melihat dan memahami keindahan keselamatan di dalam Yesus Kristus itu. Lalu makin lama makin banyak orang bukan Yahudi yang menerima dan percaya Tuhan. Orang yang sudah percaya lalu mengabarkan kepada teman-temannya tentang juruselamat yang namanya Yesus Kristus yang mengampuni dosa dan memberikan keselamatan, lalu  semakin banyak lagi orang yang percaya. Gereja Tuhan makin lama makin besar dan makin terus berkembang sebagai kumpulan orang dari berbagai bangsa yang disebut sebagai orang Kristen, umat Allah yang percaya dan menyembah Tuhan Yesus Kristus.

Bagi kita sekarang hal ini bukan menjadi persoalan karena kita tahu Allah telah membuka kesempatan dan anugerah keselamatan melalui Yesus Kristus bagi orang dari segala bangsa sehingga kita bisa datang kepada Allah dan menjadi umat Allah, tetapi pada waktu itu hal ini merupakan sesuatu hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Sampai kepada Kisah Rasul 28:17-29  Paulus berbicara kepada orang-orang terkemuka bangsa Yahudi di kota Roma, mereka tetap masih tidak mau terima bahwa keselamatan Allah disampaikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka mendengar dan menerimanya. Setelah Injil tersebar dan gereja terbentuk, kita bisa melihat adanya problem persoalan muncul. Ada dua kelompok ekstrim yang kemudian mengangkat persoalan ini. Kelompok yang pertama adalah kelompok orang Yahudi yang menuduh bahwa Paulus ingin membuang tradisi dan ajaran Allah dalam Perjanjian Lama dengan mengajarkan orang Kristen untuk tidak melakukan sunat, untuk melepaskan hukum Taurat dan tidak hidup menurut adat-istiadat dan tradisi Yahudi. Kisah Rasul 21 mencatat kelompok inilah yang kemudian pada waktu Paulus datang ke Yerusalem, ke dalam Bait Allah untuk berdoa, mereka menuduh Paulus ingin membuang tradisi Yahudi yang percaya kepada Allah Perjanjian Lama dan menciptakan huru-hara terhadap Paulus bahwa dia telah menajiskan Bait Allah. Kelompok itu berhasil menciptakan satu gelombang riot yang sangat besar dan akhirnya Paulus ditangkap dan diamankan oleh tentara Romawi karena dia adalah warga negara Roma, lalu kemudian nanti akhirnya Paulus dikirim ke Roma untuk diadili di hadapan Kaisar. Tetapi dari sisi yang lain ada kelompok orang Kristen bukan Yahudi yang juga ekstrim yang melihat Injil ini datang kepada orang bukan Yahudi dan membuat banyak sekali dari mereka, orang yang tadinya sama sekali tidak kenal Allah, orang-orang yang tadinya menyembah berhala, orang-orang yang tadinya sama sekali tidak mengerti rencana keselamatan Allah, mereka berbondong-bondong masuk dan menjadi orang percaya kepada Yesus Kristus dan jumlah mereka begitu banyak sedangkan sebaliknya  jumlah orang Yahudi yang percaya Yesus begitu sedikit adanya. Melihat fenomena itu mereka kemudian berpikir kalau demikian kitalah umat Allah yang baru, dan orang-orang Yahudi ini sudah dibuang oleh Allah. Rencana Allah kepada bangsa Yahudi ini sudah gagal. Dua ekstrim itu muncul.

Dari latar belakang konteks inilah kita bisa sedikit mengerti pada waktu kita membaca Roma 9 di sini Paulus perlu menjelaskan dengan tuntas apa artinya menjadi umat Israel yang sejati dan Paulus menegaskan bahwa meskipun banyak sekali orang Yahudi yang tidak mau terima Tuhan Yesus, tidak berarti Allah sudah gagal di dalam rencanaNya di Perjanjian Lama. Maka dari pembahasan Paulus di sini kita bisa melihat apa yang firman Allah ingin bicara kepada kita berkaitan dengan bagaimana Tuhan menyatakan pemilihanNya kepada bangsa Israel terus sampai Yesus datang dan bagaimana bangsa-bangsa yang lain bisa percaya. Jadi di sini Paulus menegur kepada kelompok orang Kristen yang bukan Yahudi yang mengatakan terlalu banyak orang bukan Yahudi yang percaya Tuhan sedangkan hanya sedikit sekali orang Yahudi yang percaya Tuhan, maka menunjukkan orang Yahudi sudah dibuang oleh Allah dan janji Allah di Perjanjian Lama gagal. Tidak. Allah tidak pernah gagal dalam berfirman. Ingatkan, engkau bisa mendapat semua berkat Injil ini datangnya dari Yesus Kristus yang adalah Mesias-nya orang Yahudi. Yang kedua, sekaligus bagi kelompok ekstremis orang-orang Yahudi yang melihat rasul Paulus sebagai orang Yahudi begitu giat melayani orang bukan Yahudi, maka mereka memfitnah rasul Paulus sebagai orang yang tidak mencintai orang Yahudi. Paulus membantah fitnahan mereka. Paulus berkata, “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus; aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (Roma 9:1-3). Maka pada waktu kita membaca ayat-ayat ini, kita bisa mengerti kenapa Paulus berkata seperti ini. Tidak gampang tidak mudah, pada waktu engkau fokus mau melakukan sesuatu, orang bisa salah mengerti dan mengatakan hal yang keliru tentang engkau. Maka Paulus menyatakan perasaan hati emosinya dengan satu tone yang sangat menyentuh hati kita, yang satu bernada positif dan yang satu lagi bernada negatif. Boleh kita katakan di sini Paulus seperti orang yang sedang “bersumpah.” Dia begitu bersungguh-sungguh mencetuskan emosinya dan menyatakan apa yang sedang terjadi di dalam hatinya. “I am speaking the truth in Christ, I am not lying, my conscience bears me witness in the Holy Spirit,” itu frase yang Paulus keluarkan. Lalu dia menyatakan perasaan hatinya. “Aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati,” memperlihatkan great sorrow dan anguish, itu adalah keluhan dan frustrasi yang luar biasa. Paulus sudah melakukan pelayanan yang luar biasa bagi orang sebangsanya. Bahkan demi Injil Yesus Kristus sampai dia dilempari batu, mengalami kesulitan luar biasa, berpuluh-puluh tahun dia melakukan seperti ini, tetapi mengapa orang-orang Yahudi yang secara fisik itu mengenal Perjanjian Lama, yang tahu janji-janji Allah, mereka tidak mau terima Yesus sebagai Tuhan, Mesias dan Juruselamat itu. Dan itu membuat Paulus anguish luar biasa. Itulah keluhan dari rasul Paulus di sini. Aku berdukacita, anguish luar biasa, sedih luar biasa, karena melihat orang-orang yang secara fisik lahir sebagai orang Yahudi tetapi menolak Injil keselamatan dalam Kristus. Jelas sekali mereka mengenal apa yang Allah katakan dan janjikan tetapi mereka tidak mau terima Mesias yang telah dijanjikan Allah itu sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dan itu adalah kesedihan hati dan anguish. Yang kedua, Paulus mengeluarkan satu kalimat yang lebih dalam lagi. “Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku kaum sebangsaku secara jasmani ini” (Roma 9:3). Artinya, kalau saja mereka semua bisa percaya dan terima Tuhan Yesus, aku tidak masuk surga pun tidak apa-apa. Itulah pernyataan hati seorang pemimpin dan gembala. Luar biasa! Hanya ada dua orang yang berkata seperti itu di dalam Alkitab kita. Yang satu adalah Musa yang tercatat dalam Keluaran 32:30-32, setelah Musa turun dari gunung Horeb membawa 2 loh batu bertulis 10 hukum Allah, tetapi di bawah gunung bangsa Israel sedang menyembah lembu emas. Di tengah dia kecewa dan marah, anguish luar biasa, dia mendengar Tuhan berkata, Ia akan menghancurkan dan membinasakan mereka, di situ Musa tersungkur dan berkata kepada Tuhan, “Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu, dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kau tulis asal orang-orang ini Tuhan selamatkan.” Doa seperti itu jelas sesuatu yang tidak mungkin terjadi sebab bukan kita yang menentukan kita selamat atau tidak selamat tetapi Tuhan sendiri, tetapi doa ini menyatakan isi hati Musa yang seperti itu. Dan itulah hal yang sama dengan Paulus. Dia tidak berbuat salah; dia sudah melakukan yang terbaik; dia melayani dengan indah. Dia memberitakan Injil kepada orang Yahudi, tetapi hasilnya hampir tidak ada. Bahkan sampai dia mengatakan aku tidak masuk surga tidak apa-apa asalkan mereka terima Tuhan dan percaya Tuhan. Apalagi yang kurang dari hati Paulus dalam pelayanan kepada orang Yahudi?

Lalu ada hal yang menarik, dalam bagian-bagian Roma di pasal sebelumnya Paulus menyebut “orang Yahudi dan orang Yunani” sebagai kontras orang Yahudi dan orang kafir. Tetapi untuk pertama kalinya kita perhatikan dalam Roma 9:4 dia memakai satu kata yaitu “Israel.” Apa perbedaannya? Apa yang ingin Paulus katakan di sini? Menarik sekali. Waktu Paulus bicara mengenai keselamatan dakam Yesus Kristus itu adalah bagi semua orang yang percaya, orang yang mau terima Injil tidak ada perbedaan. Entahkah orang itu orang Yahudi ataukah orang bukan Yahudi, semua kita perlu keselamatan di dalam Yesus Kristus (Roma 3:22). Tetapi sekarang pada waktu Paulus bicara mengenai “Israel” maka Paulus masuk kepada satu aspek makna yang penting yaitu bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk satu rencana yang penting yaitu menjadi satu umat Allah. Dan umat Allah itu bukan Yahudi secara fisik, bukan karena keturunan secara biologis, umat Allah itu adalah umat yang disebut Israel. Kata “Israel berarti Allah memilih orang-orang ini untuk menjadi umat Allah. Di dalam Perjanjian Lama jelas sekali Allah memilih satu suku, satu bangsa yang namanya Yahudi ini, yang kemudian dijadikan sebagai Israel, umat Allah. Tetapi Paulus di sini memakai kata Israel untuk memberitahukan kepada kita satu tema akan berubah supaya kita sadar Tuhan menyelamatkan orang itu bukan karena dia orang Yahudi, Tuhan menyelamatkan karena dia adalah Israel, dan walaupun engkau bukan keturunan biologis suku-nya orang Yahudi, engkau adalah orang Israel. Paulus sekaligus menegaskan janji-janji itu diberikan bukan kepada orang Yahudi, janji itu diberikan kepada satu umat yang namanya Israel. Paulus sengaja pakai kata itu.

Dalam Roma 9:4-5 Paulus bilang, bangsa Yahudi dipilih dalam Perjanjian Lama memiliki beberapa privilege atau hak khusus. Privilege pertama, karena Allah memilih orang Yahudi menjadi umatNya, dijadikan sebagai Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, itu adalah satu privilege dari Allah. Privilege kedua, mereka melihat kemuliaan Allah. Privilege ketiga, Allah memberikan janji-janji dan hukum Taurat kepada mereka. Keempat, mereka adalah keturunan dari bapa-bapa leluhur yang daripadanya menurunkan Mesias dalam keadaan sebagai manusia, berarti secara fisikNya Yesus Kristus adalah orang Yahudi. Jadi kamu bisa menerima Injil, kamu bisa percaya Yesus Kristus, itu bukan datang seketika, tetapi karena adanya privilege ini. Ada akarnya, akarnya adalah janji Allah kepada bangsa Yahudi.

Bagaimana misteri Allah bekerja sehingga pikiran kita bisa terbuka dan memberikan pengertian yang baru kepada kita, kita bersyukur dan menghargai itu. Seringkali karena tradisi dan kungkungan pikiran yang tidak pernah bisa melihat dengan benar, itu seringkali menjadi sesuatu yang luar biasa tantangannya. Kehidupan bergereja dan pelayanan seringkali menghadapi seperti ini. Ikatan pikiran dan tradisi yang tidak pernah kita pikirkan matang-matang lalu kita pikir itu menjadi sesuatu hal yang benar, membuat orang itu menjadi fanatik dan ngotot. Maka ketika ada hal yang baru, pengertian yang baru muncul mereka menjadi resistan dan melakukan perlawanan yang luar biasa, tidak bisa dimengerti oleh orang. Betapa tidak mudah merubah cara berpikir dan sesuatu konsep tradisi yang salah dan keliru yang sudah berurat akar seperti itu, kaku luar biasa.

Secara tradisi orang yang bukan Yahudi boleh menjadi orang yang percaya Allah-nya orang Yahudi dan masuk menjadi umat Allah asalkan dengan syarat orang itu masuk sebagai proselit, dengan dua komitmen dengan upacara dengan disaksikan di depan umum dia mengaku Allah Yahweh sebagai Allahnya dan kemudian dia disunat sebagai tanda eksternal orang itu sudah menjadi umat Allah dan takluk kepada seluruh aturan Perjanjian Lama. Tradisi itu sudah berjalan ribuan tahun lamanya sejak jaman Musa. Sehingga orang Yahudi yang percaya kepada Yesus, dia melihat ada orang bukan Yahudi yang percaya Yesus, bagaimana memperlakukan mereka? Karena masih memegang cara berpikir tradisi Yahudi maka mereka menuntut orang bukan Yahudi mau masuk sebagai orang Kristen mereka harus disunat. Itulah problem yang terjadi pada jemaat Galatia sehingga Paulus harus menegaskan kepada mereka, tidak. Kita diselamatkan bukan karena kita melakukan aturan-aturan hukum Taurat, tetapi karena Yesus Kristus.

Paulus menjelaskan apa yang dia ajarkan bukan ajaran baru. Sejak Perjanjian Lama segala rencana dan janji Allah tidak pernah gagal. Betul, berkat Allah, keselamatan Allah itu turun melalui umatNya yang namanya Israel. Tetapi kalau engkau baca baik-baik Perjanjian Lama, firman Allah jelas menyatakan bukan karena engkau lahir sebagai orang Yahudi maka otomatis engkau menjadi umat Israel. Itulah argumentasi Paulus di sini. “Tidak semua yang berasal dari Israel adalah orang Israel dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham ” (Roma 9:6-7). Buktinya apa? Maka kemudian Paulus memberikan dua argumentasi dari nenek moyang orang Yahudi sendiri. Argumentasi yang pertama Roma 9:7-9 yaitu Abraham kepada anaknya yang bernama Ishak. Sebelumnya Abraham kuatir sekali Allah sudah berjanji untuk memberi seorang anak sebagai keturunannya tetapi setelah beberapa tahun tidak terjadi, akhirnya Abraham kemudian mengambil Hagar, budaknya untuk melahirkan anak bagi Abraham yang bernama Ismael. Bedanya Ismael dengan Ishak adalah begini: Ismael memang lahir secara fisik sebagai keturunan Abraham, sedangkan Ishak adalah keturunan janji. Kenapa? Karena secara fisik mustahil Sara, isteri Abraham yang sudah berusia 90 tahun itu, tidak mungkin bisa melahirkan anak. It is only by the power of God, it is only by the promise of God. Sara sudah tidak sanggup berbuat apa-apa, Tuhan bilang, tahun depan, engkau akan melahirkan anak. Tertawa Sara mendengar kalimat itu. Bayangkan, sudah nenek-nenek, bagaimana bisa? Tuhan bilang, engkau tertawa mendengar janjiKu? Maka nama anakmu adalah Ishak, yang artinya tertawa. Memang betul, Ishak secara fisik adalah keturunan Abraham, tetapi jangan lupa Ishak itu adalah anak janji. Maka Tuhan Allah mengatakan melalui keturunan Ishak maka Israel sejati akan terjadi, maka anak-anak Ishak adalah anak-anak janji. Argumentasi kedua, Roma 9:10-13 ketika kemudian Ishak punya isteri yang namanya Ribka mengandung dan di dalam kandungannya itu kembar, maka meskipun secara biologis kedua anak ini adalah anak Ishak, tetapi sebelum anak-anak itu lahir dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, Allah memilih anak yang disebut sebagai the spiritual Israel adalah Yakub. Pilihan Allah tidak berdasarkan perbuatan orang itu karena pemilihan itu terjadi pada saat mereka masih berada di dalam kandungan ibunya. Tuhan mengatakan dari dua anak itu, Aku memilih yang bungsu, Yakub. Aku tidak memilih yang sulung, Esau. Berdasarkan apa? Bukan berdasarkan perbuatan dan jasa tetapi berdasarkan panggilan dan pilihan Allah.

Maka berdasarkan dua argumentasi itu Paulus mengatakan di sinilah yang namanya Israel bukan karena lahir secara fisik tetapi karena secara spiritual. Prinsip itu sudah terjadi sejak di Perjanjian Lama, Allah tidak merubah prinsipnya. Sehingga nanti meskipun kamu bukan secara fisik keturunan orang Yahudi, engkau bisa dipanggil sebagai orang Israel karena janji Allah dan karena iman di dalam Yesus Kristus. Firman Allah tidak pernah gagal. Bukan dirubah sistemnya, tetapi dari dulu sudah begitu. Tidak semua yang lahir secara biologis fisiknya sebagai orang Israel otomatis mereka secara spiritual adalah umat Israel. Tetapi yang berdasarkan anugerah dan janji Allah, itulah prinsipnya. Yang kedua, bukan karena perbuatan baik dan jasamu engkau diselamatkan, tetapi berdasarkan panggilan Allah dan iman di dalam Yesus Kristus.

Roma 9 kembali membawa kita melihat betapa agungnya Kristus itu, yang di dalam diriNya Allah merencanakan keselamatan bagi kita, yang kalau kita telusuri perjalanan sejarahnya begitu luar biasa. Dari panggilan dan pilihan kepada Abraham, dst nanti sampai kepada kenapa kita bisa disebut sebagai umat Israel, karena percaya Yesus kemudian kita menjadi umat Allah. Kita bersyukur satu hal yang kita pegang hari ini kita belajar isi hati Paulus dalam pelayanannya, kita mengerti firman Allah tidak pernah gagal. Walaupun melewati sampai puluhan bahkan ribuan tahun, firman Allah tidak pernah gagal dalam melaksanakan tugasnya. Allah memberikan bagian firman Tuhan ini supaya kita bisa melihat keindahan pekerjaan Tuhan sepanjang sejarah begitu luar biasa. Bagaimana Allah bekerja, merencanakan, mengatur segala sesuatu bagi keselamatan kita, yang nyata dan menjadi puncak ketika Kristus Tuhan menjadi Mesias dan Juruselamat di tengah-tengah kita. Kita yang bukan umat Allah menjadi umat Allah; kita yang lahir sebagai suku lain sekarang boleh menjadi Israel di dalam Tuhan oleh sebab kita menerima dan percaya kepada Kristus. Bersyukur untuk hak khusus privilege yang indah ini, hak khusus yang boleh membuat kita menjadi ahli waris dari setiap janji dan berkat yang Kristus terima dan itu juga menjadi milik kita.(kz)