Menanti Tuhan dengan Sabar

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (22)
Tema: Menanti Tuhan dengan Sabar
Nats: Roma 8:17-27

Roma 8:17-27 ini menjadi penghiburan yang luar biasa indah bicara mengenai penderitaan yang timpa di dalam hidup orang-orang percaya. Bagi mereka yang mengalami penderitaan fisik dan disiksa dalam penjara dan menghadapi berbagai kesulitan oleh karena iman mereka, pada waktu membaca bagian ini mereka merasakan bahwa janji-janji kebenaran firman Tuhan ini betul-betul real dan nyata apa yang mereka alami bersama dengan Tuhan. Paulus berkata, “Sebab aku yakin bahwa penderitaan jaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18). Paulus bicara mengenai kemuliaan yang akan kita terima di dalam Yesus Kristus, itulah yang menjadi kekuatan dan pengharapan bagi dia. Di sepanjang jaman tidak akan ada henti-hentinya orang Kristen mengalami serangan, tekanan dan penderitaan itu. Kita harus berdiri menjadi anak-anak Allah yang indah walaupun kita harus melewati kesulitan dan penderitaan yang bagaimana pun beratnya, maka bagian ini sangat indah dan penting sekali untuk memberi kekuatan yang solid bagi kita juga. Dengan kata lain ini semua jangan pernah menghancurkan iman kita; ini semua jangan pernah membuat kita kehilangan relasi yang penting dengan Tuhan; ini semua tidak boleh membuat kita akhirnya menjual keindahan bersama dengan Tuhan Yesus karena upah dan apa yang akan kita dapatkan nanti tidak bisa dibandingkan dengan semua ini.

Minggu lalu saya katakan ada 3 keluhan yang luar biasa muncul di sini. Pertama, keluhan dari seluruh mahluk karena beratnya dan dahsyatnya penderitaan hidup di dalam dunia yang sudah terkutuk oleh dosa ini. “Karena seluruh mahluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan” (Roma 8:20). Ini adalah keluhan yang universal dari segala mahluk. Paulus memberikan satu gambaran personifikasi dari keluhan yang dinyatakan oleh semua mahluk dan alam yang sudah terkutuk oleh karena dosa. Personifikasi maksudnya semua mahluk itu tentu tidak bisa berbicara dan berkata-kata seperti manusia, tetapi mahluk-mahluk ciptaan ini seolah-olah bisa berteriak dengan keluhan yang besar oleh karena penderitaan mereka. Coba kita bayangkan kalau pohon-pohon bisa berbicara, mereka akan mengeluarkan lolongan dan teriakan karena kepedihan dan sakit. Betapa mereka merasa berat dan merasa tidak berdaya karena dunia ini sudah dikutuk oleh Tuhan. Apalagi anak-anak Tuhan pada waktu penderitaan dan kesulitan dan tekanan karena dosa akan membuat kita pasti akan melolong dan mengeluh dengan suara keras. Kalau pohon-pohon yang tidak punya mulut saja kalau ada kesempatan bisa berteriak, apalagi manusia.

Masing-masing kita memiliki keluhan karena penderitaan yang berbeda. Orang yang sudah tua mengeluh karena kelemahan tubuh dan sakit penyakit yang tidak kunjung sembuh. Anak muda mungkin tidak demikian, tetapi satu kali kelak mereka juga akan mengalami hal yang sama. Setidaknya kita mungkin akan mengalami penderitaan yang tidak kita sangka dan duga, ada penyakit kanker yang datang menyerang tubuh kita di usia muda. Atau mungkin anak yang lahir dalam keluarga mengalami sakit yang parah sejak lahir dan membutuhkan perawatan yang serius, dan mengalami kelainan mental dan fisik yang parah sehingga seumur hidupnya kita harus merawat dan membesarkan dia di dalam kesulitan seperti itu. Kita akan makin mengeluh lagi ketika kita menyadari bahwa tidak ada tempat yang aman bagi anak-anak kita pada waktu mereka berada di luar rumah. Dalam dunia berada di bawah kutukan dosa, kita mengeluh, kita menanti-nantikan kapankah kita dibebaskan dari segala kesulitan dan penderitaan ini?

Namun firman Tuhan membukakan satu hal yang indah luar biasa, di tengah-tengah kesia-siaan itu tetap ada pengharapan, “karena mahluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Roma 8:21). Bagian ini unik sekali karena di sini kita bisa melihat keselamatan dan penebusan yang Tuhan Yesus berikan sesungguhnya bukan hanya mengenai keselamatan secara individu bagi setiap kita, tetapi merupakan satu cosmic redemption, satu penebusan secara kosmik universal bagi alam semesta yang Ia ciptakan ini.

Yang kedua, keluhan anak-anak Tuhan, ini adalah satu keluhan spiritual yang dalam luar biasa, satu ciri tanda yang penting dari seseorang yang melihat segala sesuatu dengan perspektif spiritual di dalam hidupnya. Keluhan yang Paulus katakan di sini bisa dikatakan sebagai restless spirit dalam diri, hati yang tidak pernah tenang bukan karena kuatir atas segala kesulitan dan persoalan hidup, tetapi lebih dalam daripada itu, dia melihat lebih dalam apa yang ada di sekitarnya berkaitan dengan peperangan spiritual dan perlawanan kepada Tuhan dan anak-anak Tuhan. Pada waktu Yesus melihat kota Yerusalem, Dia mengeluarkan satu ratapan keluhan seperti ini. “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Matius 23:37-39). Jujur dalam hati saya sebagai seorang hamba Tuhan senantiasa memiliki visi dan mata rohani seperti itu, dan kita rindu kita selalu harus melihat dengan mata rohani apa yang ada di sekitar kita. Apakah kita bisa melihat visi yang sama? Apakah kita bisa melihat pimpinan Tuhan yang sama di dalam kita melihat pekerjaan Tuhan? Pada waktu kita melihat kehidupan gereja-gereja di Indonesia maupun Australia menghadapi tantangan hari ini, bagaimana? Sepuluh tahun yang akan datang, kira-kira bagaimana? Coba kita melihat seperti itu. Kadang-kadang kita merasa tidak kuat, tidak berdaya dan tidak sanggup, begitu melihat segala kesulitan dan tantangan yang besar luar biasa membuat kita hanya bisa groaning. Pada waktu kita melihat satu-persatu negara-negara Barat dengan hasil vote mayoritas memutuskan untuk melegalisasi pernikahan sesama jenis, sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang Tuhan mau, bagaimana the sanctity of marriage, kekudusan pernikahan itu mereka tolak, kita hanya bisa mengeluh dengan tidak berdaya di situ. Seperti Lot yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, Lot setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa (lihat 2 Petrus 2:7-8). Adakah groaning dalam spiritual kita? Spiritual vision itu harus ada di dalam gereja Tuhan, karena gerejalah yang menjadi hati nurani masyarakat, gereja yang pimpin masyarakat, dan gerejalah yang memimpin setiap keluarga kita.

Harapan saya, jadikan keluarga kita sebagai shelter yang aman dan stabil ketika anak-anak kita berlindung dari kesulitan dan tantangan yang ada di luar. Saya rindu kita juga menjadikan gereja kita sebagai satu tempat yang aman bagi keluarga-keluarga kita. Karena apa? Karena di luar mereka menghadapi kesulitan dan tantangan yang tidak habis-habisnya menimpa hidup mereka. Hanya di tempat ini mereka mendapatkan kasih, hanya di tempat ini mereka mendapatkan tempat naungan, hanya di tempat ini mereka boleh mendapatkan shelter yang kuat untuk berlindung. Tetapi jikalau kita menciptakan tempat yang penuh dengan kegaduhan, tidak ada henti-hentinya pertengkaran dan perselisihan antara suami isteri, bahtera rumah tangga kita bergoncang keras membuat anak-anak kita tidak melihat Allah sebagai gunung batu yang kokoh tempat naungan dan perlindungan bagi keluarga kita. Kalau rumahmu sudah kacau berantakan, anakmu tetap tidak mau pulang walaupun besar dan berat gelombang kehidupan yang menerpanya karena tidak ada tempat perlindungan dalam rumahmu. Jangan pernah bawa pulang segala kesulitan yang engkau hadapi di tempat kerja dan menjadikan isteri dan anak-anakmu korban dari frustrasi dan kekesalanmu. Jangan pernah bawa persoalan yang engkau hadapi di tempat kerja bukan dengan tujuan untuk menghindar dari persoalan itu tetapi untuk mengajarkan kepada anak-anakmu bahwa engkau memiliki Allah tempat pertongan dan gunung batu perlindunganmu dan shelter di saat kesulitan dan tantangan datang kepadamu. Bahkan sekalipun engkau baru saja dipecat dari pekerjaanmu, engkau pulang ke rumah tetap jadikan rumahmu sebagai shelter yang aman bagi keluargamu. Katakan kepada anak-anak, Tuhan akan mencukupkan kebutuhan keluarga kita, bawa anak-anak berdoa bersama. Sehingga nanti pada waktu anak-anak kita mengalami hal yang sama, mereka mendapatkan kekuatan dan pertolongan itu. Banyak hal besar maupun hal kecil bisa terjadi dan bagaimana pun mereka mendapat pertolongan dan kekuatan itu dari orang tua yang memberikan contoh dan teladan yang indah.

Yang ketiga, groaning karena kita menyadari selama kita masih hidup di dalam dunia tubuh fisik kita begitu terbatas. Kita bisa sakit, kita bisa menjadi lemah, kita sadar satu hari kelak kita akan mati dan meninggalkan dunia ini. Cepat atau lambat kita pasti akan meninggal. Dalam 2 Korintus 5:2 Paulus berkata, “Selama kita di dalam kemah ini kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman surgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini.”  Roma 8:23 “Dan bukan hanya mereka saja tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak yaitu pembebasan tubuh kita.” Satu kali kelak kita akan menerima tubuh yang tidak dapat lagi binasa, tidak ada lagi sakit-penyakit dan kematian datang kepada kita. Selama dalam tubuh ini kita mengeluh karena kelemahan dan keterbatasan, kita tidak sanggup melakukan banyak hal dalam dunia ini. Hari itu, yang tidak punya kaki akan mempunyai kaki untuk melompat memuji Tuhan, yang tidak punya tangan akan mempunya tangan yang akan teracung tinggi memuliakan Tuhan, yang bisu hari itu akan berseru memanggil nama Tuhan, yang tuli akan terbuka telinganya bisa mendengar dan menikmati segala suara-suara pujian yang tidak henti-hentinya berkumandang dari mulut orang-orang yang mengasihi Allah. Hidup kita terbatas, bahkan penderitaan kita pun terbatas hanya selesai sampai di dunia ini. Dan itu semua yang di dunia tidak boleh menjadi yang ultimate. Kita berusaha menjaga kesehatan, kita berusaha melakukan berbagai cara untuk supaya bisa menjaga kebugaran, makan makanan yang sehat dan bergizi, berolah raga dengan teratur, itu semua adalah hal-hal yang penting dan merupakan tugas tanggung jawab kita sendiri. Pada waktu sakit, kita berobat ke dokter, kita memakan obat dan vitamin, dsb supaya kita menjadi sembuh. Tetapi pengobatan, dokter dan segala kemajuan teknologi kedokteran tidak boleh kita jadikan sebagai ultimate untuk kita menuntut bahwa kita harus sehat selama-lamanya. Jikalau tidak memiliki perspektif seperti ini] akhirnya kita akan rela mengorbankan segala-galanya demi untuk kesehatan kita. Bahkan kita rela merugikan orang lain demi untuk kesehatan kita. Tidak sedikit orang Kristen yang tega membeli ginjal dari orang yang dalam kemiskinan semata-mata untuk diri sendiri. Jangan sampai kita seperti itu. Sekuat-kuatnya kita berusaha, sampai suatu saat, kita bisa meninggal dunia. Dan sebagai orang percaya kita tahu kematian bukan akhir dari segala-galanya. Kita harus mempunyai perspektif yang benar di dalam hal seperti ini.

Itu sebab Paulus berkata, satu kali kelak kita akan mendapatkan tubuh yang mulia. Kita menantikan hari itu akan tiba. Tetapi selama di dunia ini kita mengeluh sebab kita tahu dengan tubuh kita yang terbatas ini Tuhan masih jauh daripada kita. Tubuh kita, penderitaan kita, bisa membuat kita jauh daripadaNya. Keinginan dari kedagingan kita membuat kita merasa kita harus dipuaskan sehingga kita tidak memuliakan Tuhan dalam hidup ini. Paulus mengatakan aku mengeluh sebab selama aku hidup dalam tubuh ini aku masih jauh dari Tuhan. Kita menanti-nantikan tubuh kemuliaan yang Tuhan janjikan itu. Di situ tidak ada lagi sakit, tidak ada lagi kelemahan, kita akan berdoa memuji memuliakan Dia dalam roh dan kebenaran dengan tidak ada kelemahan itu lagi. Kita akan menikmati firman Tuhan dan mengerti lebih dalam daripada sebelumnya. Pada saat sekarang kita mempunyai kerinduan untuk melakukan firman Tuhan tetapi tubuh kedagingan kita bisa menipu kita dan membuat kita tidak sanggup menaati firmanNya dengan sempurna. Pada saat kita datang berbakti kepada Tuhan kita begitu ingin memuji dan membesarkan nama Tuhan, tetapi tubuh kita begitu lemah dan begitu mudah distracted, lelah dan tidak mampu memusatkan perhatian kita sepenuhnya. Pada waktu Yesus berada di taman Getsemani, Dia meminta Petrus, Yakobus dan Yohanes berjaga-jaga bersamaNya di saat-saat yang paling berat itu. Tetapi mereka tertidur karena lelahnya. “Tidak sanggupkah engkau berjaga-jaga satu jam saja bersamaKu?” kata Tuhan Yesus (Matius 26:40-41). Roh penurut tetapi daging lemah. Itulah fakta dan realita kelemahan tubuh ini. Maka Paulus dalam bagian ini berkata, betapa rindu dia menantikan untuk mendapatkan tubuh yang mulia itu.

Selanjutnya Roma 8:24-27 menjadi bagian yang sangat penting. Pertama, Roma 8:24 dimulai dengan kalimat “Sebab kita telah diselamatkan dalam pengharapan.” Kita telah diselamatkan, kita telah ditebus dengan darah Yesus yang mahal itu, kita sudah menjadi milik Tuhan. Yang kita lakukan adalah kita berjalan ke depan meskipun banyak hal kita tidak bisa lihat dan tidak bisa mengetahui. Kita hanya bisa berpegang kepada janji Tuhan, berjalan saja, tetap maju, Allah akan menyertai kita. Kita sering meminta untuk melihat dulu baru kita bisa jalan, tetapi Paulus bilang we walk by faith, not by sight. Kalau sudah melihat dulu, kalau sudah terjadi dulu baru kita berjalan, itu namanya bukan pengharapan. Pengharapan justru adalah sesuatu yang memang tidak kita lihat. Yakinkah kita? Itu sebab kalimat di depan menjadi sekuritas kita “You have been saved by hope.” Now follow Me. Jalan di depan bersama dengan Tuhan. Meskipun belum kita lihat, meskipun belum kita tahu, itu pengharapan kita di depan. Pada waktu kita menengok ke belakang, baru kita bisa melihat tidak ada hal perjalanan yang Tuhan pimpin itu dalam hidupmu yang tidak ada jejak kaki Tuhan di situ. Betapa indah Tuhan memimpin dan memberkati kita, di situ hanya syukur dan pujian yang bisa keluar dari mulut kita.

Yang kedua, Roma 8:25  menaruh satu prinsip yang penting yaitu kita menantikan, kita berjalan dengan tekun. NLT menyebutkan dua kata: patience and confidence. Dengan mengatakan dengan dua kata itu, maka kata tekun bukan hanya dimengerti sebagai satu kesabaran, tetapi di situ juga ketekunan disertai dengan keyakinan [confidence] di tengah tekanan yang begitu besar. Jadi tekun bukanlah soal hati kita yang sabar karena kita tidak pernah marah. Tekun adalah sikap orang yang dengan sabar menanggung sesuatu dengan beban yang berat, meskipun tidak suka dan tidak enak. Ketika menghadapi hal yang dia tidak suka dan tidak enak, orang lebih cepat lari dan menghindar dan mau lepas. Jangan kita lari, jangan kita menghindar darinya. Tekun berarti menjalaninya dengan sabar. Tidak akan menjadi beban, tidak akan pernah mengecewakan kita, tidak akan pernah membuat kita merasa tidak ada artinya, sebab ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa satu hari kelak kita akan mendapatkan segala kemuliaan itu jika kita menderita bersama-sama dengan Kristus. Kiranya firman Tuhan ini boleh menjadi berkat yang berbicara bagi engkau dan saya. Jadikan firman Tuhan ini sebagai firman yang menolong kita dari segala kelemahan, beban berat yang kita pikul dan yang kita tanggung pada hari ini. Kiranya firman Tuhan ini memberikan kekuatan dan penghiburan kepada kita berjalan melewatinya.

Pada waktu Ken Tada, suami dari Joni Eareckson Tada diwawancara, pertanyaan pertama yang senantiasa muncul dari orang adalah kenapa dia mau menikah dengan seorang yang lumpuh? Dan Ken menjawab, simple dan sederhana, alasan kenapa dia mau menikah dengan Joni adalah karena dia jatuh cinta kepada wanita ini dan tidak melihat kelumpuhan itu sebagai penghalang. Tetapi apakah pernikahan ini berjalan dengan smooth? Sejujurnya dua tahun pertama pernikahan, Ken mengalami satu keadaan yang luar biasa berat. Setiap malam dia harus bangun untuk membalikkan posisi tubuh Joni dan memberikan soothing di tengah sakit yang Joni alami dan itu membuat dia hampir tidak tahan. Di dalam kesulitan pernikahan seperti itu, suatu kali dia berkata kepada Joni, “Joni, I feel trap [in this marriage].” Aku merasa terjebak menikah denganmu. Kalimat yang jujur menyatakan keputus-asaannya kepada tekanan yang begitu besar, dia bukan tidak cinta lagi kepada Joni dan hendak meninggalkan dia, tetapi betapa dahsyat tekanan yang dia hadapi menjalani pernikahan seperti itu membuatnya merasa terpenjara dalam kesesakan. Saat itu Joni hanya bisa menangis dan mengasihani diri. Tetapi kedua kali Ken mengatakan hal yang sama, Joni mengatakan, aku sangat mengerti apa yang engkau sedang rasakan karena aku sendiri juga merasa terpenjara dengan tubuhku yang lumpuh ini. Saya mau apa, saya tidak bisa apa-apa. Tubuh yang cacat lumpuh ini membuat jiwaku yang kreatif dan imajinatif tidak berdaya melakukan apa-apa. Aku tidak bisa menolong engkau lepas dari pernikahan ini, tetapi aku berjanji akan mendampingi dan mendukung engkau melewatinya bersama-sama. Dalam hidup kita masing-masing juga bisa mengalami perasaan seperti itu. Apakah engkau merasa terjebak dalam hidup pernikahan, apakah engkau merasa terperangkap dalam hidup pekerjaan, apakah engkau merasa begitu besar dan berat tekanan yang engkau hadapi dalam segala hal? Kita merasa seperti itu karena itulah keterbatasan kita. Kalau begitu, apakah sdr mau keluar dan lari dari penderitaan itu? Tetap kita akan menghadapi problem yang sama di mana saja kita pergi. Paulus tidak bilang penderitaan yang kita alami begitu berat, kalau begitu cepat-cepat mati saja. Tetapi kita berjalan di dalam pengharapan dan rindunya satu hari kelak kita semua akan bangkit dan mendapatkan tubuh yang akan lepas dari segala penderitaan, itulah yang kita nantikan. Sekarang, di saat menantikan hal itu, apa yang perlu kita lakukan? Kita minta Tuhan memberi kita kekuatan untuk menjalani dan melewatinya dengan tekun dan sabar, dengan persistent dan confident dan dengan segala keindahan dalam apa saja yang kita lakukan. Biar firman Tuhan ini menolong kita melihat dari perspektif bagaimana Tuhan pimpin hidup kita masing-masing.(kz)