The Marks of a True Christian

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (20)
Tema: The Marks of a True Christian
Nats: Roma 8:13-17

“Sebab jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati. Tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Roma 8:13).

Roma 8:13 ini adalah ayat yang penting luar biasa dan sekaligus merupakan satu peringatan, pada waktu firman Tuhan ini mengatakan kata “kamu” maka kalimat ini bukan dialamatkan kepada orang yang tidak percaya tetapi dialamatkan kepada jemaat Tuhan, kepada kita yang sudah ditebus oleh Tuhan. Firman Tuhan memperingatkan hidup kita ini milik Tuhan, maka kita jangan lagi hidup mengikuti sinful nature kedagingan, karena kita akan mati. Ini satu warning yang begitu serius luar biasa, Paulus bicara mengenai spiritual death. Pada waktu kita tidak menyatakan ketaatan kita kepada Allah di dalam kesehari-harian kita ikut Dia, spiritual kita bukan saja dangkal dan sakit, tetapi mati. Kenapa muncul warning ini? Karena kita bisa melihat apa yang Paulus katakan di dalam 1 Korintus 3:10-15, sebagai orang percaya hidup kita dibangun di atas dasar yang telah diletakkan yaitu penebusan Yesus Kristus, tetapi masing-masing kita bertanggung jawab di hadapan pengadilan Tuhan bagaimana kita membangun di atasnya. Bangunan itu satu kali kelak akan nampak nyata di hadapan Allah. Dan sebagai metafora Paulus menyebutkan 6 macam material yang dibangun orang di atasnya. Ada yang membangun dengan emas, perak dan batu permata; dan ada yang membangun dengan kayu, jerami dan rumput kering. Tiga material yang pertama tidak akan hangus dan habis terbakar api dan semakin dibakar akan semakin murni, sedangkan tiga material yang selanjutnya adalah material yang akan hangus dan habis terbakar. Di ayat 14-15 Paulus mengatakan, “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian tetapi ia sendiri akan diselamatkan tetapi seperti dari dalam api.”

Roma 8:13-17 bicara ketika kita mengkaitkan hidup kita dengan Roh Allah, di situ ada kehidupan rohani yang menjadi ciri yang penting di dalam hidup kita.

Pertama, ciri yang penting dari hidup orang-orang yang menjadi milik Allah adalah hidup yang mematikan kedagingan sinful nature. Maka panggilan Paulus dalam Roma 8:13 adalah satu panggilan yang serius, jangan lagi hidup kita dikuasai oleh keinginan daging karena kita akan mati, tetapi hidup dikuasai Roh Allah sehingga kita mematikan perbuatan-perbuatan tubuh, maka kita akan hidup. Di sini Paulus bicara mengenai satu hidup yang baru yaitu hidup yang dikuasai oleh Roh Allah. Apa artinya? Orang itu senantiasa memiliki satu perasaan hati yang terus-menerus bergejolak, ada rasa takut kepada Allah, ada kesadaran bahwa kita bergumul di hadapan Allah karena kita tahu kita masih jauh dari kebenaran firman Tuhan. Firman Tuhan itu sempurna adanya, dan pada waktu setiap hari kita membacanya kita harus dengan jujur mengakui masih terlalu banyak hal yang tidak benar, baik dan sempurna dari hidup kita. Dan itu mendatangkan hati yang bergejolak, itu mendatangkan hati yang takut kepada Dia. Dan di sini kemudian kita bisa menemukan suatu kontras: jika kita mau melakukan hidup kerohanian kita dan hidup keagamaan kita berdasarkan aturan dan hukum dan hanya berdasarkan apa yang bisa kita kerjakan dan lakukan dengan kekuatan sendiri, pasti tidak mungkin. Kenapa? Sebab sinful nature kita tidak mungkin berkenan dan menyenangkan Allah. Tetapi kita sanggup bisa mengerjakannya karena ada satu Pribadi yang menolong kita yaitu Roh Allah dan itulah pekerjaan dari Roh Allah di dalam hati kita. Tetapi Roh Allah bekerja dengan sangat unik sekali. Roh Allah tidak pernah memaksa kita untuk taat kepadaNya. Pada waktu Roh Allah bekerja di dalam diri kita, kitalah yang harus mematikan hidup kedagingan kita setiap hari. Di situ bicara soal bagaimana kita taat kepadaNya.

Rev. Timothy Keller di dalam bukunya “The Meaning of Marriage,” ada satu bagian yang sangat unik di situ dia mengatakan pada waktu kita membaca Efesus 5:22-33 bicara mengenai hubungan suami isteri, bagaimana masing-masing berlaku kepada pasangannya, hidup di dalam ketaatan, hidup saling menghormati, dsb kita tidak boleh melepaskan bagian ini dengan ayat di atasnya (Efesus 5:18-21) yaitu di situ bicara mengenai hidup seorang yang penuh dengan Roh Kudus. Rev. Tim Keller berkata, “I believed the Gospel with my head but it wasn’t operational in my heart. The ability to serve another person requires the Holy Spirit, the Spirit of Truth, to drive this very Gospel into our hearts until it changes us.”

Bukan kita tidak tahu firman Tuhan, bukan kita tidak mengerti firman Tuhan, tetapi kita tidak mau taat kepada firman Tuhan. Problemnya di situ. Hanya dengan merelakan Roh Allah yang menekan hal itu ke dalam hati kita yang membuat kita bisa berubah. Kita tahu apa itu anugerah, apa itu belas kasihan, apa itu pengampunan. Kita tahu bahwa Allah itu adil, Allah itu baik, hukum-hukum Allah itu indah, suci dan bersih adanya. Tidak ada persoalan dengan pengetahuan kita. Yang kita perlukan adalah bagaimana semua hal yang kita sudah tahu di otak kita, di kepala kita, itu didorong masuk ke dalam hati kita sampai firman itu merubah kita. Satu-satunya kuasa dan kekuatan yang mampu melakukan hal itu adalah Roh Kudus Allah, tetapi kita memerlukan humbleness dan ketaatan kepadaNya.

Kita perlu senantiasa mengintrospeksi diri bagaimana sikap kita pada waktu mendengarkan firman Allah. Bisa jadi pada waktu kita mendengarkannya, pikiran-pikiran lain yang bermunculan di kepala kita. “Kenapa khotbah pak pendeta hari ini menyindir saya? Kenapa khotbah pak pendeta hari ini 5 menit lebih panjang daripada biasanya?” akhirnya kita menjadi distracted oleh hal-hal yang membuat firman Tuhan tidak leluasa berbicara. Setiap kita hanya bisa takluk dan tunduk, diubah dan diperbaharui oleh apa yang firman itu katakan.

Ada seseorang mengatakan, “Pak, saya mau kasih tahu, orang di sebelah saya tidak dengar firman Tuhan. Masakan sebagai pengurus gereja, dari tadi sepanjang khotbah disampaikan, dia terus-menerus main hp?” Saya menjawab, “Ah, jangan begitu. Mungkin dia baca Alkitab pakai hp.” Dia bilang, “Tidak, pak. Dari tadi saya lihat dia ketik-ketik di whatsapp, chatting dan posting.” Saya menjawab, “Mungkin ada message yang penting dia perlu jawab.” Dia bilang, “Tidak, pak. Dia terus main hp dari awal sampai akhir kebaktian.” Akhirnya saya jawab, “Gara-gara terus lihat orang di sebelahmu main hp, akhirnya kamu juga tidak dengar firman.”

Maka sekali lagi, bukan soal berapa banyak pengetahuan akan firman Tuhan yang ada di kepala kita

tetapi apakah firman Tuhan itu kita dengar, kita terima dan kita alami di dalam hidup kita? Adakah kita taat kepada kuasa Roh Kudus yang mendorong kebenaran firman Tuhan itu dari kepada masuk ke dalam hati kita? Hati kita yang berdosa cenderung memiliki resistansi kepadaNya. Itu sebab hanya kuasa dan kekuatan Roh Kudus yang bisa memampukan kita mematikan natur keberdosaan kita. Itu memerlukan ketaatan yang kita lakukan setiap hari dan itu hal yang penting dan harus kita lakukan terus-menerus, setiap hari, setiap waktu, setiap saat.

Kedua, apa cirinya ketika Roh Allah bekerja dan tinggal di dalam hati kita? Roma 8:15 mengatakan, “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” Ayat ini adalah sebuah ayat yang indah luar biasa memperlihatkan satu relasi yang baru antara kita dengan Allah dinyatakan, kita bisa memanggil Dia Abba, Bapa! Terjemahan Indonesia memakai kata “berseru,” beberapa terjemahan bahasa Inggris memakai kata “cry out,” itu merupakan kata yang penting sekali muncul dalam Alkitab kita. Kata itu menggambarkan satu teriakan atau tangisan frustrasi. Inilah ciri yang kedua ketika anak-anak Tuhan mengalami pergumulan untuk taat kepada Tuhan, taat kepada Roh Allah, tetapi kita terus-menerus hidup di dalam sinful nature kita menghasilkan satu frustrasi dan tangisan rohani.

Tangisan itu ada dua macam. Yang pertama adalah frustrasi rohani terhadap inner life kita, seperti tangisan Daud ketika dia berdosa dan bersalah di hadapan Tuhan (2 Samuel 12:1-17, Mazmur 51), itulah tangisan Petrus ketika dia menyangkal Tuhan Yesus (Markus 14:72), itulah tangisan Yesaya ketika dia melihat kemuliaan Allah di dalam Bait Allah (Yesaya 6:1-5). Tuhan menjauhlah daripadaku karena aku orang berdosa. Roh Kudus membuat jiwa kita mengeluh, cry out dengan frustrasi dan tangisan rohani kepada diri sendiri. Ini bicara mengenai kepekaan rohani dalam diri orang percaya. Tangisan yang kedua adalah tangisan kepada hal yang terjadi di luar. Itu adalah tangisan dari Tuhan Yesus kepada kota Yerusalem, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi” (Matius 23:37-38). Kota itu senantiasa diberkati oleh firman Tuhan tetapi di kota itu hamba-hamba Allah disiksa dan dibunuh, bahkan Anak Allah sendiri akan dipaku dan disalibkan. Itulah tangisan Yesus Kristus pada waktu Ia masuk ke dalam kota Yerusalem.

Dua minggu kita sudah melewati hiruk-pikuk pesta Natal dan tahun baru. Jujur, apakah memasuki tahun baru, spiritnya baru atau malah gembos? Di hari Natal dan tahun baru orang lebih banyak datang ke gereja, tetapi setelah semua itu berlalu dalam rutinitas, orang tidak lagi datang. Belum lagi para pengurus, aktifis, majelis dan panitia Natal, semua exhausted. Kenapa? Jujur, karena terlalu banyak persoalan interaksi dalam persiapan acara-acara natal dan tahun baru membuat hubungan satu dengan yang lain bisa retak karena bertengkar dan ribut untuk hal-hal sekunder. Ada gereja yang ribut besar karena paduan suara tidak bisa mendapat kata sepakat seragam batik yang akan mereka pakai batik keris atau batik danar hadi. Panitia bisa ribut besar karena yang satu mau menghias pohon Natal dengan style apa. Aktifitas dan kesibukan pelayanan di hari Natal tidak mendatangkan “peace on earth” karena justru aktifitas dan kesibukan itu membuat kita dragged down. Kenapa kita tidak pernah berpikir pada waktu kita memasang pohon Natal dan mendekorasinya, kita menyatakan seruan dan kerinduan kita di hadapan Tuhan kiranya ibadah Natal tahun ini bisa menjadi berkat bagi orang yang belum percaya Tuhan? Kita datang membesuk di panti asuhan atau di panti werdha untuk melayani orang-orang di sana, kita bisa ribut luar biasa hanya untuk hal-hal yang sepele tanpa kita berpikir ada satu orang di panti werdha itu mungkin tidak melewati tahun baru dan itu adalah hari terakhir kesempatan mereka bisa mendengarkan lagu-lagu Natal dan berita sukacita Yesus Kristus menyelamatkan hidupnya. Kita harus memiliki kepekaan menangisi lingkungan dimana kita tinggal. Kita harus menangisi tantangan dan kesulitan yang kita hadapi membesarkan anak-anak kita di dalam dunia yang sekuler dan amoral ini. Kita harus menangis bagi persoalan yang dialami keluarga-keluarga dan rumah tangga yang pecah berantakan. Kita harus menangis untuk gereja-gereja yang tertidur dan tidak siap menantikan kedatangan Tuhan. Roh Kudus membuat hati kita memiliki kepekaan itu, ada frustrasi rohani dalam diri karena menyadari tidak gampang hidup menjadi anak Tuhan di dalam dunia ini, sehingga kita cry out. Kita juga menangis bersama orang-orang yang mungkin berjuang bagi iman Kristen di dalam pekerjaannya dan yang mungkin karena itu karirnya mentok, posisinya dijegal, kredibilitasnya dirusak, relasinya dikustai, bahkan mungkin akhirnya dipecat karena dia seorang Kristen yang sungguh-sungguh di dalam kejujuran dan integritas menjadi anak Tuhan. Kita harus belajar menangis bersama dengan mereka. Dan kita tidak boleh melakukan judgment kepada orang dengan tujuan mendestruktif orang itu. Jangan kita terlalu gampang dan cepat menyimpan spirit yang judgmental, benci dan marah, destroy orang lain pada waktu orang itu jatuh. Dan kita lupa berhenti untuk menangis bagi kejatuhan dia. Jangan kita cepat-cepat menyatakan reaksi ketidak-puasan kita pada waktu kita merasa diperlakukan tidak benar dan tidak adil oleh orang atau kepada situasi yang ada tanpa kita memiliki kepekaan menangis dan frustrasi karena kita rindu firman Allah dikerjakan dan dilakukan. Roh Kudus membuat kita menangis karena concern dengan diri kita yang masih tidak sempurna dan terlalu lemah. Kita menangis melihat hidup kita tidak mencerminkan diri sebagai anak Allah. Demikian juga kita concern dengan sekitar kita dan membuat kita begitu frustrasi pada waktu kita tidak melihat hal yang indah dan penting dari kebenaran Allah yang kita junjung tinggi di dalam hidup kita.

Tetapi sekaligus kita bisa melihat paradoks dari Roma 8:15 ini, pada saat yang sama Roh itu mengatakan kita bisa menangis dan menyebut Allah sebagai Abba, Bapa, menyatakan relasi yang begitu intim dan dekat, tetapi cry out menyatakan relasi itu begitu jauh sehingga kita berseru dan berteriak kepadaNya. Kata cry out yang persis sama dipakai pada waktu Yesus berseru di atas kayu salib dengan kepedihan yang dalam, “Eli, Eli, lama sabakthani?” Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Itulah tangisan Yesus di atas kayu salib yang sama dengan Roma 8:15 ini. Di sini kita menemukan Roh Allah bekerja di dalam diri kita tidak mendatangkan peace damai saat kita mengikut Tuhan, tetapi sekaligus juga mendatangkan gejolak hati yang tidak pernah tenang karena kita merindukan hal yang benar terjadi di dalam dunia ini.

Ciri yang ketiga, Roma 8:16 “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Roh Allah yang ada di dalam diri kita menjadi “co-witness,” bersaksi bersama roh kita. Di situ berarti Roh Allah senantiasa berbicara kepada kita, senantiasa menjadi Roh yang mendatangkan suara-suara yang mengingatkan dan mendorong kita untuk hidup dikontrol, dikuasai dan dipenuhi oleh Roh Kudus. Roh Kudus bersaksi bersama-sama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kata “bersaksi bersama roh kita” adalah satu hal yang sangat penting luar biasa sebab itu berarti Roh Allah senantiasa memberikan penghiburan dan keyakinan [comfort and assurance]kepada kita bahwa sampai kapan pun, selama-lamanya bahkan pada waktu kita jatuh, ketika kita kecewa sehingga kita menjauh dari Allah, dan pada waktu kita mungkin gagal, kita tetap adalah anak-anak Allah. Pada waktu seseorang jatuh di dalam dosa, firman Allah menegur dia, di situ Roh Allah mengatakan “engkau tetap anak Allah; Bapa mencintai dan Bapa peduli kepadamu.” Ini merupakan satu penghiburan yang luar biasa.

Perjanjian Baru menyatakan pekerjaan Roh Allah di dalam diri orang ada dua hal yang penting yaitu baptisan Roh Kudus yaitu pada waktu seseorang percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, itulah momen terjadinya baptisan Roh Kudus yang melahir-barukan orang itu. Ini terjadi 1 kali saja dalam hidup seseorang, tidak diulang lagi. Tetapi ada satu kata lagi yang dipakai yaitu kepenuhan Roh Kudus, itu adalah hal yang terus-menerus terjadi berulang kali di dalam hidup kita karena hal itu tidak bersifat tetap, statis dan permanen dalam diri kita. Jikalau kita tidak membawa hidup kita senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus, hidup kita bisa menjadi container yang kosong dan kering, yang perlu lagi diisi. Maka Paulus katakan hiduplah senantiasa untuk terus-menerus dipenuhi oleh Roh Kudus di dalam diri kita. Itu sebab minggu lalu saya mengatakan kita tidak boleh mengabaikan daily worship dan daily confession kita dan humble di hadapan Tuhan.

Ciri-ciri dari seseorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus itu muncul dalam Efesus 5:18-21 yaitu “berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” Di sini ada satu hidup yang menaklukkan diri kepada Kristus; satu hidup yang memiliki sukacita dan damai sejahtera yang tidak habis-habisnya; satu hidup yang dinyatakan dengan worship puji-pujian kepada Tuhan dengan segenap hati.

Tetapi pada saat yang lain di dalam Perjanjian Baru menyebutkan ada dua tindakan negatif yang bisa kita lakukan kepada Roh Kudus yaitu pertama,kita bisa mendukakan Roh Kudus. Efesus 4:30 mengatakan “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memateraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Kita mendukakan Roh Kudus, kita menyakitkan hatiNya. Dan yang kedua, dalam 1 Tesalonika 5:19-21 “Jangan padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Di sini Paulus mengingatkan hal negatif kedua yang bisa orang Kristen lakukan dalam relasinya kepada Roh Kudus adalah memadamkan Roh. Dalam konteks 1 Tesalonika 5 ini bicara kita bisa memadamkan Roh pada waktu kita mendengarkan firman Allah. Maka Paulus mengingatkan pada waktu mendengarkan firman Allah, milikilah spiritual discernment. Ketika hal yang benar disampaikan, firman Tuhan dinyatakan, mendorong kita mengerjakan dan melakukan segala keinginan dan kehendak Allah, taruhlah itu di dalam hidup kita. Lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Miliki sikap haus dan lapar untuk melakukan kebenaran firman Tuhan. Kita rindu firman itu menjadi firman yang memenuhi hidup kita dan nyata melalui aspek-aspek yang penting: reverence to Christ, joyful and peace dalam hidup kita.

Kiranya hidup kita dijaga dan dipelihara oleh kebenaran firman Tuhan. Setiap kali kita bersentuhan dengan kebenaran firman Tuhan kita boleh taat dan menjalankannya dalam hidup kita. Kiranya Roh Allah bekerja mendatangkan willingness dalam hati kita dan menyingkirkan sinful nature dari hidup kita, kesombongan, ketakutan, kekuatiran yang ada di dalam hati kita yang membuat kita berjalan di jalan kita sendiri. Kiranya firman Tuhan senantiasa mengingatkan kita bahwa Allah kita adalah Allah yang memperhatikan dan mempedulikan setiap kita. Allah yang menuntun kita dengan kebenaran firmanNya yang tidak pernah bersalah, dan Allah tidak pernah mengeluarkan janji-janji yang palsu dalam hidup kita. Kita percaya dan berserah kepadaNya.(kz)