Keluhan dan Penderitaan Hidup

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (21)
Tema: Keluhan dan Penderitaan Hidup
Nats: Roma 8:17-25

Roma 8:17-25 adalah satu bagian firman Tuhan yang indah luar biasa, yang sungguh-sungguh memberikan kekuatan bagi hidup setiap kita dan membawa kita kembali melihat apa artinya pada waktu Paulus mengatakan tidak ada penderitaan apa pun di dalam hidup kita sekarang yang dapat dibandingkan dengan segala kemuliaan yang akan kita terima nantinya. “Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18). Kalimat ini keluar dari seseorang pernah hampir mati dilempari batu; kalimat ini keluar dari seseorang yang pernah dipenjarakan; kalimat ini keluar dari seseorang yang pernah mengalami kelaparan, kehausan, dan segala penderitaan fisik dan mental yang luar biasa. Kalimat ini keluar dari seseorang yang sungguh-sungguh mengalami internal dan eksternal struggle, pergumulan lahir dan batin yang begitu hebat di dalam hidupnya. Maka kalimat ini menjadi kalimat yang sungguh indah dan berbobot adanya, pada waktu dia melihat penderitaan selama di dunia ini dibandingkan dengan kemuliaan Allah, tidak ada bandingannya. Kita bukan melihat kalimat ini seolah adalah kalimat penghiburan yang tidak menyentuh hidup kita saat ini, tetapi justru kalimat ini sesungguhnya adalah jawaban yang paling kita butuhkan di dalam penderitaan yang kita hadapi.

Dalam Injil kita menemukan Yesus berkeliling memberitakan Injil Kerajaan Allah sambil melakukan banyak mujizat dan penyembuhan terhadap orang-orang yang sakit, namun ketika orang banyak mengikuti Yesus dengan motif yang berbeda, Yesus berhenti melakukan mujizat dan penyembuhan dan pergi dari tempat itu dan mencari tempat yang sunyi untuk berdoa kepada Bapa. Lalu pada waktu murid-murid berkata kepadaNya, masih banyak orang-orang yang belum dilayani, Yesus berkata, “mari kita pergi ke tempat lain untuk mengabarkan Injil, sebab untuk itulah Aku datang” (lihat Markus 1:32-38). Tentu bagi orang-orang yang sakit dan mencari kesembuhan, itu adalah satu kekecewaan yang besar adanya. Tetapi Yesus mengingatkan bukan mujizat dan kesembuhan fisik itu yang menjadi fokus kedatanganNya. Kesembuhan, mujizat dan kelancaran tidak selalu membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Pada waktu seseorang dilepaskan dari kecelakaan dan mengalami hal-hal yang real dan nyata Allah menolong dia, tetapi pengalaman itu tidak mendatangkan iman yang teguh, pujian yang dalam, syukur yang melimpah dari hatinya kepada Tuhan, tidak ada gunanya. Joni Eareckson Tada yang mengalami kelumpuhan selama lebih dari 50 tahun berkata, “To me the physical healing is always big deal, that is all about, that really shows God’s power. But for the Lord, my soul was the much bigger deal.”

Selama kita hidup di dunia ini, tidak akan ada henti-hentinya silih berganti tantangan, kesulitan, penderitaan, air mata, kegagalan, disalah-mengerti, kekecewaan, keributan, konflik, orang tidak menghargai engkau. Dari kita kecil sampai dewasa, waktu kita menjadi tua, waktu kita tersendiri, tidak akan ada habis-habisnya. Tetapi kalau kita terus menuntut dan meminta kepada Tuhan untuk menyelesaikan setiap masalah-masalah hidup kita, tidak akan ada habis-habisnya. Itulah sebabnya melalui firman Tuhan ini Paulus membukakan kepada kita hal yang lebih penting kita perlu. Apa yang menjadikan dasar kekuatan sehingga semua penderitaan itu tidak lagi mendatangkan kesedihan, ketakutan, kekuatiran dan kekecewaan di dalam hidup kita. Sampai akhir hidupnya Paulus mati dibunuh karena Injil, bukan? Siapa bilang bahwa di dalam pelayanan bahwa pada awalnya kita bersusah-susah melayani tetapi pada akhirnya kita akan sukses dan menikmati hasilnya? Siapa bilang bahwa pada waktu engkau muda bekerjalah dengan keras, bersusah-susah terlebih dahulu, nanti kemudian engkau bersenang-senang menikmatinya di hari tua? Hidup tidak seperti itu. Dan pada waktu kita berpikir ikut Tuhan pasti sukses, ikut Tuhan pasti sembuh, ikut Tuhan semua akan lancar seperti itu kita akan jatuh dan kecewa.
Kita seringkali terfokus kepada hal-hal yang fisik, kemiskinan, sakit penyakit dan berbagai penderitaan fisik, dan hanya itu yang kita minta Tuhan bereskan dan lepaskan dari kita, padahal kelepasan dari semua penderitaan fisik dan hal-hal yang eksternal terjadi di luar hidup kita yang tidak ada habis-habisnya itu, bukan itu yang menentukan sehatnya rohani kita, melainkan apa yang di dalam itu yang paling penting dan itu yang memerlukan kesembuhan. Tuhan bukan membereskan sakit yang di luar tetapi Tuhan membereskan respons hati kita terhadap sakit itu; bagaimana kita membereskan relasi kita dengan Tuhan. Itu kesembuhan yang di dalam dan itu akan mempengaruhi hidup kita melihat penderitaan yang sekarang ini. “Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18). Paulus menyatakan hal ini dengan satu keyakinan penuh, meskipun penderitaan itu akan terus-menerus ada, hari ini datang satu, besok yang lain akan datang; hari ini tidak selesai yang satu, yang baru tiba; tetapi itu tidak terbandingkan dengan kemuliaan Allah, keindahan yang luar biasa akan kita lihat pada waktu itu. Sekarang kita datang kepada Allah penuh dengan air mata, tetapi dibandingkan dengan tangan Tuhan Yesus yang menyeka matamu itu, semua air mata itu tidak akan ada artinya.

Yang kedua, Paulus berkata, “Dan jika kita adalah anak maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Roma 8:17). Ini adalah satu keindahan kesembuhan yang terjadi sebab kita mengetahui kita adalah ahli waris [the heirs of God’s glory]. Kita seringkali berebutan harta warisan yang sebenarnya hanyalah debu tanah yang tidak ada artinya dalam dunia ini. Kita hanya berebutan remah-remah kue di luar tanpa kita tahu bahwa sebetulnya Bapa kita menyiapkan perjamuan besar di dalam rumah. Kita berebutan bagaimana sukses kita, kesombongan dan image kita di luar tanpa kita sadar bahwa Tuhan menyediakan segala keindahan dan kemuliaan itu di dalam rumahNya itu bagi kita. Kita kerja untuk cari apa? Kita sukses untuk apa? Kita membesarkan keluarga untuk apa? Semua yang kita lakukan tiap hari supaya kita memiliki semuanyakah? Firman Tuhan ini mengatakan, you are the heirs of God’s glory. Kita adalah ahli waris dari kemuliaan Allah. Apa lagi yang masih kita cari? Tetapi pada waktu kita melihat kita, kita akan malu, kita akan amazed, kita akan menangis di hadapan Tuhan, saat menyadari siapa kita di hadapan Tuhan. Siapakah saya, sampai Tuhan menjadikan saya ahli warisNya? Siapakah kita sampai Tuhan menjadikan kita penerima segala kekayaan dan keindahan yang tidak bisa kita pikirkan dan bayangkan dengan keterbatasan kita hari ini? Kita tidak lagi menangis dan mempersoalkan mengapa Tuhan tidak menyembuhkan kita, mengapa Tuhan tidak melepaskan kita dari kesulitan dan penderitaan kita, karena satu hari kelak saya akan mendapatkan kesembuhan itu, saya akan mendapatkan pelepasan itu, saya akan mendapatkan segala sesuatu yang terindah dan termulia karena Allah peduli dan Allah begitu mengasihi kita lebih daripada segala-galanya. Kenapa kita mempersoalkan orang itu tidak mengasihi kita, orang itu tidak menghargai kita, orang itu membenci kita, kenapa begitu banyak unfairness dalam dunia ini? Satu hari kelak kita akan menjadi ahli waris karena Allah sudah memberikan itu semua bagi kita, bahkan malaikat-malaikatNya juga akan melayani kita. Siapakah kita sehingga segala keindahan itu diberikan kepada kita?

Dua tahun lalu saya membaca buku Pete Scazerro “Emotionally Healthy Spirituality ” saya menemukan keindahan dari buku itu yang membuat saya menjadi satu deeper healing yang indah di dalam hidup saya. Saya bersyukur kepada Tuhan, tidak ada lagi keinginan untuk sombong dan membanggakan diri, bahwa ini adalah pelayanan saya dan saya mau apa, dsb. Yang penting adalah bagaimana kemuliaan Tuhan itu saya mau kerjakan dan lakukan. That’ a deeper healing bagi orang-orang yang melayani Tuhan, yang menjadi hamba Tuhan, yang sudah selesai pada dirinya sendiri. Itu adalah kalimat yang penting luar biasa. Kita menjadi seorang yang bekerja dalam hidup kita, kita sudah selesai pada diri kita sendiri, tidak ada hal yang perlu kita rebutkan karena kita adalah ahli warisNya. Itu adalah deeper healing yang Tuhan berikan kepada setiap kita. Kita bukan membangun kerajaan kita dan keinginan kita, tetapi selalu mendoakan kalimat yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita, “Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga,” melihat bagaimana yang Tuhan mau dan kita berbagian kecil di dalamnya sebab moment hidup saya berbagian di situ tidak pernah penting adanya sebab yang terpenting adalah kerajaan itu berjalan terus. Di situ saya hanya merupakan satu skrup kecil atau setetes oli. Kita melakukan apa yang Tuhan taruh sebagai beban dalam hati kita karena kita tahu kita tidak bisa mengerjakannya sendiri maka kita bekerja bersama bergandengan tangan mengerjakan apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita. Itulah yang saya rindu boleh terjadi di dalam hidup kita masing-masing. Pada waktu kita pulang ke rumah, kita saling trust percaya dan menerima satu sama lain. Kita berdoa kiranya pada waktu anak-anak kita dewasa, mereka menemukan a godly person dalam hidupnya. Kita berdoa supaya kita boleh menjadi a godly family. Itu yang paling penting, bukan? Nama Tuhan kita muliakan dalam hidup kita. Pernahkah kita menjadi orang seperti itu? Anak kita lulus selesai sekolah doakan seperti itu. Let people in this church godly, menjadi berkat bagi orang. Karena kenapa? Karena kita sudah selesai dengan diri kita. Tidak ada lagi ambisi pribadi yang harus kita kejar karena tidak ada habis-habisnya. Bukan berarti kita tidak berjuang, bukan berarti kita tidak dipanggil mengerjakan sesuatu, tetapi kita dipanggil untuk menaruh perspektif yang benar. Ketika kita strive bagi diri kita dan keinginan kita, dan kita menganggapnya sebagai tuhan kita, lalu pada waktu kita gagal di situ kita minta Tuhan kesuksesan dan kelancaran, dst mungkin kita akan mendapatkannya, tetapi sampai kapan terus seperti itu? Seringkali pendeta juga tidak habis-habisnya berprilaku seperti itu. Saya ingin lebih sukses lagi, lebih sukses lagi dalam pelayanan, dst. Kali ini jemaat saya baru 100 orang, nanti saya mau menjadi 200, 400, 1000, dst. Kalau itu terus yang dipikirkan dan ditargetkan, maka keinginan kita tidak akan habis-habisnya pada waktu kita tidak pernah puas dan tidak akan pernah menjadi sesuatu yang permanen dalam hidup kita, sampai kita kemudian berkata di hadapan Tuhan, yang lebih penting adalah bahwa saya sudah mendapatkan itu semua di dalam Kristus. Aku adalah ahli warisnya. It is not me, and it is never all about me. Sekali lagi semua itu kita dapatkan di dalam Kristus, tidak di luar Dia dan bukan di dalam kita.

Pada bagian ini ada 3 keluhan [groaning] yang Paulus sebutkan. Groaning adalah satu keluhan dan teriakan dalam hati secara internal karena kita mau melakukan segala yang indah di hadapan Tuhan tetapi kadang-kadang kuasa dosa itu begitu kuat menarik kita kepadanya sehingga kita tidak melakukan apa yang baik di hadapan Tuhan. Kita mengeluh, karena hidup kita tidak seperti yang Tuhan mau. Kita juga mengeluh karena dunia sekitar kita memberikan tantangan dan kesulitan yang begitu besar. Dan kita juga mengeluh, mengapa ada begitu banyak hal-hal yang baik dikerjakan oleh anak-anak Tuhan namun tidak pernah mendatangkan keindahan dan keberhasilan, dan semua itu mendatangkan frustrasi dalam hati kita. Apa saja keluhan yang Paulus nyatakan di sini?

Yang pertama, the groaning of all creation, keluhan dari seluruh mahluk. Roma 8:22 “Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala mahluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” Seluruh mahluk mengeluh, seluruh alam semesta, seluruh mahluk ciptaan, binatang-binatang yang ada. Tentu semua mahluk itu mengeluh tidak seperti kita mengeluh tetapi ini menjadi satu personifikasi. Keluhan ini terjadi sebab semua mahluk berada di bawah kutuk dosa dan itu juga menjadikan kita mengeluh hidup di dalam dunia ini. “Terkutuklah tanah karena engkau. Dengan bersusah payah engkau akan menari rejekimu dari tanah seumur hidupmu. Semak duri dan onak duri yang akan dihasilkannya bagimu” (Kejadian 3:18). Kita bekerja dan menanam benih yang baik, tetapi semak duri dan onak duri yang tumbuh di situ. Kita bekerja dengan sekuat tenaga, tetapi orang lain yang memakan hasilnya. Siapapun dia, orang yang percaya Tuhan atau pun orang yang tidak percaya Tuhan, semua kita mengalami kesusahan dan ketidak-adilan; ada orang merampok harta kita, ada orang melakukan kejahatan kepada kita. Dan kita juga mengeluh karena kita mengalami bencana alam, kecelakaan, sakit penyakit dan kematian. Itu adalah keluhan seluruh mahluk dan umat manusia karena kita hidup di dalam dunia yang sudah berada di bawah kutukan dosa. Sekuat-kuatnya kita bekerja dan berusaha, bagaimana pun karena berada di dalam kondisi seperti itu, kita tidak bisa terhindar dan lepas maka kita mengeluh seumur hidup kita.

Yang kedua, the groaning of all believers, keluhan dari orang percaya, keluhan dari anak-anak Tuhan. Roma 8:23 “Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak yaitu pembebasan tubuh kita.” Keluhan yang kedua adalah keluhan dari anak-anak Tuhan yang karena imannya kepada Tuhan mengalami penderitaan yang luar biasa. Kita mengeluh bukan saja karena kita berada di dunia yang sudah berada di bawah kutuk dosa, kita mengeluh karena kita merindukan lewat penderitaan kita kehendak Tuhan yang terjadi di dunia ini. Paulus menggambarkan keluhan dari anak-anak Tuhan itu seperti keluhan orang yang sakit bersalin. Apa artinya? Bukan penderitaan seperti sakit-sakit yang lain tetapi kita menderita seperti orang yang sakit bersalin, yaitu melalui penderitaanmu ada hidup yang terjadi. Penderitaan orang percaya bukan penderitaan yang sia-sia dan tidak ada gunanya. Penderitaanmu sebagai sakit bersalin itu ada keindahan kehidupan yang terjadi daripadanya.

Yesus menulis buku penderitaan. Yesus bukan mengajar tentang penderitaan, Yesus bukan memberi panduan bagaimana menghadapi penderitaan, Yesus sendiri mengalami penderitaan dan melewati hal yang sama seperti kita. Dia menulis buku penderitaan itu sehingga pada waktu kita datang kepadaNya kita boleh menerima kekuatan dan penghiburan. Dan barangsiapa menjadi pengikut Kristus, dia pasti akan berbagian sedikit di dalam penderitaan dan kesulitan itu karena imannya kepada Tuhan. Itu bukan lagi menjadi penderitaan kita sendiri, tetapi itu menjadi penderitaan yang Kristus tanggung bersama kita. Kalau kita adalah anak Allah maka kita akan menerima semua yang dijanjikan itu bersama-sama dengan Kristus asal kita menderita bersama-sama dengan Dia. Glory will follow suffering; throne will follow thorn; crown will follow cross. Prinsip itu tidak pernah dibalik oleh Tuhan kita. Karena Kristus sudah mengalami penderitaan, maka rasul Petrus berkata, oleh bilur-bilurNya Kristus akan memberikan kesembuhan itu kepada kita (1 Petrus 2:24).

Yang ketiga, the groaning of the Holy Spirit, keluhan dari Roh Kudus. Roma 8:26 “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan.” Pada waktu kita mengalami begitu banyak penderitaan dan kesulitan dan kadang-kadang itu begitu berat, kita sudah tidak bisa berdoa. Kadangkala kita cuma bisa berdiam di hadapan Tuhan, tidak bisa mengatakan apa-apa lagi karena sudah tidak sanggup kita mengeluarkan keluhan. Puji Tuhan, kita memiliki Sahabat yang terdekat yang berdoa bagi kita pada saat-saat seperti itu. Roh Kudus yang ada di dalam hati kita, Dialah yang berdoa bagi kita.

Saat ini Allah ada di tengah-tengah kita, melihat dan menyaksikan kita masing-masing menghadapi berbagai-bagai kesulitan dan penderitaan selama di dunia ini tidak ada henti-hentinya silih berganti datang bertubi-tubi dalam hidup kita. Kita seringkali berdoa supaya hidup kita terhindar dan tidak mengalami semua ini. Tetapi kenyataan hidup dan fakta realita yang ada serta firman Tuhan sendiri menyadarkan kita, tidak ada seorang pun yang bisa terhindar dari kesulitan dan penderitaan dalam hidupnya karena kita semua hidup di dalam dunia yang sudah terkutuk oleh dosa dan yang telah memberontak kepada Tuhan. Karena itu satu hal yang kita minta dari Tuhan adalah bagaimana perspektif dari firman Tuhan menolong setiap kita sehingga pada waktu Tuhan Yesus datang kembali nanti, Alkitab berkata tidak akan ada lagi sakit penyakit, penderitaan, air mata dan kematian. Allah akan menghapus segala air mata dari mata kita, dan maut tidak akan ada lagi; tidak ada lagi perkabungan atau ratap tangis, atau dukacita (Wahyu 21:4). Demikian juga Paulus mengatakan, tidak ada lagi tekanan, caci-maki, kelaparan dan penganiayaan yang sanggup bisa memisahkan kita dari kasih Kristus yang tinggal di dalam kita (Roma 8:38-39). Itu akan kita alami pada waktu kita mengerti dan memahami bagaimana firman ini menolong setiap kita karena dibandingkan dengan segala kemuliaan yang akan kita lihat, keindahan yang luar biasa, segala puji-pujian yang indah, nyanyian syukur yang tulus dan murni, kesucian Allah yang begitu nyata, kasihNya begitu besar bagi kita. Di situlah kita akan mengalami sukacita yang penuh. Tidak ada lagi kesulitan dan air mata yang bisa merusak semua keindahan itu. Tidak ada lagi keluhan, ratap tangis, gerutu dan sungut-sungut dalam diri kita, saat kita menyadari semuanya itu tidak sebanding dengan keindahan kemuliaan Allah indah. Puji syukur yang tidak akan habis-habisnya keluar dari mulut dan hati kita setiap kali menyadari betapa tidak layaknya kita memperoleh semua itu. Kita bukanlah orang luar, kita bukan orang asing dan stranger bagi Tuhan, kita bukan orang yang harus merebut segala sesuatu saat kita sadar kita sudah memiliki segala sesuatu sebagai ahli waris di dalam kerajaan Allah yang mulia bersama-sama dengan Yesus Kristus Tuhan kita. Kiranya hari ini kita mempunyai perspektif yang baru. Setiap kali kita mengeluh karena kita menghadapi penderitaan dan kesulitan, sakit dan mengeluarkan air mata, tetapi air mata itu adalah air mata yang mengeluarkan hidup. Kita bersyukur kita memiliki Sahabat yang sejati dan yang tidak pernah meninggalkan kita; kita memiliki Roh Allah di dalam hati kita yang senantiasa memimpin, menuntun dan menjadi Roh yang berdoa bagi kita di dalam keluhan-keluhan yang tak terkatakan kepada Bapa kita di surga.(kz)