Hidup yang Dikuasai Roh Kudus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (19)
Tema: Hidup yang Dikuasai Roh Kudus
Nats: Roma 8:2-13

Apakah itu hidup yang sia-sia? Hidup yang sia-sia bukanlah karena tahun yang lalu engkau menjalani hidup yang tidak sukses. Hidup yang sia-sia bukanlah karena tahun yang lalu ada rencana hidupmu yang tidak terpenuhi. Hidup yang sia-sia bukanlah karena engkau mencari pekerjaan dan tidak kunjung mendapatnya. Hidup yang sia-sia bukan berarti segala sesuatu yang sudah engkau rencanakan gagal di tengah jalan sehingga engkau tidak mendapatkan hasil sesuai rencanamu. Seringkali perspektif dari dunia membuat kita menilai hidup kita dengan cara seperti itu. Alkitab berkata hidup yang sia-sia bukan berkaitan dengan soal itu. Sebab jika soal sukses, keberhasilan, achievement, apa yang engkau raih dan dapatkan menjadi tolok ukur dari satu hidup yang tidak sia-sia, maka orang-orang yang marginal, yang miskin, yang tidak punya apa-apa selama di dunia ini tidak akan pernah diperhitungkan Allah jikalau itu tolok ukurnya. Alkitab berkata meskipun selama di dunia kita mendapatkan segala sesuatu, sukses mengerjakan apapun, tetapi jika kita lakukan itu di dalam posisi kita melawan Tuhan, itulah hidup yang sia-sia. Paulus berkata, “Mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Roma 8:8). Hidup yang tidak sia-sia adalah hidup yang memperkenan Allah.

Apakah itu hidup yang bodoh? Seseorang dikatakan bodoh bukan karena intelektual atau kecerdasannya yang menjadi tolok ukur. Seseorang bodoh bukan karena hasil nilai ATAR atau EBTA yang jelek, bukan karena hasil ujian sekolah buruk atau kuliah yang gagal di tengah jalan. Alkitab tidak memberikan definisi orang yang bodoh karena dia tidak memiliki intelektual yang cukup. Banyak orang tua kecewa dan merasa kuatir memiliki anak yang bodoh karena perspektif dunia. Banyak kali orang Kristen dirusak oleh perspektif seperti ini. Akhirnya kita kuatir kenapa anak kita biasa-biasa saja dalam studi, selalu ada di urutan paling akhir. Kita mungkin sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk les ini-itu dan kita merasa anak kita tidak ada kemajuan, lalu kita merasa anak kita tidak mungkin bisa berhasil dalam hidupnya dan itu membuat kita menjadi kuatir. Anak kita mungkin didiagnosa oleh dokter sebagai anak bodoh dan mengalami kelainan, mengidap penyakit, autism, ADHD, dia mempunyai banyak kelainan sehingga dia tidak bisa fokus, lalu kita kuatir akan semua hal itu. Alkitab tidak pernah berbicara hidup orang yang bodoh dengan definisi dan konsep seperti itu. Yesus berkata, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang engkau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Lukas 12:20-21) dan “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26). Orang kaya itu dikatakan bodoh bukan karena dia tidak sukses di dalam bisnisnya. Orang kaya itu bodoh karena dia tidak menaruh Tuhan paling utama dalam segala-galanya.

Apa yang Yesus katakan betapa benar adanya, hidup seseorang bukan ditentukan oleh berapa besar kekayaan yang dia miliki di dunia yang fana ini, tetapi berapa kayakah dia di hadapan Allah? Apa yang Yesus katakan ini bukan sekedar satu cerita tetapi realita yang tragis. Tragisnya bukan karena hal itu bisa terjadi kepada siapa saja, tetapi begitu banyak orang tidak menyimak dan merenungkan hal ini di dalam hidup mereka, sampai semuanya sudah terlambat. Dalam Efesus 5:15 Paulus berkata, “Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup. Janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Bebal atau bodoh di sini adalah soal apakah hidup orang itu adalah hidup yang dipenuhi dengan sentralitas Tuhan dalam hidupnya atau tidak. Itu yang menjadi pokok penting di dalam hidup ini.

Roma 8 adalah bagian yang luar biasa bicara mengenai hidup yang telah dibenarkan di dalam Yesus Kristus. Kita adalah milik Allah, kita sudah diselamatkan di dalam Yesus Kristus. Mulai dari ayat 2 dan seterusnya Paulus memperlihatkan kepada kita dimensi yang indah yaitu kuasa pekerjaan Roh Kudus di dalam setiap kita. Paulus melontarkan dua hal yang penting. Pertama, hidup kita sekarang ini hanya bisa menang oleh karena Kristus sudah menang mengalahkannya. Lalu yang kedua, kita masuk kepada rahasia yang penting dalam Roma 8:2 “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” Ini adalah ayat yang begitu indah dan penting sekali, penekanan kepada Roh Kudus, Allah pribadi ke tiga di dalam hidup kita. Kita masuk ke dalam dimensi yang lain, bukan dengan kemampuan kita sendiri, bukan dengan kekuatan kita, tetapi bagaimana kita membiarkan hidup kita dikontrol, dikuasai oleh Roh Allah dan kita menjadi manusia rohani. Dalam terjemahan NLT Roh Kudus disebutkan sebagai “the life-giving Spirit.” Siapakah Roh Kudus itu? Ia adalah the live-giving Spirit, Roh yang memberikan kehidupan. Roma 8 bicara mengenai Dia, apa yang Ia lakukan, apa buktinya the power of the life-giving Spirit, kuasa dari Roh sang Pemberi hidup itu diam di dalam hidup kita, bekerja dan berkarya dalam hidup kita.

Hari ini kita akan melihat dua point yang penting terlebih dahulu.
Point yang pertama kita lihat dari Roma 8:2-12, the power of the life-giving Spirit memberikan kepada kita satu perspektif baru mengenai hidup kita, yaitu bahwa hidup orang Kristen, hidup orang yang sudah dibenarkan di dalam Yesus Kristus, hidup kita sekarang adalah hidup yang telah ditebus oleh Kristus. Roma 8:12 merupakan kesimpulan, “Jadi, sdr-sdr, kita adalah orang berhutang.” Berhutang kepada siapa? Berhutang kepada Kristus yang sudah menebus hidup kita. Ini perspektif yang penting dan perlu kita taruh dalam hati kita. Paulus berkata, hidupku sekarang adalah milik Kristus, bukan milikku lagi.

Memasuki tahun yang baru seringkali kita mulai dengan berpikir bahwa ini adalah hidup kita, ini rencana kita, ini program kita, ini keluarga kita, ini hal-hal yang akan kita raih di tahun ini, dsb. Ini tidak salah, tetapi yang menjadi persoalan seringkali adalah relasi kita dengan Tuhan menjadi keliru karena kita mulai dengan point: itu semua kita punya, rencana-KU, program-KU, hidup-KU, lalu kita minta Tuhan approve dan blessing. Kita memasukkan Tuhan di dalam kehidupan dan rencana kita tetapi hanya sebagai “co-partner” saja atau boleh dikatakan Tuhan dari belakang memberkati apa yang aku punya. “Ini rencana keluargaku, ini rencana bisnisku, tolong Tuhan berkati dan beri kelancaran untuk semua rencana ini.” Keliru! Hidup kita adalah milik Kristus. Secara yang kelihatan di permukaan, kita tetap mengerjakan semua yang kita kerjakan, tidak ada yang berubah, tetapi yang kita kerjakan itu dengan perpektif yang penting dan baru: Tuhan, ini semua milikMu, dan bagaimana hidupku menjadi bagian puzzle yang penting untuk menggenapkan rencana dan kehendakMu.

Pada waktu kita membawa “Doa Bapa Kami,” kita senantiasa diingatkan bahwa apa yang kita kejar dan kita cari adalah kerajaan Allah dan kehendakNya bagi hidup kita. Bukan sebaliknya. Itu arti dari Doa Bapa Kami. Baru kemudian kita memohon Tuhan memberkati kita atas beberapa kebutuhan kita daily. Apakah Tuhanku aku muliakan ketika aku bekerja? Apakah Tuhanku aku muliakan dalam mendidik dan membesarkan anak? Dalam membesarkan anak, tolok ukur kesuksesan kita bukan keberhasilan dalam studi dsb tetapi bagaimana saya menjadikan Tuhanku menjadi sentral dan mulia dalam hidupnya juga. Bahkan ketika saya bekerja di rumah, membersihkan rumah dan merawatnya, senantiasa belajar dengan satu fokus ini adalah satu hidup yang sudah ditebus oleh Tuhan. Dengan perspektif itu baru kita bisa melihat Tuhan tidak pernah menghina orang yang rendah, orang yang tinggi, dsb tetapi Tuhan melihat apakah hidup kita adalah hidup yang menjadikan Kristus sebagai sentral atau tidak. Apa alasannya? Karena hidup kita sekarang yang telah ditebus ini adalah milik Kristus.

Roma 8:2-12 Paulus bicara akan hal itu. Ada dua alasan yang Paulus angkat. Pertama, “supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang hidup menurut Roh. Setiap manusia di atas muka bumi ini, entah dia tahu atau tidak, sadar atau tida, semua menghadapi tuntutan hukum Taurat. Sifat Allah, kesucian Allah, kebenaran Allah, kekudusan Allah, semua itu dinyatakan dan direfleksikan di dalam tuntutan hukum Taurat itu. Dan pada waktu kita melanggarnya berarti kita melawan Allah, kita telah berdosa dan bersalah kepada Allah. Dan Alkitab berkata, ada harga yang harus dibayar dari tuntutan hukum Taurat.Barangsiapa yang melanggar tuntutan hukum Taurat ini, dia berhutang kepada Allah. Itulah sebabnya Paulus berkata, kita adalah orang berhutang (Roma 8:12), dan hutang itu hanya bisa dibayar dan dilunasi oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Yesus berkata, Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapkannya (Matius 5:17). Tuntutan hukum Taurat adalah barangsiapa melanggar satu titik saja dari hukum ini, dia sudah melanggar semuanya. Musa berkata kepada bangsa Israel, engkau akan hidup di hadapan Allah jikalau engkau menggenapinya. Kita semua adalah manusia berdosa, kita begitu lemah dan terbatas, kita tidak mungkin bisa menggenapkan tuntutan hukum Taurat. Hanya satu Orang yang hidup tanpa dosa yang menyelesaikan semua tuntutan hukum Taurat dengan tidak bercacat-cela yaitu Yesus Kristus. Ia dengan sempurna telah membayar hutang itu. . Ia membayar tuntutan hukum Taurat karena memang kita tidak mungkin bisa melakukan segala yang dituntut hukum Taurat karena kita berdosa. Itulah sebabnya kita ditebus oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Ini perspektif yang harus kita taruh dalam hidup kita.

Alasan kedua, Roma 8:8 “Mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Kata ‘daging’ atau sarx dalam bahasa Yunani beberapa kali dipakai oleh Paulus dan di dalam Perjanjian Baru kita harus lihat konteksnya. Berdasarkan konteksnya bisa memiliki pengertian positif mengacu kepada Kristus datang ke dalam dunia memiliki tubuh fisik ini, “Firman itu telah menjadi daging dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14). Tetapi dalam konteks Roma 8:8, kata ‘daging’ mempunyai konotasi negatif yaitu sifat keberdosaan yang memberontak kepada Tuhan.
Maka dua dasar inilah kemudian Paulus berkata, Roh Allah tinggal di dalam diri kita karena apa yang Yesus sudah kerjakan. Barangsiapa tidak memiliki Roh Kristus, dia bukan milik Kristus. Barangsiapa yang milik Kristus maka Roh Allah tinggal di dalam dirinya. Roh itu adalah Roh yang memerdekakan kita dari kuasa kedagingan karena Roh itulah yang mengingatkan kita apa yang Yesus sudah kerjakan bagi kita. Tahun ini kita masuki dengan senantiasa memikirkan pikiran-pikiran yang dari prinsip firman Tuhan. Tuhan, hidupku adalah milikMu. Hidup kita berarti dan berharga sebab Kristus sudah tebus dan bayar mahal bagi kita. Terpujilah Tuhan!

Roma 8:12, “Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang.” Saya yakin dan percaya semua kita tidak suka berhutang. Berhutang itu tidak enak. Apa yang kita kerjakan dan lakukan sekarang sederhana, kita berhutang kepada Tuhan, kita harus membayar balik dalam hidup yang sudah Tuhan tebus ini untuk memuliakan Dia. Tuhan, hidupku adalah milikMu. My life is Christ. Banyak orang merasa enggan pada waktu bicara kesuksesan, itu kesuksesan milik Tuhan; pada waktu bicara apa yang sudah diraih, itu achievementmilik Tuhan; walaupun buru-buru kita tambah bahasa rohani “berkat Tuhan.” Beranikah kita berkata, anakku milik Tuhan, uangku milik Tuhan, hartaku milik Tuhan. Aku hanyalah penata-layan Tuhan. Tidak gampang dan tidak mudah berkata dan menjalani prinsip ini.

Kedua, the power of the life-giving Spirit is the power that makes you eagerly to put death to sin. Kuasa dari Roh Kudus adalah kuasa yang memberikan dorongan kepada kita untuk mematikan dosa yang ada di dalam kita. Roma 8:13 berkata, “Sebab jika kamu hidup menurut daging kamu akan mati, teapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Firman Tuhan tidak bilang melalui Roh mematikan perbuatan-perbuatan kedagingan kita. With the power of the Spirit, siapa yang harus mematikannya? Kita. Ayat ini penting mengingatkan kita perbedaan hidup anak Tuhan di dalam Roh Allah ketika struggle menghadapi kuasa dosa yang terus-menerus ingin take control hidup kita. Paulus senantiasa ingatkan jangan biarkan dia over power dan mengontrol hatimu dan pikiranmu, but let the Holy Spirit control you. Itu bisa terjadi melalui satu hal yang penting yaitu dengan kita mematikan perbuatan-perbuatan tubuh kita. Apa artinya kata ‘mematikan’ itu? Dalam bahasa teologi itu adalah bagian dari proses pengudusan yang disebut dengan the mortification of sin, kita menjalani proses mematikan sifat dosa itu dari diri kita.

Mematikan daging dalam aspek positif berarti setiap hati dan setiap saat kita menempatkan Allah pada pusat dan sentral hidup kita dan menempatkan hal-hal yang lain pada tempat yang sepatutnya. When you put God in the right place, everything else will fall on the proper place. Sama seperti menyusun puzzle ada satu yang menjadi sentralnya. Pada waktu Yesus disebut sebagai “batu penjuru” cornerstone, selalu mempunyai tujuan itu. Itulah arti batu penjuru. Pada waktu dia berada di tempat yang sepatutnya, semua yang lain menjadi rapi tersusun. Dalam relasi suami isteri, tidak gampang mengaplikasi ayat ini. Setiap hari kita memungut begitu banyak “debu” dan hal-hal yang bisa mengkaburkan relasi pernikahan kita. Bisa jadi setelah lima tahun, sepuluh tahun pernikahan kita bukan semakin dekat tetapi semakin lebih jauh. Kita senang sekali melihat taman di rumah orang yang apik dan rapi, rumput yang dipotong, pohon yang dipangkas, bunga-bunga yang warna-warni bermekaran. Tetapi kita tidak pernah tahu bahwa taman itu tidak jadi dengan sendirinya. Ada kerja keras, ada usaha dan kerajinan pemiliknya setiap hari merawat. Satu minggu saja dia tidak melakukan semua itu, taman itu akan berantakan dan tidak indah dipandang. Demikian juga dengan rumah tangga kita. Rumah tangga yang indah tidak terjadi dengan sendirinya. Tetapi membutuhkan kerja keras, usaha dan kerajinan kita untuk merawat dan memeliharanya. Seorang hamba Tuhan bernama Paul Tripp berkata, kalau tidak ada daily confession dan surrender satu dengan yang lain kepada Allah, kita mengumpulkan kotoran dan debu menumpuk tidak habis-habisnya sehingga membuat pernikahan kita menjadi renggang. Relasi membutuhkan kerja keras dari dua belah pihak, dan pada waktu dalam relasi itu kita locked in 24 hours 7 days a week, itu menjadi relasi yang penting luar biasa kita pelihara dan tidak boleh kita abaikan. Dalam hidup kita ada tiga relasi, relasi dengan orang yang kita bisa “play with,” lalu relasi dengan orang yang kita bisa “spend time with,” dan yang ketiga dengan orang yang kita bisa “live with.” Kalau itu adalah orang-orang yang tinggal di rumah bersama kita 24 jam sehari, itulah orang yang kita live with. Pada waktu kita mendekatkan relasi kita satu sama lain, baru kita sadar it is not easy. Dan itu tidak bisa indah dan flourish jikalau tidak kita pelihara sama-sama. Mencabut rumput-rumput liar, menggunting dan merapikannya, memupuk dan menyiramnya. In spiritual life harus seperti itu. Itulah put to death. Seringkali orang keliru memahami kata ini, tidak boleh ini, tidak boleh itu, tutup mata, dsb. Yang benar adalah setiap hari kita melakukan daily confession di hadapan Tuhan, dimana firman Tuhan secara segar berinteraksi dengan kita dan kemudian kita membawa kembali hidup kita di dalam satu confession dengan jujur dan terbuka di hadapan Tuhan mengakui kelemahan kita dan surrender bersandar kepadaNya minta kekuatan Roh Kudus menopang kita menjalani hidup yang sesuai dengan firmanNya. Bill Hybels pernah berkata, ketika suami isteri menghadapi konflik relasi, masing-masing datang kepada Tuhan terlebih dahulu membawa hidupnya di hadapan Tuhan sebelum datang kepada pasangannya, 50% dari konflik itu sudah beres. Seringkali begitu ada masalah dengan isteri atau anak, kita langsung konfrontasi, seringkali bukan menjadi beres tetapi berujung saling menyakiti. But when you pray and confess to God terlebih dahulu, pendekatan kita akan berbeda. Konflik itu selesai bersama dengan Tuhan, karena di situ kita melihat dengan perspektif yang benar. Di situ kita melihat bagaimana diri kita dibereskan dengan Tuhan terlebih dahulu sebelum kita bereskan persoalan dengan isteri dan anak kita. Yang kedua, kata Paul Tripp kalau ada begitu banyak problem dalam hidup kita, masalahnya simple sederhana, itu berarti Tuhan tidak berada pada tempat yang sepatutnya dalam hidupmu. Itu berarti ada sesuatu yang tidak beres di dalam penyembahan kita kepadaNya. Apakah kita menyembah uang, menyembah materi, menyembah diri, menyembah apapun di luar Tuhan, semua akan menciptakan problem, chaos dan messyness dalam hidup kita.
Mari kita mulai tahun yang baru ini dengan menempatkan Tuhan pada tempat yang benar. Always refresh relasi kita dengan Tuhan. Jadikan worship God itu yang paling utama di dalam hidup kita. Setiap pagi lakukan worship bersama Tuhan, joyfully sing bagi Tuhan, baca dan renungkan firmanNya, di situ engkau akan menikmati keindahan daily worship seperti itu. Mari kita belajar bersentuhan dengan lagu-lagu yang memuji Tuhan. Bukan soal apakah kita bisa menyanyi tetapi apakah kita punya lagu dari hati yang memuji Dia?

Inilah yang secara praktis Paulus berikan dalam Efesus 5, jangan habiskan waktu di dalam hari-hari yang jahat ini, tetapi lakukan daily worship itu. Isi dirimu dengan mazmur, lagu pujian dan lagu-lagu rohani. Bersyukurlah kepada Tuhan dan nyatakanlah kasihmu dengan berkata-kata satu dengan yang lain dengan firman Tuhan. Respek satu dengan yang lain di dalam takut akan Tuhan. Itu adalah worship. Kalau kita memiliki hidup seperti itu setiap hari, kita respek kepada pasangan kita, saya harap hidup kita bisa diperkaya dengan segala keindahan dan kebajikan. Put God in the right place by worshiping Him, then everything else will fall on the proper place. Kiranya setiap hari kita menjalani hidup ini belajar taat dan bersandar kepada kuasa Roh Allah untuk mematikan segala kedagingan kita, hati yang congkak, keinginan untuk mencari nama, pujian, ambisi dan hormat bagi diri, dan kembali kepada satu fokus yang benar bahwa kita mau menyembah Allah di dalam hidup kita. Kiranya Roh Allah berkarya dengan indah menjadi pusat di dalam hidup setiap kita. Terpujilah nama Tuhan selama-lamanya.(kz)