Why do You feel Offended?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Why do You feel Offended?
Nats: Markus 12:41-44, Yohanes 12:1-8

Seri khotbah saya selama dua minggu ini bicara mengenai dua orang wanita. Yang satu adalah seorang ibu janda yang miskin [Markus 12:41-44], dan yang satu lagi adalah seorang anak gadis bernama Maria [Yohanes 12:1-8]. Kedua wanita ini memiliki kesamaan kisah. Pertama, kisah ini terjadi di masa-masa terakhir pelayanan Yesus. Kedua, boleh dikatakan kedua wanita ini bukanlah wanita yang emosional di dalam memberikan persembahan. Argumentasi pertama seperti yang sudah saya katakan minggu lalu, janda miskin ini mengerti bahwa Tuhan memerintahkan umatNya setiap kali datang ke rumah Tuhan tidak dengan tangan hampa, tetapi membawa persembahan yang appropriate seturut dengan berkat yang dia peroleh dari Tuhan (Ulangan 16:16-17). Ini hal yang paling sederhana yang harus dia lakukan dan dia mengerti dia datang ke rumah Tuhan dia menaati Tuhan dan dia membawa apa yang menjadi berkat Tuhan dari apa yang ada padanya, itu yang dia beri. Maria ingin menyatakan cintanya terhadap Tuhan Yesus yang telah membangkitkan Lazarus kakaknya dari kematian, tetapi lebih lagi, ketika Yesus mengatakan “dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu,” berarti Maria tahu dan mengerti dengan sungguh-sungguh apa yang dia lakukan bukan sekedar ucapan terima kasih bahwa kakaknya sudah disembuhkan. Itu hal yang lebih sekunder sebenarnya. Hal yang lebih penting adalah dia melakukan hal ini untuk memuliakan Tuhan, she did this to honour her God yang sebentar lagi akan dihina dan direndahkan orang, maka apa yang dia tahu sepantasnya dia lakukan yang terbaik untuk memuliakan Dia.

Sebaliknya ada beberapa kontras dari kedua wanita ini. Pertama, pemberian janda miskin ini jelas adalah mata uang yang paling kecil nilainya. Sebaliknya, Maria memberikan yang paling terbaik dan paling mahal yang dia miliki di rumahnya yaitu minyak narwastu itu. Pemberian janda ini hanya 1 duit, yang kira-kira nilainya sepersepuluh dari upah kerja satu hari. Pemberian Maria minyak narwastu seharga 300 dinar, kira-kira 300 kali upah sehari kerja. Itu kontras yang luar biasa. Kontras yang kedua adalah kisah janda miskin ini terjadi di rumah ibadah dimana orang-orang datang melakukan aktifitas-aktifitas rohani, datang beribadah, memberi persembahan, berdoa, dsb. Ironisnya mereka melakukan aktifitas rohani dalam rumah Tuhan dengan tidak rohani. Mereka melakukan hal-hal itu tidak untuk menghormati Tuhan; mereka melakukan hal-hal itu tidak untuk menyembah Tuhan. Mereka melakukan hal-hal itu demi supaya orang-orang lain bisa melihat; mereka melakukan hal-hal itu demi supaya mereka bisa dipuji di luar. Sebaliknya di dalam rumah keluarga Maria yang bukan rumah ibadah, Maria bisa menyembah Tuhan dengan indah bersama dengan keluarganya. Di dalam rumahnya keluarga Maria bisa menjamu dan memberi makan Yesus, di dalam rumahnya Maria bisa meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya, itulah satu ibadah yang indah. Kontras yang ketiga adalah jelas terlihat reaksi murid-murid amat berbeda. Dalam persembahan janda miskin ini Yesus memanggil murid-murid untuk pay attention memperhatikannya. Sebab apa? Sebab mata mereka melihat ke arah lain, yaitu ke arah dimana orang-orang kaya memberi persembahan dalam jumlah besar. Itulah ironi yang selalu terjadi sampai hari ini. Persembahan uang kecil kita tidak pernah mau lihat, tetapi persembahan dalam jumlah besar itu yang kita lihat dengan mata kagum dan mulut menganga. Namun sebaliknya dalam persembahan Maria, persembahan yang begitu besar nilainya Maria beri membuat murid-murid gusar dan tersinggung.

Dalam Markus 12 Alkitab terjemahan Indonesia menyebutkan “Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar” [ayat 41] yang dalam bahasa aslinya “eballon” menunjukkan “they were repeatedly casting” artinya orang-orang kaya ini bolak-balik mengisi kotak-kotak persembahan dari ujung ke ujung. Mari kita bayangkan scene ini seolah kita sedang bersama Yesus pada waktu itu duduk di depan peti-peti persembahan di pelataran wanita di Bait Allah. Ada 13 peti persembahan berbentuk seperti terompet terbuat dari logam mengelilingi pelataran itu sehingga orang kaya bisa memasukkan uang dan berkali-kali berkeliling sehingga mengundang perhatian dan kekaguman orang lain. Kalimat “Yesus duduk memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu,” dalam bahasa aslinya “etheorei” dari akar kata “theoreo” berbentuk Imperfect tense menunjukkan penekanan bahwa Yesus “repeated watching of the different persons who passed by.” Yesus mengamat-amati satu-persatu orang-orang yang memberikan persembahan di situ. Orang-orang kaya memasukkan berkeping-keping uang ke setiap kotak dan menghasilkan bunyi yang keras, berarti ada unsur “show off,” ada unsur kesengajaan, ada unsur supaya orang lain melihat dan ada unsur yang membuat para pemimpin agama dan para imam yang berada di ruangan itu menganga dan melihat penuh kekaguman kepada orang-orang kaya itu.

Yesus memulai di depan dengan mengkontraskan sikap dari pemimpin-pemimpin agama yang “suka berjalan-jalan memakai jubah yang panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam pertemuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang” (Markus 12:38-40) menjadi kontras terhadap apa yang dilakukan oleh janda miskin ini. Yesus tarik mata murid-murid untuk mengajar mereka melihat janda itu hanya memberi satu keping duit itu saja tetapi mereka tidak melihat apa yang ada di belakang tindakan dia. Kalau orang kaya itu datang ke bait Allah membawa tiga belas kantung uang lalu menuangkannya di dalam kotak-kotak persembahan dengan suara gemerincing yang begitu nyaring, membuat orang yang mendengarnya kaget dan kagum karena bunyi suara yang keras itu, sedangkan orang tidak tahu apa yang ada di belakang tindakan orang kaya itu, berapa banyak sesungguhnya uang yang ada di rumahnya. Kalau di rumahnya ada uang sepuluh ribu dinar, hasil dari menipu dan menelan rumah janda-janda, lalu dia datang ke bait Allah membawa 13 kantung uang seratus dinar sekalipun lalu engkau pikir dia memberi persembahan kepada Tuhan sangat besar jumlahnya sedangkan janda miskin ini datang hanya membawa 1 duit, itu 100% uang yang dia miliki hari itu. Yesus mengatakan, “Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” (Markus 12:43-44).

Ada motif yang salah di dalam memberi persembahan, dan pada waktu motif itu sudah salah, tidak peduli berapa besar jumlah uang yang kita beri menjadi sesuatu yang menyatakan kondisi kerohanian kita justru makin melakukan hal itu, semakin menyatakan sesuatu yang tidak beres di dalam kerohanian kita. Tetapi pada sisi yang lain jangan lalu membuat kita mengambil kesimpulan kalau begitu lebih baik saya memberi sedikit karena bukan itu yang Tuhan Yesus nyatakan di sini. Jadi bukan soal salah memberi banyak uang, tetapi mengenai hati motivasi.
Maka Tuhan Yesus memberikan pengajaran mengenai persembahan janda miskin ini sebagai prinsip dan satu model yang penting bagaimana kita mencintai dan mengasihi Tuhan. Lihat persembahan janda miskin ini lahir dari hati yang mau datang ke rumahmu tidak dengan tangan yang hampa, meskipun apa yang ada di tangan dia cuma dua peser itu, semua dia beri kepada Tuhan. Kenapa? Karena memang tidak bisa lebih rendah daripada itu. Ini adalah koin yang paling minimal yang ada pada waktu itu. Bedanya dengan Maria, hari itu Maria langsung mendapat konfirmasi dari Tuhan Yesus bahwa apa yang Maria lakukan bagiNya Yesus terima dan menghargai. Tetapi janda miskin ini tidak mendapatkan konfirmasi itu, karena kita tahu Yesus hanya berbicara kepada murid-murid, tetapi tidak berkata apa-apa kepada janda ini. Janda ini tidak menerima janji bahwa dia pulang ke rumahnya dia akan mendapat sesuatu, tidak ada kalimat konfirmasi dari Tuhan bahwa apa yang dia lakukan adalah yang terindah dan terbaik. Tetapi kisah persembahan janda miskin ini akan terus diceritakan di sepanjang jaman dan di surga janda miskin ini mengerti bahwa Tuhan Yesus memperhatikai dan menghargai pemberiannya, dan di situ hatinya bersyukur dan memuliakan Allah. Buat apa kalau hari ini orang memuji kita sudah memberi tetapi di surga nanti waktu bertemu Tuhan yang kita terima adalah teguran dan hukuman dariNya karena motivasi kita sudah menyeleweng? Lebih baik hari ini tidak ada orang yang melihat dan memuji engkau, tetapi nanti di sana apa yang telah engkau lakukan selama di dunia ini bagi Tuhan dengan diam-diam adalah bagi hormat dan kemuliaan nama Tuhan, kita menerima pujian dari Tuan kita, “Engkau adalah hamba yang baik dan setia,” itu yang paling penting.

Maka Tuhan Yesus memberikan prinsip ini kepada murid-murid, bukan seberapa yang kita beri, tetapi apa yang tersimpan di belakang pemberian itu. Yang kedua, pemberian itu tidak pernah mempunyai motivasi untuk dilihat orang. Persembahan itu tidak boleh menjadi motivasi sebagai sesuatu untuk gain something di dalamnya. Persembahan itu tidak boleh menjadi sesuatu yang membuat orang kemudian berpikir bahwa engkau lebih rohani daripada orang lain. Kita tidak pernah dan tidak boleh melakukan hal seperti itu.

Tetapi reaksi murid-murid terhadap persembahan Maria, berbeda. Kenapa mereka menjadi gusar, marah dan tersinggung? Maka kemarahan murid-murid diwakili oleh Yudas Iskariot yang berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual 300 dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin? (Yohanes 12:5), protesnya dibungkus dengan bahasa rohani. Dengan kata lain kalimat Yudas bisa seperti ini, sayang lho uang sebesar ini bisa kasih makan berapa banyak orang miskin, kenapa disia-siakan untuk meminyaki kakiMu?” Yudas dan murid-murid mempersalahkan Maria yang telah memberikan persembahan itu. Maka Tuhan Yesus memberikan teguran yang sangat keras kepadanya, “Leave her alone! Apa yang dia lakukan tidak ada urusan dengan engkau.”

Kisah ini akan engkau dan saya lebih pahami jikalau kita lihat konteks yang lebih luas. Yesus berkali-kali mengatakan bahwa Ia akan ditangkap, disesah dan dibunuh (Matius 26:2) tetapi mereka tidak memperhatikan perkataan Yesus sama sekali. Yesus ngomong apa, tidak ada yang mau dengar. Murid-murid sampai lebih dari 3 kali diberitahu, dan pasti dalam perjamuan di rumah Lazarus sekali lagi Yesus mengatakan hal yang sama, bicara mengenai perjalanan menuju kayu salib, jelas sekali. Kenapa? Karena Yesus mengatakan apa yang Maria lakukan ini adalah bagi penguburan Yesus. Berarti apa? Berarti Maria mendengar dan menyimak baik-baik apa yang Yesus katakan. Murid-murid tidak mau pay attention kepada perkataan Yesus. Berkali-kali kita bicara, terus tidak mau listen. Kalau sudah terus mengatakan demikian, akhirnya apa yang terjadi waktu murid-murid ini tidak mendengar? Minyak narwastu Maria dia mau jual. Lalu akhirnya apa? Siapa yang akhirnya Yudas jual? Yesus Kristus sendiri. Mengerikan cerita ini sebenarnya. Jadi anggaplah hari ini ada orang memberi persembahan minyak narwastu, lalu kita senang dan mengatakan wah bagus ini, untuk pekerjaan Tuhan. Lalu kita jual tetapi uangnya kita kantungi sendiri. Begitu kira-kira. Tidak ada minyak yang bisa dijual, Alkitab catat Yesus pun akhirnya dijual oleh Yudas seharga 30 keping perak.

Maria mendengar perkataan Yesus baik-baik, lalu hari itu dia memikirkan apa hal yang terbaik yang bisa dia berikan bagi Tuhan. Satu keputusan yang tidak gampang karena untuk membeli satu buli-buli minyak narwastu seharga 300 dinar dia harus mengumpulkan uang beberapa tahun lamanya. Tiga ratus dinar berarti upah 300 hari kerja, yang harus disimpan dan tidak digunakan bagi hal-hal dan kebutuhan yang lain. Berapa lama dia baru bisa membeli minyak narwastu itu, kalau dia bisa menyimpan 1 dinar setiap minggu, mungkin sedikitnya dia perlu 4 sampai 5 tahun menabung. Dan itu dia berikan bagi Yesus.

Kenapa Yudas tersinggung? Pertama, karena pemberian dari Maria yang besar itu membuka kebobrokan hati dia yang sama sekali tidak pernah mencintai Tuhan Yesus.
Kita seringkali kagum dan senang kalau ada orang yang memberi banyak, bukan? Tetapi pada saat yang sama kita juga bisa tersinggung pada waktu ada orang yang menyatakan kasihnya kepada Tuhan dengan memberi banyak. Kenapa kita tersinggung? Karena jujur saja, karena apa yang dia kerjakan dan lakukan kemudian meng-exposed sesuatu di dalam hidup kita yang sebetulnya kurang mengasihi Yesus sebesar kasihnya kepada Yesus.

Maka Yesus menegur Yudas dengan mengatakan, “Leave her alone!” ini menarik. Sebenarnya banyak orang seperti Yudas Iskariot yaitu mau mengelola uang orang lain supaya dia dilihat menjadi seorang yang melayani dengan baik, tetapi tidak mau dan tidak rela memakai uang sendiri. Yudas adalah bendaraha yang memegang uang persembahan, lalu pada waktu dia memberi kepada orang miskin, maka kepada siapa orang-orang miskin itu mengucapkan terima kasih? Kepada Yudas. Karena mereka mengira Yudas mengasihi dan memperhatikan mereka dan mengeluarkan uangnya buat mereka.

Maka waktu Yesus mengatakan, leave her alone, karena ini adalah minyak narwastu milik Maria. Yang benar adalah Maria membawa minyak narwastu bagi Yesus, Yudas juga membawa uangnya sendiri 300 dinar bagi Yesus sebelum engkau berkomentar terhadap apa yang Maria lakukan terhadap minyak itu. Yudas mau menyumbangkan uangnya yang 300 dinar buat orang miskin, itu urusan dia. Maria mau memakainya untuk meminyaki kaki Yesus untuk mempersiapkan penguburan Yesus, itu urusan dia. Yudas bersalah karena ini adalah uangnya Maria, lalu dia mau ambil untuk seolah mau diberikan kepada orang miskin, padahal Alkitab mengatakan di baliknya motif Yudas mau ambil itu untuk diri sendiri karena dia adalah seorang pencuri yang sering mengambil uang dari kas yang dipegangnya. Tetapi murid-murid yang lain tidak tahu akan hal itu, sebab sampai akhir waktu Yudas tidak ada bersama mereka, murid-murid masih mengira Yudas sedang berbelanja mengurus kebutuhan mereka menjelang Paskah. Tetapi Alkitab mengatakan dia adalah pencuri, berarti sebagian besar uang kas yang ada selama ini diambil oleh Yudas Iskariot. Maka kalimat dari Tuhan Yesus itu penting sekali, leave her alone. Apa yang dia perbuat tidak ada urusan dengan kamu; itu adalah pernyataan cinta kasih Maria kepadaKu. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana engkau mencintai dan mengasihi Tuhanmu? Kita seringkali merasa marah dan tersinggung sebab kita dipojokkan kepada satu situasi ketika orang itu menyatakan kasihnya dengan tanpa pamrih kita kemudian tersinggung sebab sebenarnya di balik daripada kita memberi dan kita memberi supaya orang memuji dan menghormati, itulah yang menjadi motifnya. Tetapi pada waktu tidak ada embel-embel seperti itu, kita tidak mau. Maria melakukan hal itu sebab dia mendengar dan menyimak baik-baik apa yang Yesus katakan. Murid-murid sama sekali tidak mendengar. Perhatikan, di antara murid-murid, jelas hanya Petrus yang menyatakan secara terbuka, aku akan memberikan nyawaku bagiMu, tetapi Alkitab mencatat Petrus menyangkal Yesus dan lari. Murid-murid yang lain tidak memberikan respons seperti itu. Yang ada ialah mereka terus memperdebatkan siapa yang palng penting dan paling besar di antara mereka satu sama
lain. Sampai kemudian Yesus harus mencuci kaki mereka satu-persatu untuk menyatakan kasihNya kepada mereka semua, tetapi setelah diseka satu pun mereka tidak ada yang berada di samping salib Tuhan Yesus kecuali Yohanes. Itulah yang terjadi.

Itulah bagian ini menjadi satu bagian yang indah dan penting sekali untuk kita pelajari dan renungkan, apakah kita benar-benar mendengar dan menyimak kepada firman Tuhan? Berkali-kali kita dikasih tahu, berkali-kali kita membicarakannya, tetapi kalau hati kita terus tutup dan degil tidak mau mendengar. Tuhan Yesus mengingatkan kita terus-menerus tetapi kembali dan kembali kita balik kepada hal-hal yang kita sendiri mau lakukan, sampai kapan? Point yang paling penting adalah kita melakukannya karena kita listen to the word of God dan kita melakukannya dengan kematangan rohani. Ingatkan, pada saat kita berbakti, Kristus hadir di tengah kita, mengamati kita satu-persatu berbakti dan beribadah, dan membawa persembahan kepada Tuhan, biar mataNya menembus lebih dalam ke dalam hati setiap kita.

Banyak hal yang sederhana bisa engkau lakukan sebagai ibadahmu kepada Tuhan bersama keluarga. Minggu pagi, ajak anak-anak berdoa waktu hendak ke rumah Tuhan, siapkan persembahan mereka, kalau mereka sudah besar ajar mereka mempersiapkan persembahan dengan uang saku mereka. Datang ke rumah Tuhan dengan thoughtful, bukan sekedar rutinitas dan seperti ke tempat sosial. Anak-anak dilatih dan dikasih tahu sehingga mereka tahu bagaimana memberi, mereka tahu berapa yang harus diberi. Kita pikirkan bagaimana memberikan pendidikan spiritual yang strategis dan efektif kepada mereka. Talk spiritual things di meja makanmu. Ini hal yang penting dan patut kita kerjakan dan lakukan. Kiranya melalui firman Tuhan ini kita selalu diingatkan ketika kita datang ke rumah Tuhan kita mencari suara Tuhan. Ketika kita datang ke rumah Tuhan, kita memberi persembahan bagi Tuhan dan bukan bagi diri. Kita datang di dalam ibadah melayani, bukan bagi kehormatan diri kita, tetapi bagi kemuliaan Tuhan. Let us worship God and glorify His name di dalam setiap hal yang kita kerjakan dan lakukan. Kita tidak merasa itu sebagai beban yang berat yang burdensome jikalau kita harus memberi lebih banyak, sebab Tuhan adalah Allah yang tidak pernah berkekurangan men-supply hidup kita. Jangan biarkan hati kita tidak berpikir lebih dalam, lebih thoughtful atas hidup kita, bagaimana relasi kita dengan Tuhan. Sehingga ketika kami mengerjakan sesuatu dalam hidup kita bagi Tuhan, kita memikirkannya dalam-dalam. Kiranya Tuhan memberkati kita masing-masing. (kz)