No Condemnation in Christ

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (18)
Tema: No Condemnation in Christ
Nats: Roma 8:1

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1). Tidak ada kata yang begitu indah, begitu menenangkan, begitu awesome, begitu memberikan kelegaan kepada kita, sebagaimana yang dinyatakan oleh ayat ini. Mari kita bayangkan di tengah kehidupan yang sudah berantakan, di tengah keadaan yang tidak ada pengharapan, datanglah kalimat ini: “Therefore, there is now no condemnation for those who are in Christ Jesus.” Kita tidak bisa memahami Roma 8:1 sebelum kita memahami betapa dalam, besar dan dahsyatnya pergumulan dosa yang ada di dalam hidup kita dan pembebasan pelepasan yang Yesus Kristus berikan menjadi keindahan dan pernyataan yang kita alami dalam hidup kita. Saya percaya pada waktu Paulus selesai menulis Roma 7, dia duduk merenungkan dan berpikir dalam-dalam dan kemudian menuliskan ayat Roma 8:1, yang bagi saya ini adalah satu pernyataan sukacita yang begitu dahsyat, begitu dalam, begitu meluap-luap, yang dia keluarkan dari hatinya yang mengalami pengampunan itu dan menjadi berkat bagi setiap orang yang pernah dihimpit oleh dosa dan rasa bersalah di hadapan Tuhan.

Damai yang sejati akan memberikan kelegaan ke dalam hati setiap kita, tetapi damai yang palsu hanya akan memberikan kelegaan yang sementara. Betapa kasihan orang yang mengira dia bisa mendapatkan damai yang sejati di luar kasih karunia Tuhan, dengan harta benda materi, pesta pora, drugs dan obat penenang, hanya seketika dan sementara semua itu menyenangkan hatinya, tetapi selanjutnya yang tinggal hanya kekosongan dan kehampaan. Dan satu hal yang kita perlu menyadari, kesalah-pahaman memahami damai sejahtera yang sejati justru bisa menimbulkan hal yang lebih berbahaya lagi. Yesus pernah mengingatkan pada waktu setan diusir dari seseorang yang kerasukan, tetapi pemberesan hidupnya terjadi pada waktu itu seketika, dari hidup yang kacau-balau karena dirusak oleh setan, sekarang bisa sadar dan waras. Tetapi Yesus tidak behenti sampai di situ. Yesus ingatkan, setelah setan itu pergi dan sesudah itu dia kembali lagi ke tempat hati orang itu dan dia mendapati meskipun sudah bersih dan rapi teratur tetapi tidak ada tuan yang berkuasa dan yang tinggal di dalam hidup orang itu, maka justru setan itu akan datang dan membawa teman-temannya yang lebih jahat daripada dia untuk masuk dan diam di hati orang itu. Maka Yesus katakan, akhirnya keadaan orang itu akan jauh lebih buruk daripada keadaannya sebelumnya (Lukas 11:24-26). Maka kita menemukan bahwa memahami damai sejahtera Allah secara keliru di dalam hidup kita justru bisa mendatangkan hal yang jauh lebih berbahaya di kemudian hari. Memahami pengampunan Allah secara keliru justru selanjutnya bisa membuat kita menjadi kurang ajar dan tidak respek kepada pengampunan yang Tuhan beri kepada kita.
Kita pernah mengalami hal yang seperti itu, bukan? Pada waktu seseorang meminjam uang atau sesuatu barang dari kita lalu dia tidak balikkan, kita bilang “cincay-lah,” tidak perlu membayarnya, tidak apa-apa. Kita pikir itu hanya masalah kecil antar teman baik. Tetapi bisa jadi orang itu tidak melihat bahwa itu adalah “good will” atau suatu itikad baik dari kita kepadanya dan dia lalu memanfaatkan kebaikan kita dengan meminjam dan tidak mengembalikannya lagi, berkali-kali seperti itu. Malah sebaliknya orang itu akan merasa engkau adalah orang yang jahat kepadanya jikalau lain kali sdr tidak mau meminjamkan lagi, atau menagih dia mengembalikan hutangnya di waktu-waktu yang akan datang. Sehingga seringkali muncul pepatah yang mengatakan, “Dikasih hati, minta jantung,” bukan?

Pada waktu Paulus mengatakan there is no more condemnation, kita tidak bisa menjadikan forgiveness itu sebagai sesuatu yang otomatis harus terjadi karena Dia Allah. Dalam Roma 6 Paulus mengingatkan hal itu bisa terjadi kepada orang yang mengaku sudah percaya Tuhan. Ketika anugerah demi anugerah dengan limpah Allah berikan, ketika pengampunan demi pengampunan dengan murah hati Allah berikan, kenapa tiba-tiba muncul sebagian orang yang mengaku Kristen mengeluarkan kalimat ini, “Kalau begitu mari kita terus bermain-main dalam dosa, supaya kasih karunia Tuhan semakin bertambah-tambah” (Roma 6:1). Paulus tegur orang-orang seperti ini dengan keras sekali, “Absolutely not!” Kalau kita pakai bahasa sekarang, Paulus bingung, kenapa engkau bisa berpikir seperti itu. Engkau berbuat dosa dan berbuat kesalahan dan meminta ampun dari Tuhan, tetapi kembali dan kembali engkau melakukan hal yang sama berulang-ulang. Maka ini menunjukkan pemahaman orang ini akan kasih karunia dan pengampunan Allah keliru adanya. Salah paham mengenai belas kasihan Tuhan bisa membuat orang menjadi semakin kurang ajar dan memurahkan belas kasihan Tuhan. Ini yang Paulus tegur dengan keras sekali kepada orang-orang tsb. Tetapi pada sisi yang lain, ada sebagian orang Kristen yang salah memahami apa itu dosa dan guilt di hadapan Tuhan, membuat orang itu dihimpit oleh rasa bersalah yang tidak habis-habisnya dalam hidupnya padahal dia tidak sepatutnya merasa guilty sebab Allah sudah memberikan pengampunanNya pada waktu dia datang mengakui kesalahan itu dan meminta ampun kepada Tuhan.

Dalam Roma pasal 1-5 Paulus menyatakan dosa manusia yang begitu besar dan dahsyat di hadapan kesucian, kebenaran dan keadilan Allah, dan tidak ada usaha, perbuatan baik dan jasa manusia yang bisa menjadi cara kita bisa dibenarkan oleh Allah. Only by God’s grace through Jesus Christ, kita hanya bisa dibenarkan melalui karya pengampunan Yesus Kristus di atas kayu salib ketika kita beriman percaya kepadaNya. Lalu selanjutnya dalam Roma 6 muncul kesalahan konsep mengenai anugerah Allah, kalau begitu terus saja kita berbuat dosa, kita tinggal datang minta ampun, maka Paulus segera membereskan hal itu. Kemudian di pasal 7 kita menemukan hal yang penting sekali bicara mengenai struggle yang terjadi di dalam hidup orang percaya, bicara mengenai pergumulan anak-anak Tuhan yang begitu tidak gampang berjalan dalam ketaatan mengikut Tuhan, bicara mengenai kuasa dosa yang begitu besar dan dahsyat membuat kita jatuh bangun dalam proses pengudusan Allah dalam hidup setiap kita. Kita baru memahami pengampunan Allah yang begitu berharga kalau kita sudah mengerti dengan jelas apa yang Alkitab katakan mengenai apa itu dosa. Paulus mengatakan kuasa dosa itu begitu besar luar biasa, sehingga bukan apa yang aku kehendaki yaitu yang baik yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki yaitu yang jahat, itulah yang aku perbuat (Roma 7:20). Aku menjadi tawanan hukum dosa, yang mengikat dan memperbudak diriku begitu kuat, begitu erat, membuat aku tidak berdaya (Roma 7:23). Itu adalah satu kesadaran yang membuat Paulus berseru dalam keputus-asaan, “Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Inilah teriakan putus asa dan desperate dari seorang anak Tuhan yang mengalami hidup yang jatuh bangun untuk melayani dan mengasihi Allah.

Pada waktu manusia yang diciptakan telah bersalah kepada Allah, Penciptanya, manusia telah bersalah kepada kekudusan Allah, manusia telah bersalah kepada hukum Allah. Lalu sesudah itu pada waktu sudah bersalah, apa yang terjadi? Manusia membenarkan diri dan mempersalahkan Allah sebagai penyebabnya. Itulah yang terjadi ketika Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa, kita menemukan sifat dosa di dalam diri manusia berdosa memiliki dua sifat ini. Yang pertama adalah mencari pembenaran, bukan mencari kebenaran. Percakapan Allah dengan Adam dan Hawa dalam Kejadian 3 jelas memperlihatkan hal ini. Waktu Allah mencari mereka, Adam mengatakan “Aku takut, sehingga aku bersembunyi.” Kemudian waktu Allah bertanya kenapa dia bersembunyi, dalam keadaan terpojok seperti itu, Adam lalu mempersalahkah Hawa “perempuan yang Engkau ciptakan.” Dan Hawa yang tidak mau dipersalahkan lalu buru-buru melempar kesalahan kepada ular. Maka kita melihat inilah yang namanya pembenaran terhadap dosa. Sifat dosa yang kedua adalah mempersalahkan Tuhan. Tuhan yang kita telah langgar hukumNya, Tuhan yang kita telah against, tetapi kemudian posisinya kita balik, lalu kita persalahkan Dia. Gara-gara Tuhan menciptakan ular, gara-gara Tuhan menciptakan perempuan ini, maka semua ujung-ujungnya gara-gara Tuhan. Ini keliru.

Ada beberapa aspek yang perlu kita mengerti tentang dosa dan pengampunan.

Pertama, pengampunan tidak akan dimengerti dan dihargai dengan sepatutnya kalau orang itu tidak mengerti berapa besar kesalahan yang sudah dia perbuat di hadapan Tuhan. Pengampunan tidak akan dimengerti dan dihargai dengan sepatutnya kalau orang itu tidak mengerti apa yang Alkitab katakan tentang dosa. Kita tidak akan mengerti dalamnya arti kalimat “no more condemnation for those who are in Christ Jesus” kalau kita tidak pernah mengerti betapa dalamnya kita sudah jatuh, betapa desperate dan hopeless keadaan kita di hadapan Tuhan. Kita tidak akan menghargai dengan sukacita dan kelegaan besar atas apa yang Tuhan telah lakukan sehingga condemnation itu tidak terjadi kepada kita. Allah tidak “erased” menghapus dosa itu. Sebaliknya, Allah melakukan apa? Allah menanggungkan semua dosa itu kepada AnakNya. Ada korban yang harus dibayar yaitu Anak Allah mati di kayu salib menanggungnya. Allah tidak menghapus dosa begitu saja. Pemahaman ini penting sekali.

Ada seorang bisnisman yang kaya didatangi oleh temannya, seorang yang lebih miskin. Orang ini meminta tolong kepada yang kaya untuk meminjamkan sejumlah uang karena dia sedang menghadapi kesulitan. Dalam pembicaraan itu dia mengatakan, “Tolonglah saya, saya dalam kesulitan besar, pinjamkanlah sejumlah uang kepada saya, saya akan membayar bunga 3%.” Karena kasihan, bisnisman yang kaya ini kemudian mengatakan, “Tidak usah begitu. Saya adalah temanmu. Saya akan meminjamkan uang kepadamu tanpa bunga. Pakai saja uang itu. Tetapi tolong dalam 3 bulan, kamu bisa kembalikan separuhnya, lalu setelah 1 tahun kamu kembalikan seluruhnya.” Dia setuju. “Tentu. Tentu. Terima kasih engkau mau menolong saya.” Tetapi apa yang terjadi? Setelah 3 bulan, orang itu tidak menepati janjinya. Bahkan dia tidak muncul sama sekali. Bisnisman yang kaya itu menemui dia dan bertanya, “Bagaimana? Bolehkah kembalikan separuh uangku seperti perjanjian kita, karena saya juga memerlukan uang itu.” Tetapi dia tidak mau bayar. Setahun kemudian dia tetap tidak mau bayar meskipun bisnisman kaya ini datang baik-baik dan meminta dia membayar hutangnya. Maka bisnisman yang kaya itu kemudian frustrasi sekali, setelah berkali-kali melalui jalur pribadi komunikasi tidak jalan, akhirnya dia melihat tidak ada jalan lain dia harus selesaikan secara hukum. Sdr yang tidak tahu cerita yang sesungguhnya akan segera mempersalahkan tindakan bisnisman kaya ini, koq tega ya orang kaya ini menyeret orang miskin ke pengadilan? Jadi yang dilihat di sini adalah aspek kaya miskin, bahwa orang kaya itu telah bertindak semena-mena kepada orang miskin.

Kedua, tidak semua hal kita harus meminta maaf karena memang bukan dosa. Kita hanya menyesal karena hal itu terjadi menyusahkan orang tetapi bukan dosa.

Baru saja terjadi beberapa hari yang lalu di rumah kami. Pagi hari saya mengajak anak saya yang paling kecil untuk pergi ke pasar berbelanja barang kebutuhan sehari-hari. Kita berdua menikmati kebersamaan berbelanja dan bonding sama-sama dengan akrab. Tiba di rumah, kami membawa tas-tas plastik berisi barang belanjaan dan meletakkannya di atas meja di dapur. Saya masih ada di depan pintu memegang kantong belanja saat saya mendengar suara yang sangat keras, botol kecap manis yang baru saja kami beli jatuh dan pecah berantakan di lantai. Anak saya meletakkan kantong plastik berisi botol kecap itu dengan sembarangan sehingga botol itu jatuh. Melihat kecap yang lengket dan beling botol berserak di lantai, apa yang terjadi selanjutnya? Ini pembenaran kita: cuaca hari itu panas sekali 40 derajat, emosi naik, hati cepat bereaksi. “Kamu sudah umur 13 tahun, kenapa tidak teliti. Masakan taruh botol seperti ini? Hal kecil saja tidak bisa!” Kita mengatakan kalimat itu sebetulnya mungkin untuk mengajar dia lain kali untuk tidak mengulangi hal yang sama dan lebih hati-hati kalau meletakkan barang yang bisa pecah. Tetapi apapun pembenaran yang kita coba buat sebagai orang tua mau “lecturing” anak kita, lalu saya minta dia minta maaf. Reaksi anak itu masuk ke kamarnya sambil menangis. Isteri saya langsung bilang begini kepada saya, “Engkau salah. Dia tidak perlu minta maaf. Botol itu jatuh dan pecah, itu adalah carelessness dia, tetapi itu bukan dosa. Tetapi dengan mengeluarkan kalimat-kalimat dalam keadaan angry seperti itu, engkau telah menyakiti hati anakmu, dan itu adalah dosa.” Kalimat itu menyentak hati saya. Jadi sebetulnya yang perlu minta maaf adalah saya, ayahnya. Alkitab bilang, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (Kolose 3:21). Pada waktu engkau melanggar firman Tuhan ini, engkau sudah bersalah karena engkau tidak taat kepada perintah Tuhan ini. Pada waktu saya tahu saya sudah bersalah, saya mesti datang dengan rendah hati kepada anak saya dan minta maaf kepada dia atas kata-kata saya yang sudah menyakiti hatinya. Tidak ada lagi soal di situ saya bapak dia anak. Saya minta maaf dan saya peluk dia, meskipun itu tidak otomatis membuat dia berhenti menangis dan hatinya tidak terluka lagi.
Maka kita baru mengerti konsep minta maaf dan memberi pengampunan jika kita mengerti apa yang Alkitab katakan mengenai dosa. Alkitab tidak mengatakan carelessness is sin. Alkitab tidak mengatakan clumsiness is sin. Alkitab tidak mengatakan lack of understanding is sin. Alkitab tidak mengatakan teledor itu dosa. Alkitab mengatakan, “Jangan lekas-lekas marah” (Pengkhotbah 7:9). “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Efesus 4:26). Alkitab mengatakan iri hati adalah dosa. Alkitab mengatakan kebencian adalah dosa. Alkitab mengatakan gosip dan fitnah adalah dosa. Alkitab mengatakan kata-kata yang keras dan kasar adalah dosa.

Suami dipecat dari pekerjaannya, itu bukan dosa. Suami sudah pergi bekerja seharian, sampai di rumah masih tidak punya uang membeli beras bagi rumahnya, itu bukan dosa. Yang dosa adalah kalau suami itu tidak mau bekerja dan berusaha, karena itu adalah kewajibannya. Engkau usaha, lalu gagal, itu bukan dosa. Engkau berbisnis, lalu kena tipu, itu bukan dosa. Semua itu membuat hati kita sedih dan kecewa, tetapi itu bukan sebuah dosa yang engkau perlu minta maaf.

Anak kita mungkin slow and forgetful, tetapi slow and forgetful itu bukan dosa. Tetapi sin akan terjadi kalau engkau sebagai orang tuanya tidak sabaran, engkau pukul dia dan mengatakan label-label yang melukai hatinya. Engkau yang berdosa di situ, dan engkau harus minta maaf kepadanya. Tetapi sebaliknya kita akan salah juga kalau kita mencari pembenaran diri, “saya orangnya memang begitu.”

Ada orang yang mempunyai personality cepat sekali berkata-kata tanpa berpikir panjang. Itu bukan dosa, itu adalah kelemahan seseorang. Tetapi apa yang dia katakan, itu bisa dosa, bisa tidak. Berkali-kali Petrus berkata, berkomentar dan bereaksi terlalu cepat tanpa pikir panjang, namun Tuhan Yesus tidak selalu menegur dia. Tetapi pada waktu di Galatia, dia duduk makan dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi, kemudian datang orang-orang Kristen Yahudi ke sana, dengan segera Petrus menjauhi orang-orang bukan Yahudi dan tidak mau makan satu meja dengan mereka karena takut kepada orang Yahudi, Paulus menegur dia dengan keras karena tindakannya salah (Galatia 2:11-14).

Jadi clumsiness, carelessness, forgetful, slow, itu bisa terjadi di dalam hidup kita, itu yang kita sebut weakness atau kelemahan. Dalam diskusi suami isteri, kadang suasana bisa memanas karena perbedaan pendapat. Tetapi sdr tidak boleh melanggar prinsip firman Tuhan ini: “Hai suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Kolose 3:19). Dan para isteri, “Tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan” (Kolose 3:18). Adalah dosa kalau isteri kemudian menjadi disrespect kepada suaminya dan mengeluarkan kata-kata yang kasar dan menghina.

Kalau saya sudah bersalah kepada anak saya, saya punya responsibility untuk menyembuhkan luka hatinya. Ada orang tua bertahun-tahun hidup di dalam guilty feeling yang tidak habis-habisnya karena sering melukai hati anaknya, tetapi guilty yang “mood swing” terlalu ekstrim. Waktu anak melakukan sesuatu yang dia tidak sengaja, tangan kita dengan ringan memukul dia, lalu setelah itu kita menyesal sudah over-reacted, lalu membelikan es krim supaya dia berhenti menangis. Kita mengirim message yang membingungkan dia. Kita tidak boleh seperti itu. Dia perlu papa yang mendisiplin dia mengingatkan dia, memberkati dia, berdoa bersama dia, memeluk dia, tidak ada lagi kata-kata yang kasar. Itu yang bikin dia tenang dan percaya papa sungguh-sungguh memiliki hati yang diperbaharui seperti itu. Itu akan membuat kita memiliki pertumbuhan yang indah di dalam Tuhan.

Ketiga, kita sering marah untuk hal-hal yang tidak sepatutnya kita bereaksi seperti itu. Kenapa kita menjadi marah? Karena itu berkaitan dengan hal yang paling kita sayangi dan utamakan di dalam hidup kita. Kenapa kita bisa marah besar kalau mobil yang kita sayang kebaret? Barangkali itu berarti kita sudah menjadikan mobil itu sebagai berhala kita. Apa yang paling engkau cinta the most, itu berhalamu, itu menjadi tuhanmu dan itulah yang menjadi sumber engkau bereaksi. Mulai dari mobil, dan barang-barang materi, sampai harga diri, dst. Sepatu kita yang mengkilap diinjak orang, marahnya minta ampun. Rumah kita menjadi berhala kita, akhirnya anak kita menjadi takut pulang ke rumah, karena terus diawasi kalau membuat rumah kotor dan berantakan, saking bersihnya rumah kita. Rumah itu jadi berhala. Sampai nanti anakmu bilang, papa, rumah ini sudah menjadi temple of worship-mu, engkau baru sadar, that’s wrong.

Hari ini saya rindu pemahaman kita mengenai pengampunan Allah dan akan dosa itu akan me-restore relasi kita dengan Allah dan denan orang-orang yang kita kasihi. Bawalah konsep pengampunan dan forgiveness ini di dalam hidup relasi kita satu dengan yang lain. Dengan demikian kita bertumbuh menjadi seorang Kristen dan menjadi keluarga yang indah bersama-sama. Kiranya Tuhan memberkati setiap tutur kata kita, tingkah laku dan perbuatan kita seturut dengan kebenaran firman Tuhan.(kz)