No Condemnation in Christ (3)

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: No Condemnation in Christ [3]
Nats: Roma 8:1, 2 Korintus 5:10

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1).
“Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus supaya setiap orang menerima apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10).

Roma 8:1 firman Tuhan berkata, “Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus!” Ayat itu menjadi jaminan dan kekuatan bagi setiap kita dan memberikan sekuritas janji keselamatan di dalam Kristus Yesus. Apa yang sudah Yesus kerjakan bagi penebusan kita dengan kematianNya di kayu salib sudah tuntas selesai, tidak ada orang yang bisa tambah, tidak ada yang perlu menyempurnakannya, karena semua telah Ia selesaikan dengan sempurna. Itu sebabnya bukan di dalam nama yang lain, melainkan di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus tidak ada lagi penghukuman, sebab hukuman dosa dan kematian kita yang percaya kepadaNya telah ditanggung di atas kematianNya. Tetapi pada pihak yang lain, dalam 2 Korintus 5:10 Paulus mengatakan setiap manusia akan berdiri di depan tahta pengadilan Kristus, baik dia yang percaya Tuhan maupun orang-orang yang bukan umat Tuhan. Untuk apa? Untuk menerima penghakiman [judgment] itu. Maka meskipun kita adalah umat Tuhan, anak-anak Tuhan, satu kali kelak kita akan berdiri di hadapan tahta pengadilan Kristus dan segala perbuatan kita selama di dunia ini, baik atau jahat, semua akan diadili di hadapanNya. Ini adalah dua aspek yang sungguh harus kita camkan baik-baik dan harus menghasilkan respons yang benar. Kita harus dengan seimbang melihat, tidak ada lagi penghukuman membuat kita merasa aman dan feel secure di hadapan Tuhan, tetapi mengingat bahwa kita akan berdiri di hadapan pengadilanNya membuat kita takut dan gemetar di hadapan Dia. Sekuritas yang palsu tidak akan melahirkan perasaan gentar di hadapan Tuhan. Tetapi perasaan selalu takut akan dihukum Tuhan akan membuat orang Kristen kehilangan sukacita dan damai sejahtera atas apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup kita.

Dalam Matius 25:31 46 Tuhan Yesus membukakan mengenai penghakiman yang akan Ia lakukan terhadap orang percaya dan orang yang tidak percaya Tuhan, yang dilukiskan dengan domba dan kambing. Kambing itu melukiskan orang-orang yang berbuat jahat, yang karena perbuatan jahat itu sudah menjadi habitual [kebiasaan] maka justru anehnya kambing itu tidak sadar dia sudah berbuat jahat. Tetapi pada saat yang sama domba-domba yang melukiskan anak-anak Tuhan melakukan kebaikan sudah menjadi satu kebiasaan, saat ketemu Tuhan, domba itu sendiri merasa heran itu adalah hal baik yang mendapat pujian dari Tuhan. Pada waktu kambing-kambing itu diadili, Yesus mengatakan, “Pergilah daripadaKu engkau yang berbuat kejahatan. Karena ketika Aku lapar engkau tidak memberi Aku makan, ketika Aku haus engkau tidak memberi Aku minum, ketika Aku menjadi orang asing engkau tidak membuka pintu bagi Aku, ketika Aku telanjang engkau tidak memberi Aku pakaian, ketika Aku sakit dan berada di dalam penjara engkau tidak menjenguk Aku.” Apa jawaban dari kambing-kambing itu? “Tuhan, kapankah kami melihat Engkau lapar dan haus dan telanjang, sakit dan dipenjara dan tidak menolong Engkau?” Kalau Tuhan yang penuh kemuliaan itu datang dan mengatakan Ia lapar, maka sudah pasti dengan sendirinya mereka akan menjamuNya dengan makanan dan pesta supaya mereka mendapat pujian dan balasannya. Kalau Yesus datang sebagai gembel, engkau tidak mau melakukan itu. Kalau Ia datang sebagai pembesar, engkau akan menyambut Dia. Lalu kemudian Yesus berkata kepada domba-domba di sebelah kananNya, “Masuklah ke dalam kerajaan BapaKu, karena pada waktu Aku lapar engku memberiKu makan, pada waktu Aku haus engkau memberi Aku minum, pada waktu Aku orang asing engkau menyambut Aku, pada waktu Aku telanjang engkau memberi Aku pakaian, pada waktu Aku sakit engkau membesuk Aku, pada waktu Aku dipenjara engkau menjenguk Aku.” Domba-domba itu menjawab yang sama, “Tuhan, kapankah kami melihat Engkau lapar dan memberiMu makan, Engkau haus dan kami memberiMu minum, ketika Engkau orang asing kami menyambut Engkau, ketika Engkau telanjang kami memberiMu pakaian, ketika Engkau sakit dan berada di penjara, kami membesuk Engkau?” Tuhan menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya apa yang engkau lakukan kepada orang yang paling hina ini, engkau telah melakukannya bagiKu.” Di sini kita melihat perbuatan baik sudah menjadi satu kebiasaan, menjadi bagian daripada sumsum dan tulang orang Kristen sendirinya yang akhirnya tidak menyadari bahwa itu adalah hal-hal yang dipuji oleh Tuhan. Nanti di hadapan Allah terjadi paradoks ini: Tuhan mengadili kita berdasarkan perbuatan kita, namun di sana kita akan mengatakan, “Tuhan, aku tidak layak menerima pujian dariMu. Itu semua bukan perbuatanku tetapi karena kasih karunia dari Tuhan.” Sebaliknya kambing-kambing itu akan mengangkat semua jasanya, “Aku sudah melakukan ini dan itu, aku sudah bernubuat demi namaMu, aku melakukan mujizat demi namaMu.” Namun untuk siapa semua itu? Untuk kemuliaan diri. Maka Tuhan mengatakan Aku tidak kenal engkau. Pergilah daripadaKu engkau pembuat kejahatan.

Hari ini kita akan melihat lebih teliti bagaimana penghakiman dan pengadilan Allah tsb.

Paulus berkata, “Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus supaya setiap orang menerima apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Kelak kita semua akan berdiri di hadapan tahta pengadilan Kristus, dan masing-masing orang akan nampak dari perbuatannya, apa yang baik dan apa yang jahat.
Ada dua konteks berkaitan dengan ucapan Paulus dalam 2 Korintus 5:10, dimana Paulus mulai menjadi tua. Paulus mengatakan “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (2 Korintus 4:16). Ini konteks yang pertama. Konteks yang kedua ada di dalam 2 Korintus 5:11 “Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu.” Ayat 11 adalah konteksnya karena ada judgment yang keliru terhadap Paulus sehingga dia mengatakan seperti itu. Kalau kita baca surat 1 Korintus dan 2 Korintus, kita akan menemukan bahwa Paulus mengalami tuduhan dan kritikan yang sangat jahat dan keliru dari beberapa orang. Kita bisa melihat tension emosi Paulus dalam pembelaan diri dari 1 Korintus 9:1-3 “Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengeritik aku.” Ucapan orang luar yang mengatakan Paulus bukan rasul yang sah, Paulus bukan rasul yang benar, dsb sedikitnya berefek kepada jemaat Korintus. Bagi Paulus, dia tidak peduli kritikan dan tuduhan mereka selama jemaat Korintus tidak demikian. I don’t care what they say but you know who I am and what I do. Dan ini menjadi jawaban Paulus kepada mereka yangmengkritik dia, ingat, masing-masing kita akan menghadap tahta pengadilan Allah kelak. Kalau engkau sudah menuduh dan memfitnah aku dengan tidak benar, engkau harus mempertanggung-jawabkan semua itu di hadapan pengadilan Kristus.

Ada beberapa hal yang kita pelajari dari pengadilan dan penghakiman Allah ini.
Pertama, apakah ada kesadaran ketika hari-hari kita di dunia ini hampir berakhir, kita makin dalam mengenal Tuhan, sehingga pengadilanNya menjadi sesuatu yang kita rindukan?
Kalau kita berulang tahun, sebetulnya kita bertambah umur atau justru berkurang? Kalau orang berulang tahun seharusnya kita mengatakan dia panjang umur atau pendek umur? Kalau kita berganti tahun, sebetulnya hidup kita bertambah panjang atau bertambah pendek? Jawabannya dua-dua benar,tergantung ditinjau darimana. Panjang ditinjau dari sudah berapa lama dia hidup di dunia ini, pendek karena kita tahu sebab kita tidak hidup selama-lamanya.

C.S.Lewis dalam bukunya “The Chronicles of Narnia” membukakan satu hal yang sangat menarik. Dalam buku pertama, Lucy berjumpa dengan Aslan, singa yang merupakan simbol Yesus Kristus, kira-kira pada waktu dia berumur 7 atau 8 tahun. Kemudian dalam buku kedua, Lucy berjumpa dengan Aslan kembali pada waktu dia sudah berumur 13 tahun. Menarik sekali, Lucy berkata kepada Aslan, “Aslan, you are bigger.” Aslan menjawab, “That’s because you are older.” C.S. Lewis tidak menjelaskan lebih lagi, tetapi kita bisa menemukan satu hal yang luar biasa yang ingin dia sampaikan dalam percakapan ini. Waktu kita masih kecil, segala sesuatu yang ada di sekitar kita kelihatan besar. Dalam memory saya lapangan bola di asrama polisi di kampung saya begitu besar dan luas. Saya bingung 30 tahun kemudian saya kembali ke sana, ternyata lapangan itu kecil. Secara fisik ketika usia kita bertambah, semua yang dulunya kita kira besar ternyata kecil. Tetapi bicara mengenai pertumbuhan rohani, sebaliknya yang terjadi. Ketika “usia” rohani kita makin bertambah, kita akan melihat Tuhan semakin besar dalam hidup kita. Inilah hal yang sama Paulus katakan, meskipun kemah tubuhku semakin lemah, tetapi rohaniku diperbaharui oleh Tuhan dari hari ke sehari. Usia kita “older” kita mengalami rohani kita “renewed” semakin muda dan semakin segar di hadapan Tuhan. Pada waktu saya mengajak sdr melihat penghakiman Allah, tidak boleh kita approach itu dengan keliru dan dengan ketakutan yang luar biasa. Orang yang takut terhadap pengadilan Tuhan berarti ada sesuatu yang salah dalam hidupnya. Orang yang transparan dan bersih di hadapan Tuhan tidak perlu takut akan pengadilan Tuhan karena tidak ada sesuatu yang kita sembunyikan dariNya. Kalau kita baik, kalau kita benar, kalau motivasi hati kita tulus, kita tidak perlu takut. Pengadilan di dunia ini mungkin saja “crooked” sehingga orang yang benar bisa divonis bersalah. Namun pengadilan Allah tidak akan mungkin seperti itu. Maka orang Kristen yang benar akan melihat penghakiman Allah tidak dengan ketakutan melainkan dengan kedamaian dan sukacita karena dia tahu Allah yang adil akan menghakimi dengan seadil-adilnya, dan dia aman di dalam tangan Allah yang adil itu.

Kedua, pada waktu kita membaca 1 Korintus 3:10-15, Paulus menggambarkan pengadilan Allah dengan satu lukisan bagaimana satu kali kelak apa yang kita bangun di dalam hidup kita akan dibakar oleh api. Kita harus mengerti pembakaran ini bukan pembakaran untuk membinasakan kita. Itu bukanlah api penghukuman melainkan api pemurnian. Api pemurnian Kristus adalah seperti proses pemurnian logam [metallurgy]. Tujuannya adalah untuk membersihkan logam itu dari kotorannya supaya makin bersih dan makin bersih. Api pemurnian itu tidak pernah ditakutkan oleh tiga jenis benda logam yang dikatakan oleh 1 Korintus 3 yaitu oleh emas, perak dan batu permata. Tetapi api pemurnian itu akan menjadi api yang menghanguskan tiga jenis material lain yaitu kayu, rumput kering dan jerami. Dengan konsep ini Paulus memperingatkan kita pada waktu kita menuju kepada pemurnian di sana, kita tidak perlu takut karena kita menjadi anak Allah, kita akan mengalami sesuatu pemurnian yang indah. Tuhan tidak akan mempermalukan kita karena Tuhan mau sampai nanti kita bertemu Dia, baju kita memang putih bersih, bagaikan mempelai wanita yang cemerlang tanpa kerut. Saya sangat rindu sdr memiliki konsep God’s judgment itu membuat kita senantiasa sadar setiap langkah kita ikut Tuhan kita melewati proses pruning dan purifying pemurnian metal. Ini adalah dua kata penting yang dipakai sebagai lukisan di dalam Alkitab kita. Dalam Yohanes 15:2 Yesus berkata, “Setiap ranting padaKu yang berbuah dibersihkannya supaya ia lebih banyak berbuah.” Kata dipotong di sini adalah “pruning.” Ibrani 12:5-8 berkata jikalau engkau adalah anak-anak Allah yang sejati, Allah akan mendisplin kita. Disiplin Tuhan itu menyakitkan dan membuat kita mengeluarkan air mata, tetapi disiplin itu akan membuat kita makin mengenal siapa Dia. Disiplin itu justru menjadi bukti kita adalah anak-anak Allah yang sejati. Disiplin itu justru menjadi bukti kita memiliki iman yang sejati. Mungkin kita kuatir memasuki tahun yang baru karena hidup kita penuh dengan tantangan dan kesulitan, ada penderitaan dan sakit, ada ketidak-berhasilan di dalam usaha dan pekerjaan, ada konflik dalam relasi, dan berbagai hal lain tetapi apakah kita melihat hal itu semua sebagai pembersihan dan pembentukan Tuhan untuk kita lebih sadar, lebih dibersihkan dari segala macam impurity kotoran-kotoran yang ada di dalam hidup kita dengan satu tujuan supaya kita menjadi semakin bersih di hadapan Allah. Maka di situ kita menyaksikan konsep judgment Allah itu sebagai sesuatu yang menghibur kita. Dengan pengertian konsep seperti ini kita tidak pernah menjadi takut dan kuatir sebab Allah kita akan terus bekerja melakukan perubahan di dalam hidup kita untuk semakin serupa dengan Kristus. Allah membersihkan umatNya, Allah membersihkan gerejaNya.

Bagaimana kita membawa konsep ini di dalam hidup kita masing-masing? Ada tiga hal: apakah sepanjang tahun ini kita sudah menjalankan daily confession di hadapan Allah? Apakah sepanjang tahun ini kita hidup di dalam konsep “Coram Deo, to live in the presence of God,” menyadari hadirat Allah ada di tengah kita dan kita hormat dan kagum di hadapanNya? Apakah sepanjang tahun ini kita mau hati nurani kita senantiasa dibersihkan dari segala hal yang tidak berkenan kepadaNya? Ini adalah tiga hal yang penting sekali. Dan tidak ada tempat yang lain untuk tiga hal ini terjadi selain kita berinteraksi senantiasa dengan firman Tuhan. Saya bukan orang yang sempurna, saya banyak cacat cela dan kelemahan. Tetapi tidak ada hari dan minggu dimana firman Tuhan tidak berbicara dan saya tidak melakukan tiga hal ini. Tuhan, saya mengakui kesalahan dan dosaku di hadapanMu. Tuhan, bersihkanlah hati nuraniku dari hal-hal yang tidak benar dan tidak berkenan kepadaMu. Karena itu yang tidak kelihatan di permukaan. Dengan disiplin melakukan tiga hal ini setiap hari kita berbagian dengan proses Allah melakukan pruning dan pembersihan itu dalam hidup kita. Jangan tambah aktifitas dan kegiata yang banyak, kalau kita melakukan itu semua dengan sikap dan motivasi seolah-olah dengan semakin banyak aktifitas dan kegiatan yang engkau lakukan membuat kerohanianmu makin bertumbuh.

Jadi apa saja yang Tuhan akan adili di sana? Apa saja. Pikiran kita, perkataan kita, perbuatan kita. Yesus pernah mengatakan, “Apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah” (Lukas 12:3). Tuhan akan mengadili semua yang kita pikirkan, katakan dan kerjakan. Maka mari kita lakukan semua itu dengan hati yang takut kepada Tuhan. Yang kedua, mari kita memahami pengadilan Kristus itu sebagai momen dimana Ia memberikan upah kepada kita. Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upahKu untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya” (Wahyu 22:12). Memahami tentang reward ini penting sekali sebab Allah kita adalah Allah yang adil, Allah tidak pernah lupa dan Allah tidak pernah abaikan dua hal ini, yang jahat dan yang baik. Sdr tidak usah takut dan tidak perlu kuatir apa yang kita kerjakan dan lakukan selama di dunia ini, walaupun tidak dihargai orang, dilihat oleh Tuhan, itu sudah cukup. Apa yang kita kerjakan dengan tanpa pamrih kepada keluarga kita, kepada rekan bisnis kita, kepada siapa saja dengan good conscience, loving-kindness, merciful and justice, tidak pernah dilupakan oleh Allah. Sdr tidak mendapat rewardnya hari ini, sdr dapat rewardnya dari Kristus nanti di sana. Pada saat yang sama, sdr tidak usah benci, pahit, marah terhadap hal-hal ketidak-adilan yang dilakukan orang kepadamu, karena tidak ada hal-hal yang tersembunyi yang Tuhan akan biarkan tersembunyi selama-lamanya. Allah akan mengadili semua itu dengan keadilanNya. Orang yang membunuh dan melakukan banyak hal yang merugikan orang lain selama di dunia ini, mungkin dia bisa hidup dengan nyaman dan tenang bahkan dia bisa menikmati harta yang dihasilkan dari korupsi dan eksploitasi sampai tujuh turunan sekalipun, jangan pernah membuat engkau merasa iri kepada orang itu. Dan jangan pikir bahwa hidup orang seperti itu adalah hidup yang indah, baik dan wonderful, karena kita punya Allah yang adil yang akan mengadili orang ini kelak. Yang pernah membunuh begitu banyak orang di kamar gas, lalu bisa lari bersembunyi dan hidup bertahun-tahun lamanya tanpa diadili oleh pengadilan di dunia ini, jangan pikir mereka bisa lepas dari pengadilan Allah kelak. Mereka akan berdiri di hadapan tahta pengadilan Kristus yang adil itu.

Maka 3 hal ini penting sekali dia angkat bagaimana kita hidup dan melayani sebagai orang Kristen: pertama, apakah kita takut akan Allah; kedua,apakah hati nuraniku bersih dan nyata; ketiga, kita memiliki pertimbangan yang tidak boleh terlalu cepat di dalam menilai sesuatu. Ini penting sekali. Setiap kali sebelum kita bereaksi terhadap sesuatu hal, selalu tanya terlebih dahulu Tuhan senang atau tidak? Tuhan suka atau tidak? Apakah ini memuliakan Tuhan atau tidak? Di dalam kita melakukan sesuatu, di dalam kita memikirkan sesuatu, di dalam kita mengatakan sesuatu selalu dengan perasaan segala hal yang saya pikirkan, katakan, dan lakukan semua akan dibukakan di hadapan pengadilan Tuhan. Sehingga seperti kalimat Paulus, ketika engkau makan atau minum atau melakukan apapun juga, lakukanlah itu untuk kemuliaan Allah. Semua ini menjadikan kita orang yang lebih dewasa di dalam Tuhan.

Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati setiap kita untuk bertumbuh di dalam hidup kita, mengoreksi hidup kita, meneliti hidup kita, dan selalu berdiri di hadapan Allah dengan hati yang takut akan Dia, gentar di hadapan Tuhan dan membersihkan hati nurani kita di dalam terang firman Tuhan. Biar firman Tuhan meneropong dan mengingatkan kita, bahwa masing-masing kita kelak akan mempertanggung-jawabkan hidup kita kepada Tuhan. Kiranya Tuhan menolong setiap kita masing-masing supaya apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, senantiasa di dalam pimpinan dan penyertaan dari kebenaran firman Tuhan.(kz)