No Condemnation in Christ (2)

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: No Condemnation in Christ [2]
Nats: Roma 8:1, 2 Korintus 5:10

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1).
“Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus supaya setiap orang menerima apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10).

Kalau kita hanya membaca Roma 8:1, itu mungkin bisa menimbulkan kesalah-pahaman di dalam iman Kekristenan bicara mengenai kaitan antara keselamatan dengan perbuatan baik. Tetapi kalau kita hanya membaca 2 Korintus 5:10 saja maka kita juga bisa salah paham seolah-olah kita memperoleh keselamatan itu berdasarkan perbuatan baik kita. Maka dua ayat ini harus kita gabungkan sama-sama sehingga kita boleh mengerti dengan indah dan benar bagaimana hidup orang Kristen yang telah ditebus oleh Tuhan dan bagaimana kelakuan mereka itu selama di dunia ini akan dihakimi di hadapan Tuhan. Jelas sekali Roma 8:1 mengatakan tidak ada penghukuman [condemnation] bagi orang yang percaya Yesus Kristus, tetapi 2 Korintus 5:10 mengatakan kita semua harus menghadap pengadilan [judgment] Kristus. No condemnation but there is judgment. Tidak ada penghukuman tetapi ada pengadilan. Kita tidak boleh abaikan dua aspek ini yang disebutkan oleh Alkitab untuk memberikan perbedaannya.

Kita bisa melihat isu yang beredar belakangan ini di dunia selebriti Hollywood mengupas semua kebusukan dan kebobrokan yang sudah terjadi begitu lama namun selama ini tersimpan di bawah permukaan. Atas nama kuasa dan uang dan orang-orang yang memiliki posisi terhadap orang-orang yang ingin bekerja di dalam dunia industri perfilman ada satu persetujuan tidak tertulis: engkau tidak mungkin bisa menjadi artis terkenal papan atas jikalau engkau tidak mau membayar dengan seks. Semua tahu itu, tetapi semua memilih untuk tutup mulut. Dan sesudah terbuka dan terbongkar, semua buru-buru mencari excuses dan mengaku tidak terlibat di situ. Orang mungkin cuma senyum sinis mengatakan itu bukan hal baru, itu sudah lama, itu sudah biasa. Kebusukan produser itu sudah terbongkar tetapi dia tidak mengeluarkan pengakuan dan maaf sepatah pun. Belum ada tuntutan pengadilan diberikan kepada dia, tetapi berbagai alasan excuses sudah dinyatakan dengan dia pergi ke tempat rehabilitasi terhadap orang yang kecanduan seks. Itulah cara orang dunia. Kalau seseorang melanggar seksualitas, kita bilang itu adalah kejahatan. Tetapi kalau orang itu terus berulang-ulang melanggar, kita bilang dia korban kecanduan seks. Kalau seseorang korupsi satu kali, kita bilang itu dosa. Tetapi kalau orang itu terus berulang-ulang korupsi, kita bilang dia korban kecanduan uang. Jadi itu dianggap bukan dosa, itu adalah penyakit. Ketika seseorang melakukan kejahatan lalu kemudian dengan segala cara bisa menghindar dari pengadilan dengan alasan dia korban kecanduan obat, karena pada waktu di bawah pengaruh obat itu dia tidak bisa berpikir dengan jernih, dia tidak melakukan itu dengan kesadaran dan kewarasan, dia mungkin bisa bebas dari kejahatannya. Ketika seseorang membunuh orang lain, dia bisa bebas dari kejahatannya karena alasan yang sederhana yaitu karena masa kecilnya tidak bahagia, dia mengalami child abused. Kita tidak mengecilkan efek dan faktor-faktor yang bisa mempengaruhi orang melakukan kejahatan, tetapi kita tidak boleh kemudian karena faktor-faktor itu kemudian menganggap kejahatan itu bukan kejahatan. Ketika Alkitab mengatakan itu dosa, itu adalah dosa. Ketika Alkitab mengatakan itu salah, itu adalah salah. Manusia berusaha mengganti namanya, manusia berusaha menutupinya, satu kali kelak akan terbongkar. Kalau tidak di pengadilan dunia ini, tentu dia tidak bisa menghindar di pengadilan yang di atas.
Ketika Alkitab mengatakan tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, itu kemudian harus membuat kita mengucap syukur kepada Tuhan dengan luar biasa karena kita menyelami apa artinya pengampunan dan keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Namun kita juga harus melihat penghukuman itu tidak Allah hapus begitu saja. Dosa adalah satu hal yang sangat serius di mata Allah. Allah tidak anggap itu sebagai sesuatu yang Dia bisa abaikan dan tutup mata, karena dosa itu melanggar kesucian Allah, merampas kemuliaan Allah, merongrong kewibawaan Allah. Kita tidak boleh lalai melihat itu. Namun pada waktu Allah mengampuni dosa-dosa kita yang sedemikian besar, ingat, dosa itu Ia jatuhkan ke atas diri Tuhan Yesus. Anak Allah harus menanggung dosa kita. Itu terjadi karena selama-lamanya kita tidak mungkin bisa membayar hutang dosa kita dengan cara apapun di hadapan Allah. Hanya darah Yesus Kristus yang suci bisa menebus dan membayarnya karena Ia sudah tanggung semua itu di atas kayu salib bagi kita.

Kasih Allah adalah sumber pengampunan. Namun kematian Yesus di kayu salib adalah dasar pengampunan. Kasih Allah yang menggerakkan Allah untuk memberikan pengampunan kepada kita. That is the source of salvation. Tetapi keselamatan itu terjadi oleh karena kematian Yesus di atas kayu salib. The cross of Christ is the foundation of your salvation. Allah tidak lagi menghukum kita bukan karena Allah mengasihi kita saja, Allah tidak lagi menghukum kita karena penghukuman itu sudah ditanggung di dalam Kristus Yesus. Dosa kita sudah tidak lagi diperhitungkan oleh Allah. Kita sudah dibenarkan oleh Allah. Keselamatan itu sudah final dikerjakan Kristus, sudah selesai, tidak ada lagi yang patut kita lakukan untuk menambahnya. Jadi bukan dengan apa yang kita lakukan, bukan dengan amal, perbuatan, sakramen, dsb ditambahkan kepada apa yang Kristus sudah lakukan membuat kita bisa selamat. Semua sudah dibayar lunas oleh Tuhan kita Yesus Kristus.

Banyak orang suka berkata ‘wah, enaknya menjadi orang Kristen, tidak usah berbuat apa-apa bisa masuk surga!’ Kita tidak menyangkal hal itu, indahnya sebab keselamatan itu tiba memang tanpa engkau perlu bayar apa-apa. Mahalnya, sebab engkau tahu engkau memang tidak bisa membayarnya dengan perbuatanmu karena itu ditanggung di atas darah Yesus yang mahal dan berharga itu. Kita harus gabungkan dua konsep ini. Maka orang Kristen yang sejati tidak pernah melihat anugerah Allah yang free cuma-cuma datang kepadanya sebagai sesuatu yang murah karena kita akan selalu menghargai itu. Setelah hidup kita ditebus oleh Tuhan Yesus, apakah kita mau menjalankan hidup rohani yang berkenan kepadaNya?

Kalau orang itu hanya memahami Kekristenan dengan Roma 8:1, tidak ada penghukuman di dalam Tuhan Yesus, pokoknya percaya saja kepada Dia pasti selamat, tetapi tidak ada perubahan tingkah laku dan sikapnya, dan tidak ada kehausan spiritual dalam dirinya, tidak ada keinginan untuk hidup selalu memperkenankan Tuhan, kita perlu mempertanyakan benarkah dia sudah sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan? Maka Paulus mengingatkan 2 Korintus 5:10 ini, kalau engkau tahu satu kali kelak kita akan ketemu Tuhan dan menghadapi pengadilanNya, maka kita akan menjalani hidup ini dengan gentar sebab semua yang kita lakukan, baik atau jahat, Tuhan akan menuntut pertanggung-jawaban itu. Syukur dan gentar. Kita perlu balance ini, sebab kalau tidak ada kegentaran dalam hati kita ikut Tuhan, kita bisa menjadikan anugerah Allah itu sebagai sesuatu yang murah di mata kita. Tetapi kalau kita terus-menerus hidup di dalam ketakutan, kita dituduh oleh Setan bahwa kita tidak bisa mendapatkan keselamatan di hadapan Tuhan tanpa kita memahami anugerah Allah, kita juga akan menjadi orang Kristen yang penuh dengan kesengsaraan dalam hidup ini.

Kita tidak akan guilty kalau kita tahu bahwa mengikut Tuhan, mau melayani dengan sungguh, tidak boleh jatuh kepada aspek “activism” atau kegiatan atau pelayanan dan jabatan. Kemampuan fisik kita terbatas. Banyak hal tidak bisa kita kerjakan, akhirnya seringkali begitu kita sudah tua, kita tetap paksa diri mau melayani Tuhan, tetapi akhirnya karena merasa hanya aspek itu saja yang dia bisa, lalu kemudian tanpa sadar kita menjadikan itu sebagai segala-galanya. Kita tidak mau lepaskan jabatan kita sebagai tua-tua, sebagai majelis, sebagai pengurus bertahun-tahun lamanya dan tidak rela memberikannya kepada generasi muda karena kita pikir kalau kita sudah tidak lagi melayani, lalu di gereja saya hanya menganggur saja, saya takut ketemu Tuhan nantinya. Maka kita kaitkan pelayanan jabatan sebagai identitas kita, sebagai sekuritas kita. Kita harus lepaskan konsep itu semua.

Maka Paulus senantiasa memberikan dorongan ini, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Roma 12:11). Dalam 1 Korintus 12:31 Paulus berkata, “Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama,” mari kita garis-bawahi kalimat ini karena penting sekali bagi spiritual kita. Ini kata yang sudah hilang dari spiritualitas orang Protestan. Bukan kata “kedaulatan Allah,” bukan kata “kasih Allah” tetapi kita sudah kehilangan kata ini “pursue.” Tuhan suruh kita mengejar hal itu. Kejarlah kasih itu, kita mau mengasihi, kejarlah kasih itu. Kita mau melayani, kejar itu. Saya senang sekali dengan kalimat Rev. Sam Storms, “Our God is able, our God is sovereign, karena itu Allah kita tidak pernah bisa dipaksa dan didesak oleh kita. Namun Allah kita adalah Allah yang suka untuk dikejar oleh kita.” He is eager to be pursued by us. Saya berdoa, supaya kiranya kita boleh menjadi gereja yang penuh dengan karunia-karunia Roh Allah yang mulia karena setiap orang mengejarnya. Kita bukan mengejar aktifitas pelayanan dan program-program. Kita bukan mengejar kedudukan dan jabatan. Kita mengejar spiritual gift. Kejar dengan apa? Dengan earnest seeking prayer. Gereja sudah kehilangan itu karena gereja sudah terlalu nyaman dan aman dalam banyak hal. Kita pikir kita tidak perlu meminta kepada Tuhan, toh semua sudah ada. Kadangkala Tuhan tidak akan berkarya di dalam hidup kita sampai kita menangis sungguh-sungguh di hadapanNya baru kita mendapatkannya. Yakobus mengatakan “Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga tetapi kamu tidak menerima apa-apa karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hanya untuk memuaskan hawa nafsumu saja” (Yakobus 4:2-3). Tetapi banyak orang tidak minta bukan karena dia tahu Allah berdaulat, tetapi karena memang dia tidak pernah percaya bahwa Roh Allah bekerja melalui spiritual gift yang diberikan kepadanya. Betul, mungkin ada orang yang ekstrim di dalam doa kesembuhan dan memanipulasi melalui doanya sehingga kita merasa itu tidak genuine, tetapi jangan gara-gara itu lalu kita tidak melihat bahwa Allah berkarya melalui doa untuk kesembuhan orang. Alkitab mengatakan ada karunia iman, orang yang percaya walaupun keadaan yang begitu susah dan tidak mungkin tetapi dia percaya Allah sanggup berkarya di dalam situasi seperti ini. Di situ bukan berdasarkan uang dan bukan berapa banyak resources yang dia punya tetapi itu yang namanya karunia iman. Ada orang yang punya karunia bijaksana, cari dan kejarlah itu. Paulus mendorong engkau sudah mendapat karunia ini tetapi belum mendapat karunia yang itu, kejar. Doa dengan sungguh. Itulah kehidupan rohani sebuah gereja yang sehat, yang terjadi oleh kuasa Roh Kudus. Gereja Korintus tidak kekurangan apa-apa, kalau sdr baca, uangnya cukup, talentanya banyak, tetapi mereka kekurangan kasih. Paulus katakan, kejarlah itu. Menjadi hamba Tuhan, saya rasa itu hal yang penting untuk memimpin sdr dengan memberikan prinsip-prinsip rohani. Saya rindu guru-guru Sekolah Minggu juga seperti ini. Demikian juga semua pengurus punya kerinduan seperti ini. Saya rindu kita boleh menjadi satu jemaat yang senantiasa penuh dengan pelayanan yang dikerjakan oleh spiritual life yang berkobar-kobar di dalam hati dan hidup kita. We are spiritual person, we do spiritual things. Kita tidak boleh mengabaikan aspek rohani dalam pelayanan kita karena di situ inti pelayanan kita. Saya sangat rindu sekali pengurus-pengurus gereja berlutut berdoa bagi jemaatnya. You give them spiritual gifts. Bukan berebutan kekuatan dan kuasa, ini wilayah saya, ini wilayah saya. Waktu engkau memimpin anak muda, doa blessing bagi mereka, you give them spiritual gifts. Yang tua membimbing yang muda, beri contoh dan kesaksian. Mama papa kepada anak-anak, juga begitu. Itu semua kekayaan rohani. Anak kita tidak akan menjadi rohani kalau papa mamanya tidak punya kontainer rohani yang penuh.

Kita hidup di dalam jaman perjalanan Kekristenan dimana bisa menjadi keliru dan salah kalau kita berpikir bahwa Kekristenan akan berjalan dan bertahan kalau kita mempunyai resources uang yang banyak, kalau kita punya program yang bagus, kalau banyak orang-orang kuat, orang-orang ternama, orang-orang yang duduk dalam pemerintahan atau punya posisi yang tinggi di masyarakat, yang men-support pelayanan gereja dan Kekristenan. Kita bisa jatuh kepada kesalahan ketika kita ingin mengerjakan satu tugas, mengutus misionari, dsb kita terus hanya memikirkan aspek-aspek yang eksternal itu. Ingat, pada waktu Yesus naik ke surga, Ia tidak meninggalkan deposito uang untuk menjalankan program dan projek bagi pelayanan para rasul. Yesus berkata kepada mereka, “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu…” (Matius 28:18-20). Kemudian pada waktu Ia hendak naik ke surga, Yesus berpesan kepada mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem dan menanti sampai Roh Kudus datang (Kisah Rasul 1:4-5).

Rev. Sam Storms, seorang teolog Reformed yang sangat baik menulis satu buku “Practicing the Power” mengatakan kelemahan dari begitu banyak gereja-gereja Protestan yang berdasarkan teologi Reformed yang terlalu menekankan bahwa Allah berdaulat, Allah sudah tahu segala sesuatu, akhirnya membuat kita kehilangan passion untuk menangis berdoa dengan sungguh dan meminta Roh Kudus diberikan kepada mereka. Ini adalah excuses secara teologis. Jangan pikir karena ini ditulis di jaman rasul Paulus maka masih dibutuhkan karunia-karunia roh. Sekarang sudah jaman modern tidak perlu lagi. Kalau kita baca tulisan Paulus sampai di surat-surat terakhir dia tetap mengatakan jangan abaikan spiritual gift. Kita tekankan Allah berdaulat menyebabkan kita kehilangan passion ikut Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kita hanya berdoa sebentar karena kita pikir ya sudah, Tuhan sudah tahu. Ingatkan, walaupun kita sudah mendapatkan segala sesuatu sebagai janji dan berkat-berkat yang Allah sediakan bagi kita, dan itu sudah pasti menjadi warisan yang akan kita nikmati kelak, tetapi berkat itu, blessing itu, karunia itu, akan mengalir hanya melalui “means of grace” yang kita pakai untuk menampungnya. Kita seringkali keliru dalam hal ini. Kita kira Allah berdaulat, Allah sanggup mengerjakan segala sesuatu, dengan sendirinya Allah berikan apa yang kita perlu. Tetapi Alkitab mengatakan kalau kita tidak pernah berdoa meminta, kita tidak akan terima. Bukan karena kedaulatan Allah tidak lengkap, tetapi Allah tidak memberikan itu sebab engkau tidak memintanya. Kita tidak menggunakan “means of prayer” untuk meminta kepadaNya. Kalau memang Allah berdaulat, Allah mengatur segala sesuatu, kenapa Dia perlu memerintahkan kita berdoalah dengan sungguh-sungguh? Kita tidak bisa menjalankan hidup Kekristenan kita qui sera-sera, whatever will be will be. Itu akan membedakan kekayaan rohani orang Kristen yang satu dengan yang lain.

Kedua, pada waktu Paulus mengatakan “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (2 Korintus 4:16) dia sedang berbicara satu aspek: Paulus bilang tubuhku semakin tua semakin merosot tetapi rohaniku semakin muda dan semakin baru setiap hari. Itu adalah renewal yang Tuhan beri kepada kita setiap individu. Sehingga nanti walaupun kita sudah tua, kita sudah pensiun, fisik kita sudah tidak sekuat dulu lagi, tetapi spiritual kita jangan semakin menua. Ada sukacita, ada damai sejahtera, mungkin di rumah engkau hanya bisa berlutut berdoa bagi pekerjaan Tuhan dan hamba-hamba Tuhan, itu aktifitasnya saja. Tetapi kekayaan rohaninya limpah. Karakternya matang. Tidak usah dia banyak bicara, orang sudah bisa melihat kedalaman rohani itu menenangkan dan menyejukkan. Hanya dengan melihat wajahnya, engkau tahu Roh Allah bekerja di dalam dia. Itulah spiritual life.

“Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua” (1 Timotius 4:14). Meskipun Timotius masih muda, Paulus mendorong dia untuk memiliki karunia-karunia rohani yang diberikan dengan penumpangan tangan para penatua, orang-orang rohani itu. Itu bukan soal seremonial belaka. Kita undang pendeta-pendeta yang lebih tua dalam satu acara untuk memberikan satu blessing kepada pendeta yang muda yaitu karena kita tahu ada spiritual gift. Ini yang harus engkau dan saya kejar. Kalau sdr duduk dekat orang yang nyinyir terus, yang engkau dapat adalah nyinyiran negatif. Tetapi kalau engkau duduk dekat dengan orang yang penuh cinta Tuhan dan memberi blessing bagimu, bukankah indah berkat yang engkau peroleh darinya? Ketemu orang baru, berikan senyum hangat dan sambutan selamat datang, tanyakan bagaimana kabarnya, apa yang bisa engkau doakan bagi dia, dsb. Harap gereja ini bisa menjadi berkat bagi dia. Kita punya banyak hal di gereja ini yang akan sustain your spiritual life. Itulah yang menyebabkan setiap kali kita ke rumah Tuhan kita senantiasa bertemu Tuhan dan menikmati persekutuan yang intim dengan Dia sehingga kita tidak pernah merasa sia-sia.

Setelah ini dalam beberapa minggu ke depan kita akan bicara tentang satu Pribadi Roh Kudus, bukan sebagai pembelajaran tetapi apakah kita mempunyai personal relationship dengan Dia. Karena Ia adalah Pribadi, Ia tidak bisa dipaksa. Ia adalah Pribadi yang tidak bisa dimanipulasi. Ia adalah Pribadi yang tidak bisa didesak. Tetapi karena Ia adalah Pribadi, Ia mau bersekutu dengan kita. Ia mau berkomunikasi dan rindu berbicara dengan kita. Ia rindu kita mengejar Dia. Kalau kita punya konsep seperti itu, barulah kita memahami apa yang Paulus katakan, meski tubuh fisik kita makin merosot, rohani kita makin dibaharui setiap hari. Maka setelah ini kita masuk ke dalam satu dimensi yang penting, dimensi kuasa Roh Kudus, pekerjaan dari Roh Allah yang memampukan engkau bisa hidup berkenan di hadapan Tuhan.(kz)