Trust in God through Prayer and Service

Pengkhotbah: DR. E.J. Boyce OAM
Tema: Trust in God through Prayer and Service
Nats: Roma 11:33 – 12:8

Roma 11:33-36 adalah empat ayat yang kita sebut sebagai “Doxology” atau ekspresi pujian kepada Alllah dan pengakuan bahwa bagi Allahlah kemuliaan sampai selama-lamanya. Ketika kita menempatkan diri kita di bawah otoritas kekuasaan Allah, bagian akhir dari doxology ini mengatakan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.”

Apakah doa itu? Doa adalah satu tindakan iman. Kita berdoa kepada “sesuatu” yang di luar diri kita, karena kita tahu kita tidak memiliki kekuatan yang kita perlukan untuk menjalani hidup yang suci, untuk menjalani hidup yang miliki tujuan, untuk menjalani hidup yang penuh makna. Selama berabad-abad kehidupan dan kultur manusia dipenuhi dengan doa-doa meskipun tidak menyebutnya sebagai doa. Ada yang berdoa dan menyembah bangunan tertentu, ada yang berdoa dan menyembah batu besar, ada yang berdoa dan menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang. Jangan kita mengira bahwa penyembahan kepada bintang hanya dilakukan oleh orang-orang jaman dulu yang masih primitif, orang modern yang hidup di jaman ini pun masih ada yang menyembah kepada bintang-bintang. Ada banyak orang yang setiap hari membaca Astrologi untuk mendapatkan guidance untuk menjalani masa depan mereka, sama seperti orang-orang barbar pada jaman dahulu. Orang-orang modern yang mungkin punya pengetahuan lebih banyak dan kemajuan teknologi lebih daripada orang-orang jaman dulu, ternyata tidak berbeda. Ada yang menyembah uang, ada yang memuja selebriti, ada yang memuja rumah-rumah mereka, ada yang memuja orang-orang yang punya kuasa dan terkenal, dsb. Engkau dan saya sebagai orang Kristen, kita yang percaya kepada Kristus, kita tidak boleh menyembah atau memuja hal-hal, benda dan objek ciptaan; tidak juga memuja wanita cantik atau pria tampan yang menjadi pasangan hidupmu; tidak juga memuja seseorang yang membuat hati kita berbunga-bunga; tidak juga kepada sosok tokoh yang engkau kagumi. Kita tidak menyembah ciptaan, kita menyembah kepada Sang Pencipta.

Ketika kita berdoa kepada Allah, kita berdoa di dalam iman. Kita percaya Ia sungguh ada. Kita percaya Ia mendengar. Kita percaya Allah bisa menjawab dioa-doa kita. Entahkah kita berdoa membawa satu permintaan khusus, entahkah kita membawa doa syukur, atau berdoa dalam kesedihan kepadaNya. Ketika kita mengarahkan doa kita kepada Tuhan, itu adalah sebuah doa yang beriman. Apa itu doa yang penuh iman? Mengapa dikatakan doa yang penuh iman? Karena kita percaya kepada Allah, kita percaya Ia adalah Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu. Kita percaya Ia adalah Tuhan atas bumi dan alam semesta ini. Kita percaya Ia adalah Pencipta dimensi ruang dan waktu, sehingga Ia melampaui ruang dan waktu. Sebelum dunia ini ada, Ia telah mengetahui apa yang akan terjadi. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, itu bukan hal yang mengejutkan bagiNya. Itu karena Ia adalah Allah. Kita datang dan menghampiri Allah yang maha kuasa. Dan Ia menyatakan diriNya kepada kita melalui AnakNya Yesus Kristus. Itu berarti Allah menjadi satu dengan kita. Ketika malaikat datang menyatakan berita kepada Yusuf bahwa Yesus akan lahir, hal itu sesuai dengan nubuat nabi Yesaya, bahwa Anak itu akan dinamai Imanuel, yang artinya Allah menyertai kita (Matius 1:23). Kita selalui diingatkan akan hal ini dalam berita Natal. Allah menjadi manusia, kita menyebutnya inkarnasi. Dalam Yohanes 1:1 kita membaca “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dan selanjutnya Yohanes mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14). Dalam 1 Korintus 8:6 kita membaca, “Bagi kita hanya ada satu Allah saja yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Itulah Allah yang kepadaNya kita berdoa. Maka kita memiliki pemahaman yang luar biasa yang Allah nyatakan dan wahyukan kepada kita tentang siapa Dia. Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.

Maka dari hal ini mari kita melihat konsep doa secara praktis. Brother Lawrence, seorang rahib Mistiksisme abad pertengahan menulis buku “The Practice of the Presence of God” memahami bahwa tiap-tiap individu memiliki cara dan pendekatan yang berbeda-beda dalam berelasi dengan Allah. Dalam gereja-gereja Kristen sekalipun, ada berbagai cara untuk berdoa kepada Allah. Ada gereja yang menggunakan doa secara liturgikal, kumpulan doa yang telah dibuat dengan kalimat-kalimat doa yang indah yang ditulis oleh orang-orang Kristen selama berabad-abad yang lampau. Ada gereja yang mengajar berdoa secara spontan, langsung keluar dari hati dari pikiran, tidak pernah dihafal dan disiapkan sebelumnya. Dan di antara orang Kristen sendiri ada yang suka kepada cara doa tertentu. Ijinkan saya bertanya kepadamu, mengapa cara doamu menjadi cara yang engkau rasa lebih baik daripada cara orang lain? Mengapa engkau berdoa seperti itu? Pernahkah engkau bertanya dalam hatimu sendiri apakah doamu sungguh-sungguh, berguna dan baik? Pernahkah engkau bertanya dalam hatimu, apakah aku sudah cukup berdoa? Dan apabila engkau adalah seorang Kristen yang secara rutin berbakti, mungkin engkau merasa tidak cukup sering berdoa. Melalui penyampaian firman hari ini, saya ingin engkau mengerti bahwa engkau bisa berdoa sekalipun cara berdoamu tidak dengan postur berdoa. Kata-kata doamu mungkin tidak banyak, pikiranmu saat menyampaikannya tidak beraturan, tetapi setiap saat engkau bersyukur kepada Allah, engkau sedang berdoa kepadaNya. Dan di saat engkau sedang takut atau kuatir terhadap sesuatu hal, [ingatlah Tuhan tidak menginginkan engkau hidup penuh dengan kekuatiran], Alkitab berkata, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6). Maka kita melihat semua ini adalah tindakan iman. Ketimbang kuatir, kita dipanggil untuk bersyukur kepada Allah untuk keberadaanNya dan untuk segala hal yang telah Ia lakukan bagi kita. Itulah sebabnya kita berdoa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, karena kita percaya bahwa Yesus adalah Allah yang telah mati bagi kita. Kita percaya bahwa dari mulanya Ia adalah Firman, segala sesuatu diciptakan olehNya dan untuk Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang terjadi dari apa yang ada (Yohanes 1:3). Saya rindu kita mengerti bahwa doa adalah suatu respons dari hati kita, itu adalah sebuah respons iman. Ketika seseorang datang kepada Kristus, itu adalah sebuah tindakan iman, dimana kita berpindah dari maut kepada hidup, dari kegelapan kepada terang, dari seorang yang berdosa kemudian menerima keselamatan di dalam anugerah, yang tadinya menuju kepada neraka dan keterpisahan dengan Allah kemudian bersekutu dengan Allah untuk selama-lamanya. Semua ini terjadi oleh karena Yesus Kristus. Namun Tuhan tidak hanya menginginkan kita satu kali menyatakan tindakan iman itu, tetapi di dalam kehidupan kita sehari-hari tindakan iman itu terus kita lakukan. Maka Ia menginginkan engkau hidup di dalam iman yang sungguh hari ini, yang salah satunya dinyatakan dengan hidup yang penuh dengan doa.

Seringkali kita berdoa untuk meminta sesuatu kepada Tuhan. Waktu engkau dalam keadaan kepepet dan sedang mencari tempat parkir, engkau akan berdoa “Tuhan, tolong aku mendapat tempat parkir untuk mobilku.” Dan ketika Tuhan memberi engkau tempat parkir di tempat yang tidak terduga, persis di depan tempat yang kita tuju, kita senang tetapi kita seringkali lupa bersyukur. Kita pandai meminta, tetapi kurang dalam menyatakan syukur. Ada banyak hal yang sepatutnya kita mengucap syukur kepada Allah untuk semua itu. Sebagai orang Kristen engkau telah menerima hidup yang kekal. Bersyukurlah untuk hal itu setiap hari. Kita bisa menyanyikan lagu-lagu pujian yang indah, itu adalah sarana anugerah Allah bagi kita melalui musik dan lagu menyatakan syukur dan bersekutu denganNya. Betapa mudah kita menolak untuk bersyukur kepada Tuhan, padahal engkau dalam keadaan sehat wal afiat, dalam keadaan makmur dibandingkan dengan begitu banyak orang di dunia ini, engkau memiliki penghasilan untuk mencukupi segala kebutuhanmu dan kebutuhan keluargamu, engkau ada berbagian di dalam satu komunitas yang indah di gereja ini, engkau memiliki bangunan gereja untuk membuatmu nyaman berbakti sementara banyak anak-anak Tuhan yang lain tidak memiliki seperti ini, engkau punya tempat duduk sementara banyak anak-anak Tuhan yang lain berbakti dengan duduk di lantai atau di tanah, selesai ibadah ini engkau pulang menikmati makan siang bersama teman dan keluarga, engkau ada kesempatan untuk rileks dan beristirahat, itu semua adalah pemberian-pemberian Allah yang tidak semua orang lain miliki. Pernahkah terbersit dalam pikiranmu engkau perlu bersyukur untuk semua ini? Jika engkau bisa tiba di tempat ini dengan selamat dalam perjalanan dengan mobil atau kendaraan umum sementara ada banyak orang yang tidak selamat di tengah perjalanan mereka, pernahkah terbersit dalam pikiranmu bahwa engkau patut bersyukur kepada Allah yang telah menjaga dan melindungimu hari ini? Engkau punya telinga, engkau punya mulut dan suara untuk menyanyikan lagu-lagu yang indah, apakah engkau sudah bersyukur kepada Tuhan untuk hal itu? Mungkin semua yang saya katakan hari ini akan membuat engkau berpikir sepatutnyalah aku lebih bersyukur lagi. Kita bisa bersyukur untuk kesempatan bersekolah atau masuk universitas, kita bersyukur untuk karunia kita bisa belajar sesuatu, bersyukur untuk guru-guru dan berbagai sumber pengetahuan yang bisa kita akses. Masalahnya adalah kita seringkali menganggap semua hal ini sudah sepatutnya kita miliki dan take it for granted. Kita merasa itu adalah hak kita, padahal kita tidak punya hak untuk semua itu. Itu hanyalah anugerah dari Tuhan. Kita tidak punya hak, kita hanya punya Allah untuk bersyukur atasnya. Karena segala yang kita miliki datang daripadaNya dan melalui Dia, maka sekarang kita mengerti mengapa kita patut bersyukur dan berdoa.

Dalam Roma 12:1-2 oleh karena siapa Allah, maka kita mempunyai dua respons yang khusus. Kita melihat di akhir dari Roma 11 Paulus berkata, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (ayat 36). Dan ayat selanjutnya yaitu Roma 12:1 dalam teks aslinya tidak ada pemisahan, langsung Paulus sambung dengan satu panggilan, “Karena itu persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,” berarti tindakan penyembahan kita adalah memberi Allah mengambil dan menggunakan hidup kita sebagaimana yang Ia inginkan. Maka tindakan penyembahan [spiritual act of worship] kita adalah menyerahkan diri di atas altar sebagai persembahan bagi Allah dan tidak lagi berpikir bahwa kita masih memiliki hidup kita melainkan takluk di bawah otoritas Allah. Allah sungguh mengasihi kita dan Ia menginginkan yang terbaik bagi kita, dan yang terbaik bagi kita adalah menyembah Dia dengan sepenuh hati dan jiwa kita. Selanjutnya Paulus mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Maka dari sini kita mempunyai satu latar belakang fondasi dan saya harap kalian semakin mengerti betapa pentingnya doa itu. Itu bisa kita lakukan bahkan pada saat kita sedang bercakap-cakap dengan seseorang dan kita meminta Allah memberi kita hikmat bijaksana untuk apa yang harus kita katakan kepada orang itu. Kita bersyukur untuk kemampuan yang Allah berikan bagi kita untuk mendengarkan keluhan dari orang itu, kita bersyukur untuk kesempatan kita boleh menyatakan belas kasihan dan perhatian baginya. Kita bersyukur utuk bisa mengampuni orang dan mendapatkan pengampunan dari orang. Masalahnya, kita mengira itu semua adalah dari diri kita sendiri padahal sesungguhnya itu adalah Allah yang lakukan melalui diri kita. Kasih Allah yang dinyatakan dalam 1 Yohanes 4:7-11 adalah seperti demikian: Allah adalah kasih dan kita memiliki kasih Allah di dalam kita dan kita menyatakan kasih Allah itu melalui kita. Ingatkan, kasih siapakah itu? Itu adalah kasih Allah. Kita memperoleh kasih itu dan membagikan kasih itu kepada orang lain. Hal yang sama ketika kita bicara tentang kasih karunia Allah. Tindakan kebaikan dan belas kasihan yang kita nyatakan kepada orang lain adalah karena kita terlebih dahulu telah menerima kebaikan dan belas kasihan Allah. Sama halnya tindakan pengampunan yang kita nyatakan kepada orang lain adalah karena kita terlebih dahulu telah menerima pengampunan Allah. Maka kita tidak akan pernah menyombongkan diri karena kita penuh dengan kemurahan, kasih dan pengampunan. Setiap tindakan yang bisa kita lakukan itu semata-mata karena Tuhan yang bertindak melalui kita. Kita sangat perlu memahami hal ini.

Sekarang kita tiba kepada bagian yang kedua, bicara mengenai doa dan pelayanan. Bagaimana dua hal ini berhubungan? Kita hanya bisa melayani di dalam nama Yesus pada waktu kita mengakui siapakah Tuhan Yesus. Setiap pelayanan yang engkau lakukan sebagai orang Kristen senantiasa harus menjadi satu penyembahan kepada Allah, untuk bersyukur kepada Allah bahwa Ia memberikan kekuatan, energi dan keinginan bagi kita untuk memberi berkat kepada orang lain. Itulah satu pelayanan yang sejati ketika kita melakukannya sebagai satu penyembahan bagi Allah. Seringkali bahkan sebagai orang Kristen ketika kita melayani seseorang, kita mengharapkan balasan dari orang itu. Ketika kita memberi sesuatu benda kepada seseorang, kita mengharapkan balasan dari orang itu. Ketika hal itu tidak terjadi, bagaimana perasaanmu? Apakah engkau merasa tidak dicintai? Apakah engkau merasa tidak dihargai? Apakah engkau merasa itu tidak sepatutnya terjadi kepadamu? Letakkan dirimu pada perspektif Allah. Pada waktu Ia memberikan AnakNya yang tunggal itu, Ia memberikan yang terbaik, Ia menyerahkan AnakNya mati bagi kita. Dan Ia memberikannya unconditionally. Yang menyedihkan untuk kita adalah kita seringkali memberi tidak unconditionally. Mungkin kita menyatakannya secara eksplisit maupun implisit, bahwa kita mengharapkan balasan dari mereka. Itu bukan pelayanan seorang Kristen.

Roma 12:3-8 selanjutnya adalah mengenai karunia-karunia yang Allah berikan untuk kita gunakan melayani Dia. “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan” (ayat 3). Bagian ini mengatakan apa yang kita sudah peroleh adalah hal-hal yang kita pakai. Kita tidak boleh mengharapkan apa yang menjadi karunia orang lain, apalagi iri kepada mereka karena Allah memberi karunia kepada tiap-tiap orang-orang secara khusus. Maka engkau perlu bersyukur atas dua hal. Pertama, bersyukurlah untuk karunia yang Allah berikan kepadamu. Kita harus memakai karunia itu untuk melayani orang dan menunjukkan kasih Allah. Yang kedua, bersyukur untuk karunia yang Allah berikan kepada orang-orang lain, dan mendorong mereka untuk menggunakan karunia itu sepenuhnya. Ingatlah bahwa segala pelayanan yang engkau lakukan bagi Allah dengan memperhatikan orang lain dan menyatakan kasih kebaikan kepada mereka, itu semua bukan berasal dari dirimu sendiri tetapi dari Allah. Maka bersyukurlah kepada Allah untuk kesempatan dan kemampuan untuk melakukannya bagi orang. Waktu engkau bisa memberikan apa yang ada padamu, waktu dan uang, rumahmu yang terbuka bagi pelayanan, ingatlah bahwa itu semua terjadi karena Allah telah mempercayakan engkau menjadi penatalayan bagiNya. Maka engkau memberikan uangmu untuk pelayanan dan memberi bagi orang yang memerlukannya, ingatlah itu bukan uangmu, itu uang Allah yang Ia percayakan kepadamu. Waktu engkau membuka rumahmu untuk memberi makan orang dan untuk menginap, ingatlah itu bukan milikmu yang engkau beri tetapi itu adalah milik Allah dan Ia memberikannya bagimu untuk engkau gunakan melayaniNya menjadi berkat bagi orang. Betapa baiknya Allah kepada setiap kita! Ia tahu dimana kita bisa lemah tetapi Ia memberi kekuatan bagi kita, segala sumber dan segala hikmat yang Ia miliki, anugerahNya, belas kasihanNya, kebaikanNya, sehingga kita boleh menjadi alat dan penyalur berkat Allah bagi orang lain. Jika kita mau bicara secara teologis akan hal ini, itulah yang menjadi alasan mengapa Yesus Kristus datang ke dunia ini. Pada waktu Yesus ada di dunia dan mengatakan bahwa Ia akan kembali ke surga, murid-muridNya menjadi takut dan kuatir bagaimana hidup mereka jikalau Yesus tidak ada lagi bersama mereka. Tetapi sebelum dunia ini ada, Tuhan sudah merencanakan semua dengan sempurna. Sebagaimana Yesus mengatakan, “Jangan gelisah dan gentar hatimu, bahwa Aku akan pergi. Aku akan mengirimkan Roh Kudus untuk tinggal di dalam engkau. OlehNya engkau akan menerima segala kuasa untuk melaksanakan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Allah sungguh amat baik kepada setiap kita. Saya ingin menggugah engkau untuk mengingat akan hal ini. Pelayanan yang engkau lakukan bagi orang-orang lain adalah tindakan yang dilakukan Allah melalui engkau. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk sombong dan berbangga diri akan apa yang kita lakukan di dalam pelayanan. Kita hanya bisa bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan karena Dia memakai kita.

Ingatlah akan Maria, pada waktu ia mengetahui bahwa Allah akan memakai rahimnya untuk mengandung dan melahirkan Anak Allah yang berharga yaitu Yesus oleh Roh Kudus, ia mengatakan satu kalimat dalam Lukas 1 menyatakan syukurnya atas kehormatan yang diberikan kepadanya. “Aku adalah hamba Tuhan, jadilah kepadaku menurut kehendakMu” (ayat 38). Hal yang sama, ketika kita menyadari Tuhan mau memakai diri kita, itu adalah satu kehormatan bagi kita. Semua yang Allah berikan jauh lebih besar dan lebih banyak daripada yang engkau bisa bayangkan. Untuk hidup di dalam dunia ini seperti apa yang telah Ia rancangkan, dan untuk hidup kita di dalam kekekalan.

Maka apa yang menjadi respons kita atas semua ini? Respons yang sepatutnya adalah kita menyembah Dia dengan cara yang Allah nyatakan yaitu melalui doa dan pelayanan. Doa dan pelayanan bukan sekedar dua kata, bukan hanya aktifitas yang dilakukan oleh orang Kristen, itu adalah pemberian Allah dan respons kita adalah menggunakannya dengan penuh syukur dan sebagai ungkapan iman kita kepada Allah yang telah memberikan kesempatan bagi kita untuk berdoa dan melayani Dia. Saya rindu hari ini engkau mendapatkan pemahaman yang lebih kaya lagi tentang makna doa dan pelayanan. Ingatlah semua yang kita miliki adalah dari Allah, oleh Allah dan untuk Allah untuk kita gunakan untuk melayani dan memuliakan Dia.(kz)