The Struggle for Holiness

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (17)
Tema: The Struggle for Holiness
Nats: Roma 7:13-26

Roma 6, 7 dan 8 adalah merupakan satu rangkaian yang penting bicara mengenai pengudusan, the sanctification of Christian life, setelah di pasal 1-5 Paulus bicara mengenai justification, pembenaran oleh iman kepada Kristus. Oleh anugerah Allah semata dan melalui karya keselamatan yang dikerjakan tuntas oleh Yesus Kristus di atas kayu salib kita dibenarkan hanya oleh iman kepada Kristus. Tidak ada jasa kita, tidak mungkin dengan perbuatan baik kita, kita memperoleh pembenaran itu. Tetapi setelah hidup kita dibenarkan, kita perlu mengerti bahwa iman itu tidak pernah hanya bekerja sendiri karena di dalam iman itu terkandung ketaatan, di dalam iman itu kita bersandar kepada Roh Kudus yang membawa kepada buah pengudusan hidup kita. Hari ini kita masuk ke dalam satu pasal bicara mengenai “the struggle for holiness,” perjuangan pergumulan untuk hidup di dalam kekudusan. Ini adalah pasal yang sangat penting sekali.

Ketika Paulus bicara mengenai justification by faith, ada beberapa hal yang dia bukakan. Pertama, benarkah kita diselamatkan bukan karena melakukan hukum Taurat tetapi karena dibenarkan oleh iman? Paulus mengatakan Abraham, bapa leluhur orang Yahudi, dibenarkan oleh karena iman (Roma 4:1-3). Paulus dalam Roma 5:12-19 kemudian membandingkan Yesus sebagai Adam yang kedua dengan Adam yang pertama. Adam yang pertama diminta Tuhan Allah untuk taat tetapi Adam yang pertama tidak bisa taat akhirnya jatuh di dalam dosa, maka Yesus datang menggenapkan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh Adam yang pertama. Dengan kata lain hanya Yesus satu-satunya yang menjalankan hukum Tuhan secara sempurna, tidak ada manusia lain yang bisa melakukannya. “Jadi, sama seperti oleh ketidak-taatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa; demikian pula oleh ketaatan satu orang sema orang menjadi orang benar,” itu dasarnya. Lalu pasal 6-7 Paulus kemudian mengangkat hal ini: kalau begitu tidak ada gunanya mentaati hukum, membuat hukum banyak-banyak tetap akhirnya dilanggar pula. Paulus mengatakan, sekali-kali tidak. Justru makin banyak hukum Taurat itu diberi kepada kita, makin membuktikan kita tidak sanggup melakukan hukum Taurat. Itu fungsi dari hukum Taurat. Jadi hukum Taurat memperlihatkan hati manusia tidak mau taat kepada hukum Taurat. Maka bicara mengenai hukum itu intinya bicara mengenai apa? Bicara mengenai hati. Banyak orang bilang, kalau mau teratur kasih aturan, kasih hukum yang teliti.

Tetapi kita menyaksikan semakin dikasih banyak aturan, semakin diberi detail aturan semakin pandai orang mencari celah dan melakukan pelanggaran.

Bayangkan, di dalam Perjanjian Lama ada 613 perintah dan larangan tetapi kemudian sampai di tangan para ahli Taurat dielaborasi satu persatu menjadi begitu detail aturan mana yang boleh dan yang tidak boleh, padahal Alkitab tidak mengatakan sampai sebegitu. Khususnya bicara mengenai salah satu dari 10 Hukum Tuhan yaitu “Kuduskanlah hari Sabat,” di situ orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menaruh begitu banyak aturan bagaimana membuat orang-orang Yahudi itu supaya tidak melanggar hukum Taurat itu. Akhirnya pada waktu pemimpin-pemimpin agama dan orang-orang Farisi bertanya kepada Tuhan Yesus apa inti daripada hukum Musa, Yesus menjawab hanya dengan dua kalimat yang simple dan sederhana. “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 22:34-40).

Maka tepatlah seorang hamba Tuhan mengatakan dalam komentari terhadap Roma 7 ini, apa yang ingin Paulus katakan adalah manusia berdosa bukan saja “law-breaker” but we are “law-hater.” Jadi di dalam kita berbuat dosa, kita bukan saja law-breakers, kita melanggar hukum, kita break the law, tetapi sebenarnya kita juga adalah law-haters. Kita membenci hukum Tuhan, kita tidak suka hukum Tuhan itu. Sehingga semakin diberi aturan sebanyak-banyaknya, setebal apapun aturan itu tetap hati kita memberontak tidak mau melakukannya. Paulus mengatakan “Sebab kita tahu bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa” (Roma 7:14). Hukum Allah itu suci dan benar adanya; kitalah yang terjual di bawah kuasa dosa, kitalah yang membenci hukum Allah. Bahkan sekalipun hidup kita telah ditebus oleh Tuhan, kita tahu inilah pergumulan yang terus-menerus muncul di dalam diri kita. Kita telah terjual di bawah kuasa dosa, kita tidak mungkin bisa lepas dari sifat keberdosaan yang begitu dahsyat itu dicetuskan oleh satu cetusan hati Paulus di ayat 24 “Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Ada penafsir mengatakan Paulus di sini mengutip Roman mythology tentang raja Mezentius yang mengikat tawanan perang yang masih hidup dengan tubuh mayat yang sudah membusuk. Cara ini belum tentu secara fakta historikal benar adanya, jadi jangan dianggap sebagai sesuatu yang pasti. Paulus menggambarkan dosa itu seperti tubuh mayat yang melekat kepadanya. Konon cerita mitos Roma kuno ini mengisahkan orang yang dihukum mati itu diikat dengan sepotong mayat lalu ditinggalkan di padang gurun. Apa yang terjadi? Setelah beberapa hari ulat-ulat belatung dari mayat yang busuk itu mulai merembet ke tubuh orang ini, sehingga pelan-pelan dia akan mati dengan kegilaan yang dahsyat. Itu sebab waktu Paulus mengatakan sin as a dead body, kita bayangkan seperti itu kira-kira.

Apa artinya hidup di dalam dosa, apa artinya sifat dosa di dalam diri kita? Persoalannya bukan kita tidak tahu hukum, bukan berapa banyak hukum yang kita tidak hafal, tetapi persoalannya sifat dosa itu membuat kita melakukan apa yang jahat dan tidak melakukan apa yang baik dari Tuhan. Aku manusia celaka! inilah teriakan keputus-asaan yang Paulus nyatakan. Teriakan ini membuat penafsir memperdebatkan siapa sebenarnya yang Paulus sebutkan ini. Ada yang mengatakan ini adalah pergumulan Paulus sebelum dia bertobat, waktu dia masih menjadi seorang Yudaisme fanatik yang mengejar dan menganiaya orang Kristen. Ada yang mengatakan ini adalah cetusan pergumulan Paulus setelah dia bertobat, setelah dia menjadi anak Tuhan. Lalu tafsiran yang ketiga mengatakan Paulus di sini bicara mengenai orang Kristen yang duniawi. Tafsiran ketiga ini bagi saya tidak tepat, karena tidak ada orang yang sudah dibenarkan, artinya kalau dia adalah orang Kristen yang sejati dan Roh Kudus ada di dalam dirinya, bagaimana orang itu masih setengah-setengah? Seorang Kristen yang sudah lahir baru, yang sudah dibenarkan oleh Tuhan tidak akan terus-menerus hidup duniawi lagi.

Apakah Paulus sedang mengingat kondisi dia dahulu sebelum menjadi anak Tuhan? Apakah Paulus sedang bicara mengenai dirnya sekarang yang setelah menjadi anak Tuhan? Apakah ini Paulus sebelum bertobat, atau Paulus sesudah bertobat? Kalau Paulus bicara tentang dirinya yang sudah bertobat, masakan hatinya mengalami struggle seperti ini, sampai dia katakan apa yang baik tidak aku lakukan, justru yang jahat yang aku lakukan. Apa yang aku benci, justru itu yang aku lakukan. Benarkah demikian? Apakah hidup kita sebagai anak-anak Tuhan seperti ini? Apakah begitu hidup kita? Apakah struggle itu ada di dalam diri kita? Ini menjadi pertanyaan yang penting sekali. Posisi saya, ini adalah pergumulan Paulus dan semua anak Tuhan sesudah kita bertobat. Ada beberapa alasannya. Pertama, rasul Paulus menggunakan kata ganti “aku” dan dengan bentuk kalimat Present Tense, bukan Past Tense; berarti dia sedang bicara mengenai pergumulannya sekarang. Kedua, Alkitab mencatat sikap Paulus waktu dia belum betobat dan belum menjadi orang Kristen, baik di Filipi 3:4-6 maupun di Galatia 1:13-14 kita bisa melihat justru sebelum dia menjadi orang percaya Paulus menyatakan kemegahan dan kecongkakannya akan kesalehan hidup dia menaati hukum Taurat dengan tidak bercacat cela. Jadi tidak ada indikasi dia bergumul dengan dosa seperti itu. Ketiga, kita bisa lihat sikap rasul Paulus dalam bagian ini adalah sikap sebagai orang yang percaya kepada hukum Taurat. Kalau yang dimaksud itu adalah orang yang tidak percaya Tuhan dan orang itu membenci hukum Taurat, orang itu tidak akan pernah bilang hukum Taurat itu baik, hukum Taurat itu rohani. Dia selalu akan bilang hukum Taurat itu memberatkan dan tidak ada kerinduan hati untuk mencintai hukum Taurat itu. Dan itu bukan sifat dari orang yang sudah lahir baru, sedangkan di Roma 7:22 Paulus mengatakan, “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah.” Ada kesukaan, ada desire mau mencintai hukum Tuhan itu.

Inti dari Roma 7:24 ini adalah Paulus mengekspresikan satu perasaan desperate dan putus asa, bagaimana dosa itu bukan sekedar perbuatan tetapi satu kuasa dan sifat yang melekat di dalam diri kita, yang kalau kita biarkan dia tidak akan pernah bersifat netral, dia akan menggerogoti kita. Itulah sebabnya kemudian Paulus berkata “Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus Tuhan kita” (Roma 7:25) kita bisa menemukan ini menjadi satu ekspresi kelegaan dari apa artinya penebusan Tuhan itu. Tidak ada orang yang bisa melepaskan kita dari tubuh maut itu, tetapi syukur kepada Allah, oleh Yesus Kristus kita dibebaskan dari belenggu kuasa dosa ini. Sebagai orang Kristen yang sudah lahir baru, yang sudah dibenarkan oleh Tuhan, kita perlu memahami the struggle for holiness ini.

Di sinilah kita menemukan apa artinya orang yang sudah ditebus oleh Tuhan, kita senantiasa bergumul dalam perjalanan iman kita. Banyak kali kita tidak peka sebab kita tidak menjadikan “journaling” mencatat our spiritual lives secara teratur di dalam hidup kita sehari-hari. Tetapi pada waktu kita journaling mencatat pergumulan hidup kita sehari-hari, sdr bisa setuju bahwa hidup kita mengalami pergumulan yang tidak ada habis-habisnya. Ada saat dimana kita mempunyai thought yang mungkin kuatir, takut dan mempertanyakan Tuhan. Ada hari dimana kita membuka journal-mu  engkau menemukan pujian sukacita untuk anugerah dan pertolongan Tuhan. Ada jam dimana kita merasa begitu down dan kita merasa tidak mau doa. Tetapi ada waktunya pada waktu kita membuka kembali journal kita, kita melihat bagaimana Tuhan menyertai dan memelihara hidup kita. Kita tidak melihat itu sebagai pergumulan sebelum kita betul-betul memikirkannya dan menggumulkannya lebih dalam di dalam hidup kita. Mari kita belajar merenungkan lebih dalam, lebih teliti, ambil waktu sejenak pada waktu ada hal-hal yang keluar dari pikiran kita yang tidak baik, mari kita berhenti sejenak, kita menggumulinya kembali, dan di situ saya percaya Tuhan pasti akan membuka pikiran kita dan jalan yang indah bagi kita. Pergumulan-pergumulan ini adalah pergumulan di dalam kita menuju kepada proses sanctification. Dalam pergumulan itu selalu ada paradoks dan paradoks ini hanya ada di dalam diri yang betul-betul Roh Allah, keselamatan Allah itu ada di dalam diri orang itu.

Paradoks yang pertama adalah paradoks antara “ashamed of sin” dengan “love and desire for God’s law.” Ini akan selalu menjadi paradoks yang tidak ada habis-habisnya. Roma 6:21-22 “Dan buah apakah yang kamu petik daripadanya? Semuanya itu akan menyebabkan kamu merasa malu sekarang karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.”

Waktu raja Saul ditegur oleh nabi Samuel, dia bereaksi tidak mau menerima teguran itu (1 Samuel 15:22-31). Sedangkan pada waktu raja Daud ditegur oleh nabi Natan, Daud menyesal dan bertobat dari dosanya (2 Samuel 12:1-13). Reaksi kedua orang ini berbeda. Raja Saul membela diri dan mempersalahkan situasi, lalu minta nabi Samuel tidak mempermalukan dia di depan orang karena dia seorang raja. Memang dia mengatakan dia sudah berdosa, tetapi dengan sikap reluctant dan tidak terima. Dan dia mengatakan, “…tetapi tunjukkanlah hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel.” Tetapi pada waktu Daud ditegur oleh nabi Natan, maka Alkitab mencatat reaksi penyesalan dan dukacita yang luar biasa dalam padanya. Daud sadar diri dan menulis Mazmur 51 sebagai cetusan pengakuan dosanya di hadapan Allah. “Terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan kejahatan di hadapanMu. Janganlah membuang aku dari hadapanMu, dan janganlah mengambil RohMu yang kudus daripadaku” (Mazmur 51:6,13). Paulus berkata kepada jemaat Roma karena dia tahu mereka sudah percaya dan menerima kasih karunia Tuhan, setelah kita percaya Tuhan dan Roh Kudus ada di dalam hati kita, sedalam-dalamnya kita malu dengan hidup kita yang dahulu. Bahkan kita mengatakan kepada Tuhan, kalau bisa sejarah hidupku yang dulu itu tidak ada lagi. Aku malu luar biasa. Sudah tentu kita tidak akan menjadi perfek selama di dunia ini; kita akan selalu jatuh dalam kesalahan dan dosa. Tetapi pada waktu teguran Tuhan datang kepada kita, kita senantiasa akan memiliki hati yang malu di hadapan Tuhan. Kita menyadari kita layak ditegur dan dikoreksi oleh Tuhan.

Paradoks yang kedua, kita tahu dan suka akan hukum Tuhan dan kita begitu ingin menjalankannya. Sifat ini tidak akan ada di dalam diri orang yang belum lahir baru. Struggle of holiness itu akan selalu menghasilkan balance antara kita tidak akan pernah jatuh kepada kesombongan rohani tetapi kita juga tidak akan jatuh kepada keputus-asaan rohani. Balance itu akan terjadi. Padaku tidak ada yang benar, apa yang aku ingin cinta akan hukum Tuhan tetapi aku tidak bisa lakukan, aku sering jatuh. Itu bisa membikin kita putus asa. Kalau begitu tidak ada gunanya keinginan itu karena tidak sanggup aku menjalankannya, akhirnya kita menyerah dan tidak mau berjuang untuk hidup kudus. Sifat itu tidak akan ada sebab ketika Tuhan menegur kita, kita tahu kita telah bersalah dsb, tetapi teguran Tuhan selalu mendatangkan pengharapan untuk kita bisa maju ikut Tuhan dengan lebih baik. Dan pada waktu kita menjalani hidup rohani kita, kita tidak akan pernah sombong dan menganggap bahwa itu usaha kita dan kita melakukannya dengan kekuatan diri kita. Maka pada waktu kita mengoreksi diri, kita akan selalu tahu, kita masih gagal dan belum mencapai apa yang Tuhan mau. Waktu aku melayani Tuhan, mungkin terbersit keinginan untuk mencari pujian orang. Waktu aku memberi persembahan, masih tersimpan sedikit motivasi supaya dilihat oleh orang. Waktu aku melakukan ini dan itu ada keinginan dan kesombongan dalam diriku supaya orang menghormati aku. Pada waktu kita menyadari semua itu kemudian kita datang merendahkan diri di hadapan Tuhan, menyadari dan mengaku tidak ada hal yang baik bisa saya kerjakan dan lakukan kalau bukan Tuhan yang memberikan kekuatan kepadaku. Maka balance itu akan selalu ada, yaitu kita tidak akan pernah jatuh kepada kesombongan rohani dan kita tidak akan pernah jatuh kepada keputus-asaan rohani. Orang yang semakin rohani justru adalah orang yang semakin mendekat kepada sinar Tuhan di situ dia semakin menyadari baju putih yang dikenakannya adalah baju yang tetap masih kuning warnanya. Orang yang makin rohani adalah orang yang makin mendekat kepada sinar Tuhan, makin dia senantiasa melihat masih banyak bercak-bercak hitam pada baju putih yang dikenakannya. Sehingga setiap kali kita ketemu Tuhan, kita akan selalu berkata Tuhan, aku tidak layak. Ingatkan, bagaimana rasul Paulus justru semakin dekat kepada akhir hidupnya, semakin dia merasa tidak layak sehingga dalam suratnya yang terakhir di 1 Timotius 1:15 Paulus berkata, di antara mereka yang berdosa, akulah yang paling berdosa. Tidak berarti Paulus makin tua makin banyak bikin dosa. Tetapi semakin dia tua semakin dia sadar dia tidak layak di hadapan Tuhan. Ini adalah pergumulan yang diangkat oleh rasul Paulus di sini, dan pergumulan ini tidak akan pernah berhenti sampai nanti kita bertemu dengan Tuhan. Sehingga perjalanan hidup kita di dalam dunia ini adalah the struggle of holiness. Dari situ sdr tahu mengapa Paulus mengatakan inilah struggle hidupku sebelum saya ketemu Tuhan kelak. Tetapi itulah bedanya sebelum dan sesudah saya ditebus Tuhan karena sekarang peperangan saya adalah peperangan yang di garis akhirnya saya tahu saya telah menang. Roma 6:22 merupakan perspektif yang penting. There is a struggle for your holiness, kesudahannya sampai kepada apa? “Setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” The struggle of Christian life adalah struggle yang menuju kepada kemenangan, win-win solution. Nanti setelah kita meninggal dunia dan bertemu Tuhan, itulah moment dimana tidak ada lagi pergumulan itu. Kita menang di dalam Tuhan. Tetapi sekarang sepanjang jalan menuju ke sana itu adalah pergumulan untuk menjalani proses pengudusan, itulah proses sanctification. Kita hidup di antara dua kutub ini.

Hari ini kita perlu datang kepada Tuhan, katakan kepadaNya, aku malu, Tuhan, atas kesalahan-kesalahanku. Dan aku mau menyukai firmanMu, aku mau taat berjalan di dalam kebenaranMu. Tidak ada lagi kesombongan dan keangkuhan. Seperti lagu yang kita nyanyikan, I come broken to be mended, I come wounded to be healed. Dan kita tidak pernah putus asa sebab keselamatan dan penebusan Kristus mengangkat kita lagi. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskanNya, sumbu yang sudah pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya, itulah Tuhan kita Yesus Kristus (Matius 12:20). Tuhan jaga, Tuhan pelihara kita berjalan sampai akhir.

Kita bersyukur kepada Tuhan, melalui firmanNya kita juga melihat Roh Kudus menyertai dan memimpin kita di dalam proses pengkudusan sehingga setiap kita yang mau ikut Tuhan dengan setia boleh menghasilkan buah-buah pengudusan yang membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kiranya kita senantiasa rela datang dengan membersihkan hati kita di hadapan Tuhan, menyadari diri kita kecil dan lemah adanya. Kita butuh pengampunan Tuhan. Tetapi kita datang dengan pengharapan dan tidak pernah putus asa sebab kita tahu Tuhan akan menjadikan kita seorang yang lebih mencintai dan mengasihi Tuhan dengan segala kerendahan hati, selalu bersandar kepada kekuatan Tuhan dan tidak pernah bersandar kepada diri kita lagi.(kz)