Berapa Besarkah Kasihmu kepadaNya

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Berapa Besarkah Kasihmu kepadaNya?
Nats: Markus 12:38-40, 41-44; Yohanes 12:1-8

Dua kisah yang dicatat tentang dua wanita dalam Markus 12 dan Yohanes 12 ini adalah peristiwa yang benar-benar terjadi, ini bukan cerita atau perumpamaan. Dua kisah ini akan terus diceritakan sepanjang jaman menjadi inspirasi yang menggugah setiap anak Tuhan yang mendengarnya, supaya kita menjadi anak-anak Tuhan yang mengerti bagaimana meresponi setiap anugerah dan berkat Tuhan di dalam hidup kita.

Kontras yang amat jelas dari kedua wanita ini yaitu yang seorang adalah janda miskin di bait Allah yang memberi uang persembahan yang paling kecil nilainya, dan yang seorang adalah gadis muda bernama Maria di Betania yang memberikan benda yang paling mahal dan paling baik yang ada padanya di rumahnya yang sebetulnya telah dia persiapkan untuk hari pernikahannya. Yang satu adalah seorang ibu tua yang sudah janda, yang satu adalah seorang gadis muda yang belum menikah. Kita bisa menduga janda miskin ini adalah seseorang yang sudah ditinggal mati suaminya, seorang yang sudah separuh baya usianya. Dari dua peristiwa ini kita bisa melihat berapa pun usia kita, itu tidak menjadi persoalan; berapa besar persembahan kita, itu tidak menjadi persoalan. Hal yang ketiga, ingat, dua-dua adalah perempuan, yang dalam konteks pada waktu itu merupakan orang-orang yang sebetulnya tidak memiliki resources bagi dirinya sendiri, tetapi keduanya dipakai oleh Tuhan Yesus menjadi contoh teladan, dan lebih lagi jikalau kita sudah sanggup berdiri di atas kaki sendiri dan kita sudah sanggup memberdayakan diri dan memiliki kelebihan uang dan harta, masakan kita tidak menjadi orang yang menyatakan cinta kasih dan apresiasi kita kepada Tuhan lebih daripada itu? Hal yang keempat, keduanya adalah perempuan dan waktu melihat pemberian mereka mungkin kita mengambil kesimpulan tindakan itu mereka lakukan dengan emosional. Bukankah hal yang sama sering terjadi kepada orang-orang yang emosional, ketika mendengar khotbah yang “stirrup” hatinya akhirnya membuat orang itu hari itu memberi persembahan dengan tanpa berpikir panjang. Saya tidak setuju dengan kesimpulan ini. Kenapa? Karena dari apa yang keluar dari mulut Tuhan Yesus sendiri mengenai persembahan mereka menujukkan mereka bukan wanita yang emosional. Pertama, dalam kasus persembahan Maria, Yesus mengatakan, “Leave her alone. Tinggalkan dia, jangan ganggu dia, karena dia memberi minyak narwastu ini sebagai respons dia mengingat hari penguburanKu, to prepare My burial” (Yohanes 12:8). Luar biasa sekali mengapa keluar kalimat itu! Sebab Alkitab mencatat paling sedikit 3 kali Yesus telah mengatakan mengenai apa yang sebentar lagi akan terjadi kepadaNya, khususnya dalam perjalanan menuju Yerusalem bagaimana orang-orang Yahudi akan menangkap, menyiksa dan membunuh Dia. Selama 3 tahun lebih pelayananNya Yesus berkali-kali mengatakan Ia bukan Mesias seperti yang digambarkan menjadi pahlawan yang melawan penjajah Romawi; Ia akan mati di kayu salib. Maka tidak heran semakin hari semakin rontoklah orang-orang yang mengikut Dia. Orang-orang yang ingin mencari keuntungan dari Yesus, yang ingin mendapatkan berkat, kesembuhan dan mujizat, yang ingin pada waktu Yesus kelak datang sebagai Raja, mereka akan mendapat posisi di dalam kerajaanNya, tetapi akhirnya satu-persatu orang-orang ini rontok. Yesus mengatakan kepada orang yang mau mengikut Dia, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Yesus mengatakan kepada murid-muridNya, satu hari kelak Aku akan mati dengan tidak layak, mati sebagai penjahat, mati dengan tidak mempunyai kuburan sendiri, mati dengan ditinggalkan sendirian oleh begitu banyak orang. Namun murid-murid tidak mendengar dan menyimak semua itu. Kenapa sampai Yesus harus mengatakan berulang kali? Karena mereka tidak mau dengar.

Yohanes mencatat, “Enam hari sebelum Paskah” berarti tingga beberapa hari lagi sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan, saya percaya hari itu di rumah Lazarus, Yesus kembali mengatakan hal yang sama (Yohanes 12:1). Itu adalah pesta perjamuan thanksgiving yang meriah luar biasa sebagai syukur untuk Lazarus dibangkitkan oleh Tuhan Yesus dari kematian [lihat Yohanes 11]. Ada dua saudara perempuan Lazarus di situ, Marta dan Maria. Yohanes mencatat, Marta melayani, ini memang typical dari Marta, memasak dan menyiapkan hidangan. It’s nothing wrong with her ministry, karena masing-masing orang berespons kepada Tuhan dengan cara yang berbeda. Sedangkan Maria duduk dekat kaki Yesus, mendengarkan dan menyimak perkataan Yesus di tengah orang-orang di sekitarnya yang asyik makan dan tidak mendengar. Maria mendengar sebentar lagi Yesus akan mati dan tidak ada “proper burial” bagiNya. Bagi manusia, itu adalah satu kehinaan. Sesusah-susahnya, semiskin-miskinnya, pada waktu orang tua kita meninggal dunia, kita akan mengusahakan penguburan yang selayaknya bagi mereka, karena itu adalah sikap respek kita bagi mereka. Yesus akan dihina, diludahi, disiksa dan mati sebagai seorang penjahat, dikubur di tempat kuburan pinjaman, Dia akan mengalami semua itu segera. Mendengar semua itu, maka Maria berpikir dalam hatinya, ini mungkin terakhir kali aku ketemu dengan Tuhanku. Apa yang bisa aku nyatakan dengan konkrit kasihku kepada Tuhanku? Kalau nanti hari itu Ia mati tidak bisa mendapatkan a proper burial, malam hari ini aku mau meminyaki Dia, that’s the least I can do to prepare His burial. Maria tidak mengatakan semua itu tetapi itulah sebabnya Yesus mengatakan, “Leave her alone.” Maria masuk ke dalam kamarnya dan mengambil buli-buli minyak narwastu itu.

Janda miskin ini, siapa yang mengatakan dia wanita yang emosional? Ini satu-satunya keping uang terakhir yang dia miliki. Setelah ini dia pulang ke rumah, makan apa? Janda miskin ini bisa saja memberi alasan bagi dirinya untuk tidak memberi persembahan kepada Tuhan. Janda miskin ini bisa saja memberi alasan bagi dirinya untuk memberi hanya sebagian saja dari uang yang ada padanya bagi Tuhan. Tetapi dia memilih untuk memberikan semuanya, nafkahnya yang dia miliki, semuanya bagi Tuhan. Janda miskin ini memberi dua peser uangnya lahir dari satu hati yang cinta dan satu ketaatan kepada Tuhan.

Ulangan 16:16-17 mengatakan, “Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilihNya, yakni pada hari raya Roti tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.” Tuhan memerintahkan umatNya untuk tidak datang dengan tangan yang hampa tetapi masing-masing membawa persembahan yang appropriate, persembahan yang sepatutnya, seturut dengan berkat yang sudah mereka dapatkan dari Tuhan sepanjang tahun. Maka itu bukan soal berapa besar atau kecil yang dibawa, tetapi itu soal “a proper response” dari orang itu terhadap pemeliharaan Tuhan kepadanya. Itulah sebabnya Tuhan tidak membedakan entahkah dia orang kaya atau orang miskin, tetapi masing-masing orang datang selalu dengan attitude ada blessing yang sudah dia terima dari Tuhan. Tetapi blessing yang dimiliki satu orang mungkin berbeda dengan orang yang lain. Dan dalam hal janda miskin ini, mungkin setiap hari sepanjang tahun dia struggle untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya di dalam kekurangannya, sehingga yang bisa dia bawa ke rumah Tuhan adalah cuma 2 peser itu. Tetap itu adalah blessing dari Tuhan baginya. Dan dengan blessing dari Tuhan itu dia jelas mengerti dia sedang masuk ke dalam rumah Tuhan, dan sebagaimana dia mengerti setiap orang mendapat berkat dari Tuhan, tidak ada orang yang boleh datang dengan tangan hampa ke hadapanNya. Dia tidak emosional. Dan jelas dia memberikan persembahan bukan untuk “menyuap” Tuhan, dengan memberikan dua peser itu lalu minta Tuhan membalas memberi lipat ganda. Dia tidak meminta seperti itu. Dia melakukan ibadahnya dengan ketaatan, tetapi ketaatan itu adalah satu ketaatan yang berjalan melewati sesuatu. Di situlah “the stage of faith” janda miskin ini bertumbuh.
Hari itu Yesus mengamati dia. Dan hari itu Yesus membawa murid-murid mengamati dia. Ini menarik. Yesus meminta mereka “pay attention” kepada pemberian janda miskin ini. Mengapa mereka perlu pay attention kepada janda miskin ini? Sebab mata mereka sedang pay attention kepada persembahan yang banyak dari orang-orang kaya. Bunyi keping uang yang dituang oleh orang-orang kaya dalam jumlah yang begitu besar begitu riuh dan keras, bunyi yang tidak berhenti-henti di 13 kotak persembahan yang ada sekeliling ruang itu. Mata mereka terbelalak ke sana. Telinga mereka berdering ke sana. Mereka begitu kagum. Mereka begitu terpesona. Tetapi persembahan janda miskin yang kecil mereka ignored, sehingga Yesus perlu membalikkan perhatian mereka.

Saya ingin mengajak sdr melihat respons dari murid-murid, yang diwakili oleh Yudas Iskariot terhadap persembahan Maria yang saya percaya menjadi respons yang secara generally speaking murid-murid yang lain juga. Persembahan Maria yang besar membuat murid-murid “feel offended.” Persembahan janda miskin yang kecil membuat murid-murid “ignorant.” Persembahan yang besar yang dikorbankan oleh Maria membuat murid-murid terganggu, tersinggung, marah dan gusar. Persembahan Maria yang besar membuat murid-murid mengkritik dan mempersalahkan dia dengan menuduhnya pakai “bahasa rohani,” kenapa minyak ini tidak dijual sehingga bisa membantu orang miskin? Inilah dua respons yang sangat salah. Inilah dua respons dengan konsep yang keliru luar biasa mengenai apa itu persembahan.

Sdr perhatikan, persembahan uang dua peser itu masuk ke dalam Bait Allah yang megah, ujung-ujungnya apa? Persembahan janda miskin ini dicatat dalam Markus 12:41-44, tetapi sebelumnya saya mengajak kita memperhatikan konteksnya dari perikop beberapa ayat di atasnya sehingga kita menemukan kontras yang diangkat mengapa kisah persembahan janda miskin ini digabungkan oleh Markus berkaitan dengan janda yang menjadi tema utama peristiwa itu. Dalam pengajarannya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Markus 12:38-40). Dari catatan Markus di perikop di atas, baru kita mengerti pemimpin-pemimpin agama memakai uang-uang persembahan untuk keserakahan diri sendiri. Maka sudah tentu pemimpin-pemimpin agama ini jelas matanya lebih melihat siapa yang memberi lebih banyak sebab uang itu akan dipakai untuk dirinya. Persembahan janda miskin ini tidak ada nilainya bagi pemimpin-pemimpin agama itu.

Tetapi itulah natur mata orang memandang. Gereja juga bisa jatuh dengan sikap seperti itu. Setiap gereja pasti punya program-program dengan budgeting-nya, dan kalau setiap janda miskin hanya memberi dua peser, cukupkah? Kita pasti ignore. Kita merasa tidak mungkin pekerjaan Tuhan bisa jalan hanya dengan uang seperti itu. Itulah sebabnya kita pay attention kepada persembahan yang besar, apalagi di jaman itu persembahan tidak memakai uang kertas tetapi semuanya uang logam. Yang satu hanya taruh satu duit, tidak ada bunyi. Yang satu taruh sekantung, bunyinya riuh. Janda ini pulang, kantongnya kosong. Maka Yesus mengatakan, secara persentase janda ini memberi lebih besar daripada akumulasi semua uang yang diberikan oleh orang-orang kaya dalam kelimpahannya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” (Markus 12:43-44). Luar biasa assessment Tuhan Yesus ini!

Kita mengakui, semua persembahan kita hari ini ada dalam level seperti persembahan orang kaya tsb. Jarang di antara kita yang melakukan persembahan dalam level janda miskin ini. Sebab kita me-manage uang kita, kita sudah set dalam satu bulan ke depan untuk mencukupi semua kebutuhan kita. Kita masih bisa ada simpanan savings buat keperluan-keperluan yang tidak terduga. Bahkan kita mungkin masih bisa mempunyai uang untuk holiday. Maka kita umumnya memberi persembahan sesudah kita mencukupkan semua ini, atau kita mungkin sudah menyisihkan sebagian dari income yang kita dapat untuk persembahan kita sebagai rangkaian dari management uang kita. Tidak salah kita melakukan seperti itu. Tetapi harus kita akui cara itu adalah cara yang kita lakukan karena kita mendapat gaji bulanan sehingga kita bisa manage kebutuhan hidup kita per bulan. Tetapi bagi mereka yang mendapat gaji per hari, bagaimana? Di situ bedanya. Kita punya tabungan yang bisa kita ambil sewaktu-waktu. Jaman itu tidak ada seperti itu. Apa yang Tuhan Yesus mau ajarkan dalam peristiwa janda miskin ini kepada murid-murid? Yaitu bahwa persembahan bukanlah soal berapa banyak yang kita beri kepada Tuhan, tetapi berapa besar kasih kita kepada Tuhan akan melahirkan persembahan yang indah di hadapan Tuhan.

Bolehkah saya bertanya kepadamu, adakah engkau menjalani satu perjalanan iman bersama Tuhan? Waktu engkau melihat sepanjang tahun ini Tuhan telah mencukupkan hidupmu, you will amazed. Tetapi kalau engkau tidak pernah mengalami satu perjalanan iman seperti itu, engkau tidak pernah dibawa dalam satu challenge dimana your faith will expand to the next level. Kita memasuki tahun 2018 nanti juga melangkah dengan iman, kita tidak tahu apa yang akan ada di depan. Tetapi apakah your stage of faith expand di hadapan Tuhan? Atau terus saja dari tahun ke tahun seperti itu? Mari kita melihat ke dalam diri kita masing-masing, adakah cinta kita kepada Tuhan sudah kita ekspresikan sebagaimana kita memberi persembahan kepada Tuhan? Adakah kita memiliki jiwa yang bertumbuh di situ? Ataukah dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun, kita memberi persembahan kepada Tuhan, jumlahnya tetap sebegitu? Jangan salah mengerti saya menuntut sdr dan minta uang. Tidak. Point saya adalah pernahkah kita memikirkan apa yang selama ini kita kerjakan dan lakukan expanding atau tidak? Hidup kita, pelayanan kita, expanding atau tidak? Kenapa Tuhan memberi krisis dan kesulitan di dalam hidupmu? Jangan pikir bahwa Tuhan jahat, tetapi lihat itu sebagai sarana Tuhan mau your personality and your faith grow. Nothing else. Ada tiga hal yang menjadi pilihanmu: move forward, stay or move backward. Namun ketika engkau menarik diri, imanmu tidak akan bertumbuh, karakter dan personality-mu tidak akan bertumbuh. Itu yang Tuhan ajarkan kepada murid-muridNya dari seorang janda miskin yang memberi persembahan kepada Tuhan. Kita bilang, ‘Wah, kasihan ya. Aduh, bagaimana nanti hidupnya kalau dia tidak punya uang lagi?’ Percayalah, hari itu dia pulang, dia akan mengalami mujizat dan perjumpaan dengan Tuhan, dia akan mengalami pemeliharaan Tuhan yang tidak akan pernah dia alami sebelum dia melewati langkah iman memberi persembahan itu kepada Tuhan.

Alkitab mencatat tentang janda miskin yang memberi makan Elia, yang padanya hanya terdapat segenggam tepung dalam tempayannya. Ketika Elia meminta janda ini memberi dia makan dan meskipun itu adalah roti terakhir yang dia punya, dia belajar untuk taat kepada janji Tuhan bahwa tepung dalam tempayannya tidak akan habis sampai waktu Tuhan menurunkan hujan bagi negerinya (1 Raja 17:7-16). Janda di Sarfat tidak akan melihat tepung dan minyak yang tidak habis-habis mencukupkan kebutuhan hidupnya selama musim kering yang panjang, jikalau dia tidak mengambil semua, mengolah dan memberikannya untuk Elia. Dia sendiri sadar setelah roti ini habis, dia dan anaknya mati. Siapa bilang kamu akan mati? Siapa bilang hidupmu akan susah dan habis segala-galanya? Tidak. Itulah proses melewati krisis yang akan membuat imanmu expanding di hadapan Tuhan.

Mari kita belajar mencintai Tuhan seperti itu. Berilah persembahan yang kita beri dengan apropriate seturut dengan berkat Tuhan kepadamu. Bukan soal berapa besar atau berapa sedikit, tetapi ketaatan kita. Memberi dengan thoughtful, memberi dengan kasih kita kepada Tuhan, menyadari berkatNya begitu berlimpah dalam hidupmu.

Offering tidak bertujuan memberi sama rata, karena blessing tiap-tiap orang berbeda. Tetapi kita tidak boleh menyimpan blessing itu hanya untuk diri sendiri, me-reserved itu untuk kebutuhan hidupmu yang tidak pernah ada habis-habisnya. Tidak. Tuhan mengatakan justru engkau akan mengalami susah itu menjadi proses Tuhan membentuk imanmu bertumbuh, itu yang Tuhan mau. Di situ kita belajar bagaimana Tuhan cukupkan hidup kita. Kadang-kadang kita bisa merinding menyaksikan Tuhan berkarya pada waktu kita tidak sadar dan tidak duga. Kita bisa jatuh kasihan kepada janda miskin itu, dia sudah tidak punya apa-apa lagi, bagaimana melanjutkan hidupnya? Tidak usah kuatir, dia percaya kepada Tuhan-nya. Waktu dia keluar dari rumah Tuhan, hatinya penuh sukacita. Waktu pulang ke rumahnya, saya percaya Tuhan pasti akan melindungi dan memelihara keluarganya. Saya tidak meragukan itu. God is the saviour. God is the provider. Tuhan akan pimpin dia. Mungkin sebagai seorang gembala, pada waktu janda miskin ini datang kepada saya membawa 2 peser uangnya, saya pasti akan bilang, “Janganlah, bu. Ibu pakai sendiri uang itu.” Tetapi kadang kala Tuhan sendiri bilang, “Let her do it” karena melalui itu Tuhan ingin berkarya membuat imannya expanding bertumbuh kepada Tuhan. Kalau sudah melewati seperti itu, kalau ada krisis lain yang lebih besar, engkau tidak akan pernah takut dengan langkah iman ini. Tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi jikalau kita tidak pernah mau melewati itu. Selalu pegang prinsip ini sampai kita mati. Jangan pikir, saya sudah tua, saya sudah pensiun, dsb. Ingat, ini janda miskin sudah “pensiunan.” Anak muda perlu expanding your faith. Kita orang tua juga expanding our faith kepada Tuhan.

Bersyukur kepada Tuhan untuk firmanNya bagaimana Ia bekerja dan berkarya di dalam hidup janda miskin dan Maria yang hari ini melalui firman Tuhan kita renungkan sama-sama. Kiranya hati setiap kita penuh limpah dengan syukur yang dalam kepada Tuhan. Kiranya Tuhan tanamkan firman ini menjadi benih yang tidak pernah kita lupa, nyata dan konkrit sepanjang perjalanan hidup kita dari sekarang memasuki tahun yang akan datang.(kz)